DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Marah nya Mimi


__ADS_3

adzan magrib berkumandang menyerukan umat muslimin untuk segera menjalankan perintah illahi. Syahril, Mimi dan Ryan yang telah bersiap mereka pun pergi ke mushollah tanpa Di'ah.


Di'ah masih mendiamkan Mimi tanpa sebab, Mimi pun juga tak menegurnya. Saat bertemu Mimi hanya memberikan senyum manisnya.


Bukan Mimi tak ingin menegur duluan, sedari kemarin pun Mimi sudah menegurnya lebih dulu namun tetap saja begitu.


Mimi menyangka mungkin Di'ah sedang capek atau apa lah, Mimi tidak ingin bersuudzon pada sahabatnya itu.


Sepulang dari masjid, Mimi langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Dengan semangat Mimi ke dapur untuk menyiapkan makan malam namun kenyataan yang dia lihat kini tak sesuai ekspektasi nya.


Dengan sabar dan helaan nafas, Mimi menghidupkan kompor dan di taruhnya wajan di atas kompor taknluoa dimasukkan minyak kedalamnya.


Ryan sepulang dari masjid dia langsung masuk kamar. Dilihatnya sang istri bermain game di ponselnya


Ryan hanya bisa bersabar dan memperbanyak istighfar melihat kelakuan san istri.


Syahril setelah meletakkan peralatan sholat mereka di dalam kamar, keluar menuju dapur. Niat hati akan kangkung menyantap karena perutnya telah lapar. Namun Syahril harus bersabar terlebih dahulu.


"Emm dek" panggilnya stelah melihat Mimi sedang berdiri di atas kompor. Mimi menoleh dan tersenyum.


"Sabar ya kak, Miki goreng ikannya dulu." jawab Mimi.


Sesungguhnya hati Mimi kecewa, ingin dia menangis, marah-marah, berteriak atau bahkan memaki. Namun Mimi terus berupaya agar dirinya selalu bersabar.


Bukan Mimi tidak memerhatikan sikap Di'ah yang berubah padanya, walau Mimi cuek orangnya namun dia selalu memperhatikan orang disekitarnya.


Syahril yang mengerti pun hanya bisa menghelakan nafasnya, tak hanya Mimi yang memiliki rasa kecewa, Syahril pun sama halnya.


Syahril membantu Mimi memasak ikan lele nya, Ryan dan Di'ah masih berada di dalam kamarnya.


"Ayo keluar, kita makan bersama.' ucap Ryan mengajak Di'ah.


"Hmm." jawab Di'ah yang segera meletakkan ponsel dan mengikuti Ryan menuju dapur.


Saat mereka berdua telah sampai di ambang dapur, Ryan dan Di'ah lagi-lagi melihat Mimi dan Syahril saling bahu membahu.


Ingin Ryan berteriak serta memarahi sang istrinya saat ini juga. Tapi Ryan menahannya dengan mengepalkan kedua tangan nya agar tidak meledak-ledak.


"Eh Yan, ayo duduk." ucap Syahril ketika melihat Ryan dan Di'ah telah sampai di ambang jalan ke dapur. Miki menoleh ke arah belakangnya dan tersenyum melihat kedatangan dua orang tersebut dan Mimi kembali menggoreng ikannya.


"Dek sudah ini aja." ucap Syahril yang telah meletakkan ikan goreng di atas mejanya.


"Iya kak, tanggung." jawab Mimi yang masih terus menyelesaikan goreng ikan.


Syahril hilir mudik dari arah kompor, arah rak piring ke meja makan. Ryan yang melihat Syahril mondar mandir berinisiatif m membantu Syahril membawa piring, cangkir serta kobokan.


Syahril tersenyum melihat sepupunya mulai berinisiatif sendiri membantunya. Di'ah masih diam di tempat. Ingin Di'ah kembali ke kamar nya, namun ada rasa malu bila dia kembali ke kamar.


Semua sudah terhidang di atas meja, Miki masih setia di depan kompor nya. Mimi sengaja membiarkan para lelaki yang menata serta menyiapkan segalanya di atas meja.


Mimi hanya manusia biasa yang juga memiliki rasa emosi, Mimi meluapkan emosinya dengan terus menyelesaikan ikan-ikan yang sudah terbumbui itu.


"Dek, ayo makan dulu." ajak Syahril.


"Di'ah, ngapain kamu berdiri di situ. Ndak capek berdiri." ucap Syahril sedikit ketus.


"Duduk lah," ucap Syahril lagi dan dia beranjak ingin mengajak Mimi duduk juga.


