
Emak yang juga terdiam ikut bingung memutuskan karena semua salah niat baik namun segala sesuatu hanya Allah lah yang maha mengatur kehidupan manusia di muka bumi ini.
Emak berulang kali menarik nafasnya, kadang emak merasa kasihan atas kehidupan anaknya yang seolah terlalu berliku-liku untuk menuju kebahagiaan.
"Ya Allah kenapa begitu besar ujian dalam kehidupan anak-anak ku." ucap emak lirih dalam hatinya.
"Hamba juga tidak tau harus mengambil keputusan apa." ucap emak lagi.
Emak kembali merenungkan diri, dalam seminggu ini sebenarnya dirinya dan kedua Syahril sudah merencanakan semua untuk resepsi terbaik buat anak-anak nya.
Namun setiap jalan yang mereka tempuh selalu ada hambatannya.
Awal niat mereka hanya ijab kabul, setelah Mimi selesai ujian baru mereka akan melaksanakan resepsi.
kArena mereka memiliki keluarga besar maka keputusan tidak serta merta mereka ambil sendiri.
Mereka pun berembuk antar dua keluarga, ala lagi mereka mengetahui Mimi ambil cuti libur nya sampe 3minggu jadi mereka memutuskan kalau tidak hanya akad saja melainkan sekalian resepsi, toh ujian Mimi tinggal dua bukan lagi begitulah pemikiran mereka sebelumnya.
Saat menghubungi mereka minggu itu dan Mimi juga setuju maka mereka semakin semangat dan saat menerima persetujuan itu mereka Kun segera menuntaskan rencana mereka sebelumnya.
Tapi rencana hanya bisa menjadi sebuah planning. Saat mereka menjalankan selaku ada hambatan.
Dari hotel serta balairoom yang telah mereka rencanakan ternyata sudah di booking hingga dua Minggu kedepan.
Ya walau hotel itu sebenarnya milik Afkar, namun afkar tidak bisa langsung meng cancel orang lain demi kepentingan keluarganya apa lagi orang tersebut sudah membooking jauh-jauh hari.
Afkar pun membantu cari hotel mitra kerja nya namu sama saja semua sudah di booking.
umma dan Babah tak hanya bingung dengan masalah hotel namun mereka juga di bingungkan WO nya yang mana juga telah penuh jadwal hingga tiga Minggu kedepan.
sebenarnya ada Wo lain cuma WO tersebut tidak mempunyai kriteria yang las di hati mereka.
Tak hanya itu saja mereka juga mendapatkan hambatan di KUA, urusan mendaftar mereka lancar namun urusan buat akad lagi-lagi tersendat.
Apa lagi mereka mendaftarkan baru hari senin kemarin.
"Ya Allah apakah dengan langkah kami yang selalu kendala merupakan jawaban darimu." ucap emak dalam hati kala mengingat kendala-kendala yang mereka hadapi hingga saat ini.
"Jadi" ucap emak lagi.
"Mimi terserah dengan keputusan kalian. Mimi tidak ingin membuat kalian kecewa lagi" ucap Mimi pasrah.
Mimi harus mengambil keputusan yang mendesak itu, akhirnya mengambil keputusan yang membuat kecewa dirinya sendiri.
Mimi tidak peduli seberapa kecewa dirinya asal kan orang-orang yang dia sayangi tidak kecewa lagi.
"Dan kami Riil?" tanya emak pada Syahril yang hanya diam. Terlihat Syahril menarik nafasnya dalam.
"Syahril bicara duku sama umma dan Babah." jawabnya, dia juga tidak mau gegabah mengambil keputusan.
Melihat Ryan terbangun, Ryan pun mengajak Syahril untuk pulang karena mereka juga akan pergi ke kantor dinas segera.
"Riil, balik yok." ucap Ryan.
"Hmm" jawab Syahril.
"Emm Mak, Ariil pulang dulu karena Ariil mau ke kantor dinas siang ini." ucap Syahril.
"Iya nak." jawab emak.
"Kak, bawa saja mobilnya." ucap Mimi.
"Emm. RIli." panggil Syahril pada Ari adik Mimi.
"Iya bang." jawab Ari.
"Bisa bawa mobilkan?" tanya Syahril.
"Bisa bang." jawab Ari.
"Tolong antar Abang ya." ucap Syahril.
"Antar?" tanya Ari bingung.
"Iya, ini mobil Mimi jadi tolong antar bang ke sebrang ya." ucap Syahril.
