DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
kebaikan yang tak pernah pudar


__ADS_3

Dua hari sudah Mimi berada di Jambi, selama dua hari dia hanya di rumahnya.


Siang hari saat Mimi rebahan dengan emak, emak bertanya tentang Dillah pada Mimi, emak sengaja bertanya disaat bapak pergi berkerja.


''Mi" panggil emak yang berbaring di samping Mimi.


"Iya kak.'' jawab Mimi dan meletakkan ponselnya dibatas kasur.


"Bagaimana hubungan kamu sama Said?" tanya emak.


''Alhamdulillah baik-baik saja Mak." jawab Mimi.


"Kenapa Mak merasa dia bukanlah yang terbaik baut kamu nak" ucap emak. Mimi diam dan menunggu emaknya mengungkapkan perasaannya.


"Hummm hah.. Emmm Mak merasa akan ada badai di antara kalian."


"Emak harap, kamu jangan terlalu menaruh dia di hati kamu paling dalam, Mak Ndak mau lihat kamu kecewa dan sakit hati nanti." ucap si Mak.


Mak menoleh ke arah Mimi, dipandangnya wajah anaknya dan memegang tangan Mimi seraya melihat telapak tangan Mimi.


"Dalam hubungan tak selancar pekerjaan, untuk mendapat yang lebih baik, terlalu banyak cabang menuju nya."


"Banyak liku yang harus kamu lewati nak. Apa lagi Said, emak tidak pernah kamu menceritakan tentang keluarganya." ucap emak


Deg dada Mimi berdetak, ya selama Mimi berniat berhubungan serius dengan laki-laki mik selalu menceritakan bagaimana keluarga laki-laki itu padanya terutama orang tua.


Hanya dengan Said Mimi belum menceritakan perihal keluarga atau orang tuanya apa lagi Mimi mengenal Said bukan setahun dua tahun.


Sedangkan sahabat-sahabat Mimi, orang tua Mimi mengenal mereka. Baik itu orang tua Saridi, Riko dan Dimas.Aoa lagi keluarga Muthia, Selfia dan Irma.


Usahakan keluarga dari sahabat Mimi, keluarga Revano saja emak mengenalnya.


"Apa dia sudah bercerita tentang keluarganya? Bagaimana orang tuanya? Apa dia sudah ada mempertemukan kami dengan orang tuanya?" tanya emak beruntun.


Emak tersenyum melihat Mimi hanya diam, hati seorang ibu lebih peka terhadap anak-anak nya, terutama kada anak gadisnya.


"Beristikharah lah nak, minta petunjuk Allah. Jangan kau menuruti ***** sehingga nanti kau salah memilih." ucap emak.


"Kalau nak liat, Said orangnya baik, baik yang mak liat. Tanggung jawab, penuh ambisi dalam berkerja, dia berkerja keras, dia sayang dan cinta sama kamu. Cuma kendala di orang tua nya." ucap emak.


Deg lagi-lagi Mimi berdetak dannmiki mengingat setiap ucapan Dillah kala dia menceritakan perihal orangtuanya yang secara tidak sengaja itu.


"Tanpa kamu katakan, emak tau." ucap emak dengan memegang tangan Mimi.


"Jangan karena merasa tidak enak kamu korbankan diri kamu nak.''


"Jangan nanti saat kalian memaksakan diri membina rumah tangga, tapi setelah itu kalian ciptakan neraka di dalamnya."


"Dalam rumah tangga jangan sampai ada orang ketiga didalamnya, apa lagi jika orang ketiga itu adalah keluarga atau orang tua."


"Emak sangat yakin, orang tua nya tidak menyetujui hubungan kalian. Orang tuanya tentu ingin dia mendapatkan orang yang sepadan dengan mereka." ucap emak yang terus memberikan pendapat serta nasehatnya.


"Emak tau, hati kamu sebenarnya ragu. Istikharah lah nak, agar tidak salah pilih." ucap emak dengan menggenggam erat tangan Mimi.


"Iya Mak, Mimi selalu istikharah dan meminta petunjuk dari Allah." jawab Mimi.


