DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
rutinitas Mimi


__ADS_3

Malam semakin larut, setibanya di rumah mereka langsung masuk kamae untuk beristirahat dan tak lupa sebelumnya mereka mencuci muka dan berwudhu menjelang tidur.


Merwka beristirahat dengan hati yang lega kecuali Ryan. Pikiran Ryan terus tertuju pada sang istri.


Ada rasa kekhawatiran di hati Ryan. Apa lagi saat di telpon sang istri menangis.


Beda Ryan beda pula Syahril, entah mengapa hatinya sangat bahagia karena dia telah menjadi seorang ayah.


Berulang kali dia memutar video baby twins. Pipi yang gembul, hidung mancung dan rambut yang hitam pekat dan lebat serta mulut yang kecil nan mungil.


Apa lagi saat mereka tersenyum sangat manis dan imut. Ingin rasanya dia cepat terbang ke LA untuk mencium si mungil baby twin.


Di balik kebahagiaan yang di rasa Syahril, dia merasa terharu kala melihat bagaimana si baby twin memeluk kedua jenazah orang tua nya.


"Semoga amal ibadah kalian di terima Allah SWT. Terimakasih atas rezeki yang kalian berdua pada ku, akan ku jaga dann sayangi si kembar."


"Maaf bila di saat kalian membutuhkan ku, aku tidak ada di sana." ucap Syahril dal hati ketika melihat foto kedua jenazah.


Di LA, hari hari Mimi lalui seperti biasanya. Namun kali ini dia tak hanya seorang mahasiswa dan dokter melainkan telah menjadi seorang ibu.


Aktifitas hariannya kini, sebelum pergi ke kampus dia akan melihat sang baby twins nya di rumah sakit.


Yah baby twins masih berada di rumah sakit. Mimi lakukan itu karena Mimi belum menemukan baby sister untuk mereka.


Tak hanya masalah babi sisters, namun Mimi bingung bagaimana dengan baby sister nya kelak.


Mimi bingung masalah tempat tinggal Jika pakai baby sisters tentu harus menyediakan kamar buat baby sisters nya juga.


Yang jadi pikiran Mimi saat ini, haruskah dia pindah ke apartemen Syahril. Mimi harus memikirkan perihal itu.


Sepulang ujian Mimi langsung pergi le rumah sakit untuk menjenguk si kembar. Saat Mimi menjenguk ternyata juga ada mas Khaliq beserta istrinnya.


"Assalamualaikum Mas, Mbak." Ucap Mimi.


"Waalaikum salam, selamat ya dek sekarang kamu sudah menjadi ibu." ucap istri mas khaliq.


"Makasih mbak, oh ya mbak kapan ke LA nya? bunda nggak ikut?" ucap Mimi.


"Mbak dari kemaren dek sama Mas mu. Cuma kemaren mbak nggak ikut mas mu ke sini, maklum mbak kecapek an." ucap nya.


"Siapa nama twins dek?" tanya mas Khaliq.


"Belum di kasih mas, entar aja tunggu kak Syahril." jawab Mimi.


"Syahril sudah tau?" tanya mas khaliq.


"Ya belum mas, tapi Mimi sudah kirim pesan dan kirim video twins semalam." ucap Mimi sembari menggendong salah satu si kembar.


"Sus, apa twins sudah mimik" tanya Mimi pada suster yang menjaga.


"Sudah dok," jawab suster.


"O makasih, ya udah saya baqa dulu twins nya ya." ucap Mimi.


"Mari dok, apa perlu bantuan dok" tanya Suster.


"Oh nggak usah, makasih." ucap Mimi


"Ayo mas mbak kita bawa twins le ruangan Mimi aja." ucap Mimi.


"Yaudah ayok." jawab istri mas Khaliq denfan menggendong salah satu twins.


Sesampai dalam ruangan Mimi menaruh baby twins yang tertidur di gendongannya ke kamar yang berada dalam ruangannya.


"Dek jadi kapan mau di bawa twins ke apartemen?" tanya Mas khaliq. Mimi meanrik nafasnya.


