DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Tertunda


__ADS_3

Keesokan hari, Mimi ikut ke puskesmas karena sudah beberapa pasien pengidap jantung berkunjung ke puskesmas namun Mimi tidak hadir.


"Beneran dek besok ke puskesmas?" tanya Syahril ketika mereka berdua duduk berdua di atas ranjang dengan tangan sebelah yang mengelus rambut panjang Mimi


"Iya kak." jawab Mimi.


"Alhamdulillah, kasian melihat mereka berulang kali datang." ucap Syahril.


"Emm kenapa tim dokter yang di datangkan kesini tidak ada yang dokter jantung kak?" tanya Mimi yang kepalanya bersandar di dada Syahril.


"Emm itu, adek tau sendiri daerah kita tidak banyak dokter spesialis jantungnya." jawab Syahril.


"Iya juga." ucap Mimi lirih.


"Maka dari itu pusat tidak mengirim dokter jantung kesini, jika ada pasien berkeluh tentang jantung maka dokter lain akan merujuk mereka ke kota." imbuh Syahril.


"Oh ya dek, adek mau resepsi kita konsep yang gimana?" tanya Syahril.


"Emm ndak tau kak." jawab Mimi.


"Kok ndak tau?" tanya Syahril dengan memicingkan matanya.


"Ya Mimi ndak tau, Mimi ikut aja." jawab Mimi, entah mengapa timbul keraguan di hatinya saat ini.


"Ada apa? kenapa tidak bersemangat gitu?" tanya Syahril.


"Ndak ada apa-apa." jawab Mimi yang enggan mengungkapkan keresahan hatinya.


"Katakan?" tanya Syahril denagn memegang dagu Mimi sehingga wajah Mimi menghadap ke wajahnya. Jarak yang sangat dekat sehingga deru nafas pun hangat terkena wajah mereka berdua.


"Kenapa?" tanya Syahril lagi.


"Mimi Ndak tau kak, Mimi ikut aja bagaimana bagusnya." jawab Mimi yang sebenarnya juga tidak mengetahui kenapa hatinya menjadi ragu.


"Apa adek bekum siap?" tanya Syahril lagi denagn mengecup bibir Mimi.


Mimi hanya menatap wajah Syahril dengan sendu, Mimi tidak tau harus mengucapkan apa. Mimi takut jika dia mengungkapkan kegusaran hatinya maka tak hanya Syahril yang kecewa pada nya namun semua orang akan kecewa.


Mimi berusaha untuk meyakinkan dirinya dan memantapkan hatinya untuk langkah selanjutnya, tapi entah mengapa hati kecilnya seolah tak memberi izin kada dirinya sendiri.


"Ada apa?" Syahril terus bertanya karena pertanyaannya nya tak di beri jawaban oleh Mimi.


"Kak" Mimi ingin memberitahu kegusaran hatinya namun dia enggan lebih tepatnya tak tau harus bicara apa.


"Katakan?" ucap Syahril.


"Kalau rencana kita ini tidak berjalan lancar bagaimana" ucap Mimi hati-hati.


''Kenapa adek berkata begitu?'' tanya Syahril.


"Ndak apa, Mimi cuma bertanya saja." jawab Mimi.


"Apa adek tidak mau kita menikah Minggu ini?" tanya Syahril.


"Bukan gitu, Mimi mau. Cuma.." ucap Mimi dan berakhir dengan diam serta menunduk.


"Cuma apa?" tanya Syahril.


"Cuna.. Emm Mimi juga Nlndak tau kak, hati kecil Mimi gusar." jawab Mimi.


"Itu hanya sebuah kecemasan saja dek, kata orang kan kalau mendekat hari H memang selalu di hantui dengan kecemasan."


"Berdoa saja agar rencana kita berjalan dengan lancar." ucap Syahril.


"Amin." jawab Mimi lirih.


"Udah malam, lebih baik kita tidru." ucap Syahri dan mereka Kun tidur hingga sepertiga malam mereka terbangun dan menjalankan sholat lail/malam.


Keesokan pagi, mereka sarapan dengan ketan lemak dengan cocolan sarikaya durian. Setelah itu mereka berempat langsung menuju puskemas.


Siang hari kepala puskesmas menerima surat edaran khususnya surat itu di khususkan buat dokter bantu di sana.


Surat edaran tersebut berbunyi bahwa teruntuk dokter yang diperintahkan mengabdi di dusun ini sebelumnya di pinta untuk menghadap kepala dinas kesehatan propinsi.


