DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Libur musim dingin (akhir tahun )2


__ADS_3

Saat ibu-ibu, janda dan para gadis melihat Mimi dan Di'ah sinis, Miki dan Di'ah cuek bebek saja. Mereka berdua tetap berdiri di depan walau berulang kali ada ibu-ibu meminta mereka berdua pergi dari sana.


"Kalian beduo ni siapo? ngapo ado disiko? kayaknyo kalian bukan urang siko." ucap ibu-ibu Yanga ada di depan aula ini.


(Kalian berdua ini siapa? kenapa ada disini? kayaknya kalian bukan orang sini?)


"Em kami memang bukan urang siko Wak, kami cuma nak nengok dokter gagah be." jawab Mimi dengan tersenyum.


(Emm kami memang bukan orang sini Wak, kami cuma mau lihat dokter tampan saja.)


"Kalu nak nengok nengok Bae, jangan kau rayu-rayu, dokter duo tu la banyak nak di jodoin samo emak-emak siko Samo anak gadisnya." ucap si ibu.


"Kalau mau lihat lihat saja, jangan kalian rayu-rayu, dokter dua itu sudah banyak di jodohkan sama ibu-ibu sini sama anak-anak gadis mereka.)


"Oo macam tu Yo Wak, apo Wak dak dengar kalu dokter duo tu la punyo bini." ucap Mimi.


(Oo begitu ya Wak, apa Wak tidak dengar kalau dokter dua itu sudah punya istri ).


"Ado la, dokter duo tu tiap kali ngucap macam tu. Tapi kami dak cayo, biso Bae dokter duo tu nyombong." ucap ibu itu.


"Ada lah, dokter dua itu tiap kali bilang seperti itu. Tapi kami tidak percaya, bisa jadi dokter dua itu berbohong.)


"Kalu dokter duo tu dak nyombong macam mano Wak?" tanya Di'ah.


(Kalau dokter dua tu tidak berbohong bagaimana Wak?).


"Kalu dak nyombong pastilah Ado Dio bawa bini Dio kesiko, ko indak ado." jawab ibu itu.


"(Kalau tidak berbohong pastilah ada mereka bawa istri mereka kesini, ini tidak ada )


Mimi dan Di'ah terus meladeni ibu-ibu itu tak lama rombongan para dokter lun mulai keluar dan menuju ke meja yang telah dipersiapkan.


Mimi dan Di'ah saling pandang dan tersenyum, mereka berdua tidak memberi kabar sebelumnya kalau mareka akan datang kesini.


Salah satu rekan dokter Syahril dan Ryan, melihat ke arah Mimi dan Di'ah, dokter itu pun terlihat menunjuk ke arah Mimi pada dokter disebelah nya.


"Dek, bukannya itu istri dan calon istri mereka berdua" ucap dokter yang melihat Mimi dan Di'ah pada sang istri.


"Yang mana kak?" tanya sang istri dan sang dokter itu menunjuk ke arah Mimi dan Di'ah.


"Nah betul itu kak, wah bakal ada patah hati sedusun kak." ucap sang istri terkekeh-kekeh.


Syahril dan Ryan yang berada disamping mereka dan mendengar mereka berbisik-bisik melihat ke arah mereka begitu pun yang lain juga melihat ke arah sepasang suami istri itu


"Kalian kenapa?" tanya rekan yang lain.


"Ops ndak apa-apa." jawab sang istri dokter itu terkekeh.


"Kalau Ndak ada apa-apa kenapa kamu tertawa?" tanya istri dokter yang lain.


"Ya bagaimana tidak tertawa, bentar lagi bakal ada patah hati sedusun." jawabnya.


"Maksudnya?" tanya yang lain. Ryan dan Syahril saling pandang tidak mengerti.


"Ya bentar lagi bakal ada patah hati sedusun." ucap istri dokter itu mengulangi.


"Ya maksudnya apa markonah." ucap istri dokter yang lain.


"Nih lihat, istri-istri dokter primadona dusun ini ada di dusun ini." ucapnya dengan menunjukan ke arah Mimi dan Di'ah berada dengan dagu nya. Sontak mereka pun melihat ke arah yang di tunjuk, termasuk pula Syahril dan Ryan.


Syahril dan Ryan melongo melihat orang yang mereka cintai ada di depan mereka bersama para warga, Mimi dan Di'ah melambaikan tangannya pada mereka berdua denagn tersenyum


"Riil, aku ndak mimpi kan?" ucap Ryan dengan mata masih melihat ke arah sang istri.


"Entahlah lah Yan, aku juga merasa sedang mimpi." jawab Syahril.


Perlakuan dua dokter muda ini sontak membuat dokter lain tertawa.