"Tolong doakan Mimi ya Mak, agar Mimi mendapatkan jodoh dunia akhirat." ucap Mimi dengan mencium tangan emak serta memeluk emaknya.


"Ya Allah terimakasih kau berikan hamba seorang ibu yang selalu mengingatkan ku." Mimi mengucapkan syukur kepada Allah atas anugerah dengan diberikan ibu seperti emaknya.


Yah walau terkadang dia dan emak saking cekcok namun di hati kecil keduanya saling menyayangi satu sama lain.


Dillah saat ini sedang sibuk-sibuknya dengan proyek hotel. Dillah dan team berupaya hotel ini selesai sebelum akhir tahun atau paling lambat awal tahun.


Dillah ingin segera menimang pujaan hatinya, setelah proyek ini selesai, dalam planning nya dia setelah menikah tidak akan menyibukkan diri lagi.


Kedepannya dia hanya akan memantau saja dan dia ingin terus bersama dengan istri dan keluarga kecilnya kelak.


Syahril dan Ryan di lagi Sabtu berencana akan ke temlat pakdo namun saat dia menelpon air dalam keadaan surut sehingga dia tidak bisa ke sana menggunakan mobil.


"Jadi gimana Riil?" tanya Ryan.


"Emm kalau pakek motor bawa udangnya gimana?" gumam Syahril.


"Tunggu pasang sore aja lah Riil." sahut om Yan.


"Iya juga ya ndak om. Ya udahlah Yan, sore aja kita ke sana." ucap Syahril.


''Ya sudah aku ikut aja, tapi telpon lagi Tante Zia pesan udangnya." ucap Ryan dan Syahril mengangguk seraya menghubungi Tante Zia.

__ADS_1


Om Yan masuk sore sehingga pagi ini mereka kembali mengobrol, Syahril menceritakan bagaimana kehidupannya di LA selama ini.


"Om, jadi benaran Mimi selama ini kerja di Padang?'' tanya Syahril.


"Iya Riil, awalnya dia juga di rekomendasikan ke rumah sakit Palembang. Tapi ndak tau akhirnya Mimi malah di kota Padang." jawab om Yan.


"Om tau Ndak dia berkerja di rumah sakit mana?" tanya Syahril lagi yang ingin mengetahuinya.


"Dulu awal-awal dia kerja di rumah sakit kota kalau ndak salah dan di rumah sakit Nurani apa gitu om lupa.' jawab om Yan sambil mengingat kembali nama rumah sakit tempat Mimi berkerja.


"Nah setelah dua tahun, dia di minta bantu sama pihak rumah sakit jantung jadilah dia sampai sekarang dia juga berkerja di rumah sakit jantung." ucap om Yan lagi.


"Tiga rumah sakit?" tanya Ryan tidak percaya.


"Iya Yan, tiga rumah sakit dia bekerja.'' jawab om Yan.


"Dia menyibukkan dirinya dengan berkerja semenjak Abi tunangan nya meninggal. Padahal orang tua Abi meminta Mimi tetap berkerja di rumah sakit jantung Abizar, tali Mimi menolak." cerita om Yan.


"Bahkan ok Yan dengar cerita emak kau, orang tua Abi masih meminta Mimi untuk kembali ke Semarang. Untuk megang rumah sakit jantung Abizar."


"Tapi Mimi masih menolaknya, karena Mimi tidak ingin jadi omongan orang kedepannya." ucap om Yan lagi.


"Pasti almarhum baik ya om sama Mimi?' tanya Ryan.


"Iya Yan, almarhum sangat baik sama Mimi. Dia juga tidak hanya baik sama Mimi, tapi juga baik sama kami keluarganya Mimi." jawab om Yan.


"Apa Mimi sayang dan cinta sama dia om?" kata yang tiba-tiba terlontar di bibir Syahril, om Yan tersenyum.


"Iya Riil, Mimi menyayangi dan mencintai Abizar. Kalau om lihat, mimi menyayangi dan mencintai Abizar sama dengan halnya Mimi menyayangi dan mencintai kamu." jawab om Yan.


