DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
rahasia besar dokter Rayhan


__ADS_3

Sehabis mengucapkan selamat kepada bos besarnya, Mimi mengikuti dokter Rayhan hingga sampai ke ruangan nya. Dengan langkah lebar dan cepat Mimi mnegejar langkah dokter Rayhan.


Sesampainya di depan ruang dokter Rayhan, Mimi langsung masuk tanpa mengetuk lagi.


"Jangan disini." ucap dokter Rayhan ya gbmungkin tau maksud dari kedatangan Mimi di dalam ruangan nya.


"Tapi Da, ini semua.." belum selesai Mimk mengutarakan apa yang ada si jago dan pikirannya, dokter Rayhan langsung memotongnya.


"Uda tau, tali Uda mohon. Kalau Mimi mau tau alasannya Uda nanti Mimi ikut Uda pulang." ucapnya denagn duduk di kursi kebesaran nya seraya memijit kedua pelipisnya.


Terlihat beban di wajah dokter Rayhan, begitu besar rahasia yang akan dia pikul hingga waktu yang tak tentu. Ada rasa kasihan di hati Mimi namun ada rasa tidak suka dengan tindakan yang dilakukannya.


"Ya Allah ampuni hamba karena hamba ikjt terlibat dalam semua ini." ucap Mimi dalam hati dan segera berbalik badan untuk meninggalkan dokter Rayhan sendiri.


Mimi tidak tau seberapa jauh dia merencanakan semua ini, sehingga segala sesuatunya begitu apik di lakoninya.


Mimi berjalan dengan gontai, kaki yang semula terasa nyeri tak dirasakannya lagi. Sang asisten melihat Mimi berjalan gontai dan wajah penuh beban enggan untuk bertanya.


Berulangkali Mimi menarik nafasnya, dia bingung harus bagaimana. Emang semua ini bukan kuasanya namun Mimk tidak ingin di saat akhir dia berkerja disini terkesan jelek di mata pemimpinnya.


Dokter Rayhan dia orang baik, dialah sahabat teman pertama bagi Mimi di kota ini, bahkan dia Lula yang selalu melindungi Mimi walau secara tidak langsung.


Kevin sang bos besar, walau pertama kali ketemu sudah memang genderang permusuhan namun di hatinya dia juga sanagt baik. Di balik ke angkuhannya dia selalu melindungi setiap pegawainya tanpa memandang bulu selagi pegawai itu baik dalam kinerjanya.


Mimi duduk di kursi kebesarannya yang hanya tinggal hitungan hari akan di tinggalkan nya. Berat rasanya meninggalkan semua ini, namun dia lakukan demi masa depan ya kelak.


"Hummmmm huuuh." Mimi menarik nafas berat ketika mengingat kejadian tadi merupakan pengalaman pertama dan berharap merupakan yang terakhir baginya.


"Ya Allah, aku harus bagaimana? aku tidak sanggup rasanya menanggung beban ini."


"Anak kecil itu dipaksa berpisah dari saudara dan ibu serta ayah kandungnya." gumam Mimi dalam hatinya, lama Mimi berada di dalam ruangan nya, akhirnya dia akan keluar menemui dokter Rayhan kembali dan akan mengutarakan hatinya kembali.


Saat Mimi akan membuka pintu sang asisten pun akan. membuka pintu dari arah berlawanan.


"Eh dok"


"Eh sus" ucap Mimi dan asisten serentak.


"Em ada apa sus?" tanya Mimi.


"Ini dok ada pasien seperti biasa." ujarnya, miji menghelakan nafas nya, Mimi sudah mengerti dengan kata istilah pasien seperti biasa apa lagi kalau bukan pasien luka akibat senjata tajam.


"Emm emang dokter lain nggak ada?" tanya Mimi, ini baru kali pertama Mimi menolak pasien, bukan karena dia akan meninggalkan rumah sakit ini melainkan hati dan pikirannya belum tenang sebelum semua itu di utarakan dengan segera.


"Dokter Rahmad sedang melakukan tindakan dok, dokter Farhan visit ke rumah sakit lain." ujarnya.


"Oh begitu, yaudah ayok." ucap Mimi tak bergairah.


