DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
menginap rumah simbah


__ADS_3

Setelah berbelanja bahan-bahan untuk Simbah di rumah Mimi dan Simbah pun pulang. Mimi mencatar mobil untuk pulang, karena Mimi tidak sanggup untuk berjalan karena kepalanya kembali sakit.


"Mbah kita pulang pakai mobil ya?" ucap Mimi dengan menunjuk sebuah mobil pickup.


"Ya terserah kamu ndok." jawab simbah dan mereka pulang bersama.


Sampai di persimpangan keluar area pasar Mimi melihat ada rumah makan serta apotek, Mimi memberhentikan mobilnya.


"Pak stop dulu ya." ucap Mimi, supir pun menyetorkan mobilnya.


"Mau kemana ndok?" tanya Simbah.


"Bentar Mbah." jawab Mimi dan langsung turun dan berlalu menuju rumah makan Padang itu untuk membeli 4 bungkus nasi lengkap serta bebepa bungkus lauk untuk makan malam.


Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Mimi oergimke apotek yang berada di samping rumah makan tersebut untuk membeli beberapa obat yang dia butuhkan.


Setelah semua dia dapatkan, Mimi pun kembali ke mobil yang di catarnya.


"Kamu beli nasi toh ndok?" tanya Simbah.


"Iya Mbah biar nanti kalau sampai nggak repot masak dulu hehee." jawab Mimi.


"Kamu itu ya dari dulu nggak berubah. Terus tadi Simbah lihat kamu ke apotek beli apa?" tanya Simbah lagi.


"Mimi beli beberapa obat Mbah." jawab Mimi dengan senyum yang melekat di bibir pucatnya.


"Kamu sakit?" tanya Simbah dengan menaruh punggung tangannya ke kening Mimi.


"Badan mu anget ndok." ucap Simbah, Mimi hanya tersenyum.


Selama perjalanan Mimi tertidur karena dia tidak sanggup menahan rasa sakit kepala yang menyerangnya lagi.


Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai, Simbah membangunkan Mimk yang tertidur pulas.


"Ndok, ndok. Kita sudah sampai." ucap Simbah dengan menepuk pundak Mimi.


"Hmmm kita sudah sampai ya Mbah." tangan Mimi dengan suara parau dan mata maaih menyipit.


"Iya ayo turun." jawab Simbah, Mimi pun mengangguk dan segera turun.


Mimi melihat rumah Simbah yang berdinding kan sebagian papan dan bambu itu. Mimi juga melihat disekelilingnya tertanam pohon-pohon kelapa dan ada juga kebun ini, jagung dan cabe.


Mimi merentangkan tangan dan menghirup udara segar dari desa Simbah.


"Ayo, masuk." ajak Simbah, Mimi pun mengangguk.


"Bentar Mbah." ucap Mimi,


"Ada apa? nasi buat supir udah Mbah kasih." ucap Simbah.


"Oh udah ya hehehe." jawab Mimi dengan cengengesan.


"Yaudah ayo masuk." ucap Simbah dan mengajak Mimi masuk dengan menggandeng tangan Mimi.


"Beginilah gubuk simbah." ucap Simbah ketika rumahnya sudah terbuka.


"Rapi dan bersih." gumaam Mimi dalam hati ketika melihat dalam rumah Simbah yang bersih dan rapi.


"Ayo kita cuci tangan dan kaki dulu kebelakang, setelah itu baru kita makan." ajak Simbah, Mimi pun menurut.


Mimi berjalan mengikuti Simbah ke arah dapur, dapur Simbah posisinya jatuhnya berada di samping buan belakang seperti kebanyakan rumah.


Di dapur Simbah Mimi mengamati setiap sudut nya yang rapi dan bersih, ada amben, ada meja, dan ada tungku api tungku yang di buat dari tanah liat dan di bentuk seperti gundukan-gundukan yang mana ada lubang dua di atas nya. ( bayangin sendiri yang belum tau, bagi orang desa pasti tau tungku ini ).


Simbah berjalan hingga membuka pintu keluar. Mimi terus mengikuti Simbah. Tempat yang Mimi duga adalah tempat mandi serta aktifitas lainnya disini.


