
Pagi hari di kampus Irsyad dan Aishyah tiba di di lobi kampus, mereka berdua berjalan beriringan dan takmluput dari pandangan setiap mahasiswa yang berada di kampus lagi ini.
Bisik-bisik kerap terdengar oleh mereka berdua, Irysad maupun Aisyah belum mengetahui ada hal apa di kampusnya saat ini.
"Kenapa mereka menatapku begitu!" batin Irsyad yang seketika melihat pandangan yang tak mengenakan.
"Kenapa dengan mereka" batin Aishyah maupun Irysad.
Banyaknya bisikan yang terdengar dan membuat Aisyah germa dan ingin tahu ada apa dengan hari ini dan kebetulan Ririn sahabatnya ada di lobi kampus juga.
"Riin." panggil Aishyah dan Ririn sang sahabat pun mendekat.
"Rin, ada apa sih? kok paginini pada heboh?" tanya Aishyah.
"Emm itu Aish, ada berita yang nggak mengenakan di sana." ucap Ririn dengan menunjuk ke arah salah satu tempat yang dipenuhi oleh mahasiswa.
"Emang ada apa mbak disana?" tanya Irsyad yang juga ikut penasaran.
"Lebih baik kalian lihat saja deh, yok." ucap Ririn dan mengamit tangan kedua manusia kaakak beradik itu.
Saat sampai di kerumunan itu, lagi-lagi pandangan menuju ke arah Aishyah dan Irsyad dan lagi-lagi cemoohan dan bisikan terlontar dari mulut mahasiswa yang katanya menempuh pendidikan tinggi namun mulutnya masih tetap tak terdidik itu.
"Wah ternyata dia juga gaet yang lain guys.." ucap mahasiswa yang ikut dalam kerumunan itu.
"Iya jangan-jangan dia salah satu penjaja pisang juga kali ya hahhahaaa." terucap lagi cemoohan lainnya.
"Heh maksud kau apa hah!!!" ucap Irsyad.
"Waw dia marah guys hahhaaa, dah berapa orang nih yang bayar pisang Lo." ucap mahasiswa lainnya yang terus mengolok-olok.
Irsyad masih berusaha sabar dan tenang karena dia tak ingin asal kasih pelajaran kepada orang sebelum dia mengetahui sebabnya terlebih dahulu.
"Udah Syad, kita lihat dulu." Aishyah berusaha menenangkan sang adik.
Mereka bertiga masuk kedalam kerumunan tersebut dan saat sampai di tujuan ya mereka melihat hal yang telah menjadi berita trending topik di pagi hari di kampus mereka.
"Apa apaan ini.." ucap Irsyad ketika melihat beberapa foto dirinya beserta yang lain bersamaan!a dengan Mimi namun dengan posisi sendiri-sendiri yang berfoto berdua dengan Mimi.
"Siapa yang membuat ini semua?" tanya Aishyah.
"Wawwww gebetan barunya marah guys hahhaaa..." seru mahasiswa dan diikuti gelak tawa semua.
Aishyah dengan wajah murkanya menghampiri mahasiswa tersebut dan langsung plaak plak cap lima jadinya langsung mendarat tepat di kedua pipi mahasiswa tersebut.
Diraihnya kerah baju mahasiswa tersebut dan ditariknya kuat.
"Elo itu cowok, tapi mulut Lo mencerminkan kalau elo itu cowok jadi jadian." ucap Aishyah geram.
"Hey sabar girl, kenapa Lo yang sewot.. Lo marah gebetan Lo terpampang disana." ucap si mahasiswa dengan kerah baju maaih dalam genggaman Aishyah dan jari telunjuk nya menunjuk ke arah dimana foto-foto itu berjejer rapi tertempel di dinding tepatnya Mading kampus.
"Katakan, siapa yang memasang berita murahan itu!!! cepat katakan." ucap Aishyah dengan geram dan tegas.
"Ye mana gue tau lah, lepasin nggak Lo kalau nggak gue ci.." ucap si cowok dengan akan memajukan bibirnya akan mencium Aishyah namun dengan cekatan Aishyah memberi bogeman mentah ke pipi nya.
bugh bugh Aishyah menghajar si cowok itu tak hanya di pipi tapi juga mengikuti bagian selangkangannya dengan lututnya.
"Awwwwwwww breng sek.. dasar ja lang." ucap si cowok yang akan maju membalas Aishyah dengan !menahan rasa yang amat sakit sesakit sakitnya di area selangkangannya.
"Apaaaa!!!! Ucap Aishyah dengan mata melotot.
