
Ketiga sahabat Mimi dengan pasangannya mencari keberadaan Mimi. Selfia beserta suami dan Irma beserta calon suaminya yang sudah duluan keluar langsung mencari Mimi dengan menelusuri jalanan.
"Bang, Mimi kemna ya bang" ucap Selfia khawatir dengan kepala yang terus melihat sisi jalan kanan kiri depan belakang.
"Sabar yang, abangnyqkin sahabt mu itu nggak kenapa-kenapa" ucap sang suami menenangkan Selfia.
"Ir, bantu lihat dong Ir." ucap Selfia pada Irma.
"Ini juga sedang cari Fia." jawab Irma yang juga gelisah tidak melihat seorangpun di jalanan.
"Ya Allah" ucap Irma yang frustasi tak melihat satunorang lun dijalankan yang mereka tempuh.
"Ini kita harus kemana?" tanya suami Selfia ketika dihadapkan persimpangan tiga jalur.
Suami Selfia berhenti di tengah antara ketiga simpang itu. Selfia melihat ke arah kanan, Riko melihat ke arah kiri begitu pula Irma menelisik setiap jalanan.
"Kalian merasa nggak kalau kita seperti diawasi?" tanya Irma was was.
"Ah palingan orang-orang abinya Mimi atau orang-orang pa Brata." ucap Selfia gak menghiraukan.
"Hmm mudah-mudahan." jawab Irma, tak lama terlihat mobil hitam melaju mendahului mereka ke arah lurus.
"Bang, kayaknya kita lurus aja deh." ucap Selfia.
"Jangan ngada-ngada kamu Fi, nggak mungkin Mimi lewat lurus." ucap Irma.
"Ya terus gimana dong? firasat aku ngatanya lurus karena mobil hitam tadi lurus." ucap Selfia.
"Ah Lo Fi, ngandalin perasaan, yang ada ntar kita makin jauh." seru Riko.
"Iya Fi, kalau arah ke rumahnya sakit tempat Mimi kerja itu arah kanan." ucap Irma.
"Tapi perasaan aku nyuruh lurus Ir" ucap Selfia kekeuh.
"Udah-udah kok malah debat." lerai suami Selfia.
Tin tin tin bunyi klakson mobil dari arah kanan. Suami Selfia membuka jendela mobil ketika tau yang bunyi klakson adalah teman dari isterinya.
"Gimana bang, ketemu?" seru Muthia dari jendela mobilnya.
"Belum." jawab suami Selfia.
"Ya Allah Mi, kamu kemana sih." ucap Muthia hamlir menangis.
"Bang, kita pulang ke hotel aja, sudah malam." seru Satria.
"Ihh kakak, kkta harus nyari Mimi samle ketemu." elak Muthia.
"Percuma yank, kita nggak bakal ketemu sama dia walaupun kita keliling. Percaya deh kalau Mimi baik-baik saja." ucap Satria.
"Iya betul juga,lebih baik kita ke hotel saja dah larut malam juga, ndak baik buat kandungan kamu." ucap suami Selfia dan membenarkan omkngan Satria ditambah muthia sedang hamil.
"Tapi bang." elak Selfia yang belum ingin kembali ke hotel sebelum Mimi ketemu.
"Sudah yank, percaya sama Abang. Sahabat mu itu baik-baik saja, dia itu selalu di kawal. Abangbtadi swmlat melihat salah satunya yang selalu memantau Mimi dari jarak jauh."
"Kita pulang ke hotel aja ya? besoknbarubkita cari dia di temlat kerjanya." ucap sang suami, Selfia pun pasrah karena memang tubuhnya merasa lelah butuh istirahat.
Akhirnya mereka pun kembali ke hotel, namun sepanjang jalan Selfia, Muthia dan Irma selalu mengkhawatirkan Mimi.
"Lihat saja kaai sampe Mimi kenapa-kenapa, Mimi laporkan tuh nenek lampir ke kantor polisi." ucap Selfia.
