DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
no tawar-menawar


__ADS_3

Ryan terlihat pucat dan tubuhnya pun mulai lemah karena cairan di dalam tubuh keluar semua.


Syahril selalu setia mendampingi Ryan yang muntah di dalam kamar mandi, Syahril memijat tengkuk Ryan, setelah merasa enakkan Syahril memapah Ryan untuk kembali ke dalam kamar nya.


Farhan membawa kan Ryan teh hangat dan bubur. Yah saat Ryan kembali memuntahkan isi perutnya, Farhan pergi keluar untuk mencari sarapan.


"Nih Yan, minum teh nya dulu biar hangat perut nya telah tu baru makan bubur ni." ucap Farhan.


"Ni Ada bubur ayam sama bubur sum sum, mau makan yang mano Yan." ucap Farhan lagi.


"Emm nanti lah Han, belum selera." jawab Ryan.


"Emang sudah buka Han?" tanya Rudi.


"Baru mau buka mungkin, wak Endek pas buka pintu mau ke mushollah, langsung bae aku pesan hehehe." jawab Farhan.


"Oo" jawab Rudi


"Sini Yan, biar ku kerok in." ucap Rudi yangb telah membawa koin dan minyak urut.


"Hmm" Ryan pun menurut dengan merubah possi menjadi telungkup dan sudah membuka baju nya.


"Aku rasa kau ni bukan masuk angin Yan." ucap Rudi.


"Atau kau keracunan makanan Yan?" ucap Farhan.


"Keracunan makanan apa?" timpal Syahril.


"Sate kambing sama mie ayam" ucap Farhan.


"Yang benar saja Han Han, kalau Ryan keracunan makan itu kita semua juga kena Han, mustahil juga baru muntah ya subuh sampe sekarang." ucap Syahril.


"Ya mana tau Rill, makanan tu Ndak cocok di lambung Ryan." jawab Farhan.


"Lambung Ryan dak cocok, kiamat dunia. Selama ni dia hantu nya makan sate kambing sama mie ayam tu." jawab Syahril.


"Dah lah, aku mau sholat subuh dulu, kalian juga buruan nanti keburu habis waktu." ucap Syahril yang langsung keluar dan menuju kamarnya untuk menjalankan ibadah subuh.


Begitu pula Farhan yang juga ikut keluar menuju kamar mandi untuk mandi. Farhan tidak sholat subuh lagi karena dia telah sholat di mushola saat membeli bubur untuk Ryan.


Sedangkan Rudi dia telah duluan sholat saat semua sahabat sibuk mengurus Ryan.


Farhan dan Syahril telah memakai pakaian dinas nya. Rudi juga telah memakai pakaian dinas begitu pula Ryan.


"Emang sudah sehat Yan?" tanya Syahril saat melihat Ryan keluar dari kamar dan telah memakai pakaian dinas dan membawa piring beserta bubur dua bungkus yang belum kebuka.


"Sudah mendingan Riil." jawabnya seraya duduk lesehan.


"Kalau masih pusing dan mual jangan dulu masuk kerja." ucap Farhan.


"Emm sudah mendingan Han,ending aku ke puskesmas kalau ada apa-apa di puskesmas ramai kalau di rumah aku dewek an." jawabnya.


"Ckk Riil tukar." ucap Ryan ketika melihat Syahril membuka bungkusan sarapannya.


Ryan merasa air liur nya menetes saat melihat isi piring Syahril yaitu pecal sayur.


"Aiss kau ni Yan, perut kau lagi kosong jangan makan pedas dulu lah. Ini pecal pedas Yan." ucap Syahril.


"Dak selera aku makan bubur Riil. Kau juga Han ndak tanya dulu." ucap Ryan.


"Buat apa aku nanya dulu, jelas-jelas perut kau kosong, sampe air kuning yang kau muntahin tadi tu untung dak sampe t*ikau yang keluar." jawab Farhan.


"Makanlah bubur tu Bae, jangan cari penyakit." ucap Farhan, Ryan hanya mendengus dan terpaksa makan bubur dan dia memilih makan bubur sumsum yang manis.


"Kayaknya Ryan ni kena tulah bini" celetuk Rudi.


"Bisa jadi." ucap Farhan.


"Kenapa pula macam itu." ucap Ryan tidak terima.


