
Hari yang cerah, tempat yang nyaman untuk bersantai bersama keluarga, di tambah semilinya angin yang berhembus dari pepohonan sekitar melambaikan dedaunan yang mendayu-dayu.
Hilir mudik anak-anak bermain bola, bahkan ada pula yang bersepeda melalui jalan setapak, tawa riang terdengar sangat bahagia menikmati keindahan pesona alam di taman ini.
Taman yang di bangun didalam kota namun jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Taman yang di bangun dari sebuah perusahaan yang berkerja sama dengan pemerintahan setempat dan yang terpenting di bangun untuk khalayak umum, sehingga siapapun bisa menikmati suasana taman yang eksotis itu.
Mimk dan Syahril beserta kedua sepupunya masih menikmati bakso dengan canda, setelah me!akan bakso kedua sepupunya Syahril masih berupaya mengalihkan pembicaraan sebelumnya dengan membuat candaan receh.
"Mi.." panggil kak Ryan ketika dia melihat Mimi tidak begitu tertarik dengan guyonan mereka.
"Hemmm" jawab Mimi.
"Humm huh, ada ala?" tanya kak Ryan.
"Nggak ada." jawab Mimi singkat kembali.
"Emm, tapi ini bukan Mimi yang kakak kenal." ucapnya.
"Mimi masih seperti yang dulu, cuma kalian saja yang bukan seperti Mimi kenal." jawab Mimi dengan menyindir Syahril.
"Emm ada apa sih Mi?" tanya Irsyad.
"Apa miminboleh bertanya?" tanya Mimi sembari melihat ke arah Irsyad, Ryan dan Syahril.
Irsyad pun mengangguk ragu, kak Ryan juga mengangguk ragu namun tidak lada Syahril yang hanya menunduk.
Egois ya itu yang akan Syahril lakukan saat ini, dia egois tidak ingin menceritakan kebenarannya karena yang ada dalam pikirannya hanya satu Mimi harus jadi istrinya saat ini juga, dia selalu teringat akan ucapan Simbah kalau Mimi memang mencintainya namun Mimi lebih besar mencintai keluarganya (Umma&Babah) dan keluarga Mimi sendiri dan Mimi akan memilih cinta nya pada keluarga.
Ada rasa takut si hatinya, bila dia menceritakan semua maka Mimi akan me!batalkan rencananya. Maka dari itu dia akan egois kali ini.
"Hummm huh" Mimi menarik nafasnya ketika melihat Syahril yang hanya menunduk.
"Apa kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari Mimi?" tanya Mimi dan itu membuat Irsyad maupun kak Ryan terperanjat.
Mimi melihat mereka berdua dengan tatapan intimidasi, mereka berdua berusaha bersikap tenang, Mimi hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepala.
"Kalian sama aja," ucap Mimi lagi larena mereka berdua juga akan menutup mulut sembari berdiri dan berjalan ke arah belakang Syahril.
Irsyad dan Ryan merasa was-was begitu pula dengan syahril yang berusaha menghindari Mimi agarbtidak melihat area belakang kepalanya.
Ketegangan itulah suasana saat Mimi mulai berhenti tepat di belakang Syahril namun Syahril !mengubah posisi duduknya dan menghadap ke arah Mimi, Mimi bersidekap tangan didadanya.
Mimk kembali mengitari Syahril, saat Syahril akan mengubah posisi duduknya lagi Mimi menahan tubuhnya dan menekan bahunya Syahril.
Semua hanya diam, terutama Irsyad yang selama ini selalu Mimk tanyakan keberadaan Syahril.
"Apa kalian masih mau diam?" ucap Mimi dengan sorot mata yang kecewa dan tangan maaih !menekan bahu Syahril.
"Mi.. emm" ucap kak Ryan.
''Apa?" ucap Mimi dan Ryan hanya menarik nafasnya kasar, dia tau tak selamanya bisa menutupi kebenaran dari Mimi.
"Mi." panggil Irsyad dan Mimi hanya melihatnya dengan menaikkan alisnya sebelah sambil memiringkan dikit kepalanya. Irsyad yang melihat tatapan Mimi seperti itu menjadi kelu untuk berucap.
"Asa yang bisa jelaskan dengan tatto ini?" ucap Mimi dengan menyebut bekas jahitan tersebut tatto dan menunjuk ke arah bagian jahitan tersebut.
Yah Mimi teringat akan ucapan ketiga sahabat nya subuh tadi saat Mimi akan mengantar mereka terlebih dahulu ke bandara.
flasback on bandara Jenderal Ahmad Yani International Airport.
