
Tiga hari telah berlalu, tim Basarnas pun telah menemukan beberapa puing-puing bangkai kapal dan beberapa korban yang sudah tak bernyawa dan tak berbentuk lagi.
Radit dan sahabatnya serta rekan sesama kepolisian yang berkerja di kawasan ini saling bahu membahu.
Perasan Radit yang harap cemas ketika korban satu persatu di angkat dan di masukka kedalam kantong mayat.
"IPDA Radit." seru rekan sesama polisi.
"Ya Bripda Heru. Apa ada mayat lagi?" tanya Radit.
"Maaf belum ada komandan, cuma kami menemukan sebuah ransel ini,." ucap dari Bripda Heru.
Radit menerima ransel tersebut dan menelisik setiap sudut ransel.
"Kenapa kau berikan ransel ini padaku?' tanya Radit sambil melihat setiapmsisi ransel.
"Maaf komandan, di ransel itumada gantungan kunci yang Manna di balik gantungan tersebut terdapat nama seperti yang komandan perintahkan." jelas Bripda Heru.
deg deg deg Jantungnradit berpacu cepat ketika mendengar nama yangndia perintahkan pada egiap anak buah seeta rekan sesama polisinya.
Yah Radit meminta tolong pada rekannya yang berekeja di ke
olisian daerah sini untuk memeriksa setiap korban yang di temukan atau barang yang ditemukan kemungkinan ada identitas seseorang yang dia kenal.
Radit juga !e!beritahukan kepada rekan sesama nya bahwa orang yang dia kenal adalah Mimi Akifah salah satu penumpang di masakapai Lino air yang kecelakaan itu.
Radit terdiam dan tangan nya gemetar mengamati gantungan kunci di ransel tersebut. 'Riilmi ' dengan dikelilingi lingkaran berbentuk love dan di belakang inisial itu tertulis Syahril Mimk Akifah.
Tentu Radit mengenali inisial tersebut, Radit menutup matanya untuk menetralkan perasaan yang sedang berkecamuk.
"Tidak, tidak mungkin itu kamu dek." ucap nya dengan memegang erat ransel tersebut.
"Kenapa disaat akun menemukanmu lagi sekarang kau meninggalkanku untuk selama nya." ucap Radit dengan mengubah posisinya menghadap ke arah lautan.
Jordi dan Rio yang melihat itu hanya bisa memberi kekuatan pada sang sahabat.
"Sabarlah, mungkin ini cara Tuhan agar kalian tidak memperebutkan nya lagi." ucap Jordi yang blak-blakan.
Yah Radit sudah menceritakan siapa gadis yang disukainya hingga saat ini kepada kedua sahabatnya itu. Bahkan Radit juga menunjukkan foto Mimi saat mereka makan bakso.
Radit menitikkan air matanya dan menghelakan nafas nya panjang.
Lima puluh persen korban ditemukan sudahntak berbentuk, dan sebagian pihak keluarga juga sudah mengambil mayatnkorban setelah diadakan autopsi serta dilakukan serangkaian tes DNA korban dengan pihak keluarga.
Tim Basarnas masih terus mencari mayat-mayat korban dan blackbox untuk melihat kejadian yang sebenarnya.
Di rumah sakit Syahril maaih dalam perawatan intensif karena tubuhnya kembali melemah. Zahra dan kedua orangtuanya serta kakeknya !aaihnberada di jambi.
Syahril dirumah sakit ditemani oleh Irsyad hari ini yang konon dia dan Ryan lah yang masih single. Bang Afkar dan bang Afnan sudah kembali ke Jakarta karena pekerjaan mereka tak bisa di tinggal terlalu lama.
Bang Afnan dan bang Afkar juga tak hanya mengurus perusahaan mereka saja, tetapi mereka juga selalu update info tentang kecelakaan tersebut.
Hati ini hari ketujuh dari kejadian kecelakaan, kali ini mereka berdua terbang ke daerah dimana lokasi kecelakaan pesawat tersebut. mereka berdua langsung pergi kerumah sakit untuk mengindentifikasi korban.
"Maaf saya Afnan saya di hubungi pihak kepolisian disini katanya tim Basarnas telah menemukan mayat korban lagi, apa kami bisa melihatnya?" tanya bang Afnan kepada tim medis dirumah sakit.
