
Setelah memenangkan berbagai macam hadiah Mimi dan rombongan pulang, Mobil pickup yang membawa barang-barang di dampingi oleh mobil kak Ryan dan kak Arfan serta kak Rudi. Sedangkan mobil kak Syahril ikut pergi menuju ke rumah Dewi guna mengantar Dewi pulang dengan membawa hadiah kipas angin, kompor gas, setrika dan boneka Teddy bear yang besar.
Yah kak Andri dan Dewi juga ikut mengikuti permainan yang diselenggarakan oleh pihak pasar malam dan mereka berdua hanya mendapatkan empat buah hadiah.
Karena kak Andri mendapat hadiah kipas angin, kompor gas dan setrikaan itu membuat lelucon bagi kami semua.
Flasback on
Kak Andri disaat kami membeli kacang, dia dan Dewi tak berada dekat dengan kami melainkan mereka berdua pergi ke tempat permainan lempar kaleng disana kak Andri !mencoba berkali-kali dan akhirnya kak Andri mendapatkan satu boneka Teddy bear.
Setelah mendapatkan boneka dia dan Dewi pergi ke permainan tebak nomor namun tak satu pun kak Andri berhasil dan akhirnya dia kembali mendekat ke rombongan Mimi, disana dia melihat rombongan Mimi mendapatkan beraneka macam hadiah dia pun ke!Bali mencoba keberuntungan nya dan disini kak andri berhasil mendapatkan tiga hadiah yaitu kompor gas, kipas angin dan Q, kayak nya pas tuh buat cicilan hantaran." celetuk kak Arfan dengan menyenggol serta mengedipkan matanya ke arah kak Rudi.
"Emmm... betul juga kata Lo bro," kak Rudi menimpali candaan dari kak Arfan tersebut.
Kak Andri dan Dewi belum ngeh dengan apa yang mereka berdua bicarakan namun tiba-tiba Mimi menyeletuk ke kak Rudi dan kak Arfan.
"Cicilan hantaran buat siapa kak?" tanya Mimi dengan sedikit mengeraskan suaranya karena berisik dari suara musik yang mulai menguasai area pasar malam dan itu membuat kak andri serta Dewi melihat ke arah Mimi.
"Yah buat cicilan yang mau melamar Mi." jawab kak Arfan.
"Hmm ... ooo." ucap Mimi yang sebelumnya belum nyambung dan akhirnya Mimi manggut-manggut tanda mengerti.
"Kalian ngomong apaan sih?" tanya kak Andri.
"Nggak ada Ndri." jawab kak Arfan dan kak Andri beralih melihat ke arah kak Rudi.
"Iya gak ada apa-apa kok " kak Rudi menjawab dari tatapan kak Andri dengan cengiran dan mengangkat kedua bahunya namun kak Andri masih tak percaya dan kak Andri beralih melihat Mimi guna mendapatkan jawaban yang benar.
"Ngapain Lo Ndri liatin Mimi gitu." ucap kak Syahril yang baru tiba bergabung dengan kami karena sebelumnya dia dannkak Ryan pergi ke tempat permainan le!Pat botol dan bola.
Mimi yang melihat tatapan kak Andri pun menjawabnya "Bener kak nggak ada apa-apa cuma mereka bilang kalau kakak lagi nyicil buat hantaran." jawab Mimi yang mula menutupi omongan kak Rudi dan kak Arfan karena melihat tatapan intimidasi dari mereka berdua namun akhirnya Mimi mengatakan apa maksud dari mereka berdua.
Mendengar dari jawaban Mimi kak Andri hanya senyum kecut dan kami semua tertawa renyah melihat kak Andri tersenyum kecut.
"Flasback off
Setelah sampai di rumah Dewi dan hadiah yang didapat oleh kak Andri tadi di turunkan. Kedua orang tua Dewi terheran melihat kami membawa hadiah-hadiah tersebut dan akhirnya Dewi menjelaskan kepada orang tuanya kaalau itu hadiah dari pasar malam yang didapat dari kak Andri.
Setelah mendengar penjelasan dari Dewi kedua orang tua Dewi pun menanyakan hal tersebut kepada kak Andri.
"Apa benar gitu nak Andri? " tanya mamah Dewi.
"Eh mamah malah nanyain gitu, ajak masuk dulu atuh." sahut papah Dewi.
"Eh iya lupa, maaf ayo masuk dulu." ucap mamah Dewi dan kami pun ikut masuk.
