
Keesokan hari di waktu hari Jumat kami semua akan kerumah pakdo yang berada di seberang. Untuk menuju rumah pakdo kami melewati hutan industri akasia dan untuk ke base camp ini kami harus melapor terlebih dahulu kepada security yang bertugas.
"Wah dek, jadi Ndak sembarangan ya bisa masuk sini." ucap kak Syahril.
"Iya kak, untuk ke sini kita harus lapor ke securitynya dan menunjukkan identitas kita seperti yang kita lakukan tadi." jawab Mimi ketika kami sudah diperbolehkan masuk.
"Setelah ini apa ada security lagi dek?" tanya Syahril.
"Iya ada kak, pas waktu mau masuk ke base camp nya.ada satu pos security lagi." jelas Mimi.
Tak lama kami pun sudah masuk simpang menuju basecamp distrik viva dan tak jauh melewati simpang kami berhenti lagi di pos security dan melapor maksud kedatangan kami kemari.
Setelah diberi izin kami pun masuk dan langsung menuju ke mess karyawan yang berada di belakang. Posisi di area ini bagian depan setelah pos security adalah kantor cabang. nah kalau kantor besarnya ya di daerah tebing sebelum ke dermaga.
Kami berniat nginap di sini, mess pakdo Mimi di samping kirinya ada kanal pabila air pasang maka kanal itu akan banjir samapaintergenang ke jalanan bahkan sampai masuk ke mess staff.
Kalau lagi pasang tinggi gini dan membuat banjir sehingga anak-anak bersuka ria bermain air, ada yang menceburkan diri ke dalam kanal tersebut dan ada pula bermain air di jalanan yang mana airnya setinggi lutut dewasa dan ada pula yang bermain sepeda di atas genangan air.
Tak hanya anak-anak bapak-bapak pun memanfaatkan untuk mencuci kendaraannya di genangan air mengalir ini.
Kenapa air kanal bisa banjir bila air pasang karena tak jauh dari mess-mess karyawan di belakang sana ada sungai namanya dibagi pengabuan.
Karena sebelumnya kami sudah memberitahu kau kami akan ke sini, tante ziana istri pakdo sudah mempersiapkan apa yang Mimi pesan.
Ya Mimi minta tolong dibelikan udang, disini ada warga yang tinggal di luar pagar mess karyawan sebagai petani dan nelayan, bapak ini biasanya memasang blad alat penangkap udang maupun ikan.
Pucuk di cinta ulama pun tiba di bapak pasang blad dan rezekinya dia mendapatkan banyak hasil tangkapan.
Air disini merupakan air pasang surut nah sewaktu di dermaga air sudah tinggi sehingga peri sudah bisa beroperasi sedangkan di sungai dekat sini air belum terlalu tinggi.
Kami menuju ke luar pagar menuju rumah Acik bapak penangkap udang ini. Jadi kami bisa langsung melihat dan memilih udang atau pun ikan secara langsung.
Sesampainya di rumah Acik dan Acik baru naik membawa hasil tangkapannya disana sudah banyak ibu-ibu menunggu untuk membeli udang maupun ikan.
Tak hanya ibu-ibu yang tinggal di lingkungan mess karyawan yang akan beli namun karyawan yang tinggal di Jambi pun juga membelinya untuk dibawa pulang ke Jambi.
Ya hari libur karyawan non shift gini jatuh nya pada hari Sabtu dan Minggu jadi di Jumat sore mereka yang tinggal di Jambi akan pulang sehabis jam kerja selesai.
Karyawan yang tinggal di Jambi setiap pulang telah tersedia mobil travel atau bus khusus karyawan yang tinggal di lingkungan kantor besar. Mereka cukup membeli tiket seharga Rp.3000/orang itu tiket khusus karyawan kalau non karyawan atau masyarakat biasa tiket travel Rp.60k / orang.
"Wah keren pak, gimana caranya bisa tangkap segini banyak?" tanya kak Ryan ketika melihat Acik mengeluarkan ikan dan udang dari baskom ke atas terpal yang di bentang nya.
