
Bryan yang sudah dapat izin dari pihak rumah sakit untuk melihat kedua orangtuanya yang sedang menunggu didepan pintu ruang operasi.
Bryan di dudukan diatas kursi roda, kedua sahabat yang masih setia di sana mendorongnya hingga ke lantai atas. Dari kejauhan terlihat kedua orangtuanya yang sedang panik, khawatir dan sedih bercampur aduk.
Terlihat mami yang terus menangis sedangkan sang papi terus pada posisi sedang menelpon. Bryan mendekat ke arah orang tuanya.
"Mi,Pi." panggilnya dengan. ingin mempercepat gerak kursi rodanya dengan kedua tangannya namun semua tak bisa dia lakukan kerena tangan yang !masih terdepat selang infus.
"Astaghfirullah Bryan." ucap mami yang sejenak melupakan anak nya yang satu.
"Ya Allah nak, kenapa kamu keluar dari kamar mu sayang." ucap sang ibu sembari mengelus wajah anaknya.
"Mi, gimana dengan Abang mi?" tanya Bryan.
"Do'a kan saja ya nak." ucap sang mami yang tak bisa membendung air matanya.
Orang tua yang selalu sibuk dengan kerja sehingga melupakan anak-anak yang sangat memerlukan perhatiannya. Sibuk akan mencari harta dunia, harta akhirat mereka abaikan.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, namun bukan berarti tidak bisa untuk diperbaiki.
Mami dan papi Bryan merasa sangat menyesal dengan apa yang mereka lakukan kepada anak-anak nya. Dari segi materi mereka mencukupinya, namun dari segi perhatian dan kasih sayang mereka seolah menelantarkan anak-anak nya.
Mereka yang disibukkan mengejar duniawi sehingga melupakan kalau kewajiban mereka tak hanya sebatas materi saja.
Dalam Islam, seorang anak wajib menghormati kedua orangtuanya atau birrul walidain. Birrul walidain memiliki arti berbakti kepada orangtua.
Oleh karena itu bagi seorang anak, berbuat baik dan berbakti kepada orangtua bukan sekadar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun yang utama adalah dalam rangka menaati perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dalam ajaran agama Islam, setiap anak diwajibkan untuk selalu berbakti kepada kedua orangtua. Berbakti kepada kedua orangtua artinya tidak menyakiti hati orangtua dan senantiasa mematuhi perintahnya.
Untuk membuat orangtua menjadi bahagia, anak harus berbakti kepada keduanya. Hal tersebut terdapat dalam firman Allah pada Alquran surat Al Israa ayat 23.
Wa qadaa rabbuka allaa ta'buduu illaa iyyaahu wa bil waalidaini ihsaanaa, immaa yabluganna 'indakal kibara ahaduhumaa au kilaahumaa fa laa taqul lahumaa uffiw wa laa tan-har-humaa wa qul lahumaa qaulang kariimaa
Artinya:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
Islam memang mewajibkan seorang anak untuk selalu berbakti kepada orangtua dengan selalu taat akan perintahnya, berbuat baik dan tidak menyakiti hati orangtua. Namun, tak hanya anak saja yang harus menjaga perasaan dan hati orangtua, anak juga berhak dijaga perasaannya oleh kedua orangtuanya.
Dalam Alquran surat At Tahrim ayat 6, Allah berfirman:
Yaa ayyuhallaziina aamanu quu anfusakum wa ahliikum naaraw wa quduhan-naasu wal-hijaaratu 'alaihaa malaa'ikatun gilaazun syidaadul laa ya'sunallaaha maa amarahum wa yaf'aluna maa yu'marun
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk menjaga dirinya sendiri serta keluarganya dari api neraka. Menjaga keluarganya berarti menjaga anak-anaknya juga agar terhindar dari keburukan. Maka para orangtua memiliki kewajiban untuk mengasihi anak dengan penuh kasih sayang.
Kedua orangtua Bryan bersyukur anak-anak mereka tumbuh dengan anak yang berbakti kepada mereka berkat ajaran nenek dan art serta pengasuh yang selalu menjaga mereka.
