DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
pertengkaran Diah dan Ryan


__ADS_3

Keberangkatan Mimi tinggal menghitung jam, Syahril dan Mimi memanfaatkan waktu kebersamaan mereka sebagai sepasang suami istri dengan sebaik-baiknya.


Yah walau Mimi belum menjadi istri yang seutuhnya karena Mimi belum bisa memberikan hak kepada Syahril, namun Mimi tetap memberikan kepuasan kepada Syahril dini hari.


Sebelum berangkat, Mimi dan emak membuat rendang untuk bekal dirinya dan Syahril. Setelah rendang masak, Mimi dan Syahril pun berduaan di dalam kamar.


"Kak." panggil Mimi ketika telah masuk kedalam kamarnya. Syahril menengadahkan wajahnya dan melihat Mimi yang baru masuk.


Senyuman manis terukir indah di bibirnya, senyuman yang biasa dia tampilkan dihadapan orang-orang yang dia sayangi, namun kali ini senyuman ya begitu indah, mungkin efek dari pengantin baru.


"Sini" panggilnya, Mimi pun berjalan mendekatinya dan duduk akan di sampingnya. Tanpa aba-aba Syahril langsung memeluk Mimi sehingga Mimi pun tak jadi duduk di sampingnya melainkan duduk di atas pangkuannya.


"Biarkan seperti ini." ucapnya ketika Mimi hendak berdiri dari pangkuannya.


"Tapi Mimi berat kak." ucap Mimi basa basi, padahal bukan masalah beratnya namun Mimi telah merasa paku baja yang siap menancap.


"Emm jangan banyak gerak." ucap Syahril dengan memeluk erat Mimi, perlahan namun pasti paku baja tersebut semakin ingin menunjukkan eksistensi nya.


"Ckk kenapa sih dek pakek acara palang merah segala." ucapnya frustasi karena dia telah merasa sesak di bagian dalam chinos pendeknya.


"Emm, seharusnya sih tiga hari lagi tapi ndak tau kenapa malah maju." jawab Mimi.


"Huh, tersiksa jadinya dek." ucap Syahril dengan wajah kusut menahan gelora dari paku baja yang berontak ingin keluar dari sarang.


"Sabar ini ujian." ucap Mimi dengan menahan ketawa.


"Huh" Syahril hanya bisa berdecak frustasi.


"Emm sebelumnya kita tidur berdua tapi kakak bisa nahan, kenapa sekarang tidak." ucap Mimi dengan melihat wajah kusut Syahril.


"Ndak tau juga kakak, mungkin dia begitu semangat kali." jawab asal Syahril.


"Semangat?" Mimi mengulangi ucapan Syahril.


"Iya, dia terlalu semangat karena sekarang dia tak harus menahannya, tapi... malah bikin sesak." ucap Syahril.


Tak ada kata jaim di antara mereka berdua jika itu masalah ranjangnya, ya mereka tidak seperti pasangan yang sering di ceritakan dalam novel.


Apalagi mereka berdua sudah cukup umur dan status mereka juga seorang dokter walau berbeda bidang namun jika urusan ilmu se*x maka mereka tidak perlu canggung lagi karena sedikit banyaknya ilmu tentang itu telah di pelajari sedari SMP dalam bidang pelajaran IPA atau biologi.


Apalagi Syahril yang nota Bene adalah seorang dokter ahli di bidang obygin tentu ilmu yang dia pelajari di universitas lalu berhubungan dalam dengan reproduksi, apa lagi juga dia sering menghadapi secara langsung dalam penanganan medis.


"Dek" panggilnya memelas, Mimi tersenyum kecil melihat wajah yang penuh permohonan dari Syahril.


Yah Mimi tau arti tatapan itu merupakan permohonan pelepasan sesak yang sedang melanda.


"Emm kak, bukannya tidak boleh ya terlalu sering." ucap Mimi


"Emm sebenarnya sih iya tapi daripada sesak dan sakit gini lebih baik di keluarkan," jawab Syahril.


Mimi pun yang tak tega berupaya memberikan yang terbaik untuk Syahril, yah walau pun bagian bawahnya tak bisa di gunakan maka dia menggunakan bagian lainnya.


**


Tepat jam satu Syahril mengantar Mimi ke bandara.


"Maaf ya tank, kakak Ndak bisa ngantar." ucap Syahril dengan tangan masih memeluk pinggang Mimi.


"Iya ndak apa kak." jawab Mimi.


"Yaudah sana masuk, jangan lupa kalau sampe kabari ya." ucapnya.


