
Assalamualaikum sobat Dokter Jantungku selamat beristirahat ya?
_______ selamat membaca ________
"Maaf Mimi duluan." Ucapku kepada yang lain dan mereka melongo tak percaya kalau aku akan pulang naik ojek.
Aku langsung naik ojek dan menyuruh Abang ojek untuk segera jalan.
Kepenatan hati yang kurasakan membuat kepalaku sedikit berdenyut. Ingin rasanya hati ku luapkan tapi kemana harus kuluapkan semua sekalian hanya kepada Rabb ku.
Abang ojek yang melakukan motornya dengan santai karena jalanan dipenuhi oleh siswa-siswi yang pulang sekolah. Angin menerpa wajahku dan membawa pergi tetesan air mataku.
"Ya rabb." hanya itu yang bisa ku gumamkan.
Tak berapa lama abang ojek pun berhenti tepat di bawah rumah Nyai dan aku pun segera naik setelah membayar ongkos.
"Assalamualaikum." Ucapku.
"Waalaikum salam." jawab Nyai yang ada di teras.
"Cepat balek Mi?" tanya Nyai.
"Iya Nyai." Jawabku dan aku menyalaminya dan segera masuk.
Karena aku merasa tak enak badan aku pun langsung rebahan tanpa mengganti seragamku dan tak la aku pun terlelap.
Sore hari ku terbangun disaat adzan ashar berkumandang, saat aku keluar pakcik memanggilku.
"Mi, nih ada sate makan dulu." Ucapnya.
"Iyo Cik, kebetulan baru terasa lapar." Jawabku akupun duduk di kursi dan membuka sate padang dan memakannya dengan lahap karena lapar.
Pakcik melihatku makan dengan lahap diapun kembali bertanya.
"Pelan-pelan makannya macam tak makan siang bae tadi." ucapnya.
"Emang Mimi belum makan Cik. tadi hehe" Jawabku.
"Tuh kalau kurang masih ada sebungkus lagi." Ucapnya dengan menyodorkan sebungkus sate yang belum kebuka.
"Beres lah tu Cik, yang lain sudah makan kan?" Tanyaku.
"Sudah, tadi beli sengaja di lebihkan.'' Ucapnya.
"Oke sip lah tuh nanti Mimi habiskan." Jawabku dengan mengacungkan dua jempol ku.
Dan karena mungkin efek kelaparan akupun membuka sebungkus sate tadi dan memakan nya hingga habis.
"Alhamdulillah." Ucapku setelah merasa kenyang.
Tak berselang lama ada pak pos datang dan akupun menghampiri nya.
"Eh pak pos ada paket Mimi ya?" Tanyaku.
"Ada nih ada dua." Jawabnya dan aku pun menerima paket itu dan menanda tangani serah terima.
"Oke pak makasih." Ucapku.
"Sama-sama." ucapnya.
Setelah aku menerima paket aku segera masuk kedalam baru dua langkah masuk kedalam terdengar salam dari luar.
"Assalamualaikum." Ucapnya
"Waalaikum salam." jawabku dan menoleh kebelakang ternyata Di'ah yang datang.
"Eh Di'ah ayo masuk." ajak ku.
"Diluar aja Mi." Ucapnya akhirnya aku pun duduk di teras luar.
Tak lama Pakcik sama Bicik serta anaknya keluar sepertinya hendak keluar.
"Pakcik sama Bicik mau kemana?" tanyaku.
"Kami mau ke ulu rumah Nyai nya Reza." Jawab pakcik.
Yah Reza adalah nama anak nya, yang dimaksudnya kerumah nyai nya Reza yaitu kerumah orang tua pakcik ku yang mana rumahnya sekampung / sekelurahan sama Emma dan Novi bahkan rumahnya dekat dengan rumah Novi.
"Nginap Yo cik?" tanya ku lagi.
"Iya kami nginap." Jawabnya.
"Oh iyolah kalau gitu hati-hati." ucapku dan mereka pun pergi.
Ku lihat Di'ah memandang ku seperti meminta penjelasan dari ku.
"Ada apa Di'ah?" Tanyaku.
"Tumben Mimi tadi naik ojek ada apa?" Tanya nya.
"Terus tadi juga di ajak ke kantin Ndak mau, Mimi sakit? atau ada masalah." Di'ah bertanya secara beruntun.
"Panjang amat Di'ah nanyanya." candaku dan dia pun hanya menatapku jengah.
