DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
surat Abizar


__ADS_3

Hari raya pertama Mimi dan keluarga menghabiskan waktu nya bersilaturahmi dengan sanak saudara. Malam hari nya, Mimi pergi ke Semarang.


Yah Mimi dan keluarga intinya saja yang pergi karena Paman bibinya tidak bisa ikut. Apa lagi pakdo dan Om Yan yang hanya mempunyai cuti beberapa hari saja.


Jam sepuluh malam, Mimk telah sampai di bandara Ahmad Yani Semarang, jemputan untuk Mimi serta kedua orangtua dan Ay juga sudah menunggu di sana.


Antara bandara menuju rumah besar keluarga Abizar memakai waktu 1.15 menit. Jam 11.15 malam Mimi pun sampai di kediaman keluarga besar Abizar.


"Mari mbak." ucap art yang sengaja menunggu kedatangan mimj dan keluarga.


"Assalamualaikum mbak Eva, Bi Surti, Bi Yati." ucap Mimi kepada art di rumah ini.


"Waalaikum salam." jawab mbak Eva dan yang lainnya.


"Maaf ya mbak, bik. Mimi jadi ngerepotin dan ganggu waktu istirahat nya." Ucap Mimi merasa tidak enak hati.


"Nggak ngerepotin kok mbak, ini juga sebagian tugas kami." jawab mbak Eva sembari membawakan tas Mimi menuju kamar Mimi. Bagitu pun yang lain membawakan tas emak dan bapak serta Ay ke kamar tamu.


"Bapak, ibu mau minum apa?" tanya bi k Yati kepada emak dan bapak.


"Ndak usah repot bik, nanti kalau haus biar saya ambil sendiri." jawab Emak.


"Oo, yaudah pak buk, ini kamarnya." ucap bik Yati.


"Makasih ya bik." jawab Emak.


Bik hati pun undur diri kebeljangbuntuk mengambil air minum putih. Bik hati memasukkan air putih kedalam teko khusus dan bik Yati membawa nya ke kamar emak dan bapak.


Mimi menaiki anak tangga menuju kamarnya, yah Mimi menempati kamar Abizar. Saat Mimi berada di anak tangga terakhir, terlihat ayahnkeluae kamarnya.


"Ayah." ucap Mimi, ayah Brata lun tersenyum.


"Baru sampe nak." ucap ayah Brata.


"Iya yah." jawab Mimi mengangguk dan segera mendekatinya dan menyalami tangannya.


"Apa kabar kamu?" tanya ayah Brata.


"Alhamdulillah baik yah." jawab Mimi.


"Ayah sama bunda gimana kabarnya?" tanya Mimi.


"Alhamdulillah, kami semua baik. Yaudah sana kamu tidur dan malam." ucap ayah Brata.


"Ayah mau kemana, bunda mana yah?" tanya Mimi beruntun.


"Bunda udah tidur kecapean, ayah mau kebawah ambil minum." jawab ayah Brata.


"Sininyah, biar Mimi saja yang ambilkan." ucap Mimi, tak lama terdenagr suara mbak Eva yang juga menawarkan diri.


"Mari pak, biar saya aja yang ngambil." ucap mbak Eva yang sudha keluar dari kamar Abizar.


"Oh ya, makasih ya Va." ucap ayah sembari memberi teko ke mbak Eva. Mbak Eva pun menerima teko itu dan segera pergi ke bawah untuk mengambil air.


"Kami segera tidur nak, pasti capek. Ini juga dah malam." ucap ayah Brata.


"Iya yah, kalau gitu Mimi tidur dukuan ya Yah." ucap Mimi dan ayah Brata mengangguk seraya mengelus kepala Mimi.


Mimi menarik nafas dalam saat akan memasuki kamar almarhum, perlahan Mimi kegang ganggang pintu dan mengucapkan salam.


Kamar yang tidak pernah berubah, selalu bersih dan wangi parfum Abizar selalu semerbak di dalam kamar ini. Yah bunda selalu menyemprotkan parfum anak kesayangan nya di dalam kamar ini.


Terlihat foto saat Mimi dan Abizar bertunangan di dinding kamar itu. Mimi berjalan menuju pigura foto itu dan mengelus nya.


"Mas, Mimi pulang. Mimi kangen." ucap Mimi, tak terasa air mata Mimi luruh di pipinya.


"Mas" ucap Mimi lagi sembari menghirup aroma parfum Abizar.


