
Setelah acara makanan bersama, Abi Arsyad membawa kami semua kestudio foto. Lara gadis kembali !memperbaiki riasannya.
Mimi dan yang lain berfoto bersama keluarga, tak terlewatkan Mimi juga berfoto dengan para sahabat-sahabat nya.
Momen yang sanagt membahagiakan bagi Mimi, namun momen ini terasa kurang karena Dillah tidak ikut serta bahkan pesan Mimi dari semalam pun belum di balasnya.
Mimi Muthia, Selfia dan Irma berfoto berempat dengan masih mekai pakaikan lengkap dengan toga nya.
Setelah selesai berfoto kami semua kembali pulang ke kosan. Orang tua Selfia, Irma mereka tidur di hotel sedangkan orang tua Mimi ya Tegal dikosan Mimi. Sedangkan orang tua Muthia jelas tidur di rumah mertua Muthia.
Saat Mimi membuka ponselnya ada pesan dari Dillah, Mimi pun membuka nya.
"Yank, dandan yang cantik ya. Malam ini aku tunggu di resto xx."
"Nanti ada yang jemput kamu beserta emak dan bapak jam 7.30 ya yank."
"Siapa Mi?" tanya Selfia. Mimi hanya tersenyum dan memberikan HP nya ke Selfia.
"Wah ternyata dia mau kasih surprise sama kamu Mi." ucap Irma, Mimi pun tersenyum dan mengangguk.
"Emm Mi, aku duluan ya dah di jemput Riko" ucal irma
"Aku juga ya Mi, Ir aku numpang ya." seru Selfia.
"Lah kalian mau kemana?" tanya Mimi.
"akita juga mau dinner kali Mi." jawab Irma dan Selfia sembari jalan.
Mimi melihat sudah jam 7 malam, Mimi menghampiri emak dan bapak.
"Mak, pak," panggil Mimi kepada kedua orangtuanya yang sedang nonton TV.
"Ada apa Mi?" tanya emak.
"Mm Mak, Lak, Mak sama bapak siap-siap ya. Nanti ada yang jemput, kkta makan di luar." ucap Mimi.
"Makan di luar? emang sama siapa?" tanya emak lagi.
"Nih Irma sama Fia mau kemana? mau ke hotel?" tanya emak kepada kedua sahabatnya yang sudah bersiap.
"Iya Mak, sekalian mau jalan sama Riko." jawab Irma.
"Kami pamit dulu ya Mak, pak, Mi." ucap mereka bertiga karena Riko juga sudah sampai.
"Iya hati-hati" jawab emak.
"Memang nya mau makan malam dimana dan sama siapa Mi?" tanya emak pada Mimi
"Kang Said Mak, nih dia ada kirim pesan katanya dia mau ngajak emak dan bapak makan malam juga jadi nantindia menyuruh supir jemput kita." ucap Mimi.
"Oh yaudah kalau gitu mak sama bapak siap-siap dulu kamu jga segera bersiap-siap." ucap emak, Mimi pun mengangguk dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap.
Tepat jam 7.30 malam ada orang yang mengetuk pintu kosan Mimi. Mimi membuka pintu tersebut dan ternyata yang jemput adalah Yogi.
"Loh kak?" ucap Mimi.
"Iya Mi, sudah siap?" tanya Yogi dan Mimi lun mengangguk.
"Kak Dillah nya sudah disana apa kak?" tanya Mimi ketika sudah berada di dalam mobil.
"Emm mungkin sekarang juga dalam perjalanan Mi." ucap Yogi.
"Kok mungkin?" tanya Mimi.
"Iya soalnya tadi dia sekalian ke bandara dulu jemput orang tuanya." jawab Yogi.
"Oo" Mimi ber O ria dan tersenyum.
"Maafkan Mimi kang yang sudah bersuudzon dengan kakang." ucap Mimi dalam hati.
Tak lama mobil yang di tumpangi Mimi dan kedua orangtua nya pun sampai di restoran itu. Yogi mengantarkan Mimi sampai tempat ke ruanagn privite yang sudah di pesan oleh Dillah.
Di rumah ortvite yang sudah dihiasi sedemikian rupa, disana juga sudah ada Muthia dan Satria.
"Muth" panggil Mimi dan Muthia hanya mengangguk dan tersenyum. Mimi melihat jika para sahabatnya juga sudah ada disana.
"Kalian" ucap Mimi, Irma dan Selfia hanya menunjukkan dua jarinya.