"Em silahkan duduk ya, mamah buatkan minum dulu." ucap mammah Dewi mempersilakan kami duduk dan akan berlalu membuatkan kami minum namun Mimi segera memberhentikan langkahny.
"Eh ndak usah repot-repot tante, kami juga ndak laa!a disini dan sudah hampir larut juga." ucap Mimi memberhentikan langkah kaki mamah Dewi yang hendak berlalu ke dapur.
"Nggak repot kok Mi, bentar ya." jawabnya namun sebelum mamah Dewi melanjutkan langkahnya Mimi mendekat ke arahnya mamah Dewi dan menganut tangannya.
"Ndak usah Tante, makasih sebelumnya tapi beneran kok kaami hanya sebentar dan malam juga udah mau larut." ucap Mi!k dan akhirnya mamah Dewi pun mengurungkan niatnya untuk bhatnair minum.
Setelah kak Andri menjelaskan kepada papa dan mamah Dewi yang semula mereka menyangka kalau itu juga merupakan cicilan bhat hantaran kami pun pamit untuk pulang.
Dikediaman Dillah, sang papi langsung menuju ke kamarnya setelah mendengar ucapan dari sang anak, sang papi langsung masuk kamar guna membersihkan diri dan berwudhu setelah itu dia langsung menuju lemarinya dan mencari sarung, baju Koko serta sajadahnya yang tak tau telah berapa lama ketiga barang tersebut tak tersentuh oleh nya.
Saat sang papi disibukkan mencari keberadaan tiga barang tersebut sang mami terbangun dan celingak-celinguk mencari keberadaan sang suami, setelah menemukan posisi sang suami sang mami terheran melihat suaminya sedang mengaduk-aduk isi lemari.
__ADS_1
Setelah seberapa lama akhirnya si papi menemukannya juga si Pali langsung memakainya dan si mami masih memperhatikan suaminya dengan intens.
"Papi mau kemana pakai koko dan sarung pagi-pagi gini? tanya si mami Dillah dan si papi pun melihat ke arah istrinya yang duduk di atas kasur.
"Menurut mami, Papi mau kemana?" si papi bukannya menjawab malah balik bertanya kepada sang istri.
"ckk papi ini mami kan bertanya sama papi, bukannya dijawab malah balik nanya." gerutu si mami.
"Yah udah, papi pergi dulu ya ntar telat." ucap si papi dan berlalu pergi meninggalkan si istri yang terbengong dengan sikap si papi.
Papi Dillah langsung menuju masjid yang berada dekat dengan komplek perumahan nya tepat disaat muadzin iqomah.
Sehabis sholat subuh Dillah tak langsung pulang dia bersama pemuda masjid disana berdiskusi untuk mengadakan gotong royong pembersihan sekitar masjid dan setiap blok rumah untuk menyambut hari raya idul Fitri.
Si mbok Siti pulang dan bersamaan dengan sintuannya. Si mbok Siti tak menyangka jika tuannya mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak semata wayangnya.
"Alhamdulillah, semoga tuan selalu istiqamah di jalan Allah kembali." gumam mbok Siti ketika melihatnya tuannya akan masuk ke dalam rumah.
"Tuan" ucap mbok Siti ketika sontuan telah mendekat ke arah pintu masuk.
"Iya mbok." jawab si tuan.
"Alhamdulillah, tuan kembali seperti dulu lagi." ucap mbok Siti dengan rasa bahagia.
"Semoga tuan selalu si jalan Allah ya tuan, maaf bukan saya mau ikut campur tapi sudah lama tuan menjauh dari nya." ucap mbok Siti kembali.
"Insya Allah mbok.Mari mbok kita masuk." ucap si tuan dan mengajak mbok Siti masuk.
Mereka berdua masuk kedalam rumah, si tuan langsung menuju naik ke lantai dua setelah pamit kepada mbok Siti. Sedangkan mbok Siti selalu memanjatkan syukur nya atas perubahan sang tuan dan mbok Siti berharap itu tak hanya disaat ada anaknya saja.
Didalam kamar si tuan tak langsung mengganti pakaiannya namun dia mencari kembali Al-Quran yang telah lama tak disentuhnya. Setelah mendapatkan Al-Quran dia pun langsung membacanya dengan terbata-bata karena lamanya tak melantunkan ayat demi ayat.
"Ya Rabb, ampuni hamba." Gumamnya dalam hati ketika sedang membaca Alquran.
Sehabis membaca Al-Quran si tuan pun belum beranjak namun di hatinya selalu berkata-kata akan segala kekhilafan yang telah diperbuatnya selama ini.
