DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Welcome Harvard


__ADS_3

Keesokan paginya Mimi dan rombongan telah sampai, Mimi dan rombongan langsung menuju apartemennya masing-masing. Teman-teman tim Mimi yang dari Semarang sudah mengetahui hal itu jau hari dan mereka juga sudah mempersiapkan segalanya.


Sedangkan Mimi mengetahui nya memang halir satuntahun ini namun masalah keberangkatan Mimi baru mengetahuinya dalam sebulan dan itu semua telah dipersiapkan segalanya oleh keluarga Brata Wijaya.


Mimi dan orang tua mendiang Abizar telah sampai di gedung apartemen yang menjulang tinggi. Mimi menatap gedung yang sanagt terlihat indah.


"Ayo nak." ucap sang bunda, Mimi mengangguk dan merangkul sang bunda sembari berjalan mengikuti ayah Brata yang telah duluan.


Mereka semua maauk ke dalam lift, apartemen yang akan Mimi tempati berada di lantai 22. Setelah sampai dan pintu lift terbuka, Mimi dan bunda berjalan mengikuti ayahnbrata yang telah dulu di depan mereka.


Saat ayah Brata berhenti di depan sebuah kamar para petugas yang di pinta ayah membawa koper juga berhenti di dekan kamar itu. Entah ini sebulan kebetulan atau emang rencana Allah, Mimi melihat apartemen itu menjadi teringat kata-kata Syahril dan Abizar.


Mimi pandangi kedua apartemen yang berdekatan, disebelah apartemen.


"Mas, apa ini jalan yang Allah berikan?" ucap Mimi dalam hati ketika melihat nomor apartemen itu.


Ya nomor Apartemen Abizar bernomor 2222 sedangkan disebelahnya 2221 milik Syahril, nomor yang cantik bagi Mimi karena nomor itu adalah no tanggal lahir Mimi dan tanggal lahir kedua orang yang mencintainya dengan tulus.


"Ayo nak masuk." ajak bunda, Mimi mengangguk dan mengikuti langkah kedua orang tuanya Abizar.


"Nah nak, ini Apartemen mendiang mas mu. Dia duku sering bolak balik ke sini karena dia juga mendirikan rumah sakit disini bersama teman-temannya." ujar bunda.


Mimi melihat dinding ruang tamu apartemen itu, ada sebuah lukisan abstrak lukisan dua orang sepasang kekasih dan berinisial A.M.


"Nak, kamu tidur saja di kamar mas mu, kamar itu sudah menjadi milikmu," ucap Bunda dengan mengajak Mimi naik ke lantai dua.


"Nah ini kamar mas mu." ucap bunda setelah mereka berdua sampai di lantai dua.


Bunda membuka pintu kamar itu, saat pintu kamar terbuka tercium aroma parfum yang sanagt Mimi kenal. Parfum Abizar mengharumkan seluruh ruangan kamarnya.


Bunda membuka tirai jendela, cahaya matahari dari luar pun masuk ke dalam. Mimi diam menghirup aroma parfum yang menusuk hidung nya. Rasa rindunya pada Abizar kembali mencuat.


Mimi melihat dinding kamar yang bercat light grey Da di dinding itu ada foto-foto Mimi yang Mimi sendiri tidak tau sejak kapan foto itunada di tangan Abizar.


Bunda melihat Mimi terdiam memandangi dinding yang berisi foto-foto dirinya.


"Mas mu sangat suka mengabadikan foto kamu, dia sampai menyuruh orang untuk mengambil foto-foto kamu saat di kampus atau dimana pun " ucap Bunda. Mimi melihat ke arah bunda tidak mengerti.


"Ayahmu sejak lama menyukai kamu dan berniat menjodohkan kalian waktu itu, awal nya mas mu tidak mau main di jodoh-jodoh kan." ucap Bunda seraya mendekati Mimi dan memandang foto Mimi yang terpajang di dinding kamar anaknya.


"Namun entah kapan mulanya, semenjak ayahmu mengirim foto kamu dengan nya, mas mu menjadi seperti tertarik dan menyuruh orang untuk selalu menjaga dan mengikuti mu." bunda menceritakan semua nya pada Mimi.


Bunda mengajak Mimi duduk di sofa, bunda mengambil album foto yang berada di dalam meja kecil di samping sofa.


"Lihatlah, semua isinya hanya kamu." ucap Bunda dengan memberikan album foto itu.


