
Sehabis dari ruangan khusus rapat rektor, Mimi beserta ketiga sahabat beserta duo Ummi nya dan mbak Aish tak lupa Irsyad pun ikut serta begitu pula dengan ketiga sahabat cowok Mimi.
Mereka semua berjalan menuju Kangin Bu Ruminah untuk bersantap makan siang. Bu Ruminah melihat sosok Mimi yang dia duga ikut dalam tragedi itu pun tersenyum haru.
Bu Ruminah berjalan perlahan mendekat ke arah Mimi, dia menangis haru sambil memegang wajah Mimk dengan kedua tangannya.
"Ya Allah mbak Mimi." ucapnya dengan deraian air mata harunya.
"Iya Bu Rumi, apa kabar?" tanya Mimi.
"Alhamdulillah ibu baik mbak, ya Allah terimakasih ya Allah." ucapnya dengan memeluk Mimi.
Interaksi antara Mimi dan Bu Ruminah membuat sebagian yang berada di Kangin ikut terharu begitu pula dua Ummi Mimi.
"Ya Allah nak, semua orang ikut bahagia dan terharu melihat dirimu kembali." gumam Ummi Fatmah dalam hati melihat Bu Ruminah memeluk Mimi.
Tak hanya Bu Ruminah, ibu-ibu kantin yang lain sagu kantin pun begitu, mereka semua terharu bahagia. Namun di balik kebahagiaan sebagian orang ada beberapa orang yang tidak ikut bahagia bahkan mereka menyesalkan kenapa Mimi maaih hidup.
"Kenapa dia masih hidup sih." pikir jahat Syifa teman sebimbel Mimi namun beda fakultas.
"Begitu banyak orang bahagia melihat dia masih hidup, apa hebatnya dia." ucap orang yang juga syirik terhadap Mimi bagitu banyak pula orangbyangbtidak menyukai Mimi mencibir Mimi di dalam hati mereka.
Dillah dan ketiga sahabatnya ikut bahagia melihat bapegitunbanyakmorang peduli pada Mimi. Ingin rasanya Dillah berlari mendekat dan memeluk Mimi, tetapi itu hanya ada pada benak nya saja yang belum bisa menggapai Mimi seutuhnya.
Para Abi ikut serta dengan bapak Basarnas dan bapak polisi menuju dinas Basarnas untuk melihat barang korban yang belum teridentifikasi.
"Ada berapa lagi pak barang yang belum teridentifikasi?" tanya Abi Arsyad pada bapak Yahya selaku ketua tim Basarnas.
"Masih lumayan banyak pak, karena yang kita dapat mayat korban hanya 70% nya saja dan mayat korban juga sudah teridentifikasi dan di ambil pihak keluarga." terang bapak Yahya.
"Oh gitu," ucap Abi dan takmlama mereka pun sampai dan mereka pun turun dari mobil. Sepanjang jalan menuju ruangan khusus barang-barang korban yang belum teridentifikasi, Abi dan pak Yahya saling bercerita.
Pak Lutfi selalu pihak daei kepolisian juga sudah di mengintruksi anak buahnya untuk ikut serta ke tim Basarnas. Setelah mereka sampai mereka semua langsung membuka barang-barang yang masih tersisa dan mencari identitas.
Pak Lutfi juga sudah menghubungi anak buahnya dimbagian pengaduan menanyakan apa ada pengaduan orang hilang dalam tiga Minggu ini khususnya dengan nama yang disebut Mimi.
Saat pak Lutfi, pak Yahya serta Abi Arsyad dan Abi Risyad berbincang masalah korban yang tidak terdaftar di penerbangan, datang seorang anak buah pak Yahya mengantar sebuah mal dan menyerahkan pada pak Lutfi.
"Siap Ndan, ini berkas yang namanya sesuai dengan apa yang komandan katakan." ucap si anak buah pak Lutfi dengan menyerahkan satu map berwana biru.