Di'ah Kun duduk di samping Ryan, Di'ah mengambilkan nasi buat Ryan namun dibcegah sama Ryan.


"Tidak usah, biar kakak saja." ucap Ryan dan mengambil sendok nasi dari tangan Di'ah. Ryan mengambil nasi nya sendiri dan kemudian dia juga mengambilkan nasi buat istrinya.


Saat Ryan menolak di layani, ada. rasa sakit di hati Di'ah namun rasa itu seketika pudar saat Ryan mengambilkan nasi untuknya.


"Makanlah." ucap Ryan.


Mimi menolak ajakan Syahril, karena ikannya tinggal satu kali goreng lagi.


"Kakak makan saja dulu." ucap Mimi dengan senyum.


"Adek juga harus makan, ini juga kenapa banyak sekali goreng ikannya. Di atas meja saja sudah banyak dek." jawab Syahril. Interaksi antara Mimi dan Syahril di dengar oleh Ryan dan Di'ah.


"Kakak duduklah dan makanlah, Mimi nyelesein ini dulu. Bentar lagi anak-anak datang." ucap Mimi.


"Maka dari itu, ayo adek makan dulu." ajak Syahril dan Mimi menggeleng.


"Iya Mi, ini sudah banyak. Kan sayang kalau tidak kemakan nanti ikannya." seru Ryan.


"Pasti kemakan kok kak. Ini nanti Mimi mau ngajak anak-anak makan." jawab Mimi.


"Jadi kamu sengaja masak banyak ini." tanya Syahril dan Mimi mengangguk.


"Kamu selalu gitu dek." ucap Syahril


"Iya Mi, kamu kebiasaan selalu memikirkan orang dan lupa bahwa kamu juga butuh mengisi perutmu." sahut Ryan, Diah mendengar ucapan Ryan seolah Ryan menyinggungnya.


padahal Ryan tak berniat menyinggung siapapun, Ryan hanya berkata dengan aoanyang pernah dia ketahui tentang Mimi selama ini.

__ADS_1


"Kita saling berbagi saja kak." jawabnya.


"Nanti Mimi makan sama mereka, kakak makan saja dulu." imbuh Mimi.


"Aku salut sama kamu Mi, kau selalu mengeluarkan lebih tanpa berpikir." sahut Ryan.


"Hmm apa yang kita keluarkan itu kan anggap saja sebagai sedekah kak."


"Apa yang kita keluarkan itu juga tidak membuat kita miskin. Justru dengan Kuta mengeluarkan sedikit rezeki dari kita itu sama dengan kita membersihkan rezeki kita."


"Bukannya sebagian dari rezeki kita juga ada hak orang lain." ucap Mimi panjang lebar.


"Jangan takut memberi atau mengeluarkan sebagian rezeki itu, karena Allah akan menggantinya lebih dari apa yang kita keluarkan suatu saat nanti, insya Allah." ucap Mimi


Tak lama terdengar suara pintu diketuk, Syahril ingin melangkah ke arah pintu depan, namun di cegah sama Mimi.


"Biar Mimi saja, kakak makan saja." ucap Mimi dengan memegang lengan Syahril dan menarik lengan itu menuju kursi. Mimi mendudukkan Syahril ke kursinya dan mengambilkan nasi buat Syahril.


Setelah melayani Syahril, Mimi pun melangkah menuju depan untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum." ucap anak-anak yang akan belajar private pada Mimi.


"Waalaikum salam.". jawab Mimi, kali ini pandangan Mimi bukan hanya enam orang anak laki-laki, tetapi juga ada anak perempuan yang usia nya berkisar kelas satu atau dua SMA.


"Yaudah ayo masuk." ucap Mimi mempersilahkan mereka masuk.


"Bu dokter, ini Ayuk Masnah sama Ayuk Eka dan Fika mau ikut belajar bersama juga. Apa boleh bu?" ucap Riki.


"Emm boleh, emm kalian sudah makan?" tanya Mimi


"Emm sudah Bu dokter." jawab sebagian mereka,.


"Yaudah kalian duduk ya, ibu kebelakang dulu." ucap Mimi dan beranjak menuju dapur.


"Dah pada datang dek?" tanya Ryan yang terkadang memanggil Mimi adek.


"Sudah kak, bahkan nambah tiga." jawab Mimi dengan mengambil 11 piring dan 11 pelengkap lainnya. Mimi mengambil nasi di magiccom dan diletakkan pada tempatnya, lalu sambal yang memang sengaja di pisahkan serta ikan goreng dan lalapan nya, semua Mimi letakkan dalam nampan hidangan.


Mimi membawa semua itu ke ruang tengahnya dan Mimi pun mulai menyajikan semua nya.


