DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kepergian Mimi 2


__ADS_3

Dua hari sudah Dillah tidak lagi mengunjungi kosan Mimi semenjak Jumat malam tempo hari.


Bagaikan kehilangan arah tujuan, Dillah menyibukkan dirinya dengan berkerja. Terkadang juga dia pergi ke daerah dekat nyaman baru, terkadang dia juga pergi keluar kota melihat cabang resto nya yang lain.


Walau capek dia tidak menghiraukannya. Dua hari full dia lakukan bolam balik antar resto nya di depan kampus keluar kota, antara resto depan taman baru ke luar kota.


Minggu sore dengan cuaca yang hujan deras menerpa bumi pulau Jawa, Dillah berkendara seorang diri dari luar kota menuju apartemennya.


Tepat jam tujuh malam, Dillah sampai di apartemen nya. Lelah tentu pasti lelah dirasakannya saat ini. Dengan gontai Dillah menuju dapur di apartemen nya untuk mengambil air minum dingin.


Di ambilnya sebotol air mineral dingin dan di bawanya ke ruang tv, di hempasnya badannya di atas sofa berwana putih tersebut. Di bukanya kancing lengan baju, di bukanya kancing kemejanya hingga separuh.


Di teguknya air mineral yang di ambilnya tadi hingga setengahnya, setelah minum di letakkan nya kepala di atas sandaran sofa sambil memejamkan matanya.


Hati dan pikirannya selalu tertuju pada Mimi dan Mimi, walau waktunya disibukkan dengan pekerjaan namun tak bisa di pungkiri perasannya tetap ke Mimi.


Dillah menghelakan nafasnya kasar dan menarik Ra!butnya ke belakang.


"Ya Allah.. Kapan kamu pulang Mi." ucap nya dengan helaan nafas.


"Susah amat dapetin kamu." ucap Dillah lagi.


Setelah lama dia mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di sofa, Dillah pun beranjak masuk kedalam kamarnya untuk segera membersihkan dirinya.


Di sebuah cofee shop milik Reno, Reno beserta teman-temannya sedang bersantai ria di dalam sana. Saat bercengkerama mereka terdiam ketika liputan berita tv memberitakan ada kecelakaan pesawat penerbangan Jambi Semarang.


deg


deg


deg


Ketiganya tiba-tiba jantungnya berdetak cepat ketika mendengar nama daerah yang disebut penyiar berita tersebut.


"Ren, Sat" ucap Yogi denagn mata maaih menatap layar TV


Satria dan Reno tidak menggubris, mereka fokus menatap kelayar TV.


Di bandara Sultan Thaha Jambi Syahril seakan tidak memiliki nyawa lagi ketika mendengar gaaak gusuk orangbyangbasjng berlalu lalang di bandara.


"Bang, itu bukan Mimi kan?" ucapnya Lemah dalam dekapan Afkar dan Afnan.


Sedangkam Ryan dan yang lain menuju ruang informasi di bandara ini untuk menanyakan kebenaran berita tersebut.


"Yan coba tanya Pakcik Mimi pakai pesawat apa?" tanya Andri yang tidak ingin salah ambil kesimpulan.


"Ah iya,aku telpon dulu." jawab Ryan yang ikut panik.


"Ya Allah semoga Mimi tidak berada di pesawat itu." gumam Ryan dan tangannya terus mencari kontak nama Pakcik di HP nya dengan gemetaran.


Rudi mencoba bertanya pada orang-orang yang berlalu lalang katanya pesawat yang jatuh itu adalah pesatwa Lino air.


"Gimana Yan?" tanya Andri lagi.


"Ndak di angkatnya." ucap Ryan yang terus menckba menghubungi no Pakcik.


"Atau telpon nomor emak Yan." ucap Andri.


"Gila Lo Ndri, kalau telepon nomor emak yang ada semua isi rumah bakal panik." sahut Rudi.


"Telpon Idho." ucap Andri. "Aiss kenaoampula aku sampe ketinggalan hp." ucapnya yang gusar karena tidak bisa menghubungi siapapun.


"Rud, coba kamu telpon Idho atau Ridho gitu biar datang kerumah Nyai dan bertanya pada Pakcik." ucap Andri yang sudah kesal dengan dirinya yang lupa membawa ponsel.


"Sama Ndri, aku ndak bawa HP. Hp aku cas tadi. Aisss." ucap Rudi dengan menampar angin.


"Ya Allah ada apa lagi ini." ucap Andri yang sudah !merasa sesak di dadanya.


Kepanikan yang berlebihan pada mereka membuat mereka tidak bisa berpikiran jernih. Begitu banyak masalah yang menimpa keluarga nya, belum selesai masalah yang ada timbul lagi masalah yang Manna sumber masalah saat ini juga mempengaruhi kesehatan Syahril.