"Belum tau mas, Mimi belum dapat baby sister. Dan Mimi juga bingung." jawab Mimi.


"Bungung kenapa dek?" kali ini bukan mas Khaliq yang bertanya melainkan istrinya.


"Mimi bingung mbak, Mimi bingung harus tinggal di mana sama twins." ucap Mimi.


"Bingung, bingung kenapa? ya bawa aja lah ke apartemen." Jawab mas khaliq.


"Ya itu dia mas. Humm huh, Mimi merasa nggak enak. Masa iya Mimi bawa si twin tinggal di apartemen mas Abi." ucap Mimi.


"Ckk kamu ini dek dek, apartemen itu kan dah jadi milik kamu dek. Ya udah kamu gunakan aja, ayah sama bunda pastu setuju. Yahh kecuali suami mu dek." ucap mas khaliq.

__ADS_1


"Diminum dulu mas,mbak." ucap Mimi dengan meletakkan dua cangkir tej dan kopi


"Ya nggak bisa gitu mas, mimi nggak enak sama ayah dan bunda. Apa lagi kalau Mimi dah dapat baby sister nya, kan otomatis harus nyediain kamar buat mereka."


"Mimi nggak enak aja, kapan-kapan ayah sama bunda datang." ucap Mimi.


"Dek, kamar kan ada lima dek. Di atas ada tiga ya udah satu biat baby twins dan satu buat bany sister. Masalah ayah dan bunda kan kamar mereka di bawah. Nggak menganggu juga."


"Kalau masalah keluarga besar kita kan masih ada dua apartemen yang kosong disebelah apartemen suami mu kan dek punya ipar mu."


"Kalau masalah tempat tinggal nggak usah khawatir dek. Apartemen mas juga kosong." ucap mas khaliq.


"Emm iya juga sih, entar Mimi tanya dan izin sama kak Syahril. Emm oh ya kok Mimi nggak liat mas dan mbak di sebelah?" tanya Mimi.


"Hehe mas nggak nginap di apartemem sini dek. Mas dan mbak mu nginep di apartemen deket kantor." jawab mas khaliq.


"Yah kog gitu. Coba mas dan mbak tinggal di sebelah setidaknya kan Mimi ada temennya di blok ini." ucap Mimi.


"Kenapa? kamu takut? kan masih ada tetangga mu dek." ucap mas khaliq.


"Ya ada sih tapi kebanyakkan kosong. Kenapa juga kalian beli apartemen satu lantai yang sama tapi pada nggak di huni." ucap Mimi


"Ya sebagai inves aja dek." jawab mas Khaliq.


"Inves sih inves mas tapi kan bisa di lantai lain gitu. Atau beda jalur gitu, jadi kan biar jalur di sini banyak penghuninya." ucap Mimi.


"Ya gimana lagi, dulu pikirannya biar kalau ngumpul nggak jauh. Oh ya dek ayah sama bunda insya allah lusa ke sini. Ayah belum bisa ninggalin kerjaan, nah rencana nya mereka ke sini sama emak dan bapak juga." ucap mas Lhaliq memberitahu.


"Apa kamu sudah beritahu orang tua sama mertua mu?" tanya mas Khaliq.


"Astaghfirullahal adzim, belum mas. Sehabis wa kak Syahril semalam Mimi langsung tidur. Dan hari ini juga belum ada pegang hp lagi. Bangun pagi swvelum ke kampus mimi pergi ke rumah sakit buat liat si twins. Untunf mas ingetin, bentar Mimi mau nelpon mamak dulu." ucap Mimi dan langsung beranjak masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya karena saat masuk ke ruangan, Mimi langsung masuk kamar.


Mimi sudah mengobrak abrik dalam tas nya tapi tidak menemukan ponselnya. Mimu keluar kamar dengan terus berpikir di mana dia letakkan ponselnya.


"Kenapa dek?" tanya istri mas khaliq.


"Ponsel Mimi nggak ada, perasaan pagi tadi dah Mimi masukkan ke dalam tas deh." ucap Mimi.