"Ayahmu samlai ingin menjodohkannya karena ayah dan bunda tidak pernah melihat dia jalan atau membawa cewek. Mas mu jika kemana-mana hanya bersama sahabatnya."


"Temannya yang cewek hanya almh. Carla saja, itu lun Carla yang memaksa dirinya sendiri untuk mendekat ke Abizar." ucap Bunda, Mimk diam mendengarkan cerita bunda dan terus melihat album foto tersebut dengan berbagai caption yang di tulis Abizar.


"Mas mu hanya bisa melihat mu dari foto-foto itu, mas mu juga mengetahui tentang dirimu dari orang yang dia kerjakan sebagai kepercayaan nya."


"Dia menyukai dan mencintaimu dalam diam nya, dia juga tau saat kami dekat dengan laki-laki yang akan berencana menikah ini itu." ucap Bunda, Mimi melihat ke arah bunda. bunda tersenyum dan memegang tangan Mimi.


"Masmu tau semuanya tentang kamu, samlai dia nekat akan mendekatimu dengan menjadi dosen sementara waktu itu dan hingga menjadi pembimbing kamu di rumah sakit." ucap Bunda.


Entah mengapa Mimi mendengar cerita bunda, air matanya pun luruh. Bunda menghalus air mata yang jatuh di pipi Mimi.


"Belajar lah dengan giat, mas mu sanagt ingin melihat kami sukses dan mencapai segala cita-cita kamu." ucap Bunda, Mimi menangis haru dan memeluk sang Ibunda. Bunda juga ikut meneteskan air mata, bunda memeluk erat Mimi yang sduah dia anggap nya sebagai anaknya sendiri


"Saat dia merencanakan agar kami bisa menjalankannkuliah serta koas secara bersamaan, dia meminta ayahmu untuk mengirimmu di rumah sakitnya."


"Kami juga baru mengetahui jika dia telah jatuh cinta padamu saat kami datang kesini, saat wisuda S2nya." ucap Bunda.


"Bund, Mimi kangen mas Abi." ucap Mimi.


"Bunda juga kangen nak, namun kangen bunda terbayarkan dengan memeluk kamu. Kamu bagi bunda merupakan pengganti anak bunda." ucap Bunda dengan deraian air mata.


Mimi menghapus air mata bunda dengan jemarinya.

__ADS_1


"Makasih bun." ucap Mimi dan kembali memeluk bunda.


Tanpa Mimk dan bunda ketahui sang ayah sedari tadi melihat interaksi antara menantu serta istrinya itu.


"Ayah sudah menepati janji mu nak." gumam ayah Brata.


"Yaudah, kamu istirahat ya. Bunda mau bantu mbak Surti masak dulu." jawab bunda.


"Mimi nantinya bun." ucap Mimi dengan senyum.


"Kamu istirahat saja," sahut ayah yang sduah masuk ke Dalma kamar.


"Bentar lagi sarapan buat kita juga akan selesai." ucal ayah Brata. lagi.


"Ayah pinjam bunda mu dulu " ucap ayah brata dengan merangkul sang bunda. Mimi mengangguk dan tersenyum.


"Udah ya, bunda sama ayahnke kamar dulu." ucap Bunda.


"Iya bun makasih." jawab Mimi, setelah ayah dan bundanya keluar kamar. mimi kembali memandangi wajah Abizar di dinding kamar. yah yang Mimi lihat saat ini dan seterusnya hanyalah fotonya saja.


"Mas, makasih atas segalanya." ucap Mimk dan memeluk foto yang terpajang di dinding itu. Foto yang berukuran besar, foto dimana saat mereka berada di tepian pantai sebelum mereka mengambil keputusan untuk bertunangan.


Mimi mengambil kopernya dan menyusun pakaian ke dalam ruangan yang di khususkan untuk pakaian. Didalam lemari itu masih tergantung rapi kemeja Abizar dan jas nya.


Setelah semua tersusun rapi, Mimi mengambil satu stel pakaian santainya dan Mimi pun langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sehabis mandi Mimi dan kedua orang tuanya pun sarapan bersama, hari ini mereka tidak ada kegiatan. Mimi juga belum memulai kuliah serta penelitian nya.


Ayah mengajak Mimi pergi ke sebuah rumah sakit yang dipegang oleh sahabat Abizar disini. Yah rumah sakit yang Abizar dan teman-temannya dirikan untuk membantu orang-orang yang kurang mampu.