"Ya rabb, akankah kau memberi ampunan kepadaku." Gumamnya dengan penuh penyesalan.
Si istri masih di atas tempat tidur, dia melihat dan memperhatikan ke arah sang suami. Disaat si suami selesai mengaji dia masih menunggu si suami namun tak kunjung juga beranjak.
"Sejak kapan pi papi mengaji!" sindirnya si suami hanya melihat ke arah si istri dengan malas.
Merasa tak dihiraukan oleh suaminya, dia pun beranjak langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Dillah pulang ke rumah langsung menuju taman yang berada di belakang rumah, dilihatnya sang ayah tengah duduk di gazebo sambil memegang Al-Quran.
Dillah terharu mendengar sang ayah sedang melantunkan ayat suci tersebut, Dillah mendekati sang ayah dan Dillah pun duduk di depan sang ayah dan mendengar lantunan ayat suci dari sang ayah.
Sang ayah melihat Dillah sudah di depannya diapun menghentikan baca Alquran nya. Sang ayah melihat Dillah duduk di depannya pun merasa rendah akan dirinya.
"Apa Allah akan memberikan ampunan nya kepada papi Dil?" ucapnya.
"Pi, Allah itu maha memberi ampunan pada setiap kaumnya yang ingin berubah." jawab Dillah.
"Tapi, begitu banyak dosa yang papi perbuat." ucap nya dengan suara bergetar.
Ya si papi merasa dirinya begitu banyak berbuat dosa dimasa lalunya selain meninggalkan segala perintah illahi, si papi juga merasa berdosa khusunya pada dirinya dan Dillah.
Si papi menyimpan semua rasa penyesalan dalam dirinya, dia merasa hina, dia merasa menjadi seorang suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab. Begitu besar rahasia yang di simpannya.
__ADS_1
"Pi, sebesar apapun kesalahan kita. Allah akan memberikan pengampunannya karena Al-insanu mahal al-khatha' wa annisyan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tidak ada yang maksum kecuali segelintir manusia pilihan yang menerima wahyu-Nya. Karena itu, tak pernah ada kata terlambat untuk pulang. Pulang ke hadapan-Nya. Luruh bersimpuh penuh harap dan cinta di kaki-Nya." ucap Dillah.
"Tapi Dil, Pali merasa kotor dan hina." ucap sang papi.
"Sebesar apa pun dosa seorang hamba, ampunan Allah jauh lebih luas dan lebih besar lagi Pi. Allah berfirman dalam surah az-Zumar ayat 53, "Katakanlah: Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." jelas Dillah.
"Apakah bila papi bertaubat Allah akan menerima taubat papi". ucapnya.
" Tobat memang bukan perkara mudah pi. Karena tobat adalah sebuah kata kerja yang membalikkan ke biasaan diri, membalikkan laku hidup, bahkan mem balikkan persepsi orang tentang diri kita. Tak jarang, ada saja orang yang memandang sinis atau malah menutup pintu itu. Kita ingat satu kisah riwayat Imam Bukhari-Muslim yang disampaikan Sa'ad bin Malik al-Khudri dari Nabi Muhammad SAW.
Alkisah, tutur Rasulullah, ada seorang lelaki dari umat sebelum ini. Dia telah membunuh 99 manusia. Suatu ketika, tebersit keinginan di hatinya untuk bertobat. Lelaki itu bertanya kepada orang- orang, siapakah orang yang paling alim di dunia.
Khalayak pun menyarankan dia menemui seorang pendeta yang terkenal lantaran kealimannya. Penuh harap dapat menebus dosa-dosa masa silam, lelaki itu datang. Kepada sang pendeta, ia melakukan pengaduan dosa.
Lelaki itu menuturkan semuanya dengan jujur. Sepanjang hidup, ia telah membunuh 99 orang. "Apakah masih diterima tobat ku?" tanyanya pada sang pen deta. Tak disangka, pendeta menjawab, "Tidak!" Dunia pun seakan gelap bagi lelaki itu. Pendeta itu dibunuhnya hingga genaplah 100 orang yang dia bunuh.
Namun, niat pertobatan itu belum luruh. Lelaki itu kembali bertanya pada khalayak, siapa lagikah orang yang paling alim dari seluruh penduduk bumi? Ia pun ditunjuki seorang alim yang lain. Kepada orang alim ini, ia kembali mengisahkan selu ruh dosa-dosanya. "Saya telah membunuh 100 orang penduduk bumi. Apakah tobatku masih diterima?"
