DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
194


__ADS_3

Bunda telah sampai di rumah sakit di mana Berliana berada, bunda bertanya pada resepsionis menanyakan perihal Berliana dan setelah mengetahui kalau Berliana di rawat dan mengetahui dimana ruang rawatnya bunda langsung menuju ke rumah rawat Berliana.


Apa yang dikatakan Mita apa benar nak!" tanya bunda Le!but namun dengan wajah yang datar. Ada raut wajah kecewa di sana.


"Bunda mendengarnya?" tanya Mita.


"Iya bunda mendengarnya," jawab bunda. "Apa itu benar Berliana Putri?" bunda kembali bertanya pada Berliana dengan !menekan kan namanya.


Huhuhuhu berlian bukan menjawab tetapi !menangis dan seraya memeluk bunda Ainun.


"Maafkan Lian bun, maafkan Lian." ucapnya.


Lian ingin turun dari ranjangnya untuk bersimpuh di kaki bunda Ainun namun terhalang oleh selang infuse.


"Maafkan Lian Bun." ucapnya lagi dengan terus menangis.


"Ibu kecewa nak." ucap Bunda Ainun dengan suara yang parau "Ibu sanagt kecewa." imbuh bunda Ainun.


"Bunda maafkan Lian Bun." Berliana terus meminta maaf.


"Diah ayo kita pulang." ajak bunda dengan rasa kecewanya dan kerajaan air mata.


"Bundaaaaa, bundaaaaa maafkan Lian bundaaaaa aaaa. bundaaaaa" Lian terus memanggil bunda dengan tergugu.


Bunda Ainun terus berjalan bersama Diah dan kembali pulang ke panti.


Semenjak itu bunda tak banyak bicara lagi kepada Berliana, begitu sakit dan kecewanya bunda Ainun kepada Berliana anak asuh yang telah di anggap anaknya sendiri.


Berliana terus mencoba meminta pertanggung jawaban Bryan namun Bryan terus menghindarinya hingga suatu ketika Berliana melihat Bryan bermain basket. Berliana menuju ke arah lapangan basket tersebut dan menarik tangan Bryan.


"Bryan aku mau bicara." ucap Berliana.


"Mau bicara apa lagi." jawab Bryan datar.


"Bry aku hamil Bry, kamu haru tanggungjawab Bry." ucap Berliana


"Li, sudah aku katakan aku belum siap. Gugurkan aja Li, kita belum lulus kuliah." ucap Bryan.


Plak tiba-tiba Mita datang dan menampar Bryan


"Apa Lo bilang... Belum siap... Gugurin, kemana otak Lo sewaktu Lo terus memintanya kemana!" ucap Mita kesal, jangan di tanya Berliana kenapa hanya diam. Berliana hanya bisa menangis dan penuh dengan penyesalan.


"Heh Lo jangan ikut campur ya.. Gue ngelakuin nya ama sahabat Lo atas suka sama suka." ucap Bryan dan itu !membuat Berliana menangis dan menggelengkan kepala.


"Gue bilang gugurin, nanti gue transfer uangnya." ucap Bryan dan hendak pergi.


"Aku nggak mau menambah dosaku Bry, aku nggak mau gugurin." ucap Berliana di balik tangisnya.


"Terserah. Pokonya jangan temuin dan ganggu hidupku lagi." ucap Bryan dan akan ke!Bali melangkah kan kakinya pergi.


"Oo dasar pecund*ang, liat aja Lo, suatu saat Lo akan menyesalinya Bryan Willy Atmaja, saat Lo ataupun keluarga Lo menginginkannya, gue orang pertama yang akan menentangnya. lihat aja Lo." Ucap Mita geram.


"Ayo Li, nggak usah Lo tangisi lagi pecundang, pengecut kayak dia." ucap Mita dan mengajak Berliana pergi dari ruangan basket.


Semenjak kejadian itu Berliana tak lagi bertgur sapa dengan Bryan, dan Bryan kembali tebar pesona kepada cewek-cewek. Berliana yang melihat itu hanya manrik nafas dalam.


Suatu hari di saat Berliana sedang mengerjakan tugas bersama kita dan para sahabat di panti, dia kembali merasakan sakit di kepalanya dan membuat dirinya pingsan.


Dengan pingsan berlina Sinta membuat para sahabatnya serta bunda Ainun panik. Mita langsung menyuruh anak panti yang cowok untuk mengangkat Lian masuk kedalam mobilnya tak lupa bunda Ainun pun ikut serta.


Yah bunda Ainun telah memaafkan Berliana walau rasa sakit dan kecewa nya amat besar namun rasa kasih sayangnya kepada Berliana lebih besar.


