
Mimi selanjutnya akan kembali melakukan aktifitas sebagai seorang pimpinan rumah sakit yang dipercayakan keluarga almarhum abidzar.
Tak hanya sebagai pimpinan, dia juga masih melakukan perkerjaan sebagai dokter ahli jantung dan mahasiswa yang sedang menjalankan Disertasi nya.
Baru beberapa jam dia mendarat di negera orang ini dan hanya dua jam dia beristirahat setelah menerima serta melayani sang suami walau hanya melalui video call.
Mimi telah siap dengan pakaian seperti biasanya, menggunakan kulot span, tunik serta hijab denfan warna senada yaitu tosca.
Mimi berjalan keluar dari apartemen nya dan tak berselang lama taksi yang dipesannya pun tiba. Mimi langsung menuju kampusnya terlebih dahulu untuk menyerahkan berkas kelengkapan buat ujian akhirnya.
Setelah memdapatkan nomor buat ujianya esok, Mimi pun langsung keluar kampus dan segera berjalan menuju rumah sakit yang jaraknya tak begitu jauh dari area kampus, hanya sekitar lima belas menit berjalan kaki.
Sesampainya di rumah sakit, Mimi langsung menuju ruangan tak lupa sepanjang koridor Mimi saling sapa sesama staff, dokter dan yang lainnya.
Saat di dalam lift Mimi bertemu dengan rekan kerjanya yang mana juga merupakan teman almarhum yang bernama dokter Monica yang juga berprofesi sebagai dokter kandungan dan dia dipercaya oleh Syahril.
"Hi Mimi, apa kabar? wah selamat ya akhirnya jadi juga sebagai nyonya Syahril." ucapnya sembari mengupurkan tangan untuk memberi selamat.
"Hi monic, alhamdulillah terimkasih. Bagaimana kondisi? aman dan kondusif kan." jawab Mimi sembari menanyakan keadaan rumah sakit.
"Hmm seperti yang kau lihat." jawab nya
"Emm, tapi ada satu pasien yang selalu menanyakan Syahril. Emm apa Syahril tak berencana kesini lagi Mi?" ucapnya.
"Siapa?" tanya Mimi denfan memicingkan matanya.
"Emm kalau itu belum tau, kamu tau sendiri kalau dia saat ini sedang mengemban tugas di daerah yang membutuhkan di daerah ku." sambung Mimi.
"Aku juga kurang tau siapa pasien ini, tapi kalau di lihat dari rekam medisnya dia ada beberapa kali di tangani oleh Syahril, emm dua atau tiga kali gitu dan selebihnya selalu ditangani dokter yang berbeda." ucap monica menerangkan.
Tak lama lift pun terbuka Mimi dan monica pun berpisah karena berbeda tujuan.
"Ok Mi, aku duluan ya?" ucap monica berpamitan.
"Ok monic, see you." ucap Mimi dqn kembali menekan nomor di dinding dalam lift tersebut.
Mimi masih penasaran dengan pasien yang dimaksud Monica, belum sempat Mimi kembali bertanya pada monica namun pintu lift terbuka dab monica pun sedang dalam menangani tindakan terhadap pasiennya.
Setelah lift terbuka Mimi pun langsung berjalan menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan Mimi duduk di kursi kebesarannya dan dia memutar kursinya menghadap kesebuah lukisan dirinya dan almarhum.
Mimi tersenyum memandang lukisan tersebut. Mimi beranjak dari kursi yang di dudukinya, Mimi berjalan mendekati lukisan tersebut.
Mimi terus memandangi lukisan dengan tersenyum. Mimi menyentuh lukisan itu terutama lukisan bergambar diri Abidzar.
"Assalamualaikum mas." ucap Mimi sembari mengelus wajah Abidzar.
"Semoga Allah senantiasa memberikan jannahnya yang terindah buat mu."
"Mas, makasih.. Makasih atas semuanya. Mimi rindu mas." ucap Mimi dengan deraian air mata yang lolos begitu saja.
"Tanpa mas, Mimi bukan siapa-siapa. Makasih mas menyatukan Mimi dengan orang yang pertama di hati Mimi."
"Mas.. Mimi sudah nikah dengan kak Syahril, semoga allah meridhoi pernikahan kami."
"Mas, semoga kelak kita berjumpa kembali di jannah nya allah. Walau mas bukan yang pertama, namun mas ada bahkan selalu ada di hati Mimi yang terdalam."