"Oh ya mari pak, ini mayat yang baru di ketemukan hari ini ada lima mayat prempuan dan sepuluh mayat laki-laki." ucap petugas dikamar mayat.
Afnan dan Afkar melihat satu-persatu mayat-mayat perempuan, walau mereka sudah gak berbentuk mungkin dari warna pakaian atau model pakaian yang masih melekat bisa mereka mengetahui.
Yah sebelumnya bang Afnan bertanya pada keluarga Mimi, sewaktu Mimi pergi memakai pakaian warna dan model apa. Bahkan bang Afnan pun mendapatkan foto terakhir sewaktu Mimi akan berangkat dari Di'ah.
Semua orang menunggu info selanjutnya, Nyai, Emak dan yang lain selalu mengadakan baca Yasin di rumah Nyai.
Satu-persatu mayat yang mereka lihat tidak ada yang cocok, ada rasa sedikit kelegaan di hati mereka saat melihat mayat perempuan bukan mayat adik mereka.
"Bagaimana pak? apa ada yang bapak kenali?" tanya salah satu tim Basarnas di rumah sakit ini pada bang Afnan. Bang Afnan dan bang Afkar menggeleng, bapakngim Basarnas ou mengerti.
"Pak, apa ada ditemukan barang-barang juga pak?" tanya bang Afkar.
"Barang ada pak, ada koper serta banyak yang lainnya ditemukan tim kami. Apa bapak mau lihat?" jawab salah satu tim.
"Iya pak, dimana?" tanya bang Afkar.
"Mari pak, bagian barang-barang korban kami letakkan di ruangan khusus." jawab tim Basarnas seraya berjalan menuju ruangan yang di maksud kan.
"Oh ya pak, apa korban sudah ditemukan semua?" tanya bang Afnan.
__ADS_1
"Belum pak, ini baru sekitar 70% nya saja, yang sudah diidentifikasi dan sudah di ambil oleh pihak keluarga baru 50%." jawab bapak dari tim Basarnas.
"Mari pak, ini ruangannya" imbuh si bapak dan mereka pun masuk kedalam.
"Banyak juga ya pak barang-barang yang ditemukan?" tanya bang Afkar dengan melihat satu persatu barang yang di tafuh didalam ruangan tersebut.
"Iya pak, ada yang terbaru kami temukan lagi tadi. Sebuah ransel dan tas-tas wanita, dan ini ada juga ransel yang kami temukan emlat hari lalu ."'jawab. bapak tim Basarnas sambil berjalan ke arah barang yang baru datang serta menunjukkan sebuah ransel yang ditemukan empat hari lalu.
"Silahkan bapak cek, mungkin salah satunya milik dari keluarga bapak." ucap bapak tim yang lain.
Bang Afnan dan bang Afkar memeriksa satu-persatu tas tersebut. Saat bang Afkar mengambil satu ransel dari tangan salah satu bapak tim Basarnas yang mana ransel tersebut ditemukannya pada emoaetnhati lalu, bang Afkar terpaku melihat gantungan kuncinya begitupula dengan bang Afnan.
"Bang, kayak pernah lihat gantungan kunci ini?" tanya bang Afkar pada bang Afnan.
"Iya dek, Riilmi" ucap bang Afnan dengan membaca inisial itu.
''Riilmi, seperti tidak asing bang tapi dimana?" ucap bang Afkar sambil mengingat-ingat.
Saat mereka sibuk dengan inisial gantungan kunci terdengar dering suara ponsel banha Afnan. Ternyata yang menelpon Syahril.
"Ya hallo assalamualaikum dek." ucap bang Afnan.
"Waalaikum salam bang, Abang dimana? Aril lihat diberita katanya ada penemuan korban lagi bang." ucap Syahril.
"Hmmm iya dek, ini Abang sama bang Afkar lagi berada dirumah sakit terdekat dengan lokasi, Abang sedang melihat korban serta barang-barang korban." jawab bang Afnan.
"Bagaimana pak, apa bapak mengenali ransel ini? atau dengan insial gantungan kuncinya?" tanya bapak tim Basarnas pada Afkar yang masih memegang gantungan kunci dan berusaha mengingat dimana dia pernah lihat dan itu terdengar oleh Syahril.
