
Semenjak beberapa hari ini Dillah mengikuti saran sahabat-sahabatnya untuk tidak datang ke kosan Mimi. Namun entah mengapa hatinya masih terus berontak agar dia datang ke kosan itu.
Di hari Jum'at Dillah masih menahan dirinya untuk tidak mengunjungi Mimi, tetapi setelah sholat Jum'at dia merasa harus segera menemui Mimi. Sehingga diapun pergi untuk menemui Mimi di kosannya tak lupa sebelum kesana dia mampir terlebih dahulu dicafe resto miliknya dekat kampus.
Setelah membeli beberapa menu masakan restonya, Dillah segera pergi menuju kosan Mimi. Walau Dillah adalah pemilik resto tersebut dia tidak semena-mena tinggal mengambil apa yang diinginkannya. Jika dia ingin makan sesuatu di cafe restonya dia tetap akan membayar nya sesuai harga.
Dengan senyum sumringahnya, Dillah berjalan seraya membawa beberapa kantong di kedua tangan nya. Dillah berjalan menuju mobil dengan hati yang berbunga-bunga sesekali diapun bersiul ria.
"Semoga kali ini dia ada di kosannya dan maaf Mi sekali ini tidak ada penolakan." ucapnya sambil melihat spion di dalam mobilnya.
Perlahan namun pasti, Dillah pun sampai di depan kosan Mimi. Sebelum dia turun dari mobil, Dillah melihat keadaan kosan Mimi yang sepi.
Beberapa menit dia masih berada di dalam mobil, akhirnya Dillah pun keluar. Dengan gayanya yang cool, Dillah berjalan menuju pintu pagar kosan Mimi.
Sesampainya disana Dillah melihat jika pintu pagar itu di gembok.
"Huum huh, apa dia sengaja ya gembokin pintu pagarnya supaya aku tidak menghampirinya lagi." ucap Dillah dengan prasangka buruknya.
"Apa aku masuk aja ya, lompatin nih pagar." ucap Dillah dengan dirinya sendiri.
"Masuk nggak, masuk nggak, lompat nggak lompat nggak." Dillah terus bimbang dengan dirinya antara tetap masuk atau tidak.
Lama Dillah berdiri di depan pintu pagar yang tergembok, terlihat seorang wanita muda tetangga Mimi keluar dari dalam kosan dengan seorang anak kecil yang sedang berlari keluar.
Wanita muda tersebut juga melihat ke arah Dillah yang kebingungan maka tetangga itu menyapa Dillah.
"Mau cari siapa Om?" tanya wanita muda tetangga Mimi.
"Emm mau cari pemilik kosan ini mbak." jawab Dillah.
"Oom ganteng mau cali Tante cantik ya?" tanya anak kecil tersebut yang tak lain anak dari wanita muda itu.
"Iya manis." jawab Dillah dengan mendekati si gadis kecil yang manis itu.
"Namanya siapa sayang?" tanya Dillah yang gemes pada gadis kecil nan gembul itu.
"Nama aku Cilla om, oom siapa namanya?" jawab cila dan kembali bertanya pada Dillah.
"Nama oom Sa'id sayang, Tante cantiknya ada nggak?" tanya Dillah.
"Cila ndak tau Om" jawab Cila gadis cilik.
"Mimi lagi keluar Om, katanya sih ngantar pesanan kue ke pelanggannya." kali ini yang jawab ibu nya Cila
"Oo gitu ya mbak." jawab Dillah.
"Kira-kira dia dah lama mbak keluarnya?" tanya Dillah.
"Emm lumayan sih dari jam sebelasan." jawab ibunya Cila.
"Oh gitu." jawab Dillah lesu.
"Iya Om kalau mau datang lagi sorean aja, biasanya kalau Mimi keluar ngantar pesanan lumayan lama juga pulangnya. Biasanya dia sekalian beli bahan-bahan kuenya lagi." ucap ibunya Cila.
Dillah diam mencerna ucapan dari ibunya Cila, "ya apa yang dikatakannya kemungkinan benar juga" Dillah ngebatin.
"Emm yaudah mbak kalau gitu saya pulang dulu." ucap Dillah berpamitan.
"Iya Om hati-hati." jawab ibunya Cila, Dillah hanya mengangguk dan berlalu masuk kedalam mobilnya dengan helaan nafas panjang.
"Huuuuum huuuh, gagal maning." Gumamnya seraya menghidupkan mesin mobilnya. Setelah menghidupkan klakson mobilnya Dillah pun pergi dari kosan Mimi.
