
Dua minggu sebelum lebaran, para orang tua dan keluarga Mimi dan Syahril pergi ke LA.
Mimi sangat senang mendengar keluarga besarnya akan ke LA, tidak hanya orang tua Mimi, ayah Brata juga mengajak seluruh keluarga besar Mimi.
Sedang kan Di'ah tidak ada yang bisa pergi, jika emaknya pergi maka babahnya tidak ada yang mengurus.
Keluarga Ryan sudah datang kerumah orang tua Di'ah untuk mengajak orang tuanya pergi tetapi mamak Di'ah menolak karena Babah Di'ah tidak bisa untuk duduk dan mamak Di'ah juga tidak tega meninggalkan sang suami walau anak pertamanya ada di rumah.
Ketiga apartemen penuh dengan keluarga besar masing-masing.
Saat sahur maupun berbuka mereka bergantian antar tiga apartemen.
Carol merasa hangat melihat keluarga besar Mimi, Syahril dan Ryan sangat akut tidak seperti keluarganya.
Mimi tau kalau Carol merasa sedih karena terlihat pandangannya sendu dan berulang kali dia menarik nafasnya.
"Kamu kenapa?" tanya Mimi pada Carol.
"Emm nggak apa-apa, aku cuma senang melihat keluarga kalian akur satu sama lain." ucapnya.
"Kami juga keluarga mu Carol," ucap bunda yang ada di belakang Mimi.
"Anggap saja aku ibu mu." ucap bunda lagi.
"Apa aku boleh panggil anda mommy." ucapnya dengan berkaca-kaca.
"Ya boleh, tapi kamu pangiil bunda saja.'' ucap bunda yang tidak mau di panggil mommy.
"Bunda? apa itu bunda?" tanya Carol heran.
"Bunda panggilan yang sama dengan ibu atau mommy." ucap Mimi dan bunda mengangguk.
"Oo, bunda apa aku boleh memelukmu." ucapnya, bunda pun mengangguk dan merentangkan kedua tangannya.
Carol merasa terharu dan dia langsung menghambur memeluk bunda, Carol merasakan hangat dalam pelukan bunda.
Ayah Brata dan Jonathan melihat itu ikut terharu, Jonathan tau jika adiknya merindukan ibunya. Carol adik bungsunya memang sangat dekat dan selalu manja pada ibunya dulu.
Carol melihat keluarga Mimi semuanya mengenakan hijab, ya walau kadang mengenakan hijab sangat senang dan merasa sejuk.
"Bunda, apa aku bisa memakai seperti yang kalian pakai?" tanya Carol.
"Kamu mau berhijab?'' tanya istri mas Chalik, Carol mengangguk.
"Masya Allah." ucap istri mas Adam dan mas Chalik.
"Kamu bisa, tapi kamu harus ikhlas dari hati kamu.'' sahut emak yang sedikit-sedikit mengerti bahasa Inggris karena di ajari Mimi dan Ay.
"Ya mom." ucap Carol pada emaknya Mimi.
"No mom, panggil aku mamak." ucap emak.
"Mamak?" Carol mengulangi nya.
"Iya panggil mamak." ucap emak. Carol tidak mengerti dan melihat ke arah Mimi dan Mimi pun menjelaskan kembali kepada Carol.
"Mamak sama dengan bunda atau mommy." ucap Mimi.
"Oo, apa a ku bo beh peluk"" ucap Carol terbata memakai bahasa Indonesia yang dia pelajari dari googlo.
"Boleh,'' jawab emak dan merentangkan tangannya juga. Carol mendapatkan izin pun memeluk emak dengan erat, emak mengusap bahu Carol.
Carol terisak kala emak mengusap punggungnya dia merasa memeluk ibunya di tambah tubuh emak yang gemuk seperti ibunya.
"Hei kenapa kau menangis?" ucap emak.
"A ku se per ti meme luk ibuku." jawabnya dengan terbata.
"Anggap saja aku ibumu." jawab emak denagn mengusap punggung Carol. Carol semakin terisak dan mengeratkan pelukannya.
Karena semakin larut, Jonathan mengajak Carol pulang namun emak melarangnya.
Jonathan yang bisa berbahasa Indonesia sangat mengerti apa yang dibicarakan keluarga ini.
"Biarkan Carol tidur disini Jo." ucap emak.
"Iya Jo, nanti las sahur,l kau kesini." ucap bunda.
"Oh baik lah. Kalau gitu saya pulang dulu assalamualaikum.' ucap Jo.
"Waalaikum salam." jawab semua.
Karena larut semua pun masuk ke kamar masing-masing.
Emak dan bapak tidur di kamar tamu, ay dan Carol tidur di kamar Mimi. Mimi meminjam kan piyama nya pada Carol.