"Ada yang mau juga!!!" ucap Aishyah kepada yang lain yang berada disana.
"Asal kalian tahu, orang yang kalian hina ini adik gue, adik kandung gue..." Ucap Aishyah memberitahukan kepada semua mahasiswa yang masih berada disana.
Aishyah berjalan mendekat kembali ke arah cowok yang telah dibakarnya tadi dan dia memegang kerah baju si cowok itu kembali.
"Katakan sama gue, siapa yang telah masang foto-foto itu di Mading!! Ucap Aishyah namun si cowok menggeleng.
"Gue nggak tau, pagi-pagi foto itu sudah ada disana." ucapnya dan Aishyah pun melepaskannya.
"Mbak, apa Mimi sudah lihat belum ya?" ucap Irsyad khawatir, karena sebelumnya hal ini pernah terjadi dan itu membuat Mimi down.
"Ya Allah dek, ayo kita cari Mimi." ajak mbak Aishyah dan sewlim mereka melangkah mbak Aishyah memfoto foto-foto yang ada di Mading.
Sedangkan di koridor menuju kelas mimi cemoohan dan bisikan terus gencar terdengar.
"Ayo katakan ada apa??" tanya Mimi kepada para sahabatnya.
"Mi.. sebenarnya... emmm ..."ucap Mutia terhentikan.
" Ada apa Mit?" tanya Mimi
"Gini Mi, ada berita yang menghebohkan di kampus kita" ucap Riko.
"Berita apa?" tanya Mimi.
"Emm kemarin kamu liburan kemana?" tanya Saridi.
"Mimi liburan ke pantai di kota A." jawab Mimi.
__ADS_1
"kamu sama siapa Mi?" tanya Fia.
"Sama kak Syahril, kak Ryan, Irsyad sama keluarganya juga ada." jawab Mimi jujur.
"Kalian nginap?" tanya Riko.
"Iya, karena di lantai itu terdapat resort, jadi Abi nya Irsyad menyewa salah satu resort buat kami semua." jawab Mimi.
"Emang ada apa sih?" tanya Mimi kembali.
"Hmm kayaknya ini kerjaan orang sebelumnya deh." ucap Muthia.
"Maksdunya Muth?" tanya Mimi.
"Sabar ya Mi, kamu harus kuat. Kayaknya ujian yang sebelumnya datang lagi." ucap Saridi.
"Hah maksdunya apa?'' tanya Mimk yang belum mengerti.
"Emm itu Mi di mading, ada foto kamu bersama tiga orang yang berbeda salah satunya ya Irsyad yang selalu nempel sama kamu, yang satunya cowok yang ada di wallpapers ponsel kamu nah yang parah nya emm foto satunya kamu sama om-om dan di situ tertulis caotion my sugar Dady di foto laki dan augar baby di foto kamu." jelas Irma.
Deg Mimi langsung lemas ketika mendapat kabar dirinya di fitnah lagi.
"Ya Allah... kenapa orang suka sekali memfitnahku." ucap Mimi lirih.
"Dimana kalian melihatnya, di Mading mana?" tanya Mimi.
"Sepertinya setiap Mading di tempel Mi." ucap Fia.
"Ayo kita kesana." ajak Mimi dengan langsung berjalan menuju ke beberapa Mading.
Sesampainya disana hati Mimi bagaikan tersayat dengan ucapan-ucapan yang tertulis sebagai caption di foto tersebut.
Ada yang menuliskan caption ja lang berkedok hijab, ada yang bertulis seperti yang di bilang Muthia, bahkan tak segan-segan mereka !menuliskan nominal disana.
Tak tertahankan jatuh juga air mata di pipi Mimi, "Ya Allah..." ucap Mimi lirih.
Tak begitu jauh mbaik Aishyah dan yang lain melihat Mimi, mbak Aish langsung memeluk Mimi..
"Sabar dek." ucap mbak Aishyah memberikan kekuatan kepada Mimi.
"Apa salah Mimi mbak.." ucap Mimi dengan suara parau menhan isak tangis.
"Sabar dek.." ucap mbak Ririn.
Disaat mereka sedang memberikan kekuatan datang seorang dosen mendekat.
"I iya pak." jawab Mimi.
"Mari ikut saya, kamu juga." ucap sang dosen dengan menunjuk Irsyad juga.
"Baik pak." jawab Mimk dan Irsyad.
"Yang sabar dek, mbak sudah kasih tau Abi." jawab mbak Aishyah.
"Iya mbak, makasih." ucap Mimi dan melangkah mengikuti sang dosen.