Sebelum subuh Mimi membereskan kue-kuenya pesanan Bu Salma, Mimi memasukkan sw!ua kue tersebut pada box yang sudah Mimk siapkan dibantu oleh ketiga sahabatnya dan Syahril serta kedua sepupunya.
Setelah semua dimasukkan kedalam box, mereka bergantian !amdi dan berwudhu sebelum adzan tiba, setelah semuanya telah berwudhu mereka pun melaksanakan sholat subuh.
Sebelum mereka berangkat mengantar ketiga sahabat Mimi ke bandara, mereka pun sarapan terlebih dahulu. setelah itu mereka pun berangkat ke bandara.
Sesampainya di bandara mereka masuk untuk check in dan sebelum masuk boarding, mereka semua duduk sebentar !menikmati kebersamaan.
"Emm Mi, kak Syahril. Selamat ya buat kalian, semoga menjadi keluarga samara maaf Fia nggak bisa datang di acara kalian karena sepupu Fia juga menikah Minggu ini." ucap Selfia dengan menyalami Mimi dan memeluk Mimi dia juga mengalami syahril memberikan selamat terlebih dahulu.
"Iya Mi, kak, selamat ya. Insya Allah kalian selalu bahagia menjadi keluarga yang samawa." ujar Irma dengan menyalami Mimi dan Syahril, Irma juga memeluk Mimi.
"Selamat ha Mi, Kak. Kalian pasangan yang serasi, kalian saling melengkapi, semoga samawa. Insya Allah Tia ke Jambi kalau nggak ada halangan." ucap Muthia dengan !menyalami Mimk dan Syahril.
Saat Muthia memeluk Mimi, dia membisikkan ke telinga Mimi.
"Mi, kita ke kamar kecil yok? ada yang mau Tia bilang." bisik Muthia.
"Ya bilang aja, nggak mesti di kamar kecil juga Muth." jawab Mimi dengan berbisik.
"Nggak bisa." ucap Muthia dan melepas pelukannya.
__ADS_1
"Emm, eh kak. Titip koper Tia ya? Tia mau ke kamar kecil dahulu sebelum masuk." ucap Muthia.
"Irma iku" ucap Irma
"Fia juga" ucap Fia.
"Kita titp dulu ya kak." ucap Fia dan Irma.
"Ayok Mi, ikut kami." ajak Muthia yang berharap Mimi mengikutinya, Mimi melihat ke arah Syahril dan Syahril pun mengangguk, Mimi tersenyum dan ikut mereka ke k!arah kecil.
Sesampainya di kamar kecil, Muthia langsung mengatakan maksud yang dikatakannya tadi.
"Mi." panggil Muthia.
"Ya Muth." jawab Mimi sambil mengelap mukanya dengan tisu.
"Mi,sebenarnya kita curiga sama kak Syahril. Maaf ya ( ucap Muthia ketika melihat raut muka Mimi), Kamu lihat kan kak Syahril sewaktu datang mukanya sedikit pucat dan badan kak Syahril yang terlihat kurusan." ucap Muthia.
"Maksudnya?" tanya Mimi yang ingin Muthia mengatakan langsung.
"Emm maksudnya Mi, Fia ada melihat di belakang kepala kak Syahril ada seperti bekas jahitan." ucap Muthia.
"Iya Mi, waktu itu Fia emm kita-kita sih ( Tia menunjuk kedua temannya Irma dan Muthia ) ingin mengintegrasi kakmeyan sama Irsyad, nah Fia kebagian tugas melihat Mimi yang sedang tertidur di depan TV dan ditungguin sama kak Syahril. Saat Fia mengintip untuk melihat Mimi, tanpa sengaja Fia melihatbseperti ada goresan seperti bekas jahitan gitu dikelolanya kak Syahril." jelas Selfia.
"Jadi kita menyimpulkan kalau mimpi Mimi tentang ruangan bernuansa hijau tosca itu sepertinya benae deh, mungkin Allah ingin memberitahu ke Mimi lewat mimpi." ujar Irma.
"Emang kak Syahril nggak ada cerita sama Mimi?" tanya Selfia dan Mimi hanya menggeleng.
"Emm coba Mimi tanyakan, ya mana ada nanti pas MP tiba-tiba dia sakit kepala." ucap Selfia dengan Mimi wajah yang sok memikirkan MP.
"Heleh kamu Fi, jauh amat mikirnya. Hussss nggak usah pakek dibatalkan lagi Fi." ucap Irma dengan memikirkan kepala Selfia.
"Isss Irma ah, kannbhyar khayalan Fia hahhaa.'' ucap Selfia dengan canda dan ketiga sahabat hanya mendegus dan melihatnya malas.