"Bang, insial gantungan kunci maksudnya apa bang?" yang Syahril di balik telpon.
"Oh iya dek ini bang Afkar lagi memegang sebuah ransel dan di ransel ada gangtungan kuncinya. Abang dan bang Afkar seperti pernah lihat gantungan kunci tersebut tapi lupa dimananya." jawab bang Afnan dengan menjelaskan tentang tas ransel tersbut.
"Apa ransel nya berwana hitam list biru?" tanya Syahril lirih.
"Iya dek, betul." jawab bang Afnan.
"A a apa gantungan kunci berinisial Riilmi?" tanya Syahril lagi.
"I iya... ya Allaaaahhh." jawab bang Afnan dan menyebut nama rabbnya ketika Syahril menyebutkan insial gantungan kuncinya dia pun teringat.
"Ada apa bang?" tanya Afkar
Bang Afnan mengambil ransel bergantung kunci itu dari tangan Afkar. Tak terasa air matanya menitik.
"Baang, bang." panggil Syahril di balik telpon.
"Dek, gantungan kuncinya sama dengan milik kamu dek." ucap bang Afnan tak kuasa menahan sesak di dadanya.
"Apa maksud Abang, apa benar gantungan kunci itu Riilmi?" tanya Syahril.
"I i iya dek." jawab bang Afnan.
"Ya Allah Mimiii." ucap Syahril yang kembali histeris.
"Ya Allah, tidak itu bukan Mimi ku ya Allaaaah." syahril teriak histeris sembari melepaskan ponselnya dan dia ingin mencabut selangninfuse dari tangannya.
Ryan yang juga baru sampai di dalam ruangannya Syahril terkejut kala mendengar Syahril kembali berteriak.
"Lepas Syad lepaskan aku Syad, aku mau kesana Syad aku mau lihat Mimi Syad. Lepas." ucap Syahril yang berontaknkala Irsyad memegangnya dan menghalangi Syahril untuk membuka paksa infus nya.
"Ada apa Syad?" tanya Ryan yang baru saja !e!buka pintu dan langsung berlari ikut menahan Syahril.
"Bang, sabar bang. Kondisi Abang belum pulih bang." ucal Irsyad.
"Riil.." panggil Ryan.
"Mimi Yan, Mimi, huhuhuhu Mimi Yan... bang Afnan menemukan ransel Mimi Yan." ucap Syahril.
"Hallo dek hallo." terdengar suara di balik telpon, Ryan yang melihat HP masih dalam keadaan sambungan telpon pun mengangkatnya.
"Hallo bang, bagaimana?" tanya Ryan.
"Yan, ada apa Yan, ada apa dengan Syahril Yan?" tanya bang Afnan panik ketika mendengar Syahril berteriak.
"Syahril tidak apa-apa bang, mungkin shocknya kambuh." jawab Ryan.
"Apa benar Abang menemukan ransel Mimi? tanya Ryan lagi.
__ADS_1
"Iya dek, bentar Abang ubah ke vc." ucap bang Afnan dan merubah ke panggilan video call.
Afnan memperlihatkan ransel serta gantungan kunci tersebut pada Ryan. Ryan yeng melihatnya ikut shock.
"Ya Allah." ucap Ryan shock dan terduduk di sofa dengan lemas.
"Apa benar ini dek?" tanya bang Afnan pada Ryan.
"Hmm iya bang, coba Abang lihat di baliknya ada nama Mimi dan Syahril."jawab Ryan dan memberitahukan di balik inisial itu.
Afkar dan Afnan pun membalik gantungan kunci nya dan membaca nama yang tertulis di balik inisial itu.
Sesak itu yang mereka rasakan saat membaca nama dibalik inisal.
Bang Afnan dan bang Afkar merasa tubuhnya lemas dan oleng beruntung kedua bapak tim Basarnas menahannya di samping mereka.
"Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau berikan." ucap bang Afnan tak kuasa menahan Isak tangisnya.
"Ya Allah, begitu besar cobaan mu pada kami kali ini." ucap bang Afkar seraya memeluk abangnya.
"Bang hiks Syahril bang, Syahril pasti akan sangat terpukul bang." UC bang Afkar yang menangis dalam pelukan sang abang.
