DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
ujianku selesai


__ADS_3

Setelah mendapat somasi dan Mimi sedang tidak enak badan bahkan setelah di cek tekanan darah Mimi rendah.


Akhir-akhir ini Mimi disibukkan dengan jadwal operasi bahkan kadang tidak ada waktu istirahat untuknya.


Mimi yang di tinggal dokter Rayhan sendirian di ruangannya, tak lama Gita dan asisten dokter Rayhan masuk untuk mengecek Mimi.


Ya sebelum dokter Rayhan pergi mengejar sang kekasih, dokter Rayhan menyempatkan diri memberitahukan ke asisten nya.


"Dok, dokter nggak apa-apa?" tanya Gita


"Sebaiknya kita periksa duku Git.'' ucap sang asisten dokter Rayhan dan Gita mengangguk.


Asisten dokter Rayhan langsung memeriksa tekanan darah Mimi.


"Sebaiknya dokter Mimi istirahat, tekanan darah dokter rendah." ucap sang asisten dokter Rayhan.


"Saya nggak ada kok sus, hanya sedikit pusing aja." jawab Mimi yang hendak duduk namun Mimi merasa kepalanya sangat sakit.


"Dokter juga kurang air putih, ayo dok kita keruangan dokter, lebih baik dokter di infus buat memulihkan stamina dokter." ucap Gita.


"Aisss, saya tidak apa-apa ngapain juga di infus segala. Lihat nih." ucap Mimi dengan memaksakan diri berdiri dan berputar-putar membuktikan kalau dirinya baik-baik saja.


Namun apa yang Mimi lakukan tak sesuai ekspektasi, saat mutar-mutar kepala yang sedang sakit samakin berdenyut dan Mimi pun lunglai jatuh ke lantai.


"Dokter dokter, kalau di bilangin ngeyel. Ayo mbak kita angkat dokter Mimi nya." ucap Gita meminta bantuan pada asisten dokter Rayhan


Kedua asisten itu mengambil brangkar dan meminta bantuan perawat cowok untuk mengangkat Mimi ke brankar. Jadilah Mimi di rawat untuk sementara waktu.


Gita sebagai asisten dari Mimi segera menghubungi pihak rumah sakit kota untuk meminta izin kalau dokternya tidak bisa praktek hari ini disana karena sedang di rawat.


Tiga hari Mimi dirawat dan Mimi sudah membaik. Dillah tak bisa menemaninya karena Dillah tidak berada di kota ini.


Elang cowok yang dekat dengan dosen cantik Dina merupakan anak didik Dina Lorenzo.


Elang terus menghasut Dina untuk melaporkan dokter Mimi atas tindakan kelalaian dan mall praktek.


Dina yang mungkin sedang terbuai akan rasa jatuh cinta, atau bahkan Dina sudah bucin-bucinnya kepada Elang sehingga tidak menggunakan akal sehatnya.


Dina mengikuti segala apa yang di usulkan oleh Elang, dia ikuti saran Elang untuk memberi somasi lada dokter Mimi.


Padahal jika Dina memakai logika dan akal sehatnya semua yang dituduhkan tidak kah benar. Karena rasa cinta ria mengabaikan kebenarannya.


Tiga hari pasca di rawat Mimi memenuhi panggilan somasi keluarga pasien. Mimi di dampingi oleh pihak rumah sakit kota dan dua dokter yang ikut serta saat operasi waktu itu.


Bahkan dokter Johan rekan satu profesi Kun ikut serta.


Terlihat Dina dan Elang serta pengacara di ruang ini.


Meraka pun memulai maksud dari pemberian somasi kepada dokter Mimi. Miki diam dan mendengarkannya.


Mimi menggeleng dan menatap Dina yang terlihat sedih dengan di peluk oleh Elang.


Pihak mereka terus memojokkan Mimi dengan tuduhan kelalaian serta mall praktek. Mimi menarik nafasnya panjang.


Cinta ternyata emang buta, iya cinta membutakan orang yang sedang dilanda nya sehingga orang yang sedang terlanda cinta tak dapat melihat kebenaran yang nyata ada di depan mata mereka. Saat giliran Mimi untuk membela dirinya.


Mimi tidak banyak bicara, Mimi langsung memberikan rekam medis pasien yang meninggal itu yang tak lain adalah ibu dari Dina Lorenzo.


