DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
gagal


__ADS_3

Hari semakin sore, umma, Babah, bunda dan ayah Brata serta yang lain pamit pulang ke apartemen.


Tinggallah Syahril dan Ryan yang tinggal untuk menjaga kekasih mereka.


"Mi, bunda pulang ke apartemen dulu ya." ucap bunda saat akan pulang.


"Emm iya Bun, bunda juga harus istirahat. Umma juga harus banyak istirahat pasti kalian capek baru nyampe langsing ke sini." ucap Mimi.


"Capek kami tidak seberapa nak, yang penting kamu baik-baik saja dan cepat sehat lagi." ucap umma.


"Makasih ya umma, bunda." ucap Miki dengan memeluk kedua orang tua yang selalu menyayangi nya walau bukan siapa-siapa nya.


"Nanti malam bunda temani kamu, kamu mau bunda masakin apa?" ucap bunda.


"Emm, umma bawa ndak bakso? terus bunda jadi nggak buatin Mimi rendang?" tanya Mimi pada umma serta bundanya.


"Hmm kamu ini nak nak, kalau makanan aja di ingat." ucap bunda.


"Iya untungnya rendang kebawa semalam. Jadi mau bunda bawakan rendang nanti?" ucap bunda.


"Bakso juga untung umma bawa, nanti umma bawa sekalian." ucap umma.


"Yee makasih umma, bunda." ucap Mimi dengan mencium pipi mereka berdua.


Setelah semua kedua keluarga pulang, tinggallah Miki seorang di dalam ruangan karena Syahril maupun Ryan belum kembali dari apartemen.


Namun penjagaan untuk Mimi dan Di'ah diperketat karena Carol masih belum diketemukan.


Sebenarnya Carol yang mengetahui Di'ah selamat dari tembakannya sudah berada di ruang sakit ini dengan menyamar namun dia tidak bisa masuk ke dalam ruangan Di'ah.


"Si'al, beruntung sekali dia bisa menjadi bagian keluarga ini.'' ucap Carol.


Orang-orang tidak bisa mengenai wajah nya karena Carol mengenakan silikon pada wajahnya.


Syahril dan Ryan berjalan berdua dengan membawa rantang berisi bakso dari umma untuk makan sore Mimi dan diri nya juga.


Saat Syahril berjalan menuju ruangan Mimi, Syahril melihat ada seorang perempuan tua yang mondar mandir.


Syahril yang merasa curiga pun mendekatinya.


"Maaf nyonya, sepertinya anda sedang bingung?" tanya Syahril, Ryan hanya diam dan menelisik perempuan itu.


Perempuan yang kepergok oleh Syahril dan Ryan terdiam mematung.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya Syahril.


"Eh emm i iya. Saya sedang mencari kamar anak saya, tapi saya lupa." ucapnya.


"Oo, kamar anaknya di ruangan apa?" tanya Syahril.


"Emm itu yang saya lupa, ah sudahlah biar saya cari-cari lagi." ucapnya dan segera pergi.


Syahril hanya menaikkan bahunya dan kembali melanjutkan langkahnya ke kamar Mimi.


"Riil, siapa tadi?" tanya Ryan sebelum dia masuk ke ruangan Di'ah.


"Ndak tau, katanya dia lagi mencari kamar anaknya." ucap Syahril.


"Apa kau tidak curiga?" tanya Ryan.


"Hmm, sebenarnya aku curiga cuma kita lihat saja nanti kalau dia kembali berulang kali baru kita ikuti, sudahlah aku mau kekamar Mimi." ucap Syahril dan berlalu pergi menuju ruangan Mimi tak lupa dia meninggalkan tiga bungkus untuk penjaga dibkamar Mimi.


"Assalamualaikum sayang.'' ucap Syahril.


Waalaikum salam," jawab Mimi dengan senyum.


"Bawa baju Mimi ndak kak?" tanya Mimi.


