DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
cerita mimi


__ADS_3

Semua orang dalam ruangan tersebut masih menunggu cerita dari Mimi, mereka ingin tahu kronologi nya, bagaimana Mimi bisa selamat dari tragedi itu.


Mimi yang bingung dan tak tau apa-apa akan semua ini hanya diam. Menurut pemikirannya, dia selamat karena dia emang tidak naik di pesawat itu.


"Mi" panggil Abi Arsyad.


"Iya Bi, bisa kamu ceritakan nak?" tanya Abi Arsyad.


"Mimi harus cerita apa Bi?" Mimi balik tanya pada Abi Arsyad.


"Ceritakan kenapa kamu bisa selamat nak?" ucap Abi Arsyad dengan sabar nya.


"Iya apa yang mau di ceritakan, Mimi selamat ya karena Mimi tidak naik di pesawat itu Bi." jawab Mimi dengan raut wajah yang juga bingung.


Mimi bingung bukan karena dia selamat hari pesawat namun dia bingung kenapa semua orang mengaitkan kecelakaan peswat itu dengan dirinya.


Semua orang melihat ke arah Mimi, seolah menunggu cerita selanjutnya tetapi harapan mereka hanyalah sebuah harapan karena Mimi kembali diam.


"Saudari Mimi." panggil Rektornya.


"Iya prof." jawab Mimi.


"Jika kamu tidak menaiki pesawat itu, bagaimana nama kamu bisa termasuk dalam daftar penumpang di maskapai penerbangan itu?" tanya rektor langsung pada intinya


Mimi terdiam mencerna ucapan rektornya, dia dia! Dengan memikirkan suatu hal yang mungkin terlupakan oleh nya.


"Dan pihak Basarnas juga menemukan ransel mu, bagaimana mereka tau itu adalah kamu karena di dalam ranselnya kamu terdapat kartu kemahasiswaan punya kamu." imbuh si rektor.


"Bukan hanya itu prof," sergah Irsyad.


"Diranselnya Mimi juga terdapat gantungan kunci khusus di buat untuknya." ucap Irsyad menambah kan pembuktian lainnya untuk mengingatkan Mimi.


"Ransel.. Ransel Mimi ada si kosan. Emang sihnmiminbelum periksa isinya. Nama di daftar penumpang...( Mimi terdiam sejenak) Astaghfirullahal adzim.." ucap Mimi terbata-bata dengan sebuha realita di ucapkan oleh rektor serta Irsyad.


"Ada apa Mi?" tanya Ummi Fatma khawatir.


"A apa benar di nama daftar penumpang itu nama Mimi?" ucap Mimi terbata dengan bibir gemetar.


"Iya, bahkan boardingpass juga atas nama kamu nak." ucap Abi Risyad.


"Astaghfirullahal adzim, laa Illa haillallah.. Astaghfirullahal adzim." Mimi terus beristighfar.


"Ada apa nak?" tanya Abi Arsyad, semua orang juga khawatir dan pemasaran.


"Itu bukan Mimi Bi, ya Allah Bi.. Jika tas yang Mimi bawa bukan tas Mimi berarti.. Astaghfirullah astaghfirullah.. Prof, lara dekan saya permisi dulu, assalamualaikum." ucap Mimk dan berpamitan pada semua.


Mimi langsung beranjak dari duduknya dan beranjak keluar dari ruangan itu membuat semua orang tidak mengerti ada apa yang terjadi.


"Mi mau kemana teriak Irsyad yang juga telah mengikuti langkah Mimi.


"Mau pulang ke kosan Syad" jawab Mimi yang terus melangkahkan kaki nya ke arah pintu keluar.


Semua sahabat serta kedua Ummi dan mbak Aish juga mengikutinya.


Saat pintu keluar terbuka, terlihat ketiga sahabatnya yang lelaki sudah berada di sana.


"Mimi.." panggil !mereka dengan keterkejutannya.


Mereka bertiga ingin maju untuk memeluk Mimi namun Mimi mengelak karena dia harus buru-buru.


Selfia, Muthia dan Irma juga terkejut melihat ketiga sahabta mereka sudah ada di balik pintu itu.


"Abang" ucap Selfia dalam hati.


"Yank, kok tau kami disini." tanya Irma pada Riko.


"Iya uank, tadi pas masuk dengar desas-desus tentang Mimi jadi kita tanya sama salah satu dari mereka dan katanya kalian disini makanya kami nyusul." terang Riko dengan. merangkul bahu Irma.


Selfia hanya diam ketika ada Saridi, dia tidak seperti dulu lagi yang selalu mengejar perhatian Saridi. Semenjak hari pertama masuk kuliah dan dengan hilangnya kabar Mimi di tambah ucapan ketus yang selalu terucap dari Saridi me!buat Selfia perlahan untuk mundur.