"Oke terimakasih." jawab pak Lutfi dan menerima map tersebut.
Pak Lutfi membuka mapnya dan membaca identitas orang hilangbyang sedang di cari keluarganya.
"Pak Arsyad, nama ini sesuai dengan apa yang dikatakan keponakan bapak." ucap pak Lutfi dan memperlihatkan lembaran laporan itu pada abo Arsyad.
Abi Arsyad menerima map itu dan membaca identitas yang tercatat disana.
"Emm bener pak, identitas yang tercatat namanya sama dengan yang Mimi katakan. Foto.." jawab Abi Arsyad dan memegang sebuah foto.
"Mas bukan nya tadi Mimi bilang ada berfoto sama korban sebelum berangkat. Kita coba apa mereka berfoto pake HP Mimk atau tidak." ucap Abi Risyad.
"Iya dek, coba kamu Telpon dia." titah abi Arsyad dan Abi Risyad oun segera menelpon Mimi namun berulang kali dia nelpon nomor Mimi tidak tersambung.
"Gimana dek?" Tanya abi Arsyad.
"Nggak nyambung mas." jawab Abi Risyad.
"Coba telpon Fatimah atau Aish." ucap Abi Arsyad.
"Emm ok mas." jawab Abi Risyad dan segera menghubungi nomor sang istri. Sedang abi Arsyad masuk kedalam ruangan untuk mengecek barang korban yang sudah ditemukan oleh salah satu anggota pak Lutfi.
"Assalamualaikum BI, ada apa?' ucap Ummi Fatimah menerima telpon sang suami.
"Waalaikum salam, Ummi masih bersama Mimi nggak Mi?" jawab Abi Risyad dan bertanya pada sang istri.
"Ada BI, nih kita lagi makan bersama di kantin kampusnya. SOP nya enak BI, Abi mau Ummi belikan?" ucap Ummi Fatimah dan menawarkan SOP pada Abi Risyad.
"Oh boleh Mi, oh ya Mi tolong bilang ke Mimi apa dia ada nyimpan foto yang gantiin tiketnya." ucap Abi Risyad.
"Bentar BI, Ummi tanyakan." jawab Ummi Fatimah. ummi Fatimah pun segera bertanya pada Mimi.
"Mi, apa Mimk ada fotonya si Mini itu?" tanya Ummi Fatimah.
"Ada Ummi, nih di HP Mimi." jawab Mimi dengan menunjuk ke HP nya.
"oh ya udah bentar," ucap Ummi Fatimah dan kembali ke sambungan telponnya.
"Hallo Bi,' ucap Ummi Fatimah.
"Iya Mi, gimana? " tanya Abi Risyad.
"Kata Mimi asa Bi, emang nyata apa Bi? " ucap Ummi Fatimah.
"Kalau gitu tolongbkirim ke wa Abi nya Mi, Abi tunggu segera." jawab Abi Risyad.
"Oh ok BI, nanti umminpinta Mimi kirim ke nomor Abi langsung.' ucap Ummi Fatimah.
" Ok mo, Abi tunggu. Udah ya Mi Abi mau masuk kedalam keuangan assalamualaikum " ucap Abi Risyad dan berpamitan.
__ADS_1
"Waalaikum salam.'" jawab Ummi Fatimah, panggilan pun terputus.
"Mi, kata Abi tolong kirim ke WA nya Abi." ucap Ummi Fatimah.
"Abi siapa Mi?" tanya Mimi lagi.
"Abi Risyad." jawab Ummi.
"Oh ok, Mimi kirim sekarang." jawab Mimi dan langsung mengirim foto ke WA Abi Risyad.
Abi Risyad pun menerima foto itu dan Abi Risyad melihat nomor yang mengirim nomor yang gak dikenalnya. Abi Risyad bergabung dengan yang lain.
"Gimana dek?'' tanya Abi Arsyad ketika melihat Abi Risyad sudah !asukmkedalam ruangan.
"Udah mas, ini fotonya. Cocok nggak mas dengan foto di laporang orang hilangnya.