Ada sumur dan ada pomoa air tradisional yang mana jika ambil air harus di genjot dulu baru keluar airnya, ada gentong yang Mimi yakini bhat berwudhu.


Tempatnya juga masih terbuka tanpa ada atap menutupinya.Disekelilingnya pun hanya di tutupi oleh tanaman daun mangkokan yang sudah rapat berbentuk pagar tinggi. Di sudutbterdqoqtnada bilik kecil yang Mimi yakini itu adalah wc.


Simbah menggenjot pompa air dan menampung nya di baskom besar. Setelah penuh dia pun menyuruh Mimi untuk mencuci muka dan kaki.


"Ayo ndok cuci tangan dan kakinya." ucap Simbah dan menyuruh Mimi untuk mencuci tangan dan kaki.


"Iya Mbah." jawab Mimi dan lekas mencuci tangan, muka serta kakinya.


Air yang segar berasal dari mata air langsung, sejuk itunyang Mimi rasakan di tambah terkena semilir angin yang menerpa membuat buku kuduk Mimi meremang kedinginan.


"Nanti kalau mau mandi jangan langsung mandi air dingin harus pakai air panas bjae nggak kedinginan. Badanmu masih anget." Ucap Simbah menasehati.

__ADS_1


"Iya Mbah." jawab Mimi.


"Ayo kita masuk, kita makan dulu." ucap Simbah.


"Emm Mbah Mimi mau sholat dulu baru makan, karena sah masuk Dzuhur." ucap Mimi.


"Iya juga ndok, yo wes kita berwudhu dana sholat aja dulu." jawab simbah.


"Nah kalau mau wudhu disini, kalau air nya habis kamjnisi aja ambil dari dalam gentong tertutup ini dan kamu masukkan kedalam gentong tempat wudhu ini." ucap Simbah memberitahu Mimi.


"Iya Mbah." jawab Mimi dan Mimi pun segera mengambil wudhunya.


"Mbah nggak berwudhu?" tanya Mimi pada simbah karena Mimk tidak melihat Simbah mengambil wudhu.


"Mban nanginqja berwudhunya, Simbah mau sekalian mandi gerah." ucapnya


"Ayo masuk Simbah kasih tau kiblatnya." ucap Simbah mengajak Mimi masuk.


Setelah selesai membersihkan tangan dan kaki serta Mimi yang sudah berwudhu, mereka berdua pun masuk kedalam. Kini giliran Simbah Lanang yang membersihkan diri.


Simbah wedok mengarahkan Mimi di tempat yang khusus buat mereka sholat.


"Nah kamu sholat disini, nih sudah Simbah pasang sajadah nya." ucap Simbah dengan menggelar sajadah menghadap Kiblat.


"Ini rukuhnya." ucap Simbah dengan mengambil mukena baru dari lemari kecil yang tak jauh dari amben.


"Nggak usah mbah, makasih. Mimi ada bawa mukena kok." Ucap Mimi dengan menolak mukena baru yang Simbah berikan.


"Yaudah kalau gitu, kamu sholat dulu. Simbah mau mandi." ucapnya dan Mimi pun mengangguk.


Simbahnberlalu kembali ke kamar mandinya, Mimi mengambil mukena dari dalam ranselnya yangndi taruh dinatas amben.


Yah ruangan rumah simbah ini memanjang, diruang ini ada kursi dan meja kayu, di belakang samping kursi meja ada sebuah amben yang lebar beralasan tikar dan ada kasur santai terlipat.


Disamping amben ada lemari kecil yang Mimi lihat sepintas berisi mukena, sajadah, sarung dan Alquran. di samping lemari ini terdampar tikar yang Mimk yakini tempat khusus buat mereka sholat.


Si bagian belakang atau disamping tempat Mimk berdiri untuk sholat ada tiga buah kamar berjejeran. Makanya posisi dapur berada di samping bukan kebelakang.


Mimi melaksanakan sholatnyansengan khusuk, suasana yang tenang dan sunyi membuat hatinadem dan twnangblula dalam menjalani ibadah.


Setelah sholat dan membereskan alat sholatnya, Mimi kembali melihat-lihat rumah Simbah. Di samping sebelah kanan jika posisi masuk kedalam rumah juga terdapat satu pintu lagi. Mimintidak tau tempat apa disebelah kanan ini. Jika sebelah kiri adalah dapur.