"Betul fuh Fi, tadi aku juga merekam semua ala lagi saat Mimi di tampar." seru Irma.
Lain Irma dan Selfia lain pula Muthia yang juga penuh amarah
"Yang sudah dong." ucap Satria.
"Ah kakak diam aja deh," ucap Muthia tidak terima Satria menghentikan unek-unek hatinya.
"Dasar sahabat kamu itu kak, nggak tau di untung." ucap Muthia.
"Aisss ganteng juga kagak, gantungan juga kak Syahril. Ah semoga aja Mimi kembali sama kak Syahril, udah ganteng, pengertian, perhatian, penyayang, dan setia lagi." ucap Muthia denagn memuji Syahril dihadapan sang suami.
"Ihhhh, itu juga kak Dillah kenoa nggak ngejar Mimi sih saat Mimi pergi, nggak gentlemen amat jadi laki, nggak bertanggungjawab lagi. Kalau Mimi hilang di culik lagi gimana, ya Allah kaaak." ucap Muthia yang ujungnya kembali merengak
Di dalam ruangan khusus para dokter di rumah sakit Nurani Bunda, Mimi langsung mwngambil pakaian ganti dan masuk kedalam kamar mandi.
Saat berpapasan dengan kaca di westafel, Mimi melihat wajahnya yang masih tercap telapak lima jari milik papi Dillah.
Dipegangnya perlahan area pipi tersebut, perih, hangat itu yang Mimi rasakan. Di sudut bibirnya pun terlihat mengeluarkan bercak merah darah. Mimi menatap wajahnya nanar.
Ini kali pertama dia mendapatkan tamparan dari seseoang, bahkan orang tuanya tak pernah menamparnya. Mimi membasuh mukanya perlahan.
"Isss" Mimi mendesis kala tersentuh bagian memar itu.
Di percepat nya mengganti pakaian karena terdengar suara ketukan pintu namun tidak terlalu sering. Mimi yang penakut lupa jika dia sedang sendirian berada dalam ruangan ini.
Setelah berganti pakaian, Mimi mengambil kapas serta alkohol untuk mengompres memar di pipinya. Saat mengompres, Mimi baru tersadar jika dia sedang berada di dalam ruangan nya seorang diri.
"Ya Allah, aku sendirian di ruangan ini, astaghfirullah." ucapnya sambil mengingat siapa saja dokter yang melakukan tindakan operasi atau maauk malam ini.
Di ambilnya ganggang telpon dan Mimi menelpon ruangan sebelahnya. Dokter Farhan yang sudah tertidur pulas merasa terganggu karena serangan telpon.
"Ya hallo." Ucapnya.
"Bang, Abang ." panggil Mimi dari seberang telpon.
"Hmm siapa ni?" tanyanya denagn mata yang masih enggan terbuka.
"Bang, ini Mimi. Abang ada salam ruangan Abang kan?" tanya Mimi.
__ADS_1
"Oo hmmm. Ada apa dek? hoamm." ucap dokter Farhan.
"Emm bang, asisten Abang masuk juga ndak?" tanya Mimi.
"Ngapain kami tanya asisten Abang?" tanya dokter Farhan.
"Ya Mimi mau minta temenin lah." jawab Mimi.
"Temenin? emang kamu dimana?" tanya dokter Farhan sambil melihat jam di dinding menunjukkan pukul 12.30 dini hari.
"Di ruangan Mimi." jawab Mimi.
"Di ruangan?" ucap dokter Farhan sambil mengingat kalau Mimi tidak ada jadwal hari ini bahkan Mimi sudah pergi sedari sore.
"Hei kalau mau ngerjain orang jangan kayak gini ya.Mana ada dokter Mimi jadwal malam ini." seru dokter Farhan dengan marah.
"Iss abang, ini beneran Mimi bang, bang tolong Mimi dari tadi pintu ruangan Mimk diketuk-ketuk bang." ucap Mimi.
