DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
Bercocok tanam


__ADS_3

Hari ini Miki dan kedua pasiennya pun pulang, mereka pulang menggunakan mobil baru yang Mimi beli.


Sebelum pulang tentunya Mimi berbelanja terlebih dahulu dan tak lupa membeli makanan untuk mereka selama di perjalanan.


Mereka di izinkan pulang dengan beberapa syarat yang harus mereka patuhi, jika mereka melanggar maka kedepannya pun Mimi tidak akan menolong mereka lagi, dengan sedikit ancaman itu mereka pun menurutinya.


Sepanjang jalan Naya selaku bercerita kalau dia sangat rindu dengan teman-teman nya.


"Naya rindu Safa, rindu sekolah.'' ucap Naya. Hal yang wajar untuk seorang anak yang baru masuk sekolah tingkat SD itu.


"Tapi ingat, Naya tidak boleh capek-capek, tidak boleh bermain lari-lari atau berenang ke sungai lagi ya." ucap Mimi.


"Kalau Naya tidak boleh main, Naya harus apa Dok?" ucap Naya sendu.


''Naya boleh bermain sama mereka, tapi Naya tidak boleh ikut bermain. Naya lihatin mereka saja, kalau mereka lari atau berenang Naya tidak usah ikut." terang Mimi. Naya menunduk sedih.


Mik memahami kesedihan yang dirasakan Naya, siapa pun akan merasakan hal yang sama.


Tapi semua itu Mimi lakukan untuk kesehatan mereka. Mimi melihat Naya yang tertunduk melalui spion.


"Naya ndak mau kan masuk rumah sakktdan di cucuk lagi tangannya?" ucap Miki sembari melihat Naya dari spion, Naya menjawab dengan gelengan.


"Kalau tidak mau, Naya harus menuruti ucapan dokter ya?'' ucap Mimi lagi, Naya pun mengangguk.


"Janji?" ucap Mimi dengan memberi kelingkingnya pada Naya, Naya melihatku dan kemudian mengangguk serta tersenyum. Di tautnya kelingking mungil itu di kelingking Mimi.


"Nah sebagai hadiahnya Naya menuruti nasehat dokter, nih buat Naya." ucap Mimi denagn memberikan sebuah boneka yang sedari tadi di peluknya.


"Ini buat Naya?" tanya Naya, Miki menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Yee makasih dokter cantik." ucapnya seraya langsung beranjak dan memeluk mji dan mencium pipi Mimi.


"Sama-sama sayang, tapi ingat Naya tidak boleh capek-capek." ucap Mimi dan Anaya mengangguk.


Empat jam perjalanan mereka lalui akhirnya mereka pun sampai di dusun mereka. Mimi dan Syahril mengantar mereka sampai depan rumah mereka.


Mimi dan Syahril mengantar Naya dan orang tuanya terlebih dahulu karena rumah mereka berbeda lorong.


"Makasih Dok." ucap orang tua Naya.


"Sama-sama, saya harap bapak dan ibu jaga kondisi Naya saat ini seperti yang dokter Syamsul katakan." ucap Mimi


"Iya dok, insya Allah akan kami lakukan semampu kami." jawab nya.


"Untuk kedepannya kalau obat Naya habis, ibu bisa menemui dokter Syahril karena nanti biar dia yang periksa jika saya sudah pulang dari dusun ini." ucap Mimi.


"Iya dok, sekali lagi makasih banyak atas bantuannya. Makasih banyak." ucap orang tua Naya denagn deraian air mata.


"Yaudah kalau gitu kami pamit dulu." ucap Mimi.


"Naya ibu pulang dulu ya nak." ucap Mimi pada Naya.


"Iya Bu dokter cantik, terimakasih.'' jawab nya dengan menyalami seta menciumi tangan mmi dan Syahril.


"Iya sama-sama, ingat ya pesan ibu. Awas kalau nakal ibu cucuk lagi tangannya.'' ucap mki, Naya mengangguk dan menyembunyikan tangannya kebelakang.


"Apa dokter tidak mampir duku di gubuk kami ini." ucap ayah Naya.


"Terimakasih pak, lain waktu saja. Kami juga harus mengantar pak Rojali dan Bu Rojali. Kami pamit dulu, assalamualaikum." ucap Syahril.


"Waalaikum salam." jawab Mimi dan Syahril.


"Wak makasih Yo Wak." ucap orang tua Naya pada pak Rojali dan istri.


"Iyo samo-samo, jago Naya Yo nak." jawab istri pak Rojali.


"Iyo Wak, Wak jugo jago kesehatan." jawab ibu Naya.


