
Di dalam ruangan rektor sedang melakukan mediasi untuk membalikan naama baik Mimi.
Abi juga tidak terima atas sikap seorang dekan yang arogan seperti dekan Ardiansyah tersebut.
Dekan Ardiansyah merasa dirinya telah di pojokan oleh para dekan lain. Ya para dekan lain melihat ada unsur pribadi dalam hal ini sehingga mereka berpikir apakah dekan Ardi ada ikut campur tangan masalah isu yang sedang beredar tersebut.
"Pak Ardiansyah, sedari tadi saya lihat Anda begitu ngotot terhadap ponakan saya Mimi. Apa maksud anda dengan semua yang Anda lontarkan itu???" ucap Abi yang sudah mulai geram dengan dekan satu itu.
"Pak Arsyad, saya selaku dekan disini saya tentunya ingin kampus ini bersih dari perilaku-perilaku ank yang tidak bermoral." ucap dekan Ardiansyah.
"Maksud Anda ponakan saya tidak bermoral gitu?? terus apa bedanya Anda yang langsung menuduh, menjudge tanpa ada bukti yang konkrit. Saya bisa melaporkan Anda kepada pihak berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik serta pelecehan terhadap mahasiswa." ucap Abi.
"Hahahaa pelecehan.. Maksud bapak apa? pelecehan dari mana? apa saya ada pegang dia, bahkan yang pegang dia adalah diri Anda sendiri." ucap dekan Ardiansyah menuduh Abi.
"Darimana nada menyimpulkan saya memegang keponakan saya? apa anda melihat dengan mata kepala Anda sendiri, atau jangan-jangan foto itu Anda yang melakukan untuk menjatuhkan mahasiswa terbaik di kampus ini?'' ucap Abi dan semua yang berada di dalam hanya menyimak sebelum memberi keputusan kepada dekan Ardiansyah.
"Jangan asal menuduh Anda pak, saya juga bisa melaporkan Anda dengan pencemaran nama baik Lo." ucap si dekan membalikan omongan.
"Silahkan jika itu mau Anda, saya akan ikuti dan satu lagi pastinya pihak kampus memiliki IT bukan? kenapa kalian tidak memeriksanya kebenaran yang ada tentang foto itu." ucap Abi dan seketika membuat dekan Ardiansyah kelimpungan mencari bahan untuk menjatuhkan Abi.
Rektor yang melihat adanya keganjilan dalam masalah ini pun akhirnya buka suara.
"Dekan Ardiyansyah, apa yang dikatakan oleh pak Arsyad ada benarnya. Kenapa Anda begitu antusias untuk mengeluarkan Mimi Akifah dari kampus ini? sebenarnya Anda ada masalah apa dengan Mimi?" ucap rektor dan bertanya kepada dekan Ardiansyah.
"Dan saudari Mimi, apa anda juga memiliki masalah dengan dekan Ardiansyah?" tanya rektor kepada Mimi.
"Maaf prof, saya tidak memiliki masalah dengan dekan mana pun. Bahkan saya juga tidak mengenal dekan Ardiansyah. Jadi menurut saya, saya tidak pernah melakukan kesalahan terhadap dirinya." jawab Mimi.
Mimi memang tidak mengenal siapa dekan Ardiansyah karena Mimi adalah anak fakultas kedokteran sedangkan dekan Ardiansyah merupakan dekan dari anak fakultas pendidikan yang sangat jauh dari segala pelajaran di fakultas Mimi.
Sedang dekan Ardiansyah adalah seorang ayah sekaligus Paman dari dua orang mahasiswi di kampus ini. Dia melakukan ini karena desakan atas kedua orang yang disayanginya namun salahnya adalah dia tidak mencari kebenaran terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyampaikan masalah yang diadukan kedua anak kesayangannya itu.
Anak kesayangannya adalah mahasiswi yang selalu membuat ulah dengan Mimi, padahal Mimi tidak tau kating nya itu dan ada masalah apa kating itu terhadap dirinya.
Sewaktu masalah pertama dulu sehingga Mimi juga dipanggil dan dihadapkan dengan para dekan itu juga ulah dari mahasiswi tersebut.
Sedangkan masalah saat ini, mereka belum mengetahui siapa dalang dari semua itu.