Walau terkadang ada protes dari sang anak dengan berbagai macam bentuk protes dari mereka. Seperti Bryan anak yang selalu protes kepada orang tuanya, bentuk protes yang dilakukan oleh Bryan merupakan hal yang tak terpuji.
Bryan melakukan protes nya dengan lari ke minuman beralkohol sehingga kini apa yang dia lakukan itu membuahkan hasil yang merugikan dirinya sendiri.
Dillah dan Reno yang mendengar kabar dari sahabatnya bahwa kedua orang tua Bryan sudah ada di rumah sakit ikut merasakan kebahagiaan nya. Namun setelah mendengar kabar bahwa abang Bryan mengalami kecelakaan mereka pun ikut sedih dan mereka juga buru-buru ke rumah sakit.
Dillah dan Reno berjalan cepat diserap koridor rumah sakit langsung menuju di mana ruang operasi berada.
Dillah dan Reno melihat satu keluarga yang terlihat panik, khawatir dan sedih menjadi satu itu. Mereka berdua mendekat ke arah Bryan dan yang lain.
"Om, Tante." panggil Dillah dan Reno sembari mendekat dan menyalami mereka.
"Terimakasih kalian sudah membantu menjaga Bryan." Ucap sang papi dengan menepuk pundak kedua sahabat Bryan yang baru datang.
"Sama-sama Om, kita adalah sahabat suka dan senang kami insya Allah selalu bersama." ucap Dillah.
__ADS_1
"Emm bagaimana Om, apa dokter atau perawat sudah memberitahu keadaan bang Arya?" tanya Reno.
Sejam sudah berlalu, Dillah melihat arloji di lengannya. Jam telah menunjukkan waktu sholat Maghrib tiba. Dillah pun mengajak semua untuk menunaikan perintah ilahi.
"Om, sudah waktunya Maghrib. Bagaimana kalau kita sholat dulu." ucap Dillah dan sang papi Bryan !melihat arlojinya juga dan waktu memang telah menunjukkan waktu sholat Maghrib tiba.
Bryan telah di antar kembali ke ruangan nya dan di tunggu oleh si mbok dan Cintya adeknya. Mami dan yang lain pergi ke musholla yang ada di rumah sakit ini untuk menjalankan ibadah sholat !Maghrib.
Setelah sholat sang mami memanjatkan doa kepada ilahi Rabbi, dia meminta akan kesembuhan anak-anaknya. Tak lupa Lula dia meminta pengampunan kepada Rabb nya.
Dillah mengajak para sahabat dan orang tua Bryan untuk membaca ayat suci Al-Quran buat kesembuhan Bryan dan buat kelancaran operasi Arya.
Disaat mereka membaca Alquran, terdengar suara ponsel dari dalam saku papi Bryan. Sang papi pun menerimanya dengan perasaan haru.
"Ya hallo.."
"-----"
"Apa!!! Innalilahi wainna illaihi rojiun." ucap sang papi dengan deraian air mata.
Semua yang mendengar sang papi mengucapkan innalilahi membuat semua berprasangka masing-masing.
"Pi... A pa Mak sud u cap pan pa pi ba ru san." tanya sang papi dengan terbata-bata, sang mami takut berita yang tak mengenakkan dari salah satu anaknya.
"Pi.." Panggil sang mami dengan Isak tangis.
"Ti dak mungkinlah kin, anakkuuuu" sang mami menangis histeris ketika sang suami belum juga memberitahukan nya. Seketika sang mami kembali pingsan.
"Mi.. Mami..Ya Allah." sang papi ikut panik ketika melihat sang istri kembali pingsan.
"Ya Tuhan, begitu bertubi-tubi cobaan yang kau berikan kepada keluargaku." ucap sang papi sambil mengangkat tubuh sang istri dan membawanya keluar dari musholla.
Di tempat lain, Sehabis holat Maghrib Mimi bervideo call dengan kedua orang tuanya untuk mengobati rindunya. Tak hanya kepada kedua orangtuanya, Mimi juga melakukan vc bersama kepada keluarganya yang lain.