Carol yang belum memeluk agama muslim dia belajar berpuasa serta memakai hijab. Zacky yang keesokan paginya melihat Carol memakai pakaian muslim sangat takjub dan samakin terpesona.
Mimi memberikan set tunik muslim dan hijab pada Carol jadilah hari itu Carol memakai pakaian muslim.
Seminggu sebelum lebaran Mimi, Di'ah dan keluarga besar akan kembali ke tanah air. Carol yang mengetahui hal itu merasa sedih. Karena dengan keluarga besar Mimi lah dia merasakan punya keluarga.
Sebenarnya Carol mempunyai keluarga besar juga baik itu dari ibu maupun ayahnya, namun mereka seolah tidak mengenal keluarga Carol apa lagi semenjak ayah nya meninggal semua keluarga menjauhinya.
Makanya almarhum ibunya berkerja sebisa mungkin untuk biaya hidup serta pendidikan buat anak-anak nya.
Bahkan Carol saja tidak tau siapa saja keluarga dari mendiang ayahnya, jika dari mendiang ibu dia hanya mengenal beberapa orang saja, itu pun dia hanya mengenal dan melihatnya dari jauh saja saat sang ibu mengajaknya ikut serta ke tempat kerja dan berpapasan dengan mereka.
"Jo, apa aku boleh ikut mereka?" tanya Carol pada Jonathan saat mereka berada di apartemen Jonathan.
"Tidak Carol, kau akan merepotkan mereka saja." ucap Jonathan.
"Tapi Jo, aku akan merasa kesepian Jo." ucap Carol. Jonathan menarik nafasnya dalam.
__ADS_1
"Kan ada aku." jawab Jonathan.
"Walau ada kau, tetap sepi Jo. Apa lagi kalau kau kerja." ucap Carol.
"Kenapa keluarga kita tidak seperti keluarga mereka ya Jo."
"Coba kalau masih ada ibu hiks." ucap Carol merasa sedih dan merindukan sang ibu.
"Aku rindu ibu Jo, aku menyesal membuatnya susah. huhuhu" ucap Carol dengan tergugu.
"Sudahlah, kau doakan saja ibu tenang di sana." ucap Jonathan.
"Kapan kau menikahi dia?" tanya Carol.
"Emm mungkin sehabis lebaran ini aku akan meminta nya pada tuan Brata." ucap Jonathan.
"Kenapa tidak sekarang saja Jo, jadi kita bisa bersama dan aku tidak kesepian lagi.'' ucap Carol. Jonathan diam dan memikirkan permintaan adiknya.
Apa yang dikatakan Carol ada benarnya, sekarang atau nanti itu sama saja.
''Hmm besok aku akan bicara sama dia dan tuan Brata." ucap Jonathan dengan mengusap kepala adiknya.
"Aku kerja ya, kau hati-hati di rumah jika mau kau bisa ke apartemen tuan Brata." ucap Carol.
"Hmm iya aku mau kesana saja.' jawab Carol semangat.l dan dia pun bersiap-siap dan lergi bersama Jonathan.
Semenjak kejadian itu Carol tidak lagi berkerja di rumah sakit, dia merasa malu akan tindakan nya waktu itu.
Saat sampai di apartemen Mimi, Carol sangat bahagia karena dia dapat berkumpul dengan keluarga barunya.
Mimi, Di'ah, Syahril dan Ryan pergi berkerja bersama-sama. Carol mengajak Ay jalan-jalan tak lupa Baiq serta adik-adiknya juga ikut serta.
Mereka pergi dengan pengawal, karena ayah Brata tetap waspada pada keluarga nya.
Ayah Brata ikut mas Chalik ke perusahaannya, mas Adam ikut Syahril ke rumah sakit.
Saat Syahril sedang berbicara dengan mas Adam di lobi rumah sakit ada perempuan memakai masker, Syahril yang selalu curiga sama orang hanya memperhatikan gerak gerik perempuan itu.
"Kamu kenapa Riil?" tanya mas Adam.
"Emm itu mas, kenapa perempuan itu selalu memperhatikan ku ya." jawab Syahril, mas Adam pun melihat ke arah perempuan yang di maksud Syahril.
"Emm dia itu pasien Riil, kau ini terlalu chriha saja bawaan nya." ucap mas Adam.
"Tapi kenapa dia pakai masker mas dan memakai jaket seperti itu." ucap Syahril.
"Mungkin dia lagi demam Riil, udah lah ayo kita keruangan mu. Oh ya Mimi tadi kemana?" tanya Syahril.
"Dia Sedang visit mas." jawab Syahril sembari melangkah,sebelum melangkah dia melihat lagi ke arah perempuan itu.