"Yaudah, mungkin ketinggalan di apartemen. Kalau mau pakai ponsel mas." ucap mas khaliq dengan memberikan ponsel nya pada Mimi.


"Yaudah kalau gitu. Yang pasti orang tua mu dah tau." ucap mas khaliq.


"Oh ya dek jadi apa ada orang yang mencari korban kecelakaan di rumah sakit ini?" tanya mas khaliq.


"Untuk saat ini belum ada mas." jawab Mimi.


"Syukurlah, kalau ada yang cari apa lagi sampe mengatas namakan korban terutama bertanya masalah janin mendiang bilang aja nggak ada."


"Mas juga sudah menyuruh orang kepercayaan ayah buat mernutup semua akses mendiang." ucapas khaliq.


"Iyaas makasih, Mimi juga sudah konfirmasi ke jajaran komite dhab kepala bagian agar tidak memberitahu biodata korban yqng masuk di rumah sakit ini. Dan karwn juga nggal di masukkan kedal data." ucap Mimi.


"Bagus kalau gitu, emm yaudah kalau gitu mas sama mbak mu pulang dulu ya." ucap maa khaliq.


"Yah ke apartemen sini aja lah mas." ucap Mimi.


"Nggal bisa dek, pagi-pagi besok mas ada meeting." ucap mas khaliq.


"Oo" jawab Mimi.


"Oh ya dek terus si kmbar gimana ini, apq mbak antar ke ruangan bayi." ucap istri mas khaliq.


"Oh nggak usah mbak, biar nanti mimi aja yang bawa." Ucap Mimi.


"Apa nggak repot nanti?" tanya istri mas khaliq.


"Nggak mbak, gampang nanti Mimi panggil suster bantuin." jawab Mimi.


"Yaudah kalau gitu, mbak pulang dulu ya." ucap istrias khaliq.


"Baik mbak, malasih ya." ucap Mimi sbari cipika cipiki.


"Besok pas ada ayah dan bunda baru mas nginap di apartemen. Mas puoang dulu, jaga kesehatan ya dek." ucap mas Khaliq.


"Iya mas, makasih.


Setelah mereka pergi, Mimi duduk di kursi kebesarannya dan mengecek dokumen yang menumpuk di atas meja.

__ADS_1


Pintu kamar sengaja tidak Mimi tutup agar jika si twins bangun dan menangis ke dengaran.


Tiga jam Mimi berkutat demgam dokumen sambil menjaga si twins yang telah bangun satu jam lalu. Akhirnya kerjaannya tuntas juga.


Mimi menelpon perawat khusus anak untuk menjemput si twins. Karena hari telah sore dan si twins juga haeus di mandikan.


Beruntungnya Mimi belum ada jadwal operasi dan Mimi juga cuti sementara di rumah sakit lain, semenjak dia ujian di tambah saat ini dia juga sudah betubah status.


"Hai sayang nya mommy." ucap Mimi sambil menyium kedua pipi gembul.


Sebenarnya Mimi ingin merasakan juga bisa memberi asi buat si twins. Mimi berencana untuk konsul ke dokter khusus laktasi.


"Sabar ya sayang, do'a kan ayah agar pergi kge bukit dan bisa ngubungi mommy. Do'a kan ayah sehat selalu ya nak." ucap Mimi pada kedua baby twins.


Baby twins tersenyum seolah dia mendengar apa yang mimi katakan.


"Rasanya Mimi ingin membawa kalian segera ke rumah, biar mommy bisa tidur sama kalian berdua."


"Tapi sabar dulu ya sayang, mommy cari baby sister buat kalian dulu." ucap Mimi.


"Engg" ucap si baby sambil tersenyum


"Masya allah tabarakallah anak sholeh nya mommy. cup cip cup cup." ucap Mimi bahagia ketika dia berinteraksi sama baby twins di tanggapi oleh baby twin dan Mimi mencium pipi gembul twins gemes.