Mimi menceritakan segalanya yang Mimi lakukan di sini, terkadang terlihat ekspresi sedih dan kadang bahagia di wajah mereka.
Jika sudah melakukan vc maka tak ada kata waktu cepat, mereka melakukan hubungan telpon via vc hingga berjam-jam. Tanpa disadari ketika sambungan vc masih berlangsung Mimi tertidur karena rasa lelah nya.
Di seberang tanah Sumatra seorang pemuda bersusah payah menelpon pujaan hatinya. tiap kali menelpon panggilan selalu sibuk.
"Kamu lagintelponan sama siapa sih dek!" ucapnya gusar tak kunjung bisa terhubung dengan pujaan kasih.
Berkali-kali Syahril menghubungi namun masih sama saja hingga di lihatnya jam sepuluh malam tak jua berhasil.
"Sehingga larut gini ya telpon mu masih sibuk" Gumamnya.
Peansangka demi prasangka selalu menghantui Syahril. Entah mengapa timbul ketakutan pada dirinya, Syahril takut Mimi akaannberpaling dari dirinya, hingga malam ini dia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Di ulanginya untuk menghubungi Mimi, namun berakhir kalau no sedang tidak aktif.
"Sekarang malah no mubtidak aktif, huh." ucap Syahril seorang diri ditengahnya malam.
Syahril yang sedang berprasangka buruk kepada Mimi sedangkan Mimi telah tidur terlelap hingga sepertiga malam Mimi terbangun.
Mimi melihat ponsel yang berada dalam dekapannya, Mimi mencoba mengingat hal semalam. Dia ingat kalau dia sedang melakukan vc kepada keluarganya dan setelah itu dia tak ingat lagi.
"Hmm apa semalam aku ketiduran ya?" ucapnya sembari mencoba on kan ponselnya dan ternyata tak bisa nyala.
"Yah, lowbat." gumam Mimi, Mimi pun langsung men-charge ponselnya dan setelah itu dia langsung menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah sampai kamar mandi, Mimi tak jadi berwudhh. Mimi kembali ke kamarnya dan mengambil handuk serta keperluannya yang lain.
"Yah off dulu malam sepertiga malam ini." ucap Mimi ketika habis mandi. Karena tidak sholat Mimi pun kembali untuk tidur.
Keesokan pagi Mimi sedikit kesiangan karena dia kembali tidur di jam 4subuh, Irsyad menjemput Mimi pagi ini. Sebelum mereka berangkat ke kampus, mereka sarapannterlebih dahulu dengan nasi goreng yang Mimi buat.
Di kampus Mimi selalu di kawal oleh Irsyad, kemana pun Mimi berada Irsyad selalu ada di sampingnya.
__ADS_1
Jika orang tidak tau maka orang menyangka mereka berdua adalah sepasang kekasih. Hari ini kegiatan meraka di dalam ruangan secara berkelompok.
Di kegiatan ini mereka kembali berkenalan, di kelompok Mimi di bina oleh Dita, Reno dan mbak Aish.
Dan saatnya giliran Mimi untuk memperkenalkan diri, Mimi maju ke depan dan dia pun mulai mengenalkan diri dan Reno pun menanyakan kepada Mimi.
"Oh ya Mimi berdasarkan data Mimi sebagai mahasiswi undangan ya?" tanya Reno.
"Iya kak, Mimi mahasiswi jalur undangan dari bimbel Widya persada yang diselenggarkan oleh kampus ini." terang Mimi dengan tersenyum.
"Oh, kamu tau di kampus ini diadakan bimbel dari siapa?" tanya Reno kembali.
"Saya tau dari Kakak-kakak kampus ini yang sedang mengadakan studi banding di daerah kami." ucap Mimi dengan melihat ke arah Dita, yah Mimi memiliki daya ingat yang kuat sehingga Mimk masih hafal dengan wajah Dita walau penampilannya sekarang sedikit berbeda.
"Saya ucapkan terimakasih kepada kakak-kakak yang telah memberitahu ke SMA kami, saya berterima kasih kepada kak Dita." ucap Mimi kembali dengan melihat ke arah Dita, Dita pun heran kenapa Mimi berterima kasih kepadanya.