"Hmm iya ini di titipin sama bunda." ucap Syahril dengan memberikan paper bag pada Mimi. Syahril mendekati Mimi dan terlihat di leher Mimi masih terlihat kemerahan.


"Kakak mau apa?" tanya Mimi ketika Syahril membuka sedikit baju rawat Mimi.


Syahril tak menghiraukan Mimi, dia terus memeriksa leher Mimi tanpa sengaja mata Syahril juga menuju ke dada Mimi dan disana juga terdapat kemerahan.


Syahril merapatkan giginya melihat pemandangan itu.


"Kak" panggil Mimi.


"Apa adek melihat siapa lelaki yang melakukan semua ini?" tanya Ryan dengan tatapan dingin, Mimi menggeleng.


"Mimi tidak tau kak karena Mimi antara sadar dan tidak, Mimi hanya mendengar suara perempuan yang menyebut naman Jem emm Jem.." ucap Mimi sembari menggelengkan kepala mencoba mengingat.


"Jemmy'' ucap Syahril.


''I iya kak, Jemmy. Apa dia tidak tertangkap kak?" tanya Mimi.


"Dia berhasil kabur saat anak buah bang Jack mencoba menangkap Jessika dan Jenny." ucap Syahril.


"Terus Riska?" tanya Mimi lagi teringat akan Riska, karena terakhir Mimi memang bersama Riska.


"Dia pertama di bekuk oleh anak buah bang Jack, Jessika dan Jenny sempat melawan maka dari itu Laki-laki biadab itu kabur." Ucap Syahril.


"Maka dari itu kedepannya kamu dan Di'ah akan selalu di kawal dek, karena dua orang itu bekum diketemukan." ucap Syahril lagi dengan mendekap Mimi sambil memasukkan wajahnya keleher Mimi.


"Ehmmm ka kak ma u a pa?" ucap Mimi terbata karena Mimi merasakan lehernya dikecup Syahril.


"Kakak mau menghapus jejak lelaki itu dari tubuh ku dek, kakak tidak rela laki-laki lain menyentuhnya." ucapnya.


"Eugh, ehmm su dah kak." ucap Mimi berusaha menjauhkan kepala Syahril untuk menjauh dari dada nya.

__ADS_1


Syahril menyudahi aksinya, Mimi menarik nafas dalam merasa kelegaan namun ada rasa malu saat Syahril melakukan hal itu.


"Ayo kita makan, keburu dingin baksonya." ucap Syahril dengan mengelus pipi Mimi.


"Yah udah dingin kak," ucap Mimi ketika Syahril meletakkan mangkok ke meja kecil di atas ranjang Mimi.


"Eh iya, bentar kakak panasi dulu." ucap Syahril dengan mengambil kuah dan di masukkan nya kuah ke dalam pemanas elektrik.


Tak lama mereka pun menyantap bakso panas dan pedas itu.


Waktu Maghrib telah masuk, Syahril segera mengambil wudhu untuk segera menunaikan sholat magrib. Mimi tidak sholat karena ternyata hari ini dia kedatangan tamu bulanannya.


Beruntunglah ada istri bang Jack yang membantu dirinya memakaikan pem***t pada Mimi.


Saat Mimi sedang memainkan hpnya, tiba-tiba entah mengapa dia teringat akan Cindy.


"Ya Allah semoga Cindy tidak ikut dalam perencanaan mereka." ucap Mimi dalam hatinya.


Mimi mencoba menghubungi nomor Cindy tetapi tidak aktif, Mimi wa Dimas dan Dimas mengatakan jika Cindy tidak pulang katanya tidur di rumah onty nya.


Syahril yang sudah selesai sholat melihat ke arah Mimi yang sedang bermain hp.


"Kenapa dek?" Tanya Syahril.


"Eh nggak apa-apa kak." ucap Mimi.


"Oh ya kamu pagi tarikan cerita kalau kamu pergi ke cafe sama siapa itu emm Cindy, lalu dia kemana saat kamu di bawa si Riska?" tanya Syahril.


"Waktu itu dia terima telpon dari Dimas kak dan dia juga akan ke kamar kecil buat ganti pem***t." jawab Mimi.


