DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
182


__ADS_3

"Ya hallo.."


"-----"


"Apa!!! Innalilahi wainna illaihi rojiun." ucap sang papi dengan deraian air mata.


Semua yang mendengar sang papi mengucapkan innalilahi membuat semua berprasangka masing-masing.


"Pi... A pa Mak sud u cap pan pa pi ba ru san." tanya sang papi dengan terbata-bata, sang mami takut berita yang tak mengenakkan dari salah satu anaknya.


"Pi.." Panggil sang mami dengan Isak tangis.


"Ti dak mungkinlah kin, anakkuuuu" sang mami menangis histeris ketika sang suami belum juga memberitahukan nya. Seketika sang mami kembali pingsan.


"Mi.. Mami..Ya Allah." sang papi ikut panik ketika melihat sang istri kembali pingsan.


"Ya Tuhan, begitu bertubi-tubi cobaan yang kau berikan kepada keluargaku." ucap sang papi sambil mengangkat tubuh sang istri dan membawanya keluar dari musholla.


Papi sedikit berlari mengangkat sang istri dengan diikuti kee!lat pemuda di belakangnya menuju ruang dokter di lantai dua.


Sesampainya disana dokter langsung memeriksa keadaan mami Bryan yang kembali syok. Karena dehidrasi mami Bryan pun terpaksa di infuse buat menambah cairan pada tubuh sang mami.


Dokter menyarankan agar mami Bryan ikut dirawat karena fisik sang ibu lagi lemah. Akhirnya papi Bryan oun menyetujuinya tapi meminta pihak rumah sakit menggabungkan saja ruangannya dengan Bryan, dokter pun menyetujuinya juga malla dari itu mami Bryan dibawa ke ruangan Bryan, jadilah. Ryan satu kamar dengan sang mami.


Cintya yang melihat mamknya juga ikut di infuse menangis.


"Mamii kenapa Pi?" tanya Cintya adek nya Bryan.


"Mami nggak kenapa-kenapa sayang, Tya golongan jaga Mami sama bang Bryan ya?" ucap sang papi.


"Papi mau kemana? Bang Arya gimana pi?" tanya Cintya yang sontak papi teringat dengan anaknya.


"Bang Arya belum selesai operasin ya nak, Tya bantu do'a In Abang Arya ya, do'a in juga bang Bryan." ucap sang papi dengan !mengelus rambut anak bungsunya.


"Papi mau kemana?" tanya Cintya kembali.


"Papi mau kerumah tante Diah nak, tante mu meninggal." ucap sang papi kepada Cintya.


"Innalilahi, kapan Pi Tante meninggalnya." ucap Cintya.


"Barusan sayang, maka dari itu Cintya jaga mami dan bang Bryan dulu ya. Kalau kami sadar bilang kalau papi membantu Om Reza." ucap sang papi dan Cintya pun !mengangguk.


"Mbok tolong jaga istri saya dan anak-anak." ucap papi kepada art nya.


"Iya tuan." jawab si mbok.


"Satria, Yogi, Dillah, dan Reno, Om titip mereka ya? San nanti tolong telpon Om kalau operasi Arya selesai. Apapun hasilnya tolong segera kabarkan Om ya." ucap papi Bryan meminta tolong kepada sahabat anaknya.


"Iya Om, kami ikut turut berduka cita." jawab Dillah mewakili teman-teman nya.


"Terimakasih, Om berangkat dulu. Assalamualaikum." uvapmpali Bryan.


"Waalaikum salam." ucap mereka serentak.


Mereka berempat berbagi tugas, dua menunggu di depan ruang operasi dan dua menunggu di ruangan Bryan.


Sudah empat jam operasi berjalan namun belum selesai juga. Arya kecelakaan disaat tanpa sengaja dia mengetahui keadaan Bryan yang dia dengar dari pembicaraan art sama satpam rumahnya.


Setelah Arya mendengar kabar itu, hatinya sangat kacau. Sedih dan kecewa karena faktor fisiknya yang tak bisa berbuat apa-apa. Tanpa menunggu lagi akhirnya dia memutuskan untuk pergi kerumah sakit xx sendirian.


Arya keluar gerbang rumah tanpa ada yang tau termasuk para bodyguard yang biasanya selalu ada di tempat. Dia terus menggerakkan kursi rodanya dengan tangan yang mengendalikan kemana arah kursi rodanya.