Abi Arsyad mengambil ponsel abo Risyad dan menunjukan ke pak Lutfi, mereka pun mencocokkan foto terakhir korban dengan foto yang ada di laporan orang hilang serta KTP yang mereka temukan. Beruntungnya foto KTP yang mereka temukan tidak hilang gambar serta namanya. Karena ktp serta barang identitas lainnya korban masukkan kedalam plastik kedap udara.
Setelah mencocokkan satu sama lain bukti yang ada, mereka pun menyatakan kalau yang jadi korban telah ditemukan identitasnya.
Dengan pembuktian ini pihak polisi pun membuat laporan jika orang hilang ini termasuk dalam data daftar korban tragedi kecelakaan pesawat.
Pihak polisi juga langsung menghubungi pihak keluarga mereka. Pihak keluarga pun akan langsung datang ke temlag tim Basarnas berada untuk mencocokkan kembali buktinuanh ada dengan pihak keluarga.
Abi Arsyad menelpon Ummi Fatmah dan meminta Ummi Fatmah mengajak Mimi ikut serta datang ke tempat gim Basarnas karena pihak keluarga korban juga akan segera datang.
Ummi Fatmah pun mengajak Mimi dan yang lain pergi ke tempat tim Basarnas. Sesampainya disana Mimi merasa sesak ketika melihat disana sudah ada pihak keluarga korban.
Mimi berjalan mendekati pihak keluarga dengan membawa ransel yang tertukar.
"Mi, sini nak." ucap Abi Arsyad untuk mendekat dengannya.
"Bi, apa mereka keluarga dari mbak Mini?" tanya Mimi pada abi Arsyad.
''Iya nak, mereka orangtuanya seeta kakak korban dan tunangannya." jawab Abi Arsyad. Mimknberanjak dari duduknya dan berjalan mendekati orang tua korban telat nya ibu dari mbak Mini yang menangis histeris karena telah mengetahui jika anaknya yang hilang beberapa Minggu ini adalah termasuj korban dari kecelakaan pesawat.
Mimi berjongkok di hadapan wanita parubayah yang merupakan ibu korban. Mimk juga ikut menangis, Mimi menangis merasakan bagaimana emaknya yang menangis ketika mendengar kabar dirinya telah tiada yang merupakan penumpang pesawat itu.
"Bu.." panggil Mimi dengan memegang tangan wanita paruh baya yang di oelukmoleh suaminya.
"Maafkan Mimi Bu.. Maafkan Mimi.." ucap Mimi tak tahan dan merasa bersalah.
"Mi," panggil Ummi Fatmah dan memeluk Mimi untuk !menguatkan Mimi.
"Maafkan Mimi buk, jika Mimi tisakmmembeeikan tiket Mimi pada mbak Mini hiks hiks mungkin hiks mbak Mini masih bersama kalian saat i ni..huhuhu" ucap Mimi dengan tangisan.
"Kamu ndak salah nak." ucal si ibu dengan memegang tangan Mimi.
"Ini mungkin sudah takdirnya huhuhuhu, cuma obuntodakmbia melihat jasadnya, ya Allaaaah anakku.." ucap si ibu dengan kembali !enagis histeris.
"Anaaak ku, anakku piiiii.. Mini kita piii aaa aaa huhuhuhu anakku." ucap si ibu.
"Sabar Mi, sabar." ucap si bapak.
"Bu, pak, hiks ini tas mbak Mini. Tas nya tertukar dengan tas punya Mimi." ucap Mimi dan memberikan tas ransel tersebut lada orang tua mbak Mini.
Ibu mbaknmini lun menerimanya dan memeluk tas tersebut sembari berteriak memanggil apnama anaknya..
"Miniiiiii anakkuuuuu." ucap si ibu kemudian si ibu tak sadarkan diri, pihak keluarga lainpun mengangkat si ibu dan membawa nya ke rumah sakit. Mimi ikut mengantar nya samalainempay ke rumah sakit.