''Hahaa kalian ini, nih sini hampiri bini kalian, keburu di hakimi masa nanti." ucap rekan dokter lainnya


"Iya sana ambil ratu kalian sebelum jadi bulanan para emak-emak." ucap yang lain.


Pak kepala dusun yang mendengar serta melihat ke arah para dokter menjadi penasaran.


"Maaf ada apa ya?" tanya kepala dusun itu.


"Ok eh pak Kadus, ini pak istri mereka menyusul mereka kesini." ucap istri sang dokter.


Oak kadus beserta istri saling pandang.


"Maksudnya?'' tanya istri Kadus.


"Permisi pak, buk." ucap Syahril dan Ryan yang beranjak akan menghampiri Mimi dan Di'ah.


Mimi dan Di'ah sedari tadi akan maju namun selalu di tahan para emak-emak.


"Eh mau kemana kamu? jadi cewek itu jangan gatal ya." ucap salah satu ibu.


"Iya kalian berdua baru disini, sudah kegatalan melihat dokter itu." sahut yang lain dengan menjorokkan badan Mimi dan Di'ah.


"Eh Bu, jangan kasar-kasar ya." ucap Mimi tidak terima perlakuan mereka.


Saat ibu-ibu itu akan menarik paksa Mimi dan Di'ah, Syahril dan Ryan sudah berada disana dan menegang tangan para kekasih mereka.


"Maaf ibu-ibu ada apa ini?" tanya Syahril tajam saat calon istrinya di pegang kasar oleh mereka.


"Eh dokter, ini dokter mereka baru disini sudah mulai gatal sama dokter berdua." ucapnya.


"Maaf ibu, dia adalah istri saya." ucap Ryan dengan menarik tangan Di'ah.


"Dan ini adalah calon istri saya." ucap Syahril dengan menarik pinggang Mimi.


Mimi menyalami Syahril dan menciumi tangan Syahril, Syahril pun menciumi kening Mimi begitu pula Di'ah dan Ryan. Sontak aksi mereka membuat semua ibu-ibu disana geram dan kecewa.

__ADS_1


"Ayo dek." ajak Syahril dengan menggandeng tangan Mimi begitu pula dengan Ryan.


Saat sampai di mana lara rekan dokter berada Mimi pun menyalami mereka semua termasuk bapak dan ibu Kadus nya.


"Pak kenalin ini Mimi akifah calon istri saya." ucap Syahril memperkenalkan Mimi pada petinggi dusun ini.


"Dan ini adalah Siti Badriah istri saya." ucap Ryan.


Mimi dan Di'ah menyalami mereka dan tersenyum hangat pada mereka berdua.


"Oo jadi ini istri-istri kalian, kenapa tidak ikut kesini?" tanya pak kadus ramah, beda dengan sang istri.


"Emm kami berkerja pak, jadi tidak bisa ikut." jawab Di'ah.


"Ok kalian kerja juga, kerja dimana?" tanya sang istri Kadus.


"Mereka berdua kerja di luar negeri pak buk." jawab istri dokter yang melihat Mimi tadi.


"Ooo jadi kalian TKW" ucap istri Kadus dengan menekankan kata TKW.


"Iya Bu" jawab Mimi.


"Babu dong. Wah dokter Syahril dan Ryan tidak level dong punya istri babu orang." ucap si ibu Kadus yang memakai perhiasan sebesar rantai


kapal.


Syahril dan Ryan merasa istrinya dihina hendak membalas omongan ibu Kadus itu namun Diah maupun Mimi menahan nya.


"Iya Bu, kami babu. Kami babu menolong masyarakat yang membutuhkan tenaga kami." jawab Mimi dengan tersenyum.


Saat Bu Kadus ingin menjatuhkan Mimi dan Di'ah lagi, ada seorang ibu-ibu tergesa-gesa mendekati mereka dengan menggendong anaknya.


"Dok, tulong anak Sayo dok." ucap si ibu.


(Dok, tolong anak saya Dok) semua dokter pun melihat ke arah si ibu dan anak itu.


"Loh anak ibu kenapa lagi?" tanya istri dokter yang berprofesi bidan itu.


"Apa anak ibu capek-capek lagi?" tanya sang suami yang merupakan dokter anak.


"Iya dok, kemarin dia mandi di sungai sama teman-teman nya.


Mimi melihat ke arah sang anak yang bibirnya sudah membiru.


"Awas kak." ucap Mimi daknlangsung memeriksa si anak.


Mimi pun menanyakan tentang si anak lada dokter dan si ibu.


"Anak ibu ini terkena jantung, lebih baik langsung di bawa kerumah sakit.'' ucap Mimi.


