
Mimi masih menunggu dokter Angela melanjutkan ceritanya. Namun pembicaraan mereka tertunda karena lift pun terbuka.
"Emm kak, kita keruanganku aja yok" Ajak Mimi, Angela pun mengangguk dan mereka berdua berjalan menuju ruangan Mimi.
"Ayo kak masuk dan silahkan duduk" ucap Mimi.
"Bentar ya Mimi ambik minuman dulu." ucap Mimi dan berlalu menuju lemari pendingin di dalam ruangan itu. Mimi ambil dua kaleng soft drink dan kembali ke arah sofa.
"Nit kak."ucap Mimi dengan mberi satu kaleng keoada Angela.
"makasih Mi" jawab nya dam langsung membuka penutup minuman tersebut.
"Jadi emm maksudnya tadi apa ya kak? Emm siapa pasien itu?" Tanya Mimi
Sebelum menjawab Angela hanya geleng-geleng.
"Satu-satu mi nanya nya." jawab Angela.
"Emm maaf, jadi?" ucap Mimi.
"Emm seperti yang aku bikang tadi." ucap Angela sambil menyeruput minumannya.
"Dia pasien nya Syahril, emm tapi semenjak Syahril tidak ada dan setiap dia kontrol selalu menanyakan Syahril."
"Bahkan akhir-akhir ini dia selalu datang dua atau tiga kali sekali. Itu pun selain kontrol dia juga masih menanyakan Syahril kapan pulang."
"Aku kasian sama dia Mi." ucap Angela.
"Kasian?" ucap Mimi.
"Emm seharusnya jika di lihat hasil pemeriksaan dia selama ini dan usia kehamilan nya, seharusnya dia telah melahirkan Mi." Mimi hanya menautkan kedua alisnya belum mengerti maksud dari cerita rekannya.
"Maksud nya kak?" tanya Mimi.
"Iya jika di lihat usia kehamilannya,seharusnya dia telah melahirkan namun hingga saat ini dia belum juga ada tanda-tanda." Jawab Angela.
"Emang berapa usia kehamilannya" ucap Mimi.
"Sudah memasuki Minggu 43 bahkan telah lebih beberapa hari." jawab Dr. Angela.
"43 minggu lebih?" tanya Mimi dan di angguki oleh Dr. Angela.
"Kok bisa? Emm bagaimana hasil pemeriksaannya? keadaan janinnya baik-baik saja kak?" tanya Mimi.
"Emm itulah, Mi. Aneh nya setiap pemeriksaan hasilnya baik, bahkan anak dalam kandungan juga sangat aktif. Bahkan kalau aku lihat tuh anak seakan menunggu Syahril Mi" jawabnya
"Emm, maaf kak. Apa itu normal dengan usia kehamilan segitu?" tanya Mimi dan ada sedikit kesal karena Angela mengatakan kalau anak itu seakan memunggu Syahril suami nya.
"Ya pada umumnya, waktu perkiraan kelahiran bayi berada di antara usia kehamilan 38–42 minggu Mi. Nah apabila bayi belum juga lahir seminggu setelah tanggal perkiraan persalinan, kondisi ibu hamil akan terus dipantau oleh dokter untuk mencegah risiko komplikasi yang dapat terjadi. Namun kehamilan kembar begini yang jarang terjadi sampe usia kehamilan begitu. Makanya semenjak lewat minggunya kakak dan dokter lainnya menyarankan pada nya untuk selali kontrol." jawabnya.
"Oo gitu, apa itu tidak mempengaruhi janin dan ibu nya kak?" tanya Mimi yang bingung.
"Jika selama pemeriksaan semua keadaan baik maka janin dan ibu pun baik. Kakak juga sudah menyarankan agar dia segera melakukan operasi namun dia tetap tidak mau." ucapnya
"Kenapa?" tanya Mimi. Terlihat Dr. Angela menarik nafas dalam dan mengeluarkannua secara perlahan.
"Katanya dia telah berjanji akan melahirkan sama Syahril dan dia juga mengatakan emm." ucap Dr. Angela ragu.
"Mengatakan apa?" tanya Mimi.
"Dia juga mengatakan,kalau dia akan menyerahkan bayi itu kepada Syahril. Dia ingin Syahril yang merawat bayinya." jawab Dr. Angela.
deg
Entah mengapa jantung Mimi berdetak dan seketika ucapan-ucapan Syahril kala mereka di di dusun seolah terngiang di telinga Mimi
"Dek, kelak setelah kita menikah kita program anak kembar ya" ucap Syahril kala itu.