"Setelah itu apa dia ndak keluar lagi?" tanya Syahril dan Mimi menggeleng.


"Apa kamu tidak curiga dek sama dia?" ucap Syahril dengan berbaring di atas ranjang sebelah Mimi.


"Ndak kak," jawab Mimi, Syahril hanya tersenyum kecil dan menggeleng.


"Kakak kan sudah bilang sebelumnya, jangan percaya sama orang sekalipun kamu dekat dengannya." ucap Syahril.


"Maksud kakak?" tanya Mimi tidak mengerti.


"Menurut kakak ini ya, mustahil dia tidak terlibat. Dari mana dan bagaimana Riska atau Cindy tau posisi cafe itu ada pintu belakang nya." ucap Syahril.


"Yang ngajak kamu duduk dekat pintu belakang siapa?" tanya Syahril lagi.


"Cindy, katanya enak bisa sambil lihat luar." ucap Mimi.


"Iya salah satunya, tapi alasan pertama mereka enak bisa membawa kamu keluar dengan segera dan langsung menuju parkiran." ucap Syahril, Mimi hanya diam.


"Tali buat apa Cindy melakukan itu?" ucap Mimi pelan.


"Karena dia cemburu dengan mu dek?" jawab Syahril.


"Hemm dia cemburu kedekatan kamu dengan Dimas. Dia merasa Dimas mengabaikannya." ucap Syahril lagi.


'Mengabaikan bagaimana? Mimi dan Dimas pun dekat saat berada di kelas kalau di luar kelas kadang-kadang aja." ucap Mimi heran.


"Itukan perasaan adek bukan perasaan Cindy.'' ucap Syahril.


"Udah sini rebahan, biar kakak peluk." ucap Syahril dengan menarik Mimi yang sedang duduk dan dia dekapnya tubuh Mimi.


Syahril yang merasa lelah akhirnya tertidur begitu juga dengan Mimi yang tertidur dalam dekapan Syahril.


Tak hanya Syahril dan Mimi, Di'ah dan Ryan pun sama halnya. Mereka berdua tertidur pulas apa lagi Di'ah yang baru habis minum obat langsung merasakan kantuk.


Cindy untuk saat ini dia bersembunyi di rumah onty nya yang juga berada di LA.


Ada rasa takut di hati Cindy, mungkin ini adalah keberuntungan nya sehingga dia tidak ikut di tangkap oleh orang-orang berpakaian jas lengkap berwaran hitam itu.


Yah saat habis dari toilet cafe, Cindy keluar namun tidak mendapati Riska dan Mimi lagi di meja, Cindy yang telah tahu dimana lokasi dimana Mimi akan di tiduri pria lain pun dia memyusul dengan memakai taksi.


Saat sampai ke lokasi itu Cindy langsung masuk lift dan menuju apartemen yang telah di sewa Jenny.


Saat dia akan keluar dari lift, Cindy melihat kamar itu penuh dengan orang-orang berpakaian serba hitam bahkan Cindy juga melihat bagaiman Riska sudah di bekuk serta jenny dan Jessika yang sempat melawan kebekuk juga.


Cindy yang tidak ingin tertangkap kembali masuk lift dan turun. Dengan tergesa Cindy mencari taksi dan pergi ke rumah ontynya yang lokasi nya searah dengan lokasi kejadian.


Ibu dari Jonathan mendengar ketiga anak perempuan nya membuat masalah dan tertangkap katun sakit dan di rawat di rumah sakit Abizar.


Jonathan merasa bersalah karena tidak bisa mendidik adik-adik nya dengan baik.


Sedari kecil mereka hanya hidup bersama sang ibu, bahkan ibunya tidak pernah memiliki niat untuk menikah lagi setelah sang suami meninggalkan nya untuk selama-lamanya.


Jonathan yang waktu itu berusia 15 tahun ikut membantu ibunya mencari uang, dia mengerjakan apa pun sepulang dari sekolahnya hingga saat dia di terima di universitas ini karena beasiswa.