"Pakai blad dek." jawab Acik yang perempuan.
Karena besok Sabtu mereka berencana akan berenang maka Mimi ke distrik sekalian membawa Ay, bi Ida dan anaknya Fajri. mamak Mimi Ndak ikut karena ini masa dia untuk menjemput rezekinya.
"Wah dek, beli yang besar-besar gini ya dek." ucap kak Syahril kepada Mimi sembari memilih udang-udang yang besar yang sudah ada satangnya.
"Pak, kapan pasang lagi? Minggu depan ada rencana pasang lagi ndak pak?" tanya Syahril.
"Belum tau dek, tergantung air nya." jawab Acik.
"Yah pak kalau pasang bisa kasih tau ndak pak harinya insya Allah Jumat Minggu depan kami pulang kami ingin beli udang yang seperti ini pak." ucap Syahril.
"Iya nanti saya kasih tau sama Tante Ziana nya ya." ucap Acik perempuan.
Yah Tante Zia sebelumnya sudah meneken akankah kepada Acik, Acik juga sudah mengenal Mimi sebelumnya.
"Iya Bu, kalau gitu saya pesan 10 kg ya Bu yang besar seperti ini 20kg yang B." ucap Syahril.
"Kalau ndak ada yang besar seperti ini gimana? tanya Acik laki.
"Yang B semua juga ndak apa pak." jawab Syahril.
"Buat apa Riil, banyak-banyak?" Tanya bi Ida.
"But menu di cafe Bi." ucap Syahril.
"Oh ya pak nanti bapak bisa sediakan styrofoam nya sekalian tidak, nanti biar saya bayar sekalian dengan udang-udang nya." ucap Syahril.
"Bisa nanti saya sekalian siapkan." ucap Acik laki.
"Oke pak kalau gitu." ucap Syahril.
Ibu-ibu yang ada disana terperangah akan pembicaraan Syahril dengan Acik, namanya manusia pasti bisik-bisik tetangga itu pasti ada, namun tante Zia hanya senyum saja menanggapi nya.
"Kak Ryan mau beli ikan baung ya?" tanya Mimi ketika melihat kak Ryan sudah melainkan ikan baung sungai yang besar-besar.
__ADS_1
"Iya Mi, nih enaknya di masak tempoyak." jawab kak Ryan.
"Tante Zia ada tempoyak ndak?" tanya Ryan kembali''
"Tadi bibi ada beli dan bawa Yan." jawab bisa Ida.
"Wah bi Ida tau aja kalau Ryan pengen tempoyak hehe." ucap Ryan.
Syahril menimbang semua udang yang di belinya dan sudah di bagi-bagikan setiap timbangan. Karena ada tiga tempat maka dia pun membagi 2kg untuk bisa Ida sekalian bawa pulang besok, buat pakdo 2kg dan 4nkg untuk di bawa pulang ke rumah Mimi 3kg untuk makan malam ini dan untuk bekal besok ke kolam renang.
BI Ida juga sudah memilih udang untuk dirinya karena dia tak tau jika Syahril sudah membeli buat dirinya.
"Wah kak banyak nian beli udangnya,"tanya Mimi.
"Iya Ndak apa dek kan buat makan nanti bisa kan masak saus." ucap Syahril.
"Iya nanti cari dulu saos nya." jawab Mimi.
"Dirumah ada stok Mi saosnya." jawab Tante Zia yang juga lagi memilih ikan dan udang-udang tapi bisa Ida dan Tante Zia memilih udang yang ukuran sedang.
Mimi juga memilih ukuran sedang untuk dibawa pulang kalau ikan yang besar kurang stek kalau di masak sambal
Setelah ditimbang semua dan di tentukan harga yang Mimi beli dan yang dingin Ida Tante Zia di bayar oleh Syahril
"Oh ya Cik berapa nih punya saya?" tanya Tante Zia.
"Iya ci sekalian punya saya." tanya bidan Ida.
"Tante Zia sama bi Ida beli apa?" tanya Syahril.