Ari melihat ke arah Mimi dan Mimi menganggukkan kepala.
"Em yaudah bang, ayo" ucap Ari dan mereka pun berpamitan dan segera pulang.
Di rumah Mimi yang masih diam dan lebih banyak melamun di perhatikan eh emak nya.
Emak mengerti bagaimana perasan Mimi saat ini. Antara cita-cita yang telah dia rencanakan atau memupuskannya dan mengulang setahun kedepan.
"Apa keputusanmu nak?" tanya emak dengan menepuk Mimi yang memandang kosong ke arah jalan yang telah tiada mobil berada.
Miki masih diam dan dia kembali masuk kedalam rumah dan duduk di atas ambal berbulu nya
"Menurut emak kayak mana?" tanya Mimi sembari memeluk Batak yang di peluk Syahril tadi. Aroma parfumnya Syahril yang melekat di bantal itu membuat Mimi merasa tenang.
Sebelum Mak menjawabnya Mak dusun seraya memegang tangan anak gadisnya yang kebingungan.
"Ikuti kata hatimu, jangan ambil keputusan yang akan membuat mu menyesali nya." ucap emak, Mimi melihat ke arah emaknya namun tiba-tiba air mata nya luruh.
"Kalau Mimi ikuti kata hati maka Mimi mamatahkan harapan kalian dan mengecewakan kalian la lagi." ucap Mimi dengan deraian air mata
__ADS_1
"Keputusan ini memang sulit nak, keduanya merupakan bagian dari dalam perencanaan mu. Namun siapa sangka perencanaan itu datang secara bersamaan." ucap emak.
"Semua adalah bagian dari cita-cita terbesarmu, tapi dengan datangnya secara bersamaan seperti ini maka membuat hati mu bimbang."
"Jujur emak bahagia kala mendengar ujianmu dipercepat jadi tidak menunggu dua bukan kedepan. Tapi emak juga bingung jika ternyata percepatan waktu itu hanya hitungan hari."
"Sekarang hari Rabu, besok sudah Kamis." ucap emak dengan tersenyum pilu pada anak gadisnya.
"Perjalanan Jambi ke LA hampir dua hari," ucap emak memprediksi jarak waktu.
Mimi bingung kenapa emaknya berkata seperti itu.
"Jika kamu memilih untuk mengambil ujian ini maka waktu nya tidak banyak."
"Bukannya Sabtu terakhir?" tanya emak, Mimi pun mengangguk.
"Kejarlah cita-cita utamamu nak." ucap emak.
"Tapi Mak." jawab Mimi
"Tidak ada kata tapi nak."
"Mungkin Allah menginginkan perencanaan awal kita." ucap emak, Mimi bingung dengan maksud emaknya.
"Perencanaan awal?" tanya Mimi.
"Emm iya, rencana awal. Rencana awal kamu atau rencana emak, bapak sama umma dan Babah mu hanya akad nya saja dulu, resepsi setelah kamu lulus." ucap emak.
"Kenapa gitu?" tanya Mimi tidak mengerti.
"Karena tiga hari ini setelah kami mendengar persetujuan mu kami pun langsung bergerak agar cepat mengejar waktu. Namun ternyata waktu itu tidak bisa kami kejar." ucap emak, Mimi bingung dengan pernyataan emaknya.
Emak tersenyum sambil menepuk tangan anaknya.
"Setelah mendengar kamu setuju, kami langsung menjalankan perencanaan kami sebelumnya, namun.." ucap emak emgan melohat ke arah Mimi lagi.
"Namun kami selalu mendapatkan kendalanya." ucap emak.
"Kendala?" tanya Mimi.
"Iya, Umma dan Babah mu ingin pernikahan mu meriah dan di laksanakan di hotel milik Abang Afkar mu."
"Tapi ternyata balairoom hotel nya sudah di booking hingga dua Minggu kedepan." Mimi diam namun dia tercengang mendengarnya
"Babah dan umma mu tak patah semangat, Meraka mencari hotel lain yang memiliki balairoom yang luas atau setidak nya. Isa menampung undangan min 300-500 Orang, tetapi hotel yang dapat m nampung sebanyak itu juga sudah terbooking." terang emak, Mimi hanya mengucap istighfar.
"Tak hanya masalah hotel, wo dan cathering pun sama, tidak ada yang kosong untuk Minggu ini. Kalau pun ada umma dan babah mu tidak suka."
"Sedangkan wo dan catering yang mereka sukai sudah penuh kalau pun Makai jasa mereka kalau tidak hari Kamis besok ya tiga Minggu kedepannya." ucap emak menjelaskan.