"Lah kamu nggak praktek?" tanya mas Adam.
"Praktek mas, bentar lagi." jawab Syahril.
Beberapa jam berlalu Syahril pun mulai praktek, perempuan yang di curigai Syahril duduk menunggu antriannya.
Saat giliran nya tiba, perempuan itu masuk bersama sang suami ke dalam ruangan Syahril. Syahril sangat terkejut kala melihat perempuan yang dia curigai masuk kedalam ruangannya.
"Silahkan duduk" ucap Syahril dengan ramah dan berbahasa Inggris.
"Terimakasih" jawab pasangan suami istri itu dengan bahasa Indonesia
"Kalian bisa bahasa Indonesia?" tanya Syahril.
"Iya dok." jawab sang suami, sang istri terus memperhatikan Syahril.
"Emm ada yang bisa saya bantu?" tanya Syahril.
"Gini dok, istri saya hamil dan perkiraan emm berapa dek?" tanya sang suami.
"Perkiraan empat bulan." jawab sang istri.
"Kenapa hanya di kira-kira? apa kalian tidak pernah memeriksa nya." tanya Syahril, sang suami maupun sang istri menggeleng.
"Kami hidup tidak menetap di negara ini dok, saya juga kerja serabutan." ucap sang suami.
"Kami dengar dari teman kerja kami, kalau di negara ini ada rumah sakit yang bisa membantu orang tidak mampu, makanya saya memberanikan untuk datang ke rumah sakit ini." ucap sang istri.
"Kalian tinggal dimana?" tanya Syahril.
"Kami tinggal tidak menetap dok." jawab sang suami.
Sang istri di pinta suster untuk timbang dan di periksa tensinya setelah selesai Syahril pun akan memeriksa.
"Emm, mari saya periksa." Ucap Syahril.
Si perempuan berbaring di atas brangkar dan perutnya telah di oles gel oleh suster. Syahril mulai melakukan tugasnya, terlihat di layar monitor dua janin.
"Ini calon anak kalian, mereka ada dua." Ucap Syahril dengan menunjuk ke layar monitor pada mereka.
"Ini suara detak jantungnya mereka sehat dan dari ukuran mereka usia mereka telah 18minggu." ucap
Terlihat mereka berdua meneteskan air mata haru.
Setelah melakukan USG mereka kembali duduk di depan meja Syahril.
"Oh ya kalian menikah hampir 10th?" tanya Syahril ketika melihat rekam medis.
"Iya dok, ini anak pertama kami." jawab sang suami merasa bahagia.
"Emm ini saya kasih resep nanti ambil di apotek dan sebelum ke apotek kalian pergi ke ruang administrasi dan kasih ini pada mereka agar dapat membuatkan kartu buat perobatan kalian secara gratis disini." ucap Syahril dengan memberikan mandat untuk pengurusan berobat gratis.
"Terimakasih dok, terimakasih." ucap sang istri.
__ADS_1
"Sama-sama, tolong ibu jangan terlalu banyak pikiran agar janin tidak ikut stress." ucap Syahril.
"Insya Allah dok." jawab mereka, setelah itu mereka Kun langsung pergi dan menuju keruang administrasi sesuai pengarahan Syahril.
Mereka merasa bahagia bertemu dengan orang baik di negara ini, apa lagi orang itu ternyata berasal dari negara yang sama.
Saat mereka mengantri, mereka berpapasan pada Mimi, Mimi tersenyum ramah.
Keesokan harinya Jonathan memberanikan diri mengutarakan maksud hatinya untuk menikahi Surti segera pada ayah Brata.
Jonathan dan Carol selalu berbuka bersama keluarga besar Brata dan Mimi, sehabis berbuka dan sholat Maghrib dan mereka juga sholat terawih bersama di apartemen ayah Brata, keluarga Syahril dan Ryan pun ikut serta.
Sehabis terawih Jonathan pun berbicara pada ayah Brata.
"Apa kau yakin dan siap Jo?" ucap ayah Brata ketika Jonathan mengutarakan maksud hatinya.
"Iya tuan, saya sangat yakin." jawab Jonathan.
"Kau tau Surti adalah anak yatim, kami lah keluarga nya. Kami ingin Surti bahagia.' jawab ayah Brata.
"Insya Allah tuan, saya akan membahagiakan nya." jawab Jonathan.
"Ti, apa kamu sudah siap nak?'' tanya ayah Brata lada Surti.
Surti yang saat itu berusia sepuluh tahun hidup sebatang kara bertemu ayah Brata saat ayah Brata bertugas disebuah daerah di Sumatra.
Saat itu Surti kecil berkerja sebagai pembantu di rumah rekan ayah Brata.
Ayah Brata yang melihat anak belia berkerja begitu pun tidak tega jadi ayah Brata meminta Surti untuk ikut dengannya.
