DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
...


__ADS_3

Fajar menyising, mentari mulai menampakkan sinarnya menyinari bumi perkampungan yang masih asri.


Kicauan burung terdengar merdu menyambut pagi hari, bagitu pula setiap insan di perkampungan ini mulai beraktifitas seperti biasanya.


Jalanan setapak mulai di padati oleh anak-anak yang akan bersekolah, ada yang jalan kaki dan ada pula yang bersepeda.


Para dokter muda pun juga pada mulai keluar dari rumah-rumah mereka menuju puskesmas untuk melaksanakan kewajiban mereka.


Fajar menyingsing elang menyongsong itulah pepatah yang menggambarkan bagi mereka yang bersemangat menatap hari.


Mobil avanza silver baru memasuki perkampungan asri ini. Rasa lelah terlihat kentara di wajahnya.


Perlahan namun pasti akfhirnya dia pun sampai di depan rumah dinas nya.


Nafas barhembus sangat dalam, mata terpejam menikmati aroma pagi.


Udara segar terasa segar memasuki rongga hidung hingga ke paru-paru.


Walau perkampungan ini saat ini masih dikatakan terisolir namun suatu saat pasti akan terjamah.


Perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk dan polusi membuat hati merasa nyaman untuk tetap menghuninya.


Hati yang sebelum nya merasa sesak namun perlahan mulai tenang.


Helaan nafas panjang di keluar kan Ryan. Ya Ryan baru saja tiba di dusun ini dengan membawa segala kepenatan hati.


Cuti yang masih ada beberapa hari lagi, terpaksa dia gunakan untuk merilekskan pikiran serta hati nya di dusun ini.


Bukan, bukan dia tak ingin bertanggung jawab dengan istrinya dengan tak mengantar istrinya kembali untuk merajut asa di negeri paman syam.


Rasa kecewa yang dirasa nya sangat amat menyesakkan hati serta pikirannya.


Bisa dikatakan dia egois dengan mendahulukan rasa kecewa nya. Dibalik ke egoisannya, dia hanya ingin meredakan rasa kecewa dan amarah yang mulai bernaung di hati.


Perlahan dia berjalan menuju pintu dan saat akan mengucapkan salam, pintu rumah terbuka dan tampaklah wajah segar dari tiga dokter muda yang tak lain adalah sahabatnya Syahril, Rudi dan Farhan.


"Assalamualaikum" ucapan salam pun akhirnya keluar juga dari mulut Ryan.


"Waalaikum salam." jawab ketiga dokter muda dengan saling pandang.


Yah mereka tak percaya jika yang mereka lihat adalah sahabat mereka Ryan.


Bagaimana mereka tak percaya, karena setau mereka Ryan masih dalam cuti. Namun, saat ini berada di hadapan mereka dengan wajah lelah dan kusut.


Mereka bertiga melihat intens ke arah Ryan, Ryan yang di lihat hanya menghembuskan nafas beratnya.


"Udah masuk sana dan istirahat lah." ucap Syahril.


"Hmm." jawab Ryan dan dia pun berjalan masuk kedalam rumah dan berulang kali dia menarik nafas dan dihembuskannya.


Syahril dan kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala. Mereka bertiga juga ikut menarik nafas dalam.


Yah mereka tau pasti ada masalah yang sedang dihadapi sahabatnya. Namun saat ini mereka tak ingin meminta penjelasan dari Ryan.


"Yan kami berang kepuskesmas dulu ya?" pamit Syahril.


"Iya hati-hati." jawab nya.


"Assalamualaikum." jawab mereka bertiga.


"Waalaikum salam" jawab Ryan.


Sebelum kaki mereka melangkah, mereka bertiga bergilir menepuk pundak Ryan bertanda memberi semangat pada Ryan.


Setelah ketiga sahabatnya pergi, baru lah Ryan menutup pintu dan menuju kamar yang biasa di tempatinya.


Lagi-lagi helaan nafas terdengar, lelah dan ngantuk yang saat ini dirasanya.


Perlahan dia menuju sebuah ranjang dan merebahkan tubuh lelahnya. Karena lelah dan mengantuk yang sangat amat melanda, akhirnya tak butuh waktu lama matanya pun terpejam.


Sayup terdengar canda tawa, perlahan Ryan membuka matanya. Dilihatnya jam di pergelangan tangan yang telah menunjukkan pukul 12.30.


Lagi-lagi dia menarik nafas dalam dan kemudian dia keluar dari kamarnya. Canda tawa masih terdengar, Ryan pun melangkah menuju di mana suara tersebut berada.