"Nih Riil Tante beli ikan sama udang buat stok lauk di rumah." jawab Tante Zia.
"Bibi sama mau di bawa pulang besok." jawab bisa Ida.
"Yaudah Bu, sekalian masuk ke jumlah punya saya tadi," ucap Syahril.
"Ndak usah Riil biar Tante bayar sendiri punya ya tante." tolak Tante Zia.
"Ndak apa nte biar sekalian." ucap kak Syahril.
"Mau sekalian gue siangi biar bersih." jawab Ryan.
"Emang udah Lo timbang dan bayar Yan, main bersihin aja." ucap Andri yang asik melihat pinggiran sungai.
"tenang udah gue timbang dan bayar kok sama si bapak, iyakan pak?" ucap Ryan yang sedang memotong ikan dan mengeluarkan isi perut ikan.
"Iya sudah tadi." jawab si Acik laki.
"Wah enak nih mancing di sungai ya Ndri sambil duduk disini." ucap Rudi yang melihat bapak-ibunya sedang mengayunkan kail pancingnya.
"Iya Rud, tapi sayang kita gak bawa pancing, Mimi gak kasih info yang akurat." jawab Andri.
"Iya kalau tau gini kita bawa pancing dari Jambi." ucap Rudi.
Sehabis transaksi udang kami semua kembali ke mess pakdo.
Syahril pun mengeluarkan udang-udang yang di belinya dan sudah dibtimbangnya.
"Oh ya ini buat bi Ida, ini buat Tante Zia, dan ini buat bawa pulang ke rumah emak dek, dan yang ini sebagian di masak saos untuk malam ini dan untuk besok ya bawa ke kolam renang besok." ucap Syahril kepada Mimi.
"O oke kak," Mimi pun segera memberitahukan kepada Bu Ida dan Tante Zia.
Mimi segera membersihkan udang-udang yang buat di masak malam ini dan untuk di bawa pulang nya besok setelah bersih Mimi masukkan ke dalam freezer pakdo.
Menu malam ini udang dimasak saos, tumis kangkung sambal ayam. Sehingga tempoyak ikan baung ya di tunda.
Keesok pagi nya pagi-pagi Mimi dan Di'ah membantu biaya Ida dan Tante Zia masak karena kami hari ini akan pergi ke kolam renang di daerah ulu.
Setelah masak dan semua telah di masukkan kedalam mobil kami pun segera berangkat ke kolam renang.
Sesampainya di kolam renang kak Andri segera membeli tiket masuk. Di dalam sini tersedia 4 kolam 2 kolam kolam renang untuk dewasa dan 2 lagi untuk anak-anak.
Kolam renang terletak di pedesaan bagian ulu dan dari kolam renang terlihat persawahan di bawahnya yah posisi tanah seperti perbukitan, dan di seberang persawahan terlihat perbukitan.
Sayang saat ini sawah musim panen jadi tak terlihat hijau. Di kolam renang ini juga disediakan wahana buat anak-anak dan ada panggung hiburannya juga.
Mimi yang notabene tak bisa berenang maka dia hanya menemani Ay di kolam yang kedalamannya sepinggang Mimi.
__ADS_1
Lama mereka bermain air dan berenang rasa lapar pun menghampiri, maka kami semua berhenti dahulu untuk makan.
Menu makan siang kami di kolam renang adalah ikan baung di gulai tempoyak, udang goreng crypy, sambal petai dan lalapan timun serta rebusan kacang panjang dan pucuk daun ubi.
Kami menyantap makanan dengan diiringi musik yang dimainkan oleh pemain musik organnya, hembusan angin yang menerpa pun membuat suasana menjadi nyaman.
Sehabis makan kami kembali ke kolam renang menemani Ay dan anak- Tante Zia dannbi Ida mandi kembali sebentar sebelum kami bilas.
Tak terasa waktu terus berjalan, suara adzan Dzuhur pun telah berkumandang kami semua berhenti dan beranjak dari kolam renangenuju ruang untuk bilas.