"Bagaimana dekan Ardiansyah, apa anda bisa jelaskan?" tanya rektor dan dekan Ardiansyah hanya diam memikirkan jawaban apa yang akan dilontarkannya.
"Iya dekan Ardi, saya juga berpikir kenapa Anda begitu ngotot dengan masalah ini harus diselesaikan di group chat semalam." ucap salah satu dekan yang ada disana.
"Betul, Anda begitu ngotot ingin memberikan sanksi terhadap saudari Mimi Akifah karena menurut Anda Mimi Akifah juga telah melakukan kesalahan sebelumnya." ucap salah satu rekannya.
"Dan satu lagi, darimana Anda bisa mendapatkan foto itu?" tanya dekan yang pertama kali bertanya pada Mimi dan semua sontak juga melihat ke arah dekan Ardiansyah.
"Foto??" ucap Abi.
"Oh jadi benar, itu ulah Anda!!!" ucap Abi lagi.
"Apa maksud Anda melakukan semua ini? Anda adalah seorang dekan tentunya memiliki pendidikan yang tinggi sehingga Anda menjabat seorang dekan di kampus ini.. tapi nyatanya jabatan serta pendidikan yang Anda dapat sepertinya tidak wajar. Apa jadinya mahasiswa yang Anda ajarkan jika Anda sendiri tidak memiliki attitude yang baik." ucap Abi.
"Saya serahkan kepada profesor, apakah dekan seperti ini masih Anda pertahankan?? seorang dekan yang memiliki sifat tak terpuji, dan satu lagi saya rasa masalah ini sepertinya tidak ada kesepakatan baik dari salah satu dekan di kampus ini, maka saya akan mengajukannya kepada pihak berwajib." ucap Abi lagi.
"Maaf saya harus permisi, dan nanti biar pengacara saya yang akan menindak lanjuti selanjutnya, terimakasih assalamualaikum." ucap Abi dan beranjak dari duduknya serta bersalaman dan pamit keluar.
Kepergian Abi, profesor Brata Wijaya selaku rektor pun menyayangkan akan sikap dari salah satu rekannya, dia pun akhirnya akan melakukan tindakan tegas kepada semua dekan jika ada yang membuat kesalahan yang sama maka mereka akan diadili seadil-adilnya dan sanksi terberatnya adalah di pecat tanpa hormat.
Karena urusan di dalam selesai Mimi dan Irsyad keluar, hari ini Mimi kelewatn satu jam mata pelajarannya begitu pula dengan Irsyad.
__ADS_1
Disaat Mimi dan Irsyad berjalan segerombol cewek berbahan minim mendekati Mimi dan Irsyad dan mengeluarkan cemoohannya.
"Waaaaw mahasiswa terbaik, penerima beasiswa ternyata hmmmm lebih baik Lo buka aja tuh jilbabmu." ucapnya dengan menarik hijab Mimi namun Mimi juga ikut mencengkeram tangan si cewek dengan kuat.
"Iya, malu maluin aja... sok kalem nggak taunya..." ucap salah satu cewek itu.
"Jaga ucapan MU.." ucap Irsyad
"Kalau nggak tau permasalahan jangan main asal tuduh. Ada masalah apa kamu dengan Mimi hah!!!" ucap Irsyad dengan menarik kasar tangan si cewek dan dihempas secara paksa juga.
"Karena dia sok kecakepan, karena dia sudah berani menggoda orang yang aku sukai.." ucap si cewek dengan menggebu-gebu.
"Maaf kak, emang yang kakak maksud itu apa? saya tidak mengerti." ucap Mimi ya g masih berusaha sabar.
"Gara-gara Lo, semua cowok yang gue sukai selalu memandang ke arah Lo." ucapnya lagi dengan mendorongkan bahu Mimi sehingga Mimi ikut terdorong.
"Siapa maksud kakak dan cowok.. cowok siapa? dan satu lagi kak .. saya tidak tau maksud dari kakak.. atau jangan-jangan kakak yang menyebarkan foto-foto itu.." ucap Mimk yang akhirnya juga ikut tersulut emosi walau sedikit.
"Iya.. kenapa? protes hahahahahaa, Lo nggak bisa protes karena sebentar lagi Lo akan di DO dari kampus ini.