Mimi berjalan menuju walking closet dan mengambil pakaian ganti nya. Saat Mimi berada di dalam walkkng closet itu, Mimi melihat salah satu ruang yang merupakan ruang rahasia Abizar.


perlahan Mimi melangkahkannkkainya menuju salah satu pintu walking closed itu. Setelah membuka itu, Mimi menyingkirkan sisa pakaian Abizar yang tersangkut di dalam nya. Mimi membuka seperi kotak kecil dan disana Mimi menekan kode akses nya.


Perlahan Mimi memasukkan kode yang pernah Abizar beritahu, kode nya merupakan tangal lahir serta tahun kelahiran Mimi dan Abizar.


Setelah memencet angka tersebut, pintu itu pun terbuka, sebelum memasukinya Mimi memakai masker terlebih dahulu, sebagai antisipasi karena ruangan ini terlalu lama tak di gunakan. Perlahan Mimi hidupkan saklar lampu di dalam ruangan itu.


Ruangan kecil yang nyaman, banyak buku-buku didalamnya. Karena terlalu lama tak di gunakan maka sedikit berdebu dan bersawang.


Mimi hidupkan ac dalam ruangan tersebut, perlahan Mimi mencari dimana letak vakum, setelah menemukannya Mimi membersihkan ruangan itu dengan vacum yang ada di dalam ruangan kecil itu.


Mimi juga mengelap kursi serta meja yang berada di dalam sana. Setelah semua bersih, Mimi duduk di kursi tempat dimana Abizar sering menghabiskan waktunya untuk membaca.


di dalam ruangan ini, terdapat foto Mimi dan Abizar saat mereka bertunangan. Mata Mimi tertuju pada laci meja itu, perlahan Mimi buka laci itu.


Mata Mimi menuju sebuah amplop yang tertulis nama Mimi.


"My dear sweaty Mimi Akifah" nama yang tertulis di amplop itu. Perlahan Mimi membuka dan membaca nya.

__ADS_1


'Assalamualaikum sayang nya mas, mas yakin lambat laun kamu pasti akan kembali kerumah ini dan masuk kedalam ruangan ini.'


'Sayang, sebelumnya mas minta maaf ya.. Maafkan mas jika nanti atau esok maa tidak dapat menjaga kamu lagi.'


'Kamu ingat sayang, mas pernah bercerita tiga bulan lalu kalau mas merasa selalu di perhatikan atau di ikuti? '


'Semenjak itu mas hanya memohon perlindungan Allah SWT, entah itu hanya sebuah perasaan mas saja atau emang sudah waktunya, maka Allah menunjukan nya kepada mas.'


'Sayang, mas selalu berdoa kepada Allah untuk kebahagiaan kamu, setiap mas selesai tahajud dan istikharah mas selalu bermimpi, mas memberikan tangan kamu pada seorang laki-laki yang mas sendiri tidak tau siapa dia.'


'Sayang, mas bahagia bisa mempersunting kamu, apa lagi waktunya nikahan kita tinggal hitungan hari. Namun akhir-akhir ini mas merasa selalu diperhatikan lebih sering waktunya.'


'Dan akhirnya mas mempercayai jika yang selalu memperhatikan mas adalah utusan Allah yaitu malaikat maut. Kamu pasti tau kan yank, jika kita selalu di datangi malaikat maut tiap hari nya.'


'Mas tambah yakin jika waktu mas tidak lama lagi sayang, kamu ingat jika mas pernah mengatakan padamu jika suatu saat ada lelaki dimasa lalu mu akan kembali datang untuk menggenggam tanganmu dan akan memperjuangkan cinta kamu lagi?'


'Sayang malam ini jam 2 malam mas terbangun karena mimpi itu hadir lagi. Kali ini mas yakin jika laki-laki itu yang akan menggengam tangan mu erat, dia laki-laki yang berada dihati mu paling dalam.'


'Mas juga sudah menitipkan kamu kepadanya, dialah orang yang berhak atas dirimu' Mimi terus meembaca dan nafasnya terasa tercekat saat membaca surat-surat yang di tulis Abizar.


Mimi lihat tanggal yang tertulis tanggal sehari sebelum dirinya meninggal.


"Maass." ucap Mimi dan kembali membaca surat itu.


'Sayang, mas sangat berharap kamu segera datang dan menemukan surat ini, agar kamu mengetahui siapa orang yang sesungguhnya yang akan memberi kamu kebahagiaan.'


'Mas harap kamu tidak salah pilih ya sayang, walau kau telah memilih yang salah, mas harap Allah segera menunjukkan jalannya.'


'Maa tidak rela dan tidak tenang jika kamu hidup dalam tertekan atau tersakiti kelak.'


'Sayang, mas sangat menyayangi dan mencintai kamu. Sekali lagi maafkan mas ya bila maa tidak bisa menjagamu lagi.'