Flasback off back to taman.
Mimi masih menahan bahu Syahril dan matanya melihat ke arah kak Ryan dan Irsyad.
"Masih juga nggak mau bicara jujur?" tanya Mimi.
"Dek, sini dulu." ucap Syahril dengan memegang tangan Mimi dan menyuruh Mimi kembali duduk, Mimi pun menuruti nya.
"Maaf." ucap Syahril, tatapi Mimi hanya diam.
"Luka biasa!!" ucap Mimi Dengan senyum yang tak bisa diartikan.
"Luka biasa dan harus di jahit seperti Ini, hmm luka kena bacok?" tanya Mimi lagi.
"Kenapa sekarang kakak jadi pembohong hah!" ucap Mimi sambil menggelengkan kepalanya heran akan perubahan sikap Syahril.
"Mimi bukan anak kecil, Mimk tau jahitan seperti itu biasa dilakukan oleh seorang dokter dalam operasi." ujar Mimi yang udah pasrah dengan sikap Syahril.
"Terserah, kalau masih tidak mau jujur. Ingat kota alann!e!bina rumah tangga harus ada kejujuran sekecil apa pane masalah kita harus jujur dengan pasangan kita. Kalau begini... hukum huh mikintidak tau kedepannya bagaimana." ucap Mimi dengan kepasrahan.
"Dek." panggil Syahril dan Mimk mengangkat telapak tangganya dan memejamkan matanya.
"Emm baiklah kakaak jujur. Kakak mengalami kecelakaan, kakak jatuh dari motor emm tepatnya dimtabrak dari belakang dan didepan kakak juga ada mobil yang melaju sedikit kencang." jawabnya. Mimi terperangah dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Apa kalian juga tau?" tanya Mimi kepada kak Ryan dan Irsyad. Mereka berdua pun mengangguk.
"Maaf" ucap mereka berdua, dada Mimi terasa sesak mengetahui hal tersebut.
"Apa Ummi, Abi dan yang lainnya tau?" tanya Mimi dan lagi-lagi mereka memgangguk.
"Maaf dek, kami tidak memberitahunya karena kami tidak ingin melihat Mimi bersedih." ucap Ryan.
"Apa lagi saat itu Mimi akan menghadapi ujian OSCE." ujarnya lagi, Mimi diam mengatur perasaan kecewa nya.
"Kenapa bisa terjadi?" ucap Mimi.
"Emm namanya kecelakaan dek tidak bisa di elakkan." jawab Ryan.
"Kalau kecelakaan mobil, yang luka atau memar pasti daerah depan, kenapa ini di belakang?" ucap Mimi dan bertanya kenyataan nya.
Mereka lupa siapa Mimi, Mimi yang mereka kenal adalah orang yang selalu teliti dan cermat dalam hal sekecil apapun.
Gleek mereka !enlah salivanya terasa berat.
"Em kakkak naik motor dek, Kaka hanya ntidak hati-hati dan tidak melihat kiri kanan." ucap Syahril dengan alasannya.
"Hmm Mimi tau siapa kakak. Kakak tidak akan gegabah dalam berkendara." jawab Mimi dan lagi-lagi mereka menelan Saliva berat.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Mimi.
"Ceritakan yang sebenarnya, Mimk akan mendengarkan nya." ucap Mimi lagi. Mereka semua diam begitu pula Mimi juga diam menunggu mereka berbicara jujur padanya.
Mimi melihatnke arah mereka satu persatu yang masih setia dengan diam.
Huum huh mimimmenghelakan nafasnya dan berdiri henadk pergi ke penjual minuman namun di berhentikan Syahril. Dia menyangka mimi akan pergi.
"Baik lah akan kakka ceritakan" ucapnya dan menarik Mimi untuk Didik.
"Waktu itu sehabis video call adek kakak langsung bersiap untuk pulang ke Jambi." ucapnya, Mimi masih diam.
"Waktu itu niat kakak akan pulangblangsungbkerumahbemak dan bapak." ujarnya lagi.
"Kenapa pulang kerumah Emak?" tanya Mimi.
"Emm karena Kaka berencana meminta restu emak dan bapak untuk mengajak adek menikah dengan segera." ucapnya.
"Karena kakak kan diterima oleh salah satu kampus LA dan mendapatkan beasiswa, dan kakak tidak ingin jauh dari adek." ucapnya lagi.
"Kenapa bisa kakak memutuskan begitu?" tanya Mimi heran.
"Kakak kan tau dannkita juga sudah memuat keputusan kalau kita akan meraih dan mengejar cita-cita kita dulu baru menikah. Apa kakak lupa?" ucap Mimi dan mengingatkan Syahril akan komitmen mereka berdua sebelum Mimi berangkat ke daerah ini.
