
Hari yang membosankan bagi Mimi yang hanya berdiam diri di rumah. Emak yang melihat Mimi terlihat bosan dia lun berinisiatif mengajak Mimi ke rumah Nyai nya.
"Kenapa? bosan?" ucap emak yang masih rebahan di samping Mimi, Mimi melihat ke arah emaknya dan mengangguk.
"Iya Mak, bosan Mimi di rumah terus." jawab Mimi.
"Ya pergilah jalan-jalan, ajak Ay." ucap Emak.
"Hmm pakek apa? motorkan di bawa bapak." ucap Mimi lesu dan emak pun ber o ria.
"Mak, kalau Mimi belikan Mak mobil mau?" tanya Mimi.
Ya Mimi berniat membelikan orang tua nya mobil agar jalan emak ingin pergi tidak lagi terkena panas maupun hujan.
"Makasih nak, bukan emak menolak. Siapa juga yang akan bawa nya." ucap emak.
"Emm iya juga. Bapak aja Mak suruh belajar." ucap Mimi.
"Biarlah motor nak, motor ini saja emak bersyukur. Cuma kalau Mimi tidak keberatan, berikanlah Ay motor."
"Kadang Mak kasian dengan bapak kau yang antar jemput Ay, kadang kasian juga dengan Ay tiap pulang kerumah Nyai kau dulu."
"Emak cuma dak mau ada omongan belakangan." ucap Emak.
"Kalau itu memang rencana Mimi mau belikan Mak, tapi apa iya dealer buka hari Minggu ini?" tanya Mimi.
"Ada, biasa Sealer di depan buka " ucap emak.
"Emm iyalah, tunggu bapak pulang nanti kesana." ucap Mimi.
"Bagaimana kalau kita kesana sekarang, lewat perumahan samping agak dekat ke dealernya." ucap emak berbinar.
"Apa emak dak capek jalan? Jauh juga Mak ke depan." ucap Mimi.
"Ndak apa, yok sekalian olahraga." jawab emak semangat.
"Yaudah, emak siap-siap lah " ucap Mimi yang juga beranjak berdiri menuju kamarnya.
Emak mengangguk dan semangat masuk kedalam kamarnya. Mimi melihat rona kebahagiaan lada emak menjadi sangat bahagia.
"Ya Allah, mudahkanlah rezekiku, agar aku bisa selalu membahagiakan nya" gumam Mimi dengan menitikkan air mata nya ( author pun menitikkan air mata teringat akan emak ).
Mimi telah bersiap begitu pula emak, Ay yang melihat Mimi dan emak bersiap pun bertanya.
"Mamak sama Ayuk mau ke mana?" tanya Ay.
"Mau kedelan bentar, Ay mau dibelikan apa buat buka nanti?" tanya Mimi.
"Nanti sore bae lah yuk, ini masih pagi juga." ucap Ay.
"Tapi belikan Ay kue ya yuk, yang di toko kue dekat Alfa." ucap Ay.
"Ckk tadi katanya nanti aja ini masih pagi." sindir Mimi.
"Hehee" Ay hanya cengengesan.
"Yaudah Ayuk sama Mak pergi dulu ya, tutup pintunya. Assalamualaikum." ucap Mimi.
"Iya, waalaikum salam, hati-hati" jawab Ay. Emak dan Mimi pun berjalan dengan lewat jalan perumahan sebelah menuju dealernya.
Jarak yang lumayan jauh dari rumah dengan melihat semangat dan bahagia emak Mimi tidak merasakan capek berjalan kaki.
Sampai di dealer, emak langsung melihat-lihat motor yang terpajang disana.
"Mi, ini bagus." ucap emak menunjuk motor matic
"Mau Mak itu?" tanya Mimi.
"Iya Mi, cocoklah buat Ay sekolah." jawab emak. Mimi pun mengangguk
"Tpi warna keabuan ini juga cantik Mak." ucap Mimi.
"Ndak yang ini aja " jawab emak kekeuh dengan pilihan awalnya.
"Yaudah, mbak mau yang ini." ucap Mimi kepada petugas dealer
Setelah melakukan proses transaksi jual beli, Mimi pun langsung pembawa motor itu pulang.
