DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Hari bahagia Mimi


__ADS_3

Hari yang di tunggu pun tiba, nilai ujian pun telah keluar semua.


Mimi sangat bahagia ketika melihat hasil ujiannya mendapat nilai yang sanagt memuaskan.


Tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus mengasah serta memiliki kegigihan dalam hati.


Mimi lulus dengan predikat tertinggi dari para sahabatnya dan seniornya. Bahkan Mimi mendengar jika dia mendapatkan beasiswa lagi di kampus ini.


"Selamat ya Mi, kamu selalu no Wahid kalau masalah pelajaran." ucap Irma memberi selamat.


"Biasa aja Ir, selamat juga ya kita akhirnya bisa sama-sama lulus dengan cepat." Ucap Mimi mereka berempat pun berpelukan.


Dan mulai saat ini pula Mimi dan yang lain hanya menunggu waktu wisuda nya saja yang akan dilaksanakan empat bulan lagi.


Menjelang menunggu wisuda Mimi mulai membuka orderan kembali kue nya.


Sore hari Mimi dan ketiga sahabtnya hanya duduk-duduk santai di kosan. Karena bosan makan yang manis-manis, Mimi membuat pempek sambal.


"Mau kemana Mi?" tanya Irma ketika melihat Mimi beranjak dari rebahannya.


"Mau kebelakang." jawab Mimi sambil berjalan.


Sesampai nya di dapur, Mimi melihat bahan tepung masih lengkap. Mimi pun mulai beraksi dengan tepung-tepung itu.


Sedangkan ketiga sahabat nya masih rebahan sambil memegang HP. Ada ynag beechat ria dan ada pula yang membaca novel.


Tak butuh waktu lama miminoun siap dengan peetepungannya. Dan camilan sore nya lun telah siap.


"Hy guys, yuk di icip." ucap Mimi dengan membawa sepiring peksam alias pempek sambal dan !menunjukkan kepada ketiga sahabtnya.



"Apa ini Mi?" tanya Muthia ketika melihat sesuatu yang menggiurkan di dalam piring.


"Ini pempek." jawab Mimi.


"Pempek?" tanya Irma.


"Kok pakek sambel?" tanya Fia yang langsung mencomot satu peksam.


"Huh hah huh hah huh hah..Puaaanaas huh haah pedasss." ucap Selfia yang langsung memasukkan pesan yang masih hangat itu.


"Hati-hati Fi, baru juga masak itu." ucap Mimi.


"Hehee iya, habis pas banget Mi perut laper makan malas." jawab selfia.


Mereka berempat pun melanjutkan dengan HP masing-masing sambil mulut yang berkunyah.


Saat Mimi sedang mencari mbava novel berjudul KESABARAN CINTA ANNISA yang sudah update, ada notif masuk dari pelanggannya. Ternyata pelanggannya melihat status yang Mimi cantumkan di WA barusan.


Banyak orang yang penasaran dan bertanya kue apa yang Mimi pajang, setelah Mimi jelaskan kalau itu adalah peksam alias pempek sambal camilan khas Jambi seberang mereka pun pada tertarik dan pada akhirnya mereka pun memesan peksam pada Mimi.


"Alhamdulillah." ucap Mimi.


"Kenapa Mi?" tanya Irma.


"Ini ada yang penasaran dengan peksam dan akhirnya mereka memesan." ucap Mimi.


"Yaudah, buat kapan?" tanya Selfia antusias.


"Mereka sih maunya sore ini Fi, tapi tepung tapioka nya dah habis buat ini tadi." jawab Mimi.


"Jadi?" tanya Muthia.


"Jadi mereka minta untuk besok dan ada juga yang minta pempek kuah cuko." ucap Mimi.


"Yaudah buat aja " ucap Irma.


"Kalau peksam sih bisa Ir tinggal beli tapioka di warung, nah yang pemlek kuah cuko ya harus pergi kepasar beli daging ikannya." jawab Mimi.


"Oo jadi ini ngak pakek ikan ya Mi?" tanya Selfia.


"Kalau sekarang sih nggak Fi, peksam ini sih bisa buat dengan berbahan tepung saja, bisa juga di campur dengan daging ikan giling." jawab Mimi.


"Wah kalau pakek daging ikan pasti tambah maknyos Mi," ucap Muthia.


"Hmm iya Muth" ucap Mimi dengan tersenyum.


Mimi terdiam dan mulai berpikir bagaimana caranya dia bisa pergi kepasar tanpa minta izin dulu pada Dillah, secara dia saat i k sedang berada di luar kota.


"Emm Mi, besok kita kepasar aja yok pagi-pagi." ucap Irma.


"Itu dia Ir, Irma kan tau sendiri bagaimana kang Said." ucap Mimi.