"Emm mommy nggak sabar sayang mau bawa kalian pulang, tapi nanti tinggal dimana ya? abang sama adek mau tinggal dimana?" ucap Mimi dwnganelihat ke arah si twims seolah mimi berbicara dan minta pendapat twins.


"Abang sama adek mau tinggal di apartemen ayah abi atau ayah Syahril?" tanya Mimi lagi.


Terlihat wajah si baby dengan mata di kerutkan, Mimi tersenyum melihat nya. Wajah twins seolah sedang berpikir.


"Hmm kalian bingung, Mimi juga bingung sayang." ucap Mimi demgan mwnaruh dagunya di atas punggung tanganya yang mana tangannya bertopang di atas pahanya karena mimk sedang bersila.


"Coba Mimi tanya lagi satu-satu ya.. Abang adek mau di apartemen ayah abi?" tanya Mimi dan kedua mata si baby hanya menatap ke arah Mimi.


Mimi menghelakan nafas nya, merasa bodoh berbicara dengam bayi baru berusia jalan dua hari itu.


Mimi memandang wajah kedua bayinya begitu pula mata kedua baby twins juga melihat ke arah Mimi, seolah menunggu pertanyaan Mimi kembali.


"Hmm anak mommy yang sholeh dan pintar, bentar lagi di jemput ama aunty suster. Mau Mimi mandikan?" ucap Mimi. Sontak kedua mata baby berbinar dan senyum merekah.


"Masya allah, jadi kalian mqu mimi mandikan?" ucap mimi dan lagi-lqgi baby twins tersenyum.


"Yaudah, kalau gitu emm Mimi mandikan adek dulu ya abang. Abang tunggu ya." ucap Mimi dan si abang pun tersenyum.


Sebelum memandikan si twins, Mimi mengisi bathub air hangat. Saat Mimi keluar dari kamar mandi terdengar ketukan.


"Masuk." ucap Mimi, masuk lah dua orang suster yang akan menjemput baby twins.


"Sus, apa kalian bawa yang saya pinta." ucap Mimi.


"Sudah dok." Ucap salah satu suster dengan menyeeahkan sabun bayi. Sqtu suter nya langsung meletakkan pakaian bayi.


"Yaudah saya mau mandikan adek dulu" ucap Mimi dan langsung membuka pakaian si adek.


Sambil membuka pakaian adek Mimi berbincang sama kedua suster. Setelah itu Mimi masuk ke kamar mandi untuk memandikan si adek dengan di ikuti satu suster.


Perlahan Mimi memasukkan si adek ke dalam bathup yang sudah terisi air hangat. Perlahan Mimi memandikan si adek.


Si adek terlihat sangat aktif, dia sangat swnang saat bersentuhan dengan air. Tak terlalu lama akhirnya si adek pun selesai. Mimi membawa adem masuk kamar.


"Dok, biqr kqmi yang ganti pakaian adek." Tawar suster yang menjaga abang tadi.


"Oh tidak usah sust biar saya saja." ucap Mimi.


Dengan telaten Mimi membaluri baby oil, lotion dan minyak telob ke badan baby. Mimi juga mengeringkan di bagoan pusar yang belum kering, Mimi bersihkam pakai alkohol dan setelah itu mimi ganti kasa nya dan kembali menjepitnya.


Si adek sudah berpakaian, setelah itu giliran si abang. Mimi juga melakukan haal yang sama dengan si abang. Sebelum nya air mandinya juga sudah di ganti baru sama suster.


Setelah semua baby bersih dan harum, Mimi akan mengantar baby twins kembali ke ruang bayo.


Mimi menggendong si abang dan si adek di gendong sama suster dan suster yang satu memgekor di belakang sambil membawa pakaian kotor baby.


Sebenarnya Mimi ingin mwmbawa pakaian kotor itu pulang cuma kata suster biar pihak loundry rumah sakit yang mencucinya.


Dan mulai saat ini bahkam seterusnya mimi akan memandikan si baby twins walau belum bisa membawa baby twins pulang karena nunggu keputusan Syahril.


###TbC###

__ADS_1


__ADS_2