"Mimi ndak apa-apa Di'ah, Mimi cuma sedikit merasa dak enak badan aja tadi." ucapku.
"Mi, Mimi ndak ada masalah sama kak Syahril kan?" tanyanya akupun hanya melihat Diah dengan tersenyum.
"Mimi, ndak ada masalah kok Di'ah." Jawabku.
"Kalau tidak ada masalah kenapa kalian seolah saling berdiaman." tanyanya.
"Dan tadi yah kak Ryan minta izin kepadaku katanya dia mau jalan sama kak Syahril, dia mau nemani kak Syahril katanya." ucap Di'ah lagi.
__ADS_1
"Mi, Mimi benarkan kan tidak punya masalah dengan kak Syahril soalnya aku liat sepertinya dia lagi bersedih." cerocos Di'ah dan aku hanya mendengarkannya dan ada rasa getir di dada.
"Mimi dak apa-apa kok Di'ah, Mimi juga tidak ada masalah dengan kak Syahril kok." terangku dan tersenyum getir.
"Mi, kalau ada masalah cerita sama aku kalau bisa aku bantu aku bantu Mi." ucapnya sbil memegang kedua tanganku.
"Makasih Di'ah Mimi tidak apa-apa." jawabku.
"Mi, kita bukan kenal dan dekat sehari dua hari Mi, aku tau pasti Mimi lagi ada masalah kalau tidak ada, sifat Mimi hari ini bukan lah sifat Mimi yang aku kenal selama ini." Cicit Di'ah dan aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Di'ah kita emang bukan kenal sehari dua hari dan Di'ah taukan Mimi kalau ada masalah pribadi tak ingin menceritakannya kepada siapapun kecuali jika masalah pelajaran hahaha." ucapku.
"Issa Mimi ni." tanyanya sbil memeluk lenganku.
"Ehmm Di'ah dah sore Mimi mau mandi dulu ya." ucapku dan mengusir secara halus kepada Di'ah karena aku tak ingin mendengar cicitannya lagi.
"Ya udah aku juga belum mandi." Ucapnya dan nyengir kuda dan langsung berlalu turun.
"Waalaikum salam." teriakku.
"Eh iya lupa Assalamualaikum." ucapnya dengan cengengesan.
Setelah dia pulang akupun segera pergi membersihkan diri dan setelah itu aku menutup jendela-jendela karena langit sudah mulai redup tak lupa akupun menghidupkan lampu di dalam rumah.
Karena lagi berhalangan maka aku tak menjalani kewajiban ku kepada sang khalik. Aku lihat paket yang aku taruh di atas kasur ku dan segera aku membuka paket itu dan seperti biasa paket itu berupa soal-soal dan paket tentang sedikit rangkuman dari pelajaran.
Aku membaca buku paket yang berisi rangkuman-rangkumannya sebelum aku membaca soalnya.
Disaat lagi membaca terdengar suara getaran hp ku karena hp ku silent jadi hanya getar yang terdengar.
Dert dert dert, aku langsung melihat siapa yang menghubungiku dan ternyata itu adalah bang Idho akupun langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum." ucapku.
"Waalaikum salam Mi," jawabnya.
"Iya bang ada apa?" tanyaku.
"Mimi ada apa? tanya nya pula.
"Maksud Abang?" tanyaku lagi.
"Iya Mimi ada apa?" Tanyanya.
"Ih Abang nih orang nanya malah balik nanya." ucapku.
"Hahaha, makanya Abang nanya Mimi ada apa?" tanya nya lagi.
"Mimi ndak ada apa-apa bang, kenapa emangnya?" jawabku.
"Mimi ada masalah dengan Syahril?" tanyanya.
"Hmm kenapa semua orang nanya pada gitu semua ya." ucapku.
"Yah karena Mimi hari ini beda aja." jawabnya. "Mimi ada masalah dengan Syahril?" tanyanya lagi.
"Kalau tidak ada masalah kenapa tadi abang lihat kalian berdua berdiaman gitu." ucapnya.
"Ah perasaan Abang Bae lah tu." Ucapku mengalihkan pembicaraan.
Terdengar suara adzan aku pun ingin mengakhiri telpon.
"Bang sudah adzan sudah dulu ya." ucaoku.
"Mi, jangan nak lari." Ucapnya.
"Ye siapa juga yang nak lari-lari malam hahaha." candaku.
"Jawab pertanyaan Abang yang tadi." ucapnya.
