
Mimi terus berjalan menuju lapak penjual ikan, seperti sebelumnya Mimi selalu membeli di lebihkan, setelah itu Mimi membeli udang dan cumi buat stok nya selama seminggu ke depan yang kemungkinan tak dapat untuk berbelanja di pasar.
Mimi kali ini tak membeli cabe dan bawang tetapi Mimi tetap membeli sayuran yang sekiranya bisa tahan lama di dalam kulkas.
Mimi berkeliling pasar tradisional untuk menikmati waktunya sambil menunggu si Mbah datang.
Mimi merasa cukup menikmati segala jajanan pasar dia pun kembali ke lapak si Mbah, tetapi si Mbah belum juga tiba dan membuat Mimi khawatir.
"Bude, Mbah belum datang juga ya?" tanya Mimi kepada pedagang lontong disebelah lapak si Mbah.
"Hmmm iyo tumbenan, biasanya wes dagang jam segini." jawab bude.
"Yaudah bude, Mimi numpang duduk disini ya?" Mimi meminta izin kepada bude penjual lontong.
"Iya nggak apa, silahkan." jawab bude.
Mimi dan bude saling bercerita bahkan bude juga menceritakan tentang si Mbah.
Tak lama terlihat dua orang paruh baya yang tergopoh-gopoh membawa tiga buah tempat yang berukuran sedang itu. Mereka adalah si Mbah.
"Eh dah datang ndok." ucap si Mbah ketika melihat Mimi.
"Iya Mbah." jawab Mimi.
"Dah lama ndok?" tanya si Mbah Lanang.
"Nggak kok Mbah, Mimi baru kok datangnya." jawab Mimi berbohong karena Mimi tak ingin melihat mereka berdua merasa tak enak hati.
"Mbah udah sarapan?" tanya Mimi dan Mbah wedok hanya tersenyum sambil mengelap keringat yang masih !membasahi dahinya.
Mimi merasa kasihan dengan si Mbah, Mimi merasa mereka pastinya selain merasa kelelahan mereka juga pastunya merasa lapar. Tanpa persetujuan mereka Mimi memesankan lontong untuk mereka berdua kepada bude.
"Mbah ayo di makan dulu lontongnya." ucap Mimi dengan memberikan dua piring lontong sayur lengkap dengan ayam gulainya.
Ya bude sebelah si Mbah tak hanya menjual lontong sayur saja, dia juga menjual lontong pecal, lontong soto, bahkan nasi dengan lauk pauk.
"Loh jadi merepotkan yo to ndok." ucap si Mbah.
"Nggak merepotkan kok Mbah, ayo di makan." ucap Mimi dan menyuruh mereka makan dengan segera untuk mengisi tenaga mereka.
"Terimakasih ya ndok." ucap mereka berdua dan menerima piring yang berisi lontong.
Setelah mereka menghabiskan sarapan nya, Mimi pun bertanya dengan berhati-hati.
"Mbah tumben telat hari ini?" tanya Mimi sambil di bawa bercanda.
"Iya ndok, tadi ban sepeda Mbah Lanang bocor !ana bengkelnya jauh jadi ya nggak bisa di bawa jalan cepat.'' Mbah wedok menjelaskan peribal masalahnyang mereka hadapi hatinini sehingga mereka terlambat nyampe di pasar.
"Mbah bawa urap nggak?" tanya Mimi.
"Oh ada nih." jawab si Mbah yang baru menata barang dagangannya.
"Emm bungkusin buat Mimi seperti kemarin ya Mbah tapi kelapa nya pisah." ucap Mimi.
"Iya ndok." jawab si Mbah dengan langsung membungkus Mimi urap 3 bungkus.
"Bentuknya juga Mbah," ucap Mimi dengan mencomot makanan tradisional kesukaannya itu.
Mimi meminta si Mbah membungkus semua jajanan tradisional nya itu, ya Mimi memborongnya dan Mimi meminta tiap jenis makanan itu di bungkus menjadi beberapa bagian.
Si Mbah sangat senang dagangan nya di borong sama Mimi, sehingga mereka tak membawanya pulang kembali, apa lagi hari sudah semakin siang.
"Loh ndok kok baypnyak men toh?" tanya si mbah sambil membungkusi makanan itu.