Tanpa disadari ternyata Abi masih ada disana dan mendengar semua apa yang di ucapkan cewek tersebut dan tak hanya Abi ternyata rektor serta para dekan pun ikut menyaksikan pengakuan secara tidak sengaja itu.
"Heii cewek kampung... lo kuliah disini hanya mengandalkan beasiswa aja blagu.." ucap salah satu temannya dengan mendorong bahu Mimi.
"Ha-ha-ha ya wajarlah blagu, ternyata begitu banyak cowok yang dia ajak jalan.. Bahkan Om Om pun di gaetnya guys... emang Lo di bayar berapa sama Dady sugar Lo." ucap si cewek.
Abi yang mendengar itu merasa geram dan ingin menampar mulut cewek yang tak berattitude itu.
Perlahan dengan pasti Abi pun sudah sampai di belakang mereka.
"A Abi.." ucap Mimi dan seketika si cewek berhenti membully Mimi.
"Waaw hebat kamu, langsung Daddy sugar nya datang... Hai Om, mau ngapelin baby sugar nya ya." ucapnya si cewek tanpa ada rasa malu itu.
plaakkk
Profesor dan para dekan terkejut ketika Irsyad sudah melayangkan tangannya kepada seorang perempuan.
"Jaga mulut Lo" ucap Irsyad dengan merapatakn giginya dan telunjuk yang di tunjukan ke wajah si cewek dengan ke empat jari yang mengenggam erat serta mata menatap tajam.
"Waaaw, bakal seru nih Daddy sugar plus kekasih hati di kampusnya bertemu." ucap si cewek yang seakan tak ada kapoknya walau sudah mendapatkan tamparan.
"Begitu tajam mulut kakak, kakak adalah senior disini tapi mulut kakak seperti tidak mendapatkan pendidikan sesuai dengan pendidikan yang kakak ambil yaitu HUKUM." ucap Mimi dengan menekankan kata hukum karena Mimi melihat dari almamater yang dikenakan oleh mahasiswi tersebut.
"Oh jadi dia fakultas hukum Mi.. Bagus sekali Anda calon seorang lawyer tapi kelakuan Anda tidak memilik tata krama untuk menjadi seorang lawyer, An di ta..." ucap Abi dengan membaca name tage mahasiswi tersebut.
"Perkenalkan saya Arsyad Ahmad Aljufri abinya dari Mimi dan Irsyad yang sedang kalian bicarakan dan kalian hina dan fitnah ini." ucap Abi dengan senyum yang sulit di artikan.
"Terimakasih karena kamu sudah mengakui semua nya dan itu akan saya jadikan barang bukti untuk melaporkan Anda ke pihak berwajib. Aish.. apa sudah terekam nak?" ucap sang Abi.
"Sudah Bi." ucap mbak Aishyah dengan senyum mengejek.
"Dan kamu..... lihat di sekeliling kamu, mereka semua menjadi saksi akan tindakan yang telah kalian perbuat.." ucap Abi dan menunjukan ke arah sekeliling yang ternyata juga sudah ramai oleh mahasiswa, dosen serta petinggi kampus lainnya termasuklah dekan Ardiansyah.
"Pa pah.." ucap si cewek ketika melihat sang ayah pun ada disana.
"Baiklah profesor Brata Wijaya, semua ada di tangan Anda." ucap Abi dan berlalu pergi diikuti ketiga anaknya, Mimi, Irsyad dan Aishyah.
Semenjak kejadian itu mahasiswi bernama Andita di DO sedangkan mahasiswi yang ikut merencanakan hal itu juga ikut di DO dan dekan Ardiansyah di pecat tanpa hormat.
__ADS_1
Flasback off
Namun permasalahan pembullyan terhadap Mimi belum juga berakhir, entah mengapa selalu banyak orang yang ingin menjatuhkan nya. Mimi selalu bersikap cuek kecuali kepada para sahabatnya.
Awalnya Mimi menyangka Rangga yang melakukan kejadian itu tetapi ternyata bukan, walaupun begitu Mimi tetap berhati-hati karena semua juga berawal dari mulut lemesnya Angga.