"Mi, kkta langsung rumah Nyai yuk" ajak emak saat akan menaiki motor.
"Emak sama Ay saja, nanti biar Mimi yang masak dirumah." jawab Mimi.
"Tadi katanya bosan." sindir emak.
"Hehee lebih bosan dengar pertanyaan yang itu itu bae." ucap Mimi, emak tertawa renyah. Emak tau maksud dari apa yang Mimi katakan.
"Sebelum pulang mereka pun belanja terlebih dahulu, tak lupa Mimi juga kue pesanan Ay.
Sesampai ruman emak mengajak Ay untuk ke seberang.
"Ay kita kerumah Nyai yuk?" ajak emak.
"Mau pakek apa Mak? motorkan dibawa bapak." ucap Ay yang masih di dalam kamar.
"Pakek motor baru lah." ucap emak dengan gaya bangganya.
"Apa?? benaran Mak?" tanya Ay dan emak mengangguk, Ay berhak keluar dan melihat motor baru yang dikatakan emaknya.
"Yuuukk ini buat Ay ya?" tanya Ay dengan berteriak.
"Iyoo" jawab Mimi dengan berteriak karena berada di dapur.
Ay berlari masuk kedalam menuju dapur dan langsung memeluk Mimi.
"Makasih yuk." ucapnya.
Yah selama ini Ay ingin meminta dibelikan motor namun tidak berani. Mimi menghadiahkan nya HP Smartfren saatbuktahnha dia sangat bahagia.
"Iya sama-sama, belajar yang rajin." ucap Mimi dan Ay mengangguk.
"Dah sana ajak Mak ke rumah Nyai." ucap Mimi dengan senyum.
"Oke, tapi.." jawab Ay.
"Ini, nanti kasih nyai ya buat dia beli bukoan." ucap Mimi me!berikan bebeapl lembar uang merah."
"Iya," jawab Ay dengan semangat.
"Jangan pula semuanya dibelikan hari ini." ucap Mimi.
"Siaaap." teriak si Ay, Mimi hanya geleng-geleng melihatnya.
Ay dan emakpun pergi ke rumah Nyai dengan menggunakan motor barunya.
__ADS_1
Di rumah mulai membersihkan ikan, ayam dan udang. Saat melihat Idang yang dia beli kecil-kecil miminhany menghelakan nafasnya, sesaat dia terkenang dulu jika dia pulang atau liburan bersama teman-temannya pasti dia akan berburu udang di acik.
Setelah semua bersih dan bumbu btelah di racikan, Mimk simlan semua kedalam kulkas. Mimi akan memasaknya setelah ashar nanti.
Karena adzan Dzuhur telah berkumandang maka Mimi lun segera membersihkan diri dan berwudhu.
Saat selesai berwudhu bapak pulang kerja untuk sholat.
"Assalamualaikum" ucap bapak.
"Waalaikum salam" jawab Mimi.
"Mana Ay dan emak?" tnya bapak ketika masuk terlihat sepi.
"Kerumah Nyai pak." sahut Mimk dari dalam kamarnya.
"Pakek apa?" tanya bapak.
"Pakek motor lah." jawab Mimi setelah itu Mimi pun menunaikan sholat Dzuhur.
Sehabis sholat Mimi merebahkan dirinya di atas kasur, niat hati ingin istirahat tapi ternyata lampu HP nya kedap kedip Mimi pun mengecek pesan yang masuk.
Kebanyakan chat dari pasien-pasiennya yang mengucaokan terimakasih dan lain sebagainya.
Dan Mimi juga melihat chat masuk dari sahabat-sahabatnya masa kuliahnya, Muthia mengirimkan si kecilnya yang sedang aktif-aktifnya.
Selfia yang mengundang pesta pernikahannya di Papua.
"Assalamualaikum Mi, Fia mau ngundang Mimi nih. Dia harap Mimi bisa datang ya?" ucap chat Selfia.
Mimi pun langsung mengubungi nya lewat video call.
"Haiiii assalamualaikum Fia" " ucap Mimi sembari melambaikan tangan nya.
"Waalaikum salaam, Fia kangen mii." jawab Selfia.
