
Tak berselang lama Syahril rurun dari rumah Nyai, Mimi pun tiba di rumah Nyai. Mimi menggunakan taxi !enuju rumah Nyai, dia sengaja tidak me!beritahu semua orang kalau dia akan pulang ke Jambi hari ini.
Kepulangan Mimi tentunya membuat semua orang terkejut bahkan Nyai Mimi tak hentinya menangis kala melihat sang cucu berdiri di hadapannya.
Tak hanya Nyai, semua Paman dan bibi nya ikut bersedih secara mereak Minggu ini sedang berkumpul. Yang seharusnya hari ini berkutik!pula dengan bertambahnya anggota namun hati ini mereka berkumpul seperti biasa dan yang ada mereka berkumpul!luo untuk melihat anak mereka masih berusaha kuat dan tegar.
"Assalamualaikum" ucap Mimi ketika telah sampai di depan pintu pagar.
"Waalaikum salam " jawab mereka semua yang sedang duduk-duduk di serambi/teras.
Mimi masuk dengan tersenyum dan mengalami mereka sagu persatu. semua anggota nya tercengang kala melihat yang datang kali ini adalah Mimi.
Mimi mengalami nyainya dan nyai langsung memeluk serta menepuk pundaknya sambil menangis haru.
"Yang sabar yo Cong, huhuhu" ucap Nyai me!beri kekuatan lada Mimi dengan tangisannya.
"Nyai kenapa nangis? Mimi ndak apa-apa," jawab Mimi dengan tersenyum pilu melihat orang yang menyayanginya menangisi dirinya.
"Nyai sehat kan?" tanya Mimk dengan maaih tersenyum.
"Alhamdulillah Nyai sehat lah, kau macam mano Cong." jawab Nyai dan bertanya kabar pada Mimi.
''Alhamdulillah, Mimi sehat juga. Kalau ndak sehat ndak bisa Mimi balek." ucap Mimi dengan berkelakar.
Semua orang ketawa dengar kelakar Mimi, tqpindi hati dan pikiran mereka tau jika anak mereka satumini sedang tidak baik-baik saja.
"Ya Allah, hamba mengambil keputusan ininsajanmereka bersedih bagaiman jika ambil keputusan untuk menikah dengannya, bukan sedih lahimuangbmereka dapatkan mungkin hinaan serta cacian orang akan mereka dapatkan." ucap Mimk dalam hati ketika Mimi melihat raut wajah keluarganya sagu persatu di balik tawa mereka, sesungguhnya mereka pun menyimpan kesedihannya untuk Mimi.
"Ayuk Ayuk." panggil Arraf adek sepupu Mimi pada Mimi.
"Iyo dek." jawab Mimi.
"Tadi ado Abang Ssyahril disssini." ucapnya dengan gaya bicara anak kecil sambil geraknbibir nya selalu mengikuti bagaimana huruf yang disebutkan disebut, karena umur nya baru beranjak jalan tiga tahun.
Mimi melihat ke arah orang tua nya dan yangnlainmemknta kebanean pada mereka.
"Tadi kan abang kesssini sama mbak Ay, ssam wakte jugak. Abang Ssyahrilnya baru pergi sebelum Ayuk Mimi datang." ucal Arraf mengadu. Mimk hanya menghelakan nafas.
Bersyukur, Mimi tidak bertemu dengannya. Mimk tidak tau apa yang akan terjadi bila dia bertemu dengan Syahril tadi.
"Tadi emak ke Jambi sekalian samo dio." ucap emak ketika melihat Mimi yang melihat ke arahnya.
"Mi.. Apa Mimi akan datang ke acara nya besok minggu?" tanya bik Ida.
"Kalau menurut bibi dak usah, daripada nanti Mimi tambah sakit hati." ucapnya lagi.
"Daklah yuk, lebih baik Mimk datang. Buktikan samk orang-orang tu kalau Mimi kuat." sahut Tante Zia.
__ADS_1
"Iyo lebih baik datang bae lah Mi, buktikan samo orang-orang kalau awak kuat walau di tinggal nikah." sahut bicik.
Emak dan bapak Mimi hanya diam, tak ingin berkomentar. Mereka tak ingin melihat anaknya semakin bersedih.
"Huuum huh, rencana nya Mimk datang besok. Tapi mungkin sore dan setelah dari sana Mimi langsung balik lagi ke Semarang." jawab Mimi.
