DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
dibalik kebahagiaan ada penderitaan


__ADS_3

Setelah malam ulangtahun Mimi,Dillah dan teman-temannya akan pergi keluar kota beberapa Minggu ke depan.


Dillah dan Satria yang akan pergi beberapa Minggu ke depan, bisa seminggu atau lebih. Mereka berdua pagi-pagi sekali telah tiba di kosan Mimi untuk berpamitan.


"Assalamualaikum" ucap Dillah dan Satria.


"Siapa Mi, pagi-pagi dah bertamu?" tanya Selfia.


Mimi dan ketiga sahabtnya sedang berada di dapur melakukan aktifitas rutin anak kos.


"Apankamu asa janji Mi ama kak Dillah?" tanya Irma.


"Nggak ada." jawab Mimi yang sedang menjemur pakaian.


"Kamu Muth?" yang Selfia yang sedang memetik cabe rawit.


"Nggak ada juga." jawab Muthia yang sedang membersihkan kebun sepetak Mimi sekalian mengambil sayur bayam.


"Lalu siapa dong?" tanya Irma yang masih mencuci sprei.


"Assalamualaikum" Dillah dan Satria mengucapkan salam kembali karena tidak ada yang menyahut atau membukakan pintu.


"Apa mereka nggak ada di rumah ya Dil?" tanya Satria.


"Ah nggak mungkin, kemarin Mimk nggak ada bilang mau pergi hari ini." jawab Dillah.


"Lah terus dimana mereka, kok sepi." ucap Satria.


"Sepi gundulmu, nggak senger apa suara mesin cuci." ucap Dillah.


"Assalamualaikum." teriak Satria.


"Waalaikum salam." jawab Muthia, Muthia pun membukakan pintu.


"Kemana saja sih yank, buka pintu kok lama amat." ucap Satria kesal plus gemes.


"Lagi metikin sayur di belakang." jawab Muthia.


"Masa iya semuanya metikin sayur di belakang." ucap Satria.


"Emang iya, ayo kak masuk." jawab Muthia dan mempersilakan mereka berdua masuk.


"Mimi mana Muth?" tanya Dillah.


"Di belakang kak, lagi jemur pakaian." jawab Muthia.


"O yaudah kakak, kebelakang ya." ucap Dillah.


"Eh tunggu, di belakang semua lagi pada nggak berhijab. Bentar ya." jawab Mitha dan mengehentikan langkah Dillah.


Muthia pergi masuk ke dalam kamar untuk mengambil hijab untuk Mimi dan kedua sahabatnya tak hanya hijab Muthia sekalian mengambil gamis untuk Irma karena Irma lagi memakai pakaian santai bercelana pendek.


"Bentar ya kak, Tia kebelakang dulu sekalian buat minuman." ucap Muthia sembari berjalan menuju dapur.


"Siapa Muth?" tanya Irma.


"Kak Dillah ma kak Satria, nih pakai." ucap Muthia dan me!berikan jilbab pada ketiga sahabatnya.


"Berdua?" tanya Selfia yang sduah membersihkan sayur serta cabe yang dipetiknya.


"Hmm" jawab Muthia sambil memanasi air.


"Tumben cuma berdua?" tanya Mimi yang sudah siap menjemur.


"Nggak tau juga." jawab Muthia. Mimi pun masuk kedalam, terlihat dua orang pemuda yang sedang menonton tv.


"Dah lama kak?'' tanya Mimi sembari menyalami mereka.


"Lumayan, hampir lumutan berdiri di luar." bukan Dillah yang menjawab melainkan Satria.


"Hehee maaf, taeinkita saja lagi berada di belakang." jawab Mimi.


"Tumben pagi-pagi datang cuma berdua." ucap Mimi.


"Iya Yogi sama Bryan lagi pergi ke panti dulu." jawab Dillah.


"Nih kak, minum dulu." ucap Muthia dengan menaruh cangkir di hadapan Satria dan Dillah.