Setelah itu Mimi ambil air mineral cup yang dibelinya saat di kecamatan tadi.


"Nah ayo makan dulu kita." ucap Mimi mengajak mereka semua.


"Tapi kami sudah makan Bu dokter." tolak Riki.


"Udah ayo dimakan, tidak baik nolak rezeki. Tidak makan banyak, makan dikit." ucap Mimi, masih terlihat mereka enggan untuk mengambil.


"Ingat menolak rezeki nanti ilmu nya tidak nyampe ke otak lo." ucap Mimi dengan mengambil nasi dan memasukkan nasi kedalam setiap piring.


Merak pun akhirnya makan terlebih dahulu sebelum memulai belajar. Syahril dan Ryan ikut serta makan bersama Mimi dan anak-anak.


Mimi tersenyum pada Syahril dan Ryan yang membawa piringnya dan ikut makan bersama.


Saat dua lelaki dewasa ini masuk, terlihat wajah para gadis berbinar seolah mendapat asupan vitamin. Mimi masih bersikap wajar kala gadis menginjak dewasa ini melihat dua lelaki dewasa ini.


Setelah semua selesai Mimi membereskan semua di bantu Ryan serta Syahril.


Pelajaran pun dimulai, Mimi di bantu Syahril dan Ryan untuk mengajari mereka semua. Di'ah yang melihat Mimi, Syahril dan Ryan mengajari anak-anak, dia pun ikut bergabung dan membantu mengajari mereka.


Syahril dan Ryan mengajari anak-anak laki-laki, sedangkan Mimi dan Di'ah mengajari anak perempuan dan kadang Mimi juga mengajari anak laki-laki.


Setiap Mimi mengajari mereka, terutama anak perempuan. Pandangan mereka dan mungkin pikiran mereka tidak konsentrasi lada pelajaran.


Mimi terus memperhatikan gerak gerik anak perempuan ini yang tidak fokus pada pelajarannya.


Awal Mimi diam melihat mereka yang selalu melirik ke arah Ryan maupun Syahril, Miki anggap mereka kagum pada dua lelaki dewasa ini.


Namun lama kelamaan Mimi jengah, apa lagi setiap di tanya ulang mereka tak dapat menjawab.


"Niat kalian pergi kesini apa!" tanya Mimi pada mereka bertiga tiba-tiba, mereka seolah tidak mendengar karena matavmereka fokus melihatvke arah Syahril dan Ryan.


Mimi yang melihat mereka tidak fokus dan tidak mendengar kan Mimi, Mimi menggebrak meja kecil di hadapannya.


Braaak semua orang terkejut dan melihat ke arah Mimi termasuk ketiga remaja itu.


"Kalian kesini niatnya mau belajar atau apa?" Mimi mengulangi pertanyaannya.


"Emm belajar Bu dokter." jawab mereka bertiga.


"Kalau belajar maka fokuskan pandangan serta otak kalian pada pelajaran" ucap Mimi dengan tegas.


"Jika niat kalian datang kesini hanya untuk melihat yang lain. Silahkan." ucap Mimi dengan menunjuk arah pintu luar.


"Silahkan kalian KE LU AR." ucap Mimi dengan menekankan kata keluarga dengan tangan menunjuk ke arah pintu.


Syahril dan Ryan saling pandang, mereka berdua heran melihat Mimi marah. Bahkan anak-anak yang sudah biasa belajar pun ikut heran melihat Mimi yang biasa lembut sekarang bagaikan ibu singa yang sedang mengaum.

__ADS_1


"Maaf Bu." jawab mereka dengan menunduk.


"Kalian kelas berapa?" tanya Mimi pada mereka.


"Kami kelas dua SMA Bu." jawab mereka.


"Emm, saya tidak melarang kalian memiliki ketertarikan lada lawan jenis. Namun sebelum kalian tertarik kalian lihat siapa yang kalian lihat."


"Kalian ini kesini niatnya mau belajar kan?" ucap Mimi dan mereka mengangguk.


"Kalau niat kalian belajar, maka kalian harus fokus ke pelajaran, bukan ke yang lain."


"Kalau niat kalian lain, sebaiknya kalian keluar dari rumah ini dan jangan pernah datang lagi kesini."


"Karena saya mengajari anak-anak yang mau di ajari, saya mengajari anak-anak yang mau maju. Bukan mengajari anak-anak seperti kalian." Mimi terus mengeluarkan kekesalannya dan ketiga remaja itu hanya menunduk.


"Kalian ini masih muda, kalian juga terpelajar, seharusnya kalian itu tau diri."