Di apartemennya Dillah, para sahabat telah menunggunya. Ya rencana mereka hari ini akan mengunjungi outlet mereka yang berada di depan taman baru.
Satu jam perjalanan Dillah menuju apartemennya karena dia melajukan mobil dengan kecepatan rendah.
Dengan jalan yang gontai, Dillah pun sampai di apartemen nya. Saat masuk ke dalam apartemen, terlihat ketiga sahabatnya sudah duduk dengan berbagai macam gaya.
Dillah masuk ke dalam menuju sofa yang masih kosong. Ditaruhnya beberapa kantong yang dia bawa dari resto dinayas meja. Setelah itu di hempaskan badannya diatas sofa.
"Wuiih tumben Lo beli makanan di luar." ucap Satria.
"Iya kebetulan kita juga laper nungguin Lo dari tadi." sahut Yogi sambil membuka beberapa menu di dalam kantong itu.
"Wah ini sih aroma-aroma nya emmm." ucap Satria melihat ke arah Dillah yang hanya diam di atas sofa.
Yah Dillah hanya diam sambil memijit pangkal tulang hidung gdengan kedua jari jempol nya dengan kedua tangannya bertumpu di atas lutut.
Dillah memijat pelipisnya matanya juga dengan mata yang terpejam dan helaan nafas.
"Jangan bilang Lo dari kosan Mimi." ucap Reno dengan tebakan yang tepat, Dillah hanya menghelakan nafasnya.
"Huum pasti ditolak lagi ya sama Mimi." ucap Yogi.
"Lo juga sih, jadi cowok kok gitu amat, amat aja nggak gitu loh Dil." sahut Satria sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa piring.
"Kan sudah gue bilang Dil, kasih ruang buat Mimi. Mungkin dia sibuk, lebih tepatnya menyibukkan dirinya. Kalau Lo terus terusan menghampiri dia, apa lagi kalau dia lagi sibuk yang ada dia jengah sama Lo." ucap Reno menasehati.
"Emang Lo ketemu sama dia tadi?" tanya Reno lagi dan Dillah hanya menggeleng.
"Terus?" tanya Satria yang sudah meletakkan beberapa piring dan beberapa botol air mineral.
"Dia nggak ada di kosan nya." jawab Dillah.
"Hahaaaa, emang nasib sial Lo Dil." ejek Yogi, Dillah hanya diam.
"Emang dia kemana?" tanya Satria dengan memasukkan makanan kedalam piringnya.
"Huum huh, dia lagi ngantar pesanan kue ke pelanggannya." jawab Dillah.
"Ooo" ucap Satria yang sudah memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Tuh kan apa gue bilang dia itu lagi sibuk, menyibukkan dirinya. Jadi ya jangan Lo ganggu dulu dia." ucap Reno yang juga ikut menyendokkan makanan kedalam piringnya.
"Emm mending kita makan dulu Dil, karena rasa kecewa juga menguras energi." ucap Yogi.
"S*al Lo." ucap Dillah dengan melempar bantal kursi ke arah Yogi.
"Eitsss nggak kena ( Yogi mengelak ) , kecewa itu hampir sama Dil dengan patah hati jadi sama-sama butuh asupan nutrisi biar kuat menghadapi kenyataan kedepannya." ucap Yogi.
"Sotoy Lo." ucap Dillah yang juga ikut mengambil makanan.
"Setelah ini kita ke ruko taman baru ya, ya kebetulan juga ada barang masuk." ucap Satria.
__ADS_1
"Siip lah." ucap mereka bersama, mereka pun makan bersama dengan tenang dan sesekali diiringi candaan.
Setalah makan mereka pun pergi ke ruko mereka di taman baru untuk mengecek keadaan disana.
Yah usaha mereka disana sudah berjalan beberapa hari lalu, pengunjung taman pun semakin hari semakin bertambah. Apalagi bila hari libur kerja, setiap Sabtu Minggu taman ini akan padat oleh pengunjung dengan membawa anggota keluarga mereka.
Usaha resto, coffeshop, distro serta ayam geprek mereka pun ikut kena imbasnya. Dengan banyak nya pengunjung di taman maka banyak pula pengunjung di tempat usaha mereka.
Niat hati mereka hanya sebentar, namun karena melihat pengunjung banyak hari ini, mereka pun turun tangan membantu pegawai-pegawai mereka.