Mimi dan Irsyad serta dosen telah sampai di ruang rektor. Ya ternyata masalah ini sudah sampai ke telinga para petinggi kampus.
Mimi dan Irsyad duduk di depan para petinggi kampus, Mimi menunduk takut karena ini kali kedua dia di panggil namun ini kali pertama dia dipanggil langsung keruang rektor.
"Mimi Akifah." panggil salah satu Dekan nya yang ada di ruang rektor.
"I iya pak." jawab Mimi seraya mengangkat mukanya.
"Bisa dijelaskan dengan berita yang beredar hari ini di kampus?" tanyanya.
"Kamu bukannya mahasiswa baru terbaik dan kamu juga mahasiswa terbaik di bimbel yang diadakan di kampus ini bukan?" tanya salah satu dekan yang lain.
"Apa benar itu foto-foto kamu?" tanya ekan ngotot.
"Kamu taukan jika semua itu benar maka kamu akan di DO dari kampus, atau minimal beasiswa kamu akan di copot, namun saya rasa kami lebih baik di DO karena membuat malu kampus ini." ucap si dekan ngotot.
"Emm i iya pak." jawab Mimi dengan rasa kekhawatiran di dirinya.
"Ya Allah, kuatkan hamba, bimbing hamba, ha!ba hanya ingin menuntut ilmu, hamba hanya ingin meraih cita-cita hamba demi emak dan bapak, ya Allah berikan hamba pergolonganmu." Mimk terus berdoa di dalam hatinya.
"Bagaimana Mimi Akifah, apa bisa dijelaskan." tanya dekan yang pertama bertanya kepada Mimi.
Sebelum Mimi menjawab, Mimi membaca basmallah di dalam hatinya "Bismillahirrahmanirrahim." ucapnya dalam hati.
"Maaf pak sebelumnya, saya juga tidak tau bagaimana foto-foto itu tersebar di kampus." jawab Mimi.
"Tidak tau!!!" ucap dekan lainnya.
"Bagaimana maksudnya saudari Mimi Akifah?" rektor yang awalnya hanya diam akhirnya ikut bertanya juga.
"Apa kamu mengakui tentang foto yang tersebar itu?" tanya dekan yang selalu ngotot dan seperti tidak menyukai Mimi.
"Emm maaf,." ucap Irsyad namun dekan yang ngotot mengangkat tangannya pertanda dia meminta Irsyad diam.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya sang dekaan yang ngotot.
"Iya saya akui itu foto saya, ta.." Mimi belum selesai bicara langsung dipotong sa!a dekan yang ngotot.
"Jadi benar kalau kamu adalah ayam kampus." ucapnya
langsung menuduh Mimi. Mimi yang mendengar itu !merasa dirinya di hina tanpa ada yang mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Tak terasa air mata Mimi menetes, dan Irysad yang mendengar dan melihat Mimi langsung geram.
"Maaf pak dekan Ardiansyah yang terhormat, sebelum Anda menuduh mahasiswi Anda, sebaiknya Anda mendengarkan penjelasan terlebih dahulu dan seharusnya Anda sebagai dekan harus menjaga mulut Anda dari pembicaraan yang menghina anak Didik Anda." ucap Irsyad dengan berdiri dan menatap dekan tersebut dengan tajam.
"Tenang dulu, duduklah." ucap dekan yang bertanya di awal.
"Silahkan saudari Mimi Akifah untuk menjelaskannya." ucap sang rektor.
"Itu sudah jelaa prof kalau dia telah !mengakui kalau itu foto dirinya, dan saya rasa ini kali kedua dia !e!bhat adalah di kampus ini." ucap dekan yang ngotot berna!a Ardiyansyah tersebut.
"Pak Ardiansyah, sebaiknya Anda diam dulu dan biarkan saudari Mimi Akifah menjelaskan semuanya." ucap dekan yang awal bertanya.
"Silahkan Mimi." imbuhnya.
"Terimakasih pak, emm saya akui itu memang foto saya dan apa yang ditulis disana semua itu tidak lah benar." ucap Mimi SE!bari !menarik nafasnya.
"Seperti yang bapak ketahui.." ucap Mimi sembari melihat ke arah dekan yang bertanya padanya di awal.
"Di situ ada foto saya sama Irsyad, dan disitu juga ada foto saya sama kak Syahril. Kalk Syahril itu adalah tunangan Mimi, dan Irysad ini adalah sepupu dari kak Syahril." ucap Mimi.
"Terus Lelaki yang dewasa itu siapa? sugar Daddy kamu?" ucap dekan yang ngotot yang selalu memojokkan Mimi.