"Kenapa balek lagi nak? bukannya libur?" tanya emak.
"Mimi harus balek lagi Mak, Mimk ndak mau nantinya kalau kak Syahril taunmimk ada disini dia pastinya akan menyusul Mimi. Mimi tidak mau nanti orang menyangka hal yang tidak-tidak. Mimi besok datang juga karena Mimi mah mengembalikan cincin ini." jawab Mimi dan menunjukkan cincin berlian berbagi safir itu.
"Tali kan ndak harus balek ke Semarang nak, kita bisa balek ke rumah." ucap bapak.
"Huum ndak pak, Mimi harus balek ke Semarang lagi. Mimi ada orderan kue.'' jawabnya Mimi dengan beralasan ada orderan.
"Oh ya, ini ada brownies cup sama roti." ucap Mimk dan membuka tas yang di bawa nya.
"Hari ini ada orderan lumayan sengaja bhat lebih untuk sekalian bawa pulang." ucap Mimk sembari mengeluarkan kue-kue nya.
"Yeee ada kue." ye seru adek-adek Mimi.
"Kenapa di terima? kan bisa di batalkan. Bilang balek kampung." ucap emak.
"Emm maaf Mak ndak bisa, Mimi harus mengumpulkan duit untuk !mengembalikan fasilitas yang dikasih kak Syahril sama Mimi." ucap Mimi.
"Sebelumnya Mimi sudah tanya bunda Retno masalah uang kksa dan ternyata kak Syahril sudah membayar nya hingga 4 th dan ke!arwn kata bunda Retno ditambah nya lagi dua tahun." jelas Mimi.
"Sebenarnya Mimi mau pindah saja dari kosan itu, cuma untuk mendapatkan kosan semurah dan seperti yang telah Mimi ini susah nyarinya. Ndak pindah semua kenangan ada disana semua." ucap Mimi lirih.
"Mi, lebih baik nsakmusah pindah lagi. Betul kata Mimi mau cari yang seperti itu susah apa lagi tempat lokasinya. kalaupun ada seperti kosan itu pastinya lokasi jauh dari KA!luar Mimi." ucap pakdo.
"Iya pakdo, maka dari itu Mimi mau mengumpulkan uang dan Mimi akan kembalikan dengan kak Syahril berupa uangnya saja." jawab Mimi.
"Tapi Mi, kemaren emak ada bilang sama Syahril. Kalau emak akan membicarakan masalah yang selama ini di beri dia buat Mimi. Huum huh, Syahril memohon sama emak agar apa yang dainkembalikan jangan di kembalikan. Kalau pun Mimi tidak mau memakainya lagi, Mimk bia menjualnya atau mungkin membuangnya." jelas emak.
"Dia bilang dia ikhlas memberikan semua itu buat Mimi, dia tidak akan pernah menerima nya balik." ucap emak.
"Iya Mi, kemaren dia ada main ke camp dia juga bikangnhal yang sama dengan pakdo sama Tante Zia. Ya menurut pakdo terima saja fasilitas penjara berikan dia itu. Anggap saja itu hadiahnya buat Mimi. Walaupun lun di jual harga tidak seberapa sedangkan Mimk sangat membutuhkan nya juga."
"Mau beli lagi pastinya Mimi membutuhkan duit lebih lagi untuk membelinya, jadi !menurut pakdo ya terima saja fasilitas itu, di buang juga sayang." ucap pakdo.
Mimi terdiam, apa yang di ucapkan semua ada benar nya. Mimi mengembalikan barang bawanya pun butuh duit, di bayar pakai duit belum tentu juga dia akan menerimanya.
Apa lagi sebelum Mimi pulang ke Jambi saat Mimi mengambil pakaian, Syahril lagi-lagi menyelipkan amplop di dalam lipatan bajunya.
Uang cash yang selalu diberinya dengan dimasukkan ke dalam amplop map dan di selipkannya di bawah lipatan baju tidak pernah Mimi gunakan. Uang-uang itu masih utuh dan Mimi simpan di dalam tabungannya.
Malam ini mereka membahas bagaimana baiknya mempergunakan fasilitas yang diberikan Syahril pada Mimi hingga hujan pun turun baru mereka semua masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Malam ini mimintidur bersama emak dan Ay didalam kamarnya dulu, dikamar Mimi tidak langsung tertidur. Emak yang melihat Mimi belum bisa tertidur pun bertanya.
