DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kondangan


__ADS_3

Sinar mentari telah tinggi menyinari bumi, dua pasang anak manusia masih asik dengan dunia nya di dalam kamar mereka masing-masing.


Mimi perlahan membuka matanya, saat dia bergerak hendak beranjak badannya terasa berat karena dirinya di peluk Syahril dengan erat.


Mimi berbalik badan, terlihat wajah Syahril yang tidur dengan pulasnya. Jarak Mimi dan Syahril sangatlah dekat, begitu luas Mimi menatap wajah calon suaminya.


Mimi mengangkat tangannya menuju wajah Syahril. Mimi memegang setiap inci wajah Syahril. Dari kening, kedua mata, hidung pipi serta bibir yang sensual itu


Bibir yang belah di bagian bawahnya menambahkan kesan eksotisnya Syahril, bibir sensual yang bikin candu, Mimi mengetuk-ngetuk kecil pada bibir Syahril dengan jemarinya.


Karena ulah Mimi, Syahril yang tertidur pulas menjadi terganggu. Perlahan dia buka matanya, dilihat sang calon istri sedang asik mempermainkan jemari di bibirnya.


Syahril tersenyum kecil, tangannya semakin memeluk erat Mimi, di tariknya badan Mimi sehingga tak ada celah diantara nya.


Syahril memegang dagu Mimi dengan kedua jarinya jempol dan telunjuk. Mimi melihat wajah Syahril, jarak tanpa celah, serian nafas pun terasa di wajah Mimi.


Syahril perlahan mendekat ke wajah Mimi terutama mendekat ke tujuannya yaitu bibir Mimi.


Mimi memejamkan matanya secara refleks, Syahril semakin memajukan bibirnya sehingga bibir itu pun bertemu satu sama lain.


Kecupan menjadi decapan, lidah saling bertautan meraih kenikmatan tersendiri. Awal hanya pelan lama kelamaan menjadi intens.


Permainan saling bertaut lidah membuat mereka sama-sama terbakar gelora asmara, entah berapa lama perang lidah itu terjadi yang kasti mereka berhenti ketika asupan oksigen mulai berkurang.


Mimi ngos-ngosan menghirup udara sebanyak mungkin. Entah mengapa Mimi semakin liar, begitu pula Syahril dia semakin suka membuat Mimi seperti saat ini.


Perlahan Syahril menghapus sisah decakan mereka yang membasahi disekeliling bibir Mimi.


Kemudian Syahril menciumi kening, dua mata, dua pipi serta hidung dan bibir Mimi.


"Kaak" Ucap Mimi ketika Syahril kembali memeluknya dengan wajah berada di leher Mimi.


"Hmm" jawab Syahril yang masih enggan beranjak dari tempat ternyaman nya.


"Bangun, mandi lagi. Kitakan mau kondangan temlat pak Kadus. Dah siang ini." ucap Mimi dengan mengusap kepala Syahril.


"Bentar lagi dek." jawabnya.


"Bentar sampe kapan, keburu para tamu dah bubar kak. Ayok ah bangun." ucap Mimi.


"Baru juga jam sebelas dek." ucap Syahril dengan tangan sebab mengambil jam tangan nya di meja kecil samping ranjangnya.


"Iya belum mandinya, ayo ah buruan. Ntar rendangnya habis lo, tinggal rundu (bumbu) nya aja." jawab Mimi.


"Ckk jadi kondangan cuma mau ngejar rendang." ucap Syahril.


"Hehehe salah satunya Sealin makan gratis." jawab Mimi cengengesan, Syahril menatap Mimi malas.


"Kalau mau rendang bikin sendiri jangan mengharap dari orang atau acara." ucap Syahril.


"Ckk,dah siang ini ayo mandi." ucap Mimi.


"Iya iya, cup" ucap Syahril dengan mengecup bibir Mimi, bibir yang membuatnya candu. Setelah itu Syahril pun beranjak dan langsung mengambil handuknya dan keluar kamar menuju kamar mandi.


