DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
berharap ada sebuah keajaiban


__ADS_3

Malam semakin larut, enam orang gadis dan empat orang lelaki yang dua masih perjaka dan yang dua laginsudah beristri.


Mereka bahu membahu untuk memecahkan masalah-masalah ini, mereka berharap ada sebuah keajaiban menimpa di diri mereka malam ini. Setidaknya ada sedikit secercah harapan bagi mereka.


Ke empat lelaki ini sibuk dengan laptop di pangkuan mereka, jari jemari lincah mengarah ke setiap angka-angka yang ada pada keyboardnya.


Ke enam gadis hanya menemani mereka, mereka yang semula mengantuk menjadi segar ketika Syahril dan Ryan akan mencoba melacak ponsel Mimi.


Para orang tua di pinta Syahril untuk beristirahat saja, biarlah mereka yang berkerja malam ini.Di'ah dan Muthia pergi kedapur mereka membuat air kopi dan teh untuk semua.


Emak yang masih terjaga juga membuatkan goreng pisang untuk mereka. Emak merasa sedikit lega di hatinya. Dia juga berharap jika apa yang dikatakan hatinya adalah benar.


"Ya Allah, bantu mereka menemukan jejak anakku. Walaupun itu adalah hanya jasadnya saja." Doa emak dalam hati.


Keempat laki-laki itu telah berselancar di dunia satelit, mereka terus mengotak ngatik rumusan yang hanya mereka berempat yang tau.


Selfia hanya memperhatikan bagaimana jari jemari mereka menari kesana kemari di atas keyboard laptop itu.


"Kak, kalian belajar dimana?" tanya Selfia yangbtakntahan sedari tadi ingin bertanya.


"Belajar apa?" tanya Ryan pada Selfia dengan mata masih fokus ke layar laptop.


"Lebih baik kalian tidur saja." ucap Andri yang mana mata nya juga tetap fokus ke layar laptop dan tangan nya masih menari di atas keyboard laptop.


"Itu kak kalian belajar dimana bisa melacak-melacak gitu?" tanya Selfia.


Emma dan Manda hanya diam mendengar pertanyaan Selfia yang mengganggu konsentrasi mereka.


Manda dan Andri mereka seperti biasa, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Mereka juga sudah memiliki dunianya sendiri.


Tinggal Di'ah dan Ryan masih merasa canggung karena sejujurnya di hati mereka masih saling mencintai namun mereka sepakat dengan keputusan yang di ambil.


Di'ah dan Muthia telah tiba di ruang tamu, yah kini mereka berada di dalam tak lagi di serambi.


Di'ah dan Muthia menaruh cangkir berisi kopi dan teh di atas meja, tak lupa pisang goreng panas untuk temani mereka malam ini.


"Kak ini kopinya." ucap Di'ah memberikan kopi pada semua.


"Iya kak ini ada pisang goreng juga, emak yang goreng tadi." sahut Muthia.


Ryan melihat ke arah Di'ah yang menaruh cangkir kopi di hadapannya. Ryan terkenang dimasa mereka masih bersama, saat-saat mereka masih SMA dahulu. Jika mereka berkumpul untuk belajar bersama, mereka selalu seperti saat ini.


Ryan terkenang dulu saat dia mengetik, Di'ah selalu memijatnya dan Di'ah meniup kan kopi serta pisang goreng untuknya.


Di'ah mengambil piring kecil dan Diah mengambil dua pisang goreng setelah itu Di'ah membelah pisang goreng itu dan meniupkannya agar cepat dingin.


Di'ah melakukan itu tanpa disadarinya, setelah dia meniupnya dan sedikit dirasa dingin ditaruhnya di piring kecil, diapun menaruhnya dihadapan Ryan.


Ryan tersenyum kecil ketika melihat kebiasaan Di'ah untuk dirinya tidak pernah berubah dan dilupakannya.


"Makasih." ucap Ryan, Di'ah pun melihat ke arah Ryan dengan tatapan sulit diartikan, Di'ah tersadar dengan apa yang barusan dilakukannya. Nyeri yang dia rasakan, Di'ah kembali diam.


Tak hanya Di'ah dan Ryan, hal serupa pun terjadi pada Syahril.


"Dek, suapin pisang gorengnya dong yank." ucap Syahril tanpa disadarinya.