"Iya Mbah, nanti ada kakak saya datang ke kosan jadi nanti mau Mimi kasih buat dia juga." jawab Mimi dengan beralasan.
"Loh kamu punya kakak juga disini." tanya si Mbah.
"Ada Mbah, dia kakak angkat saya disini." jawab Mimi dengan tersenyum.
"Tapi ini lumayan banyak Lo ndok." ucap si Mbah.
"Iya gak apa-apa Mbah, kan nanti bisa Mimk cicipin teman kosan Mimi juga dan bisa Mimi simpan juga di dalam! kulkas bhat sarapan besok." jawab Mimi.
"Oh ya ya betul juga.Oh ya ini tape nya sudah Mbag bagi menjadi tiga." ucap si Mbah dengan memberikan tiga wadah tertutup kepada Mimi.
"Wah makasih Mbah, emm kira-kira udah jadi belum ya Mbah." Mimi berterima kasih kepada si Mbah dan bertanya kepada si Mbah.
"ya belum ndok, mungkin dua hari lagi baru Mateng tapenya." ucap si Mbah.
"Yah, padahal Mimi kepingin nyicip Mbah." ucap Mimi.
"Yo mbok sabar toh ndok ndok." ucap si Mbah dengan tersenyum.
Karena hari semakin siang Mimi pun berpamitan dan membayar semua yang dibelinya kepada si Mbah dan takmlupa Mimi memberi ikan dan ayam yang khusus dibelinya tadi buat si Mbah.
__ADS_1
"Mbah Mimi pamit pulang ya, ini buat si Mbah." ucap Mimi dengan memberikan kantong yang berisi ayam dan ikan.
"Iya hati-hati, tapi ini apa toh ndok?" ucap si mbak dengan bertanya isi kantong plastik tersebut.
"Bukan apa-apa kok Mbah, " jawab Mimi namun terlihat ekspresi wajah si mbah yang terharu ketika melihat isi dari kantong tersebut.
"Makasih ya ndok, semoga Allah yang membalas segala kebaikan mu,." ucap si Mbah dengan memeluk Mimi.
"Amin." jawab Mimi "Yaudah Mimi pulang ya Mbah, Mbah kalau pulang hati-hati jaga kesehatan ya Mbah." ucap Mimi.
"Iya ndok," jawab si Mbah.
"Assalamualaikum." ucap Mimi dan menyalami si mbah dan mencium punggung tangannya.
"Waalaikum salam, Eh tunggu ndok." jawab si Mbah namun si Mbah menahan Mimi kembali.
Si Mbah dengan segera bungkusin Ural sayur nya lagi buat Mimi bahkan bumbu urapnya di kasih ke Mimi separuh.
"Loh Mbah ini banyak Mbah, nggak usah Mbah biar buat Mbah jualan saja." ucap Mimi menolak karena bagi Mimi
lebih baik bila itu dijadikan Mbah buat menambah pundi uang untuknya.
"Nggak apa ndok, ini juga sudah siang nggak mungkin habis nanti." jawab si mbah dengan menyerahkan bungkusan berisi urap dan bumbunya.
Setelah menerima bungkusan itu Mimi pun berpamitan kepada si Mbah.
Mimi berjalan menelusuri jalanan pasar sebagai membawa tentengan yang begitu bikin susah untuk membawanya.
Disaat Mimi berjalan menuju gerbang tanpa sengaja Mimi menabrak seorang ibu-ibu.
"Ma maaf bu," ucap Mimi dan Mimi segera membantu ibu-ibu itu mengambil belanjaanya yang terjatuh.
"Eh nggak apa-apa nak." jawabnya yang juga mengambil belanjaan Mimi yang terjatuh.
Mimi dan ibu tersebut saling mengembalikan belanjaan mereka.
Mereka sama-sama menunggu angkot tapi tak kunjung ada.
"Emm kamu mau kemana nak?" tanya si ibu.
"Saya mau ke jl xx Bu di belakang kampus Undip." jawab Mimi
"Ibu sendiri mau kemana?" tanya Mimi lagi.
"Emm gimana kalau kita pulang naik taxi aja nak, kayaknya angkot lama mana hari semakin terik." ucapmsinibu dengan menghapus keringat di dahinya dan mengajak Mimi naik taxi.