Mimi sepergian Syahril kembali rebahan dan merentangkan kedua tangannya di atas kasur.


"Emmmm aaach" ucap Mimi ketika merentangkan kedua tangan serta meliukkan badannya kekiri ke kanan. Saat asik meliukkan badannya, Mimi teringat pakaian yang akan dia kenakan masih terjermur di dalam kamar mandi.


"Astaghfirullah." ucap Mimi, Mimi segera keluar kamar dengan langkah panjang menuju dapur.


Miki mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Syahril.


"Kaak" panggil Mimi.


"Hmmm" ucap Syahril yang sedang menggosok giginya.


"Tolong ambilkan baju yang terjermur di dalam." ucap Mimi.


"Buaju uapa" ucaonya yang masih menggosok gigi.


"Baju yang mau kita pakai kondangan, mau Mimi setrika." Ucap Mimi tapi tidak di jawab Syahril.


"Sudah kakak setrika dek tadi. Byurr" jawab Syahril dengan mengguyur tubuhnya dengan air.


"Oo yaudah makasih.'' ucap Mimi, Mimi pun kembali masuk kedalam kamar nya. Saat akan masuk kamar terdengar suara pintu ye buka dari kamar seberangnya. Mimi melihat Ryan baru keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan hanya memakai celana pendek serta kaos singlet.


Mimi acuh dan kembali melangkah masuk kedalam kamarnya.


Terlihat dress dan kemeja Syahril telah di gantung di dinding. Mimi tersenyum bahagia perkerjaan nya berkurang satu.


Mimi kembali mempersiapkan tas yang akan dia pakai dengan warna senada. Amplop untuk kondangan juga sudah dia persiapkan, Mimi menaruh dompet, amplop serta ponselnya dan ponsel Syahril kedalam tas nya agar tidak ada yang ketinggalan.


Saat Mimi beranjak dari meja sehabis meletakkan tas nya terdengar pintu kamar terbuka, Mimi membalikkan tubuhnya dan ter senyum kala Syahril masuk kedalam kamar.


Mimi mengambil pakaian gantinya serta handuk, namun saat dia membalikkan badannya, tepat di belakang Mimi Syahril berdiri.


"Mau kemana?" tanya Syahril.


"Mau mandilah" jawab Mimi.


"Nanti saja, Ryan sedang mandi saat ini." ucap Syahril, Mimi pun baru ingat Kaka dia hendak masuk tadi Ryan juga keluar kamar dengan handuk di lehernya.


"Oo" ucap Mimi dan kembali meletakkan pakaian gantinya di atas meja.


Syahril yang lupa membawa pakaian ganti, sehingga dia hanya memakai handuk di pinggangnya.


Mimi terpana kala melihat dada Syahril yang ditumbuhi rambut. Jarak yang sangat dekat karena Syahril mau mengambil pakaian dalamnya.


Mata Mimi terpana di suguhi pemandangan yang eksotis, dada bidang berbulu, perut datar berkotak-kotak, lengan ber otot menambah nilai plus buat Syahril.


Di tambah di pipinya juga sudah di tumbuhi rambut/jambang, bulu mata lentik, hidung mancung tinggi, bibir belah membuat pikiran Mimi berkelana.


Tanpa di perintah, tangan Mimi mengulur ke dada berbulu itu. Perlahan Mimi mengusap dada itu. Syahril tersenyum melihat kelakuan sang calon istrinya.


Syahril juga tak ingin melewatkan kesempatan ini, Syahril menarik pinggang Mimi sehingga Mimi berada dalam dekapannya.


Mimi melihat wajah Syahril dengan nafas tak beraturan, begitu pula Syahril menatap Mimi intens terlihat aura gai**h terpancar di kedua mata mereka berdua.

__ADS_1


Syahril memegang dagu Mimi dan dia mulai beraksi dengan mencium bibir Mimi hingga mereka melakukan kembali perang tautan lidah.


Syahril yang penuh dengan gai**h semakin beraksi liar, tak hanya mulut jadi incaran nya leher Mimi pun sudah di kuasainya.