Mimi merasa bahagia ternyata Dillah menepati janjinya, bahkan dia tak hanya memberi surprise dengan acara makan malam bersama orang tuanya dan sahabat tetapi dia juga akan memperkenalkan Mimk dan orangtua nya dengan orang tua Dillah.
Lama Mimi beserta yang lain menunggu kedatangan Dillah, tetapi Dillah tak kunjung tiba. Mimi masih berusaha tenang.
Yogi, Satria serta Bryan menghubungi Dillah namun ponselnya tidak aktif.
"Emm lebih baik kita makan aja dulu." ucap Reno.
Semua makanan telah di bidang secara prasmanan di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Mak, bapak kalau mau makan, makan aja dulu." ucap Mimi, Mak dan bapak pun pergi mengambil makanan begitupula dengan yang lain.
Mimi semakin kecewa, bukan surprise yang bahagia yang Mimi dapatkan namun surprise yang membuat dirinya merasa malu kepada kedua orang tuanya.
Hingga pukul 11 malam Dillah tak kunjung tiba bahkan nomknrnya pun sudha tidak aktif lagi.
"Kak" panggil Mimi pada Yogi.
"Ya Mi." jawab Yogi yang juga gusar atas ulah Dillah.
"Antar Mimi pulang ke kosan ya." ucap Mimi meminta Yogi untuk mengantar nya pulang ke kosan.
"Kita tunggu aja bentar lagi Mi" sahut Satria.
"Sudahlah kak dah malaam juga, kasian Mak dan bapak." ucap Mimi, akhirnya hobi lun menyetujui dan mengantar mereka pulang.
"Mak, pak, maafkan Mimi ya." ucap Mimk saat mereka telah sampai di kosan.
"Hmm sudahlah, mungkin dia sibuk." ucap emak.
"Sudah lebih baik kalian tidur." ucap emak pada Mimi dannkedhq sahabtnya yang juga sudah Samali di kosan.
Emak dan bapak sudah berada di kamar sebelah, Mimi, Ay, swlfia dan Irma juga sudah masuk ke dalam kamar.
Ay sudah tertidur pulas, Mimk tidak bisa tidur karena rasa kecewanya membuat dadanya sakit.
"Mi" panggil Irma yang berada di bawah ranjang Mimi.
"Emm" jawab Mimi.
"Kalian tidur aja." jawab Mimi.
Mimi berusaha menghubungi Dillah, namun nomornya tetap tidak aktif.
"Kemana kamu kang?"
"Kenapa kamu lakukan semua ini." ucap Mimi dalam hati nya, gak terasa air matanya pun luruh.
Disaat Mimi mulai menerima orang lain di hatinya bahkan Mimi juga sudah mulai menerima pinangannya lagi-lagi Mimi harus menelan kekecewaan.
"Ya Allah, jika dia memang tak berniat baik padaku. Jangan lagi kau perlihatkan dia di hadapanku." karena rasa kecewa yang amat besar Mimi memohon kepada Tuhan agar tidak dipertemukan kembali dengan Dillah.
Sakit hati Mimi atas perbuatan Dillah malam ini, dia sakit hati karena orang tua nya juga ikut melihat kekecewaannya. Mungkin dari sudut pandangan orang tua Mimi ini bagai kan lelucon.
Dua hari telah berlalu, Mimi disibukkan mengurus berkas beasiswanya untuk menuju jenjang lebih tinggi, Mimi sudah menyerahkan berkas-berkas nya dan dia juga sudah !menuliskan jurusan yang dia ambil yaitu spesialis jantung.
Semenjak Dillah membuatnya kecewa semenjak itu pula Mimi menjadi pribadi yang banyak diam bahkan cuek nya yang dulu kembali dia lakoni.
Di saat resepsi Muthia dan Satria untuk kedua kalinya di kota Semarang, Dillah pun tidak hadir di acara itu. Mimk maaih berusaha peduli dan bertanya kepada Reno atau temannya yang lain. Namun mereka juga tidak mengetahui kemana keberadaan Dillah.
Sepulang dari acara Muthia dan Satria, Mimi membuka kartu ponselnya, kartu pemberian Dillah waktu itu. Mimi mematahkan kartu itu, bahkan ponsel pemberian Dillah pun Mimi masukkan kedalam kotak nya.
"Mi" panggil Irma ketika dia melihat Mimi menghancurkan nomor ponselnya.
"Hmm" jawab Mimi.
"Kenapa dipatahkan, terus nanti kita menghubungi Mimi pakai apa?" tanya Selfia.