Namun naas Malang gak bisa ditolak, mungkin juga sudah suratan takdir nya. Saat Arya akan menyeberang ada kendaraan yang sedang melaju dengan kencang dan dengan seketika Arya pun tertabrak depan terseret hingga beberapa meter.


Lima belas menit setelah Arya keluar Art dan yang lain tersadar jika aden nya tidak ada di tempat, dengan gerakan cepat para bodyguard yang sedang menyantap sarapan melihat ke arah depan dan terlihatlah pintu gerbang terbuka dan dengan sigap pula mereka langsung melacak keberadaan Arya.


Sebelum Arya tertabrak para bodyguard telah menemukan keberadaannya yang sedang akan menyeberang jalan, para bkdyguard serta si mbok memanggilnya ketika melihat ada mobil pickup melau dengan kencang.


Saat para bodyguardnya mengejar akan menyelamatkan sang majikan kecelakaan oun tak bisa dielakkan.


Dokter keluar dari ruang operasi dengan cepat Yogi menghampiri.


"Dok, bagaimana dengan abang saya?" tanya Yogi yang juga diikuti Satria.


"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, tetapi.." dokter !menjawab kelancaran operasi namun tergantung dengan ucapan yang mungkin sangat menyakitkan untuk di dengar.


"Tetapi, kaki dan tangan pasien kembali retak dan untuk saat ini pasien juga mengalami pendarahan di otak. Untuk kedepannya kita tunggu pasien sadar dari kritisnya dan kita akan cek kembali pasca operasi ini." jelas dokter.


"Oh ya mas kita juga masih butuh donor darah buat jaga-jaga kebetulan stok darah yang sesuai dengan golongan darah pasien di rumah sakit ini habis. Pasien golongan darah AB+." ucap dokter kembali.

__ADS_1


"Baik lah dok, kami akan mencari golongan darah tersebut di bank darah segera, apa kami boleh melihat bang Arya." ucap Satria.


"Baik lah, kalau begitu. Emm untuk saat ini pasien akan kami masukkan ke ruang isolasi terlebih dahulu untuk melihat perkembangan nya." ucap sang dokter.


"Oh baiklah dok, makasih." jawab Yogi dan dokter pun meninggalkan mereka berdua.


"Em Gi, Lo kasih tau sama Reno dan Dillah ya, biar gue langsung ke Bank darah ya." ucap Satria membagi tugas bersama.


"Sat, kita kasih tau sama-sama setelah itu kita pergi berdua ke Bank darah nya." Yogi memberi usul agar mereka pergi berdua.


"Tapi Gi," ucap Satria namun di potong oleh Yogi.


"Gak ada tapi-tapian Sat, ayo." Yogi membantah omongan Satria dan segera mengajak Satria segera pergi ke ruangan Bryan.


Sesampainya disana, terlihat semua yang ada sedang menunggu kabar, Dillah tak ada di tempat karena Dillah keluar membeli makan buat makan malam mereka yang sudah sangat terlambat.


"Gi, Sat, gimana?" tanya Reno langsung mendekat ke arah Satria dan Yogi.


"Alhamdulillah semua lancar,." ucap Satria.


"Beneran nak, terus dimana ruangan Arya?" tanya sang Mami Bryan.


"Iya Tante alhamdulillah, tapi.. em." Satria menjawab namun ragu menyebutkan kebenaran yang ada.


"Tapi apa nak?" tanya sang Mami dan semua orang yang berada dalam ruangan itu pun menunggu kelanjutan nya.


"Tapi tulang kaki dan tangan bang Arya kembali retak namun sudah dioperasi kembali dan saat ini bangnarya juga adalah pendarahan di otaknya, untuk sementara pihak medis mengisolasi bang Arya untuk melihat perkembangan nya dan saat ini juga stok darah di rumah sakit ini habis. maka dari itu kami berdua akan ke Bank darah Tante." jelas Yogi.


"Ya Allah Arya anak ku." ucap mami lirih.


"Gimana sob?" tanya Dillah yang baru tiba dari membeli makanan dan mengantar Cintya serta si mbok pulang.


"Alhamdulillah lancar, oh ya bro kita berdua mau ke Bank darah dulu ya?" ucap Satria.


"Emang nya jam segini buka?" tanya Dillah dan aontakmkedua sahabat nya itu melihat ke arah arloji di tangannya.


"Huh, iya juga ya." ucap Yogi lesu.


"Golongan darahnya bang Arya apa?" tanya Dillah dengan meletakkan bungkus nasi padang.


"AB+" jawab Yogi.