Surti yang masih kecil dan polos hanya menurut, Surti lun di basa ke Semarang
Ayah Brata menyekolahkannya, sebelum dan sepulang sekolah Surti selalu membantu bunda hingga saat ini.
"Saya ikut saja menurut bapak dan ibu." ucap Surti.
Bunda sangat terharu, anak perempuan nya kini dilamar orang.
"Kelak kamu harus nurut apa kata suami kamu ya nak, bunda berharap kalian selalu bahagia selamanya.' ucap bunda dengan memeluk Surti.
Surti adalah nama panggilannya saja, nama asli nya adalah Surya Hidayati.
"Terimakasih bu, pak. Sudah merawat saya dan memberikan saya pendidikan." ucap Surti.
Surti adalah sarjana ekonomi, sebelumnya dia pernah berkerja sebagai admin di rumah sakit mas Adam, tali setelah Mimi ke LA dia di pinta ayah Brata untuk menemani Mimi.
Miki juga sudah mengetahui siapa mbak Surti makanya Miki tidak pernah menganggap nya orang lain.
Karena kesepakatan Jonathan akan menikah dengan Mbak Surti di Semarang sehabis lebaran ini.
Carol yang mendengar bahwa kesepakatan itu sehabis lebaran menjadi lesu.
"Kamu kenapa?'' tanya Mimi.
"Kalian lebaran ini pulang ke Indonesia?" tanya nya.
"Iya." jawab Mimi.
"Hmm aku jadi sepi disini." ucapnya sedih.
"Kakak mau ikut?" tanya Ay.
''Apa boleh?" tanya Carol.
"Mak, boleh Ndak kak Carol ikut kota pulang." seru Ay.
"Kalau dia mau boleh lah." jawab mamak.
"Boleh kak." jawab Ay pada Carol.
"Benaran?" tanya Carol semangat dan ay serta Mimi mengangguk.
"Yeyyy." ucap Carol bahagia.
Jonathan ikut bahagia melihat adiknya bahagia, Jonathan pun mengizinkannya.
Tiga hari sebelum keberangkatan mereka semua berbelanja dan jalan-jalan, pakcik, bicik, pakdo dan yang lain merasa sangat bahagia.
Ayah Brata taknhanya memilki satu apartemen, disebelah apartemen Abizar dan disebelah apartemen Ryan juga merupakan apartemen nya yaitu diperuntukkan mas Adam dan mas Chalik. Tapi apartemen itu jarang di pakai mas Adam maupun mas Chalik karena mereka jarang ke Amerika.
Jika ke Amerika pun mereka selalu tidur di apartemen Abizar karena anak-anak mereka selalu ingin bersama eyang mereka.
Jadi saat ini saat keluarga besar berkumpul mereka tidak bingung.
Sehabis berbelanja pakaian untuk lebaran dan oleh-oleh mereka jalan-jalan ke tempat pariwisata yang ada di sini.
Mereka semua telah bersiap untuk kembali ke tanah air, Jonathan akan tetap tinggal dia akan ke Indonesia dua minggu sehabis lebaran.
Carol ikut Mimi ke Jambi, Ay sangat senang karena rumah ini ramai. Saat hari raya Carol ikut kemana Mimi pergi, bahkan dia juga ikut saat Mimi pergi bersilaturahmi ke rumah Syahril dan keluarga Syahril lainnya.
Dua Minggu setelah lebaran, Syahril dan keluarga besar nya datangbkerumah Mimi untuk melamar Mimi secara resmi.
Tanpa perencanaan akhirnya Mimi dan Syahril bertunangan secara resmi dan akan menikah setelah Mimi lulus.
Semua sudah di atur oleh Babah dan umma, acara pertunangan Mimi dan Syahril diadakan disebuah hotel kota Jambi.
Ayah Brata dan bunda serta keluarga besar mereka juga menghadiri acara pertunangan Mimi, hanya mbak Surti yang tidak di izinkan ikut karena Minggu depan nya dia akan menikah.
Carol dan Zacky juga sudah mulai dekat, bahkan Zacky sering mengajak Carol jalan. Carol akhirnya juga mengikuti jejak sang kakak untuk berpindah keyakinan.
Lima hari setelah acara pertunangan Mimi, Mimi dan keluarganya kembali di boyong ayah Brata ke Semarang untuk menghadiri pesta pernikahan mbak Surti.
Di'ah tidak ikut dua Minggu setelah mbak Surti kembali Di'ah yang akan menikah dengan Ryan.
__ADS_1
Carol sangat bahagia menjadi bagian keluarga ini, baginya Ramdhan tahun ini merupakan berkah baginya dan kakaknya.
tbc.