"Kakak dah sarapan?" tanya Mimi.


"Emm sudah tadi" jawab Dillah.


"Emang masak apa Mi?" tanya Satria.


"Kita tadi sih cuma sarapan roti aja kak hehee." jawab Mimi.


"Iya nih rencana kita baru mau masak." sahut Muthia.


"Masak apa dek?" tanya Satria.


"Masak bening bayam, panggang ikan sama sambal matah." jawab Muthia.


"Wuiih mangap tuh, dah masak belum?" tanya Satria yang sudah menetes air liurnya.


"Ye ya belum kak, tuh ikannya baru mau di langgang sama Irma, sayur nya juga baru dibersihkan tadi." jawab Muthia.


"Yaaa" jawab Satria lesu.


"Yaudah kalau gitu kakak, tunggu aja biar kami masak dulu ya." ucap Mimi.


"Boleh." jawab Satria.


"Emm yaudahnkami kebelakang dulu." ucap Mimi dan beranjak berdiri untuk menuju dapur.


"Ehh kita ikut yank." sahut Dillah.


"Manggangbikannya biar kita berdua biae cepat." ucap Dillah lagi ketika Mimi memandangnya.


"Oo yaudah ayo." jawab Mimi.


Mereka pun akhirnya berbagi tugas, Dillah dan Satria kebagian memanggang ikan, Mimi membuat smabal matah, Muthia menggoreng tempe mendoan. Selfia dan Irma menyiangi bayam.

__ADS_1


Di sebuah partemen elit luar negeri khususnya di kota LA, disaat pergantian malam telat pada tanggal 22 Desember, Syahril yang baru pulang dari rumah sakit duduk di balkon kamarnya sama halnya seperti tahun lalu.


Syahril duduk di depan kue tart yang dihiasi dengan lelehan coklat serta di toping dengan bunga mawar putih di sekeliling kue.


Syahril tak pernah melupakan hari ulang tahun Mimi yang mana bertepatan Lula dengan hari ibu.


Syahril selalu memesan kue tart khusus, kue tart yang terdapat foto Mimi dan lelehan coklat di pinggirnya.


"Yaumil milad sayang, semoga kamu selalu diberi kesehatan, dilimpahkan rezeki serta kebaeakahan dari Allah SWT."


"Selamat ya sayang akhirnya kamu lulus bahkan kamu juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke spesialis sepeti cita-cita kamu."


"Empat bulan lagi kaminwisuda sayang, seharusnya aku bukan dia yang mendampingi kamu saat wisuda nanti." ucap Syahril dan gak terasa air matanya berlinang.


"Maafkan Kakak dek, maafkan kakak yang tak bisa melupakanmu."


"Dua tahun sudah hari ulang tahunmu kota tidak bisa merayakan berdua."


"Hadiah buat kamu selalu kakak siapkan. Hadiah tahun lalu pun masih utuh di dalam kotaknya."


"Sayang, apakah kita bisa bersatu kembali? kakak merindukanmu." Syahril terus berbicara seorang diri dineoan kue tart.


Semua yang dilakukan Syahril selalu direkam oleh Ryan, yah sebelum Syahril pulang, Ryan sudah memamsag CCTV di balkon tanpa sepengetahuan Syahri.


Ryan selalu melakukan itu saat di jadi ulang tahun Mimi dan ulang tahun Syahril.


Ryan selalu melihat melalui netbooknya apa yang dilakukan Syahril.


"Semoga Allah mendengar setiap do'a mu Riil." ucap Ryan yang berada di kamarnya.


"Ya Allah engkaulah maha membolak-balikkan hati. Kami hanya manusia biasa Rabb. Segala nya kami arahkan padamu." Ryan berdoa dalam hatinya.


"Yank, ini kue kesukaan kita berdua. Brownies full coklat yank, dulu kita selalu berlomba menghabiskan kue ini."


"Yank, pasginkamu bahagia ya sama dia. Bahkan dia sudah membuat pesta kejutan untukmu." ucap Syahril yang sudah mengetahui kalau Dillah membuat pesta kejuatan buat Mimi.