Selfia terus jalan cepat menghindari Saridi dan teman-temannya yang lain, Selfia terus mengejar Mimk dan Irsyad yang sudah keluar terlebih dahulu dengan berlari kecil.


"Mi, Syad tunggu." teriak Selfia.


Melihat Mimi berjalan di koridor menuju belakangnirsyad mencegahnya.


"Kita naik mobil saja biar cepat." ucap Irsyad dengan memegang tangan Mimi, Mimi pun mengangguk menyetujuinya.


Jadilah Irsyad, Mimi dan Selfia satu mobil menuju kosannya. Dua Ummi nya naik mobil Abi bersama mbak Aish.


Sesampainya di kosan, Mimi langsung masuk ke dalam dengan buru-buru. Mimi langsung menuju arah dapur dengan diikuti Irsyad dan Selfia. Mimi melihat ransel yang masih setia berada di samping mesin cuci.

__ADS_1


"Itu ransel Mimi." ucap Mimi kepada Irsyad dan Selfia.


"Tapi Mi, kita lihat sendiri ransel kamu ada di Jambi bahkan pakaian di dalamnya sudah di cuci sama emak." ucap Selfia.


"Coba kita cek dulu, kalau dari warna dan ukuran memang sama dengan ransel Mimi hanya yang bisa membedakannya isi ransel serta gantungan kunci." ucap Irsyad. Mimk dan Selfia memgangguk.


Selgia dengan sigap mengambil ransel tersebut dan membawa nya ke Mimi dan Irsyad.


"Ayo kita cek." ucap Selfia.


"Nih Mi, dari segi gantungan kunci ransel ini tidak memakai gantungan kunci inisial Riilmi." ucap Irsyad yang sudah mengambil alih ransel dari tangan Selfia.


"Kita lihat isinya.'' ucap Selfia dan Irsyad pun membuka resleting ransel dan mengeluarkan isi di dalam nya.


Saat isi dalamnya dikeluarkan Mimk tercengang karena isi didalam itu ada sebuah amplop seperti amplop gaji serta ada beberapa bungkus kain batik khas Jambi di sana.


"Dari isi pun berbeda, ini bukan pakaian Mimi dan barang-barang ini juga bukan milik Mimi kan?" ucap Selfia,


Ummi Fatma, Ummi Fatimah dan mbak Aish serta sahabtnya Mimk telah berada di dapur dan menyaksikan semua bukti yang ada.


Mimi terduduk dan memegang semua barang yang bukan miliknya, deraian air mata telah berjatuhan membasahi setiap sudut kedua pipinya.


"Ya Allah...Ampuni hamba." ucap Mimi dengan terisak, semua orang bingung kenapa Mimk menangis dan siapa pemilik ransel yang berada di tangan Mimi.


Mimi terus meremas pakaian yang dia pegang, Mimi merasa bersalah pada seseorang yang telah menjadi korban dalam tragedi itu.


Irsyad masih memeriksa ransel tersebut berharap menemukan barang bukti lainnya atau identitas pemilik ransel. Irsyad menemukan foto disana.


"Nak, jadi Mimi ransel siapa?" tanya Ummi Fatimah yang sudah duduk di samping Mimi dan merangkul pundak Mimi.


Mimi melihat ke arah Ummi Fatimah dan menggeleng tidak tahu.


"Lihat mungkin di antara mereka pemilik ransel ini." ucap Irsyad dengan memperlihatkan foto sepasang kekasih yang berukuran 4x6 itu.


"Lihat Mi, apa kamu mengenal salah satunya?" ucap Irsyad dan memberikan foto tersebut.


Mimk menerima foto itu dan melihat nya, deraian air mata Mimi semakin deras ketika melihat foto itu. Mimi mengenal salah satunya yaitu gadis yang di rangkul sang pria.


"Mi, apa kamu mengenalinya?" tanya Selfia, Mimi mengangguk.


"Ya Allah, maafkan Mimi ya Allah. Maafkan Mimi yang telah memisahkan mereka." ucap Mimk dengan terus melihat ke arah foto tersebut.


"Emang ada apa dek?" tanya mbak Aish.


Semua orang yang mendengar nya ikut bersedih, tragedi ini mengisahkan cerita pilu. Sepasang kekasih yang akan berencana menikah terpisahkan oleh maut, orang yang seharusnya menghadap maut terselamatkan.


"Jangan salah dirimu dek, mungkin ini sudah jalan Allah" ucap mbak Aish menenangkan Mimi.