"Ckk payah lah Mi kalau kak Said posesif keg gitu." jawab Irma.


"Dia begitu karena merasa trauma aja Mi." ucap Muthia membela Dillah.


"Hmm trauma sih trauma jangan juga ampe jalan ke pasar seperti biasanya juga ikut di batasi." ucap Selfia.


"Emm Fi, kamu gimana sama Abang?" tanya Irma.


"Huuh kwnpa jadi bahas aku." ucap Selfia dengan mengunyah cepat peksam nya


"Yah Fi kalau maaih ada rasa, masih suka ya terima aja lah Fi." sahut Muthia.


"Hmm entahlah." jawab Selfia


"Emang perasaan kamu sama dia sekarang gimana sih Fi?" tanya Muthia.


"Nggak fau" jawab Fia.


"Kok nggak tau? apa nggak ada rasa lagi gitu?" tanya Mimi.


"Iya Fi ntar nyesel Lo kalau dia deket ma cewek lain." sahut Irma.


"Hmm kalau dia mau dekat ceweknlain ya terserah dia." jawab Selfia yang !membuat ketiga sahabtnya tercengang.


"Lo sehatkan Fi?" tanya Muthia.


"La Lo La Lo, sejak kapan kamu ngomong gitu Muth?" tanya Mimi.

__ADS_1


"Hehee biar geol Mi." jawab Muthia dengan menunjukkan dua hari tanganya.


"Heleeeh" jawab ketiga sahabt Muthia.


"Hmm yah sehatlah Muth, emang aku sakit apa?" ucap Selfia.


"Terus perasaan kamu gimana sekarang?" Mimi mengulangi pertanyaannya.


"Hmm entahlah, aku juga nggak tau."


"Saat ini aku merasa biasa-biasa aja" jawab Selfia.


"Rasa suka, rasa sayang ma cinta kamu dulu gimana?" tanya Muthia.


"Fia juga nggak tau Muth, kalau dekat sama dia biasa-biasa aja gitu. Nggak ada lagi rasa seperti dulu, mungkin dia sudah terbiasa diabaikan sama dia, yaudah rasa itu perlahan menghilang." jawab Selfia dengan jujur.


"Oh ya Muth, kamu jadi Minggu depan pulang?" tanya Mimi.


"Ya jadilah Mi, tau sendiri kak Satria. Dia bilang dia serius sama Tia dan dia nggak mau lama-lama, kalau sudah ada kecocokan dan kkta juga udah lulus kuliah jadi ya lebih baik disegerakan. Gitu katanya." ucap Muthia.


"Hmm betul juga tuh, ah andai aja Riko keg gitu aku juga mau nikah muda." ucap Irma.


"Ya ajak aja Riko nikah Ir " sahut Selfia.


"Tapindia belum mau, karena kata dia mau ngasih makan aku apa nanti." jawab irma.


"Iya juga sih, Muthia sama Mimi enak dapet orang yang sudah punya usaha, walau masih kuliah masih bisa tuh kak Satria atau kak dillah ngasih makan. Ya nggak Ir." ucap Selfia.


"Iya Fi." jawab Irma.


"Em terus kamu Mi, katanya dulu waktu belum jadian ma kak Dillah kalau ada yang mau ngajak kamu nikah kamu ayok In, terus kenapa kak Dillah nagajak nikah kamu ragu." tanya Muthia.


"Iya betul tuh, semakin kak Revano baru Deket terus nqgajk serius Mimi iya in, sekarang kak Dillah yang serius Mimi njadi ragu gitu." sahut Selfia.


"Kenapa Mi?" tanya Irma.


"Nggak tau juga Mimi, kenapa bisa menjadi ragu gitu."


"Mungkin karena kak Dillah belum membawa atau memperkenalkan Mimi sama orang tua nya kali ya?" ucap Mimi.


"Emm bisa jadi sih." ucap Irma.


Disebuah cafe dan resto Dillah bersama ketiga sahabatnya kecuali Reno yang sedang berbulan madu. Mereka sedang mengatur rencana untuk party kejutan buat Mimi.


Dia membahas dan merencanakan dengan sangat apik dan matang. Bahkan Dillah sudah memesan Bahakan menemlah sebuah perhiasan sebagai kado untuk Mimi nanti.


Dibalik mereka membuat planning buat acara, mereka juga saling bercerita satu sama lain.


"Oh ya Bry, Lo dah tau siapa yang ngadopsi anak Lo?" tanya Satria.


"Hmm katanya yang ngadopsi Damian Perez gitu." jawab Bryan.


"Damian Perez? nama lengkap nya atau nama marga tuh?" tanya Satria.


"Hmm kata anak buah papi namanya Willian Damian Perez." jawab Bryan.


"Kok kayak nggak asing ya?" ucap Yogi.