"Emm iya, kakak juga hati-hati kalau pulang kedusun nanti."


"Jangan ngebut-ngebut bawanya." ucap Mimi lagi, seraya menyalami Syahril dan menciumi tangan Syahril.


"Iya, adek juga hati-hati jaga diri." jawabannya seraya mencium kening, kedua mata, kedua pipi dan bibir Mimi.


"Emm" ucap Mimi yang masih berada dalam pelukan Syahril, entah mengapa rasa nya sangat berat melepaskan pelukan nya.


"Insya Allah, bukan depan kakak ke sana, gih masuk bentar lagi pesawatnya take off." ucap Syahril.


"Emm yaudah, Mimi berangkat dulu ya kak. Sekali lagi maafkan Mimi." ucap Mimi, Syahril mengangguk seraya mengusap kepala Mimi.


Mimi pun masuk kedalam ruangan dengan di antar Syahril hanya sampai pintu masuk. Mimi melambaikan tangannya kala dirinya telah masuk kedalam ruangan tersebut.


Hanya helaan nafas Mimi dan Syahril yang mewakili perasaan mereka berdua saat ini. Tak lama Mimi pun berjalan menuju pesawat yang akan di tumpangi nya. Bandara Jambi saat ini belum go internasional sehingga untuk ke LA Mimi harus transit di Jakarta.


Sore harinya Syahril dan Arfan pergi ke dusun, sedangkan Ryan dia masih mengambil cuti secara Di'ah masih berada di Jambi.


Arfan yang sebelumnya tidak mendapat kan tugas ke dusun akhirnya mendapat giliran karena salah satu dokter yang sebelumnya tidak mengambil kontrak lanjutan di dusun ini dikarena dokter tersebut menjadi dokter PTT di sebuah desa lain.


Dokter Ridwan di pinta oleh Pemda setempat untuk menjadi dokter PTT di sebuah desa terpencil di daerah kabupaten sebelah tempat dia bertugas sebelumnya.


Program ini adalah pengabdian ke daerah tertentu selama periode waktu yang ditentukan oleh daerah tersebut. Rentang PTT ini bervariasi, dari 6 bulan sampai dengan 3 tahun, tergantung dari lokasi dan seberapa terpencilnya daerah tersebut.


Tugas dokter Ridwan sama dengan sebelumnya hanya saat ini dia berbeda kelompok dan dia juga sudah menandatangani kontrak nya selama tiga tahun kedepannya.


Dan saat ini juga dokter Ridwan di pinta sebagai kepala puskesmas di daerah baru ini.

__ADS_1


Yah tugas dokter Ridwan sama halnya dengan Syahril dan teman-teman yang lain. Mereka bahu membahu membantu masyarakat setempat dalam penanganan medis.


Sebelum Syahril kembali ke dusun, dia menyempatkan diri ke rumah sakit nya. Saat dirinya menginjakkan kaki di rumah sakit ini para sahabat yang nota bene adalah sepupu mendekati dirinya.


"Wah tenru ( pengantin baru ) kusut amat bang." ejek Rani.


"Ckk apa lah kalian ini." ucap Syahril.


"Emm padahal rambut masih ada lembab-lembabnya kok kusut." sahut Siska.


"Aisss, bocor aja bisa kalian." ucapnya dan langsung menuju ruangan yang lama tak di kunjungi nya. Namun ruangan nya kini sering di gunakan Babah.


"Napa Lo?" tanya Arfan yang baru masuk kedalam ruangan nya.


"Ndak apa-apa." jawabnya.


"Gimana Riil? berhasil ndak?" ucap Rudi yang baru masuk ruangan.


"Gimana apanya?" ucap Syahril yang belum terkoneksi.


"Ais berarti betulkah dugaan ku." ucap Rudi lagi, Syahril hanya menautkan dua alisnya.


"Ah masa Riil?" sahut Rendi.


"Kalian ngomong apa?" tanya Syahril.


"Ckk kau ini, masa ndak tau kegiatan atau jadwal penganten baru." ucap Andri yang entah sejak kapan dia berada di rumah sakit ini


"Emm" jawab Syahril dingin.


"Padahal ni ya Riil, semalam mau ngintip di jendela kamar Mimi." ucap Rendi, seketika Syahril melongo mendengar ucapan Rendi.


"Si'alan Lo, nggak ada kerjaan apa." ucap Syahril dengan melempar kotak tisu ke arah Rendi.


"Ye, kita itu penasaran Riil." ucap Rendi.