"Hmm boleh juga, yaudah biar aku share chat ke group." Ucap Reno dan langsung kirim chat ke setiap group kampus.


"Yaudah kita makan malam dulu, kalian juga pastinya belum makanan kan?" tanya Dillah.


"Hemm aroma nasi padang." ucap Yogi dengan mengendus aroma dari nasi bungkus.


Mereka pun makan malam bersama walau sudah telat beberapa jam.


**


Dua hari berlalu, Arya belum juga sadar dari komanya dan keadaan Bryan pun semakin menurun. Semua upaya telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil.


Bryan pun kembali kritis, dokter mengatakan jalan satu-satunya agar segera melakukan transplantasi hati. Yang kini membuat mereka panik adalah belum !mendapatkan transplantasi yang cocok dengan Bryan.


Mami terus meratapi kesedihannya, sampai-sampai dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berguna sebagai seorang ibu.


Tiap sholatnya selalu berdoa agar diberi kelancaran buat anak-anak nya, dan setiap saat pesimisnya pun timbul. Sehingga dia merasa menyerah dannpabila Tuhan berkehendak buat kedua anaknya diapun mengikhlaskan nya.


Hati seorang ibu siapa yang tak sedih dan sakit melihat kedua anak yang di cintai nya terbaring lemah dengan banyaknya selang infus dinseluruh badannya.


Bryan dan Arya dintaruh dalam satu ruangan ICU, sang ibu selalu menunggui anak-anaknya.


"Ya Rabb, hamba ikhlas jika kau ingin mengambilnya dari hamba." ucap sang mami dengan mengelus puncak kepala kedua anaknya.


"Maafkan mami nak, maafkan mami yang tidak memberikan kasih sayang dan perhatian mami secara langsung kepada kalian, maafkan mami." ucap sang mami pilu.


Papi yang melihat orang-orang tercintanya bersedih pun ikut pili dan merana hatinya.


"Kemana lagi aku harus mencari nya." gumam sang Papi dalam hatinya.


Semua anak buahnya bahkan karyawan-karyawan serta klien-kliennya sudah dikerahkan meminta bantuan, namun tak ada satu pun hasil yang cocok.


"Apa saat nya aku berkorban demi anak-anak ku Rabb?" terpintas di benak pikiran nya untuk!mengorbankan diri buatbkeaw!buhan sang buah hati.


"Bismillah, maafkan papi nak, Mi. mungkin ini adalah jalan satu-satunya." ucapnya lirih dengan memandangi wajah sang istri dan kedua anak-anaknya.


Arya dan Bryan sedang menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan yang sejuk di pandang mata. Mereka berdua saling bercerita bahkan main dengan riang layaknya anak kecil.

__ADS_1


"Bang, sudah lama Iyan mau lain sama abang seperti ini." ucap Bryan dengan merangkul pundak abangnya.


"Iya dek, Abang juga." jawab sang abang.


"Tunggu dek." Arya memberhentikan langkah mereka berdua dan Arya menunjuk ke arah bawah pohon yang rindang terdapat dua orang paruh baya disana.


"Kenapa bang,?" tanya Bryan.


"Lihatlah disana, bukannya itu eyang uti dan eyang akung." jawab Arya dan Bryan pun melihat ke arah pohon nan rindang tersebut.


"Iya bang, ayo kita kesana." Bryan mengajak sang abang dengan riangnya berlari menuju eyang-eyangya.


"E yaaang." ucap Bryan dengan berlari sambil merentangkan tangannya.


Sangneyang tersenyum melihat kedua cucu-cucu nya, mereka pun merentangkan kedua tangan mereka dan memeluk kedua cucunya.


"Eyang, lihatlah Abang sudah bisa berjalan eyang." adu Bryan layaknya anak kecil yang sedang bahagia. Sang eyangnhanya mengangguk.


"Eyang kami sangat merindukan eyang." ucap Arya dengan !engwcup pipi kedua eyangnya, terlihat pancaran sinar bahagia di hati mereka.


Arya dan Bryan berbaring di pangkuan eyangnya, Bryan dipangkuan ayang uti dan Arya di pangkuan eyang Kakung nya.


Eyang mereka ini adalah orang tua dari sang ibu, semasa hidupnya mereka selalu di sayang sama kedua eyangnya, dan kedua eyangnya inilah yang menjaga mereka sedari bayi.


"Eyang, boleh kan Iyan dan Abang ikut dan tinggal sama eyang." ucap Bryan yang ingin ikut dengan eyang mereka.