"Yank, kalau Allah mengizinkan kita bersatu kembali. Kakak berjanji akaan selalu menyayangimu, menjaga mu melebihi kakak menyayangi dan menjaga diri kakak sendiri.''


"Kakak selalu menaruh harapan untuk kita bersatu kembali."


"Kakak selalu menyebut namamu dek disetiap sujud dan do'a kakak."


"Kakak selalu meminta kepada Allah agar mempersatukan kita kembali, apapun dan bagaimanapun keadaan kita nantinya."


"Kakak berjanji akan selalu setia padamu, kakak akan selalu menjaga hati dan mata kakak untukmu."


"Kakak akan bersabar sampai Allah menjawab segalanya."


"I miss you, i love you always my sweaty, my heart my wife Mimi Akifah." ucap Syahril yang selalu menganggap Mimi adalah istrinya karena saat dia mengucapkan ijab Kabul waktu itu hati dan pikirannya hanya mengucap nama Mimi bukan Zahra.


Setelah Syahril mengucapkan segala isi hatinya di depan kue tart itu, Syahril membawa kue teaebut kekuar kamarnya dan meletakkan kue itu kedalam kulkasnya. Tak sedikitpun dia memakan kue itu.


Tak hanya Syahril yang merayakan ulang tahun Mimi seorang diri, Radit pun begitu.


Radit juga merayakan ulang tahun Mimi seorang diri sedari dulu. Sedaei dia mengenyam pendidikan Akpol.


"Selamat ulang tahun dek, semoga selalu diberi kesehatan, selalu diberi rahmatbkeberkaha. dannlindungan Allah SWT."


"Walau kau kini bersama orang lain, tapi Abang tidak pernah melupakan ulang tahun mu."


"Dulu waktu abang ketemu kamu lagi di SMA abang kira kamu belum ada yang punya, eh ternyata kamunidah ada yang punya."


"Sepicik apapun Abang lakukan waktu itu tetap saja kamu kembali dengannya."


"Saat kemaren abnag pulang ke Jambi dan mendengar kalau mantanmu itu menikah. Bang berharap bisa bertemu kamu lagi dan bisa menyatakan kembali perasaan abang."


"Huuum huh lagi-lagi Abang keduluan orang lagi."


"Apa Allah tidak mengizinkan Abang untuk memiliki mu dek?" ucal Radit seorang diri didalam kamarnya dengan memandang foto lama Mimi.


"Jika Allah tidak mengizinkan Abang memiliki mu, Abang hanya bisa mendo'akan mu saja dek."


"Semoga kamu selalu bahagia dengan siapapun pasanganmu nanti."


"Biarlah rasa cinta Abang akan menjadi sebuah kenangan di hati."


"Mungkin sudah saatnya Abang mengikhlaskan kamu, dan mungkin juga abang harus melupakanmu walau rasanya sangat sulit" ucap Radit yang berusaha melupakan dan mengikhlaskan Mimi dengan yang lain.


Dikosan Mimi, swmua masakan telah siap dan segera disajikan. Aroma ikan bakar yang harum menusuk hingga ke rongga hidung membuat cacing-cacing dalam perut meronta-ronta.


Kereook kereook


krucuuk krucukk


Suara ypnyaring terdengar dari perut Dillah dan Satria.


"Gile bener nih cacing nggak ada akhlak." ucal Satria yang merasa perutnya berbunyi nyaring.


"Iya dia tau bener Sat kalau ada santapan nikmat didepan mata." sahut Dillah.


"Hahaaa" Selfia dan Irma tertawa mendengar gar celotehan dua anak Adam itu.


"Udah ayoo kak buruan dibawa masuk ikannya." seru Selfia.


"Iya iya." jawab Dillah.


Saat semua telah tersaji terdengar suara mobil parkir di depan kosan Mimi.


"Siapa?" tanya Mimi pada Irma yang sedang melihat dari arah jendela.