"Kakak,pengen anak kembar?" tanya Mimi.
"Iya dek, senang aja sewaktu memeriksa ibu-ibu hamil yang kehamilan nya anak kembar."
"Ya sedikasihnya Allah saja kak." ucap Mimi.
"Kalau Allah memberikan kita anak kembar langsung apa adek senang?" tanya nya
"Ya senang lah berarti Allah mengijabahnya langsung." jawab Mimi.
"Mi"
"Mimi" panggil Dr. Angela dengan menyentuh lengan Mimi.
"Eh iya kak, ada apa?" jawab Mimi.
"Kamu kenapa?" tanya nya.
"Emm nggak apa-apa kak." jawab Mimi tersenyum.
"Emang dia siapa kak? Emm maksud Mimi pasien itu siapa? kok dia mau menyerahkan bayi nya?" ucap Mimi yg berujung lirih.
"Ya Allah siapakah dia" batin Mimi.
"Emm kalau di lihat di rekam medisnya, namanya sama dengan nama mu Mi. Nama pasien itu Mimi akifah." jawabnya
"Hah!!" ucap Mimi tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, emm dan nama suaminya emmm.." lagi-lagi dr. Angela ragu untuk menyebut nya
"Siapa?" tanya Mimi.
"Syahril." jawab Dr. Angela. Mimi semakin melongok tak percaya.
Deg detak jantung Mimi semakin berdetak kencang.
"Ya Allah, sedemikian kah mereka merencanakan semua ini,." ucap Mimi lirih di dalam batinnya
Pikiran negatif dan prasangka pun menghampiri Mimi, kecewa itulah yang Mimi rasakan. Mimi telah berpikiran negatif kepada lelaki yang baru saja mengikat dirinya dalam ikrar pernikahan.
"Apa itu benar kak?" tanya Mimi.
"Emm iya Mi," jawab Dr Angela.
"Apa setiap dia memeriksa kehamilan selalu bersama suaminya?" tanya Mimi,yang masih berupaya untuk membuang pemikiran negatif walau rasa kecewa itu kentara di wajahnya.
"Selama denganku dia selalu datang sendiri Mim, tapi aku juga pernah bertanya pada Monica dia juga selalu datang sendiri." terang Dr.Angela.
"Emm Mi,coba kau tanya kan pada Syahril karena pasien ini juga selalu menanyakan Syahril. Dia tidak ingin melahirkan dengan yang lain,dia hanya ingin melahirkan dengan Syahril."
"Emm, iya kak. Mimi akan coba memberitahu kak Syahril lewat pesan." ucap Mimi yang langsung berdiri dan berjalan menuju mejanya untuk mengambil ponsel.
Saat ponsel telah di ambil, Mimi mengaktifkannya, setelah itu mimi segera mengirim oesan pada Syahril jika dia sedang aktif minta segera mengubungi Mimi segera.
"Bagaimana Mi?" tanya Dr Angela. Mimi menarik nafas nya dalam.
"Mimi sudah kirim pesan kak, jika dia aktif segera hubungi Mimi." jawab Mimi.
"Kak Syahril sudah berada tempat dinasnya kemarin, jadi disana jaringan belim lancar kecuali kalau kak Syahril berada di bukit." terang Mimi.
"Oo gitu. Susah juga ya, kalau seandai ada kabar mendadak. Seperti saat ini." ucap Dr. Angela.
"Hhhmm" ucap Mimi.
"Sebenarnya kasian Mi, tapi ya mau gimana lagi. Si anak pun kelihatannya juga anteng fan sehat serta aktif dalam perutnya." ucap dr. Angela
Mimi masih terdiam tidak tau harus bersikap bagaimana. Apa lagi prasangka negatif telah menghampirinya. Mimi menyandarkan punggung nya di sandaran sofa dan memejamkan mata nya.
Pikirannya berkecamuk, berulang kali memarik nafas berat nya.
"Ya Allah, ujian apa lagi ini." ucap mimi dalam hati.
"Mi" panggil Dr.Angela.
"Mi.." panggilnya lagi dengan memegang lengan Mimi, Mimi membuka matanya dan melihat ke arah Angela.