"Beneran bang Mimi ndak ada masalah dengan dia, sudah ya sudah adzan tuh sholat lah lagi Abang tu." ucapku.
"Hemm" ucapnya.
"Udah ya bang assalamualaikum." ucapku dan langsung mematikan telpon sepihak tanpa mendengar jawaban salam dari nya.
Setelah memutuskan sambungan telpon itu aku melihat kontak Syahril kali ini dia online dan dia membuat status dengan emoticon sedih.
Aku melihatnya merasa getir di dada dan hanya bergumam "Ada apa sebenarnya denganmu kak?" dan tak terasa menetes lagi air mata.
"Ya Rabb ampuni hamba yang terlalu menaruh hati berlebihan pada nya." Gumamku dalam hati.
"Kuatkan hatiku ya Rabb dengan apa yang akan terjadi nanti." gumamku lagi.
Sakit.. Ya ada rasa sakit di hati ku dengan semua ini, aku merasa belum siap dengan apa keputusan selanjutnya karena aku merasa kami tak memiliki masalah.
Terngiang di telingaku kata-katanya "Dek semoga kita di jodohkan sama Allah ya kelak, karena kakak tak ingin kita berpisah." setiap terngiang kata-kata itu tambah rasa sakit di hatiku.
"Aku tahu Rabb kalau rezeki, jodoh dan maut di tanganmu, kuatkan lah hatiku Rabb." gumamku dengan derai air mata yang tak bisa ku tahan lagi.
**
Hari-hari pun telah berlalu aku semakin mencoba menata hatiku dan aku jarang untuk ke kantin bersama teman-teman ku, jika mereka mengajakku maka aku selalu menolak dan memberi alasan kalau aku masih kenyang.
Setiap kali bila ketemu dengannya secara tak sengaja aku selalu menghindarinya bahkan aku tak ingin menatap matanya.
Aku berusaha menata hatiku seperti sebelum aku mengenal dengan namanya cinta aku ingin kembali seperti diriku dulu walau semua terasa sakit dan sulit.
Teman-teman ku yang selalu melihat dan mendapatkan jawabanku itu ke itu pun seolah mereka mengerti dan mereka tak lagi banyak bertanya padaku.
Setiap jam istirahat aku langsung menuju perpustakaan untuk mengisi lembaran soal dari paket-paket bimbelku. Aku selalu duduk di pojokan yang tertutup oleh rak-rak buku.
**
Jika di sekolah teman-teman ku tak bertanya lagi padaku tapi beda dengan dirumah kadang Nyai, Bicik atau pakcik selalu menanyakan dia karena biasanya jika malam Minggu dia selalu kerumah dan saat ini dia tak lagi ada menampakkan dirinya.
__ADS_1
"Mi, tumben Syahril dak kerumah tiap malam Minggu?" tanya pakcik.
"Iya Mi, kalian sudah putus?" Tanya Bicik.
Setiap mereka bertanya seperti itu ada rasa getir dan sesak di dadaku.
"Dia lagi sibuk Cik, kan dia sudah kelas tiga." ucapku.
"Oh iya juga ya, kirain kalian dah putus." Jawab Bicik.
"Emm Idak." jawabku ya aku hanya bisa jawab itu karena aku pun tak tau staus nya apa aku dah putus dengannya atau belum yang jelas hubunganku dengannya tak tau seperti apa.
Malam minggu ku habiskan dengan membaca novel-novel dari membaca novel DOKTER JANTUNGKU, FLOWERS dan kini ada novel terbaru yang saat ini ku gemari ada yang berjudul SALAH NAMA BERUJUNG CINTA karya uni putri tanjung aku suka membacanya karena ada kocaknya.
Sambil menunggu novel-novel diatasi update aku juga membaca novel karya dari Fresh Nazar yang berjudul HOT MAN ON CAMPUS dan BABY MY LOVE yang ceritanya kocak dan ada juga novel tentang anak santri yang berjudul BIDADARI SANG GUS karya Aliira Asyfa.
Setidaknya nya dengan membaca novel-novel kocak atau novel-novel bergenre horor dapat melupakan sejenak kepenatan hati walau esok sewaktu sekolah aku akan menghadapinya lagi.
**
Minggu pagi tanpa ada angin dan hujan Syahril datang kerumah dan saat ini aku masih tertidur.
"Mi.." Nyai memanggilku berkali-kali tapi aku tak juga bangun sehingga Nyai masuk ke kamarku dan membuka jendela kamar ku sehingga sinar malenyari masuk ke dalam.