Di ambang pembatas dapur dan ruangan tengah, terlihat ketiga sahabatnya sedang bergurau sambil memasak.


Ryan berjalan menuju rak piring dan mengambil sebuah gelas dan dia pun langsung mengambil air panas dan dingin dari dispenser.


Ketiga sahabatnya menoleh ke arahnya setelah mendengar suara riak air dari dispenser.


Setelah ambil air Ryan pun duduk di sebuah kursi dan meminun air tersebut sampai tandas.


"Dah bangun bro?" tanya Farhan.


"Hmm" jawab Ryan.


"Sana mandi Yan, biar segaran." ucap Rendi dengan masih mengulek cabe.


"Ya bentar lagi." jawabnya. Ketiga sahabatnya hanya menggeleng.


"Sana Yan, mandi lah dulu biar fresh. Habis itu baru kita makan" ucap Syahril.


"Hmm" jawab Ryan seraya beranjak dari duduknya dan berjalan kembali menuju kamarnya.


Setelah Ryan menjauh dan tak terlihat, ketiga sahabatnya sembari menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan.


Mereka bertiga seolah merasa kan rasa yang dirasakan Ryan.


"Apa Ryan bermasalah lagi dengan bininya ya." ucap Rudi pelan.


"Bisa jadi." jawab Farhan.

__ADS_1


"Kasian Ryan. Entah apa lagi masalah nya kini." ucap Rudi.


"Kita do'akan saja biar mereka selalu diberi kebahagiaan." sahut


Syahril.


"Amin" jawab mereka dan kembali melanjutkan perkerjaan mereka.


Semua masakan telah tersaji di atas meja, peralatan masak juga sudah bersih.


Ryan juga telah keluar dari kamar dengan wajah yang sedikit fres. Syahril dan yang lain bergantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Setelah mandi dan telah melaksanakan kewajiban seorang muslim, mereka berempat mulai menyantap makan siang.


Sehabis makan Ryan mengambil alih untuk menyuci piring, ke tiga sahabatnya masuk ke ruang keluarga dan menonton tv sejenak sebelum masuk kerja kembali.


...Sehabis mencuci piring, ryan ikut ber gabung dengan para sahabatnya. Ryan duduk di sofa dengan kepla langsung di sandarkan ke sandaran sofa....


"Kau kenapa Yan?" tanya Farhan. detik demi detik pertanyaan itu terabaikan.


"Dari pada suntuk di rumah ikut ke puskesmas yok" ajak Syahril dengan menepuk pundak Ryan.


"Hmmm aku di rumah bae." kkawabmya dengan mata terpejam.


"Yaudah kalu gitu kami mau ke puskesmas lagi." ucap Syahril.


"Hmm." jawabnya.


"Hummm fiuhhh" Syahril dan kedua sahabt hanya bisa menghelakan nafas.


Syahril dan kedua sahabatnya pun telah pergi menuju puskesmas. Ryan masig betah duduk di sofa dengan mata terpejam.


Sering kali dia menghelakan nafas untuk mengurangi rasa penat di hati.


"Ya allah ampuni segala kekhilafan serta dosa hamba." gumamnya.


Bayang-bayangan beberapa hari silam sebelum sang istri minta memundurkan keberangkatannya kembali berputar di kepalanya.


Yang paling menyakitkan hatinya malam sebelum keberangkatan sang istri berulah dengan fitnahannya.


"Apakah hamba salah menegurnya rabb?" gumam Ryan.


Ryan tak habis pikir dengan sang istri yang mana sifatnya kini telah berubah. Dan yang paling membuat Ryan merasa gagal adalah di saat dia menasehati namun berujung pertengkaran.


Pertengkaran yang seharusnya tak terjadi, apa lagi menyangkutkan orang yang sama kali tidak bersalah.


Pertengkaran dalam rumah tangga acap kali ada karena itu merupakan bumbu berumah tangga.


Karena merasa suntuk dan bosan Ryan berjalan kebelakang rumah. Dia turun ke bawah dan berjalan menuju pondok di belakang rumah.


Saat di pondok, Ryan melihat ada pancingan di atas ganggang tiang pondok.


Ryan gegas mengambil tajak ( sejenis cangkul kecil untuk merumput ) dan dia pun menggali tanah untuk mencari cacing tak lupa golok pun di bawanya.


Satu kail hingga tiga kail di lemparnya ke arah sungai. Tak beberapa lama kail-kail pancing pun bergerak pertanda jika ail tersebut telah di semtuh ikan.