"Ckk perasaan Lo dah ada buntut dua lah Rend, apa lagi yang kau penasarin." ucap Syahril.


"Yah aku penasaran apa pasak bumi mu bisa menjebolkan pertahanan Mimi." ucapnya.


"Anying Lo," ucap Syahril.


"Tapi kau tembus kan Riil?" tanya Rudi yang masih penasaran.


"Menurut Lo?" Syahril tak menjawabnya namun kembali melemparkan pertanyaan pada Rudi.


"Kalau di lihat rambut kau subuh tadi kayaknya tembus." jawab Rudi lesu.


Syahril hanya tersenyum kecut melihat Rudi, Syahril tak akan jujur kepada sepupu-sepupunya, kalau dia berkata jujur alamat dirinya akan terkena bullying. Apa lagi sewaktu malam pertama Rudi dirinya lah orang pertama yang ngakak.


Waktu terus bergulir, Syahril dan Arfan pun berangkat ke dusun di sore hari bersama dokter yang lain.


Kali ini banyak dokter membawa kendaraan pribadi karena lokasi temlat mereka bertugas jauh dari kata-kata.


Dalam rombongan yang kembali kali ini hanya Ryan yang belum ikut kembali.


Di'ah semenjak malam pernikahan Mimi semalam tak banyak berkomentar bahkan dia juga ikut pulang terlebih dahulu bersama ummi Parida dengan alasan dirinya tak enak badan.


Perjalanan panjang yang Mimi lalui, akhirnya terlewati juga. Mimi sampai di apartemen nya tepat jam dua dini hari.


Karena kebanyakan tidur selama perjalanannya tadi membuat mata Mimi saat ini hilang dari kantuknya.


Mimi pergi ke pantry guna membuat coklat panas sambil menunggu air mendidih Mimi mengirim pesan kepada Syahril.


Yah saat ini tentunya jam dua siang di Indonesia.


📤 Assalamualaikum kak, Alhamdulillah Mimi sudah sampai."


Setelah mengirim pesan tak lama Mimi menerima balasan pesanannya dengan panggilan video call.


"Assalamualaikum kak." ucap Mimi ketika melihat wajah lelaki yang telah menjadi suaminya saat ini.


"Waalaikum salam sayang, baru nyampe atau sedari tadi?" tanya Syahril.


"Emm baru lima belas menit lalu sih yang." ucap Mimi sembari menyeruput coklat panasnya.


"Lagi minum apa?" tanya Syahril.


"Lagi minum coklat panas. Kakak lagi di bukit ya?" tanya Mimi.


"Emm sebenarnya kakak lagi di kecamatan dek. Nih ngajak Arfan jalan-jalan" ucapnya.


"Wah jadi kak Arfan disana kak?"


"Iya, dia gantiin dokter Ridwan." ucap Syahril dengan terus melihat wajah Mimi di layar hp nya.


"Kangen dek" ucapnya.


"Basii" seru Arfan yang sudah duduk disamling Syahril.

__ADS_1


"Ganggu aja Lo. Sana an dikit napa." ucap Syahril.


"Heleh." ucap Arfan dan akhirnya dia pun menjaga jarak dengan Syahril.


"Kak Siska Ndak ikut kak?" tanya Mimi pada Syahril.


"Emm maunya dia ikut dek, tapi kayaknya bulan depan baru dia kesini." jawab Syahril.


"Adek ndak balik tidur?" ucap Syahril.


"Ngapain Lo riil nyuruh Mimi tidur, ayok mau ngapain Lo." Arfan selalu menganggu mode Syahril.


"Lo apaan sih Fan, bisa diam ndak." ucap Syahril yang jengah dengan tingkah Arfan.


"Dek" panggil Syahril ketika tidak melihat Mimi di layar ponselnya.


"Dek" panggilnya lagi.


"Emm iya kak, ada apa?" tanya Mimi, Syahril tersenyum melihat Mimi yang sudah memakai baju malamnya.


"Cantik" ucapnya.


"Emm apa kak?" tanya Mimi.


"Emm andai aja di dusun ada sinyal dek." ucapnya dengan menggaruk kepalanya.


"Sabar." ucap Mimi dengan tersenyum.


"Aisss" jawab Syahril yang mulai merasa tak tenang karena ada rasa sesak di bagian tertentu.


"Huh." Syahril menarik nafasnya panjang untuk menetralkan perasaannya. Entah kenapa sekarang dia tidak. Isa mengontrol diri apa lagi melihat penampilan Mimi saat ini.