"Kak, langsung infus dan beri oksigen." ucap Mimi,


Mimi membuka pakaian si anak yang tebal itu agar si anak mudah bernafas.


"Iya dok, dia sering mengeluh sakit di bagian dada kirinya." Jawab si ibu.


"Sejak kapan Bu?" tanya Mimi.


"Sudah satu tahun ini dok." jawab si ibu.


"Apa ibu pernah bawa kerumah sakit?" tanya Mimi dengan terus mendeteksi jantung si anak dengan alat Mimi yang dia bawa.


"Dulu pernah dok," ucap sang ibu.


"Terus apa dokter nya bilang." tanya Mimi.


"Katanya anak saya terkena jantung bocor." jawabnya.


"Hmm sudah saya duga." ucap Mimi.


"Hei kamu itu hanya babu , ngapain kamu periksa anak orang." ucap ibu Kadus.


Istri dokter yang melihat Mimi tadi menjadi geram dengan sikap sombong sang ibu Kadus.


"Maaf ya Bu, orang yang ibu bilang babu itu adalah dokter, Dia adalah dokter spesialis jantung." ucap dokter Maya.


"Halah, mana mungkin dia bilang saja dia kerja di luar negeri sebagai TKW.


Mimi hanya diam dan terus berupaya membantu si anak yang.


"Iya dia memang TKW di luar negeri karena dia berasal dari negara kita. Bukan berarti dia babu seperti yang ibu katakan. Dia adalah pemilik dari rumah sakit di Amerika." ucap dokter Maya.


"Kak" panggil Mimi, dokter Maya pun melihatnya dan Mimi menggeleng.


"Halah palingan dia cuma jadi tukang sapu atau ngepel saja." ucap ibu Kadus.


"Mak" ucap pak Kadus merasa tidak enak hati.


"Sudah, jangan diperdebatkan. Yang penting bagaimana caranya bawa anak ini segera kerumah sakit untuk di tindak lanjuti." ucap Mimi melerai mereka semua.


"Anak ini memang punya riwayat penyakit jantung mi, kemarin kakak minta sama ortunya untuk membawa segera ke rumah sakit kota." ucap dokter Farhat.


"Iya kak, anak ini harus segera di operasi." jawab Mimi.


Orang tua si anak mendengar kata operasi menjadi tak karuan, mereka terus menangisi nasib anak mereka.


Kedua orang tua si anak sudah sedari setahun lalu di pinta dokter untuk melakukan tindakan operasi namun mereka tidak menyetujui semakin terbentur biaya mereka juga memiliki seorang anak yang tidak bisa di tinggal lama-lama.


"Tapi dok." ucap si ibu denagn tatapan sendu.


"Masalah biaya nanti kita bicarakan, ala ibu punya kartu kesehatan gratis dari pemerintah?" tanya Mimi dan mereka menggeleng.


"Mereka disini bekum ada yang punya dek, baru kemarin kakak ajukan ke kekecamatan setempat." ucap Syahril.

__ADS_1


"Emm yang penting nyawa anak ini duku. Disini ada ambulance kan kak?" tanya Mimi.


"Ada cuma lagi dipakek untuk ambil obat subuh tadi Dok." ucap kepala puskesmas dusun ini.


"Oo emm yaudah kita pakek mobil yang Mimi catar tadi aja."


"Ih iya ibu atau bapak pulang ambil barang-barang yang perlu di bawa, pakaian bapak, ibu dan anak ibu." ucap Mimi.


"Tapi dok." ucap mereka yang merasa enggan.


"Masalah biaya saya bilang nanti kita bicarakan, sekarang nyawa anak ibu yang terpenting." jawab Mimi.


"Andai disini lengkap peralatan saya bantu disini buk, cuma disini ibu tau sendiri." ucap Mimi.


"Pak bapak saja yang pulang ambil pakaian ibu, bapak dan anak bapak." ucap Mimi dan sang suami pun mengangguk langsung beranjak.


Menjelang si bapak anak tiba, Mimi meminta Diah untuk menurunkan barang-barang mereka tadi.


"Di'ah barang-barang tadi turunkan saja, emm"


"Kak, sekalian aja bawa ke rumah." ucap Mimi pada Ryan.


"Iya, em tapi koper Mimi jangan ya," ucap Mimi, Diah menganggukkan kepala dan terus berlaku menuju mobil bersama Ryan untuk menurunkan barang-barang mereka.


Tak lama bapak si anak alun tiba dan mereka pun menunggu mobil yang sedang membawa barang-barang Mimi dan Di'ah ke rumah dinas Syahril dan Ryan.