"Sama Fi.. Peluukk" ucap Mimi.
"Fia sama siapa nih jadinya?" tanya Mimi.
"Sama pengusaha batubara disini Mi." jawab Selfia.
"Wawww kereeen, Fia bakal jadi Sultan dong." sahut Irma yang susah bergabung ke video call bersama.
"Waalaikum salam Irma." jawab Selfia menyindir Irma.
"Hahaaaa hahaa assalamualaikum." ucap Irma.
"Waalaikum salam." jawab Selfia dan Mimi.
"Tia mana nih?" tanya Irma.
"Paling lagi sibuk Ma si kecil itu." sahut Mimi.
"Irma datang ya" ucap Selfia.
"Insya Allah, emang kapan sih?" tanya Irma.
"Masih lama sih sphabis lebaran haji hehee" ucap Selfia.
"Helehhh" ucap Mimi dan Irma.
"Kirain habis lebaran ini Fi Fi, hebohnya dah dari kini." ucap Irma.
"Ya kan biar kalian bisa mempersiapkan diri jauh jauh hari gitu.." ucap Selfia.
"Apa lagi kalian dokter-dokter sibuk, terutama Mimi." imbuhnya.
"Insya Allah ya Fi, coba sebelum puasa kemaren bilangnya jadi Mimi nggak ambil cuti panjang." ucap Mimi.
"Yaaa datang dong Mi.." ucap Selfia.
"Iya di usahain, omong-omong ada uang akomodasinya dan transportasinya nggak nih." ucap Mimi dengan candaan.
"Ckk gitu amat sama temen Mi.." ucap Selfia cemberut.
"Haahaaa mana tau Fi, iya nggak Mi? Apa lagi Papua loh itu.. Sumatera - Papua sist.." ucap Irma.
"Haaahahha bener Ir." sahut Mimi.
"Yaudah kalau kalian nggak datang, Fia minta menahannya saja tali mentahannya sebulan gaji laki Fia ya ya ya." ucap Selfia dengan mengedipkan matanya.
"Awwww tuh mentahan apa ngerampok Fi, file aja sebulan lakik mu berapa tahun gaji ku Fi " ucap Irma.
"Benar tu Ir, gaji dokter serabutan kayak kita dibandingin gaji bos batubara." sahut Mimi.
"Ya kalau nggak mau, kalian ya harus datang. Nggak pakek kata nolak." ucap Selfia.
"Ckk, iya insya Allah. Pastikan tanggalnya biar bisa pesan tiket murah." ucap Mimi.
"Betuh tuh " sahut Irma.
"Ya nanti pasti dikaaih tau kok." sahut Selfia.
"Ya kalau kasih tau jangan keg orang kebelet ya Fi. Jangan Fia anggap Sumatra Papua itu selangkah nyampe " ucap Mimi.
"Hahaa iya iya, isnya Allah sebulan sebelumnya Fia kasih tau." jawab Fia.
"Kenapa nggak sekarang aja sih Fi kasih taunya?" ucap Mimi.
"Yah kalau sekarang belum dirembukkan antar keluarga Mi." jawab Selfia.
"Yah kalau sebulan sebelum hari H, Mimi takut bentrok dengan jadwal Mimi Fi. Maklum lah gimana Mimi." ucap Mimi.
"Ya Mimi swbukannitu jangan buat jadwal lah " ucap Selfia.
"Ya nggak bisa gitu Fi, gimana kalau Mimi sudah buat jadwal nya terus Fia baru ngabarin. Perkerjaan Mimi ini nyangkut nyawa Fia." ucap Mimi.
"Ya pokonya spmimi hitung aja semjnggubagau dua Minggu setelah idul adha Mimi nggak usah buat jadwalnya." ucap Fia.
"Nggak bisa Fia sayang, pastiin bener deh ,dua minghunsetelahnjdulnadha itu positif enggak? kalau positif Mimk jauh-jauh hari juga buat permohonan cuti lagi."
"Maklum, Mimi bukan satu rumah sakit Fi. Mimi kerja di tiga rumah sakit." ucap Mimi menjelaskan.