"Ah jangan usil tengah malam kamu ya.." ucapnya namun langsung di potong oleh Mimi.
"Bang, ini beneran Mimi Abang Farhan Adi Saputra." jawab Mimk dengan memanggil dokter Farhan dengan lengkap.
"Kalau beneran itu kamu Mimi ngapain kamu ada di ruangannya?" tanya dokter Farhan.
"Iss Abang ah cepat hubungi asisten Abang dan suruh keruangan Mimi." sahut Mimi.
"Bang buruannlihat siapa yang ketuk pintu Mimi." ucap Mimi.
"Iya iya bentar." ucapnya dan langsung berjalan menuju pintu ruangannya dan membuka secara perlahan.
Saat terbuka dan menonjolkan kepala dokter Farhan terkejut orang yang mengetuk pintu Mimi juga melihat ke arahnya.
"Dokter Rayhan" ucap dokter Farhan.
"Lo dokter Farhan, kok belum istirahat?" tanya Rayhan.
"Sudah dok, namun terbangun karena telpon dari ruangan sebelah." jawab dokter Farhan, dokter Rayhan. tersenyum mengerti.
"Oo yaudah Anda kembali tidur saja." ucal dokter Rayhan. Dia kembali mengetuk dan mengucaokan salam.
"Assalamualaikum." ucapnya, Mimi terdiam kala mendengar salam dari luar.
"Assalamualaikum dokter Mimi." ucapnya lagi, perlahan Mimi bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Waalaikum salam," jawab Mimi dan membuka pintu.
"Uda Rayhan." ucap Mimi.
"Iya kamu kira siapa hmm." jawabnya dingin.
"Heee kirain.." jawab Mimi yang enggan menyebutkan nama itu ditengah malam.
"Ckk" ucap dokter Rayhan dengan menelisik wajah Mimi untuk membuktikan ucapan Rudi dan bintang padanya.
"Ini tadi ada pasien masuk, biasa dan sekarang perlu penanganan kamu segera."
"Kenapa baru sekarang Uda kasih tau." jawab Mimi yang mengerti makadu dari kata biasa dan penanganan segera.
"Ckk hampir dua jam Uda ngubungin kamu tapi tidak bisa." ucap dokter Rayhan.
"Hmm iya kah?" ucap Mimi sambil mencari benda itu.
"Kami mencari apa?" tanya dokter Rayhan.
"HP, perasaan Mimi tidak ada merasa terima panggilan telpon dari Uda." jawab Mimi.
"Nih" ucal dokter Rayhan. denagn menunjuk kan tentengan di kedua tangannya.
"Hah emm kok ada sama Uda?" tanya Mimi.
"Menurut kamu?" ucap dokter Rayhan dan mimj mengangkat kedua bahunya tidak tau.
"Kamu berjalan tadi pakek alas atau nyeker?" ucap dokter Rayhan, Mimk hanya diam dan menarik nafas dalam ketika mengingat kejadian yang telah dia lewati malam ini.
"Emm yaudah, pasien udah lama menunggu kan. Ayo kita segera tangani." ucap Mimi dan mengambil dua benda dari tangan dokter Rayhan,
"Emm Mimi ambil wudhu dulu." ucap Mimj langsung berlalu menghindari pertanyaan-pertanyaan yang. akan dilayangkan kepada nya.
Mimi berlalu mencas HP nya dan setelah itu dia langsung berwudhu.
"Ayo Da." ajak Mimi.
"Emm ruang operasi sudah di siapkan kan Da? pasien sudah di anastesi? pasien sudah di rongent?" ucap Mimi dengan bertanya secara beruntun.
"Em mimi ndak apa kan pakai baju ini aja? maunganti nggak ada baju lagi. Yaudah lah ayok, nggak penting mau pakek baju apa yang penting nyawa pasien dulu." Mimk terus mengoceh, Reyhan tahun apa yang Mimi lakukan itu semata menghindari pertanyaan-pertanyaan dari nya.