Mimi pun merasakan hal yang sama, apa lagi tubuhnya juga merasa penat dan gerah.Akhirnya Mimi pun menyetujuinya.
"Emm boleh juga usul ini, nah itu ada taxi." ucap Mimi dan langsung memberhentikan taxi yang baru menurunkan penumpang nya.
Mimi dan si ibu pun pulang berdua naik taxi karena arah mereka pun sama.
Di sebuah ruangan rumah sakit kelima pemuda yang saling bersahabat masih berada dalam dinruangan tersebut buat meneman salah satu sahabat mereka yang lagi sakit.
Tiba-tiba Dillah teringat kalau hari ini hari Minggu dimana Mimk sudah berjanji akan ketemu si Mbah penjual aneka jajan pasar. Dillah melihat ke arah arlojinya dan ternyata sudah jam dua belas siang.
"Damn." ucap Dillah dan seketika membuat semua sahabat beralih menatapnya.
"Kenapa Dil?" tanya Reno.
"Hehehe nggak em nggak apa-apa kok." jawab Dillah namun hatinya gelisah.
"Lo kenapa gelisah gitu?" ucaomyogincuriga dengan sikap Dillah.
"Nggak apa-apa Gi, gue kaget aja ternyata dahnjam dua belas aja." ucap Dillah mengalihkan kegelisahannya, sontak semua pun melihat kearah arloji masing-masing.
"What??" kini giliran Satria yang terkaget melihat jam.
"Lah iya ya dahnjam dua belas aja." sahut Yogi.
"Ini lagi, kalian kenapa sih melihat jam aja pada kaget gitu." ucap Reno.
"Sorry Ren, sebenarnya gue ada janji hari ini." ucap Satria yang memang dia ada janji sama seseorang namun diantelahntelat satu jam.
"Janjian ama sapa Lo? " tanya Reno menyelidiki.
"Gue emm gue janjian ama Amelia jam sebelas. Tapi, dah telat lagi." Satria berterus terang kepada yang lain.
Satria baru pdkt sama Amelia anak akuntansi dan hari ini dia berjanji akan mengantar Amel ke mall untuk berbelanja. Namun nasib belum berpihak pada Satria, baru mau pdkt dia sudah meninggalkan kesan tak telat waktu.
"Apada hubungan apa Lo sama Amel Sat?" tanya Bryan.
"Hmmm belum ada barunjuga mau pdkt Eh malah gatot ceritanya." ucap Satria sambil !menghembuskan nafasnya kasar.
Dicek nya ponsel yang tergeletak di atas nakas samping sofa, ternyata begitu banyak pesan dan panggilan dari Amel. Ponsel Satria sengaja disillent semenjak semalam dan pagi hari ini dia pun tak memegang ponselnya.
__ADS_1
"Kali Lo kenapa Gi?" tanya Reno kepada Yogi.
"Aku di minta sama bude ku untuk mengantar dia ke desa Tegal sari." jawab Yogi dan Yogi pun langsung mengambil ponselnya namun ponsel Yogi lowbat.
"Heleh pantes nih HP sunyi ternyaga lowbat. Ren kamu bawa charger nggak,pinjam aku." ucap Yogi dan bertanya kepada reno apa dia membawa charger.
"Ada nih." jawab Reno dan memberikan charger kepada Yogi. Yogi langsung mencas ponselnya setelah terisi 1℅ dia mengaktifkan ponselnya untuk melihat apa ada notif pesan atau panggilan.
Tepat dugaan Yogi ternyata bude nya pun sudah berkali-kali menghubunginya dan ada pesan bahwa Yogi dinsuruhnsegera menyusulnya.
"Eh guya sorry ya gue pamit duluan, nih ada pesan dari bude aku. Aku di suruh nyusul dia ke desa Tegal sari." ucap Yogi yang langsung mengambil jaketnya dan melepas kembali charger dari ponselnya.
"Bry sorry ya, ntar malam insya Allah kalau pulang cepat gue namani Lo lagi." ucap Yogi dan salam adu jotos bersama Bryan dan yang lain.
Satria mencoba menghubungi sang gebetannya namun sang gebetan merijek setiap panggilan dari Satria.
Satria merasa gusar karena panggilannya selalu di rijeck oleh Amelia.
"Kenapa Lo Sat?" tanya Reno yang melihat Satria gusar.