"Ya iyalah, coba kau ingat semalam. Kau bilang Di'ah nangis cuma nak nengok muko kau, la aku bilang pasti Di'ah tu lagi hamil tapi kau dak cayo nian."


'


"Sudah di jelaskan Syahril pun kau masih dak percaya, apa Idak kena tulah bini." ucap Rudi sambil makan gado-gado.


"Mana ada hubungannya Rud" jawab Ryan.


"Ckk kau ni.. Kau dak percaya kan Di'ah hamil? karena kau menyangka mana mungkin baru beberapa kali cocok tanam bisa hamil. Pasti itukan dalam pikiran kau."


"Kau kau dak percaya, dak yakin makanya Allah ngasih hadiah sama kau. Jadi Allah memberikan hadiah biar kau yang merasakan kenikmatan yang di rasakan wanita hamil." ucap Rudi.


"Kalau dak percaya juga tanya sama tu Syahril." ucap Rudi lagi.


"Emang bisa gitu Riil? Seandainya kalau memang Di'ah hamil masa iya yang muntah aku." ucap Ryan. Syahril tersenyum dan mengangguk.


"Ya bisa Yan, itu disebut sebagai kehamilan simpatik, yang mana suami mengalami gejala kehamilan seperti mual, muntah, gangguan tidur hingga berat badan naik." ucap Syahril.

__ADS_1


"Kok bisa?" tanya Ryan, lagi-lagi Syahril tersenyum.


"Ya. Isa la Yan, karena itu disebabkan stres dan empati yang dirasakan sang suami. Seperti saat ini yang kau rasakan."


"Karena kau kepikiran dengan Di'ah yang tiba-tiba menangis yang hanya ingin melihat wajah mu itu, jadi tanpa kau sadari membuat pikiran mu stres dan itu karena kau khawatir terhadap kondisi kesehatan Di'ah dan finansial. Jadi rasa empati itu muncul sehingga memicu gejala kehamilan simpatik." terang Syahril.


"Nah jadi ya tuhan itu maha adil Yan, jangan enak nya Bae kau mau pas saat hasil datang kau dak siap pula menerimanya." ucap Rudi.


"Bukan dak siap Rudi, cuma ya.. Aku kepikiran kalau memang Di'ah hamil, kan mau tau sendiri kalau dia di sana sendirian."


"Aku malah berencana kalau memang Di'ah dinyatakan hamil aku minta dia cuti dulu kuliahnya dan pulang lagi kesini." jawab Ryan.


"Dak perlu khawatir,kalau kau khawatir kalau dia bakal morning sickness kan sudah Allah ganti ke kau." seloroh Rudi.


"Ckckck kau ni Rud, walau bagaimanapun tetap aku khawatir Rud." jawab Ryan.


"Udah-udah, yok kita berangkat. Kau benaran kan Yan dah sehat?" tanya Syahril.


"Iya Riil, sudah ndak mual lagi" jawab Ryan.


Mereka pun pergi ke puskesmas bersama-sama untuk menjalankan tugas mereka sebagai seorang dokter.


Di LA, Di'ah mulai pergi ke kampus, namun saat ini jadwalnya beralih menjadi siang maka dari itu kerjaan nya pun beralih ke pagi.


Saat pagi pasien begitu ramai apa, Di'ah melayani pasien bersama rekan-rekannya.


Jika waktu lagi tak ada kata senggang, jadi tidak ada waktu untuk bersantai dan bergosip ria.


Saat jam dinas usai, Di'ah menuju keruang perawat dan menuju ke loker nya terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti karena sehabis dari dinas dia akan langsung pergi ke kampus.


Disaat waktu yang mepet, Di'ah menyempatkan diri bertanya kepada sesama rekan perihal si twins.


"Nes." panggil Di'ah kepada rekan kerjanya bernama Agnes.


"Ya Di" jawab Agnes yang hanya memanggil Di'ah dengan Di, karena menurut Agnes susah memanggil Di'ah jadi dia hanya memanggil Di saja.


"Jadi benaran dengan chat mu waktu itu?" tanya Di'ah.


"Chat yang mana?" tanya Agnes.


"Itu dokter Mimi yang punya anak twins." ucap Di'ah.


"Oo itu, aku heran sama kamu Di, padahal kamu dekat bahkan sahabat nya dokter Mimi kok kamu tidak tau?" Agnes bukan nya menjawab malah kembali bertanya kepada Di'ah.