Sehabis bilas dannberganti pakaian kami langsung menuju musholla yang berada di kolam renang ini untuk menjalankan kewajiban kami kepada sang Illahi Rabbi.
Sehabis sholat kami pun membereskan semua barang-barang bawaan kami dan kami pun akan kembali pulang ke rumah Tante Zia.
Sesampainya di rumah Tante Zia kami beristirahat sejenak sambil menunggu air pasang kembali, karena untuk kembali pulang ke rumah Bu Ida kami harus melewati sungai dan menaiki peri lagi.
Sebenarnya bisa saja kami lewat jalur jalan sepulang dari kolam renang kami bisa lewat jalan darat sebelah kiri yang bila belok ke kiri menuju daerah tebing kalau lurus langsung ke jambi.
Namun kami harus kembali ke rumah Tante Zia karena udang-udang kami ada di rumahnya.
Air pasang hari ini jam lima sore, jadi kami ounenunghu hingga jam lima. sambil menunggu Syahril cs pergi memancing karena sepulang dari kolam renang mereka berhenti di toko-toko pertanian di pinggir jalan yang mana di toko tersebut juga menjual alat pancing.
"Akhirnya keinginan gue mancing di pinggir sungai gini tercapai juga." ucap Rudi.
"Iya Rud, untung di jalan lintas tadi ada toko. yang jual alat pancing juga." sahut Andri.
"Yaudah ayo kita cari umpannya?" ucap Ryan yang telah membawa cangkul.
"Ayoo." jawab Rudi semangat.
Setelah mereka mengumpulkan banyak cacing mereka segera pergi ke tempat Acik di belakang untuk mencoba memancing disana.
"Yah Riil ternyata surutnya tinggi bener yak." ucap Rudi stelah Samapi sana air nya surut tinggi sehingga jarak antar jembatan rumah Acik ke arah sungai sangat jauh bahkan lumpur-lumpur akan kelihatan.
"Iya dek, karena air belum pasang tinggi. kalau mau mancing ya di kanal-kanal." ucap anak Acik yang perempuan.
"Hemm dah semangat tadi yuk beli pancing ndak tau nya gini." jawab Andri lesu.
"Acik ndak angkat blad lagi hari ini yuk?" tanya Syahril.
"Mereka Ndak pasang kemaren karena hari ini mereka pergi panen sawit," jawab si Ayuk anak Acik.
"Kok gitu yuk? kan bisa lagi panen sore gini pas pasang mereka angkat blad." ucap Ryan.
"Iya Ndak bisa dek, capek yang ada mereka dan sampannya mau dibuat langsir buah sawit ke toke sawitnya." jelas si Ayuk.
"Hah emang hasil panen sawitnya pakek jalur sungai ini juga yuk angkutnya?" tanya Andri penasaran.
"Iya di angkut pakek sampan menuju desa sebelah sana." jawab si Ayuk dengan menunjuk arah ke sebelah kiri yang mana arah tersebut bisa dikatakan menuju darah dermaga.
"Wah berapa kali langsir itu yuk kau gitu, apa lagi kalau hasil panennya banyak pasti tidak cukup sekali langsungnya." ucap Syahril sambil menerawangi alias menghayal dan menghitung nya.
"iya kalau hasil panen banyak bisa sampai 4-5kali langsir." jawab Ayuk.
"Wah pantes lah Acik ndak pasang blad kalau sampai segitu banyak langsir ya ya ndak keburu angkat blad nya." ucap Syahril menimang-nimang sambil menganggukan kepalanya.
"Nah itu air baru mulai pasang." ucap Ayuk dengan menunjukkan pergerakan air.
Air pasang maka arah alirannya ke arah hulu dan jika surut arah air nya ke arah hilir.
Assalamuakaikum, Alhamdulillah kita up nya buat pagi hari ini ya.
Jangan lupa selalu beri dukungannya dan tinggalkan Krisan di kolom komentar.
Jangan lupa klik favorite karya authore ya dan tinggalkan jejak berupa
RATE
VOTE
LIKE
KOMEN
FAVORIT
TERIMAKASIH
__ADS_1