Di rumah Nyai pun telah terjadi drama tangisan ketika mereka melihat liputan berita tersebut.


"Ya Allah anakku.." ucap emak ketika mendengar berita tersebut. Berita belum tau kepastiannya karena pihak maskapai belum mengeluarkan nama-nama penumpang yang menunjang di maskapai pesawat yang terjadi kecelakaan itu.


"Kenapo yuk?" tanya Tante Zia yang sedang menyusun baju nya ke dalam tas.


"Ya Allah Zia itu buka pesawat yang dinaiki Mimi kan Zia." ucap emak yang sudah berderai air mata.


"Mana Munip, kenapa laama swkalindia sampai." ucap Emak kepada Tante Zia.


Karena mendengar teriakan emak, semua bapak-bapak yang awalnya duduk-duduk di serambi kembali masuk kedalam.


"Ada apa?" tanya bapak.


"Ada apa?" tanya pakdo.


"Apo hal?'' tanya km Adrian.


Semua bingung melihat emak yang sudah tergugu menangis.


"Telpon munip, ada dimana dia?" ucap emak menyuruh siapa saja untuk menelpon pakcik.


"Ado apo?" tanya Om Adrian lagi.

__ADS_1


"Itu ada pemberitaan kecelakaan pesawat bang." ucap Tante Zia dengan menunjuk ke arah layar TV.


"Ya Allah." ucap Om Adrian dan yang lain nya.


"Anakku.. huhuhuhu, ya Allah.." ucap emak dengan tergugu.


"Sabar yuk." ucap Bi Ida.


"Iya yuk, belum tentu itu pesawat yang Mimi tumpangi." ucap Tante Zia.


"Ya Allah, cucu ku huhuhu." Nyai pun menangis mendengar berita itu.


"Tidak Zia, itu pesawat yang Mimi tumpangi Zia..Itunpesawat diaaaa aaaaa hiks hiks." ucap emak dan akhirnya Mak pun pingsan.


"Ya Allah.." ucap semua.


"Yuuk hiks hiks" ucap Tante Zia Bi Ida dan bicik.


"Ya Allah nak." ucap Nyai mendekat ke arah Mak


Tante Zia mengambil minyak angin dan dingoaok ke hidung, kening emak.


semua orang menyaksikan berita itu dengan harap cemas. mereka berharap bukan pesawat yang Mimi tumpangi dan mereka cemas bila itu benar pukulan apalagi yang mereka teri!a kali ini.


"Apa ini arti dari ucapan Mimi yang selalu minta maaf ke kita?" tanya Tante Zia denagn isakan tangis mengenang bagaimana Mimi berpamitan kepada mereka dengan mengucapkan ratusan kali maaf.


Emak belum juga sadarkan diri, Ay dan adik-adiknya juga ikut menangis apa lagi melihat emaknya jatuh pingsan. Nyai berusaha tegar walau air mata menggenangi mata senja nya.


Pemberitaannya ini sudah tersebar luas di seluruh negara ini dan negara luar. Tim evakuasi dari tim SAR sudahndinturjnkan menuju lokasi dimana perkiraan pesawat Lino air tersebut jatuh.


Iya pihak !maskapai Jambi menerima laporan bila sallahnaagu maskapai yang bertolak dari Jambi menuju Semarang terjadi hilangnya kontak saat seorang co pilot menyatakan peswat yang mereka kendalikan oleng karena terjadi kebakaran di salah satu sayap pesawat.


Dari info yang mereka dapatkan pesawat terakhir berada dikawasan lautan Jawa. Pihak maskapai telah menurunkan tim SAR ke lokasi tersebut.


Tak berselang lama tepatnya jam 8 malam TV menyiarkan pemberitaannya lagi mengenai maskapai penerbangan yang kecelakaan tersebut. Pihak maskapai juga mengumumkan nama-nama penumpang di masakapai tersebut.


Syahril dan yang lain masih berada di bandara Sultan Thaha Jambi untuk menunggu info selanjutnya. Ketika mereka mendapatkan info nama-nama yang berada di maskapai itu Syahril kembali histeris dan jatuh pingsan.


Kali ini Syahril langsung dilarikan ke rumah sakit yang dekat dengan bandara. Syahril langsung dimasukkan kedalam ruang UGD.


Dengan pemberitaan yang sudah tersebar di seluruh pelosok sontak semua yang kenal mimi pun ikut menangis histeris kala melihat penderitaan itu.


Selfia, Muthia dan Irma serta tiga sahabatnya yang lain Riko, Dimas dan Saridi. Mereka tidak percaya jika itu adalah Mimi.