Bagi yang tidak tau, maka mereka akan menganggap pemilik usaha ini adalah pelayan resto. Yah begitulah Dillah dan sahabatnya dia tidak segan-segan untuk turun tangan langsung membantu pegawai-pegawai mereka bila di tempat mereka ramai oleh pengunjung seperti saat ini.
Jam empat sore baru mereka berhenti, terutama Dillah dia berencana akan kembali lagi ke kosan Mimi sore ini.
"Beneran Lo mau datang lagi Dil?" tanya Satria pada Dillah.
"Iya Sat, gue nggak tau kenapa hati gue selalu meminta untuk menemuinya." jawab Dillah.
"Heleh akal-akalan Lo aja Dil." seru Yogi.
"Terserah Lo deh Dil, gue udah bilang ke Lo. Beri dia waktu, palingan juga ntar Lo di usir lagi dari kosan." ucap Reno.
"Emm kita coba aja dulu." ucap Dillah. Mereka pun segera pergi dari daerah ini.
Dari ruko mereka di depan taman menuju kosan Mimi memakan waktu hampir satu setengah jam. Setelah sampai sana mereka mampir ke masjid terlebih dahulu untuk menjalankan sholat magrib.
Setelah sholat mereka melanjutkan menuju kosan Mimi, kali ini Dillah pergi bersama teman-temannya mungkin dengan ini Mimi tidak bisa menolak kedatangan nya lagi.
Tapi nasib belum berpihak pada Dillah, saat sampai dimdwlan kosan Mimi, Dillah melihat pintu pagar masih tergembok dan keadaan kosan Mimi juga gelap.
"Lo yakin Dil Mimi ada?" tanya Satria sambil melihat ke arah kosan Mimi yang gulita.
"Iya Dil, Lo yakin? masa Mimi ngantar pesanan ampe malam." tanya Yogi.
"Lo tau Mimi antar pesanan dari siapa Dil?" tanya Reno.
"Gue tau dari tetangga nya itu siang tadi." ucap Dillah dengan menunjuk rumah disebelah kosan Mimi
Mereka semua celingukan, keadaan di sini sanagt sepi secara blok ini kebanyakan anak kos dan yang ngontrak berkeluarga juga bisa dihitung.
Lama mereka celingukan mencari orang yang mungkin bisa mereka tanya. Dillah ingin bertanya lagi pada tetangga Mimi namun keadaan rumahnya juga gulita, hanya lampu luar yang nyala.
"Kok jadi serem ya Dil." ucap Yogi.
"Serem gimana Gi?" tanya Satria.
"Ya serem. Dillah bilang tetangganya Mimi yang bilang Mimi antar pesanan, lah itu rumah tetangganya aja gelap gitu." ucap Yogi dengan menunjuk ke arah rumahntetangga Mimi.
"Iya juga ya." ucap Satria, semua melihat ke arah rumah tetangga Mimi yang juga gelap.
"Lo yakin kan Dil, tadi lo bicara sama manusia?" tanya Yogi horor.
"Ya yakinlah lah Gi, masa iya siang-siang ada setan." ucap Dillah. Saat Dillah menyebutkan nama setan tiba-tiba terhembus angin disekitar mereka.
"Kutu ku*ret Lo Dil, pakek nyebut tu nama. Langsung disamperin ntar, ini baru hembusan anginnya yang dihembuskan." ucap Satria.
"Heleh tuh angin ya emang mau lewat Sat, emm apa kita lewatin aja ya pagarnya." ucap Dillah.
"Gila Lo, mau ngapain lewat pagar. Mau maling Lo!" ucap Reno.
"Lo tu mikirnya kedangkalan atau kejauhan ya Dil, gila aja Lo pikir ini sebuah taktik Mimi, noh liat rumah nya aja gelap tanpa penerangan. Kalau hanya pintu pagar di gembok dan di dalam rumah terang mungkin bisa di bilang taktik, lah ini rumah gelap gulita gitu Lo bilang taktik. Yang ada Mimi ngap dalam kegelapan." ucap Reno.
Disaat mereka sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan satpam dari rumah Bu Retno.
"Sedang apa kalian?" tanya nya dengan senter mengarah pada mukanya.
"Astaghfirullaaaaaah aaaa" ucap Satria dan Yogi dan berteriak karena posisi merekalah yang dekat dari pak satpam.
"Astaghfirullah" ucap Dillah dan Reno dengan mengusap dadanya yang juga kaget apa lagi Yogi dan Satria langsung menghambur memeluk diri mereka.