"Bukannya nama teman Berliana yang namanya siapa itu emm Mi Mi Mi siapa ya? itu kan apnama panjangnya Damian Perez." ucap Yogi lagi


"Maksud kamu Gi?" tanya Dillah.


"Itu temannya Berliana yang tomboy feminim itu." ucap Yogi yang ingat-ingat lupa.


"Siapa?" tanya Bryan yang juga ikut mengingat. Tiba-tiba Bryan mengingat kata-kata yang pernah terlontar dari sahabta Berliana. "Jika dia lahir jangan harap kau bertemu atau mengambil anaknya."


Deg deg deg jantung Bryan berdetak dengan kencang bahkan terasa sesak di dadanya.


"Kenapa Bry, kenapa Lo tegang gitu?" tanya Satria


"Makadu kamu Mita Gi?" ucap Bryan.


"Nah iya Mita, namanya kan Mita Anggraini William Damian Perez." jawab Yogi ( maaf ya kalau salah nama nya Mita hehee author lupa)


"Apa mungkin, Mita yang mengadopsi anak Lo Bry?" tanya Satria.


"Bisa jadi Sat, duku eianoeenah ngancam gue saat gue minta beeliana mengugurkan kandungan nya." ucap Bryan


"Arggg kalau benaran Mita tambah sulit gue bertemu dengan anak gue." Ucap Bryan.


"Em jadi yang pernah gue lihat dia bawa anak itu... Berarti anak Lo?" ucap Dillah.


"Dimana Lo pernah lihat Dil? kapan?" tanya Bryan.


"Dah lama sih Bry, setahun lalu di mall. Ya pas sama elo juga Sat, Gi sama Reno juga." ucap Dillah.


"Yang mana ya .." ucap Yogi dan Satria.


"Ooo iya iya gue ingat, yang waktu itu gue nyapa dia dan nanya anak kecil itu siapa bukan?" sahut Satria.


"Iya Sat dan dia jawab anak dia." jawab Dillah.


"Berarti selamaa ini anak Lo ada sama Dia Bry." ucap Yogi.


"Coba kita tanya sama bunda Ainun." ucap Satria.


"Iya betul juga itu, yaudah ayo kita kesana sekarang." ucap Dillah dan mengajak ketiga sahabtnya segera pergi ke panti kasih bunda.


Sebenarnya Dillah telah sampai di kota Semarang, cuma dia tidak memberitahu Mimi karway dia akan membuat kejutan untuk Mimi tiga hari lagi.


45menit mereka pun sampai di panti kasih bunda, saat mereka tiba disana. Ternyata panti juga sedang di kunjungi orang lain.


"Keg nya lagi ada tamu." ucap Yogi.


"Sepertinya begitu" ucap Satria gaya syr.


Saat Bryan menatap kiri kanan, keluar seorang anak lakiu berusia sekitar 3th berlari ke arah dia yang kebetulan bola anak tersebut menggelinding ke arah Bryan.


Bryan mengambil bola anak tersebut, anak itu memandangi wajah Bryan dari dekat karena Bryan sedang berjongkok di hadapan anak laki-laki itu.


Bryan terpaku melihat mata anak laki-laki tersebut, selintas mata itu mengingatkan dirinya akan sosok Berliana.

__ADS_1


"Bry, nih anak kok mirip Lo ya?" tanya Satria seketika.


Dillah dan Yogi mendengqr itu oun ikut berjongkok dan melihat anak laki-laki itu.


"Iya wajahnya mirip banget sama Lo Bry." ucap Yogi membenarkan omongan Satria.


"Wajah mirip sama Lo, matanya mirip sama mendiang Berliana.'' ucap Dillah.


"Zian, Zian sayang." panggil seseorang dari dalam Langi dan menuju keluar.


Bryan dan yang lain melihat ke arah perempuan yang sedang berjalan menuju anak kecil itu.


"Mita" ucap Bryan dan ketiga sahabat nya, Mita yang selalu mengingat wajah Bryan langsung berjalan cepat menghampiri Zian.


"Zian, lain kali jangan keluar sendirian ya nak " ucap Mita dengan menggendong Zian dan akan membawa Zian kembali masuk kedalam panti.


"Mit, Mita" panggil Bryan dan memegang lengan Mita. Mita terhenti kala tangannya dinlegang oleh Bryan.


"Tunggu Mit." ucap Bryan menghentikan langkah Mita lagi.


"Mau apa Lo datang ke sini?" tanya Mita dengan ketus.


"Gue mau ketemu bunda Ainun dan.." jawab Bryan dengan melihat wajah Zian.


"Lepas." ucap Mita dengan menghentakkan tangan Bryan dan Mita lun berlalu masuk.


Bryan beserta ketiga sahabtnya mengejar mita hingga depan pintu panti.