Mimi hanya menerima perlakuan lembut Syahril itu, hingga nafas mereka berderu.


"Kaaak" ucap Mimi ketika Syahril mulai bergerilya ke tempat lain.


Syahril melihat ke arah Mimi yang nafasnya tak beraturan lagi. Mimi menggeleng sehingga Syahril tak melanjutkan aksinya.


"Emm sana, mandilah. Ryan sudah selesai itu." ucapnya, Mimi pun mengangguk dengan segera Mimi menarik handuk di atas meja dan segera keluar kamar menuju kamar mandi.


Setelah Mimi keluar, Syahril melihat si junior di balik handuknya telah berdiri tegap.


"Sabar ya, seminggu lagi." ucap Syahril pada juniornya. Namun si junior seperti tidak mau di ajak kompromi dia tetap berdiri bahkan semakin tegap.


Syahril menarik nafas dalam melalui hidungnya dan mengeluarkan nya lewat mulut, Syahril malakukan itu berulang kali agar si junior tenang tak berontak lagi.


Junior semakin berontak kala tidak dapat melumpuhkan lawannya, namun seiring waktu junior itu pun jinak dan tidur nyenyak kembali, barulah Syahril mengenakan pakaiannya.


Sepanjang dia berjalan menuju kamar mandi, Mimi merasa malu dengan perbuatannya tadi. Entah mengapa dia penuhi gai**h, duku dia juga pernah melihat dada Syahril sewaktu dia masih SMA saat Syahril liburan di rumahnya didesa dan mandi di sumur.


Saat itu dia tak memiliki perasaan apa-apa saat melihat dada bidang Syahril tidak seperti saat ini.


Saat ini melihat bibir Syahril membuat dirinya ingin mengecup nya.


"Ya Allah" ucap Mimi dengan menarik nafas dan menghembuskan nya kembali. Mimi Kun memulai acara mandinya.


Di kamar Ryan, Di'ah baru selesai menyetrika pakaian mereka. Saat Di'ah akan keluar untuk mandi lagi-lagi Ryan menarik dirinya.


"Kaak'' ucap Di'ah.


"Bentar yank." ucap Ryan dengan memasukkan kepalanya di baju Di'ah.


"Achhhh kaaak." ucap Di'ah yang terbangkit kembali gai**hnya. Ya Ryan kembali menyesal tombol on off yang besar itu.


"Kaaak" ucap Di'ah.


"Emm" jawabnya karena mulutnya dipenuhi tombol.


"Uuudaaah" ucap Di'ah.


"Dosa Lo" ucapan yang merupakan sebagai sebuah ancaman bila Di'ah menghentikan kegiatannya.


"Aaaach kaaak, kakak kan sudah man diii" ucap Di'ah.


"Emm." jawab Ryan.


Mimi yang sudah selesai mandi baru teringat jika dia melupakan pakaian gantinya. Mimi membuka pintu kamar mandi dan menongolkan kepalanya terlebih dahulu keluar.


Setalah terlihat keadaan aman, Mimi segera keluar dan berlari menuju kamarnya.


Saat dia akan membuka pintu ternyata Syahril lebih dulu membuka pintunya. Syahril memelototkan matanya ketika melihat Mimi hanya mengenakan handuk sedada.


Tanpa ba bi bu Syahril menarik Mimi masuk kedalam.


"Apa apaan sih dek." ucap Syahril. Kali ini dia dan si junior ya di uji kembali.


"Untung Ryan belum keluar." ucapnya.


"Hehee iya makanya lari tadi setelah melihat keadaan aman." jawab Mimi.


Mata Syahril hanya tertuju di dua titik yang sangat menggiurkan, namun kali ini dia berusaha untuk sabar. Syahril pun keluar kamar nya dengan menggelengkan kepala nya.


Syahril sudah merasa kalau si junior kembali bangun dan hendak berontak. Syahril lelaki dewasa yang normal. Hormon kelelakian nya akan meningkat jika melihat hal yang membuat dirinya ber gai**h.