Ryan yang semula juga mengenang masa nya dengan Di'ah beralih melihat ke arah Syahril, begitu pula Andri dan Rudi.


"Yank, buruan dek. Laper perut kakak yank." ucap Syahril lagi namun mata nya masih fokus ke laptop.


"Riil.." panggil Andri yang berada disebelahnya dengan menepuk pundaknya.


"Eh hemm." Ucap Syahril tersadar.


Di'ah melihat itu hanya menitikkan air matanya, masa yang mana mereka lalui itu kembali terngiang dan terlintas dipikiran serta di dalam benak mereka.


Ryan melihat Di'ah menitikkan air mata pun merasa terenyuh, jika waktu bisa diputar, diapun ingin memutarnya kembali ke masa itu.


Syahril menghelakan nafasnya panjang, rasa rindunya semakin membuncah, apakah dia sanggup menjalani semua ini.


Emma dan Manda memeluk Di'ah. Mereka berdua pun merasa dejavu malam ini.


Syahril dan Ryan kembali fokus pada laptopnya, begitu pula dengan Rudi dan Andri. Semua satelit mereka masuki untuk melacak bebepa Minggu lalu.


Beberapa jam mereka berselancar, mereka menemukan titik dimana terakhir Mimi mengirimkan SMS pada emak.


"Riil.." panggil Andri.


"Iya Ndri ini kita sudah dapat titiknya tinggal kita mencari dimana titik koordinat ini berada." ucal Syahril dengan terus fokus.


"Bentar, di zoom dulu." jawab Ryan.


Ke enam gadis masih setia menemani walau mereka tidak mengerti, namun jika dilihat dari ucapan-ucapan mereka seperti nya mereka berhasil menemukan posisi Mimi.


"Ya ALlah semoga mereka berhasil." do'a Emma.

__ADS_1


"Ya Allah berikanlah kami titik terang mu." do'a Muthia dalam hati


"Ya Allah, hamba mohon berikanlah kami harapan walau yang ditemukan hanyalah jasadnya." do'a Di'ah dalam hati.


Harap-harap cemas mereka rasakan. Saat Ryan akan menzoom tiba-tiba satelit yang mereka masuki terganggu.


"Ohh shiiit" ucap Ryan kesal.


"Kenapa?" tanya Andri.


"Gangguan." jawab Ryan.


"Ya Allah." ucap mereka semua.


Sambil menunggu keadaan membaik mereka pun menikmati kopi yang sudah hampir dingin serta goreng pisang yang dingin.


"Kak, ajarin Fia dong?" ucap Selfia lagi.


"Buat apa?" tanya Ryan.


"Biar Fia bisa jadi hacker juga hehee." jawab Selfia.


"Heleh gaya mu Fi mau jadi hacker lihat rumus karvonen aja kamu bingung." ucap Muthia.


"Ckk Muth kalau ngomong selalu aja tepat." jawab Selfia dengan mengambil goreng pisang dan mengunyah nya cepat.


"Kak Ryan sama Di'ah kapan kalian menikah? sebelum ditikung." tanya Selfia yang sedari tadi dia memperhatikan interaksi tubuh dan mata dua insan tersebut.


"Uhuk uhuk" Muthia dan Di'ah terbatuk karena tersedak mendengar ucapan Selfia.


''Hmm kalian kok tersedak bareng ya? " ucap Selfia menelisik Muthia.


"Nih minum, makanya makan itu pelan-pelan." ucap Ryan yang entah ditujukan pada siapa namun dia memberikan minuman pada Muthia karena Muthia yang duduk tak jauh darinya.


Ryan sengaja melakukan itu, dia ingin melihat apakah Di'ah cemburu melihatnya memberi perhatian pada Muthia.


Di'ah melihat Ryan memperhatikan Muthia ada rasa sakit dihatinya namun Di'ah berusaha bersikap biasa-biasa saja. untuk menghilangkan rasa gugupnya Di'ah menoleh ke lain arah.


Sedang kan Muthia yang mendapatkan perhatian Ryan merasa tak enak hati pada Di'ah, Muthia memperhatikan antara Di'ah dan Ryan. Muthia mengambil kesimpulan kalau hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, dan Ryan sengaja melakukan semua ini untuk membuat Di'ah cemburu.


"Kakak tau dek, masih ada rasa cinta dihatimu untuk kakak. Kenapa kita harus begini." ucap Ryan di dalam hati.