Si ibu langsung di bawa ke ruangan UGD untuk di tindak lanjuti. Kami semua menunggu di luar ruangan.
"Apa kamu mengenal dengan Minj?" tanya seseorang yang tiba-tiba berada di samping Mimi.
"Tidak mas, kami kenal sewaktu di bandara saja." jawab Mimi.
"Kenalkan aku Bima tunangannya Mini." ucaonya memperkenalkan diri nya.
"Saya Mimk mas." ucap Mimi dengan !menerima ukuran tangannya.
"Terimakasih kamu telah membantunya dengan memberikan tiket." ucapnya lirih.
"Tidak mas, jangan berterimakasih. Justru saya merasa bersalah dengan memberikan tiket saya pada mbak mini." ucap Mimi.
"Tidak, saat dia menelpon dia mengatakan kalau dia telah mendapatkan tiket dari kamu, dia juga menyebut namamu, dia bahkan sangat berterimakasih saat kamu ingin menyerahkan tiket kamu waktu itu. Dia bilang dia rela mengeluarkan uang banyak buat tiket kelas mewah sekalipun asal dia bisa segera pulang untuk melihat utinya." ucap si tunangan Mini.
"Saat dia menceritakan itu dia sangat bahagia. Bahkan saat diakhir telpon dia mengatakan tolong jaga uti nya, dia akan segera pulang." Bika terus bercerita.
"Tapi kehendak Allah berbeda, dia memang pulang tapi pulang kepangkuan allah, keesokan harinya uti pun menghembuskan nafas terakhirnya." ucap Bika dengan menyeka air mata nya.
"Tapi yang kami sesalkan, kami tidak bisa mengunjungi makamnya bila ingin berziarah, hanya untaian doa yang bisa kami berikan untuknya." ucap sang kakak perempuan dari mbak Mini.
"Ma maafkan Mi Mi " ucap Mimi yang juga ikut menangis.
"Tidak dek, kamu tidak salah. Ini sudah takdir illahi." jawab si kakak perempuan mbak Mini.
"Makasih ya dek." ucap si kakak perempuannya
"Tidak mbak, jangan ucapkan terimakasih." ucap Mimi dengan menggeu kepala. Tak lama dokter pun keluar dan menyatakan kalau si ibu hanya shock dan dehidrasi dan si ibu pun di rawat.
__ADS_1
Setelah si ibu letakkan di kamar rawat, Mimi oun menemuinya dan meminta maaf.
"Bu, sekali lagi maafkan Mimi." ucap Mimi dengan deraian air mata.
"Ndak nak, kamu tidak salah apa-apa." jawab si ibu dengan memeluk Mimi.
Setelah berbincang-bincang, Mimi dan yang lain pun pamit.
"Bu kalau gitu kami pulang dulu. Ibu istirahat yang banyak, jangan banyak pikiran isnya Allah mbak mini diterima Allah SWT atas segala amal kebaikan nya." ucap Mimi berpamitan.
"Terima kasih nak." jawab Mimi.
"Kalau gitu kami pamit dulu, assalamualaikum." ucap Mimi.
"Waalaikum salam." jawab mereka.
Mimi pulang bersama mbak Aish dan Irsyad, sedangkan Ummi bersama Abi. Sahabat Mimi pulang bersama Riko dan Dimas.
Mimi di ajak pulang kerumah ummi Fatmah, sahabat-sahabatnya Mimk juga di ajak ke rumah Ummi Fatmah oleh Ummi. Mereka pun berkumpul kembali di rumah Abi Arsyad.
Tak henti-hentinya mereka mengucapkan syukur atas keselamatan Mimi. Mimi juga beruntung memiliki keluarga seperti mereka yang masih peduli dengan dirinya walau Mimk tidak jadi menjadj bagian keluarga mereka.
"Ummi, abi. Makasih banyak ya." ucap Mimi lada djo Ummi dan abinya.