"Panggilan gue di rijeckk mulu sama dia." ucap Satria dengan mengacak rambutnya.
"Hahahaha." ketiga sahabat Satria ketawa.
"Pada senang kalian kali liat gue jomblo." sungut Satria yang kembali merebahkan diri di atas sofa.
"Nasib Lo Sat, baru mau pdkt eh gatot." ucap Reno.
"Sabar Sat kalau jodoh nggak bakal lari kemana." ucap Dillah.
"Hemmm." ucap Satria dan langsung berdiri.
"Mau kemna Sat?" tanya Reno melihat Satria nggak jadi rebahan.
"Laper perut gue, gue mau cari makan dulu lah. Jalan mau nitip apa?" ucap Reno dan menawarkan kepada teman-teman nya.
"Ayam geprek enak kali ya?" sahut Bryan sontak semua memandanginya.
"Iya enak buat yang sehat." ucap Reno sinis.
"Sabar Bry, Lo makan makanan rumah sakit aja dulu ya." ucap Satria menenangkan sekalian mengejek Bryan.
"Huh, enak di kalian.'' ucap Bryan.
"Ya iyalahnenak di kita, makanya jangan banyak ulah sampe minum-minum."ucap Reno yang kembali kesal.
Bryan hanya diam saja, ya semua adalah kesalahan nya sendiri dan kini dia memetik apa yang dia tanamkan. Setiap ada masalah dia selalu lari ke minuman buat menenangkan dirinya, padahal dia tahu kalau itu hanyalah menenangkan dirinya sesaat hingga membuatnya terus dan terus mencicipi nya.
Bryan merasa menyesali nya saat ini, nasi telah !menjadi bubur dan penyesalan pun selalu datang terakhir sehingga menyesal saat ini pun tidak ada gunanya.
Reno sudah menghubungi orang tua Bryan dan Reno juga sudah memberitahukan kepada mereka perihal penyakit yang sedang di idap oleh Bryan.
"Ren, jadi apa jawaban dari orangtua Bryan?" tanya Dillah.
"Mereka akan pulang secepatnya. Tapi nggak sekarang." jawab Reno sedih dengan melihat ke arah Bryan yang hanya diam.
"Mereka nggak akan datang." jawab Bryan pesimis.
"Jangan gitu Bry, aku yakin kalau orang tuamu akan datang." ucap Dillah sa!bil menepuk pundak Bryan untuk memberinya semangat.
"Gue bukan pesimis Dil, tali itulah kenyataannya." ucap Bryan.
Tak lama masuklah dokter dan perawat untuk visit. Dokter memeriksa detak jantung Bryan sedangkan perawat memeriksa infuse, suhu badan dan tekanan darah Bryan.
"Gimana dok?" ucap Dillah.
"Alhamdulillah mas Bryan sudah stabil dan tidak demam lagi, namun masih Bryan maaih dalam pantauan medis." jawab dokter dengan menuliskan resep dengan dosis terbaru dan di berikan kepada Dillah yang berada dekat dengan dia.
"Ohnya ini ada resep obat yang harus ditebus segera, dan Sete!ah itu tolong berikan kepada mas Bryan." ucap dokter dengan !memberikan resep kepada Dillah
"Alhamdulillah, baik lah dok" jawab Dillah dan menerima resep tersebut dan memberikan kepada Reno.
"Emm ini obat baru lagi dok?" tanya Reno.
"Iya mas,ini obat antihipertensi karena tekanan darah mas Bryan masih tinggi." jawab dokter.
"Baiklah kalau gitu kami permisi, buat mas Bryan jangan terlalu banyak pikiran, bawa rileks." ucap dokter memberikan saran kepada Bryan yang terlihat gusar.
"Iya dok terimakasih." ucap Bryan, dokter pun hanya mengangguk dan permisi kepada semua.
Reno telan menebus resp obat buat Bryan, resep tersebut terdiri dari obat untuk hipertensi dan obat buat liver Bryan.
Orang tua Bryan yang mendengar kabar anaknya berusaha cepat menyelesaikan pekerjaan mereka segera dan tak luput pula mereka selalu berdebat satu sama lain.
Siapakah ibu-ibu yang pulang bersama Mimi Next bab ya.
__ADS_1