"Ckk mungkin dia lupa Nes, soalnya kan aku baru tiba kemarin." jawab Di'ah.


"Jadi cerita bagaimana Ness?" tanya Di'ah.


"Ya cerita nya emang benar kau dokter Mimi sudah punya anak twins boy." jawab Agnes.


"Kok bisa?" jawab Di'ah.


"Ya bisa saja lah Di, kalau tuhan berkehendak.Yang pasti twins boy saat ini anaknya dokter Mimi dan dokter Syahril" uacp Agnes.


"Ya kok bisa Ness, itu mustahil. Kau kan tau kau mereka aja baru nikah, baru beberapa hari loh nikahnya." ucap Di'ah.


"Diah sayang, anak itu tidak harus dari rahim kita. Tapi yang pasti ni ya kita semua disini sudah tau kalau itu anak dokter Mimi dan dokter Syahril. Masalah bagaimana nya itu rahasia perusahaan dan kita semua tidak diperbolehkan untuk menyebar luaskan." ucap Agnes yang memanggil Di'ah dengan Diah.


"Kau kau mau lebih jelas kau tanya saja sama dokter Mimi, oke. Aku duluan ya, aku mau langsung ke cafe. bye." ucap Agnes langsung pergi meninggalkan Di'ah yang masih belum puas dengan penjelasan Agnes.


**


Siang hari sebelum pulang kerumah Syahril pergi ke bukit untuk menghubungi Mimi karena semalam dia lupa.


Sedangkan ketiga sahabatnya langsung pulang apa lagi Ryan yang kembali tak enak badan.


"Assalamualaikum" ucap Mimi ketika menerima panggilan dari Syahril.


"Waalaikum salam. Lagi apa yank?" ucap Syahril.


"Twins mana yank? tanya Syahril kembali.


"Twins masih di rumah sakit kak." jawab Mimi.


"Lo kok di rumah sakit, emang twins kenapa?" tanya Syahril khawatir.


"Alhamdulillah twins sehat wal afiat, ya masih di rumah sakit karena Mimi bingung kak mau. Awa twins kemana." jawab Mimi.


"Kok bingung sih yank, ya do bawa lah ke apartemen, gimana sih. Kasian twins yank. yang apa yang buat kamu bingung." ucap Syahril dan bertanya tentang kebingungan Mimi.


"Ya Mimi bingung kak, huum huh Mimi bingung mau ditempatkan dimana. Mimi kan masih di apartemen mendiang mas Abi. Mimi merasa ndak enak saja membawa twin kesini."


"Ya walau mas Khaliq juga nyuruh tapi Mimi merasa tidak enak kak, twins kan pastinya nanti ada baby sister yang jagain mereka dan baby sister juga butuh kamar. Mimi Ndak enak saja kalau memakai kamar-kamar yang ada." terang Mimi, Syahril hanya mendesah.


"Yank, kakak kan sudah bilang ayank pindah saja ke apartemen kakak. Apartemen kakak itu apartemen ayank juga sekarang. Ayank sekarang itu istrinya kakak, kakak mau ayank tinggal di apartemen kita saja ya." ucap Syahril.


"Tapi bagaimana ngomong sama ayah Brata sama bunda nya kak. Mimi merasa tak enak hati." jawab Mimi.

__ADS_1


"Ya ayank bilang saja apa adanya, bilang kalau ayank sekarang adalah istri kakak dan ayank berterimakasih lah sama ayah Brata atas kebaikan mereka selama ini." ucap Syahril.


"Kakak yakin pasti ayah Brata mengerti dan memaklumi nya. Atau jangan-jangan ayank yang ndak mau pisah dari kamar mendiang." ucap Syahril yang ada sedikit rasa cemburu di hatinya.


Walaupun mendiang telah lama tiada namun ada rasa cemburu di hati Syahril, apa lagi Syahril tau di dalam kamar yang di tempati Mimi itu masih ada foto mendiang bersama Mimi saat pertunangan bahkan prewed mereka dahulu.


"Kok kakak ngomong gitu?" ucap Mimi.


"Yah habis kamu seolah ndak mau pisah dari kamar itu." ucap Syahril.


"Ckk apaan lah kakak ini. Kakak cemburu?" ucap Mimi.


"Siapa yang ndak cemburu yank, istri nya nyaman tidur di kamar mantan nya." ucap Syahril.