Entah ada apa dengan dekan Ardiansyah yang selalu menyudutkan Mimi.
"Foto lelaki dewasa yang bersama saya adalah Abi nya dari Irsyad, dia adalah orang tua saya selama saya di perantauan sini. Karena saya adalah tunangan dari keponakannya maka mereka menganggap saya anaknya." ucap Mimi.
"Jangan membuat alasan." ucap sang dekan ngotot.
Brakkk
"Hei pak, Anda punya mulut bisa dijaga nggak!!! sedari tadi saya perhatikan Anda selalu menyudutkan Mimi, emang Mimi membuat kesalahan apa sama Anda sampai Anda selalu mengotot begitu hah!! brakkk." ucap Irsyad yang tersulut emosi dengan menggebrak meja berkali-kali.
"Heii kurang ajar kamu, mau saya kasih nilai D kamu." ucap si dekan.
"Hahahaha sifat Anda sungguh kekanakan pak, Anda mengancam dengan nilai.. Silahkan jika itu mau Anda, sebelum Anda !e!beri saya nilai itu, ingat ini dihadapan para rektor dan dekan saya juga ingin disaat ujian mereka langsung menyaksikan saat saya mengisi lembar jawaban itu." ucap Irsyad dengan menantangnya.
Disaat dalaa ruangan masih penuh ketegangan oleh Irsyad, terdengar suara pintu di ketuk dan saat di buka ternyata Abi yang datang.
"Assalamualaikum, selamat siang." ucap Abi.
"Waalaikum salam, siang juga pak Arsyad. Ada apa ya pak hingga bapak datang tanpa memberi kabar." tanya dekan yang. ertanaya di awal ramah.
"Maaf, saya kesini ingin meluruskan perihal kabar berita dikampus ini yang saya terima." ucap Abi.
Semua disana terperangah dengan apa yang dikatakan oleh Abi. Ya di foto tersebut wajah Abi tidak begitu jelas.
"Maksud pak Arsyad bagaimana ya?" tanya dekan yang lain.
"Mari pak silahkan duduk." ucap salah satu dekan.
Ya Mimi kali ini seperti terkena sidang di kampus ini.
"Maaf sebelumnya prof, perkenalan saya Arsyad Ahmad Aljufri, saya adalah orang tua dari anak didik bapak yang berada di dalam ruangan ini." ucap Abi tenang.
"Maksud pak Arsyad, bapak orang tua dari siapa?" tanya rektor.
"Saya adalah salah satu orang yang ada di foto tersebut, saya adalah orang tua dari Irsyad Ahmad Aljufri dan saya adalah orang tua dari Mimi Akifah." jawab Abi.
"Ah pak Arsyad jangan mengaku-ngaku gitu pak, untuk membantu mereka berdua." ucap sidekan ngotot.
"Saya tidak mengaku-ngaku silahkan ada lihat secara teliti foto itu, itu adalah saya. Dan benar itu saya bersama Mimi tapi yang saya mau tanyakan siapa yang !mengambil foto itu? kenapa dia tidak ambil juga foto kami sekeluarga sewaktu di pantai?" ucap Abi.
"Maaf sekali lagi, saya hanya heran para petinggi kampus ini, kenapa kalian tidak mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu sebelum! kalian menghakimi anak-anak ini."
"Saya harap para petinggi kampus ini segera cari dalangnya segera kalau tidak sanggup biar saya yang mencari tahu sendiri." ucap Abi.
Entah mengapa sang dosen ngotot itu terdiam tak berkutik.
"Saya harap permasalahn ini segera kita selesaikan sekarang, dan jangan sampe ada anak-anak tidak bersalah menjadi korban ketidak Adilan." ucap Abi
"Dan satu lagi saya hrap pihak kampus juga membersihkan nama anak saya Mimi Akifah setelah semua ini diketemukan dalangnya. Jika tidak juga maka saya akan membawa masalah ini ke ranah hukum." Imbuh Abi.
"Baiklah pak Arsyad, saya selaku aku rektor kampus ini mengucapkan maaf dan kami akan mencari pelaku nya." ucap si rektor.
"Terimakasih pak." ucap Abi seraya bersalaman serta berpelukan.
Abi adalah merupakan salah satu donatur tetap di kampus ini, Abi selalu memberikan dana untuk mahasiswa berprestasi dan berkompeten dalam bidangnya di kampus ini.
Dekan ngotot ini sebenarnya siapa nanti kota kupas di bab selanjutnya ya...
assalamualaikum selamat beristirahat.
__ADS_1