Mimi menjalani kegiatan rutinitasnya dikampus dengan baik dan dia masih menjadi mahasiswa terbaik di fakultasnya.
Sebelum pulang Mimi mampir ke kantin kampus untuk mengambil hasil dagangan yang dititipkannya di kantin.
"Assalamualaikum ibu.." ucap Mimi kepada ibu Ruminah.
"Waalaikum salam neng.. Bentar ibu ambil dulu." ucap ibu dengan menuju salah satu meja di dalam warungnya untuk mengambil wadah dagangan Mimi.
Iya setahun setengah sudah Mimi menitipkan dagangan ke kantin dan Alhamdulillah dagangannya selalu habis. Mimi menitipkan cup cake brownies, pempek, bahkan kerupuk ikan yang di bungkusnya.
Awalnya Mimi tak hanya menaruh satu tempat namun karena tersebarnya isu sebelumnya ada beberapa ibu-ibu karena terhasut dan tak ingin menerima titipan dagangan Mimi, tapi beda dengan Bu Ruminah dan Bu Ajeng yang selalu menerima titipan Mimi.
Ya dengan menitipkan dagangan ini, Mimi bisa menabung untuk kuliah nya, tiap hari sepulang dari kampus Mimi belanja bahan terlebih dahulu dan setelah menyelesaikan tugas-tugas kampus Mimi ke!Bali berkutat dengan perbackingannya.
Kadang Mimi juga menjualnya via online dan karena itu Mimi memiliki banyak langganan.
Setiap hari Minggu Mimi selalu pergi kepasar dan kadang Mimi selalu membantu si Mbah berjualan. Mimi melakukan itu karena Mimk hanya ingin mencari kesibukkan. Dan urung pula Mimi membawa dagangannya juga hehhee...
Untungnya si Mbah tak merasa keberatan dan dari hasil dagangannya juga Mimi memberikan sebagian untuk si Mbah.
Mimi ingin mencari pekerjaan yang part time namun belum ada yang kosong, yah Mimi ingin mencari kerjaan itu yang sekiranya dekat dengan kampus dan area kosannya. Kalau jauh-jauh Mimi takut saat pulang kerjanya dan Mimi juga nggak punya kendaraan.
Disetiap hari liburnya Mimi dipasar tradisional, ada sepasang mata yang selalu mengikuti nya, entah sejak kapan dia selalu ingin mengawasi Mimi.
Walau awalnya dia juga ikut terpengaruh oleh isu isu tentang Mimi namun semenjak dijelaskan oleh sahabatnya diapun akhirnya tau siapa Mimi sebenarnya.
"Apa Lo, nggak capek bro tiap Minggu kepasar gini hanya untuk mengawasi dia?" tanya sang sahabat.
"Entahlah, rasanya nggak pernah ada rasa capeknya." jawabnya.
"Dasar bucin Lo, tapi sayang kebucinan Lo masih dalam angan-angan hahhaaaa." ucap sahabatnya yang lain.
"Lo kan tau kalau dia sudah ada tunangannya, kenapa juga masih Lo tungguin sih.." ucap sahabatnya ketiga.
"Iya betul banget itu, sampe-sampe karena untuk mengawasi dia kita-kita nggak ngapelin cewek kita." ucap satu sahabatnya.
"Yaudah kalau kalian mau ngapelin cewek kalian ya sana.. ngapain juga kalian ikut." ucapnya tanpa melihat ke arah sahabatnya
"Huhhh kenapa baru sekarang lo nyebutnya bambankkk," ucap salah satu sahabat dengan menepuk pundaknya.
"Yaudah Sanaa kalian pergi aja.." usir si cowok.
"Kenapa mesti menjadi milik orang sih.." Gumamnya.
"Makanya move on bro." ucap satu sahabatnya.
"Sudah gue coba, cuma... nggak bisa.Apa lagi Lo tau dia yang selama ini gue cari, capek-capek gue cari ke Jambi eh nggak taunya dia sudah di sini lama." ucapnya...
"Dan Lo lagi kenapa nggak kasih tau sejak dulu??" imbuhnya.
''Biar Lo mencarinya sendiri la.." ucap satu sahabatnya.
Nah siapa kah mereka...
__ADS_1
Next bab aja ya..
makasih