"Are you ok?" tanya nya, Mimi tersenyum swngan mata yang sayu
"Kak." panggil Mimi.
"Mungkin tidak di dunia ini ada nama yang sama." ucap Mimi dengan mata melihat ke arah de.Angela.
"Emm 1001ungoin Mi, itu pun mungkin hanya mirp saja, atau sama satu kata aja." jawab Dr. Angela.
"Kalau nama yang sama 100% gitu ada nggak?" tanya Mimi.
"Ya bisa jadi ada Mi." jawab nya.
"Emm.." ucap Mimi dan kembali hening beberapa saat.
"Terus ada nggak kak nama pasangan suami istri yang sama di dunia?" tanya Mimi.
"Eemm nggak tau jiga Mi. Kenapa?" ucapnya.
"Emmm eitss tunggu... tunggu... Maksud kamu tanya ini..( ucapnya terjeda dan mendudukan diri menyamping dan melihat ke arah Mimi), Jangan bilang ka lau... Ya tuhan." ucapnya seakan mengingat nama serta pertanyaan-pertanyaan Mimi.
"Mi.. Jangan-jangan... Ah nggak.. Nggak mungkin." ucap Angela dengan langsung berdiri dengan sebelah tangan memegang kening dan tangan sebelah memegang pinggangnya serta mondar-mandir dengan berusaha menyangkal pemikiran negatifnya.
"Nggak Mi, ngggak.. Itu nggak mungkin" ucapnya dengan masih memegang keningnya dan mondar mandir seperti orang kalut.
"Huh" ucap nya dan menghempaskan dirinya kembali ke sofa serta meneguk soft drink nya.
"Kamu.. Kamu nggak berpikir sejauh itu kan Mi? Aku.." ucap nya.
"Mimi nggak tau kak, semoga ini ..." Ucap Mimi tak ingin melanjutkan praduganya.
Mimi menunduk serta menutup matanya dengan kedua tangannya.. Tak hanya Mimi, Angela pun melakukan hal yang sama.
Mimi berusaha untuk membuang prasangkanya, dia berusaha memantapkan hatinya untuk selalu percaya pada Syahril.
"Mi,.. Aku yakin Syahril tak mungkin melakukan itu." ucap Angela.
"Bodoh nya aku, humm huh. Kenapa aku tak bertanya detail sama perempuan itu."
"Tapi percayalah Mi, aku yakin Syahril tak akan melakukan hal. Hal hal-hal yang.. Achh.." ucap Angela frustasi
"Kamu percaya kan Mi sama Syahril?" tanya Angela, mengangguk.
"Ya kamu harus percaya sama Syahril Mi, harus." ucap Angela.
"Aku, kami tau bagaimana Syahril. Selama kuliah dia orangnya nggak necko-necko. Bahkan dia paling anti sa cewek yang agresif, dia itu 11 12 dengan Alzam (Abidzar), mereka berdua itu hanya setia dengan satu wanita." terang Angela.
"Gini aja, besok kalau dia datang lagi akan aku tanya siapa dia dan tujuannya apa?." ucap Angela.
__ADS_1
"Makasih kak." ucap Mimi. Angela mengangguk.
**
Di'ah memunda keberangkatannya dan beberapa hari menjelang keberangkatannya dia akan menginap di rumah orang tua nya.
Pagi ini dia ikut sarapan bersama, dirumah ryan mau itu hari kerja atau libur, mereka tetap melaksanakan sarapan bersama tiap pagi nya.
"Emm Zack" panggil Ryan.
"Iya bang." jawab Zacky.
"Kamu pulang kapan?" Tanya Ryan. Di'ah dan yang lain hanya menyimak.
"Emm Zacky rencana rabu pulang bang. Kenapa?" tanya Zacky.
"Sudah pesan tiket?" Tanya Ryan, menggeleng karena dalam mulutnya ada makanan.
"Ooo kalau gitu sekalian kamu pesan dua ya?" ucap Ryan. Di'ah terdiam.
"Maksudnya bang?" tanya Zacky.
"Humm huh, kamu pesan dua tiket. Biat kamu sama Di'ah." ucap Ryan, Zacky dan Di'ah sama-sama menautkan dua alisnya. Sedangkan Abi dan Umi hanya diam memyimak begitu juga Baiq.
Ryan yang melihat Zacky dan Di'ah serta orang tuanya bingung pun hanya menarik nafasnya.