Syahril dan tim akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jambi sore ini juga. Jam istirahat para pegawai pulang kerumah masing-masing, khusunya para pegawai yang ditugaskan pengabdian mereka meluangkan waktu mereka siang ini untuk berberes pakaian mereka karena mereka akan pulang ke Jambi malam ini atau sebagian mereka akan pulang esok pagi.


Mimi pun telah memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam koper, begitu pula Syahril memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam koper, dia hanya membawa sebagian saja dan membawa barang-barang penting saja.


Sore hari sepulang kerja mereka pun langsung melakukan perjalanan pulang ke Jambi. Sebelum pulang berpamitan pada Riki dan keluarga nya, tak lupa juga Mimi membawa gula durian / selai durian yang dia bawa. tak hanya durian berbentuk selai durian utuh juga Mimi bawa, Mimi juga membawa ikan Toman pulang ke Jambi buat emak dan nyai nya.


Saat mereka telah masuk ke jalanan kota kabupaten Mimi membuka hp nya. Saat hp dalam mode online ada beberapa email masuk.

__ADS_1


Mimi terdiam ketika ada salah satu email itu masuk kedalam email-nya. Mimi membacanya dengan teliti setelah itu Mimi merasa nafasnya tercekat di lehernya.


Mimi melihat ke arah Syahril yang memejamkan matanya. Ya saat ini Ryan yang membawa mobil.


Mimi ragu untuk membangunkan serta memberitahu Syahril mengenai email yang dia terima.


Pikiran Mimi menjadi tidak tenang, apa yang dia gusarkan ternyata menjadi kenyataan. Email yang membuatnya dilema.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan." ucap Mimi dalam hati.


Ryan tetap fokus pada jalanan karena hari memang telah malam. Mereka berhenti kala sholat dan makan.


Mimi diam tak tau harus mengatakannya bagaimana kepada Syahril. Mimi tidak ingin mengecewakan semua terutama Syahril namun dia juga tidak bisa melepaskan kesempatan yang ada.


Mimi dalam ambang kebimbangan antara menuju bahagia berumah tangga dengan bahagia dalam pencapaian pendidikan nya.


Kini saatnya Syahril yang membawa mobil bergantian Ryan yang istirahat. Perkiraan mereka akan sampe kota Jambi di pagi hari.


Mimi selalu melihat ke arah Syahril yang sedang fokus menyetir, Mimi ingin mengatakan itu segera namun Mimi takut mengganggu konsentrasi Syahril dalam menyetir.


Mimi menggigit bibir bawahnya dan Mimi melihat ke arah luar jendela. Jalanan yang mereka tempuh terkadang rame dan terkadang juga sepi.


Berulang kali Mimi menghelakan nafas nya namun perasaan gusarnya tak kunjung reda juga.


"Ada apa?" Syahril akhirnya bertanya ketika melihat kekasih yang duduk di sampingnya terlihat gusar dengan memegang tangan Mimi dengan sebelah tangannya.


"Ndak ada kak." jawab Mimi yang masih menyimpan kegusaran hatinya.


"Katakanlah dek, jangan di pendam sendiri." ucap Syahril dengan mata fokus ke jalanan karena mobil-mobil pengangkut batu bara telah memenuhi jalanan.


"Kaak'' ucap Mimi.


"Hmm" jawab Syahril.


"Katakan" ucap Syahril tanpa melihat ke arah Mimi.


"Sewaktu kita sampe di kota kabupaten, emm." Mimi tidak bisa melanjutkan takut bila menganggu konsentrasi Syahril.


"Ada apa?" tanya Syahril yang menginginkan Mimi untuk melanjutkan pembicaraan nya.


"Emm itu, emm..." ucap Mimi ragu dengan melihat Syahril yang masih fokus ke jalanan. Sebelum Mimi melanjutkannya, Mimi menghirup udara denagn dalam.


"Apa" ucap Syahril.


Ciiieeettt Syahril mengerem mendadak, Mimi langsung terpaku dengan nafas turun naik seraya beristighfar berulang kali denagn menutup matanya serta tangan berpegangan erat.


"Ada apa Riil?" Ryan yang sedang tertidur langsung bangun karena terkaget.


"Ndak apa Yan, tuh mobil baru bara di depan oleng. Tak lama Syahril menjelaskan kenapa dia mengerem mendadak terdengar suara benturan kuat.