"Pakai kartu baru." Jawab Mimi dengan menunjukkan kartu perdana kepada kedua sahabatnya, kartun yang sudah dipersiapkan Mimi pagi tadi.
"Lah terus hp nya kenapa dimasukkan kedalam kotak?" tanya Irma.
"Mau Mimi jual." jawab Mimi ketus.
"Mimi pakai hp apa dong?" tanya Selfia.
"Pakai HP lama" jawab Mimi dengan berjalan menuju lemarinya dan mengambil kotak HP nya yang lama pemberian Syahril.
Mimi menghelakan nafas panjangnya ketika mengambil HP itu.
"Akhirnya aku kembali memakai MU" gumam Mimi pada HP itu.
Mimi membuka kalung yang terpasang indah di lehernya, kalung yang menggantikan posisi Syahril. namun saat ini kakjang itupun merupakan kenangan yang sangat pahit bagi Mimi.
"Maaf kang, mulai saat ini kita tak memiliki hubungan. Jangan salahkan Mimi Bika Mimi perlahan melupakanmu. Kau yang mulai dan kau pula yang mengakhiri janji-janji mu." ucap Mimi dalam hati teringat akan kata-kata yang terucap kala dillah berucap janji saat ini terbaring di rumah sakit akibat pelecehan.
Tak hanya di saat itu saja, Dillah juga berjanji akan selalu menjaga, mencintai serta menyayangi Mimi hingga akhir hayatnya, bahkan dia berjanji akan cepat pulang dan bertemu dengan kedua orangtua Mimi .
"Dan kau mengakhirinya pun tanpa ada kata-kata, kau hilang begitu saja bak di telan bumi." ucap Mimi dalam hati ketika melihat HP serta kalung pemberiannya.
HP pemberian Dillah Mimi !masukkan kembali ke dalam kotaknya sedangkan kalkungbmiminletakkan di dalam kotaknya juga, setelah itu Mimi simpan di lemari.
Walau HP dan kartu yang berada di dalam hp itu tidak di gunakan, Mimi selalu mengaktifkan kartu itu dengan mengisi pulsanya tiap bulan. Kartu itu tetap tidak Mimi gunakan walau selalu diisi pulsa.
Keesokan harinya, sebelum mengantar kedua orang tua serta adiknya ke bandara, Mimi berniat akan menjual hpnlemberian Dillah, Mimi mengambil HP itu dan Mimi pergi ke counter HP untuk menjual HP nya dengan di temani Selfia, namun stelah sammali di counter Mimi menjadi ragu.
Mimi merasa jahat bila langsung menjual barang pemberian Dillah, sedangkan barang pemberian Syahril hingga kini masih apik berada di lemarinya.
__ADS_1
"Mi" panggil Selfia.
"Kenapa?" tanya Selfia lagi.
"Emm nggak jadi lah Fi, ayo kita pulang aja." ucap Mimi dan mengajak Selfia pulang. Selfia hanya menggelengkan kepalanya dan menuruti keinginan Mimi saja.
Sampai kosannya Mimi merebahkan badannya di atas kasur diikuti Selfia.
"Mi" panggil Selfia, Mimi tak menjawab panggilan Fia, Mimi hanya menoleh kearah Selfia.
"Kenapa Mak sama bapak ndak sekalian bareng Mimi aja di hari Minggu?" tanya Selfia.
"Ay terlalu lama izinnya Fi, Fia jadi juga luoangbhari Sabtu?" tanya Mimi.
"Iya Mi, setelah urusan selesai." jawab Selfia.
"Oh ya Fi, kenapa kamu nggak terima saedi saat dia menyatakan niatnya di depan orang tua Fia?" Tanya Mimi.
"Emm gimana ya Mi, Fia merasa sudah nggk ada rasa sama dia."
"Jadi kalau Fia jawab iya yang ada nanti membuat semua nya kecewa." ucap Selfia.
"Lah, kamu sama si AA gimana?" tanya Mimi.
"Gimana apanya? kita hanya berteman aja Mi. Si Saiful itu sudah ada tunangannya dikampung. Mungkin habis wisuda dia akan menikah." jawab Selfia.
"Emm berarti nggak lama lagi dong." ucap Mimi.
"Iya, enam bulan lagi lah." jawab Selfia.
"Terus Fia dengan Rey?" tanya Mimi.
"Hmm Rey itu suka nya sama kamu Mi, dia deketin Fia cuma mau cari tau info tentang kamu." ucap Selfia kesal.