"Rongent sudah keluar, hasil anak panah hampir mengenai are jantung dan peluru sudah bersarang di luar arteri." ucap dokter Rayhan sembari jalan menuju lift dan segera meluncur ke ruang operasi.
Sesampai nya di ruangan operasi Mimk maupun dokter Rayhan. langsung memakai atribut yang steril.
Semua sudah siap dan mereka pun siap melakukan tindakan segera, dengan mengucap kan basmalah semua tim yang ada mulai menjalankan tugasnya masing-masing.
Saat melakukan tindakan dan kulit pasien telah disayat, Mimi terkejut ketika melihat ada perubahan warna pada daging pasien. Dokter Rayhan terus menyayat hingga menuju dimana letaknya anakmlanah berada.
Butuh waktunyang cukup lama untuk mengeluarkan anak panah yang berada cukup dalam hingga hamlir mengenai sombong jantung. Saat anak panah itu keluar Mimi meminta tim nya untuk menyuntikkan anti racun segera pada pasien lewat cairan infus.
"Suntikan anti racun pada pasien." ucap Mimi, dokter Rayhan tercengang dengan ucapan Mimi, namun dokter yang ikut serta mengikuti arahan Mimi.
Setelah itu Mimi dan yang lain kembali mencari keberadaan peluru. Dzikir dan doa selalu Mimi panjatkan dalam hati nya walau dirinya juga sudah bercucuran keringat dingin karena kurang tidur dan makan tentunya.
Terdengar sayup suara adzan saat mata Mimi sudah tertuju pada benda asing itu.
__ADS_1
"Bismillah." ucap Mimi dan mencabut peluru dari dalam tubuh pasien.
Ting peluru sudah mendarat pada tempat Stainles.
"Alhamdulillah." ucap Mimi dan yang lain. Mereka pun kembali melakukan tindakan menjahit saat swmua selesai pasien mengalami kejang.
"Dok" ucap anakmkoaa yang ikut bertugas.
"Tidak apa nanti akan stabil kembali." jawab Mimi. Dua anak kosan tercengang mendengar ucapan Mimi.
"Gila tuh dokter santai amat" bisik salahnsatunanakmklaa lada temannya, Mimi yang mendengar itu hanya tersenyum.
"Itu obat penawar racun sedang bereaksi, nanti pasien akan kembali normal." ucap Mimi dan benar apa ucapan Mimi pasien pun berangsur stabil.
Mimk dan dokter Rayhan keluar, selanjutnya pasien akan ditangani pihak medis bagian pemindahan pasien.
Mimi berjalan cepat menuju lift, dia ingin segera samali untuk membersihkan diri dan istirahat.
"Mi, kamu istirahat saja habis sholat nanti." ucal dokter Rayhan.
"Iya Da, tapi perut Mimi lapar. Makwo kantin sudah buka belum ya?" tanya Mimi.
"Kamu lapar?" tanya dokter Rayhan dan Mimi mengangguk.
"Yaudah nanti Uda minta tolong Rudi tau Bintang buat belikan nasi." jawabnya.
Setelah pintu lift terbuka mimj segera berjalan menuju ruangannya dan dokter Rayhan menuju ruangan nya.
Mimi yang merasa gerah langsung membersihkan dirinya dan tak lupa dia segera berwudhu dan menjalankan ibadah sholat subuh.
Sehabis sholat, Mimi baru merasakan perih di bagian telapak kakinya. Mimi melihat yelalk kakinya mulai melepuh dan membengkak.
"Hiks, Malang benar nasibku " ucap Mimj ketika melihat telapak kakinya.
Perlahan Mimi berdiri dan mengambil alkohol, kalas serta salep untuk bengkaknya.
Saat dia mengoleskan alkohol, pintu ruangannya di ketuk dari luar, perlahan Mimi berjalan menuju pintu dengan berjalan tertatih menahan rasa sakit.