"Kalian ini perempuan, harus pandai jaga diri. Jadi jika kalian mau di hormati orang terutama di hormati lelaki, maka hormati dulu diri kalian sendiri."


"Jangan murahan seperti ini. Kalian tau kan siapa yang kalian pandang seperti tadi?"


"Seolah kalian tidak menghormati saya, kalian juga tidak menghormati Bu Di'ah."


Asal kalian tau, Bu Di'ah ini istri dari oak Ryan dan saya. Saya calon istri dari pak Syahril."


"Dengan perlakuan kalian tadi, itu menampakkan siapa jati diri kalian." ucap Mimi dengan menatap mereka bertiga tajam.


"Kalau kalian kesini berniat untuk menggoda, lebih baik kalian keluar, jangan ganggu adik-adik kalian yang memiliki niat belajar." ucap Mimi dan sekakinlagi mengusir mereka.


"Silahkan kalian keluar, karena saya tidak butuh anak yang tak mempunyai niat belajar." ucap Mimi. Syahril mendekati Mimi dan memegang bahu Mimi.


"Dek," ucap Syahril menenang kan Mimi dengan memegang bahu Mimi.


"Dua dari tadi diam bukan berarti saya tidak tau." ucap Syahril dingin dan membuat ketiga gadis itu takut.


"Kalian masih muda, kalian juga perempuan. Jadilah perempuan yang terhormat.' imbuh Syahril.


"Dan kau Fika kan anaknya lak Abdullah, kau sepupu dari Riki kan." ucap Syahril, Fika pun mengangguk.


"Saya menghormati dan menghargai orang tua mu, jadi jagalah sikapmu."


"Jangan sampe karena hal ini, orang tua mu beranggapan lain pada kami." ucap Syahril dengan tatapan tajam.


"Betul kata calon istri saya dokter Mimi, Jika niat kalian kesini bukan untuk belajar. Lebih baik kalian pulang saja. Jangan ganggu adik-adik kalian yang sedang belajar."


"Lihat mereka, belajar mereka terganggu karena perbuatan kalian." ucap Syahril dengan menunjuk ke arah anak laki-laki yang semua melihat ke arah tiga gadis ini.


Riki hanya diam, namun dia menatap tajam ke arah ketiga gadis ini. Riki yang memiliki sifat dingin dan paling tidak suka hal bertele-tele.


Beda Riki beda pula adiknya Raka, Raka juga memiliki sifat dingin namun Raka akan mengeluarkan apa yang menurutnya tidak suka.


"Dasar betino kanji, buat malu be." sungut Raka.


( Dasar perempuan ganjen, buat mau saja )


"Kalu nak gatal jangan di siko yuk." sahut yang kain.


(Kalau mau genit/ganjen jangan disini yuk)


Sofyan sepupu dari pihak ayah Riki pun memiliki sifat yang sama dengan Riki.


"Lebih baik Ayuk balek bae lah, jangan nak ganggu kami, waktu kami belajar samo dokter Mimi dak banyak. Jadi jangan tebuang handar." ucap Sofyan.


(Lebih baik Ayuk pulang sajalah, jangan ganggu kami, waktu kami belajar sama dokter Mimi tidak banyak. Jadi jangan terbuang sia-sia)


Ryan melihat ketegangan semakin menjadi pun ikut bicara.


"Sebaiknya kalian pulang saja dulu, besok kalau kalian memang mau belajar bisa datang lagi." ucap Ryan.


"Tapi pak dokter, kami mau belajar pak." ucap Fika.


"Iya pak, kami dari rumah bilang ke Mak bak kami kalau kami kesini mau belajar." imbuh Eka.


"Maafkan kami pak, buk. Izinkan kami belajar sama bapak dan ibu." ucap Hasnah memohon.


Ryan melihat Mimi dan Syahril tidak ada tanggapan, Ryan lun sekali lagi meminta pada mereka bertiga untuk pulang.


"Sebaiknya malam ini kalian pulang saja dulu, kasian adik-adik kalian waktunya terbuang begitu saja."


"Besok kalian boleh datang lagi, dengan catatan tidak ada kejadian seperti ini lagi." ucap Ryan lembut namun penuh dengan ketegasan.


Mereka bertiga menatap ke arah Mimi dan Syahril yang menatap mereka tajam, mereka pun akhirnya menyetujui untuk pulangnya namun mereka minta izin kalau besok di izinkan ikut belajar bersama.


Setalah mereka bertiga keluar, belajar mengajar pun di mulai lagi. Di'ah melihat Ryan begitu peduli lada ketiga gadis lagi merasa Ryan tidak menghargai dirinya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2