"Saat Abizar meninggal, Mimi terpuruk untuk yang kedua kalinya. Dia seakan hilang separuh hatinya kembali."


"Makanya Mimi menerima tawaran-tawaran kerja dari kepala-kepala rumah sakit itu."


"Saat Mimi kerja di Padang, orang tua Abizar pun tidak tau jika Mimi pindahnya di kota itu. Mereka hanya taunya Mimi berkerja di Sumatra." ucap om Yan.


"Mimi sengaja menghilangkan jejaknya dari kalian. Dia ingin menjalani hidupnya dengan kedua kakinya." ucap om Yan lagi.


"Om harap setelah Syahril tau dia kerja di kota Padang jangan pula Syahril menyuruh orang untuk mengawasinya."


"Biarlah dia berpijak pada kakinya sendiri." ucap om Yan lagi, Syahril hanya tersenyum dan mengangguk.


"Apakah di hatimu masih ada nama kakak disana?"


"Dek, kakak kembali sayang. Hati kakak hanya untuk kamu, kakak harap Allah menyatukan kita kembali.'' Syahril terus berucap pada hatinya.


"Oh ya Yan,.kamu sendiri kenapa tidak menikah?" tanya om Yan.


"Belum ketemu jodohnya om." jawab Ryan.


"Jodoh itu di cari Yan, bukan menunggu datang.'' ucap om Yan.


"Entahlah om, susah nyari orang yang tulus." ucap Ryan.


"Kenapa ndak kau kejar Bae lagi Di'ah." ucap om Yan


"Hahaa om ini idak-idak bae, waktu gadis Bae Dio mutusin Ryan karena dak mau lihat Mimi atau Syahril sakit hati, apa lagi sekarang dia sudah bersuami bisa-bisa Ryan di tangkap om sama laki nya." ucap Ryan.


"Ais tuh lah kau tu ( Ais itulah kamu ), kelamaan di luar negeri jadi bdak tau berita orang kampung." kelakar om Yan.


"Emang ada berita apa om?" tanya Ryan yang menjadi penasaran.


"Ah sudahlah nanti kau cari gau dewek lah." ucap om Yan. (dewek\=sendiri)


"Ais om, ceritakan lah. Bikin Ryan penasaran bae." jawab Ryan.


"Hahaa cari tau sendiri biar ada momen nya." ucap om Yan.


Sepanjang pagi mereka saling bercerita hingga adzan Dzuhur berkumandang. Mereka semua sholat dan sehabis sholat mereka beristirahat sejenak, apalagi om Yan akan masuk kerja di jam tiga sore.


Sore hari nya Ryan dan Syahril beranjak menuju dermaga, mereka berdua akan pergi dan menginap di rumah pakdo.


Rizki anak pakdo sepulang sekolah langsung kerumah bi Ida hingga dia pulang serempak dengan Syahril dan Ryan.


Kedua anak om Yan pun ikut Syahril dan Ryan ke rumah pakdo.


Sesampainya di dermaga, Syahril tak menunggu kapal feri lama dan mereka pun seger menyebrang.


Saat begini Syahril terkenang kembali saat mereka jalan-jalan bersama dahulu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah pakdo, Syahril dan Ryan langsung menuju kerumah Acik yang menjual udang.


Saat Acik Lanang mengangkat blad ke atas rumahnya Syahril memvideokan nya dan dia kirim ke group chat keluarga.


Rani, dan yang lain melihat itu langsung histeris.


group chat


"Yah enak-enak ya kalian makan udang." ucap Rani.


"Bang, kirim ke Semarang." ucap Irsyad.


"Oi Riil, tanggung jawab Dewi lagi ngidam kau tampakkan pula video ini." seru Andri yang menenangkan Dewi yang kepingin makan udang.


"Riil, bawa pulang ke Jambi Yo yang banyak-banyak." seru Siska.


"Kak, Novi mau yang satang nya yo." sahut Novi.


Dengan kiriman video itu seketika group chat keluarga itu menjadi ramai.


Syahril dan Ryan hanya senyam senyum membaca nya. Namun akhirnya Ryan ikutan mengirim foto dirinya sedang memegang udang besar di kanan kiri nya.