"Emm kak Yogi sama kak Bryan." jawab Irma.


"Assalamualaikum" ucap Bryan dan Yogi.


"Waalaikum salam, ayo kak masuk." jawab Muthia dan Irma.


"Heleh tau aja Lo berdua kalau kita lagi mau nyantap menu enak." ucap Satria yang baru masuk dengan membawa sepiring ikan bakar di tangannga.


"Huuumm wanginya." ucap Bryan dengan mengendus aroma dari ikan bakar di tangan Satria.


"Eits sono." ucap Satria dengan mengusir Bryan menjauh dari ikan bakar di tangannya.

__ADS_1


"Ya tentu lah, kalau ada menu nikmat maka kita tidak akan melewatkannya." ucap Yogi yang sudah duduk dan menaruh nasi dipiringnya.


"Eh Gi, siapa yang nyuruh Lo makan." ucap Satria.


"Gue sendiri Satria, jadi orang jangan pelit gitu. Laper tau." cerocos Yogi.


"Udah-udah, ayo kak makan." ucap Mimi dan menaruh piring yang sudah berisi nasi di hadapan Dillah.


"Jangan bilangblo maubmknta sualin Dil?" ucap Yogi yang melihat gelagat manja Dillah.


"Suka-suka gue lah Gi, noh kalau Lo mau minta suapin Bryan." ucap Dillah.


"Ogah gue mah." ucap Bryan.


"Ye sono suap-suapan beberapa minggu ntar Lo juga bakal nyuap pakai tangan Lo sendiri." ucap Yogi.


Mimi yang me dengar omkngan Yogi terdiam dengan tangan berisi nasi mengambang ke arah Dillah dan matanya menatap Dillah.


"Eh heee lupa yank, rencana kita datang kesini mau beritahu kalau kita hari ini mau keluar kota sampe beberapa Minggu gitu." ucap Dillah cengengesan dengan menggaruk kepalanya.


Tak hanya Dillah yang cengengesan, Satria pun sama halnya dengan Dillah karena dia juga mendapat kan tatapan maut dari Muthia.


"Emang mau kemana? berapa minggu" tanya Muthia.


"Emm keluar kota yank, ada urusan kerjaan. Belum tau berapa minggunya, soalnya genting banget. Bisa seminggu atau lebih." jawab Satria menyakinkan.


"Emang ada masalah yang?" tanya Mimi dengan terus menyuapi Dillah.


"Emm iya yank, masalah genting dan ya kalau bisa harus segera terselesaikan." jawab Dillah.


"Oo" jawab Mimi.


"Emm kalau besok Mimi kepasar boleh ya?" ucap Mimi.


"Mau beli apa yank?" tanya Dillah.


"Hmm ya nanti kalau semisalnya bahan-bahan kue habis. Sekalian juga mau ketemu simbah." jawab Mimi.


"Oo emm boleh, tapi jangan sendirian ya? dan jangan mau didekagin laki-laki yang nggak dikenal termasuk polisi itu juga jangan." ucap Dillah.


"Iya, kalau ketemu di jalan gimana? masa iya Mimi lari." jawab Mimi dengan mengkrucutkan bibirnya.


"Bibirnya biasa aja dek, takut khilaf."


"Kalau ketemu ya sekedarnya aja, yang penting jangan mau di ajak pergi berduaan" ucap Dillah.


"Kalau berdua enga Fia berarti boleh dong kak?" gaya Selfia.


"Nggak, nggak boleh." jawab Dillah.


"Lah tadi katanya jangan berduaan jadi ya biar Fia yang nemani." ucap Selfia.


"Tidak bo leh Selfia." jawab Dillah.


"Puft" Selfia dan yang lain hanya menahan ketawanya.


Setelah selesai makan lagi menuju siang selesai, Dillah dan teman-temannya pun segera berangkat dan tak lupa petuah-petuah sebelum dia pergi dikeluarkan nya lagi.