Syahril kembali menenang kan juniornya dengan membawa junior itu menjauh dari lawannya.


Mimi melihat Syahril keluar, dia segera memakai dress simpel nan elegannya. Dress yang warnanya senada dengan kemeja yang dikenakan Syahril.


Mimi mulai merias wajah nya dengan dandanan natural, tak begitu banyak make up yang Mimi pakai, selain karena dirinya tak menyukai dandan berlebihan, Mimi juga tak pandai bersolek.


Alat make up nya hanya ada celak mata/eyeliner, serta mascara dan lipstik uang berwarna natural juga. Mascara pun jarang dia gunakan.


Setelah siap Mimi mulai memakai pasmina nya dan kemudian dia pun keluar.


Saat keluar kamar dan Ryan yang sedang mengambil cangkir capuchino nya tanpa sengaja dia melihat ke arah pintu kamar Syahril.


Mimi yang baru keluar tersenyum kala Ryan melihat ke arahnya, Ryan selalu terpana melihat Mimi. Walau dandanan Mimi natural tapi berkesan glamor dan sedap di pandang mata.


Syahril melihat kemana Ryan memandang.


"Ehemm, kondisikan mata" ucap Syahril pada Ryan...


"Eh emm iya, gitu aja cemburu." ucap Ryan merasa gak enak hati lada sepupunya.


Tak lama Di'ah pun keluar kamar, terlihat Di'ah berdandan sedikit glamor, beda dengan Mimi yang natural.


"Dah siap?" tanya Ryan.


"Udah." jawab Di'ah dengan duduk di samping Ryan begitu juga Mimi yang duduk di samping Syahril.


Mimi mengambil cangkir capuchino Syahril dan Mimi menyesapnya hingga hampir tandas karena sepagian ini Mimi belum ada minum air.


Syahril tersenyum kala Mimi menyesap minumannya, Syahril mengusap kepala Mimi penuh kasih sayang.


"Sudah?'' jawab Mimi.


"Yaudah yok, kita berangkat nanti rendangnya habis." ucap Syahril menyindir Mimi dan dia segera beranjak dari duduknya di ikuti Mimi dan yang lain.


"Oh ya dek, hp Kaka dah di bawa juga kan?" ucap Syahril.


"Iya sudah kak." jawab Mimi.


"Emang sehabis ini kalian mau kemana Riil?" tanya Ryan.


"Mau kebukit Yan, kalian ikut juga ndak? ucap Syahril.

__ADS_1


"Emm boleh juga, kalau Ndak kita ke kevana Bae sekalian Riil, makan mie ayam bakso." ucap Ryan.


"Lihat nanti lah Yan." ucap Syahril yang telah masuk kedalam mobil. Mimi dan Di'ah juga masuk kedalam mobil sedangkan Ryan dia mengunci pintu rumah.


Mereka berempat pun segera pergi kerumah kak Kadus. Sesampainya disana tamu undangan masih banyak berdatangan.


Saat Mimi dan lain turun dari mobil, banyak pasang mata memandang ke arah mereka.


Mimi dan Di'ah berjalan berdampingan lada pasangan mereka. Saat Syahri bertemu dengan reka kerjanya yang bertugas di dusun-dusun sebelah mereka pun bersalaman dan mengobrol, begitu pula Mimi kala bertemu ibu-ibu warga setempat.


Saat Mimi mengobrol, banyak pula pasang mata dari pemuda hingga bapak-bapak mengarah pada dirinya.


Desas-desus bisik-bisik tetangga pun mulai terdengar, Mimi tidak menghiraukan mereka. Gerombolan pemuda yang sedang duduk-duduk di luar tenda melihat ke arah Mimi dan Di'ah.


"Giloe jok, bidadari turun." ucap salb satu pemuda.


(Gila bro, bidadari turun)


"Iyo nianla, sempurno nian kalu punyo bini macam tu." sahut yang lain.


( Iya benar, sempurna benar kalau punya istri seperti itu )


"Iyo nian, awak ndak jugo e punyo bini elok macam tu." sahut yang lain.