Saat Ryan mengirim foto itu di buat caption no COD pajak ongkir dan pembayaran harus di bayar TUNAI send.


"Woii jadi-jadilah." ucap Andri yang merasa kesal karena Dewi semakin merengek-rengek minta udang itu.


"Kaaaak Novi mau." ucap Novi.


"Awas kalau Ndak Bawak pulang 😠" ucap umma


"Ryaaaaaan" ucap ummi Parida.


Ryan membaca chat para rombongan bunda ratu ikut komen tertawa ngakak sehingga ibu-ibu yang ikut memilih udang melihat ke arahnya.


"Eh maaf ibu-ibu." ucap Ryan tak enak hati


Tak lama ummi Parida menghubungi Ryan dengan video call.


"Hallo assalamualaikum bunda ratu hehee." ucap Ryan dengan cengengesan dan mengedipkan mata.


"Waalaikum salam, jangan lupa udang yang besar-besae bawa pulang." ucap ummi Parida.


"Siap kanjeng ratu." ucap Ryan dengan memberi hormat.


"Coba ummi mau lihat.'' ucap ummi dan Ryan pun mengarahkan kamera hp ke rombongan ibu-ibu yang sedang memilih udang.


"Wah banyak nya.. Yan kamu Ndak ikut pilih." seru umma yang juga sudah tersambung di vidio call itu.


"Udah umma, udah di lainkan sama Acik nya." ucap Ryan.


"Eh Yan, itu kok kayaknya Zia tantenya Mimi nak?" tanya umma.


"Lah emang itu Tante Zia umma. Nte, nih umma mau bicara" jawab Ryan dan memanggil Tante Zia serta memberikan hpnya ke Tante Zia. jadilah para kanjeng ratu itu berubah haluan.


Ryan dan Syahril kembali membantu anak Acik yang baru tiba membawa hasil tangkapannya lagi.


Ryan dan Syahril telah memilih udang-udang yang mereka beli dan Syahril pun akhirnya membeli Styrofoam milik Acik untuk tempat undangnya.


Tante Zia lebih dulu pulang karena dia akan memasak. Beruntungnya Tante Zia saat mereka sedang memilih, Syahril menyiangi tiga kilo udang yang telah di pilihnya sebelumnya. Sehingga Tante Zia sampe rumah tinggal mencucinya dan memasaknya.


Sebelum suara adzan Maghrib berkumandang, Syahril dan Ryan serta ketiga adek yang beda usai itu pulang kerumah pakdo.


Menu berbuka puasa mereka sore ini selain bubur ketan hitam, mereka juga disajikan udang saos asam manis dan udang goreng crispy.


Saat menu udang itu terhidang tak lupa Syahril memfotonya. mereka para lelaki hanya memakai menu berbuka terlebih dahulu.


Sehabis berbuka, Semua yang lelaki pergi ke masjid untuk sholat Maghrib di masjid, sepulang dari masjid barulah mereka menyantap nasi dengan lauk udang.


Tak lama adzan isya berkumandang, mereka semua pergi ke masjid termasuklah Tante Zia merak sholat jaya di masjid dan sekalian menjalankan sholat taraweh.


Setelah terawih dan tadarusan, menjelang mereka tidur, Syahril, Ryan dan pakdo serta Tante Zia saling cerita.


Esok harinya air pasang long, pasang hingga siang hari. Pagi hari menjelang pulang, mereka kembali mengobrol tentang Mimi dan tentang perkejaan Mimi


Siang hari nya Syahril pun akan pulang kembali ke Tebing, semua Styrofoam sudah dia masukkan kedalam mobil, bahkan didalam Styrofoam itu sudah dibagi-bagi untuk siapa saja.


Sebelum pulang tak lupa Syahril juga meninggalkan beberapa kilogram udang habg ukuran sedang untuk anak-anak Tante Zia.


Inilah yang membuat pakdo maupun Tante Zia menyukai Syahril, sifat berbagi nya tidak pernah pudar. Bahkan mereka berharap Allah memberikan jalan buat mereka bedua ( Mimi dan Syahril) bersatu kembali.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2