"Ada apa nak?" tanya emak.
"Emm ndak apa-apa Mak." jawab Mimi.
"Ceritalah jika ada yang mengganggu pikiran." ucap emak.
"Mak." panggil Mimi
"Iya ada apa?" tanya emak.
"Mimi tidak saahkan ambil keputusan ini?" Mimi mwnanyakan hal itu kembali kepada emaknya.
"Menurut Mimi?" tanya emak balik.
''Menurut Mimi ndak." jawab Mimi.
"Kalau menurut Mimk dak salah, maka keputusan itu tidak salah." ucap emak.
"Tapi Mimi merasa bersalah Mak bila melihat emak dan yang lain bersedih seperti tadi." ucap Mimi dengan sendu.
Emak tersenyum haru !melihat anaknya yang kian dewasa. Emak merasa bangga pada Mimi karena menjadi pribadi yang tidak egois. Namun emakmjjga merasa sedih melihat anaknya yang selalu mengutamakan kebahagian orang lain.
"Kami bersedih wajar nak, sedikit banyak kaminjjga berharap kalian bersatu. Apa lagi kalian menjalin hubungan yang terbilang cukup lama. Dan kalian juga saling menyayangi dan mencintai sagu sama lain." ucap emak dengan mengelus rambut panjang Mimi.
"Maafkan Mimi ya Mak, kalau Mimi belum membuat emak bahagia." ucap Mimi.
"Tidak perlu meminta maaf nak, karena Mimi tidak bersalah dalam hal ini. Mungkin Allah ingin mewujudkan impian Mimi untuk membahagiakan emak dan yang lain." ucap emak.
"Mimi juga merasa bersalah sama Umma Mak, Umma begitu baik sama Mimi. Bahkan Umma menganggap Mimi anaknya, gali Mimi mengecewakan nya." ucap Mimi.
"Umma sama halnya dengan emak nak. Setiap orang tua rela mengorbankan apa aja demi kebahagiaan anaknya sekalipun mereka harus mengorbankan kehormatan nya. Semua kita kembalikan kepada yang maha kuasa, tanpa campur tangannya keputusan itu pun tidak akan terucap." terang emak dengan terus mengelus rambut Mimi.
"Iya Mak, Mimi tau pasti kalian akan mengorbankan apa saja demi kebahagiaan kami walauntaruhan nya kehormatan kalian. Tali Mimi tidak bisa melihat kalian selalu jadi bahan gunjingan orang, mungkin sedih yang Mimk berikan kali ini sangat sakit namun jika Mimk !eneeikan kalian kebahagian namun kalian akan merasakan sakit yang paling dalam dengan m!endenagr gunjingan-gunjingan orang."
"Mimi tidak rela kalian di cemoohkan, kalian dihina oleh orang lain, biarlah Mimi mengorbankan perasan Mimi asalkan kalian akan terbesar dari cemoohan orang yang lebih parah lagi."
"Kalau sekarang jika mereka Mimi melihat tidak jadi menikah dengannya karena la!a berpacaran tali setidaknya mereka tidak menghina kalian dengan menyebut Mimi merebut calon suami orang lain atau Mimi menikah mendadak karena hamil duluan dan itu akan membuat mereka lebih bangga dengan apa yang mereka ucapkan dahulu." terang Mimi sambil mengingat bagaimana mereka menuduh Mimi telah me!berikan barang berharga nya pada Syahril.
"Sekali lagi Mimi minta maaf, sudah mengecewakan Mak, Mimi juga maaf belum menjadi anak yang berbakti sama emak dan bapak." ucap Mimi.
"Emak yang seharusnya meminta maaf nak, kalau kami selalu memaksakan kehendak kami. Sekarang sudah malam. Ayo tidur lagi, jangan lupa baca do'a nya." ucap emak dengan mengecup kening Mimi dan berbaring di samping Mimi.
Mimi pun tertidur dengan emak yang memeluk dirinya.
Keesokan pagi, Mimi terbangun seperti biasanya, sehabis sholat Mimi mandi dan langsung mencuci pakaiannya. Setelah itu Mimi membuat sarapan buat semua nya bersama emak.
__ADS_1
tbc