'Tapi ingatlah sayang, Allah selalu bersama mu. Tetaplah jadi Mimi yang mas kenal.'


'Sayang laki-laki itu laki-laki yang tidak hanya menyayangi kamu namun dia juga sanagt besar menyayangi keluarga kamu.'


'Jika kelak kau bersatu dengannya, mas mohon jangan lupakan keluarga mas ya sayang. Mereka sangat menyayangi kamu seperti putrinya sendiri.'


'Semoga kau selalu bahagia bersama orang yang juga menyayangi kamu sepenuh hatinya.'


'Maa pamit p, eh kok pamit ya hehee.. Ya pamit lah sayang kan kita hari ini akan mengambil undangan kkta dan mengirimnya ke Jambi.'


'I love you May sweaty, sampai maut memisahkan kita mas tetap mencintaimu, mas akan mengorbankan segalanya hanya untukmu termasuk nyawa maa sendiri.'


'Jangan lupa kirim doa buat mas ya sayang hehe i love you, assalamualaikum.'


Tanpa terasa entah berapa lama Mimi berada dalam ruangan itu. Mimi menangis sesegukan, Mimi merasa menyesal telah mengambil keputusan tanpa pertimbangan terlebih dulu.


"Massss, apa orang yang maksud adalah kak Syahril mas."


"Dia juga mengatakan kalau dia di titik amanah oleh orang yang memberikan tangan seorang gadis padanya."


"Maass, maafkan Mimi. Mimi telah salah memilih mas, maafkan Mimi."


"Ya Allah, jika hamba salah tolong berikan hamba petunjuk mu, berikanlah jalan buat kami." ucap Mimi yang terus menangis.


Sayup-sayup Mimi mendengarbsuara adzan, Mimi akan beranjak berdiri namun kepala nya pusing karena dia tidak tidur dan lebih banyak menangis.


Mimi berusaha berjalan untuk keluar dari ruangan ini. Perlahan Mimi pun akhirnya sudah berada di luar lemari itu. Mimi berjalan dengan sempoyongan karena kepalanya semakin sakit.


Mimi langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu Mimi segera menjalankan shokat subuh. Karena merasa pusing, sehabis sholat tanpa membuka mukena Mimi merebahkan dirinya di atas ranjang dan tertidur.


Semua orang telah kumpul bersaam di bawah tanpa Mimi, emak merasa heran dengan anak gadisnya, biasanya Mimi paling duku bangun namun hari ini hingga jam sembilan Mimi belum juga turun.


Bunda dan emak pergi ke kamarnya abkzar, sebelumnya mereka membiarkan saja mungkin karena Mimi lelah tapi setelah sekian jam tidak turun mereka pun menjadi khawatir.


Terlihat pintu kamar masih tertutup, mereka berdua mnegtuk beberapa kaki namun tidak ditanggapi oleh Mimi, rasa khawatir kedua orang ini ini semakin menjadi ketika tidak mendengar suara anak mereka.


Saat bunda menarik gagang pintu, gagang itu berputar yang menandakan kalau pintu tidak dikunci. Kedua orang ibu langsung masuk ketika pintu bisa terbuka.


Kamar yang masih temaram, bunda berjalan. celatbmenuju saklar lampu dan menghidupkan lampu, emak berjalan menuju jendela mpdan membuka gorden yang maih tertutup rapat.


Kedua orang ibu itu melongo melihat anak gadisnya !asih tertidur dengan mukena yang masih terpasang.


"Huh, dasar anak gadis satu ini. Bikin orang khawatir saja." ucap emak sembari mendekati Mimi. Bunda menggelengkan kepala melihat Mimi masih memeluk guling Abizar.


Saat emak akan !membangunkan Mimi, terlihat wajah Mimi yang pucat dan emak langsung memeriksa keningbmiji yang terasa panas.


"Astaghfirullah." ucap emak.


"Kenapa San?" tanya bunda.


''Ini San, Mimi demam kayaknya." jawab emak sembari membuka mukena Mimi.


"Dingin" ucap Mimi ketika emak berusaha membuka mukenanya.


Mimi merasa dingin diswkujjr tubuhnya namun kenyataan yang ada keningnya bersimbah keringat. Bunda langsung mengecek suhu Mimi dengan tangan nya.

__ADS_1


"Iya San, ya Allah nak. kamu kenapa?" jawab bunda khawatir.


"Mas Abi.." Mimi mengigau menyebut almarhum calon suaminya.


"Ya Allah nak.." ucap Bunda sembari menitikkan air matanya sw!nari memeluk tubuh Mimi.


Walau telah 3th lamanya almarhum btekahnpergi untuk selamanya, namun dia selalu ada ditengah-tengah mereka.