"Mungkin kakak tidak mengenal saya, tapi saya masih ingat dengan kakak. bagaimana kakak memberi penjelasan tentang bimbel nya." ucap Mimi yang melihat Dita !aaih dengan keheranannya.
"Em, kamu dari SMA mana?" tanya Dita kepada Mimi.
"Saya dari SMANJU kak, SMA di seberang kota Jambi." Mimk menjawab nya seketika Dita pun membelalakkan matanya.
"Em." ucap Dita maaih !enviba mengingat-ingat.
"Mungkin kakak tidak ingat karena duku saya belum berhijab kak, dulu kakak masuk kekelas 1D." ucap Mimi lagi.
"Ya Tuhan, jadi dia gadis itu, apa Mimi adalah gadis berambut panjang ini." gumam Dita dalam hati.
"Apa kamu yang berambut panjang itu ya?" tanya Dita seketika.
"Iya kak itu saya." jawab Mimi.
"Terimakasih sekali lagi karena kakak mengenalkan bimbel itu saya bisa mendapatakn impian saya disini." ucap Mimi lagi dan Dita ounnhanya tersenyum dan mengangguk
"Ya Allah, Dillah apa yang kau rasakan bahwa gadis yang kau cari ada disini itu benar." gumam Dita.
Saat Mimi akan mengakhiri perkenalannya, salah satu teman kelompok nya bertanya apa Mimi sudah punya cowok atau belum.
"Mi, apa Mimi sudah punya cowok." tanya salah satu cowok yang berada di kelompok Mimi, Mimi hanya tersenyum.
"Alhamdulillah saya sudah punya cowok." ucap Mimi dan itu membuat Dita terdiam.
"Cowoknya orang mana mi, seangkatan juga nggak, sekarang!pus nggak." begitulah pertanyaan-pertanyaan dari cowok yang ada di ruangan ini.
"Cowok Mimi sama dengan Mimi berasal dari Jambi, dia tidak seangkatan dengan kita, dan dia tidak sekampus dengan kita melainkan dia berkuliah di kota pedang." Mimi menjawab semua pertanyaan itu.
"Kenapa Mimi tidak ikut sekampus dengan nya?, dia jurusan apa?" pertanyaan terus bergulir
"Kenapa Mimi tidak ikut kuliah dengannya karena Mimi mendapatkan sebagai mahasiswi undangan dan beasiswa disini, dia jurusan kedokteran." Mimi menjawab semua.
"Mimi mau nggak jadi pacar aku, aku rela kok jadi yang kedua." pertanyaan konyol di lontarkan salah satu cowok sontak semua orang menyorakinya.
"Maaf saya tidak bisa mendoakannya karena saya sudah ada ikatan." jawab Mimi dengan menunjukkan cincin di jarinya.
"Yah sudah tunangan guys.." ucap cowok yang lain seketika gemuruh sorak pun terjadi kembali.
Mbak Aish senyum-senyum sendiri melihat interaksi perkenalan Mimi dengan yang lain. Dia merasa bahagia kalau saudara nya tidak salah pilih.
"Ternyata kamu jujur Mi dengan status mu,walau ada kebohongan sedikit di dalamnya." gumam mbak Aish dalam hati.
Yah Mimi menunjukkan cincin di jari manisnya kepada semua, tali itu cincin bukanlah cincin tunangan melainkan cincin pemberian Syahril itu merupakan hadiah buat Mimi.
Setelah sesi perkenalan selesai, semua peserta maba melanjutkan kegiatan lainnya. Dikelompok ini Mimi menemukan teman yang sama sebagai mahasiswa undangan dari bimbel yang sama pula.
Di rumah sakit kesedihan masih dirasakan oleh keluarga Bryan di tambah kabar yang didapat oleh sang papi membuat ujian semakin berat di pikul.
Nah kita gantung lagi ya? kira-kira siapa yang meninggal, dan apakah ujian keluarga Bryan merupakan kesedihan yang berlarut atau sedih menjadi sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
Next bab, jangan pelit buat selalu tekan jempolnya ya🙏🙏💗dan 👍
""" tbc"""