Karena silau aku pun memicingkan mataku dan aku lihat ada Nyai di dalam kamarku.
"Mi bangun sudah siang tuh di luar ada Syahril." Seru Bicik di balik pintu kamar.
"Hemm." Ucapku karena mataku masih mengantuk akibat membaca novel hingga jam tiga pagi.
"Eh ni budak bukannya bangun malah narik selimut." Ucap Nyai sembari menarik selimut ku.
"Mimi masih ngantuk Nyai." Ucapku "kan hari minggu juga dak sekolah." ucapku.
"Iyo dak sekolah tuh di luar ada syahril dari tadi nungguin." seru Bicik, "buruan sana bangun"sahutnya lagi dan berlalu pergi.
Aku yang mendengar antara mimpi atau nyata enggan untuk bangun. "Hmm tumben kerumah" ucapku lirih seketika aku tersadar "Apa!!" Nyai yang melihatku langsung terlonjak dari rebahan dia pun menepuk diriku.
"Makoe cepat bangun anak gadis bangun siang." omel Nyai. ( makanya cepat bangun anak gadis bangun siang).
Aku pun langsung bangun dan langsung menuju ke ruang tamu ternyata dia duduk di ruang tamu di tani pakcik.
Pakcik yang melihatku baru bangun dengan acak-acakan hanya menggelengkan kepala.
"Mi.. Mi.. Bangun tidur tu minimal cuci la mukanya dulu." Tagur nya tapi tak ku hiraukan dan langsung melihat ke arahnya dan dia hanya tersenyum.
Tak lama Bicik keluar dengan rapi aku pun bertanya.
"Mau kemana cik?"
"Bicik mau ikut pakcik kau ke keramba." Jawabnya. "Ayo bang." Bicik mengajak pakcik.
"Ya udah Riil pakcik pergi dulu, hati-hati nanti kalau pergi." ucapnya aku hanya menautkan kedua alisku.
"Mandi sana Mi dak malu apa sama Syahril." ucap pakcik dan kujawab dengan senyum.
Aku masih berdiri bersandar di pintu setelah pakcik dan Bicik pergi. Aku enggan untuk berbicara dulu sehingga Syahril yang berucap.
"Dak capek dek berdiri." Ucapnya.
"Hemm biasa aja." jawabku.
"Dek." panggilnya dan aku pun menoleh ke arahnya.
"Duduklah dulu perasaan kakak tak punya utang." Ucapnya bercanda dan menyuruhku duduk.
"Ah masa!!!" Jawabku dan akupun duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Syahril terus menatap Mimi dan Mimi terus menguatkan hatinya.
"Tumben ndak ada angin ndak ada hujan datang." sindir ku dan dia menatapku sendu.
Aku berusaha kuat walau hati rasanya campur aduk ada rasa rindu, sakit, kecewa ahh semuanya ingin aku limpahkan.
Dia berdiri dan mendekat ke arah Mimi dan dia berjongkok kehadapan Mimi dan mengambil kedua tangan Mimi seraya berucap "Maaf".
"Maafkan kakak dek, kakak tak tau harus bilang apa." Ucapnya dengan suara parau.
Mimi tak bergeming dan enggan untuk melihatnya, Mimi berusaha menguatkan diri agar air mata nya tak keluar lagi.
"Dek lihat kakak," ucapnya dengan menangkupkan kedua tangannya ke wajah Mimi dan mengarahkan ke arah wajahnya.
"Maafkan kakak, kakak rindu sama adek." Ucapnya dengan bibir yang bergetar.
Aku diam dan hanya mendengarkannya, ya aku ingin mendengarkan apa alasan yang sebenarnya namun tak kunjung di ucapkan nya. Dasar air mata tak bisa di ajak kompromi akhirnya menetes juga di pipi Mimi.
Syahril yang melihat Mimi diam tanpa berkata dan air mata yang menetes, semakin sendu di matanya diapun menghapus air mata Mimi dengan kedua jempolnya disetiap sisi.
"Maafkan kakak." Ucapnya.
Kira-kira Syahril datang mau ngapain ya selain minta maaf??"
Alhamdulillah up nya nyicil ya.. jangan lupa beri dukungan kalian ya karena dukungan kalian penyemangat ku untuk berkarya.
Jangan lupa sukai juga karya author FLOWERS dan tinggalkan jejak kalian juga ya.
VOTE
RATE
LIKE
KOMEN
__ADS_1
MAKASIH SEBELUMNYA