"Bismilah ya Allah tenangkan hati dan pikiran hamba." ucap Mimi dalam hati dengan terus melangkah menuju ruang UGD.


Terlihat dokter Rayhan melangkah akan keluar, Mimi menatapnya dengan nafas yaangbtak beraturan. Ingin mengejarnya namun pasien sedang membutuhkannya, tidak di kejar hati dan pikirannya tidak bisa di ajak kompromi.


Mimi merasa dilema dengan semua ini, orang yang terzolimi dan orang yang menzolimi sama-sama baik padanya.


Sebelum melangkah masuk kedalam ruangan UGD Mimi sudah beberapa kali menarik nafasnya panjang untuk menghalau pikiran kalutnya.


Setelah di dalam ruangan UGD Mimi langsung memeriksa pasiennya, setelah mengetahui keadaan pasien untuk langkah selanjutnya Mimi meminta petugas medis lain untuk membawa pasien menjalankan rongent terlebih dahulu dan sebelumnya pasien juga sduah di infus serta di beri obat penenang.


Menjelang satu jam kemudiaduluimi kembali menemui dokter Rayhan yang kebetulan lewat dan menuju ruangannya.


"Da" panggil Mimi, dokter Rayhan berhenti sejenak dan melihat ke arah Mimi, Mimi mpercepat langkahnya.


"Ayo" dokter Rayhan mengajak Mimi masuk, Mimi pun mengangguk serta mengikutinya di belakang.


"Da" panggil Mimi lagi.


"Apa yang mau kamu tanyakan lagi Mi?" tanya dokter Rayhan. Sebelum menjawab Mimi menarik nafas nya panjang.


"Sejak kaoan Uda merencanakan semu ini?" tanya Mimi dengan melihat ke arah dokter Rayhan.


"Kenapa kamu begitu ingin tau Mi, ini urusan saya." jawabnya.


"Maaf sebelumnya, memang ini urusan Uda tali secara tidak langsung Uda membawa Mimi ke urusan ini."


"Uda tau kan perbuatan ini menyalahi kode etik kita sebagai dokter Da."


"Ini sudah masuk kriminal Da, apa lagi Uda sama mereka adalah sahabat, istri Uda sama istri dia sahabat begitu pula dengan Uda dan si dia." ucap Mimi yangbtak mau menyebut nama bos atau memanggil boa pada bosnya.


"Dan ini perbuatan dosa Da, huuum huh..."


"Apa Uda tidak kasian sama anak itu, Uda telah memisahkan dia dari keluarganya Da." Mimi terus mengeluarkan segala isi hatinya.


"Atau Uda sengaja mengambilnya karena Uda dulu pernah.." ucap Mimi namun Mimi tidak melanjutkan nya.


"Jaga ucapan kamu Mi, kamu disini hanya pegawai ikuti prosedur disini." ucap Rayhan yang seolah tidak menganggap Mimj adiknya lagi.

__ADS_1


"Oo gitu, oke.. Saya akan ikuti prosedurnya seperti yang Anda pinta. Saya akan melaporkan tindakan yang telah Anda lakukan karena bagi saya ini semua salah dan bukan merupakan bagian dari sumpah kode etik saat saya menjadi seorang dokter." ucap Mimi dengan sisa kemarahannya setelah itu Mimi keluar dari ruangan dokter Rayhan dengan menghempas pintu ruangan itu dengan keras.


Asisten dokter Rayhan dan suster yang lewat terkejut saat mendengar hempasan pintu itu dan melihat ke arah Mimi yang memasang muka datar penuh amarah.


Mimi kembali masuk ke dalam ruangannya dan duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya. Sang asisten !asuk dengan membawa nampan kecil berisi alkohol, perban dan salap.


"Dok" panggilnya, Mimi pun hanya menatapnya sebentar dan kembali memejamkan matanya.


"Maaf dok, emm saya mau bersihkan kaki dokter." ucap sang asisten dengan memegang kaki Mimi.


Terlihat bercak darah dan cairan di kaki Mimi mungkin dari lepuhan di kakinya Mimi karena dipaksa jalan.