( Iya benar, aku juga mau punya istri cantik seperti itu)


"Kiro-kiro Dio beduo tu dari mano Yo? tinggal dimano, boleh awak apel kerumah nyo.


(Kira-kira mereka dari mana ya? tinggal dimana, boleh aku apel kerumah nya )


"Alaaah Mano ndak dia dengan kamu-kamu." ucap salah satu pemuda yang terlihat mapan..


( Alaah, mana mau dia dengan kalian)


"Dio jugo Mano ndak dengan kau Der." sahut yang lain.


(Dio juga mana mau dengan kau Der)


"Kalu dengan aku pasti ndak la dio, apolagi aku la kerjo kantoran, gaji aku besak jugo." jawab si Deri.


(Kalau dengan aku, pasti maula dia, apalagi aku sudah kerja kantoran, gaji besar juga)


"Yola kau kan Mak bapak kau Kayo." sahut yang lain.


(Iyalah kau kan punya emak dan bapak kaya)


"Nah tu kau tau." ucapnya dengan sombong.


Satu pemuda sedari hanya diam namun matanya memerhatikan ke arah Mimi.


"Kau Rik, dari tadi mato kau nengok kesano jugo?" ucap Deri dengan menepuk bahu Deri.


(Kau Rik, dari tadi mata kau lihat kesana juga)


"Yang baju ungu tu lebih cantik dari baju biru, Dio lebih alami." ucap Deri lagi memuji Mimi.


(Yang baju ungu itu lebih cantik dari baju biru, dia lebih alami )


"Hmm" jawab pemuda itu membenarkan omongan Deri sepupunya.


Saat mereka asik memuji menyanjung bahkan telah membuat rencana u tuk mendekati wanita yang mereka lihat. Dua anak kecil menertawai mereka.


"Hahahaha, jangan mimpi siang ari bang" ucap Raka, yah mereka adalah Raka dan Soni yang membeli es krim tak jauh dari mereka duduk.


(Siang ari\= sunah hari)


"Ais budak Kecik ni ganggu orang tuo be" ucap salah satu pemuda itu.


(Ais anak kecil ini ganggu orang tua saja)


"Hahaha makoe jangan nak mimpi siang ari, Mano ndak dio dio tu samo Abang. Dak level." sahut Raka.


(Hahaa.. maka nya jangan mimpi siang hari, mana mau mereka sama Abang)


"Tau apolah kau ko." ucap pemuda itu.


(Tau ala lah kau ini)


"Tau lah," jawab Raka.


"Memang nyo kau kenal dengan dio-dio tu Ka?" tanya Deri.


"Kenala." jawab Raka.


"Kau kenal siapo Dio?" tanya pemuda yang lain.


"Yang baju ungu tu dokter Mimi, calon bini dokter Syahril, nah yang baju biru tu bini dokter Ryan." jawab Raka.


Terlihat pemuda-pemuda itu kecewa namun Deri tidak latah semangat dia akan tetap mengejar Mimi apa lagi Mimi baru calon istri bukan istri.


"Baru calon, sebelum janur kuning melengkung bisolah." ucapnya.


"Hahaa jangan nak sok bang." sahut Soni.


"Taruhan kito." ucap Deri.


"Boleh siapo takut" jawab Raka.


Mereka mulai transaksi taruhan mereka dengan anak sekecil Raka dan Soni. Apakah mereka berhasil dan berupa apa taruhannya di next bab ya.


tbc


Padahal, pagi tadi sudah tinggal serahkan naskah tali nggak tau kenapa naskah nya hilang saat jemariku tersentuh layar buat keluar dari apk nya. Jadi terpaksa mengulang kembali.



tapi saat buka klik buat episode baru total penulisan naskah hari ini tercatat namun naskahnya entah kemana perginya.

__ADS_1



balik ke layar semula terakhir nulis kemaren. seketika ku menangis dalam hati naskah hampir 2200 itu hilang tanpa jejak.


__ADS_2