"Ini salah Mimi mbak, seharusnya Mimi yang mati bukan diaaaa huhuhu" ucap Mimi dwpengan menangis di dalam pelukan Ummi Fatimah.


"Harusnya Mimi Ummi, harusnya Mimi yang mati. Kenapa Allah merenggut kebahagiaan orang Ummi, kenapa aaa?" ucap Mimk didalam dekapan mummi Fatimah.


"Seharusnya Mimi disana, kenapa harus orang yang akan menempuh kebahagiaan bersama kekasihnya Ummi, kenapa Allah menyelamatkan Mimi." Mimk terus menyalahkan dirinya.


"Dek, udah." ucap mbak Aish dengan isakan.


"Sudah nak, sudah. Nggak baik kamu salahkan Allah, semua sudah suratannya, semua sduah takdir nya nak. Sudah kamu jangan terus menyalahkan diri kamu nak." ucap Ummi Fatimah dengan mengelus belakang Mimi.


"Nak, betul kata ummi Fatimah. Semua sudah tertulis salah lauhul Mahfudz nya Allah, sudah suratannya. Kita hanya menjalankannya saja. Apa kamu tau dimana rumah gadis ini?" tanya Ummi Fatmah, Mimk menggeleng.


"Mimk tidak tau Ummi, Mimi cuma bertemu dia waktu di bandara saja Ummi." ucap Mimi.


"Huum huh, lebih baik kita kembali ke kampus dan nanti kamu ceritakan semua pada rektor dan dekan-dekan nak, biar semua jelas dan kita bisa mencari solusi nya untuk kedepannya bagaimana terutama bhat keluarga gadis ini." ucap Ummi Fatmah,Mimi pun mengangguk.


Ummi Fatimah dan mbak Aish membantu Mimi untuk berdiri, mereka semua beranjak untuk kembali ke kampus.


Di kampus siang ini akan tetap diadakan acara doa bersama nya namun dia bersama yang awalnya untuk mendoakan Mimi agar tenang di alam sana diganti dengan dia bersama berupa sukuran atas keselamatan Mimk dari tragedi mengenaskan itu.


Begitu pula dengan acara tahlilan tujuh hari Mimi juga akan di ganti menjadi doa selamat buat Mimi malam ini.


Selfia masih tidak menegur Saridi, Saridi yang merasa di cuekin oleh Selfia beberapa hari ini menjadi suatu hal yang berbeda. Saridi merasa ada yang kurang pada dirinya.


Saridi selalu mencuri pandang pada Selfia yang kini berubah acuh pada dirinya. Muthia melihat Selfia yang diam saja pada Saridi menjadi curiga.


"Fi, kamu kenapa?" bisik Muthia pada Selfia.


"Nggak kenapa-kenapa, kenapa emangnya.'' jawab Selfia.


"Kenapa dari tadi diam aja dan aku perhatikan beberapa hari ini kamu kalau kita lagi kumpul bersama bawaan diam mulu." ucap Muthia.


"Cuma perasaan kamu aja Muth, udah ah ayo masuk, eh tapi kamu masuk mobil mana?" ucapnswlfia yang hendak masuk kedalam mobil Irsyad.

__ADS_1


"Aku ikut kami aja." ucap Muthia dan langsung masuk ke dalam mobil.


Saridi melihat Selfia semakin menghindarinya merasa ada hal yang aneh pada dirinya.


"Kenapa Fia selalu menghindari ku ya?" gumam Saridi dalam hati dengan mata melihat ke arah mobil Irsyad.


"Sar, buruan." panggil Dimas dari arah dalam.


"Iya," ucap Saridi dan langsung masuk serta dudu di bangku depan. Selama perjalan menuju kampus Saridi hanya diam namun otak dan hatinya terus berbicara.


Mimi sepanjang jalan hanya diam namun air mata nya terus mengalir. Mimi terus menyalahkan dirinya, andai dia tidak memberikan tiketnya mungkin gadis itu akan selamat dan hidup bahagia bersama kekasihnya.


"Mi, sudahlah. Jangan menyalahkan diri kamu terus dong." ucap Selfia.


"Iya Mi, mungkin ini sudah takdir nya Allah Mi." sahut Muthia.


"Andai aja hiks, andai aja Mimi tidak kasih tiket Mimi ke dia hiks dia pasti sudah hidup bahagia Dengan kekasihnya hiks hiks." ucap Mimi dengan isakan tangis nya.


"Ini sudah takdirnya Mi, kamu yang sabar ya, kamu doakan saja gadis itu diterima Allah segala amal ibadahnya." ucap Irsyad dengan mengelus tangan Mimi. Irsyad selalu menggenggam tangan Mimi.


Muthia memperhatikan itu dan beropini sendiri.