"Kenapa bun?" tanya Adam.


"Adik kamu demam." jawab Bunda.


"Adam langsung berlari ke ruang kerja nya mengambil stetoskop dan termometer.


"Ada apa mas?" tanya sang istri.


"Mimi demam dek." jawab Adam.


"Ya Allah," istri Adam pun berlari menuju kamar Mimi.


Adam yang sudah mendapatkan alat medianya langsung berlari menuju kamar Mimi stekab itu dia pun langsung memeriksanya.


Suhu badan Mimi yang panas tinggi dan tekanan darah yang rendah.


"Gimana nak?" yang emak.


"Ndak apa mak, mungkin Mimi kecapean karena tekanan darah nya rendah dan sepertinya Mimk juga tidak makan semalam." ucap Adam setelah selesai memeriksa Mimi.


"Iya, dia hanya makan sebelum kami pergi ke lapas melihat Anas." jawab Emak.


"Ndak apa Mak, setelah siuman nanti kita kasih Mimi makan banyak." kelakar Adam.


"Kamu ini mas mas" ucap sang istri.


"Ya sudah ayo kita keluar, biar Mimi istirahat." ucal Adam dan mengajak sang istri keluar. Tak lama Ay masuk membawa air hangat dalam baskom dan handuk kecil untuk kompres Mimi.


"Ay, jagain Ayuk Mimi ya." ucap mas Adam.


"Iya mas." jawab Ay.


Bunda dan emak maaih berada di dalam kamar Mimi, mereka mengurus Mimi. sesekali bunda mengecek suhu badan Mimi.


"Zar, lihat calon istrimu nak. Walau kalian telah berpisah sekian tahun. Bunda yakin kamu maajhnada dihatinya nak.'' ucap Bunda dalam hati.


"Ya Allah, berikanlah kesehatan kepada anakku, berikanlah dia kebahagiaan, lapangkan lah kubur menantu ku Abizar." emak berdoa di dalam hatinya.


Ayah Brata dan yang lain duduk di ruang keluarga bersama bapak, mereka saling bercerita satu sama lain.


"Gimana Dam?" tanya ayah Brata.


"Demam biasa yah, karena kecapekan dan perut kosong." jawab Adam.


"Hmm Mimi memang begitu, saya lihat akhir-akhir ini makannya kurang." sahut bapak.


"Mungkin ada yang dipikirkan nya pak " ucap Chalik.


"Emm paling ya mikirin si Said." ucap si bapak.


"Said?" tanya mereka semua.


"Iya Said Abdillah ,senior dia kuliah dulu yang sempat ingin melamar Mimi tapi kekecewaan yang di dapat Mimi." ucap bapak dengan helaan nafas.


"Mimi kembali sama dia, lagi-lagi dia janji mau lamar lagi tali ndak tau kapan." ucap bapak lagi apa adanya.


"Apa orangnya baik pak?" tanya Chalik.


"Kalau di lihat dari beberapa kali video call, kelihatan nya baik anaknya, sopan dan kayaknya pekerja keras juga. Tapi ya tidak tau aslinya bagiamana." jawab bapak.


"Memangnya bapak belum pernah ketemu sama dia?" tanya Adam.


"Hemm belum pernah Dam, balak sama mamak nya Mimi seringlah bilang kalau luoangbke Jambi ajak dia." jawab Bapak.


"Terus dia ndak datang?" ucap Adam.


"Iya, kata Mimi dia sedang sibuk dengan proyek. Tali entahlah bagaimana hubungan mereka. Bapak maupun emaknya kurang setuju ala lagi dia sebelumnya pernah mengecewakan kami." ucap bapak.


"Kita lihat saja nanti San, kita berdoa saja sama Allah semoga Mimi mendapatkan pendamping yang benar-benar tulus menyayangi dan mencintai nya." ucal ayah Brata.


"Amin, semoga saja San. Terkadang, saya itu sedih kalau melihat dia, apa lagi sedari dulu orang selalu memandang rendah dirinya."


"Bukan saya tidak mengetahui bagaimana Mimi berjuang melawan omongan orang tentang dia dan kami orangtua nya."


"Dia tidak pernah melawan dengan kata-kata, tapi dia blas dengan sebuah prestasi yang dia capai." ucap bapak, selama ini memang bapak bukan tipe orang yang banyak bicara, dia hanya memperhatikan saja namun dia akan membela anaknya Bika anaknya sering terlalu di sakiti.


Mereka semua membahas tentang hubungan Mimi dan Dillah, sebagian keluarga Abizar terutama para ipar ceweknya tidak setuju kalau Mimi bersama Dillah.


tbc

__ADS_1


__ADS_2