"Tidaaaaaaakkk." ucap Selfia ketika melihat berita dan terlihat nama yang di cantumkan phak maskapai. Tak hanya Selfia, Muthia dan Ir!a lun taknkala histeris nya.


"Ya Allah Mimiii.. Ya Allah itu bukan Mimi aahbatkh kan.''ucap Muthia.


"Ada apa dek? " tanya abang Muthia.


"Siapa maksudmu?" tanya Abang Muthia lagi.


"Mimi bang, Mimi Akifah." ucap Muthia dengan isakan tangis.


Abangnya lun mengambil HP dan mensearching lewat mnha googleo dan mencari tentang pemberitaan yang sedang terjadi


"Dek ini nama-nama yang ada di maskapai itu." ucap Abang Muthia dengan menunjukan hpnnya ke Muthia.


Muthia mengamwatai dan membaca satu-persatu nama-nama penumpang dari Lino air tersebut. Disana tercantum nama Mimk Akifah. Seketika me!buat Muthia pingsan.


"Dek hei dek, bangun." ucap Abang Muthia.


Takmhanyanhati sahabatbmimi dari Sabang ke Merauke itu saja yang histeris, yang berada di Jambi pun ikut histeris terutama empat sahabat nya yangbswlaalunbersammaa beberapa hari belakangan ini.


Emma ynag sedang menonton film-film Bollywood di laptop nya terganggunkarena telponnya berdering dan ternyata yang nelpon adalah Manda.


"Emmaaa" seru Manda di balik Telpon dengan Isak tangis.


"Hei Nda, ada apa? kenapa nangis Han." ucap Emma.


"Aisss kau ganggu aku lagi nonton Sharukh aja ." sungut Emma.


"Emmaaaaa Mimiii maa huhuhu." ucap Manda.


"Kenapa Mimi, Ais seharusnya sekarang dia sudah sampai Nda." ucap Emma lagi.


"Coba kau buka TV Ma, ada berita pesawat jatuh dan nama Mimk ada disana maaa huaaaaa." ucap Manda


deg jantung Emma berdetak kencang, dia langsung keluar dari acara Bollywood nya dia beralih mengetik tentang kecelakaan pesawat dan saat dia sudah menemukannya nafasnya langsung tercekat.


"Ndaa, hiks itu bukan Mimi kita kan Nda." ucap Emma dengan isak tangis.


"Itu nama Mimi Ma, dan leswat jatuh itu pesawat yang Mimi naiki Ma huhuhuhu." ucap Manda.


"Ya Allah... Ndak mungkin Nda, itu berita hoax Nda, ndak mungkin itunmiminkita Nda. baru beberapa jam kita berpisah Nda. Ndak Nda itu bukan Mimi Nda ya Allah ..." ucap Emma dengan isakan tangis sontak membuat keluarganya yang juga swdang enonton berita itu masuk kedalam kamar Emma ketika mendengar Emma menangis.


"Maa." Panggil kakak Emma di balik pintu.


"Yuk, itu bukan Mimi kawan aku kan yuk.. itu bukan Mimk vik Minah kan yuk " ucap Emma dengan terus menggelengkan kepala tidak percaya akan pemberitaannya itu.


"Sabar dek." jawab kakaknya Emma yang kedua.


"Ndak mungkin yukk, barunya di sore kami berpisah yuk. Ndak mungkin itu Mimi yukk ndak mungkin." jawab Emma dengan tergugu.

__ADS_1


Di balik modal tangisanya Emma terkenang ucapan Mimi yang selalu meminta maaf pada nya dan lada semua orang hari ini.


"Mimiii." ucap Emma yang didekap sang kakak.


"Sabar, nanginkita tanya Abang Yazid. Sekarang bangnyazid lagi di bandara cari berita tentang kecelakaan itu. " ucap kakak Emma.


Abang pertama Emma berkerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar berita di jambi.


Dikediaman Syahril pun terjadi kehebohan saat uwak Ainun masuk dengan tergesa-gesa !enacari Umma.


"Syah oh Syah." panggilnya dengan tergesa-gesa.


"Wak ada apa?" tanya Ummi Parida.


"Mana Aisyah?" tanya wak Ainun.


"Ada apa Wak?" tanya umma yang maaihnmengenakan mukena karena habis sholat isya.


"Coba kalian buka TV, tembok berita dalam tv, betul ndak itu nama yang sama." ucap wakmaoinun dengan nafas ngos-ngosan.


"Wak TV kami mana lah bisa hidup, TV maaih ada di singkirkan." ucap Umma.


"Ada apa Wak? coba bicara pelan-pelan." tanya Ummi Zulaikha.