"Yan, jika hati kalian sakit. Mending jangan dipaksakan." Ucap Syahril tiba-tiba.


Syahril tau kenapa Di'ah memutuskan Ryan, sebenarnya Syahril tidak mengapa jika Di'ah dan Ryan bersatu.


"Emm bentar." jawab Ryan dan dia pun kembali memfokuskan ke layar laptopnya.


"Eh ada email dari LA." ucap Andri dan dia langsung membuka email tersebut.


"Apa isinya Ndri?" tanya Ryan dengan mata yang masih fokus.


"Emm kita dipinta untuk hadir di forum kampus hari Senin." ucapnya.


"Terus gimana?" tanya Rudi.


"Yah terpaksa kita berangkat pagi besok." ucal Syahril.


"Kalau dekat mah gampang Riil, ini tiket sudah kita pesan untuk hari Senin." ucap Rudi.


"Ya mau gimana lagi Rud, ya kita batalin tiket Senin dan kita ubah besok." jawab Syahril


"Masalahnya, apa ada penerbang untuk besok?" tanya Rudi.


"Ada tapi jam tujuh, jadi kita berangkat dari Jambi adanya penerbangan di jam empat subuh, gimana?" ucap Andri.


"Yaudah pesan Ndri, dan sekalian kalian bilang pada istri kalian segera buat siapin semua berkas sekarang." ucal Syahril.


"Oke kita pesan ya?" ucap Andri dan mereka pun mengangguk.


"Oke jadi kita bereskan segera yang ini masih ada waktu 4jam lagi." ucap Ryan yang terus mengotak ngatik.


Satu jam kemudian Ryan pun berhasil menemukan titik tersebut.


"Gimana?" tanya Syahril.


"Emm lokasinya menurut titik koordinat ini terakhir di bandara Ahmad Yani Semarang." ucap Ryan dan semua orang tercengang kaget.


"Berarti Mimi benaran masih hidup kak?" tanya Selfia girang.


"Hmm belum tau karena kita tidak bisa melacaknya lagi." ucap Ryan.


"Coba telpon Irsyad untuk melihat ke kosan Mimi." ucap Andri memberi usul, Syahril pun langsung menelpon Irsyad.


"Hallo assalamualaikum." ucal Irsyad dengan suara parau orang bangun tidur.

__ADS_1


"Waalaikum salam, dah tidur ya dek?" jawab Syahril dan bertanya kembali.


"Ada apa bang?" tanya Irsyad.


"Dek kami bisa ke kosan Mimi sekarang ndak?" tanya Syahril.


"Hmm gila aja bang jam segini ke sana, emang ada apa?" tanya Irsyad.


"Ceritanya panjang Abang udah tidak punya waktu, jam empat abang harus sudah take off." ucap Syahril.


"Pokoknya, kami baru selesai melacak HP Mimi dan terakhir terlacak di bandara Ahmad Yani dan kemungkinan besar Mimi memang pulang kesemarang." ucap Syahril, Irsyad tak kalah tercengang mendengar kabar itu.


"Tapi kan waktu itu.." ucap Irsyad


"Udah pokonya pergi sekarang. Abang tunggu infonya secepatnya." ucap Syahril memerintah.


"Ckk iya iya abang hutang penjelasan sama Irsyad." ucap Irsyad.


"Udah buruan." ucap Syahril dan langsung memutuskan panggilannya.


"Kebiasaan nih abang singa kalau dah balik mood perintahnya." sungut Irsyad yang segera beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya terlebih dahulu.


Setelah itu dia langsung menyambar jaketnya diatas sofa kamarnya dan diambilnya kunci mobil di atas nakas diapun segera berlalu menuju keluar kamar sembari memakai jaket kulit nya.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Irsyad tidak mengetahui kalau mbak Aish ada di bawah anak tangga melihat kearahnya.


"Mau kemana kamu malam-malam gini?" tanya mbak Aish yang membuat Irsyad terperanjat kaget.


"Astaghfirullah mbaak bikin kaget aja." ucap Irsyad dengan mengelus dadanya. Mbak Aish hanya melihat Irsyad penuh selidik dan berkacak pinggang sambil mengitari tubuh Irsyad.


"Iss mbak, udah awas Icad mau keluar bentar." ucap Irsyad yang merasa terintimidasi oleh mbaknya.