Mimi masih terus bergumam dengan terus memandangi lukisan tersebut. Lukisan di saat acara pertunagan Mimi dan Abidzar.
Bahkan Mimi sendiri tidak tau kapan Abidzar membuat lukisan itu. Mimi masih tak menyangka akan nasib nya saat ini.
Mimi yang hanya seorang anak dari keluarga sederhana, anqk dari kedua orang tua yang tak berpendidikan tinggi bahkan selalu di pandang sebelah mata oleh orang bahkan dari keluarga sendiri.
Tapi saat ini, Mimi adalah seorang dokter ahli jantung bahkan dalam waktu dekat dia akan mendapat gelar doktor bila lulus disertasi nya.
"Mas, lusa Mimi akan ujian akhir dan semoga disertasi Mimi juga lulus." Mimi terus berbicara di depan lukisan itu, seolah lukisan yang dilihatnya adalah sesosok Abidzar.
"Akhirnya Mimi bisa menempuh pendidikan Mimi sampe akhir ini mas, coba dulu Mimi langsung ambil ya mas mungkin saat ini Mimi sudah menyandang gelar doktor seperti mas hehehe.." ucap Mimi dengan air mata yang masih setia mengalir.
Mimi mengusap wajah Abidzar sembari menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan perlahan seraya membaca alfatihah yang di tujukan untuk Abidzar di dalam hatinya.
Mimu berjalan menuju mejanya, sebelum mendudukan dirinya Mimi berdiri di jendela seraya melihat kota dari atas gedung.
Masa-masa dulu seakan berputar di memori. Mimi seorang
mahasiswa undangan jebolan dari sebuah bimbingan belajar sekarang menjadi Ahli jantung.
Berkat kegigihan serta doa dari orang-orang terdekat terutama orang tuanya, Mimi bisa menjadi Mimi yang saat ini.
__ADS_1
"Terimkasih ya allah, terimakasih atas rahmat rezekimu."
"Tuntunlah hamba selalu di jalanmu, tegur lah hamba bila hamba lupa akan dirimu. Mudahkan selalu rezeki hamba ya rabb. Hamba ingin memberangkatkan kedua orang tua dan nyai hamba ke tanah suci."
"Semoga hamba tetap menjadi pribadi hamba yang selalu bersyukur. Amin."
Setelah memanjatkam do'a untuk dirinya di dalam hati, terdengar suara pintu di ketuk.
"Masuk" ucap Mimi sembari berjalan menuju meja nya, Mimi pun duduk di kursinya.
"Excuse me miss." ucap karyawan yang baru masuk. Mimi hanya mengangguk serta tersenyum.
"Ini ada beberapa laporan yang memerlukan tanda tangan ibu." ucap nya serata memberi tumpukan map.
"Oh ok, akan saya periksa dan pelajari." jawab Mimi.
"Ok miss, kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya." ucapnya sambik tersenyum dan menunduk sejenak dan undur diri.
Mimi mulai membuka satu persatu map dan memeriksa serta mempelajarinya setiap laporan masuk.
Tak tau berapa jam Mimi berkutat dengah tumpukan map tersebut, Mimi berhenti kala suara adzan berkumandang dari ponselnya.
"Huh, ternyata sudah dzuhur." ucap Mimi sambil melihat jam di ponselnya.
Karena Mimi sedang tidak sholat dan pekerjaannya belum selesai, Mimi memesan makanan melalui telpon.
Mimi beranjak dari kursinya hendak mengambil minum di dispenser yang berada dalam mini bar yang ada di dalam ruangannya. Sambil berjalan menuju mini bar, Mimi menggerakkan pinggangnya ke kiri ke kanan hingga menimbulkan bunyi krek, tak hanya pinggang, tangqn serta kepala nya pun di gerakan dengan serupa.
Kala Mimi menunggu makanabn tiba, di belahan benua asia, khususnya asia tenggara bagian negara indonesia dan di bagian daerah pelosok propinsi jambi.
Syahril baru sampai di dusun tempat ia di tugaskan. Rencana Syahril akan pulang ke dusun siang atau sore hari nya namun di saat dia selesai menghubungi Mimi, ia mendapat telpon dari salah satu bidan yang bertugas disana kalau ada pasien nya yang perlu penangan segera dan pihak keluarga pasien ingin Syahril yang menanganinya.