"Pastinya belum tau Mi, nanti habis lebaran ini dia keluarga membahas nya lagi. Semoga Mimi bisa ya." ucap selgia penuh harap.
"Iya insya Allah Fi, pastiin benar ya Fi?" ucap Mimi.
"Iya Mimi sayang." jawab Selfia.
Mereka bertiga pun saling bercerita kisah-kisah mereka saat berkerja di rumah sakit.
Siang hari Syahril dan Ryan sehabis mengantar Fajri dan Ghoffur, mereka beristirahat sebentar dan sehabis Dzuhur mereka berdua pun pulang ke Jambi.
__ADS_1
Sepanjang jalan mereka berdua di sibukkan dengan pemikiran masing-masing
"Riil kira-kira Mimi pindah dimana ya? Kenapa kita sampe lupa nanya sama pakdo atau Bi Ida ya?" Tanya Ryan.
"Iya juga ya Yan, aiss kenapa bisa sampe lupa kita " ucap Syahril.
"Oh ya Riil, kalau seandainya Mimi memang jadi sama tuh seniornya gimana?" tanya Ryan.
"Huuum huh, kalau dia bahagia aku mundur tapi kalau dia tersakiti apapun akan aku lakukan Yan."
"Aku tidak rela jika Mimi tersakiti " imbuhnya.
"Jika dia bahagia, apa kamu ikhlas Riil? Dan bagaimana dengan dirimu?" tanya Ryan.
"Hemm entahlah, jujur hatiku tidak bisa untuk mengikhlaskan Yan. Kalau dia bahagia mungkin aku akan ikut bahagia, masalah diriku.... Humm fuuuh entahlah, yang jelas aku sulit membuka hatiku untuk orang lain." jawab Syahril.
"Kalau dia bahagia, aku harap kau jangan ikuti aku Yan. Kamu carilah dan bukalah pintu hatimu. Kasian Ummi." jawab Syahril memberikan nasehatnya.
"Kalau memberikan nasihat ke orang itu gampang ya Riil," sindir Ryan.
"Ck kau ini, aku cuma ndak mau kau ikut jejak ku." ucap Syahril.
"Hemm entahlah Riil," jawab Ryan dan memejamkan matanya.
Ryan pun sudah berulang kali mencoba membuka hatinya untuk perempuan lain. Namun entah mengapa hatinya tidak bisa menemukan perempuan seperti Mimi ataupun Di'ah.
"Dulu Ryan mencoba mendekati Muthia dengan memberi perhatian nya tetapi tetap saja hatinya seolah menolak nya dan Muthia pun dinlinang oleh orang lain.
"Oh ya Riil."
"Oh ya Yan" ucap Syahril dan Ryan serentak.
"Em kau dulu Yan."
"Kau duku Riil" lagi-lagi mereka berucap serentak.
"Dahlah kau dulu " ucap Ryan.
"Kau dulu " ucap Syahril
"Ckk mm bagaimana kalau.." lagi-lagi mereka serentak, mereka saling pandang seolah otak mereka terkoneksi dengan satu tujuan.
"Ke rumah Nyai " ucap mereka berdua.
"Hahahahahaa" mereka tertawa renyah dengan apa yang mereka katakan barusan.
Tiga jam perjalanan karena Syahril membawa mobil santai, akhirnya mereka pun sampe ke kota Jambi khususnya seberang di jam 5.20 sore. Sebelum mereka pulang mereka akan mampir ke rumah Nyai terlebih dahulu
Saat mereka berbelok ke lorong sebelah kanan madrasah jika dari eah rumah Nyai, Ay dan emak lewat telat di belakang mobil mereka akan pulang ke rumah nya.
Tak lama Syahril pun samle di bawah rumah Nyai, sebelum kerumah Nyai mereka melewati rumah Di'ah, Ryan melihat Di'ah di bawah tangga nya sedang mengendong anak kecil.
"Ya Allah kenapa hatiku sakit melihat dirinya menggendong anak kecil itu? Apa itu anaknya ya Allah?" ucap Ryan dalam hatinya.