"Udah ah, mending nggak usah mikirin cowok lagi. Lebih baik mikirin kuliah aja biar cepat kelar dan go dari kota ini." ucal Selfia.
"Huh, iya juga ya Fi. Berarti kita berdua bakal jadi jomblo akut lah nanti." ucap Mimi.
"Iya hahahaa." jawab Selfia dan mereka pun tertawa bersama.
Jam dua orang tua Mimi sudah berangkat menuju kota Jambi, saat Mimi dan Selfia akan pulang tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang berbadan tegap, berpakaian jas serba hitam dan berkacamata hitam menghampiri Mimi dan Selfia.
"Maaf sebaiknya Anda ikut kami." ucap lelaki berbadan tegap itu.
"Anda siapa?" tanya Mimi, tangan Mimi segera merogoh tas nya dan mengambil HP nya.
"Sebaiknya kamu jangan macam-macam." ucap salah satu orang tersebut yang mengetahui Mimi mencoba menghubungi seseorang lewat hpnya.
Orang yang mengetahui Mimi merogoh tas langsung mencegah Mimi untuk mengambil HP nya namun tanpa diketahui oleh mereka Mimi sudah memencet tombol.
Begitupula Mimk juga tidak mengetahui jika dirinya terpencet tombol panggilan cepat. panggilan cepat tersebut tidak pernah berubah yaitu langsung tertuju ke nomkr Syahril.
Karena ketahuan Mimi pun mengeluarkan tangannya dari tas, dua orang tersebut semakin mendesak Mimi dan Selfia untuk ikut dengan mereka.
"Ayo sebaiknya Anda segera ikut dengan kami." ucap orang tersebut dengan langsung mencengkeram lengan Mimi dan Selfia
"Siapa kalian hah" teriak Mimi.
"Jaga mulut Anda jika tidak ingin celaka." ucap orang tersebut dengan menunjukkan pistol dari dalam jasnya.
Syahril yang menerima telpon dari nomor tak dikenal itu ragu untuk menerimanya, namun hatinya meminta dirinya untuk mengangkat telpon itu.
Sekilas syahril mendengar teriakan seseorang dari balik telpon itu.
"Yan" panggil Syahril pada Ryan.
"Ada apa Riil?" tanya Ryan yang baru dari dapur.
"Yan, coba kau lacak HP Mimi." ucap syahril dan Syahril lun meloadspecker panggilan dari nomkr tak dikenal itu.
Mimi dan selfia yang di tarik paksa akhirnya mengikuti saja daripada nyawa melayang, begitulah oijrwn Mimk dan Selfia.
"Kalian siapa? kenapa kalian membawa kami?" tanya Mimi kepada dua orang tersebut ketika sudah berada di dsqlm mobil orang tersebut.
Dua orang tersebut hanya diam, yang satunya sibuk menghubungi seseorang lewat HP dan yang satunya fokus pada jalanan.
Mimi berusaha membuka pintu mobil kala mereka terjebak di kemacetan namun kunci tersbut tidak bisa terbuka.
Syahril dan Ryan mencoba melacak HP Mimi dan ternyata HP tersebut dapat terlacak karena HP Mimk saat ini dalam keadaan aktif.
"Riil, ho Mimi aktif. Emm dan itu?" ucal Ryan dan bertanya pada Syahril mengenai telpon Syahril yang dalam keadaan hubjnbgna telpon.
Syahril dan Ryan berusaha mendengar suara dari nomor tak dikenal itu. Mereka memfokuskan diri pada suara yang tak begitu jelas tali mereka yakini jika itu adalah suara Mimi.
"Yan hubungi Irsyad, aku yakin ini adalah Mimi. Mungkin dia tak sengaja menekan tombol panggilan cepat." ucap Syahril, Ryan pun langsung menghubungi Irsyad, Irsyad yang kebetulan sama Abi Arsyad pun menjadi panik karena mereka takut jika ada orang yang berniat jahat lada Mimi.
Abi menelpon orang suruhannya dan abinjuga mendapatkan info kalau dari orang suruhannya kalau mereka kehilangan jejak Mimi di bandara.
__ADS_1
Abi dan Irsyad susah siaga dan tinggal menunggu info selanjutnya dari Ryan dimana HP Mimi berakhir berhenti, tapi tak lama Ryan kehilangan titik keberadaan Mimi karena saat mobil melaju HP Mimi kehabisan daya.
tbc