"Kakak kan tau bagaimana Mimi bisa berkuliah disini, begitu panjang perjuangannya. Impian Mimi pun belum tercapai sepenuhnya." ucap Mimi lagi.
"Ada apa sebenarnya sampai kakak mengambil keputusan itu tanpa bertnya dulu pada Mimi, Apa Umma tau?" tanya Mimi.
"Kan sudah kak bilang, kakak ingin kita hidup bersama, masalah impian adek, adek masih bisa mewujudkannya. Adek bisa melanjutkan kuliah di LA, adek bisa pindah dan masalah biaya kakak bisa." ucap Syahril.
"Huum huh Mimk menghelakan nafasnya. Kakak benar-benar sudah lupa akan perjuangan Mimi. Mimi yakin, Mimk tau kakak bisa membiayainya, kalau Mimi mau dari dulu pasti Mimi ikut kakak ke pedang tak perlu Mimi memikirkan bagaiman cara nya agar emak dan yang lain menyetujui nya." ucap Mimi.
"Katakan yang sejujurnya , ada apa?" ucap Mimi dan kembali bertanya.
"Ada apa?" tanya Mimi dengan melihat ke arah Syahril.
"Emm.." Syahril akan mengungkapnya na!jn di celah oleh Ryan.
"Mi, yang penting kan Syahril baik-baik aja dan niatnya juga baik supaya kalian bisa bersatu dan tidak berjauhan. Apa lagi nanti kami jauh Mi." ucap Ryan. Mimk hanya tersenyum.
"Apa bedanya Mimi disini dan kelak kakak di LA?" ucap Mimi.
"Kenapa kalian masih ingin berbohong pada Mimi. Pasti ada hal yang membuat kak Syahril melupakan komitmennya." ucap Mimi.
"Jujur Mimi kecewa." ucap Mimk kecewa dengan mereka semua.
"Mimi harus berpikir lagi untuk meni.." ucap Mimi namun langsung dicela Syahril.
"Iya, sebenarnya kakak tidak ingin berpisah dari adek. Kakka tidak ingin ada yang menghalangi hubungan kita.'' ucapnya.
"Emm ini sebenarnya, huum huh.. Kakek mengirim WA ke kakak. Kakek ingin.." ucapnya terhenti.
"Kakek?" tanya Mimi lalu Mimi menarik nafasnya apakah ini saatnya begitulah pemikiran Mimi...
"Apa adalah perjodohan?" mimi melontar pertanyaan itu tiba-tiba dan membuat semua nya tercengang.
"Apakah waktu nya sudah tiba?" tanya Mimi lagi.
"Dari mana adek tau?" tanya Syahril.
"Kalau itu masalahnya Mimk sudah mengetahui nya dpsejak lama." jawab Mimi dengan berusaha tersenyum. Syahril hanya diam.
"Sejak kapan Mimi tau? dan siapa yang mengatakan nya?" tanya Ryan. Mimi tersenyum.
"Mimi sudah mengetahui nya sejak lama, saat masih SMA. Umma yang menceritakan nya." jawab Mimi.
"Ummaa." jawab mereka bertiga serentak.
"Hmm, iya Umma menceritakan sewaktu kita kumpul di rumah kakak menjelang ujian akhir kakak waktu itu." jawab Mimi.
"Umma meminta Mimi agar tidak lagi meninggalkan kakak dan kata Umma semenjak kenal Mimi kakak tidak lagi keluar balapan. Umma juga mengatakan sewaktu Mimi tidak Besama kakak, kakak sering murung."
"Emm padahal kan bukan mikinyang ninggalin kakak waktu itu, kakak sendiri yang menjauhi Mimk sepulang dari liburan kakak ketempat Kakek." ucap Mimi sambil mengenang masa lalunya.
"Dan disitulah Umma bercerita kalau Kakek kakak telah menjodohkan kala dengan cucu temannya. Umma juga meminta Mimi untuk tidak meninggalkan kakak dan kat Umma dia akan selalu berdoa buat kita." ucap Mimi dengan tersenyum getir.
"Kata umma dia akan berdoa agar kita diberikan pintu jodoh namun yah jodohnada si tangan Allah," ucap Mimi getir.
"Terus apa yang terjadi setelah kakak menerima WA Kakek?" tanya Mimi.
"Tak mungkin hanya WA membuat kakak tidak fokus berkendara." ucap Mimi..
__ADS_1
"Mi, emm sebenarnya emm kita lanjut di Next bab aja ya.
Assalamualaikum selamat siang.