"Apa maksudnya ini dokter Mimi? saat tidak meminta rekam medis, yang saya pinta anda akui jika anda lalai dalam penanganan pasien.'" ucap sang pengacara.


"Bapak pengacara dari pihak mereka bukan? saya percaya bapak memiliki otak yang cerdas, memiliki pemahaman yang luas. Silahkan bapak buka rekam medis itu, oh ya itu rekam medis dari ibu saudari Dina lorenzo."


"Semua riwayat ibunda dari saudari Dina Lorenzo selama dalam penanganan saya ada disana."


"Silahkan bapak lihat dan baca. Mungkin pihak mereka tidak menjelaskan secara detail bagaimana pasien yang saya tangani bisa kolaps dan meninggal tepat dihari dimana seharusnya pasien itu diperbolehkan pulang." ucap Mimi.


Sang pengacara mendengar segala penuturan Mimi dan dia juga membuka rekam medis itu dan membaca setiap rincian yang ada sampai je tanggal yang dinyatakan pasien akan pulang namun ternyata pasien mengalami drob dan kembali kritis.


Mimi melihat sang pengacara dan kedua insan sejoli yang dimabuk cinta itu.


"Bagaimana pak? sudah di baca dan dipelajari?" tanya Mimi.


"Saya bisa saja melaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik." ucap Mimi yang tak pernah takut mengahadapi segala cobaannya.


Deg jantung Dina berdetak kala Mimi mengatakan akan melaporkan balik.

__ADS_1


"Udah jangan cemas, aku akan selalu bersama kamu." ucap Elang pada Dina dengan berbisik.


Sang pengacara diam dan membenarkan apa yang dikatakan dokter Mimi benar adanya. Di laporan rekam medis tidak ada kejanggalan yang dia temukan, namun karena dia di bayar oleh Elang dia harus menyingkirkan kata ahti nya.


"Terserah bapak mau bagaimana, saya akan ikuti semua karena disini saya tidak salah."


"Dan seharusnya bapak tanyakan kepada mereka berdua ( Mimi menunjuk ke arah elang dan Dina dengan sorotan matanya ). Apa mereka melanggar pantangan yang saya berikan pada pasien?'' ucap Mimi.


Dina semakin menundukkan kepalanya, dia bingung dia baru merasa kan perhatian dan cinta dari seorang pria walau pria itu lebih muda darinya.


Sebenarnya mereka juga belum menyerahkan hubungan mereka, namun Dina merasa nyaman dengan Elang.


POV Dina Lorenzo


Di kampus dimana dia mengajar ada anak didiknya yang selalu merayu dan menggombali nya.


Hari demi hari entah mengapa ada rasa nyaman tersendiri di hatinya.


Hingga saat diriku menangis seorang diri di depan ruangan UGD.


Yah sepulang aku mengajar, aku mendapati ibuku sudah tergeletak di kamarnya, dengan perasan panik aku segera memesan taksi dan membawa ibu ke rumah sakit kota karena aku tau ibuku merupakan pasien jantung di rumah sakit itu.


Sampai di rumah sakit ibu dibawa keruang UGD aku ingin masuk namun dokter jaga tidak mengizinkan ku untuk masuk.


Ku lihat perawat keluar yang mendekat kearah ku dan aku pun menanyainya.


"Sus, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya ku pada suster itu.


"Maaf apa ibu keluarga pasien?" tanya perawat yang mana pertanyaan itu serentak dengan pertanyaan ku.


"I iya sus, bagaimana ibu saya." tanya ku.


"Ibu anda kritis, tekanan darah nya tinggi. Apa ibu anda pernah berobat disini?" tanya suster.


"Iya sus, ibu saya rutin kok kontrol disini tiap bulan bahkan baru beberapa hari lalu ibu saya kontrol." Jawabku.


"Mari ikut saya bu." ajak sang suster dan menuju ruang administrasi.


Aku pun dimintai keterangan tentang ibuku untuk mencari rekam medis nya, lama mereka mencari rekam medis ibuku.


Karena aku mengatakan beberapa hari kalu kontrol, perawat mengecek melalui komputer tetapi tidak ada nama ibuku.