Dengan telaten sang assisten membersihkan kaki Mimi, sekali Mimi meringis merasa sakit dikakinya.


"Kaki dokter itu belum sembuh benar tali dokter paksa berjalan, lepuhan di kaki dokter sudah pecah." ucap sang asisten, Mimi hanya diam sambil menikmati peih di kakinya.


"Dokter lagi banyak pikiran ya? atau lagi ndak enak badan?" tanya sang asisten.


"Saya ndak apa-apa Mar, makasih " jaqba Mimi setelah sang asisten telah selesai membalut kembali kakinya.


"Sama-sama, lebih baik dokter pakai kursi roda saja jangan terlalu dipaksakan berjalan." ucap asisten.


"Nggak apa-apa, udah nggak sakit lagi." jawab Mimi. Tak lama suster yang menangani pasien di bawah tadi masuk ke ruangannya dengan me!berikan mal berisi hasil rongent pasien.


"Dok, ini hasil rongent pasien yang tadi." ucapnya seraya memberikan map tersebut.


"Makasih ya sus." jawab Mimi dan menerima map itu. Mimi me!buka map itu dan membaca hasilnya, setelah membacanya Mimi meminta asistennya untuk menghubungi tim medis lain untuk mempersiapkan ruang operasi segera karena dekat urteri pasien telah bersemayam peluru.


Dengan tergesa-gesa Mimi langsung berjalan tanpa menggunakan mperdukikan kalinya, saat dia berjalan menuju bawah berpapasan dengan dokter Rayhan namun Mimi hanya diam dan tak menghiraukan nya sekalipun dokter Rayhan memanggilnya.


Setelah berbicara dengan pihak keluarga pasien dan pasien juga telah di bawa keruang operasi Mimi oun langsung pergi lagi menuju ruang operasi dan lagi-lagi berpapasan dengan dokter Rayhan, Mimi tak menghiraukannya bahkan terkesan tidak peduli.


Mimi terus berjalan ke lift, dokter Rayhan yang merasa Mimi tidak memperdulikan nya mengejar Mimi hingga dia pun ikut masuk kedalam lift.


Mimi hanya menghelakan nafas nya saat dokter Rayhan juga masuk kedalam lift, di dalam lift hanya ada mereka berdua.


"Mi" panggil dokter Rayhan, Mimi hanya diam hingga pintunlify terbuka.


Saat akan melangkahkan kakinya tangan Mimi dintarik dokter Rayhan.


"Tunggu" ucaonya !menghentikan langkah kaki Mimi.


"Maaf saya harus segera lakukan tindakan operasi." jawab Mimi dan melepaskan tangan dokter Rayhan dari tangannya.


Setelah lepas Mimi langsung berlari kecil mengejar waktu, sesampainya di dalam ruangan operasi Mimi


Beberapa jam kemudian operasi pun berjalan dengan lancar. Saat keluar dari ruangan operasi Mimi dihadapkan dengan kedua orang tua pasien.


"Dok, bagaimana anak saya?" tanya sang ibu


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, lain kali jangan lagi aw!barangan menaruh senapan nya ya Bu pak." ucal Mimk dan mengingatkan kedua orang tua pasien.


Yah pasien yang Mimi tangani ini masih anak-anak berusia 11 tahun, dia tertembak secara tidak sengaja oleh adiknya yang berusia tujuh tahun.


Sang anak tidak tahu jika senapan sang ayah sudah terisi peluru dan saya akan pergi berburu, sang adik mengambil senapan itu untuk main tembak-tembakan sama sang Kakak.


Sang adik yang telah memegang senapan langsung memompa nya dan langsung membidik ke arah sang kakak dan bertepatan didada sang kakak.


Sang ayah aupun ibunya yang berada di dalam kamar mendengar suara menggelegar dari senapan langsung lari keluar dan sudah melihat sang anak sulung terjatuh dengan bersimbahan darah.


"Iya dok, makasih." ucap sang ibu, setelah itu Mimi pun langsung permisi dan kembali ke ruangannya.


Dari kejauhan terlihat dokter Rayhan akan mengejar Mimi namun Mimi langsung masuk kedalam ruangannya.