"Abang tidak bisa antar Di'ah karena cuti abang cuma batas hari rabu." ucap nya.
"Jadi besok Di'ah pulang sama kamu, jadi toling pesankan tiket buat Di'ah juga. Nanti abang transfer uangnya." imbuh Ryan. Terlihat wajah Di'ah sendu dan kecewa.
"Emm jadi kak Di'ah ndak jadi pulang besok?" tanya Zacky, Ryan menggeleng.
"Terus tiket kemarin? bukqnnua sudah abang pesan dan.." ucao Zacky langsung di potong Ryan.
"Ndak jadi," ucap Ryan dengan menarik nafas,
"Kenapa? sayanglah tiker nya dan duitnya juga sufah abang lunasi kan" ucap Zacky, Ryan mengangkat kedua bahunya.
"Ya mau gimana lagi.. Kalau ada kawanmu chengan atau ada yag mau beli tiket dengan tujuam serta hari sama, kamu tawarkan saja tiket abang." Ucap Ryan,
"Emm iyolah nanti coba Zacky tanya kawan Zacky bang. Sayang lah duit nya lumayan dua tiket, kalau harga seribu dua ndak masalah." ucap Zack sengaja sambil melihat ke Di'ah.
"Ah om, lain kali planing tu harus jelas. Sayang duit sudah keluar ndak jadi. Kalau bisa di balikkin enak nah kalau indak amsyoong." celetuk Baiq.
"Mending duitnya buat Baiq kalau gitu, jadi ndak terbuang sia-sia hasil keringat oom." imbuh Baiq,
"Hussst" ucap Ummi.
"Hmm" ucap Abi yang serentak bersama ummi.
"Piss Tok, Ammi hheehe." ucap Baiq dengan menunjukan dua jarinya, Abi dan ummi hanya menggelengkan kepala sedangkan Di'ah semakin menundukkan kepala nya.
"Oh ya ummi, Abi. Ryan berangkat dulu." ucap Ryan seraya berdiri dan mendekati kedua orang tuanya untuk bersalaman dan pamit.
Di'ah ikut berdiri untuk mengqntqr Ryqn kedepan rumah.
"Kak." panggil Di'ah saat mereka telah tiba di ruang tamu.
"Emm" jawab Ryan.
"Emang benaran kakak ndak bisa ngantar?" tanya Di'ah sendu, Ryan menarik nafas nya.
"Kan sudah aku bilang, batas cuti ku hari rabu, kamis sudah ada di dusun." ucap Ryan tanpa melihat ke arah Di'ah.
"Tapi kak." ucap Di'ah tapi tidal dilanjutkan karena Ryan mengangkat tangannya.
"Sudah lah, Aku rasa sudah cukup kita bahas semalam." ucap Ryan yang merasa jengah.
"Aku berangkat dulu, Assalamualaikum." ucap Ryan berlalu tanpa salaman dan kecupan.
"Wa wa'alaikum salam." ucap Di'ah sendu, tak terasa air mata nya luruh melihat sang suami yang tak menghiraukannya.
Dengan gontai Di'ah kembali masuk setelah mobil Ryan keluar dari perkarangan.
Sedangkan Ryan merasa hatunya sakit, bukan tak ingin tak menghiraukan sang istri, namun rasa kecewa nya kini semakin besar terhadap sang istri.
"Maafkan hamba ya Rabb."
"Bukan tak ingin tak menghiraukannya, hamba hanya ingin dia berpikir agar menghargai hamba." ucap Ryan.
**
Hari keberangkatannya pun tiba, Ryan mengantar Di'ah dan Zacky ke bandara Sulthan Thaha Jambi.
"Zack, hati-hati ya. Titip Di'ah" ucape Ryan saat memeluk sang adik.
"Hmm" jawab Zacky.
"Kak" ucap Di'ah dengan menyalami tangan Ryan dan menciumnya.
"Hati-hati. Jaga kesehatan." ucap Ryan dengan mengecup keningnya.
"Ma maaf." ucao Di'ah dengqn linangan air mata.
"Hmm udahlah tuh sudah ada panggilan." ucap Ryan.
__ADS_1
Zacky dan Di'ah mulai masuk, setelah tak terlihat Ryan pun keluar daei bandara dan melanjutkan perjalanannta hamba langsung ke dusun.
tbc