Braaaak duummm mobil batu bara di depan oleng dan rebah mendadak ke aspal sebelah kanan pas di tengah jalan sehingga menghalangi arus jalan. Beruntungnya mobil yang di bawa Syahril cepat mengerem dan mengelak dari maka petaka tersebut sehingga mobilnya tidak terkena rebahan batubara dari dalam bak mobil.


Syahril melihat Mimi cemas langsung memegang tangan Mimi. Tangan Mimi yang dingin akibat cemas serta sedikit bergetar karena takut.


"Sudah ndak apa, Alhamdulillah kita selamat." ucap Syahril seraya memeluk Mimi.


Mimi terus beristighfar di tengah rasa takutnya, setelah itu Mimi tidak ingin melanjutkan perihal email yang dia terima karena Mimi takut mengganggu konsentrasi Syahril apa lagi mereka sedang melakukan perjalanan di malam hari.


Setelah ke adaan tenang, Syahril melajukan kembali mobilnya beruntungnya mobil yang Syahril bawa melewati mobil batu bara didepannya sebelum mobil itu rebah dan jatuh di sebelah kanan jalan.


"Adek tadi bilang buka email kampus, emang apa email apa?" Syahril kembali bertanya perihal ini naik tadi.


Ternyata Syahril walau matanya fokus ke depan namun pendengaran nya Selakau tajam juga.


"Ndak ada." jawab Mimi.


"Katakan dek, ada apa?" tanya Syahril.


"Nanti aja kalau sudah sampe rumah." jawab Mimi.


"Apa bedanya, katakan aja sekarang." ucap Syahril.


"Nanti aja kak, lebih baik kakak fokus ke jalanan nanti ada lagi mobil batu bara nyalip." ucap Mimi.


Syahril tersenyum dan mengerti kenapa Mimi tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Syahril mengusap kepala Mimi.


"Iya." jawab Syahril namun hatinya juga di buat tidak tenang. Syahril menebak jika isi email Mimi tersebut mengenai ujian yang akan di laksanakan.


Ada rasa getir juga di hati Syahril, Minggu pagi mereka akan melaksanakan ijab kabul dan langsung sekalian di gelar resepsi.


Sebenarnya persiapan itu juga terjadi kendala, karena catering yang akan mereka sewa ternyata sudah penuh semua. Jika masalah WO ada serta hotel pun telah mereka siapkan, undangan mereka juga terjadi kendala karena mesin buat cetaknya entah kenapa tiba-tiba rusak sehingga tidak semua tercetak.

__ADS_1


Mimi terus memandang ke arah jalanan di samping nya. Hati dan pikirannya saling berargumen antara terus lanjut pernikahan atau pendidikannya.


Berulang kali Mimi menarik nafas dalam untuk menghilangkan rasa penat di dadanya. Itu selaku di perhatikan Syahril, Syahril tau jika Mimi dalam keadaan gusar dan sulit untuk memilih.


"Kalau capek bawa tidur dek?" ucap Syahril.


"Emm" jawab Mimi berusaha memejamkan matanya, hanya mata yang terpejam namun pikiran nya tak bisa di ajak kompromi.


Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha namun terkadang ala yang kita usahakan tidak serta merta berjalan dengan mulus.


Segala sesuatu nya juga butuh persiapan matang dan hati yang ikhlas. Mungkin hati Mimi tidak sepenuhnya ikhlas dalam menerima pernikahan ini di percepat dan tidak sesuai dengan yang dia inginkan.


Demi semua orang yang dia sayang dia hanya bisa pasrah dan menyetujui nya. Dan pada akhirnya apa yang dia takutkan bakal terjadi di dekan mata.


Haruskah dia memilih untuk menundanya dan mengecewakan semua orang atau dia menunda yang ini dan dirinya merasa kecewa.


Tak ada pilihan yang membuat dirinya bahagia, apa uang menurut nya itu kebahagian pasti ada kekecewaan didalamnya.


Membahagiakan orang banyak tapi dia kecewa pada diri ya sendiri, meraih kebahagiaan sendiri tetapi mengecewakan orang banyak, semua tidak berpihak pada dirinya.


Dilema.. Itu yang Mimi rasakan, jujur itulah jalan satu-satunya walau dengan kejujuran itu membuat hati orang lain terluka dan kecewa.