"Jantung sus.' jawabku dan mereka pun mencari rekam medis bernama ibu itu sesuai dengan inisial nama awalnya.


Setelah ketemu suster pun mengajak aku kembali ke ruang UGD.


Suster yang sudah membawa rekam medis ibuku langsung masuk dan aku dipinta menunggu di luar.


Lama aku menunggu ibuku tak lama datang mahasiswa mahasiswa ku, salah satunya mahasiswa yang selalu mengisi hariku dengan rayuan serta gombalan nya.


"Assalamualaikum Bu Dina, kok ibu ada disini? Siapa yang sakit?" tanya Caca mahasiswi ku secara beruntun.


"Eh Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Ibu saya sedang dalam keadaan kritis dan saya dilarang masuk untuk menemani nya oleh dokter disini." Ucap Dina datar dengan senyum yang dipaksakan.


"Oh jadi ibunya Bu Dina di dalam ruangan UGD ini?" tanya Elang pada Dina dosen yang menjadi incarannya.


"I iya ibu di dalam sedang ditangani dokter" jawab Dina Lorenzo dengan nada yang hampir tidak terdengar.


Caca yang mendengarnya menjadi ingat sebuah kata yang dulu pernah diucapkan oleh temannya saat dia bersedih dan caca pun menyampaikan hal yang sama pada dosennya.


Setelah mereka menunggu lama, Caca pamit untuk kembali keruangan kakak nya.


Saat berdua begini elang pun mulai memberi perhatiannya pada Dina. Tak lama Dokter dan perawat keluar dan menyampaikan kalau keadaan ibu Dina tidak baik-baik saja.


"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?' tanya Dina pada dokter UGD.


"Maaf Bu, sepertinya ibu anda terkena serangan jantung dan tekanan darah ibu anda juga sangat tinggi."


"Apa ibu tau jika ibu anda tidak pernah kontrol jantungnya lagi selama 2.5tahun ini?" tanya sang Dokter jaga UGD.


"Ibu saya selaku kontrol kok dok, bahkan tiga hari lalu ibu saya kontrol." jawab Dina.


"Maaf Bu, tetapi di rekam medis ibu anda tidak ada catatan bahwa ibu anda sudah kontrol.'' jawab si dokter dengan memberitahukan sebenarnya.


"Makasih Dokter apa?" tanya Dina tidak percaya.

__ADS_1


"Dok, pasien kejang lagi." seru perawat yang berada di dalam."


"Dok tunggu maksud dokter apa?" tanya Dina menghentikan dokter jaga untuk melangkah masuk.


"Maaf Bu, saya harus melihat pasien." jawab dokter, namun Aku bagaikan anak kecil selalu menghalangi dokter hingga terjadilah keributan.


Terutama Elang mengumpat dokter itu. tak lama datanglah seorang dokter berkacamata mendekati kami.


Dokter ini dokter yang pernah datang ke kampus tempatku mengajar. Bawaan dokter ini diam dan tak banyak bicara, sang dokter langsung masuk dan tak lama keluar perawat memintaku untuk datang ke ruangan dokter itu.


Aku pun mengikutinya dengan Elang Selakau didampingi untuk mendampingi ku.


Setelah sampai di ruangan dokter itu, disana aku baca jika dokter berkacamata itu adalah dokter jantung. Usianya muda dia setahun dariku.


Setelah dokter Mimi masuk diapun menanyaiku beberapa pertanyaan seputar ibuku. Saat dia memberikan pertanyaan aku tidak banyak menjawab karena memang aku tidak mengetahui bagaimana penyakit ibuku.


Aku hanya mengingatkan ibuku saja setiap waktu kontrol dan setelah aku pulang mengajar ibu selalu bilang sudah kontrol dan yang semakin mempercayainya ibu selalu membawa obat.


Yang paling miris aku dengar dari mulut dokter Mimi kalau ibuku habis minum alkohol berupa minuman tuak. Aku tak menampiknya jika ibuku memang suka minum tuak.


Dokter Mimi juga mengatakan jika hasil city scan menyatakan kalau hasilnya ada penyumbatan pembuluh darah di jantungnya dan ada pembekuan darah di otaknya.


Mendengar itu seketika dunia ku runtuh, aku menyesal tidak memperhatikan nya. Tak lama terdengar kalau ibu mengalami kejang lagi dokter Mimi langsung lari, aku dan Elang mengikuti nya.