Di kampus inilah dia kembali bertemu dengan Abizar, yah sebelumnya dia sudah pertama bertemu saat dia disangka copet oleh seorang wanita tua.


Jonathan adalah adik kelas Abizar, karena mereka sudah saling kenal, Abizar pun mengajak dirinya untuk berkerja part time di cafe miliknya.


Hingga akhirnya Jonathan dipercaya oleh Abizar untuk memegang salah satu cafe miliknya sebelum akhirnya dia menjadi start di rumah sakit ini.


Jonathan melihat tubuh renta sang ibunda yang dipasang infus.


"Mom, maafkan aku." ucap Jonathan sembari menggenggam tangan sang ibu dan mencium nya.


Jonathan merasa malu karena keluarga Abizar tetap memfasilitasi nya di rumah sakit ini.


Ingin rasanya dia membunuh adik-adiknya dengan kedua tangannya sendiri tapi dia masih memikirkan perasaan ibunya.


Keesokan harinya Mimi meminta untuk pulang karena merasa tidak betah lama-lama tunggal di rumah sakit.

__ADS_1


"Bun.." rengek Mimi pada bunda yang tidak mengizinkan Mimi pulang dulu.


"Nggak, kamu itu belum pulih benar nak. Jangan ngeyel Napa." ucap bunda.


"Mimi udah sehat Bun, Mimi bosan disini Bun." ucap Mimi.


"Nanti lihat hasil tes lab nya dulu nak, apa masih ada kadar obat didalam tubuh kamu atau tidak." ucap umma.


Yah selain Mimi di cekokin obat per"ng**ng Mimi juga disuntikkan obat-obatan terlarang oleh Jenny.


"Tuh denger kata umma mu." sahut bunda.


"Sabar ya nak, semua demi kebaikan kamu. Kalau masih ada kadar obat didalam tubuh kamu takutnya akan menjadi sebuah kecanduan kedepannya." ucap umma.


Mimi diam dan akhirnya pasrah untuk kembali menginap di rumah sakit ini.


"Hari ini kamu akan disatukan dengan Di'ah dalam ruangan ini." ucap bunda, tak lama masuklah sebuah ranjang lagi ke dalam ruangan Mimi.


"Loh kok di gabung bunda." ucap Syahril yang baru masuk.


"Yah agar kalian nggak berbuat yang bikin mata bunda dan umma mu sakit." ucap bunda, ya semalam disaat mereka sampai di rumah sakit mereka di kejutkan dengan pemandangan dua insan yang sedang tidur terlelap dengan berpelukan


"Yah Bun." ucap Syahril.


"Kenapa? nggak boleh protes." sahut umma.


"Atau kalian menikah aja segera biar kalian bebas melakukan apa saja." ucap bunda.


Yahbunda dan umma sudah membicarakan itu kepada suami serta anak-anak tertua mereka.


"Betul itu, Afnan kamu atau afkar yang jemput keluarga Mimi dan Di'ah, kita nikahkan saja mereka berdua segera." ucap umma.


"Hemm betul, kalian berdua jemput keluarga Mimi dan Di'ah kalau kurang bisa pakai pesawat ayah kalian." sahut bunda.


"Bunda, umma.." panggil Mimi. Diah hanya diam dia tidak bisa berbuat apa-apa apa lagi memang dia dan Ryan tertidur dengan berpelukan dalam satu selimut semalam.


"Kenapa? mau protes?" ucap bunda ketus, bunda yang biasanya lemah lembut saat ini entah mengapa sangat tegas.


"Bun, Miki ndak mau Bun." ucap Mimi.


"Kamu Ndak mau menikah dengan Syahril?" tanya umma.


"Bukan gitu umma, emm." jawab Mimi.


"Terus apa?" tanya bunda.


"Bun, saat ini Mimi belum selesai kuliahnya Bun." ucap Mimi.