"Emak rasa ini merupakan jawaban dari Allah nak karena kami serakah." ucap emak.
"Ya kami serakah, awal kami meminta untuk memperlancar agar kamu setuju untuk menikah walau hanya akad, tali kami malah serakah tak hanya akad namun sekalian resepsi."
"Tapi ternyata Allah tidak mengabulkannya dengan memberimu jawaban dari bagian doa mu yaitu ujian persamaan itu." jawab emak.
"Sekarang terserah padamu nak. Mungkin dengan kamu mengecewakan banyak orang setidaknya usahamu tidak sia-sia."
"Atau kamu menyiakan kesempatan yang ada untuk menyenangkan hati orang banyak namun di hatimu kamu akan kecewa dan menyesalinya kedepan." ucap emak merupakan ucapan dari jawaban dari kegundahan hati Mimi.
Sesampainya di rumah, Syahril langsung masuk kedalam rumahnya. Serangannya Ryan dan Di'ah mereka berdua langsung di antar kembali ke rumah Ryan.
"Assalamualaikum umma" ucap Syahril dengan menyalami serta menciumi punggung tangan umma serta yang lain dan tak lupa Syahril mencium pipinya
"Waalaikum salam nak." jawab umma dengan nemeluk anak bungsunya.
"Ada apa?" tanya Babah ketika melihat wajah Syahril muram.
"Hmmm kok bau duren." ucap umma.
"Iya bawa dari dusun umma, tuh di bawa sama Wak Ainun." jawab Syahril.
"Terus muka kamu kenapa?" Babah mengulangi pertanyaannya karena belum di jawab Syahril
"Tidak kenapa-kenapa bah." jawab Syahril.
"Ndak kenapa-napa apa nya, muka muram gitu." ucap kakek.
"Capek Tok." jawab Syahril denagn duduk di bawa sofa dan kepala nya berada di atas pangkuan ummanya.
"Ada apa?" tanya umma yang mempunyai keyakinan jika anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Emm, umma. Bagaimana persiapannya?" tanya Syahril mengalihkan pembicaraan. Syahril melihat umma dan Babah serta semua yabg ada di ruang keluarga ini serentak menghelakan nafasnya
"Jika selalu berkendala, lebih baik hentikan." ucap Syahril, sehingga semua melihat ke arahnya.
"Apa maksud kamu nak?" tanya umma.
"Iya nak ada apa? kenapa kamu menghentikan." tanya nyai Syahril.
"Apa kamu mau mempermainkan Mimi!!" tanya Babah.
"Bukan begitu bah." ucap Syahril.
"Terus apa!!" ucap Babah.
__ADS_1
"Mimi Senin besok ini ujian." jawab Syahril, semua orang terdiam tak bisa berkata-kata.
"Mungkin memang belum jodoh kami untuk membina bahtera rumah tangga." ucap Syahril lagi dengan helaan nafas.
"Jika umma atau Babah sudah ada yang ke booking, batalkan saja.'' ucap nya.
"Nak, kalau begitu tidak harus di batalkan. Tetap kita laksanakan setelah Mimi selesai ujian." ucap umma.
"Batalkan saja umma, mungkin bekum jodohnya" ucap Syahril dan dia pun beranjak menuju tangga dan dia pun menuju kamarnya.
Syahril merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang lumayan besar itu.
"Kenapa selalu berakhir begini Rabb."
"Apakah aku tidak berhak bahagia bersama dia."
"Kenapa selalu ada saja kendala pada kami menuju halalmu." Ucap Syahril yang sudah merasa putus asa.
Dia berusaha memejamkan matanya sebentar menjelang jam delapan dia akan kembali kerginkerumah ke kantor dinas kesehatan.
di rumah Mimi juga melakukan hal yang sama, Mimi merasa dirinya begitu banyak berbuat salah.
Tak ada sedikitpun di hatinya untuk membuat rasa kecewa pada orang yang dia sayangi.
"Maafi Mimi kak," gumam Mimi ada rasa sesak di dadanya kala melihat Syahril yang terlihat kecewa.
Miki beranjak dan Mimi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta berwudhu. Mimi akan melakukan sholat sunnah lagi itu.
Emak merasa kasihan dengan anak gadisnya, emak tau jika Mimi sedang bimbang karena kedua nya adalah cita-cita yang selama ini dia rencanakan.
Terkadang kita hanya bisa berusaha namun segala sesuatu Allah lah uang menentukannya.