Tak lama suster meminta tanda tangan ku untuk dilakukan operasi. Aku pun menandatanganinya.


Hingga subuh operasi baru selesai, terlihat wajah letih dokter Mimi dan yang lain. Apa lagi sebelumnya aku mengetahui kalau dokter Mimi sedang ada operasi saat dokter meminta suster untuk menghubungi dokter Mimi.


Seminggu pasca operasi suster mengatakan lagi hari saat melihat kondisi ibu sudah membaik dan hari ini boleh pulang. Aku sangat senang dan sangat bersyukur.


Saat siang hari datang Elang menjenguk ibu dan dia membawa nasi bungkus dan beberapa buah serta roti.


Ibu yang melihatku makan nasi bungkus dia tergiur. Aku sudah berulang kali bilang jika ibu belum boleh makanan pedas dan berlemak namun Elang malah memberikan nasi bungkusnya kada ibuku.


"Lang, jangan Lang. Ibu belum sembuh benar'' ucap ku. Namun Elang langsung membuka kan bungkus nasi itu dan dia menyuapi ibuku, terlihat ibuku pun lahap makannya disuapin Elang.


"Udah nggak apa, sesekali ya kan Bu." ucap Elang dengan terus menyuapi ibuku.


Namun saat makanannya tinggal setengah ibu tersedak, Elang memberikan minum kada ibu namun sehabis minum ibu jatuh pingsan di ranjang nya, aku yang panik langsung memanggil dokter yang kebetulan lewat.


Dan saat dokter itu memeriksa denyut nadi ibu, dokter menggeleng dan menyatakan kalau ibu sudah tiada.


Dua hari pasca ibu meningal elang menyarankan aku untuk menyomasi dokter Mimi, awak aku menolak karena bukan kesalahan dokter Mimi namun entah mengapa akhirnya aku menurutinya, Hingga saat ini aku telah berhadapan dengan dokter Mimi dan dokter lainnya yang telah membantu ibuku.


**


Mimi melihat lagi ke arah Dina yang menunduk.


"Oke saya rasa tidak perlu lagi penjelasan dari saya, karena jika pihak anda meminta ke jalur hukum, saya akan menyetujui nya."


"Dan saya juga berharap itu terjadi sehingga saya bisa mengeluarkannbukti-bujti lainnya'' ucap Mimi.


Sang pengacara pun undur diri dengan Aksan akan mempelajari kasusnya lagi. Setelah pertemuan itu Mimi menjalani pekerjaan nya seperti biasa.


Mimi juga selalu menyempatkan diri memeriksa pasien bernama Alex dan saat ini Mimi melihat kalau Alex ditemani seorang cewek yang Mimi kenal yaitu Kuswah si cleaning servis yang selalu ceria.


"Eh dokter" ucap Kuswah.


"Wah mbak Kuswah ehem ehem, saya ketinggalan berita nih ceritanya." ucap Mimi menggoda.


"Ah dokter bisa aja." jawab Kuswah malu-malu meong.


"Nggak apa kok mbak, semoga kalian berdua jodoh dunia akhirat." ucap Mimi dengan tulus dan melihat ke arah Alex yang memasang wajah datarnya.


"Mas Alex juga dijaga mbak Kuswah nya." ucap Mimi dan mulai memeriksa Alex.


"Lupakan yang lama, mbak Kuswah orangnya baik dan dia akan tulus buat mas Alex." bisik Mimi ketika memeriksa detak jantung Alex, Alex mengangguk.


"Yaudah kalian lanjutkan ya, jangan lupa mas Alex makan yang banyak biar besoknya boleh pulang." ucap Mimi yang secara tidak langsung mengabari kalau Alex bisa pulang besok pagi.


"Saya permisi dulu ya mas Alex, mbak Kuswah.


"Mari dok." jawab Kuswah. Mimi pun melanjutkan visit ke pasien lain.


Hingga berbulan Mimi tidak pernah lagi mendengar kabar tentang kelanjutan somasi dari pihak Dina Lorenzo.

__ADS_1


"Semoga ujian ku yang ini selesai ya Rab" gumam Mimi dengan terus melangkah kaki menuju ruangannya.


tbc


__ADS_2