Samg bidan juga tak berani mengambil keputusan karena pasien ini juga memiliki riwayat plasenta previa. Beruntung saat bidan menelpon Syahril sudah berada di daerah nya ya walau mereka harus menunggu kurang lebih tiga jam setengah karena posisi Syahril ada di kota nya.
Tepat jam 2:15 dini hari, Syahril tiba di dusun. Syahril langsung menuju rumah pasien.
Tiba di rumah pasien, rumah terlihat sepi. Syahril mencoba mengetuk rumah tersebut sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum" ucap Syahril.
"Waalaikum salam," terdengar suara jawaban serta langkah kaki dari dalam.
"Alhamdulillah buk," jawab Syahril.
"Ayo pak dokter masuk." ucap si ibu mempersilahkan Syahril masuk.
"Mari duduk pak dokter," ucap si ibu.
"Oh iya buk, makasih. Emm bagaimana keadaan anak ibu?" ucap Syahril.
Belum ibu itu menjawab, bidan yang menangani sebelumnya keluar dari salah satu kamar.
"Assalamualaikum pak dokter." ucap si bidan.
"Waalaikum salam, oh ya bagaimana?" ucap Syahril kembali bertanya.
"Alhamdulillah saat ini pasien sudah tenang dok tidal seperti sebelumnya." jawab si bidan.
"Posisi janin, masih sama seperti sebelumnya walau saat ini sudah di bawah, detak jantyng janin juga normal." sambung si bidan.
"Emm kita lihat beberapa jam kedepan, jika tidak pendarahannya kembali teepaksa kita segera tindak lanjuti, kita operasi segera." ucap Syahril.
"Baik dok." ucap si bidan.
"Emm lebih baik pak dokter istirahat dulu pasti dokter capek dalam perjalanan jauh." ucap si ibu tuan rumah.
"Oh ya buk, emm saya numpang tidur di kursi ini saja." ucap Syahril.
"Emm iya pak dokter, tunggu bwnyar saya ambilkan selimut dan bantal."" ucap si ibu yang langsung berjalan menuju salah satu kamar.
"Ndak usah repot buk, pakai yang ini aja." ucap Syahril tapi tak di indahkan oleh si ibu.
Tak lama si ibu pun keluar dengan tergopoh- gopoh dari kamar dengan membawa kasur serta bantal dan selimut.
"Ini pak dokter, silahkan istirahat dulu. Sebelumnya saya minta maaf sudah merepotkan dan terimakasih pak dokter selalu membantu anak saya Rokayah." ucap si ibu.
"Sama-sama buk, saya ndqk merasa di repotkan karena ini memang tugas saya." jawab Syahril.
__ADS_1
"Ibu juga pergilah tidur lagi, ini masih malam." ucap Syahril.
"Ah iya, kalau macam tu saya tinggal dulu pak dokter." ucap si ibu.
"Iya buk." ucap Syahril
"Kala gitu saya juga pamit kembali ke kamar pasien pak dokter," ucap si bidan.
"Oh iya silahkan bu, kalau ada apa-apa nanti janan sungkan bangunkan saya." ucap Syahril.
"Baik pak, kalau begitu sya tinggal dulu pak." ucap si bidan
"Ya silahkan." ucap Syahril, si bidam pun kembali masuk ke kamar dimana pasien berada.
Lelah itu yang di rasakan Syahril saat ini, dia pun merebahkan tubuhnya di sebuah kasur yang disediakan oleh si ibu di depan tv. Tak butuh lama Syahril terlelap.
Lain Syahril, lain Mimi, lain pula Ryan dan Di'ah.
Ryan sengaja pulang ke rumah hampir tengah malam, dibilang sengaja sebenarnya dia pun tak sengaja. Hanya kebetulan saat dia ke rumah sakit baiturahma milik umma Syahril, ada pasien memerlukan penangan segera.
Ryan yang awalnya berniat mencari kerjaan di rumah sakit itu untuk mengalihkan rasa kesal dan amarahnya, sesampainya disana dia lamgsung di ajak oleh Rendy langsung menuju ruangan operasi.
Di rumah orang tua Ryan, Di'ah yang berada di dalam kamar merenungi dirinya sendiri, dia jufa merenungi segala nasihat ummi Parida pada dirinya.
"Nak, bukannya ummi mau ikut campur. Tapi ummi tidak ingin kalian berdua terlalu lama dalam sebuah kemarahan." ucap ummi parida saat duduk berdua dengam Di'ah dan ummi pun memberikan petuahnya.