Andai saat ini dia berada di dalam ruangan atau kamar mungkin dia akan segera melonggarkan sesuatu di bawah sana, namun saat ini dia lagi berada di warung mie ayam.


Ingin rasanya dia segera pergi ke penginapan yang ada di kecamatan ini.


"Lo kenapa Riil?" tanya Arfan, yang melihat Syahril seperti caving kepanasan.


"Ckk kalau mau di lepas mending cari penginapan Riil. Sakit tau di tahan-tahan" ucapnya, Syahril menatap Arfan horor.


"Ya ela, tatapan Lo horor banget. Ckk buruan dimakan mie ayamnya setelah itu kita cari penginapan."


"Emm" jawab Syahril tanpa mematikan sambungan telpon dan dia pun segera menyantap mie ayamnya.


Sehabis selesai menyantap mie ayam, Syahril pun menyetujui usulan Arfan buat mencari penginapan. Yah akhirnya mereka menyewa dua kamar untuk menuntaskan masalah pribadi mereka berdua.


Sesampainya di dalam kamar, Syahril kembali menghubungi Mimi. Mimi yang memang diperintahkan Syahril untuk menunggunya pun telah siap menunggu dan mereka pun mulai melakukan video call kembali.


Sedangkan di Jambi, Di'ah uring-uringan terhadap Ryan. Kadang kala ada rasa jenuh di hati Ryan kala menghadapi sikap Di'ah.


Kali ini entah apa yang di uringkan Di'ah, yang awalnya membahas rencana kepulangannya ke LA berujung ribut karena tanpa sengaja Ryan memberi pujian kepada Mimi.


"Kenapa sih kak, selalu saja memuji Mimi. Apa sih hebatnya dia." ucap Di'ah.


"Loh kamu kenapa sih dek? bukanya tadi kami duluan yang membahas Mimi." ucap Ryan.


Ya awalnya Di'ah membahas lebih tepatnya bercerita saat-saat mereka sekolah dulu, Di'ah juga merasa bahagia kala Mimi bisa menikah dengan Syahril kemarin tapi entah kenapa saat Ryan menyebutkan bahwa Mimi sangat cantik malam itu membuat Di'ah murka.


"Ah bilang saja kalau kakak masih menyukai Mimi kan,"


"Emang dari dulu kakak itu menyukai dia kan, selalu saja Mimi Mimi dan Mimi." ucap Di'ah.


"Kamu ini kenapa sih dek. Ndak ada angin mulai lagi kamu cemburu gitu."


"Ndak baik kamu menyimpan rasa cemburu berlebihan gitu, kamu kan tau Mimi dan Syahril itu saling mencintai, kenapa kamu jadi begini sih."


"Kenapa kamu berubah gini dek." ucap Ryan.


"Bukan akuyang berubah, tali kakak yang berubah."


"Kakak terang-terangan memuji Mimi di depan aku. Kakak Ndak ngehargai aku sebagai istri.'' ucap Di'ah, Ryan hanya. Isa mengehelakan nafas kasarnya.


"Mau mu apa!" ucap Ryan ketus. Ya Ryan merasa batas kesabaran nya telah di ujung tanduk.


"Apa maksud kakak!" jawab Di'ah tak kalah ketusnya.


"Sekarang kakak tanya, maumu apa hah!"


"Sudah cukup. Sudah cukup kau menjelekkan aku, menuduh aku hanya karena rasa iri dengki serta cemburu buta mu itu."


"Heran aku, mana Di'ah yang aku kenal dulu. Apa yang kau irikan dari Mimi hah! jika kau iri akan apa yang dia peroleh maka kamu lihat dirimu di depan kaca sana. Lihaaat, apa pantas kau memiliki rasa iri dengan ketidak mampuanmu itu."


"Akkhh, damn." ucap Ryan dan Ryan pun langsung keluar kamarnya dan pergi entah kemana.


Beruntung saat mereka berdua sedang bertengkar rumah dalam keadaan kosong.


Di'ah diam mematung di dalam kamarnya, menyesalkan dia akan perbuatannya sendiri, entahlah. Yang pasti hubungannya dengan Ryan sedang tak baik-baik saja.


Pertengkaran Ryan dan Di'ah tadi di dengar oleh Zacky adik Ryan yang baru saja pulang dari rumah sakit karena dia shift malam.

__ADS_1


Zacky hanya menggeleng kan kepala, ya entah mengapa dirinya juga tidak menyukai Di'ah.


tbc


__ADS_2