"Mau kemana kamu malam-malam gini, nggak lihat jam apa kamu dek?" ucap mbak Aish dengan bertanya.


"Emm mbak sendiri ngapain di bawah, kenapa nggak tidur, sudah jam berapa ini?" ucap Irsyad dengan membalik pertanyaan mbaknya.


"Dasar kamu ya dibilangin malah balikin omongan orang." ucap mbak akan dengan menjewer telinga Irsyad.


"Aduh aduh mbak sakit aduh lepasin mbak." ucap Irsyad dengan memegang telinganya yang sedang dijewer oleh mbak Aish.


"Makanya orang nanya itu dijawab bukan membalikan pertanyaan." ucap mbak Aish sembari melepaskan tangannya dari telinga Irsyad.


"Kan Icad sudah bilang, Icad mau keluar sebentar. Icad mau jalani misi dari Abang Syahril yang sudah balik ke mood singa nya. Udah ah Irsyad mau pergi, mbak ikut Icad aja yok.'' jawab Irsyad yang menjelaskan pada mbak Aish serta mengajak mbak Aish untuk sekalian ikut dengannya.


"Emang ada misi apa sih dek?" tanya mbak Aish yang tangannya sudah di tarik oleh icad.


"Hmm nanti icad kasih tau buruan mbak keburu Abang singa nelpon lagi." ucap Irsyad.


"Ya bentar dong, mbak ambil hijab dulu. Tunggu bentar." ucap mbak Aish dan berlalu berlari naik ke atas menuju kamarnya untuk mengambil hijab.


Tak lama terdengar suara dering HP Irsyad dan di sana tertulis Abang ku Syahril. Yah Syahril menelponnya lagi karena Syahril merasa Irsyad lama memberi info padanya.


"Hallo assa.." ucap Irsyad menjawab telepon namun langsung terpotong.


"Waalaikum salam, kamu sudah dimana dek? lama bener?" jawab Syahril.


"Lagi dirumah bang, ini sekalian ma..." jawab Irsyad namun lagi-lagi di potong oleh Syahril.


"Apaa!! maaih dirumah!! astaghfirullah dek buruan dong, jangan lelet gitu. Abang tidak punya banyak waktu, Abang mau take off jam empat ini, Abang hari ini langsung berangkat ke LA." ucap Syahril.


"Pokoknya buruan jangan pakek lama, ditunggu segera. tutt" ucap Syahril dan mematikan sambungan telpon sepihak tanpa mendengar penjelasan Irsyad.


"Uhhh dasar Abang laknut, kalau sudah kembali mood singanya nggak bisa santai dikit. Mbaak buruan.." sungut Irsyad pada Syahril dan berteriak memanggil mbaknya.


"Iya bentar, ini juga udahan kok." jawab mbak Aish yang sudah berada di anak tangga hendak turun.


"Kalian mau kemana?'' terdengar suara bariton sang Abi dari balik pintu kamar.


"Emm Abi.." ucap mbak Aish, abinya pun berjalan ke arah mereka dan menelisik kedua anaknya.


"Kalian mau kemana? apa nggak ada waktu lagi untuk keluar hah! nggak liat ini sudah jam berapa?" ucap Abi dengan menunjuk jam di sudut dinding rumahnya.


"Aisss Bi, kita buru-buru Bi, ntar Icad jelasin ya? sekarang biarin Icad keluar bentar. Atau Abi juga mau ikut juga nggak apa, ayo.." ucap Irsyad.


"Emang ada apa? kenapa kalian buru-buru?" tanya Abi.


"Emm yang jelas ini perintah Abang singa, ayo bi buruan." ucap Irsyad.


"Abang singa??" tanya Abi.


"Biii ayo buruan, iya abang singa Abang Syahril." jawab Irsyad yang terus melangkah kan kakinya menuju garasi untuk mengambil mobilnya.


Abi dan mbak Aish masuk kedalam mobil tanpa bertanya kembali dan mereka pun lupa pamit pada ratu dirumah itu. Dengan kecepatan tinggi Irsyad melajukan mobilnya menuju kosan Mimi, beruntung jalanan sepi dan tidak ada polisi yang berjaga.


Sesampainya disana, mereka melihat kosan Mimi masih seperti pertama mereka lihat, sepi tak berpenghuni dan lampu pun tak ada yang menyala..

__ADS_1


tbc


__ADS_2