Hingga sore hari Ryan asik dengan kail-kailnya. Ketiga sahabatnya pun telah pulang.


"Kemana tuh anak?" ucap Rudi tak menemukan keberadaan Ryan.


"Tidur kali." jawab Farhan.


"Tumben.'' ucap Rendi.


"Dahlah biarin bae." seru Syahril yang telah berjalam menuju kamar mandi.


Rudi dan Farhan menuju kamar mereka yang berada samping kamar Syahril.


Yah akhirrnya Syahril meminta kepada ayah anak didik Mimi untuk membuat sqtu kamar lagi di belakang yang mana kamar itu menjadi kamar Rudi dan Farhan.


Menjelang maghrib Ryan baru pulang ke rumah dengan menenteng kresek yang berisi ikan yanf telah di bersihin.


"Assalamualaikum" ucap Ryan ketika fia membuka pintu belakang rumah.


"Waalaikum salam, dari mana Yan?" jawab dan tanya Farhan yang baru selesai mandi.


"Dari belakang." jawab Ryan, sembari mengeluarkan sebagian ikan hasil pancingan nya untuk di beri asam garam.


"Habis mancing ya Yan?" Tanya Rudi.


"Iya." jawab Ryan. Sehabis memarimasi kan ikan, sisa ikannya Ryan simpan dalam freezer.


Sehabis Rendi, Ryan pun bergegas untuk membersihkan diri Karena suara adzan pun telah bergema.


Sehabis sholat, Ryan bergegas menggoreng ikan hasil pancingannya. Malam ini mereka makan goreng ikan hasil pancingannya..


"Yan, bukannya cuti kau masih seminggu lagi yo?" tanya Farhan ketika mereka semua berada di ruang keluarga.


"Hmm" jawab Ryan acuh sedang kan ketiga sahabatnya melihat dirinya menunggu penjelasannya.


"Terus?" ucap Rendi.


"Terus aku ada disini." jawab Ryan.


"Hmm yo tau la tu" ucap Rudi kesal.


"Masalah apa lagi?" tanya Syahril tenang. Ryan menarik nafas nya dalam da menghembuskan nya secara perlahan


"Entah lah Riil." jawan Ryan sembari merebahkan kepalanya ke sanfaran sofa.


"Aku merasa gagal." ucap Ryan.

__ADS_1


"Kalau bisa di bicarakan baik-baik." ucap Farhan.


"Terus Di'ah balik ke LA sama siapa?" tanya Rudi.


"Dia balik sama Zacky." jawab Ryan.


"Dia tau kalau kau masih banyak cuti?" tanya Farhan, Ryan menggeleng.


"Dia ndak tau, aku bilang ke dia kalau aku harus balik ke dusun. Bahkan.." ucap Ryan sambil menarik nafasnya.


"Bahkan sebelumnya aku menyibukkan diri di rumah sakit." imbuh Ryan.


"Seberat itu kah?" tanya Rudi


"Entah lah Rud, aku serba salah dimatanya."


"Kadang aku merasa gagal dan menyerah" ucap Ryan lirih.


"Jangan kayak itu, ndak baik." ucap Farhan.


"Setiap berumah tangga pasti ada lika liku nya Yan. Ndak ada tang namanya mulus." imbuh Farhan.


"Betul tu Yan, jangan mendahulukan ego. Apa lagi kau masih baru." sahut Rudi.


"Seharusnya kau yang antar dia. Mungkin dengan kalian berdua, dia mau berkeluh kesah, mengeluarkan segala unek unek di hati nya." Ucap Rudi.


''Ingat masa waktu kalian dulu. Tankan lagi ke ke percayaan dalam diri kalian." imbuh Rudi.


"Jujur Yan lucu aku tengok hubungan kau ni."


"Habis nikah langsung di pisahkan waktu dan jarak. Sekali bertemu malah macam ni pula ceritanya." Ucap Farhan.


"Seharusnya tu ya, lama ndak bertemu semakin kuat rasa di hati.Semakin kuat rasa cinta dan rindu. Ini malah merundung macam ni." imbuh Farhan.


"Betul nian tu Fan, heran aku juga. Nah kau Riil, kau pun sama dengan Ryan habis nikah langsung berpisah. Jangan pula sekali bertemu macam ni jugo cerita nya." sahut Rudi. Syahril hanya tersenyum namun di hatinya dia terus beristighfar.


"Astaghfirullah hal adzim, jauhkanlah ta Allah." ucap Syahril dalam hati.