"Mar jangan izinkan dokter Rayhan masuk saya mau mandi." ucap Mimi dengan memberi perintah pada asistennya setelah itu Mimi pun masuk.


Tak lama dokter Rayhan langsung buka pintu ruangan Mimi namun di cegah sama Maryam.


"Maaf dok, dokter Mimi nya lagi mandi." cegah Maryam.


"Mandi apa, barusan saya lihat tadi di masih bicara sama kamu." ucap dokter Rayhan.


"Tapi dok." ucap Maryam namun dokter Rayhan sudah keburu masuk kedalam akhirnya Maryam pun ikut !masuk karena tidak ingin ada fitnah.


Sampai dalam ruangan terdengar suara di guyuran air di dalam kamar mandi, dokter Rayhan akhirnya duduk dinsofa dengan ditemani Maryam.


Tak lama Mimi keluar kamar mandi dengan rambut yang masih tergelung tinggi. Maryam yang melihat Mimi keluar tanoanhijab segera mendekatinya dan memberikan hijab ke Mimi.


"Eh Mar" ucap Mimi ketika Maryam mendorong Mimi kembali masuk kedalam kamar !Andi dn memberikan hijab kepada Mimi.


"Maaf dok, ada dokter Rayhan." bisiknya, Mimi pun mengangguk sembari menghelakan nafasnya.


Setelah selesai berhijab, Mimi keluar terlihat dokter Rayhan melihat ke arah nya, Mimi hanya cuek dan duduk di kursinya sembari memeriksa beberapa rekam medis pasiennya.


"Ayo ikut Uda." ucapnya seketika sudah berada di samping Mimi.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Mimi.


"Ketempat yang bisa menjawab rasa penasaran dan keinginan tauan kamu." ucapnya Mimi hanya mengikuti ajakannya.


Sepanjang jalan Mimi hanya diam, dokter Rayhan selalu memperhatikan Mimi yang diam.


"Uda lakukan semua ini demi Airin," ucapnya, Mimi menoleh ke arahnya.


"Airin?" ucap Mimi.


"Iya, kamu tau sendiri kondisi Airin semenjak pengangkatan rahimnya dan dinyatakan tak kan bisa buat hamil lagi."


"Dia sangat terpukul, apa lagi anak yang dikandungnya pun tak bisa diselamatkan." ucap dokter Rayhan denagn nada sedihnya.


"Tapi kenapa Uda lampiaskan ke bos Levin dan Safira? apa salah mereka sama Uda." ucap Mimi.


"Mereka tidak ada salah Mi, tapi Uda sebagai seorang suami tidak tega melihat istri Uda seperti itu. Nanti kamu bisa lihat sendiri kondisi Airin." ucapnya.


"Sejak kapan Uda merencanakan ini semua? Apa mereka tau kalau mereka memiliki anak kembar? mimi rasa mereka tidak tau karena mimi lihat mereka seperti tidak mengetahui hal itu." tanya Mimi.


"Iya mereka tidak mengetahui jika mereka memiliki anak kembar, Uda mengetahui kandungan Fira ada anak kembar saat dia USG di usia kehamilan emlat bulan."


"Niat Uda waktu itu untuk memberi kejutan buat Kevin namun setelah kejadian Airin, nkat Uda Uda alihkan buat kesembuhan Airin " ucap dokter Rayhan.


"Kenapa Uda tidak adopsi anak dari panti saja Da, kenapa harus memisahakan Mereka." ucap Mimi.


"Uda tak berniat untuk melakukan ini semua, namun demi Airin Uda akan lakukan apa pun. Uda harap kamu tidak membocorkan masalah ini, biarlah dosa ini uda ta ggung sendiri." Ucapnya.


"Tidak bisa begitu Da, walau Uda mengatakan biar dosa Uda tanggung sendiri secara tidak langsung kami yangbikit menangani hal itu ikut terseret akan dosa Uda." jawab Mimi.


"Mimi harap Uda bicara yang jujur kepada bos Kevin, katakan sebenarnya dan Uda minta salah satu anak mereka dan uda katakanlah bahwa Uda lakukan itu demi Airin."


"Mungkin nanti akan ada pertikaian di antara kalian, setidaknya dengan uda memberitahukan kepada nya. Tak begitu banyak beban di hati Uda."