"Yo, kami balek dulu yo.Salamualaikum." ucap Bu Rojali.


"Waalaikum salam." jawab kedua orang tua Naya.


Syahril yang sudah siap di balik kemudi membunyikan klaksonnya tanda mereka akan siap melanjutkan perjalanan.


"Iya dok hati-hati" ucap kedua orang tua Naya, Mimi dan Syahril mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanannya. Mereka langsung pulang kerumah pak Rojali yang mana arahnya lun searah dengan rumah dinas Syahril.


Setelah sampai rumah pak Rojali, Mimi membantu membawakan barang mereka sedangkan Syahril membantu oak Rojali untuk masuk kerumah.


Sesampainya di rumah pak Rojali, Bu Rojali langsung menuju dapur untuk mengambil minum.


"Mak, Ndak usah repot-repot." ucap Mimi.


"Ndak repot cuma aek putih." jawabnya.


Rumah Bu Rojali selalu bersih karena anak dari tetangga nya selalu membantu dirinya untuk membersihkan rumah bahkan anak tetangganya itu juga sering membantunya memasak.


"Yuun," panggil ibu Rojali pada anak tetangganya itu.

__ADS_1


"Iyo Wak." sahutnya.


"Tulong nak, antarkan Aek minum ko kedepan." ucap Bu Rojali.


( tolong nak, antarkan air minum ini kedepan )


"O Iyo Wak." jawab Yuni dan langsung membawakan air putih itu.


"Mak nak ngajak makan, tapi Mak belum masak." ucap Bu Rojali yang sudah ikut bergabung duduk.


(Mak mau ajak makan, tapi Mak belum masak)


"Ndak payah lah Mak, nah ko tadi aado Mimi beli makanan buat Mak dan bapak.'' ucap Mimi dengan memberikan bungkusan pada Bu Rojali


(Ndak usah Mak, ini tadi ada Mimi beli makanan buat Mak dan bapak)


"Mokasih banyak nak Yo, Mak dan bapak dak tau nak balasnyo pakek apo," ucap Bu Rojali dengan meneteskan air mata.


(Makasih banyak nak ya, Mak dan bapak tidak tau harus membalasnya pakai apa)


''Samo-samo Mak, Mak cukup doakan be kami di mudahkan rezekinyo, dibagi kesehatan, di bagi keselamatan." ucap Mimi dengan memeluk Mak Rojali.


(sama-sama Mak, Mak cukup do'akan saja kami di mudahkan rezeki, diberi kesehatan dan di beri keselamatan ).


"Cuma itu yang biso Mak dan bapak lakukan, cuma doa yang biso Mak berikan. Semoga Allah senantiaso bagi kamu baduo ko rejeki yang melimpah, kesehatan, kebahagiaan sampe maut yang memisahkan kamu baduo." ucap Mak Rojali.


(Cuma itu yang bisa Mak dan bapak lakukan, cuma doa yang bisa Mak berikan. Semoga Allah senantiasa beri kalian rezeki yang melimpah, kesehatan, kebahagiaan sampai maut yang memisahkan kalian.)


"Amin" jawab Mimi dan Syahril.


"Oh Yo pak, ingat Yo bapak dak boleh lagi makan balemak, basantan dak usah lagi." ucap Mimi mengingatkan pak Rojali.


(Oh ya pak, ingat ya bapak tidak boleh lagi makan berlemak, bersantan juga tidak usah lagi.)


"Iyo nak, mokasih banyak la. Bapak dak tau apo nan kajadi ke bapak kalu ndak ado kamu baduo ko. Kalu Allah jemput bapak duluan, ntah macam mano Mak kau ko" ucap pak Rojali dengan meneteskan air mata nya membayangkan bila dirinya dijemput sang maha kuasa dan meninggalkan istrinya seorang diri.


(Iya nak, terimakasih banyak. Bapak tidak tau apa yang akan terjadi sama bapak kalau tidak ada kalian. Kalau Allah jemput bapak duluan, entah bagaimana dengan Mak kalian ini.)


"Insya Allah, bapak kembali sehat dan di bagi kebahagiaan. Insya Allah nanti anak-anak bapak dan Mak di bukakan mata hatinya, Mak dan bapak cukup mendoakannya saja." jawab Syahril.


"Iya pak, Mak, Mak dan bapak cukup do'akan mereka supaya dibuka mata hatinya dan kembali kedusun untuk menjaga Mak dan bapak." jawab Mimi.


"Kami selaku mendoakannyo, tapi ntah lah." ucap Mak berputus asa.