Antara dua kamar ditengah-tengah nya ada lemari kayu jati, begitu pula di samping dekat satu pintu yang Mimi tidak tau tempat apa itu, disana juga terdapat dua lemari kayu jati berisi.


"Udah selesai ndok sholatnya?" tanya Simbah yang mengagetkan Mimi.


"Yaudah kalau gitu tunggu Simbah shokat dulu baru makan, atau kalau mau makan duku juga nggak apa.'' ucap Simbah.


"Iya Mbah, makannya tunggu Simbah aja." jawab Mimi.


Mimi melihat Simbah wedok dan Simbah Lanang sholat berjamaah berdua.


"Kalau tau gini enaknya tadi nunggu simbah aja biar bisa sholatnya berjamaah." gumam Mimi.


Sambil menunggu Simbah selesai Mimi menyiapkan piring, cangkir serta sendok dan cuci tangannya. Mimi pergi kedapur Mimi melihat Simbah memasak air ditungkunya.


Mimi membawa piring, cangkir dan sendok ke ruang rumah. Mimi juga mengambil nasi bungkus nya dan Mimi letakan ke atas piring.


Mimi juga menuangkan air minum kedalam cangkir, beberapa bungkus lauk yang dibelinya tadi akan Mimi panaskan setelah makan.


Simbah wedok dsan Simbah Lanang telah selesai sholat, mereka pun makan siang kesiangan bersama.


Sehabis makan Mimi segera meminum obatnya, Simbah melihatnya hanya tersenyum.


"Jangan biasakan minum obat ndok." ucapnya.


"Kepala Mimi pusing mbah, sudah seminggu ini Mimi demam." jawab Mimi.


"Nanti Simbah kusuk ya." ucap Simbah, Mimi pun mengangguk dan tersenyum.


"Ayo ndok, kita tidur siang dulu biar badannya asa istirahatnya." ucap si Mbah wedok.


Mimi mengangguk, Mimi melihat di atas amben Simbah Lanang sudah tertidur pulas.


"Ayo masuk kamar," ucap simbah, Mimi oun hanya mengangguk dan mengikutinya.


"Nah ini kamar buat kamu." ucapnya, Mimi melihat kamar ini bersih dan kasurnya pun rapi.


"Ini dulunya kamar anak Simbah, Sebelum mereka menikah dan merantau." jawab simbah dengan lirih.

__ADS_1


"Berapa lama mereka nggak pulang Mbah?" tanya Mimi.


"Awal-awal mereka menikah, dan awal mereka memiliki anak satu atau dua mereka sering pulang walau hanya tiap lebaran. Tapi setelah lima belas tahun ini mereka tidak ada yang pulang bahkan mereka juga sepertinya sudah enggan mengenal Simbah sebagai orang tua mereka." jawab simbah dengan deraian air mata.


"Maafkan Mimi ya Mbah." ucap Mimi merasa bersalah dan menghapus air mata Simbah.


"Nggak apa-apa ndok, huum huh makanya kamar anak-anak Simbah selalu Simbah bersihkan, Simbah berharap mereka pulang kamar mereka dah bersih dan rapi." ucap Simbah yang tersirat hafalan di matanya.


"Emm Mbah kalau Mimi tau, anak Simbah tinggal dimana sekarang? atau apa mereka ada nomor telponnya?" tanya Mimi.


"Anak pertama dan kedua Simbah merantau ke Kalimantan, anak ketiga Simbah di Sumatra, anak ke empat Simbah terakhir masih di pulau Jawa ini setelah itu Simbah ndak tau." jawab simbah.


"Apa Simbah nggak tau alamat mereka atau nomor telpon nya?" tanya Mimi.


"Alamat mereka Simbah nggak tau ndok, dulu ada nomor mereka setelah itu nomkr mereka udah nggak aktif semua." jawab simbah.


"Ya Allah kurang ajar bener nih anak." gumam Mimi geram.


"Kelak jika kamu berhasil menempuh pendidikan mu jangan lupa kedua orangtuamu ya ndok, tanpa keringat mereka, tanpa doa mereka apa yang kamu raih nggak ada artinya ndok." Ucap simbah menasehati.