"Mimi yakin, bis Kevin akan mengabulkan jika nkat Uda baik dan walaupun itu tidak mudah. Setidaknya Uda lakukan semacam transaksi." ucap Mimi


"Yang ada kebun membunuh Uda Mi," ucap dokter Rayhan.


"Uda bicara dengan mereka baik-baik, atau Uda ajak bos Kevin bicara empat mata dan Uda utarakan maksud Uda."


"Uda buat perjanjian dengannya, mungkin bos Kevin akan marah sama Uda atau pelatuk pistol pun bisa dia todongkan ke Uda. Tapi percayalah jika niat Uda baik mungkin hanya lebam atau patah- patah yang akan Uda dapatkan."


"Sejarahnya dan kekecewaannya dia sama Uda, Mimi yakin pelguk itu tidak akan dia lepaskan." ucap Mimi lagi. Dokter Rayhan hanya diam dan tak terasa !mereka lun sampai.


Mimi mengikuti langkah dokter Rayhan menuju rumahnya yang mewah walau tak semewah rumah bos besar mereka.


"Assalamualaikum" ucap Mimi ketika akan masuk kedalam rumah itu.


"Waalaikum salam, ayok Mi." jawab dokter Rayhan dan mengajak Mimi masuk.


"Bagaimana Airin? apa si J dah datang?" tanya dokter Rayhan kepada orang kepercayaan nya.


"Sudah tuan, nyonya biasa ada di dalam kamar baby Anda." jawabnya.


Dokter Rayhan pun mengajak Mimi dimana Airin berada.


"Assalamualaikum." ucap dokter Rayhan ketika membuka pintu kamar itu, Mimi melihat begitunsanagt mirisnya keadaan Airin yang mengendong sebuah boneka.


"Begitulah keadaan Airin Mi, doa belum menerima kenyataan semua ini sehingga kejiwaannya nya tergganggu. Apa yang harus Uda lakukan?" ucap dokter Rayhan dan bertnay pada Mimi.


"Hany seorang bayi, tangisan bayi yang dapat menyembuhkannya. Mungkin. Dengan tangisan anak Kevin itu Salat menyadari kejiwaannya." ucap dokter Rayhan yang memeluk airkn penuh kasih sayang.


Tak lama datang perawat yang membantu membawa bayi itu keluar dari dalam ruangan operasi. Perawat itu membawa bayi nya bos besar mereka kedalam.


"Dok, ini." ucapnya dengan memberikan bayi itu kedokteran Rayhan. Dokter Rayhan tersenyum dan mengambil bagi itu setelah itu dia memberikan kepada Airin.


Awalnya Airin tidak menggubrisnya namun setelah bayi itu menangis Airin seakan tersadar dari dunia sendiri.


"Uda, kenapa Uda tangisi anak ini." ucap Airin yang langsung membuang boneka di tangannya dan mengambil anak bos besar itu dari tangan dokter Rayhan.


Dia ambilnya bayi itu dan dipeluknya erat, dengan penuh kasih sayang Airin mencoba menghentikan bayi itu.


Mimi melihat semua itu merasa terharu dan merasa sesak di dadanya.


"Ya Allah, semoga anak ini bahagia denagn keluarga baru mereka." ucap Mimi dalam hati.


Saat Airin menimang dan menina bobokkan bayi itu, dokter Rayhan mengajak Mimi keluar.


"Kamu lihat sendiri kan Mi, hanya tangisan bayi yang dapat menyembuhkannya. Bagaimana aku akan membawa pergi bayi itu." ucapnya.


"Mimi tau Da, Airin juga terlihat sanagt tulus pada bayi itu. Tapi Uda tetap salah dalam semua ini, menurut Mimi lebih baiknuda jujur pada bos Kevin dan Airin kelak." ucap !IMI dengan menasehatinya.


"Iya nanti Uda pikirkan, makasih atas nasihat kamu Mi." ucap dokter Rayhan.


Setelah berbincang-bincang sejenak Mimi lun kembali ke rumah sakit dengan perasaan yang belum tenang.

__ADS_1


tbc


__ADS_2