"Jangan Lupa" ucal Dillah mewanti-wanti.


"Iya-iya." jawab Mimi.


"Kamu juga sama dek." ucap Satria.


"Iyaaa" jawab Muthia cemberut


"Lah kok malah cemberut di bilangin." ucap Satria.


"Ya haabisnya ngucapin itu dah sampe puluhan kali." jawab Muthia.


"Jangan lama-lama kak, katanya mau ikut pulang ke Banda Aceh." ucap Muthia lagi mengingatkan Satria.


"Iya sayang, yaudah kakak pergi dulu ya." jawab Satria dengan mengelus kepala Muthia.


"Iya hati-hati" jawab Muthia.


"Akang oergi duluya dek, assalamualaikum" ucap Dillah.


"Assalamualaikum" jawab Satria dan lainnya.


"Waalaikum salam." jawab Mimk dan ketiga sahabtnya. Setelah bersalaman mereka pun pergi !menuju bandara.


"Kira-kira mereka perginkemana ya Mi? kok amle berminggu-minggu." tanya Muthia.


"Ckk Muth Muth tadi kenapa nnggak kamu tanyakan langsung sama bang Sat mu itu " seru Selfia yang sudah masuk kedalam rumah.


"Yah nggak enak Fi, ntar di bilang aku ngekang dia lagi " sahut Muthia.


Sudah seminggu Satria, Dillah dan yang lain berada dinluae kota, setiap Mimk maupun Muthia bertanya mereka tidak pernah menyebutkan dimana mereka berada.


Tiga Minggu setelah nya mereka pun pulang dan membawa oleh-oleh, jika dilihat oleh-oleh yang di bawa itu oleh-oleh dari kota pedang karena mereka membawa keripik Sanjay dan aneka oleh-oleh khas Minang.


Dua minggu kedepannya Muthia berencana akan pulang ke kampung halamannya bersama Satria. Muthia berencana akan memperkenalkan Satria pada keluarganya dan itu juga rencana Satria sebelumnya meminta ikut perginke kampung halamannya Muthia.


Namun rencana tinggal rencana karena Satria juga tidak bisa ikut karena dia pergimkeluar negeri bersama pamannya untuk melihat kantornya yang berada disana.


Dua hari saat Satria pergi Muthia !endalat telpon dari orangtuanya bahwasanyabmereka memberitahukan pada Muthia kalau Muthia sudah dipinang orang dan hari pernikahan pun telah ditentukan sebulan sebelum hari wisuda.


Setelah menerima telepon orang tuanya Muthia menangis tersedu-sedu, dia tidak terima dengan apa yang sudah di tentukan oreng tuanya.


"Muth" panggil Mimi.


"Mii hiks, Tia nggak bisa Mi. Bahkan Tia tidak tau siapa orang nya. Ami sama Abi tidaknmaunkaaih gau Tia Mi huhuhu." ucap Muthia dengan tangisan.


"Muth, mungkin mereka tau orang yang meminangmu itunorang baik Muth, makanya. mereka langsung memutuskan." ucap Irma.


"Tapi kan ndak gitu juga Ir, memang sih gia pernah bilang sama Ami dan Abi. Fia akan terima siapa saja yang meminangnya Tia tapi orang yang meminangnya Tia itu tau siapa Tia, tau bagaimana Tia Ir. Bukan seperti i niii huhuhu." ucap Muthia dengan isakan tangis.


Semenjak Muthia mengetahui jika dirinya sudah di pjnang dan sudah ditentukan hari pernikahan nya. Muthia tidak jadi pulang, dia bahkan menunggu Satria dan dia berencana akan pulang sekalian bersama Satria.


Tetapi Satria begitu sangat sibuk mempelajari bisnis sang papah dan tidak memiliki banyak waktu untuk bicara dengan Muthia.

__ADS_1


Dengan minimnya komunikasinya saat ini dan desaakn orangbtua yang terus menyuruhnya pulang membuat Muthia menderita.


tbc


__ADS_2