"Mi, ini nasinya." ucap dokter Rayhan dengan Rudi dan bintang di belakang nya.
"Hemm banyak amat." ucap Mimi.
"Iya biar tenaga kamu kembali full." ucap Bintang.
"Ckk emang saya akaan pak Bintang makan sebanyak itu." jawab Mimi dengan membuka lebar pintu.Tanla basa basi Rudi langsung masuk kedalam.
"Ini bukan hanya untuk kamu saja, kita-kita juga lapar mimot." ucap Rudi.
"Oo " jawab Mimi.
"Ayok sini makan bersama." ajak Bintang, Mimi mengangguk dan mendakati mereka. Mereka pun makan subuh bersama.
Saat makan Rudi dan bintang saling pandang ketika melihat Mimi seperti menhan sakit. Rudi !menyenggol Reyhan dan saat Rayhan menoleh Rudi menunjuk dengan dagunya ke arah Mimi.
Rayhan sudah tau, dia sudah memprediksinya kalau Mimi pasti akan baru merasakan sakit pada kakinya. Dia juga sudah membawa obat serta beberapa alat lainnya.
Setelah makan, Bintang membereskan bungkus bekas makan mereka. Reyhan berjalan menuju meja Mimk dan terlihat disana sudah ada alkohol, kapaa dan salep anti bengkak.
Rayhan mwngambilmitunsemua dan kembali duduk bersama Mimi dan yang lain. Rayhan langsung mengambil kak Mimi.
"Eh Da." ucap Mimi dengan mengelak.
"Jangan bandel Mi." seru Bintang.
Reyhan melihat kaki Mimi sudah mulai bengkak dan melepuh dengan telaten dokter Rayhan mengolesi nya alkohol dan salep
dan memperbannya.
"Tidak usah diperban Da." ucap Mimi meringis dan tak terasa air matanya luruh juga.
"Berapa kilo meter kamu berjalan?" tanya dokter Rayhan dengan langsung memperban kaki Mimi. Mimi hanya diam.
"Siapa yang melakukan ini dek?" tanya dokter Rayhan lagi, Mimi tetap diam. Mimk diam karena Mimi tidak mau terjadi masalah buat Dillah maupun keluarganya.
"Jawab" ucap dokter Rayhan dengan sedikit menekan kaki Mimi.
''Mimi tidak apa-apa Da," jawab Mimi denagn !menunduk menhan sakit.
"Apa yang dia lakukan sama kamu?" sahut Bintang.
"Em ndak ada bang." ucap Mimi.
"Kamu jangan bohong,." sahut Rudi.
"Mimi mohon jangan lakukan apa-apa sama dia." jawab Mimi dengan memohon, Mimi tau mereka pasti akan bertindak jika ada pegawai yang berkerja di rumah sakit ini terjadi sesuatu.
"Kami tidak janji." jawab Bintang.
"Bin, Rud." panggil dokter Rayhan dan mereka mengangguk, Mimi tau jika mereka sudah megetahui nya.
"Mimi mohon Da, jangan lakukan itu Da. Mimi tidak apa-apa Da." ucap Mimk dengan deraian air mata.
"Lebih baik kamu istirahat, nanti muda telpon Maryam untuk membawa pakaian ganti " ucap dokter Rayhan yang meminta Mimi untuk beristirahat di ranjangnya.
Sebelum dokter Rayhan pergi, dokter Rayhan menyuntikkan anti inflamasi pada Mimi. Setelah itu dia pun keluar.
"Daa" ucap Mimk dengan mata memohon.
"Kita lihat saja nanti." jawabnya dannlergi meninggalkan Mimi.
Mimk tersedu, dia tidak ingin Dillah kenapa-kenapa walau hatinya sakit tali dia tidak ingin jerih payah Dillah hancur seketika .
__ADS_1
tbc
Yang nungguin Mimi sama Syahril bersatu harap bersabar karena ada masa nya