"Menikah itu tidak hanya menyatukan dua insan tapi juga menyatukan dua pribadi dan dua ego."
"Jika dua ego tidak bisa di pecahka. bersama dengan kepala dingin, maka bersatunya dua insan itu juga tidak akan sempurna."
"Ummi tidak menganggapmu menantu, tapi ummi menganggap mu sebagai anak ummi." ucap ummi parida seraya memegang kedua tangan Di'ah.
"Seperti yang pernah ummi ceritakan sebelumnya, kalau keluarga ummi ini berbeda dengan keluarga umma mu. Ummi sangat amat bersyukur anak-anak ummi bisa sekolah tinggi semua."
"Itu pun berkat campur tangan keluarga Syahril"
"Nak jika kamu ingin sesuatu, berbicara lah dengan baik pada suwami mu. Jika kamu ingin mengeluarkan keluh kesahmu pada ummi, ummi akan mendengarkannya."
"Kita sebagai seorang istri hendaklah bertutur kata yang baik, husnudzon pada suami dan berdoa lah yang baik-baik pada suami kita. Jika kita selalu berprasangka baik terutama pada suami, insya allah rezeki suami akan mengalir."
"Begitu pula sebaliknya, jika kita berprasangka buruk dan hati kita selalu suudzon terhadap suami maka keringat yang dikeluarkan suami seolah kering tanpa jejak."
"Ingat lah nak, ucapan adalah doa walaupun ucapan itu tak sampai terlontar namun malaikat mendengarnya."
"Bersabarlah jika ada keinginan kita belum terpenuhi, mungkin allah masih menyimpannya."
Ucapan Ummi Parida masih terngiang di telinga Di'ah.
"Ya allah, apa aku salah ingin seperti Mimi."
"Aku hanya ingin seperti Mimi yang selalu memandapatkan keinginannya, selalu mendapatkan kasih sayang orang-orang di keluarga mertua hamba."
"Apa salah jika hamba mengginginkan hal itu."
"Kenapa Mimi selalu lancar mendapatkan apa yang di inginkan, sedangkan aku.. Meminta pada suami ku saja selalu ada saja alasannya."
"Apa salah jika aku juga menginginkan hal lebih, toh kak Syahrik adalah sepupu kak Ryan."
"Dan kenapa pula, keluarga ummi seolah merendah begitu dengan umma."
Di'ah terus berbicara pada dirinya sendiri, ucapan nasihat sertq cerita ummi parida seolah hanya di dengarnya semata.
Iri dengki masih merasuki nya, keadaan serta perjalanan yang pernah dia lihat serta dia dengar tentang Mimi seolah dia lupakan.
Di saat Di'ah berperang dengan batinnya, Rywn masuk ke dalam kamar dengan keadaan yang letih.
Ryan yang melihat Di'ah duduk di atas kasur dengan ponsel berada di tangan namun mata Di'ah entah menerawang kemana.
Ryan hanya menarik nafas nya seraya terus menuju lemari untuk mengambio pakian ganti dan ryan pun langsung menuju kamar mandi tanpa menghiraukan sang istri.
########
Alhamdulillah bisa up, mohon maaf terlalu lama menunggu. Hp author rusak di servise ampe berbulan nggak juga bagus, akhirnya ambil lagi tu hp dan coba perbaiki di tempat lain, yang awalnya cuma layar nggak mau kebuka dan di charfer tetap masuk dan lampu nya tetap nyala. Service di temlat kedua nunggu seminggu di bilang mau cek mesin setelah seminggu kemudian di bilang meain kena dan nggak bisa di perbaiki lagi. sampe rumah yang biasa di cas masukl dan lampu nyala sercise kedua hpnya rusak total.
Nah biasa up tukaran antara pakek hp dan tablet eh tabletnya ikutan lcd pecah. kembali ke hp lama yg nggak bisa lepas dari charger, udah dua bab di akhir tahun lalu buat hp nya error sering keluar apk sendiri, terpaksa instal ulang setelah itu lupa sandi email.
Alhamdulillah malam ini coba di otak atik akhirnya kebuka juga dan bisa up.
__ADS_1
Namun mohon maaf sebelumnya masih tetap nggak bisa up normal. Tapi insya allah di usahakan up tiapt harinya.
makasih buat semua.