"Hahahaha kak kakak, huh di bilang nyaman ya emang nyaman kak karena Mimi dari awal langsung menempati kamar mendiang. Tapi kan saat ini di hati Mimi cuma ada kakak jadi buat apa cemburu sama mendiang."


"Ya nanti Mimi akan bicara sama ayah Brata dan bunda Rahma. Emm berarti besok Mimi mulai dekor kamar khusus twins ya kak," ucap Mimi.


"Iya sayang, nanti kakak minta bantu teman kakak yang arsitek disana buat bantu kamu dan nanti minta tolong saja sama tukang bersih-bersih yang biasa bersihin di apartemen kakak." ucap Syahril.


"Oke, tumben kakak telpon siang apa dari dinas luar ya?" ucap Mimi.


"Ndak juga, waktu istirahat kakak sempati pergi ke bukit. Oh ya kamu lagi apa yank?" tanya Syahril.


"Emm lagi belajar sambil mompa ASI." ucap Mimi.


"What, apa yank mompa ASI? tanya Syahril.


"Iya kakak sayang, maaf Mimi tidak minta izin sama kakak. Mimi hanya ingin memberi asi pada twins kak." ucap Mimi merasa tak enak hati dan merasa sangat amat bersalah tidak meminta izin dahulu pada suaminya.


"Emm alasan kamu memberikan asi pada twins apa" tanya Syahril.


"Ya alasannya supaya ada ikatan batin antara twin dengan Mimi kak, dan Mimi juga ingin memenuhi nutrisi yang baik untuk twins. Maafkan Mimi ya." ucap Mimi.


"Niat kamu bagus dek, tapi.. Emm apa asi nya lancar? apa twin juga langsung asi ke ***** adek?" ucap Syahril.


"Alhamdulillah kak ASI yang Mimi hasilkan sangat banyak dan lancar, semua juga atas saran dokter laktasi. Yah kalau pagi sebelum ke kampus Mimi kasih asi ke twins secara langsung." jawab Mimi, Syahril yang mendengar nya hanya mendesah dan menyugar rambutnya.


"Emang kenapa kak?" tanya Mimi.


"Emm berarti kakak kalah sama twins." jawab nya lesu.


"Kalah? kalah kenapa?" tanya Mimi.


"Yah kalah, kalah saing sama twins. kakak baru sekali lah twins berkali-kali." ucap Syahril yang lirih di ujungnya, Mimi hanya tersenyum.


"Ayah yang ikhlas ya." jawab Mimi.


"Ya harus ikhlas, tapi nanti kalau dah ketemu gantian prioritaskan pada ayah ya mom." ucap Syahril.


"Iss apaan lah ayah ni." jawab Mimi malu-malu.


"Pokoknya harus mom, itukan milik ayah jadi kalau ayah kesana nanti prioritas kan buat ayah, twins pakai dot saja." ucap Syahril.


"kok gitu?" tanya Mimi.


"Ya harus gitu, pokonya no tawar-menawar." jawab Syahril.


"Yaudah, kau gitu jalan ayah kesini?" tanya Mimi.


"Emm ini ayah usahakan menyelesaikan tugas ayah dulu, soalnya ayah lagi ada tugas buat membina para dukun beranak untuk memahami cara membantu melahirkan." jawab Syahril.


"Oo gitu, yaudah semoga cepat selesai tugas ayah." ucap Mimi.


"Oh ya yank, apa kamu ada ketemu Di'ah?" tanya Syahril.


"Emm Di'ah? belum yah, emang dia sudah pulang kesini?" tanya Mimi.


"Sudah yank, kemaren tapi dia pulang sendiri." jawab Syahril.


"Kok sendiri? emang kak Ryan tidak ikut ngantar?" tanya Mimi.


"Tidak, sudah dulu ya yank, nanti coba kamu lihat Di'ah." ucap Syahril.


"Iya kak besok lah Mimi liat." jawab Mimi.


"Yaudah yank jangan tidur malam-y jaga kesehatan ya." ucap Syahril.


"Iya begitu juga dengan kakak jangan kecapekan." jawab Mimi.


"Assalamualaikum sayang.'' ucap Syahril


"Waalaikum salam." jawab Mimi.


Setelah menelpon Mimi Syahril pun langsung pulang. Dia sangat bahagi setelah mendengar dan melihat wajah istrinya.


##tbc##

__ADS_1


'


__ADS_2