"Jangan pernah putus asa Mak, Mak do'akan mereka, insya Allah do'a dari Mak di kabulkan sama Allah." ucap Mimi.


"Em Mak,pak. Kami pamit dulu ya, sudah sore." ucap Syahril.


"Iya Mak, pak. Nanti tigo hari lagi insya Allah saya kesini buat ngecek bapak." ucap Syahril.


''Iyo nak mokasih." ucap pak Rojali.


"Assalamualaikum." ucap Mimi dan Syahril seraya menyalami serta menciumi tangan mereka.


"Waalaikum salam." jawab mereka. Mimi dan Syahril pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah dinas Syahril.


Sesampainya di rumah terlihat rumah sepi tanpa penghuni.


"Kak, kok sepi." tanya Mimi.


"Lagi tidur kali mereka." jawab Syahril dengan terus menurunkan barang-barang mereka.


Mimi dan Syahril saling bahu membahu membawa barang-barang bawaan mereka masuk kedalam. Saat baru melangkah masuk kedalam, Mimi dan Syahril saling pandang ketika mendengar suara yang tak seharusnya mereka dengar.


"Tutup kuping aja dek." ucap Syahril.


"Gila aja mereka sore-sore bercocok tanam." jawab Mimi dengan menggelengkan kepala.


"Namanya juga penganten baru di tinggal pergi lama." ucap Syahril dengan terus membawa barang-barang masuk.


"Masa mereka Ndak dengar suara mobil kak." bisik Mimi.


"Udah ndak usah bahas, suara mobil lewaat dengan suara sahutan mereka." ucap Syahril dengan terkekeh.


"Isss." ucap Mimi dengan langsung mengekori Syahril menjunkamarnya.


"Adek mau mandi?" tanya Syahril.


"Hmm, badan Mimi dah lengket." jawab Mimi.


"Bentar kakak lihat syok air nya ada Ndak, maklum orang bercocok tanam pasti banyak menghabiskan air." ucap Syahril, Mimi hanya tersenyum, ingin ngakak namun takut mengganggu pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.


Syahril beranjak dan menuju belakang untuk melihat keadaan air mereka di kamar mandi. Beruntungnya lampu sudah hidup jadi Syahril bisa menghidupkan mesin air nya.


Mimi membuka kopernya yang mana semua nya adalah pakaian kotor.


"Ya salam, pasti di rumah ni ndak ada mesinnya." ucap Mimi dengan melihat pakaiannya yang kotor semua.

__ADS_1


Mimi menyingkirkan pakaian itu, Mimi berencana malam atau besok saja mencucinya. Mimi berpikir kalau mencucinya saat ini pastinya duo sejoli yang bercocok tanam akan memerlukan kamar mandi apa lagi sebentar lagi waktu Maghrib.


Mimi mengambil handuk baru yang bari di belinya sebelum menjemput pasiennya. Mimi bawa pakaian ganti yang serba baru itu menju kamar mandi.


"Gimana kak? ada air nya?'' tanya Mimi.


"Emm ada dikit, untung aliran listriknya hidup dek jadi bisa hidup juga mesin air nya. Dah sana kamu mandi dulu." ucap Syahril, Mimi pun mengangguk dan segera masuk kedalam kamar mandi.


Syahril enggan untuk masuk kedalam karena suara yang lagi bercocok tanam kembali terdengar dan menurut Syahril kali ini mereka pasti telah menyelesaikan bercocok tanam nya karena dari suara mereka terdengar sangat panjang.


"Gila tuh Ryan, ndak tau waktu lagi apa" sungut Syahril dengan terus menyeduh teh ke dalam cangkirnya, Syahril langsung menuju teras bagian belakang rumah.


Sambil menunggu Mimi selesai mandi Syahril menikmati secangkir teh dan roti yang mereka beli tadi. Angin sore yang sejuk dan mata memandang hamparan padi yang menghijau. Yah di belakang rumah mereka adalah persawahan milik petani dusun ini.


Mimi yang sudah selesai mandi, melihat pintu belakang terbuka menjadi penasaran. Mimi pun berjalan kebelakang, Mimi melihat Syahril duduk dengan memandang ke arah depannya.


"Wah cantinya kak." ucap Mimi takjub kala melihat hamparan padi yang menghijau.


"Iya dek, kalau lagi capek disinilah tempat kakak dan Ryan untuk merefresh kan pikiran. Sini duduk.'' ucap Syahril dan meminta Mimi untuk duduk disampingnya.