"Huum huh, tadi ada berita kecelakaan pesawat di TV." ucap Wak Ainun.


"Ai Wak kalau berita kayak itu sudah biasa lah tu." ucap Ummi Zulaikha.


"Iya sudah biasa, tapi ini emm tapi ini.. Syahril mana?" ucal Wak Ainun tidak sampai ujung dan menanyakan keberadaan Syahril.


"Syahril la merayau." ucap Ummi Parida. ( merayau\=sudah berpergian, melalang buana)


"Emang ada apa Wak sampai wak panik gitu?" tanya mamknya Rendi.


"Diberita itu ada nama Mimi." ucap Wak Ainun.


"Apaaaa!!" ucap mereka.


"Ndakn!mungkin Wak napdak mungkin." ucap Umma dengan menggelengkan kepala tidak percaya.


"Maka dari itu wak kesini , betul apa tidak berita itu. Coba kalian buka HP kalian." ucap Wak Ainun.


Tanpa aba-aba ummimoarida, Ummi Zulaikhah dan maminya kak Rendi mengambil HP mereka dan mensearching Mbah Googleo dan mencari kebanean pemberitaannya itu.


Setelah menemukan berita itu mereka menutuo mulut mereka sambil geleng-geleng kepala tidak percaya akan pemberitaan itu.


"Rida, kak Ikha?" panggil Umma yang sedang menungu mereka. Umma menjadi cemas kala melihat ummi Parida meneteskan air matanya, begitu pula Ummi Zulaikhah dan mami nya Rendi.


"Ndak berita ini salah." ucap Ummi Parida. Umma yang mendengar itu langsung merampas HP ummi Parida dan dia langsung melihat pemberitaan itu.


Ketika melihat dan membaca Umma merasa tubuhnya lemas bak tak bertulang.


"Ndak mungkin, ya allaaaahhh, huhuhuhu Umma rela nak, Umma rela kau tinggalkan bukan sebagai menantu umma, tapi jangan nkauntinggalkan Umma seperti ini nak.. ya Allah.." ucap Umma dengan badanmhang sudah meluruh ke lantai.


"Kak." panggil Ummi Parida menguatkan Umma.


"Ada apa ini?" tanya Babah, begitu pula yang lain ikut masuk kedalam termasuk Kakek ketika mendengar suara teriakan dari Umma.


"Ada apa Rida?" tanya Babah melihat ummi Parida memeluk istrinya.


"Bang, Mimi bang." ucap Ummi Parida tak sanggup mengatakan nya.


"Ada apa dengan Mimi Ummi?" tanya Abi Thoriq.


"Baca bang." ucap ummi Parida memberikan ponselnya lada Babah.


Babah menerimanya dan membaca artikel di dalam sebuah pemberitaan kecelakaan pesawat hari ini. Babah membacanya dengan teliti nama-nama yang tertera dalam artikel tersebut sampai pada nama yang dikenalnya ada termasuk di dalam artikel tersebut.


Babbah terdiam dengan nafas yang tak beraturan, dipikirannya saat ini bukan hanya Mimk tapi anaknya Syahril. Bagaimana Syahril mengetahui semua ini.


"Ada apa bang?" tanya kedua adiknya dan mengambil ponsel dari tangan Babah. mereka pun sama me!baca artikel tersebut dan tercekat saat membaca sebuah nama yang begitu familiar bagi mereka. Naa yang mereka sayangi selama ini, nama yang membuat mereka memliki anak perempuan.


"Ya Allah." ucap abi Thoriq dan Abi Mansyur.


Kakek yang penasaran tanoa berucap doa langsung merebut HP uang membuat anak serta menantunya tercengang. Kakek membaca artikel tersebut sampai nama yang baru dia kenal. Nama yang membuat dirinya sadar akan keegoisan dirinya.


Kakek terdiam na!un di benaknya dia ikut menangis. Sama halnya Babah yang dipikirkannya saat ini adalah cucu kesayangannya.


"Apa Syahril sudahntau?" tanya Kakek tiba-tiba.


Mereka pun tersadar akan keberadaan Syahril.


"Dimana Syahril? apa dia sudah sadar?" tanya Babah.


"Syahril sudah sadar sedari sore dan dia sudah tidak ada dikamar nya." jawab Ummi Parida.


"Apa benar gitu Zahra?" tanya Babah kepada sang menantu dan Zahra pun mengangguk.


"Ya Allah.." ucap mereka semua.


Mereka sangat yakin kalau Syahril akaan pergi kemana dan tentunya mereka yakin sangat yakin kalau Syahril


lebih dulu mengetahui berita ini.

__ADS_1


tbc


__ADS_2