Respons orang alim kali ini jauh berbeda dari yang pertama. Dengan senyum hangat, ia sambut lelaki pendosa tadi. "Ya, masih dapat. Pergilah kau ke negeri ini dan itu. Sebab, di situ ada kelompok manusia yang menyembah Allah SWT, maka beribadahlah kau kepada Allah bersama-sama mereka dan janganlah pulang kembali ke negerimu sebab negerimu negeri yang jelek." terang Dillah dan si papi masih menyimak.
"Asa meluap di hati lelaki pendosa itu. Ia ikuti nasihat si orang alim dan terus pergi hingga mencapai negeri yang dimaksudkan. Baru separuh perjalanan, tiba-tiba dia meninggal dunia. Maka, para malaikat berselisih pandang. Hendak dimasukkan ke manakah lelaki ini? Surga atau neraka? Malaikat pertama berkata, "Orang ini datang untuk bertobat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah." Malaikat kedua membantah, "Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun."
Kemudian, datanglah seorang malaikat lain menjadi penengah di antara mereka. "Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya."
Malaikat-malaikat pun mulai mengukur jarak masing-masing. Ternyata didapati, orang tersebut telah sejengkal lebih dekat pada bumi yang dituju. Allah pun mengampuni dosa-dosanya.
Kisah itu mengingatkan kita pada sabda Rasulullah, "Setiap anak Adam memiliki kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat."
Dari sini kita belajar, bagaimana seorang pembunuh yang telah menghabisi 100 nyawa memiliki ikhtiar kuat untuk bertobat. Jalannya memang tak mudah, tapi ia tak menyerah. Bagaimana seandainya si pendosa menyerah setelah dihukumi "tidak" oleh pendeta pertama? Malaikat tentu tak perlu bertengkar memperebutkan kedudukannya. Kita pun, sebagai sesama manusia, hendaknya menuntun, membuka jalan, atau setidaknya, tidak menutup pintu bagi orang-orang yang bertobat.
Allah menyukai orang-orang yang bertobat. Imam Nawawi al-Bantani dalam Nashaih al-Ibad, menuliskan sebuah hadis riwayat Abu Abbas. "Allah lebih senang pada tobatnya seorang hamba yang bertobat melebihi senangnya orang haus yang menemukan air, atau orang mandul yang memiliki anak, atau senangnya orang yang kehilangan barang lalu menemukannya. Maka, barang siapa yang bertobat kepada Allah dengan tobat nasuha, Allah akan membuat lupa para malaikat yang menjaganya, anggota tubuhnya, serta bumi yang dipijaknya atas dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan."
Dalam surah at-Tahrim ayat ke-8, Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat nasuha (taubat yang semurni-murninya)." Lantas, apa yang dimaksud dengan tobat nasuha? Ibnu Katsir dalam Tafsir al- Qur'an al-'Azhim menjelaskan, tobat nasuha, yaitu tobat yang jujur, yang didasari atas tekad yang kuat, yang menghapus kejelekan-kejelekan di masa silam, yang menghimpun dan mengentaskan pelakunya dari kehinaan.
Dalam kitab Riyadh as-Shalihin dijelaskan, jika kemaksiatan itu menyangkut urusan seorang hamba dengan Allah saja, tidak ada hubungannya dengan hak manusia, tobatnya harus memenuhi tiga syarat. Pertama, hendaklah ber henti melakukan mak siat. Kedua, menye sal karena telah melakukan kemak siatan. Ketiga, berniat tidak akan kembali mengulangi perbuatan maksiat itu untuk selama-lamanya." ujar Dillah.
"Jika papi ingin berubah maka bertaubat lah dengan taubat nasuha pi dan jadilah papi yang Dillah kenal." ucap Dillah.
"Bantu papi ya nak." jawabnya.
"Insya Allah Pi, kita sama-sama berjalan !menuju Ridho Allah." jawab Dillah dengan memeluk sang papi dan papi pun memeluk erat anaknya itu dengan isakan tangisnya.
...**TBC**...
Assalamualaikum alhamdulillah DOKTER JANTUNGKU update kembali.
Mohon maaf tak bisa rutin update karena orang tua authore (bapak ) sedang sakit dan mohon bantuan do'a nya agar bapaak authore segera disembuhkan dari penyakit nya.
Semoga cerita DOKTER JANTUNGKU selalu ada di hati para readers ya dan jangan lupa dukungan dan jejak nya berupa
FAVORIT
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
__ADS_1
...TERIMAKASIH...