Sesampainya di rumah sakit Berliana langsung di tangani oleh dokter dan para medis lainnya.


Untuk sementara dokter hanya mendiagnosa kalau Berliana hanya kecapean karena posisinya saat ini sedang hamil, namun pihak dokter juga akan melakukan tes berkala di


laboratorium.


Malam ini Mita dan yang lain menjaga Berliana yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Li, Lo kalau capek nggak usah banyak mikirin tugas." ucap Susi.


"Iya Li, biar kita aja yang buatin tugas Lo, tapi ya jawaban tetap dari Lo." ucap Kiki.


"Yeee sama aja itu mah Ki." ucap Mita.


"Hehhee sama ya." ucap Kiki dengan menggaruk kepalanya.


Hari terus berganti Berliana juga telah di perbolehkan pulang, namun kepulangannya kali ini membuat bunda Ainun semakin bersedih.


Yah sewaktu bunda ainunndan berljana berada di ruang dojter untuk mengetahui atau membaca hasil Labornya dokter menyatakan kalau Berliana tidak mengidap penyakit apa pun selain kehamilan namun dokter menyarankan agar Berliana melakukan CT Scan, PET Scan, atau MRI karena berulang kali Berliana merasa sakit kepala yang berulang-ulang.


Bunda yang mendengar saran dari dokter pun bertanya karena bunda takut terjadi apa-apa terhadap Berliana dan janinny.


"Dok, apa tidak apa-apa dok?" tanya bunda kepada dokter yang menanggani Berliana.

__ADS_1


Dokter yang melihat bunda ainun khawatir dan dokter juga tau arah dari pertanyaan bunda hanya tersenyum.


"Saya tau dengan kekhawatiran ibu, karena tidaklah jarang seorang ibu yang sedang hamil memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang melibatkan radiasi dan medan magnet, seperti x-ray, CT scan, ataupun MRI.


Bila kondisi demikian terjadi maka harus dipertimbangkan secara cermat apakah keuntungan yang didapat dari pemeriksaan tersebut bisa melebihi resiko yang mungkin terjadi karenanya. Apabila pemeriksaan yang dilakukan adalah CT scan, maka resiko pada janin mungkin timbul akibat paparan radiasi langsung dari alat maupun akibat dari radiasi dari zat kontras yang disuntikan ke tubuh (apabila dilakukan CT scan dengan kontras)." terang dokter namun di potong oleh bunda Ainun.


"Apa nanti ada resikonya dkk?" tanya bunda Ainun was-was.


Sebelum dokyer menjawab dia tersenyummelihat bunda Ainun.


"Resiko untuk terjadinya komplikasi akibat paparan radiasi dari mesin CT scan juga berbeda-beda tergantung dari lokasi dilakukannya CT scan pada tubuh pasien buk nah ct scan itu ada beberapa bagian lokasinya yaitu:


CT scan kepala - pada CT scan kepala, janin tidak terekspos atau hanya terekspos pada sedikit radiasi yang 'tercecer', karena lokasi janin di perut jauh dari area yang terkena paparan langsung, yaitu kepala. Oleh karena itu, pada CT scan kepala dapat dikatakan cenderung aman untuk janin.


CT scan dada - paparan radiasi tidak mengenai tempat janin berada secara langsung, hampir sama seperti CT scan kepala, sehingga resiko terjadinya komplikasi pada bayi cenderung tidak ada.


CT scan pada daerah abdomen & pelvis - janin akan terekspos pada paparan radiasi yang lebih besar pada CT scan di lokasi-lokasi ini sehingga beresiko menimbulkan malformasi dan kanker pada bayi, namun menurut statistik angka kejadian timbulnya resiko ini juga sangat kecil


Meskipun demikian, nanti ibu Berliana harus kembali kontrol ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obgyn) untuk pemeriksaan pada janin. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang seperti USG. Setelah itu jangan lupa untuk lakukan kontrol secara rutin dengan dokter yang menangani ibu untuk memantau perkembangan janin dan konsumsi suplemen yang dibutuhkan selama masa kehamilan." terang dokter.


"Jadi untuk kasus ini Berliana yaitu ct scan pada area kepala jadi insya Allah aman untuk bayi." imbuh dokter.


"Baik lah dok, jika itu aman saya bersedia." jawab Berliana dan bunda Ainun memegang tangan Berliana.


"Kalau bersedia saja kasih surat rujukan nya." ucap dokter dan stelah itu dokter pun menyerahkan surat rujukan tersebut.