Disini sebenarnya tak hanya melukai hati orang lain saja namun hatinya pun akan ikut terluka melihat orang yang dia cintai terluka.


"Ya Allah, kenapa tidak ada pilihan yang menguntungkan satu sama lain" ucap Mimi dalam hati.


Walau mata terpejam, hati dan pikirannya saling berbicara untuk mencari sebuah solusi tetapi tidak ada solusi yang tepat.


Syahril tahu jika Mimi masih gusar terlihat dari cara dia tidur, mata nya tak tenang walau terpejam bahkan tubuh nya juga terlihat tidak nyaman dalam posisinya.


Sejujurnya Syahril juga merasakan hal yang sama, namun dia ingin terbaik dan ingin menghalalkan kekasih hatinya dengan segera.


Syahril tidak ingin menundanya lagi, dia ingin segera memiliki Mimi seutuhnya. Dia ingin Mimi segera menjadi istrinya, apa pun terjadi dia ingin semua nya berjalan dengan lancar walau terkesan egois.


Terdengar suara adzan subuh berkumandang mereka pun berhenti disalah satu masjid yang terletak di pinggiran jalan.


Perjalanan mereka tinggal dua jam perjalanan lagi menuju kota Jambi.


Kaki ini Ryan uang gantian bawa mobil, Ryan dan Di'ah duduk di depan, Mimi dan Syahril kembali duduk di belakang.


Syahril melihat Mimi dengan intens, Syahril ingin kembali membahas masalah email yang Mimi sebutkan sebelumnya.


"Dek" panggil Syahril.


"Hemm" jawab Mimi dengan melihat ke arah Syahrill.


"Mana hp nya?" tanya Syahril, awalnya Mimi heran kenapa Syahril meminta hp nya, tali tanpa ragu Mimi pun memberikannya.


"Nih" ucap Mimi dengan memberikan hpnya lada Syahril.


Syahril menerima hp Mimi dan dia langsung membuka email serta membaca email yang masuk terutama email dari fakultasnya.


Syahril membaca setiap detail yang tertulis dalam email itu, Syahril terdiam kala membaca isi email itu.


Syahril melihat ke arah Mimi yang selalu memandang ke arah kaur jendela. Syahril menyandarkan kepalanya di atas sandaran bangku mobil, di pejamkan ya mata dan menarik nafas dalam secara perlahan-lahan sembari hatinya terus beristighfar.


Syahril tahu Mimi pasti bimbang memilih antara isi dalam email tersebut dengan pernikahan yang akan mereka laksanakan Minggu ini.


Syahril juga tahu kalau ini adalah cita-cita Mimi, terlintas rasa bersalah atau penyesalan dalam diri Syahril kala memaksakan kehendaknya pada Mimi.


Yah Mimi duku berencana setelah dia kuliah baru mereka menikah dan menjalankan rumah tangga tanpa ada lagi memikirkan masalah pelajaran.


Tapi Syahril beserta keluarga besar dirinya maupun Mimi juga ingin agar mereka segera melangsungkan pernikahan itu.


Ryan yang sedang fokus juga melihat ke arah Syahril dan Mimi dari kaca spion. Ryan merasa jika ada sesuatu yang terjadi antara Mimi dan Syahril.


Syahril ikut gusar dalam hatinya, perencanaan yang keluarganya lakukan pun sebenarnya tidak berjalan lancar selaku ada kendala.


"Ya Allah, apa yabg harus hamba lakukan buat kebahagiaan bersama." ucap Syahril dalam hati.


Kegamangan yang dirasa kan Mimi juga dirasakan oleh Syahril. Syahril yakin jika Mimi juga tidak bisa memutuskan karena keduanya juga merupakan hal penting dalam dirinya.


"Apakah aku harus menundanya ya Allah?" ucap Mimi dalam hati


"Hamba pasrah namun hamba tidak bisa." ucap Mimi lagi tak terasa air matanya jatuh dengan sendiri dalam keheningan lagi hari.


"Apa hamba harus memilih untuk menunda nya Rabb" ucap Syahril dalam hati.


"Apakah kebahagian kami akan tertunda kembali."


"Bantu hamba Rabb, berikanlah jawaban yang tidak membuat kecewa di hati orang yang hamba cintai." ucap Syahril dalam hati memohon kepada sang illahi.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju kota Jambi pagi itu hanya ada kesunyian, kebimbangan dan kegamangan.


tbc


__ADS_2