"Emm segarnya udara sore" ucap Mimi, Syahril memeluk Mimi dan Mimi meletakkan kepalanya di pundak Syahril. Mereka berdua menikmati pemandangan sore yang sangat menyejukkan hati dan pikiran.


Tak lama terdengar suara derap langkah kaki, Syahril dan Mimi yakini kalau itu adalah langkah kaki Ryan atau Di'ah.


Ryan yang telah selesai menaburkan benih di ladangnya, keluar terlebih dahulu. Ryan terkejut kala melihat ada beberapa dus di atas meja, Ryan yang awalnya hanya memakai boxer kembali masuk kedalam kamar.


"Kenapa yank?" tanya Di'ah ketika melihat sang suami kembali masuk.


"Kayaknya Syahril dan Mimi dah pulang yank." jawab Ryan.


"Hah, kok Ndak dengar mereka ngucapin salam atau ketuk pintu? Emang darimana mereka bisa masuk, kan pintu dikunci." ucap Di'ah dengan runtunan pertanyaan.


"Syahril punya kunci cadangan satu dek, ah udahlah. Kamu di dalam aja dulu atau mau mandi dulu." ucap Ryan.


"Mau mandi lah, gerah." ucap Di'ah.


"Yaudah, sekalian bawa pakaian ganti dan jilbabnya." ucap Ryan, Di'ah pun mengangguk. Mereka berdua keluar kamar mengendap menuju kamar mandi.


Di'ah telah masuk kamar mandi, sedangkan Ryan kembali terkejut kala melihat pintu belakang terbuka, Ryan yakini kalau Syahril dan Mimi ada di belakang.


"Ehemm" ucap Ryan dengan membawa segelas besar air minum.


"Sudah nyampe kalian?" tanya Ryan berbasa basi.


"Hmm" jawab Syahril dengan deheman sedangkan Mimi hanya tersenyum melihat ke arah Ryan.


"Kalian ini, pulang nggak pakek salam langsung masuk aja." ucap Ryan sembari duduk di kursi yang tersedia di teras belakang.


"Apakah arti salam kita , deru mobil saja tidak terdengar." sindir Mimi. Ryan melongo tidak percaya.


"Ah masa, kok ndak ada dengar suara salam." ucap Ryan lagi.


"Ya mau seratus kali salam ndak bakal kau dengar Yan, untung bae tuh ranjang tidak rubuh." ucap Syahril, Ryan tersenyum malu dengan menggaruk kepalanya.


"Ya namanya juga sedang bertani Riil." jawab Ryan asal, Syahril dan Mimi tidak menggubrisnya.


Ryan terdiam n lihat Mimi dan Syahril diam sambil menikmati roti.


"Woy kalian ini, makan ndak lihat tetangga lagi." ucap Ryan dannmukai beranjak mendekati Syahril dan Mimi.


"Mandi sana Yan, aiss jorok lah kau." ucap Syahril menepis tangan Ryan yang hendak mencomot roti dalam kotak yang dipegang Syahril.


"Aiss pelit nian kau Riil, bersih woy tangan aku nih." ucap Ryan.


"Aisss dah sana mandi kau tu, tengok tuh peluh ntah berapo liter kau keluarin." ucap Syahril dengan memberikan sepotong roti.


"Hehe Yo gantian kah Riil, gek kalau mandi baduo heran pula kamu." ucap Ryan, Syahril dan Mimi hanya berdecak kesal.


(Hehee ya gantian kah Riil, nanti kalau mandi berdua heran pula kalian)


Diah yang telah selesai mandi langsung menuju kamarnya, dia menyiapkan pakaian ganti buat Ryan, setelah itu barulah dia kembali ke dapur.


"Kak" panggil Di'ah.


"Eh iya dek, dah selesai?" tanya Ryan, Di'ah pun mengangguk. Mimi dan Syahril melihat Di'ah sebentar dan kembali melihat ke arah hamparan padi.


Diah merasa tidak enak dan malu kepada Syahril dan Mimi.


"Emm dah lama Mi nyampe nya?" tanya Di'ah.


"Emm baru kok Di'ah." jawab Mimi berbohong.


"Iya baru, sampe Mimi dah mandi." sahut Syahril menyindir.


"Kakak, ih." ucap Mimi dengan mencubit perut Syahril.


"Www dek," jawab Syahril.

__ADS_1


"Nih Di'ah,buat ganjal perut." ucap Mimi dengan memberikan roti pada Di'ah, Di'ah pun mengambil nya karena perutnya memang terasa lapar. Jadilah mereka sore itu menikmati roti bersama sambil bercerita di terasa belakang dengan memandangi hamparan padi yang menghijau.


tbc


__ADS_2