 


Berliana pun melakukan ct scan dan menunggu hasilnya swlaama dua jam dan setelah hasilnya keluar bunda dan beelina akan kembali ke dokter yang menanganinya spesok hari untuk meembacakan hasil nya.


keesokan harinya telatnya sebelum Berliana pulang bunda dan berlian menghadap kembali ke dokter dan dokter pun membaca hasil ct scannya.


Setelah membaca hasil dan menerangkan hasil Ct scan tersebut lada bunda Ainun dan Berliana dokter menyatakan kalau Berliana mengidap tumor otak tingkat ke dua, dan dokter juga menyarankan kalau Berliana mengugurkan kandungan yang telah berusia tiga bulan itu demi keselamatan dirinya walaupun dilanjutkan Berliana harus rutin konsultasi kepada dokter karena resiko yang akan dialaminya adalah lahir prematur.


dokter juga menjelaskan kalau Berliana harus melakukan kemoterapi yang mana nanti dapat menyebabkan cacat lahir atau keguguran.


Pemberian kemoterapi setelah trimester pertama memiliki risiko yang jauh lebih ringan.


Risiko yang paling mungkin terjadi adalah kelahiran prematur dan kemungkinan bayi kecil untuk usia kehamilan.


Meskipun ini adalah risiko penting yang harus diperhatikan, risiko tersebut belum tentu umum.


Setelah bayi lahir, ibu dapat melanjutkan perawatan. Hanya saja, jika menerima kemoterapi, ia tidak boleh menyusui karena obat dapat ditransfer melalui ASI.


Sesampainya di panti bunda meminta berlina agar beristirahat, dan bunda Ainun mengantarnya sampai ke kamar.


"Tapi nak, ini untuk kebaikan mu sayang." ucap Bunda Ainun.


"Nggak bun, Lian nggak mau.. Lian mau anak Lian tetap hidup." ucap Berliana.


Bunda menangis dan memeluk Berliana dengan erat. Berliana tergugu di dalam pelukan bunda Ainun.


"Lian nggak mau bun, sudah cukup dosa Lian Bun." ucap Lian dengan Isak tangis.


"Tapi nak, walau dilaksakan itu juga tidak baik sama janinmu nak." ucap Bunda Ainun.


"Kamu harus minum obat nak, dan kamunjuga harus menjalankan kemo yang maannaa nanti resikonya tidak baik buat janinmu." imbuh bunda lagi dan Berliana hanya diam dan menggelengkan kepala.


Yah semenjak mengetahui hasil itu Berliana rutin kontrol ke dokter spog hingga di usia kandungannya ke 7 bln ternyata kanker nya menjadi stadium tiga hingga di usia kandungan menginjak sembilan kankernya menjadi stadium akhir dan dokter mendiagnosa usia Berliana tak bertahan lama lagi.


Hingga saat nya ujian semesternya selesai dan dia melahirkan putra nya dengan selamat ke dunia dan hingga dia mengetahui kondisi Bryan, dia memberanikan diri memeriksakan hatinya apakah cocok atau tidak dengan Bryan dan setelah hasil veknya keluar dan dinyatakan cocok diapun meminta kepada dokter untuk mentranplantasikan hatinya tersebut.


Ucap Diah dengan isakan tangis di akhir ceritanya


flasback off.


"Ya allah pi... kenapa anakmu anak kita seperti ini pi. huhuhu" mami ikut bersedih mendengarkan kenyataan yang diterimanya.


"Ternyata kita sudah bercucu pi.." ucapnya lagi.


Pali Bryan juga ikut menitikkan air matanya, dia kesal dan marah akan perlakuan sang anak yang dia beri pendidikan tinggi namun pendidikan moralnya hanya Bryan dan Tuhanlah yang tahu.


"Maafkan anak Tante.." ucap MA!i me!jnta maaf pada Diah dan Romi. Romi pun ikut bersedih kala mendengar cerita Diah. Romi sangat menyayangi Berliana sebagai kakaknya.


"Yaudah tante, Om. Apa yang ingin kami samappaaikaan telah kami sampaikan kalau gitu kami permisi." ucap Romi pamit.


"Biar Om antar." jawab papi Bryan.


"Nggak usah om, kami bawa motor." jawab Romi.


"Motor kamu biar nanti saya suruh anak buah saya yang bawa ke panti." ucap papi Bryan.


"Tapi Om. " Romi masih segan menerima tawaran papi Bryan.


"Tidak usah menolak nak.Ayo kami antar." ucap mami dan mereka pun !mengantar Diah dan Romi pulang ke panti.