Rumah sakit ini juga di donaturi oleh banyak pihak hingga saat ini.


Ayah pergi kerumah sakit untuk mengecek kinerja karyawannya serta mengecek pembukuan rumah sakit itu.


Semua pegawai tunduk ketika ayah Brata memasuki salah satu ruangan rumah sakit itu. Yah semua pegawai telah mengetahui siapa pemilik rumah sakit ini karena Abizar memajangbforo keluarga nya dan di dalam ruangan Abizar juga terpajang foto Mimi. Jadi sebagian mereka juga mengetahui wajah Mimi.


"Yah kok mereka hormat sama Mimi?" bisik Mimi pada ayah Brata.


"Ah masa sih Yah." ucap Mimi.


"Nggak percaya, tuh lihat." ucap ayah dengan menunjuk salah satu dinding yang terpajang foto Mimi dan Abizar.


"Hah, kapan ouoamimi berfoto sama maa abiAr seperti itu." ucap Mimi tidak percaya.


"Hahaaa mas mu itu dah kadung bucin sama kamu jadi dia edit-edit foto kamu dengan foto dia." jawab Ayah Brata.


"Hmm" ucap Mimi.


"Welcome Mr and Mrs. Brata and Mrs. Mimi." salah seorang staf rumah sakit itu.


"Thanks ks Jo." jawab ayah Brata Mimi hanya mengangguk.


"Jo kamu sudah kenal siapa dia kan?'' tanya ayh Brata pada staff tersebut dalam bahasa Inggris.


"Ya tuan, saya sudah tau siapa dia. Dia adalah nyonya Mimi istri mendiang Abizar." jawab Jonathan, staf kepercayaan Abizar.


"Iya nanti kedepannya dia akan memantau rumah sakit ini, bersama seseorang. Nanti sebelum seseorang itu tiba kamu bantu dia." ucap ayah Brata.


"Baik tuan, mari tuan semua sduah di persiapkan." ujar Jonathan.


"Hemm ayok." ucap ayah Brata.


"Nak ayo." ucap ayah Brata, Mimk yang sedang membantu pasien yang akan berdiri dari kursi roda pun melihat ke arah ayah Brata.


"Iya yah." jawab Mimi. Mereka pun masuk ke sebuah ruangan dan disana semua dokter dan para staf rumah sakit telah berkumpul.


Ayah Brata mulai memperkenalkan dirinya kepada semua dan dia juga mengenalkan Mimi di depan semuanya.


Mimk yang awalnya ikjt hanya ingin melihat-lihat saja, saat ayah Brata memperkenalkan kepada semua staf dari berbagai instansi di rumah sakit ini, Mimi menjadi terkejut.

__ADS_1


Setelah rapat dadakan itu selesai, semua orang g bersalaman kepada Mimi dan kini tinggallah Mimi bersama Jonathan dan ayah Brata.


"Yah," ucap Mimi yang akan protes.


"Ayah percaya sama kamu, nanti kamu tidak sendirian nak. Ada seseorang yang akaan membantu serta mendampingi kamu. Orang itu orang yang dipercaya oleh mas mu dan orang itu juga yang di amanahkan oleh mas mu." ucap ayah Brata.


"Tapi Yah, Mimi takut tidak bisa menjalani semua ini." ucap Mimi.


"Kamu pasti bisa, nanti untuk sementara kami akaan di baantu oleh Jonathan, setelah orang yang diamanahkan oleh mas mu tiba baru kalian akan menjalani nya bersama." ucap ayah Brata.


"Nantinya minta, kamu sempatkan waktu untuk melihat rumah sakit ini." ujar ayah Brata.


"Emm iya Yah, insya Allah akan Mimi jalani." jawab Mimi.


"Kamu pasti bisa nak, kami hanya menjalani amanah mas Abi mu." ucap Bunda


"Emm iya Bun, isnya Allah Mimk bisa menjalani amanah mas Abi." jawab Mimi


"Emm Yah, emang siapa orang yang akan bantu Mimi nanti? dan kenapa dia tidak ada saat ini." tanya Mimi.


"Dia orang dari negara kita, dia juga sebagian pemilik saham dari rumah sakit ini. Dia dan mas mu berkerja sama membangun rumah sakit ini dengan satu sahabatnya lagi." ucap ayahnya.