"Hemm." ucap pak satpam.
"Kalian siapa? mau apa? mau merampok ya?" tanya pak satpam.
"Wuiddihh si bapak, kita ganteng-ganteng gini dikira mau merampok." ucap Yogi.
"Kalau bukan mau ngerampok ngapain kalian dari tadi disini celingak-celinguk gitu." ucap pak satpam.
"Gini pak, kami mencari Mimi, kami temannya Mimi." ucap Dillah.
Pak satpam tidak begitu saja percaya, pak satpam memperhatikan mereka satu-persatu dengan mengarahkan senter ke muka mereka.
"Mbak Mimi nya tidak ada, dia pulang kampung." ucap pak satpam.
"Apaa!!" ucap mereka.
"Ckk kalian ini masih muda tapi udah pada budeg, iya dia sudah pulkam." ucap pak satpam.
"Tapi pak, siang tadi dia masih ada kan?" tanya Dillah.
"Iya tadi siang, kalau sekarang udah nggak ada." jawab pak satpam ketus.
"Emang kapan dia berangkat pak?" tanya Satria.
"Lah katanya kalian teman nya kenapa pada nggak tau?" ucap pak satpam dan membuat mereka gelagapan dan menggaruk kepala masing-masing.
"Hehhee dia nggak kasih tau kita pak, kata dia nggak pulkam." ucap Reno.
"Hmm, sore tadi dia berangkat ke bandara. Sudah sudah lebih baik kalian pulang saja." ucap pak satpam dan mengusir mereka semua.
"Baik pak, makasih infonya. Kami permisi." ucap Dillah dan berjalan gontai ke arah mobilnya.
Setelah membunyi klakson dan di jawab pak satpam mereka pun pergi meninggalkan kosan Mimi.
"Emang nasib Lo Dil." ucap Yogi.
"Itu tandanya Allah belum ngizinin Lo buat ketemu dia." sahut Reno. Dillah hanya menghelakan nafasnya.
"Begini amat ya ngejar cewek idaman." sindir Satria dengan mata fokus ke jalanan.
"Cinta emang butuh perjuangan Sat, tapi ya jangan di uber terus semakin di uber ya semakin jauh." ucap Reno menyindir balik.
"Betul juga tu Ren, cewek keg Mimi gitu harus di jinak-jinak merpati, alon-alon asal kelakon." sahut Yogi.
__ADS_1
Dillah hanya diam mendengar ucapan-ucapan sindiran dari ketiga sahabatnya.
Di Jambi.
Syahril terus melajukan motornya hingga sampailah dia dirumah Nyai. Syahril dengan cepat memarkirkan motornya di bawah tangga, seyelah itu dia langsung berlari menaiki anak tangga hingga tibalah dinpintu masuk.
"Assalamualaikum" ucap Syahril.
"Waalaikum salam." ucap semua orang yang ada didalam.
"Syahril." ucap emak dan Bi Ida, Syahril masuk kedalam rumah dan menyalami mereka semua satu persatu. Terlihat wajah Syahril yang sayu dan pucat.
"Ada apa nak?" tanya emak pada Syahril.
"Mak, Mimi mana?" tanya nya.
"Mimi tidak ada nak." jawab emak
"Tidak mungkin, pasti Mimi sembunyikan Mak. Mak kasih tau Syahril dimana Mimi Mak." ucap Syahril yang terlihat rapuh.
"Riil, Mimi tidak ada di rumah ini." ucap pakdo.
"Riil, Om tau. Ndak mudah Syahril menerima semua ini. Tapi inilah kenyataannya Riil, berusahalah melupakan Mimi dan mulailah hidup yang baru." Ucapmom Adrian.
"Tidak Om, Syahril tidak bisa. Hidup Syahril hanya Mimi, Om kasih tau Syahril dimana Mimi sekarang. Mii.. Mimi.. Dek.. Adek dimana dek." ucap Syahril dan terus memanggil Mimi dengan membuka kamar Mimi.
"Riil, mimi tidak ada di rumah ini, dia sudah pulang ke Semarang." ucap pakdo dan memberitahu Syahril.
"Semarang, dia pulang." ucap syahril dan memberhentikan langkahnya untuk mencari Mimi disetiap sudut rumah.
"Iya dia sudah pulang, dia sudah berangkat ke bandara tadi." ucap pakdo. Syahril terdiam dengan deraian air mata.