"Makasih buat apa nak?" tanya Abi Arsyad.
"Makasih kalian maaihnlwduli sama Mimi." ucap Mimi.
"Jangan berterimakasih, walau bagaimana pun kamuntetao anak Ummi." ucap Ummi Fatmah.
"Iya nak, kamu tetap bagian keluarga Abi." ucap Abi Arsyad, Mimi menangis haru dan memluk Ummi fagimah dan ummi Fatimah.
"Terimakasih, Mimi sangka Mimk akan menjadi orang asing bagi kalian, Mimk sangka Mimk akan seorang diri tanpa ada kalian. Terimakasih Ummi terimakasih." jawab Mimi dengan tangisan dalam dekapan kedua umminya.
"Kamuntetao anak Ummi sayang. Kami menyayangi mu. Jangan pernah kamu anggap kami orang asing, kamu tidak sendirian nak, ada kami disini untuk kamu." jawab Ummi Fatimah dengan mengelus punggung Mimi.
"Mimi juga ucap terimakasih buat kalian, kalian sahabat-sahabat Mimi yang sanagt Mimi sayangi." ucap Mimi seraya memeluk mereka bertiga.
"Kita nggak gitu Mi?" ucap Riko, Mimk tersenyum.
"Kalian juga sahabat yang sangat Mimi sayangi, terimakasih kalian peduli sama Mimi." ucap Mimi.
"Mi.." panggil Abi Risyad.
"Iya Bi." jawab Mimi.
"Tadi seqakgunkamu kirim foto pakai nomor siapa?" tanya Abi Risyad yang baru teringat akan nomor ponsel.
"Hehee itu nomkr Mimk yang baru Bi." jawab Mimi dan Abi hanya ber o ria.
"Sejak kapan Mi, kamu ganti nomor?" tanya Irsyad.
"Sajak hari ini sebelum ke kampus mampir di APU Cell" jawab Mimi.
"Selama ini HP kamu kemanain Mi, kok kami hubungi ndak nyambung-nyambung?" tanya Muthia.
"Asa kok Muth, HP Mimi taruh di atas meja aja dan baru semalam Mimi cas." jawab Mimi dengan senyum lebarnya.
"Le elee..'' ucap mereka semua.
"Apa kamu sudah hubungi emak lagi Mi. " tanya Selfia mengingatkan Mimk hanya menggeleng.
"Belum, Fi." jawab Mimi.
"Kamu tuh ya Mi, mau jadi anak durha kamu. Usah berminggu-minggu nggak hubungi emak sekarang juga tidak hubungi. Kamu tau nggak.. Kalau dilihat ibunya mbak Mini tadi itu seperti emak yang mendengar kabar kamu tau!!" ucap Selfia kesal dengan Mimi.
"Iya Fi, nih Mimi hubungi emak." jawab Mimi.
"Dan satu lagi kamu masih ada hutang penjelasan." ucal Selfia.
"Hah penjelasan apa lagi?" tanya Mimi.
''Kemanaa aja kamu selalu!a tiga Minggu ini? " tanya Muthia dengan menatap Mimk tajam,.
"Oo itu, emang Mimk belum jelasin ha.. hehe sorry" ucap Mimi.
"Yaudah jelasin ke kita." ucap Irsyad dengan mentoel kening Mimi.
"Iss Icad, guh tangan ngak bisa si kondisikan apa toal toel." ucap Mimi.
"Ayo Mi.. buruan." ucap Irma yang juga ikut penasaran.
"Iya sabar ntar aja ya habis Mimi telpon emak." jawab Mimi dan beranjak berdiri menjauh dari mereka.
Mimi berjalan menuju taman belakang, miminoun mengubungi nomo emak dengan nomor barunya. Mimi berulang kali meminta
maaf pada emaknya, emak yang mendengar suara anaknya lun menangis diseberang sana, tak hanya emak terdengar jjgd suara Nyai dan yang lain nya juga ikut menangis.
tbc
__ADS_1