"Assalamualaikum" ucap Bryan dan yang lain ketika melihat di ruang tamu panti ada bunda ainun dan tamunya.


"Waalaikum salam." jawab bunda Ainun seraya berdiri.


"Bunda." panggil Bryan dan langsung menyalami serta mencium tangan bunda Ainun.


Bunda Ainun terdiam melihat Bryan, sudah hampir tiga tahun bunda Ainun tidak melihat Bryan. Terakhir bunda Ainun bertemu Bryan saat Bryan akan berangkat ke London.


"Bunda apa kabar?" Tanya Bryan.


"Alhamdulillah baik, kamu bagaimana kabarnya?" tanya bunda Ainun yang teringat akan hati Berliana.


"Alhamdulillah Bryan juga baik bun, bun." jawab Bryan dan memanggil bunda namun matanya menatap mata dan anak laki-laki yang di pangku Mita.


"Duduk lah " ucap Bunda Ainun mempersilahkan Bryan dan ketiga sahabtnya duduk.


"Perkenalkan ini pak Wiliam damjan Perez dan ibu Mira." ucap Bunda memperkenalkan orangtuq Mita lada Bryan dan teman-temannya.


"Mereka adalah pemilik panti ini." imbuh Bu Ainun, brya hanya mengangguk begitu pula dengan ketiga sahabatnya.


"Kamu ini Nun Nun." ucap Bu Mira.


"Kamu ada apa kesini nak?" tanya bunda Ainun.


"Bun, Bryan mau tanya apa betul dia.." ucap Bryan terpotong karena Mita.


"Bun, Mita melamar duku ya sama Zian." ucap Mita.


"Mit tunggu.." ucap Bryan memberhentikan Mita.


"Mit, aku mohon. Aku tau dia anakku Mit, anakku sama Berliana." ucap Bryan yang tak bisa lagi menahan beban di dadanya.


Orang tua Mita hanya diam begitu pula dengan bunda Ainun, mereka juga tidak bisa terus-terusan menghindar atau menyembunyikan kebenaran ini.


"Mit, izinkan aku menggendongnya." Bryan memohon kepada Mita, tapi Mita tak mengizinkan hal itu.


"Apa Lo bilang, anak.Hah anak Lo Lo bilang, dia bukan anak Lo. Dia anak saudara gue yang sudah tiada. Lo nggak ada hak atas dia." ucap Mita dengan sorot mata tajam dan penuh dengan kebencian.


"Jangan harap Lo bisa mendekatinya," ucap Mita dengan geram.


"Mommy" panggil Zian.


"Iya sayang, ayo kita bobok di kamar." Mita pun membawa masuk Zian kedalam kamarnya.


Bryan terdiam menatap kepergian Mita dan sang anak yang telah berlalu.


Lama Bryan dan sahabatnya di panti, mereka mengobrol baik bersama kedua orang tua Mita. Bryan sangat berharap bisa melihat wajah anaknya lagi, namun hingga sore hari Mita tidak membawa Zian keluar.


Semua persiapan telah seratus persen siap, malam ini rencana nya Dillah akan mengadakan acara spesial buat Mimi.


Dillah hanya mengundang sahabat serta orang-orang terdekat Mimi saja.


Sore hari nya Irma, Muthia dan Selfia mengajak Mimi untuk kesalon. Mimk pun mengikutinya sesampai disalaon mereka melakukan setiap treatment-nya, dari lihat, sauana dll.


Sehabis isya Mimi mulai di make over dan memakai baju gaun yang sudah di siapkan di salon ini.


"Ir, ini baju buat apa dan ini kenapa pakai dandan segala sih " ucap Mimi.


"Sesekali Mi," jawab Muthia.


"Emang kita mau kemana sih? ngapain pakai baju bagus gini." ucap Mimi.


"Udah diem, pokonya Mimi nurut aja." ucap Selfia.


Hampir lima jam mereka di salon ini, dan akhirnya mereka pun sudah siap semua dengan pakaian baru.


Tak lama datang mobil namun mobil ini supir nya menyamar sebagai supir taxy online.


Mimi hanya mengikuti kemana teman-temannya akan mengajaknya. Namun saat telah sampai Mimi melihat jika mereka berada di sebuah restoran mewah di kota ini.


"Kita ngapain kesini?" tanya Mimi.


"Kita ada acara Mi, ayok ah." ajak Irma.


"Acara apa? kkta pulang aja yok." ucap Mimi yang takut.


"Nggak apa kok, ada surpirise buat Tia." bisik Irma dengan mengkambing hitamkan Muthia.


"Maksudnya?" tanya Mimi lagi.


"Nyar juga tau kalau dah sampai di dalam." ucap Irma, Mimi pun mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2