"Kamu tenang saja, mereka berdua orang baik bahkan mereka mengenalmu juga nanti. Saat ini mereka pulang ke negara kita, dia akan meningkatkan dan memajukan rumah sakit yang dikelola oleh orangtuanya."


"Mungkin setahun lagi dia akan kembali kesini. Ayo kita pulang." ucap ayah Brata mengajak Mimi dan bunda pulang.


Keesokan harinya Mimi mulai aktifitas nya di kampus dan aktifitas penelitian dan riset yang dilakukan pun mulai terlaksana.


"Welcome Harvard university, iam coming." ucap Mimi dalam hati dengan senyuman ketika memasuki gerbang kampusnya.


Disini Mimi memulai harinya sebagai mahasiswa, Mimi juga berkenalan dengan mahasiswa lainnya. Ternyata disinj Mimk tak hanya seroang diri, sahabat nya sesama dokter dari rumah sakit dimana dia bekerja dulu ternyata juga melanjutkan pendidikannya.


"Bang Jo " panggil Mimi ketika melihat Johan yang ternyata juga mengambil beasiswa di universitas ini.


"Jadi Abang juga.." tanya Mimi.


"Iya Mi, betul kata kamu dulu rugi jika kita tidak sekalian ambil beasiswa dan kuliah lagi." ucapnya.


"Akhirnya Mimi ada temannya juga untuk pakek bahasa awak." ucap Mimi.


"Hahaaa kamu ini dek dek, emang kenapa kalau pakai bahasa Inggris?" ucap Johan.


"Emm ya ndak kenapa cuma belepotan bahasa Inggris Mimi." ucap Mimi, Johan terbahak mendengar omkngan Mimi. Mereka berdua pun memulai hari sebagaintim riset dan sebagai mahasiswa.


Ayah Brata dan Bunda memutuskan untuk kembali ke tanah air, Mimi tinggal di apartemen mendiang bersama mbak Surti yang di pinta bunda untuk membantu Mimi di sini.


Awalnya Mimi menolak apa lagi ayah Brata ada mengatakan kalau dua hari sekali akan ada ob dari kantor mas Chalik datang untuk membersihkan apartemen. Namun bunda tetap kekeuh agar mbak Surti tetap disini karena kata bunda nanti Mimi akan merasa kesepian kalau sendirian.


Apa yang dikatakan bunda lun ada benarnya, di apartemen yang besar ini penghuninya hanya Mimi dan mbak Surti, terkadang walau ada mbak surti tetap terasa sepi.


"Mbak, sepi ya." ucap Mimi ketika dirinya merasa sepi saat dimalam hari.


"Iya mbak, biasa kalau di rumah ibu rame ada suara anak-anak." jawab mbak Surti.


"Hmm baru seminggu kita disini mbak. Ini Mimi belum terlalu aktif aja di kampus gimana kalau dah aktif pasti mbak surti kesepian di rumah.


"Yah paling banyak nonton telenovela mbak." jawab mbak Surti.


Awal-awal Mimi disini, Syahril dan Mimi sering komunikasi lewat video tali untuk kedepannya jika mereka berdua sama-sama sibuk maka mungkin komunikasi mereka oun akan jarang.


Tapi baik Mimi maupun Syahril membuat komitmen sesibuk apapun mereka harus ada komunikasi walau hanya say to hai.


Hari-hari nya Mimi dan tim riset mulai meneliti tentang jantung, mereka juga berupaya mencari inovasi pengobatan jantung tanpa harus operasi.


Mimi melajukan riset pada pagi hari hingga siang hari, dari siang hingga sore Mimi makan melanjutkan dengan kuliah terkadang malam harinya pun Mimi kembali melakukan penelitian bersama tim sehingga waktu nya hanya dihabiskan untuk riset dan kuliah.


Komunikasi dengan Syahril pun sedikit merenggang apa lagi dengan perbedaan waktu yang menghalangi mereka. Terkadang di hari libur Mimi habiskan hari itu hanya bervideo call dengan Syahril itupun jika Syahril tidak masuk.


Syahril pun saat ini sedang sibuk-sibuknya untuk memajukan rumah sakit Umma, apa lagi rumah sakit itu sekarang sedang ramai-ramai nya pasien.

__ADS_1


Tak hanya bersama Syahril Mimk juga terkadang menghabiskan waktu liburnya buat chat sahabat-sahabatnya.


tbc


__ADS_2