"Masalah kuliah, banyak kok yang kuliah sudah nikah. Mereka baik-baik aja dan lancar, bunda dan ayah dulu juga kuliah dan menikah, umma dan Babah mu juga kan, lihat kami sampe sekarang Alhamdulillah masih bersama." ucap bunda.


"Bukan itu Bun.Maksud Mimi.." belum selesai Mimi mengutarakan maksudnya, bunda Rahmah memerintahkan Afnan dan Afkar untuk segera berangkat.


"Bang Afnan, bang Afkar jangan." teriak Mimi. Afnan dan Afkar pun menghentikan langkah mereka.


"Kenapa lagi?" tanya bunda.


"Bun, Mimi ingin selesaikan kuliah Mimi dulu Bun, Miki takut jika Mimi menikah sekarang Mimi tidak bisa membagi waktu antara keluarga, kerja dan kuliah Bun."


"Dan satu lagi, Di'ah." ucap Mimi melihat ke arah Di'ah.


"Lihat kondisi Di'ah bun, kalau orang tua nya tau kondisi Di'ah saat ini maka mereka akan khawatir bahkan bisa jadi mereka akan juga menyalahkan Mimi karena mengajak Di'ah kerja disini.'' ucap Mimi dengan serak menahan tangis.


"Bukan hanya itu Bun, umma, Mimi tidak mau nantinya orang gua Di'ah terbebani dengan masalah saat ini, Miki tidak mau membuat mereka kepikiran terutama Babah Di'ah." ucap Mimi, Di'ah uang mendengar Mimi yang mengkhawatirkan kedua orang tuanya ikut meneteskan air matanya.


Ryan yang berada di samping Di'ah mengelus pundak Di'ah dan memeluknya.


"Jika kalian ingin menikahkan Mimi dan kak Syahril sekarang maka Mimi haru melepaskan salah satunya antara kerja dan kuliah." ucap Mimi lagi.


"Miki hanya tidak ingin jika menikah sekarang waktu Mimi buat keluarga tidak ada." ucap Mimi sekali lagi.


Bunda dan umma terdiam, mereka membernarkan ucapan Mimi apa lagi keadaan Di'ah dan bagaimana kondisi ayah dari Di'ah.


"Hmm yaudah, kalau gitu kalian nikah siri saja biar nggak melakukan hal yang kelewatan batas.'' ucap bunda.


"Nggak Bun, mimi juga nggak mau." bantah Mimi.


"Kenapa?apa alasannya kamu nggak mau?" tanya bunda yang ingin tau.


"Bun, kalau nikah siri hanya untuk menghindari hal yang kelewatan batas Mimi nggak mau Bun, Mimi tidak mau kedepannya malah timbul fitnah, Mimi tidak mau membuat kedua orang tua Mimi menanggung beban lagi." ucap Mimi.


"Bunda tau sendiri, memang nikah siri dibenarkan dan sah di mata agama namun pemikiran orang berbeda-beda bun,"


"Apa lagi jika Allah mempercayakan segera kepada kami, maka kedepannya akan timbul fitnah." ucap Mimi lagi.


Bunda dan umma yang sudah duduk di sofa memikirkan kembali ucapan Mimi.


Yah semua menjadi serba salah, nikah siri sah di mata Allah namun buruk di mata masyarakat apa lagi bila Miki dan Syahril di percaya sama Allah dengan disegerakan memiliki anak, maka kelak anak mereka akan kena imbas dari omongan orang.


"Hmm yaudah lah, padahal bunda juga pengin gendong cucu dari kamu mi." ucap bunda.


"Bunda yang sabar." ucap ayah Brata, begitu pula Babah yang mengelus pundak umma.


"Insya Allah jika Allah merestui kami menikah Bun, setidaknya sebulan atau dua bulan sebelum Mimi wisuda." ucap Mimi.


"Miki kuliah juga nggak nyampe setahun lagi kok." ucap Mimi.


"Hemm." ucap bunda


"Gagal deh rencana kita Syah." bisik bunda pada umma, para suami hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


tbc


__ADS_2