"Sabar pak, apa betul ini tas ransel milik keluarga bapak." tanya salah satu bapak tersebut.
"I iya pak. Ini tas ransel adek saya." jawab bang Afnan.
"Pak, saat menemukan ransel ini apa bapak tidak menemukan mayatnya juga pak?" tanya bang Afkar.
"Yah seperti yang bapak lihat kami hanya menemukan mayat-mayat yang berada di dalam kamar mayat." jawab bapakngim Basarnas.
"Bang, apa kita lihat kembali semua korban bang. Mungkin ada yang terlewati." ucap bang Afkar dan bang Afnan pun menyetujui.
Mereka pun kembali menuju kamar mayat dengan langkah panjang untuk kembali memeriksa satu-persatu mayat korban.
Sesampainya dikamar mayat mereka kembali memeriksa puluhan mayat yang di nyatakan perempuan namun lagi-lagi mereka tidak menemukan mayat orang yang ditemukan.
Mereka merasa lega saat semua mayat perempuan yang mereka lihat bukanlah mayat orang yang mereka cari.
"Pak, apa kami bisa membawa ransel nya pulang?" tanya bang Afnan.
"Bisa pak, tapi bapak harus membuat laporannya terlebih dahulu." jawa bapak tim Basarnas.
"Baik pak, saya akan membuat laporan nya." ucap bang Afnan.
"Baik pak kalau begitu, mari ikut saya." ucap bapak tim Basarnas dan mereka pun kembali ke ruangan tertentu untuk membuat laporan pengambilan barang korban.
Setalah membuat laporan dan sudah ditanda tangani, bang Afnan dan bang Afkar pun undur diri.
"Baik pak, kalau gitu kami undur diri, dan tolong jika pihak bapak menemukan korban lagi hubungi kami." ucap bang Afnan.
"Siap pak, nanti kawmk hubungi." jawab bapak tim Basarnas. Mereka pun bersalaman, bang Afkar dan bang Afnan kembali ke hotel terlebih dahulu karena hari pun telah malam.
Umma yang mendengar kalau kedua anaknya sudah menemukan ransel yang dinyatakan milik Mimi pun ikut shock.
"Ya Allah ya Rabbi.. Sungguh aku tidak sanggup ya Allah, aku tidak sanggup menerima semua ini. Ya Allah besanku." ucap Umma yang dipeluk Babah.
"Bah, apa kota beritahu orang tua Mimi?'' tanya Umma.
"Jangan dulu, nanti mereka tambah shock lagi, apa lagi kesehatan nyai serta emaknya Mimi sedang menurun." jawab Babah.
Yah Nyai dan emak kesehatannya menurun, bahkan mereka berdua saat ini sedang di infuse dirumah karena tidak ingin dibawa kerumah sakit.
Untuk saat ini Umma dan Babah melupakan sejenak masalah nya dengan Zahra. Bahkan Umma sedikit pun tak ingin bahkan mengakui Zahra adalah menantunya walau kenyataannya zahrah telah menjadi menantu di rumahnya.
Keluarga Zahra sudah mengetahui kalau yang menjadi korban kecelakaan pesawat adalah mantan kekasih Syahril, mereka memakluminya. Sedangkan Zahra dia tidak ambil pusing, dia hanya menjalankan perannya saja.
Selama Syahril di rawat hanya dua hari Zahra menemani nya setelah itu Zahrah pulang beralasan kalau dirinya tidak enak badan.
Dia beralasan begitu karena selama dua hari dua malam dia tidak bisa menyalurkan hasratnya. Dia hanya melakukan chat saja dengan sang kekasih.
Ummi Fatmah dan ummi Fatimah semakin bersedih ketika Irsyad memberitahu mereka kalau sudah ada titik temu dengan ditentukannya tas ransel Mimi namun mereka masih berharap kalau Mimi selamat dari tragedi ini.
Hari terus berlalu tim Basarnas telah menikah blackbox nya, namun 20% mayat tidak ditemukan kembali, kemungkinan besar mereka menyangka mayat tersebut sudah habis di makan ikan-ikan di laut.
Syahril merasa tambah terpuruk kala mendengar gim Basarnas akan menghentikan pencarian nya.
tbc
__ADS_1
Assalamualaikum selamat pagi selamat beraktivitas