"Apa Irsyad menyukai Mimi juga?" ucap Muthia dengan melihat bagaimana tangan Irsyad menggenggam tangan Mimi sebelah dan mengelus dengan jempolnya nya.


Sesampainya dikampus mereka semua turun dari mobil dan kembali menuju keruangan rektor, kali ini di ruangan rektor tak hanya ada kedua abinya, serta rektor dan dekan-dekan melainkan juga ada dari pihak kepolisian serta tim Basarnas.


Saat Mimi masuk kedalam, Mimi terdiam melihat di ruangan tadi ada pihak kepolisian nya.


"Ayo nak kita duduk." ucap Ummi Fatimah dengan menggandeng Mimi.


"Ummi, kok ada polisinya. Apa Mimi akan ditangkap ya?" bisik Mimk pada Ummi Fatimah.


"Kamu ini, ada-ada aja nak. Mereka hanya ingin mendengarkan keterangan dari kamu." ucap Ummi Fatimah.


"Tapi Ummi." ucap Mimi.


"Udah, kamu tenang aja. Tarik nafas dalam dan hembuskan perlahan." ucap Ummi Fatimah.


Tak lama datang lagi wakikan dari pihak maskapai lino air di dalam ruangan ini.


"Kenapa jadi banyak orang gini." batin Mimi melihat mereka semua.


Setelah Mimi duduk, semua keadaan ruangan menjadi sunyi. Mimk sudah merasakan getir dan merasa takut. Mimi merasa dirinya sedang di sidang.


Ummi Fatimah dan ummi Fatmah yangbberdad dimsamlingnkiri kanannya memeluk lengannya Mimi untuk memberikan ketenangan pada Mimi yang terlihat ketakutan.


Satu-persatu salah satu dekan memperkenalkan tamu tersebut.


Irjen Lutfi Ahmad sebagai Kapolda di kota ini, Bapak Yahya nur sebagai perwakilan dari tim Basarnas, Dan bapak Davin perwakilan Lino air. Saat salah satu dekan memperkenalkan perwakilan-perwakilan tersebut mimi mengangguk tanda hormat pada mereka.


ParaLara perwakilan tersebut memulai sesi pertanyaan pada Mimi. Mimi yang sudah merasa takut sedari tadi semakin berkeringat dingin.


"Begini amat, keg tersangka pembunuhan aja, eh emang secara tak sengaja aku pembunuh ya?" Mimi ngebatin dengan lirih ketika dirinya merasa sebagai pembunuh walaunitu ketidak sengajaan nya.


"Apa benar kamu benar bernama Mimi Akifah?" tanya perwakilan dari Basarnas.


"Iya pak, saya Mimi Akifah." jawab Mimi.


"Apa bisa kamu ceritakan bagaimana bisa kamu selamat daei tragedi itu?" tanya pihak Basarnas.


"Tapi maaf pak Yahya saya celah sebentar." ucap pihak maskapai


"Saudari Mimi apa benar kamu ada memesan tiket Jambi-Semarang di maskapai lino air?" tanya pihak maskapai.


"Benar pak." jawab Mimi.


"Tapi saudari, disini kami mendapatkan data ada dua nama atas nama Mimi Akifah. Yang pertama di penerbangan 18.00 WIB dan yang kedua di penerbangan di jam 21:00 wib hanya membedakan kelas nya saja." terang pihak maskapai.


"Benar pak, itu semua nama saya." jawab Mimi.


''Kenapa bisa begitu? apa kamu terlambat check in atau, emm kalau terlambat check In tentunya kamu tidak menerima boardingpass." ucap pihak maskapai.


"Emm it memang benar nama saya pak, saya juga tidak terlambat cuma waktu itu ada perempuan yang terburu-buru dan menginginkan penerbangan di jam enam sore itu. Karena kata petugas tiket jam segitu telah kosong untuk ke Semarang dan adanya di jam 9 malam. Kata si perempuan dia sangat membutuhkan nya, dan dia melihat tiket saya keberangkatan jam enam dia pun memohon, itu juga dihadapan petugas, karena kasian saya beri tiket saya pak dia pun menggantikannya dengan tiket di jam 9 malam dengan kelas yang berbeda." terang Mimi secara garis besarnya.


"Terus bagaimana tas kamu bisa bersama dia?" tanya pihak Basarnas.


"Emm kalau itu, nanti saja pak syok gantungan authore maaih banyak. Jadinbiae authore babarkan ke ban selanjutnya.


"Oh baik lah."


"Maafkan authore ya reader di gantung deui, authore mau masak dulu.

__ADS_1


Assalamualaikum selamat pagi selamat beraktivitas. makasih atas dukungannya ya muaach.


__ADS_2