Pandangannya tak lepas dari Di'ah, Di'ah yang akan naik ke tangga tiba-tiba entah mengapa dia memandang ke arah mobil yang lewat itu. Jika kaca mobil terbuka maka mereka berdua pastinya bersitatap.
"Sabar Yan." ucap Syahril yang melihat Ryan yang masih memandang Di'ah.
"Kenapa hati aku sakitnya Riil melihat dia gendong anaknya itu" ucap Ryan.
"Karena di hatimu maajhnada dia Yan, sepertinya Di'ah juga sudah bahagia." ucap Syahril. Ryan mengusap wajahnya dengan kasar.
Syahril tau sepupunya juga tidak terima orang yang mereka cintai dimiliki oleh orang lain. Namun takdir mereka bukanlah mereka yang megang kendali nya.
Syahril membawa sengaja membawa dua bungkus udang naik ke atas rumah Nyai, niatnya satu untuk di rumah Nyai dan satu untuk emak. Syahril yakin emaknya Mimk pasti akan main kerumah Nyai jadi dia akan menitipkan kepada bicik.
"Assalamualaikum." ucap Syahril.
"Waalaikum salam." jawab bicik dan nyai yang masih duduk di teras.
"Syahril, Ryan" ucap bicik dan Syahril pun tersenyum.
"Iya cik." jawab mereka berdua dan menyalami dan menciumi punggung tangan bkcik dan nyai.
"Bicik sama Nyai ala kabar?" tanya Syahril dengan memegang tangan Nyai.
"Alhamdulillah baik, Syahril apa kabarnya juga?" tanya bicik.
"Alhamdulillah Syahril juga baik cik, oh ya cik ini ada udang buat di rumah ini dan ini Syahril titip bhat emak kalau dia kesini." ucap Syahril dengan menyerahkan dua bungkus udang.
"Kau tau kalau emak Mimi sudah pindah?" tanya bicik.
"Iya cik, Aril sudah tau. Kemaren Aril ketebing eh emak sudah tidak ada di rumah itu lagi, jadilah kami nginap di rumah om Yan terus semalam tidur di rumahnya pakdo sekalian beli udang." ucal Syahril menceritakan perjalanan kemaren.
"Ay sama emak kau barusan balek tadi." ucap Nyai dengan memeluk Syahril.
"Beneran Nyai?" tanya Syahril.
"Iya Riil, mungkin selain jalan sama kalian." bicik membenarkan ucapan nyai.
"Emm cik, emak pinsah dimana? Dan kenapa mereka pindah?" tanya Syahril.
"Mereka indah karena Ay juga masuk SMA Riil. Dan ada masalah sedikit juga, mereka pindah di oerumahan emm perumahan apa ya bicik lupa."
"Yang jelas dekan unja itu, bicik lupa nama perumahannya." ucap bicik.
"Mimi ada di Jambi Riil." ucap Nyai lagi.
"Mak." ucap bicik memperingatkan Nyai.
"Jangan kayak gitu Mak, Syahril bukan lah bujangan lagi." ucap bicik, Syahril hanya tersenyum.
"Oh ya Riil, bagaimana kabar keluarga kau? Dah punya anak berapa?" tangan bicik.
"Pasti sudah masuk SD lah ya Riil, kalau cepat dapat momongan." ucap bicik.
"Ini siala cik?" Syahri tidak menjawab melainkan bertanya anak cewk sekitar beurisa tiga tahun yang di pangku bicik.
"Oh ini anak bicik yang bungsu. Raisya namanya." jawab bicik.
''Kau sendiri gimana?" tanya bicik.
"Emm ha gitulah cik..." ucal Syahril dan Syahril lun menceritakan semuanya.
"Sabar, Allah sedang menguji kalian." ucap bicik.
"Em yaudah cik kalau gitu kami balek dulu " ucap Syahril yang akan pamit.
''Nantilah balek, berbuka lah si ruamh Nyai " ucap Nyai.
"Susah lama kamu berdua tidak makan di rumah Nyai nih." ucal Nyai.
Akhirnya mereka lun mengangguk dan mengabulkan keinginan Nyai untuk berbuka bersama. Tak lupa Syahril dan Ryan memberitahu kedua orang tua mereka.
__ADS_1
tbc