"Secepat itu adek mau melupakan kakak dek." ucapnya lirih.
"Riil, belajarlah melupakan Mimi. Jangan disia-siakan pengorbanannya." ucap pakdo.
Tak lama terdengar lagi ucapan salam dari luar.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam." ucap semua yang ada didalam.
Ryan dan yang lain masuk langsung menyalami setiap orang yang ada didalam rumah.
"Riil, kamu itu baru juga sadar dah pergi aja, nggak mikir kamu hah!" ucap Ryan.
"Sadar, sadar apa ini?" tanya pakdo.
"Iya pakdo, dia tadi pingsan kurang lebih satu jaman baru tersadar, setelah sadar dia langsung lari kesini pakai motor." adu Ryan.
"Syahril, apa yang kamu lakukan itu bisa membahayakan dirimu lagi." ucap pakdo tapi Syahril tidak memperdulikannya.
"Jam berapa Mimi berangkat pakdo?" tanya Syahril.
"Dia berangkat jam empat lewat tadi, dia naik penerbangan jam enam." jawab pakdo.
Tanpa kata-kata lagi Syahril langsung permisi dan turun dari rumah.
"Makasih pakdo." ucapnya dan langsung berlalu.
"Riil, tunggu.
" Pakdo, Mak, pak, kami pergi nyusul Syahril dulu, assalamualaikum." ucap Ryan dan pamit kepada semua.
"Waalaikum salam." jawab mereka
"Riil tunggu." panggil abang Afnan.
"Biar abang yang bawa." ucap bang Afnan, Syahril pun menurut.
Disepanjang jalan Syahril menyuruh bang Afnan untuk cepat karena waktu terus berjalan.
"Bang, cepat bang" ucap Syahril.
"Sabar dek, kita tidak bisa lebih cepat dari ini._ jawab bang Afnan yang masih fokus membawa motornya.
Hampir satu jam mereka menempuh jalanan, tepat jam enam kurang lima menit mereka sampai. Syahril yang tidak sabar langsung turun dari motor dengan meloncat dan berlari masuk ke dalam.
Syahril langsung berlari hingga terdengar suara dari petugas menyatakan pesawat Jambi-Semarang akan segera take-off.
"Ya Allah.." ucapnya yang terus berlari namun apa daya Syahril telah terlambat.
Semua sepupu beserta dua abangnya telah sampai mendekati Syahril. Dilihatnya Syahril terduduk di depan jalur para penumpang masuk ke boardingpass.
"Riil.." panggil mereka semua.
"Mimi sudah pergi." ucap Syahril.
"Sudah dek, sabar, mungkin ini kehendak Allah buat kalian berdua." ucap bang Afnan seraya membantu Syahril berdiri.
"Kenapa semua terjadi pada Syahril bang, kenapa cinta Syahril harus lepas." ucapnya dengan di rangkul oleh bang Afnan.
"Percayalah semua pasti ada hikmahnya dek. Bersabarlah." ucap bang Afkar yang juga ikut merangkul satu sisi adeknya.
Lama mereka berdiam diri di bandara, seketika terdengar riah riuh dari orang yang berlalu lalang.
"Ada apa ya bang? kenapa perasan Syahril tidak enak." tanya Syahril ketika melihat ada beberapa orang yang menangis.
"Ya Allah ada apa ini?" tanya Syahril dengan panik melihat sebagian orang ada yang panik bahkan ada yang menangis.
"Mungkin pesawat delay dek, sabar. Tenangkan dirimu." ucap bang Afkar yang sejujurnya juga merasa tidak tenang.
"Kalau pesawat delay ndak mungkin ada yang nangis bang." ucap Syahril semakin panik, hatinya pun semakin tidak tenang.
"Riil, sabar, mungkin itu salah satu kerabat yang ditinggal pergi." ucap Ryan.
Mereka masih melanjutkan jalan akan menuju keluar tapi tiba-tiba mereka terdengar gasak gusuk dari orang-orang sekitar yang membuat mereka shock.
Bahkan Syahril terdiam mematung, kakinya melemah seakan tidak bisa menopang tubuhnya lagi, pandangannya seakan kabur oleh air mata yang semakin deras..
"Tidaaakkkkk Mimiii." teriak Shahril.
"Sabar ya sayang kita lanjut Next bab." ucap author.
__ADS_1
Assalamualaikum selamat lagi semua, selamat beraktifitas. Terimakasih atas dukungannya, semoga barokah