Saat menunggu datang lagi bapak-bapak yang juga terengah-engah nafasnya, Mimi yang membantu tim dokter lain pun ikut memeriksa warga.


Miki mengeluarkan peralatan dari tas yang selalu di bawanya.


Mimi mengeluarkan stetoskop serta alat medis lainnya untuk membantu tim dokter lain.


istri pak Kadus melihat Mimi mengeluarkan peralatan kedokteran dari dalam tas nya baru percaya jika orang yang di hina nya adalah seorang dokter.


Ibu-ibu yang awalnya membenci Mimi sekarang hanya diam membisu, apa lagi melihat Mimi dengan cekatan membantu dokter lain.


"Mi." panggil dokter Maya.


"Iya kak.'' ucap Mimi.


"Coba kamu periksa bapak ini," ucap nya dan Mimi pun segera mengambil alih dan langsung memeriksanya, Mimi juga bertanya perihal sakit yang di idap si bapak.


"Emm bapak ini juga harus segera di periksa di rumah sakit kota pak." ucap Mimi pada bapak yang sudah paruh baya itu.


"Tapi ke kota jauh nak." ucap si bapak.


"Bapak punya anak?" tanya Mimi dan si baoak menggeleng sedih.


"Sayo cuma tinggal Samo bini Sayo." ucapnya dengan menunjuk sang istri yang ikut memeriksakan diri.


(Saya cuma tinggal bersama istri saya)


"Terus anak bapak kemana?'' tanya Mimi.


"Entahlah nak e, semenjak Dio orang punyo gawean dak pernah lagi balek." ucap si bapak.


"(Entah lah nak, semenjak dia punya kerjaan tidak pernah pulang)


Mimi mengangguk mengerti, ada rasa sedih di hati Mimi melihat orang tua yang sudah terbilang renta hanya tinggal berdua bersama istri maupun suami nya.


Mereka punya anak namun serasa tak pernah memiliki anak, anak yang sudah mereka besarkan penuh kasih sayang dengan mudahnya melupakan mereka disaat mereka membutuhkan mereka untuk merawat mereka.


"Bapak sama ibu ikut saya ke kota nanti ya." ucap Mimi.


"Kita periksa kesehatan bapak di sana." imbuh Mimi dengan memegang lengan bapak.


"Tapi nak, kami ndak ado duet kalu nak berobat ke rumah sakit besak." ucap si bapak.


(Tapi nak, kami tidak punya uang kalau berobat ke rumah sakit besar / rumah sakit kota)'


"Masalah biaya nanti kita pikirkan ya pak, sekarang lebih penting kesehatan bapak. Nah itu mobilnya sudah ada." ucap Mimi dan menunjuk ke mobil yang sudah ada di balai dusun.


"Emm pak Kadus apa saya boleh meminta surat keterangan tidak mampu buat bapak dan ibu ini serta anak ibu ini?" tanya Mimi.


"Ya bisa dok, sebentar saya buat kan." ucap si Kadus dan langsung menuju kantor nya serta langsung membuat surat keterangan tersebut.


Tak lama Kadus pun memberikan surat itu, Mimi mengambilnya.


"Oh ya pak, kantor desa atau kantor lurahnya dimana? karena saya juga butuh tanda tangan kepala desa nya." ucap Mimi.


"Kantor desa atau lurahnya di perjalanan tak jauh dari kantor camat." ucap pak Kadus.


"Oh baiklah, makasih sebelumnya pak." ucap Mimi.


"Oh ya, saya perlu dokter yang bertugas disini untuk menemani saya kerumah sakit." ucap Mimi.


"Wah kalau itu kita tidak berani m nawarkan diri Mi hahaha" ucap dokter laki-laki lainnya.


"Yaudah ayo biar kakak temani, kak aku izin dulu ya." ucap Syahril dan meminta izin pada yang lain.


"Siip, hati-hati." seru dokter lainnya.


Mimi dan Syahril pun membawa pasiennya menggunakan mobil travel, beruntungnya mobil yang Mimi sewa kemarin berupa minibus APV jadi masih muat untuk mengangkut Mimi dan yang lain.


Sebelum mereka menuju kota mereka mampir duku kerumah si bapak untuk mengambil pakaian nya, kemudian mereka melanjutkan menuju kantor desa dan camat untuk melengkapi data pasiennya.


Sore hari barulah mereka sampai, Mimi langsung membawa pasiennya ke ruang UGD, kak Syahril membantu mengurus administrasi.


Di ruang UGD pun semkatbyeejadi perdebatan antara Mimi dengan dokter jaga disana.


Apa yang diperdebatkan kita lanjut next bab.


tbc

__ADS_1


__ADS_2