"Sesibuk apapun kamu, sejauh apapun kamu jangannoeenah mengabaikan bahkan meluoan orangtua mu." imbuh Simbah.


"Carilah kelak suami yang bisa mengerti dan memahami dirimu dan keluargamu juga, jangan cari suami yang hanya menginginkanmu tetali tidak menginginkan orangtuamu." ucap Simbah.


Mimi merasa terharu, begitu kejamnya seorang anak yang tidak memperdulikan orang tua nya sendiri. Apa lagi jika mereka hanya merasa tersinggung ucapan orang tua yang mana perkataan orang tua pedas terhadapnya.


Kita sebagai anak sejahat apapun orangtua kita janganlah pernah mengabaikannya. Jika kauntak mampu memberinya materi maupun tenagamu maka berilah perhatianmu, dengan perhatianmu maka hatinya akan bahagia sekecil apapun itu perhatian yang kau berikan.


Jika orang tua mu bermata kasar atau pedas terhadapmu sebelum kau kembali ingin memperlakukan mereka sama. Renungkanlah ucapan pedas mereka karena bahwasanya mereka menyampaikan pesan di balik ucapan pedasnya.


Jangan pernah kau tanamkan kebencian di hatimu terhadap kedua orang tuamu, karena jika itu kau tanamkan percayalah setiap langkah yang kamu gapai tidak akan pernah tercapai, walau langkahmu tercapai makaa tidak ada keberkahan di dalamnya.


Ingatlah apa yang kau capai itu berkah keringat dan doa mereka. Jangan sekali-kali kau berkata kasar pada mereka, seucap kata dari mu menoreh luka di hati mereka.


Kelak jika kita telah berkeluarga atau kehilangan salah satu dari mereka maka kita akan tau apa arti orang tua pada kita. Saat dia telah tiada apa lagi seorang ibu yang telah melahirkan kita, maka hidupmu akan di hantui akan rasa bersalah bila kita mengabaikan dia.


Orang tua kita dia tidak akan meminta apa yang telah dia berikan kepada kita selama hidup kita, mereka hanya meminta dirimu hadir dihadapan mereka, mereka hanya ingin mendengar suara mu dikala rasa rindunya membuncah relung hati mereka.


Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah terhadap semua umat. Perintah untuk senatiasa berbakti kepada orang tua sendiri telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam berbagai dalil Alquran dan hadist


Dalam surat Al Isra ayat 23, Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa menyembah kepadanya dan senantiasa berbuah baik kepada kedua orang tua, yakni ibu dan bapak. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa kita juga diwajibkan untuk selalu memperlakukan orang tua kita dengan baik, mengucapkan kata-kata baik dan tidak boleh membentaknya.


Bunyi dalil Alquran dalam surat Al Isra ayat 23 yang berisi perintah bagi umat muslim untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua:


وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا‌ ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا‏


Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (QS. Al Isra: 23)


Dalil Hadist tentang Berbakti kepada Orang Tua


Selain terangkum dalam ayat suci Alquran, perintah untuk senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua juga telah dijelaskan lewat sejumlah hadist Nabi Muhammad. Berikut beberapa hadist tentang berbakti kepada orang tua yang patut kita amalkan:


Berbakti Kepada Ibu dan Bapak


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ


Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Termasuk Amalan yang Dicintai Allah


سَأَلْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى


Artinya: “Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.” Lalu Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan hal-hal tadi kepadaku. Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR. Bukhari dan Muslim)


Berbakti Kepada Orang Tua untuk Memanjangkan Umur dan Menambah Rezeki


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ،قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَأَنْ يُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.


Artinya: “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezkinya, maka hendaknya ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambug silaturrahim (kekerabatan).” (HR. Ahmad)


Itulah beberapa dalil Alquran dan hadist tentang berbakti kepada orang tua yang perlu kita ketahui dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.


Sebagai seorang anak, sikap berbakti merupakan hal yang wajib dilakukan sebagai bentuk kasih sayang dan rasa terima kasih seseorang terhadap orang tua yang sudah membesarkannya.


Semoga sepenggal hadist dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin ya rabbal alamin.


Selamat hari Jumat


Assalamualaikum selamat pagi semua

__ADS_1


__ADS_2