"Insya allah jangan sampe Rud, naudzubillah. Menurut aku berumah tangga itu bukan menyatukan dua kepala, tapi kita juga harus ber komitmen untuk kedepannya."


"Insya allah aku percaya sama Mimi dia pun pasti menanamkan sebuah komitmen dalam dirinya untuk menjalani biduk rumah tangga ini sampai maut memisahkan"


"Aku dan Mimi juga pernah menyatakan sebelum menikah. Jika ada masalah atau mengganjal di hati harus segera di bicarakan dan diselesaikan saat itu juga." Ucap Syahril.


"Kalau aku yakin Riil, Mimi itu selalu bersikap dewasa. Sebelum dia mengamuk pasti dia akan mencari tau kebenarannya dulu." ucap Ryan.


"Kadang aku iri sama kau Riil." imbuh Ryan.


"Apa yang harus di irikan Yan, kita itu sama saja.'' jawab Syahril.


"Terus Yan, semua tu kayak mana ceritanya?" tanya Rudi.


"Entahlah Rud, aku juga ndak tau. Kalau mulai berubah ya disini." jawab Rudi.


"Hmm..." Ryan pun menceritakan semua awal perubahan Di'ah.


Bukan maksud ryan menjelekan sang istri dengan menceritakan semua pada sahabatnya selain Syahril.


Ryan menceritkan semua ini agar dia mendapatkan solusi, mendapatkan pencerahan dan terutama agar perasaan nya plong tanpa ada beban yang berat.


"Kok gitu!" ucap Rudi.


"Emang iya Riil kau yang beli tuh mobil?" tanya Farhan.


"Yang belu ke shoroom ya aku sama Mimi, tapi semua pembayaran real semua duit Mimi." jawab Syahril.


"Mimi bilang sebelum nya dia memang mau belikan mobil biat orang tua nya, yaa pas kebetulan pula waktu itu urus pasien dari sini beberapa hari dorawat pasca operasi pasien dengar kami mau bali, mereka juga mau ikut balik."


"Karena tau sendiri di sini tidak ada sinyal buat menghubungi rekan disini untuk menjemput pakai ambulance susah, catar mobil juga lumayan. Jadi Mimi inisiatif buat beli mobik disini saja." ucap Syahril.


"Terus Di'ah emang ndak tau Yan?" tanya Rudi.


"Berulang kali sudah aku katakan kalau itu mobil Mimi sendiri yang beli, ,dia masih tetap tak percaya." jawab Ryan.


"Kok bisa ya Di'ah berpikiran sampai segitunya. Padqhal kan dia tau bagaimana perjuangan Mimi." ucap Rudi keheranan.


"Terus jenapa dak kau belikan bae Yan? mungkin dia iri karena dia sangka Syahril rela sampai membelikan mobil buat orang tua Mimi. Jadi dia juga mau kayak itu." ucao Farhan.


"Bukan aku ndak mau belikan kemauannya Fan, buat apa aku belikan sedangkan dia tidak ada disini. Mending duit buat beli mobilnya untuk biaya kuliah sama hidup dia selama di LA."


"Berulang kali aku katakan sama dia tapi yah gitu lahujung-ujungnya bertengkar."


"Ummi pun sampe menasehati dia agar tidak memendam rasa iri, tapi cuma di dengarkan saja. Aku capek menghadapinya, kadang aku berpikir apa aku salah mendapatkan jodoh." keluh Ryan.


"Sudahlah, do'akan bae biar terbuka mata hati nya." ucqp Syahril.


"Ya betul tuh Yan, kita do'akan saja dia." sahut Rudi


"Emm selain masalah itu apa ada masalah lain Yan? sampe-sampe kau mengabaikan cuti mu ini dan kau memilih ke dusun dari pada berdua bersama bini?" ranya Farhan yang merasa ada keganjalan di hatinya tentang Ryan mengambil keputusan menghabiskan cuti ke dusun.


"Iya Yan, apa ada yang membuat hatimu murka sampe kau begini?"


"Kita tau siapa kau Yan, mana ada merelakan kesempatan terbuang begitu saja." ucap Rudi, terdengar helaan nafas panjang Ryan.


"Sebenarnya iya... " Ryan menceritakannya.


Sedangkan di LA terdengar dyara tangis bayi bersahutan.


Oweek oweek oweek..


Terpancar rona kebahagiaan di wajah seorang wanita muda yang berubah status menjadi mahmud.

__ADS_1


######### TBC#########


Alhamdulillah bisa up walau nulis dari pagi baru selesai malam hari karena hp bikin esmosi.


__ADS_2