"Belum saat nya sayang." jawab si eyangbuti dengan terus tersenyum dan mengelus kepala Bryan.


"Hmm kenapa begitu Yang, apa eyang sudah tidak sayang sama kita lagi." ucap Bryan dengan sendu.


"Semenjak ndak ada eyang, Iyan kesepian Yang.. Mami dan papi tidak pernah ada di rumah, mereka selalu sibuk dengan kerjanya sampe-sampe nggak ada waktu buat kita." Bryan mengadu kekecewaan nya kepada sang eyang.


"Eyang, Iyan iukut eyang saja ya." Bryan terus meminta.


"Belum saat nya nak, suatu saat kita pasti dipersatukan kembali." ucap sang eyang Kakung.


"Tapi kapan eyang." jawab Bryan.


"Hanya Tuhan yang berhak nak." ucap eyang uti.


"Tapi kapan?" tanya Iyan lagi lirih.


"Bersabarlah, eyang percaya kepada kalian. Kalian harus me!beri kebahagiaan kepada kedua orang tua kalian. Mereka begitu juga buat kalian, percayalah kasih sayang mereka sangat besar buat kalian anak-anaknya." ucap eyang Kakung memberi nasehatnya.


"Iya nak, mereka melakukan itu demi kalian agar kelak kalian tidak merasakan apa yang mereka rasakan dulu." ucap eyang uti.


"Emang papi dan mami kenapa eyang?" tanya Arya.


"Mami dan papi kalian meraih semua itu dengan keringat mereka sendiri nak. Begitu banyak hinaan yang mereka dapat kan, bahkan cacian pedas pun mereka terima." ucap eyang uti.


Eyang uti dan eyang kakung menceritakan semua yang pernah terjadi kepada kedua cucunya dan mereka berdua juga !menasehati kedua cucunya.


Papi dan mami Bryan menjalin hubungan tanpa restu dari kedua orangtuanya sang Papi, bahkan papi mereka di usir dari rumahnya karena memilih kekasihnya yaitu mamknya anak-anak.


Keluarga papi adalah keluarga orang terpandang, sedangkan keluarga mami adalah orang yang sangat sederhana. Sang mami bisa memiliki pendidikan tinggi itu karena mendapatkan beasiswa.


Papi dan mami mereka memutuskan menikah muda disaat mereka kuliah, namun mereka menunda kehamilan dan mereka memutuskan memiliki anak ketika mereka lulus.


Ujian selalu menghampiri pernikahan mereka, hinaan dan cacian selalu menghampiri mereka khususnya pada mami. Bahkan keluarga dari papi terus berupaya untuk memisahkan mereka berdua dengan mengahdirkan orang ketiga di antara kebahhaagian mereka.


Mereka menghadapi semua tanpa berkeluh kesah kepada siapa pun. Mereka terus berupaya untuk menggapai cita-cita mereka, mereka merintis semua dari nol hingga kini mereka sudah mencapai segalanya.


Sang papi bertiga saudara, papi anak bungsu dan tersisihkan dari keluarga karena dia tidak mau menuruti kemauan orang tua nya, bahkan sang papi pun tak menerima harta sedikit pun dari orang.


Setelah mereka sukses (mami & papi ) kakak-kakak dari papi malah iri dan merasa sakit hati kepada adik bungsunya yang sukses, hingga di saat Arya berusia satu tahun mereka berusaha untuk mencelakai namun gagal dan sewaktu Arya di usia 3th mereka berniat penculiknya.


Disaat eyang sedang bercerita, Bryan dan Arya mendengar suara papi dan mami yang menangis pilu memanggil namma mereka.


"Pulang lah nak, ini bukan tempat kalian." ucap Kakek sa!BIL !enepuk kedua pundak cucu-cucunya.


"Pulanglah, dan ingat jagalah kedua orang tua kalian. Jangan buat mereka menderita lagi." ucap eyang uti.


"Kami mau disini bersama eyang." ucap Arya.


"Belum saat nya, pulanglah." ucap sang Kakek. Namun Arya dan Bryan tak ingin beranjak dari pangkuan kedua eyangnya.


Sementara para dokter sedang berusaha untuk !mengembalikan detak jantung mereka, papi, maami serta sahabat sudah mulai bersedih dan menguatkan do'a mereka agar Arya dan Bryan di beri waktu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.


Akankah Arya dan Bryan sadar dan sembuh, kita lanjut di Next bab ya..

__ADS_1


"tbc"


__ADS_2