__ADS_1


Sesampainya panti Romi dan Diah langsung turun dan menawarkan kedua orang tua Bryan untuk mampir


"Apa Om dan Tante mau mampir dulu?" tawar Diah.


"Tidak usah nak, sudah tengah malam." ucap papi Bryan. yah kini jam telah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Kalau gitu makasih Om, Tante." ucap Diah dan Romi.


Keesokan paginya, panti emak dengan kehebohan seseorang yang baru tiba siapa lagi kalau bukan Mita, Susi dan Kiki.


"Hello epribadeh." ucap Kiki dengan gaya kocaknya.


"Assalamualaikum bunda." ucap Mita, Susi dan Kiki.


"Waalaikum salam, eh ada kalian. Ayo masuk." ucap Bunda dan mengajak mereka bertiga masuk.


"Emm bun.." ucap Mita seketika berhenti dikala melihat banyaknya koper yang telah disiapkan di ruang tamu.


"Bunda ini kok banyak koper." ucap Kiki.


"Iya bun, keg mau pindahan aja " ucap Susi.


"Bun, ada apa?" tanya Mita.


Bunda Ainun pun menceritakan semua nya walaupun awalnya bunda ainun enggan untuk bercerita.


"Ya Allah bun, kenapa nggak bilang Mita sih. Ini juga Lian beberapa Minggu ini nggak ngabarin Mita, WA Mita ajaa nggak di baca-baca." ucap Mita dengan cerocosnya.


"Iya sama." ucap Susi dan Kiki serentak.


"Lian kemana bun?" tanya Mita tapi bunda tak menjawabnya.


"Oh ya Diah, Susan Romi kalian nggak sekolah?" ta ya Mita.


"Nggak kak," jawab mereka serentak.


"Yaudah ini nanti bagikan sama adik-adiknya ya, kak Lian kemana?" tanya Mita lagi yang sedari tadi tidak melihat Lian.


"Dek?" panggil Kiki yang melihat Diah menunduk dan menangis .


"Kenapa kamu nangis hmm." ucap Kiki heran.


"Iya Zian ponaan kakak mana?" tanya Susi.


"Wah ini si ganteng aunty, sini sayang " ucap Mita girang kala melihat Zian keluar di gendong sama pengasuh panti lainnya.


"Gantengnya anak aunty. Dah mandi ya sayang hmm wanginya." ucap Mita dengan !encium baby Zian.


"Bun," panggil Susi.


"Eh ya nak." jawab bunda Ainun.


"Lian mana bun, kok nggak nongol. mustahilkan dia dah ngampus aja pagi-pagi." cerocosnya Kiki sambil menciumi si baby Zian.


"Emm.." bunda tak bisa berucap hanya air mata yang deras turun dari mata senjanya.


"Bunda ada apa? kalau masalah panti nanti Daddy Mita kesini. Nanti kita Mita tunda dulu sama orangnya sebelum Dady Mita tiba." jelas Mita.


"Bukan itu nak, Lian.. Lian su.. huhuhuhu." bunda tak kuasa akaan tangisnya.


"Kenapa dengan Lian Bun? ada apa dengan Lian?" tanya Mita dengan segala kekhawatirannya.


"Kak, ini buat kanmita, kak Susi dan kak Kiki." ucap Diah dengan memberikan amplop kepada mereka bertiga.


Mita membuka amplopnya begitu pula dengan Susi dan Kiki berselang beberapa menit mereka bertiga menangis.


"Bun... bilang ini nggak benar bun." ucap Mita dengan sesak di dadanya.


"Iya bun katakan kalau ini bohong." ucap Susi.


"Ngak ngak mungkin, Li Lian Li Lian kamu dimana Li nggak usah ngumpet deh, nggak lucu pranknya." ucap Kiki yang terus memanggil dan berjalan menuju kamar Lian Erta mencari di sekeliling ruangan di dalam panti.


"Li Lian." Mita terus memanggil Lian menuju kamar Lian.


"Li, jadi selama ini Lo nyembunhiin semua penyakit Lo dari gue.. hks hiks hiks." ucap Mita yang duduk di meja belajar Lian dan memegang foto mereka berempat.


"Li, maafin gue. Gue nggak bisa Li gue nggak bisa.." ucap Mita.


"Bundaaaaa." ucap Mita kala bunda Ainun ikut masuk kedalam kamar Lian.


Bunda dan Mita berpelukan dan diikuti kedua sahabatnya.


Apakah permintaan Lian pada Mita dan apakah Mita akan mengabulkannya, di Next bab ya..


Jangan lupa beri hadiah dan vite buat authore ya...

__ADS_1


tbc


__ADS_2