Seandainya Mimi tau jika ujiannya dipercepat mungkin dia tidak akan mengatakan setuju untuk menikah di bulan ini.
Email tersebut tertulis pada tanggal hampir seminggu lalu. Sewaktu Mimi dan Syahril ke kecamatan sehabis tugas ke dusun sebelah email tersebut seharusnya telah masuk namun mungkin karena jaringan yang kurang atau mungkin juga Mimi tidak memperhatikan ada email masuk dari kampusnya.
Mimi banyak diam sehabis sholat Sunnah lagi itu Mimi tidak keluar dari kamar nya, sedangkan Syahril yang awalnya ingin memejamkan mata pun di urungkan karena hampir satu jam matanya tidak kunjung untuk bisa diajak istirahat.
"Ya Allah, ampuni segala dosa hamba yang lalu. Jika Mimi adalah jodoh hamba berilah hamba jalan dimana pun dan bagaimana pun caranya." ucap Syahril, setelah dia mengucapkan hal itu dia pun beranjak menuju kamar mandinya untuk membersihkan diri serta berwudhu.
Sehabis membersihkan diri dan berwudhu Syahril membentangkan sajadahnya untuk melakukan sholat Sunnah dan diapun kembali mengadu kepada Rabb nya.
Umma, Babah serta keluarga yang lain yang sedang di rumah menjadi khawatir pada Syahril.
Terutama sang kakek yang menjadi semakin bersalah melihat cucu kesayangannya banyak murung.
Dia merasa menyesal akan yang pernah dilakukannya dahulu.
Tak lama Syahril pun turun dengan berpakaian rapi.
"Mau kemana nak?" tanya kakek dengan tatapan sendu, Syahril tersenyum dan mendekati sang kakek.
"Syahril mau ke dinas kesehatan kek, kakek sudah minum obatnya?" tanya Syahril.
"Alhamdulillah sudah." ucap sang kakek dengan mengelus pundak Syahril yang duduk di hadapannya.
"Maafkan kakek" ucap kakek, Syahril hanya tersenyum.
"Maaf buat apa kek?" tanya Syahril.
"Maaf telah membuat mu susah." ucap sang kakek dengan pandangan sendu.
"Tidak kek, Arill yang minta maaf. Maafkan Syahril yang pernah nyakitin hati kakek." ucap Syahril seraya merebahkan kepalanya di pangkuan sang kakek.
Kakek semakin bersalah melihat sang cucu kesayangan yang terlihat putus asa.
"Semua pasti ada jalan nak," ucap kakek dengan mengelus rambut Syahril penuh kasih sayang.
"Kakek yakin setelah ini kau akan bahagia, hanya untuk mencapai kebahagiaan itu kalian di uji untuk melihat kemampuan kalian masing-masing."
"Allah akan selalu menguji umatnya, Allah akan menguji bagi umat yang dia percayai mampu untuk menghadapi serta menjalankan nya."
"Percayalah, Allah mengetahui jika kalian berdua mampu menghadapi itu. Teruslah berdoa dan berhusnudzon padanya." ucap sang kakek memberikan nasihatnya.
"Iya kek, kakek bantu doanya juga ya." ucap Syahril.
"Tentu nak, do'a kakek selalu kakek panjat kan untukmu."
"Makasih kek, maaf Syahril harus berangkat ke kanto dinas dulu. Kakek jangan lupa banyak istirahat." ucap Syahril
"Iya, pergilah dan hati-hati jangan lupa berdoa."ucap kakek mengingatkan.
"Iya kek, Ariil berangkat dulu. alAssalamualaikum."
"Waalaikum salam." jawab sang kakek.
Syahril pun pergi menuju kantor dinas, sebelum dia pergi dia pun berpamitan pada orang tuanya dan menyalami mereka satu persatu.
Walau hatinya sedang gundah dia tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang anak maupun dokter.
Umma yang melihat kesedihan, kekecewaan lada anaknya. dia pun berniat menghubungi emak Mimi, begitu pula dengan emak Mimi dia pun berniat menghubungi calon besannya.
tbc
Assalamualaikum, mohon maaf baru ke update hari ini, padahal naskah udah di tulis dua hari lalu. Cuma katanya kurang 500 kata jadi belum diserahkan kemarin.
__ADS_1
mohon doanya ya agar authore sehat, pilek ku belum juga sembuh bikin kepala cenat cenut di tambah bengek kambuh lagi dari sekian lamanya.
Terimakasih atas dukungan kalian.