
Sepanjang jalan menuju apartemen Dillah, mereka kembali terdiam. Sebelum mobil Dillah berbelok ke arah gedung apartemen nya Dillah berhenti sebentar di mini market tepatndo sebrang arah gedung apartemen nya.
"Loh Dil kok berhenti di sini? mau beli apa Lo?" tanya Satria.
"Bentar." jawabnya dan lalu pergi !masuk kedalam mini market itu.
Didalam Dillah langsung mengelilingi rak-rak yang tersusun rapi itu dia ambil salah satu merk di rak tersebut. Setelah itu di taruhnya di meja kasir dan kemudian dia naik ke
pantai atas setelah bertanya sama mbak kasurnya.
Diatas Dillah juga mengitari rak-rak sampailah dia di tempat yang di carinya. Dia terdiam ingin mengambilnya, dia memandangi benda itu dengan berpikir setelah !menemukan dengan ukuran pas diapun segera ambio benda itu dan me!bayarnya.
Setelah itu dia kembali turun, namun dia kembali mengitari rak-rak karena Reno menelponnya kalau mereka minta sekalian beli snack dan yang lainnya. Setelah semuanya dapat dia pun kembali ke kasir untuk membayar semua belanjaan nya termasuk yang belanjaan nya yang pertama.
Semua karyawan cewek disana terpana melihat Dillah berbelanja, selain wajah yang tampan dan bertubuh atletis Dillah juga merupakan calon suami idaman, begitulah pemikiran mereka.
Dillah langsung masuk kedalam mobilnya dan menyerahkan dua kantong ke arah belakang dan satu kantong ke Mimi.
Mimi yang menerima satu kantong itu pun melihat ke arah Dillah.
"Apa ini?" tanya Mimi bertanya kepada Dillah karena dia menerima kantong tersendiri, kenapa tidak jadi satu aja jika itu makanan atau snack seperti yang dipesan Reno tadi begitu pemikiran Mimi.
"Emm buka aja." jawab Dillah dengan senyum. Mimi !membuka kantong itu dan seketika Mimi memelototkan matanya tidak percaya dengan apa yang diberi Dillah.
Mau marah, Mimi membutuhkannya, malu tentu pasti malu.
"Emm makasih." jawab Mimi.
"Emang kamu beli Mimi apa sih Dil, pakek beda-beda in sama kita." tanya Yogi.
"Udah sampai, ayok." ucap Dillah dan mengajak Mimk turun.
Mereka semua langsung berjalan menuju lift untuk naik ke lantai lima dimana apartemen Dillah berada.
Setelah sampai di apartemen nya, semua nya langsung masuk ke kamar Dillah untuk bersih-bersih dan meminjam baju.
Mereka langsung mandi bebek dua gugur sabun guyur begitulah kira-kira mandi bebeknaya karena mereka mengharapkan waktu Maghrib.
Dillah sambil menunggu sahabatnya mandi, dia mengambil baju sama trainingnya yang kiranya bisa di pakai Mimi. Salah itu dia keluar, dilihatnya Mimi duduk di meja makan.
"Ini, handuk dan pakaian gantinya. Kamu mandi di kamar itu saja." ucap Dillah dengan memberi handuk bersih dan pakaian baru miliknya, karena masih ada tag tergantung di baju dan celana itu.
"Makasih." ucap Mimi dan menerima pakaian satu stel itu dan berlalu asuk kedwlam kamarntamunyang ditunjuk Dillah tadi.
Mimi sekalian mandi di bawah shower dengan air hangat, saat dia membasahi rambutnya, Mimi kembali menangis di bawah guyuran shower itu.
Suasana hatinya belum membaik, Mimi masih merasa bersalah dengan keputusannya itu.
"Maafkan Mimi kak, maafkan Mimi." ucap Mimi dengan isakan tangis kala otaknya mengingat akan Syahril yang terlihat masih pucat.
"Maafkan Mimi hiks hiks huhuhu maafkan Mimi." ucap Mimi dan terduduk di bawah guyuran shower. Lama Mimi di bawah guyuran shower akhirnya Mimi pun menyudahi nya.
Mimi memakai pakaian Dillah yang kepanjangan dan kebesaran itu, Mimi juga memakai apa yang dibeli Dillah di Mini market tadi.
Mimi mekai hijabnya yang basah, karena Mimi tidak ada hijab ganti. Mimi keluar dengan mengenakan pakaian yang terlihat kedodoran itu.
Semua orang melihatnya dengan menahan ketawa. Mimk ce!nwrut melihat mereka menahan ketawa.
"Kalau mau ketawa ya ketawa aja kali kak." ucap Mimi.
"Maaf," jawab mereka bertiga kecuali Dillah yang memandang sahabatnya dengan sorotan mata tajam.
"Ckk Dil, belum juga jadi sah posesif aja Lo." celetuk Satria.
"Loh Mi, kok pakai hijab basah?" tanya Reno.
"Emm nggak apa kak." jawab Mimi dengan senyum.
"Udah yok kita makan," ajak Dillah. Mimi pun mengangguk.
Mimi pun berjalan beriringan dengan Dillah samalaimkeruang makan.
"Maaf tadi di Mini market tidak ada hijab." ucap Dillah dengan pelan.
"Emm iya kak makasih, emm yang tadi habisnya berapa kak? biar Mimi ganti." jawab Mimi dan bertanya harga barang yang dibeli Dillah.
"Nggak usah." jawab Dillah dan Dillah manrik kursi dan mempersilahkan Mimi duduk.
"Maaf ya kita makan spaghetti malam ini." ucap Dillah dan Mimi hanya tersenyum serta mengangguk. Mereka pun makan malam dengan spaghetti ala cheft Dillah.
Dillah memberikan seporsi spagethi plus udang di atasnya pada Mimi. Jangan tanya ketiga sahabat Dillah yang melihat tingkah Dillah malam ini.
Mimi menatap piring berisi spaghetti yang seporsinya seporsi untuk cowok. Mimi menelan salivanya. "Bagaimana ngabksinnya sebanyak ini." gumam Mimi dengan masih menatap piring di depannya.
"Ayo Mi, dimakan." ajak Yogi.
"Iya Mi, nggak usah di pandang-pandang nggak bikin kenyang." sahut Satria secara tidak langsung menyindir Dillah yang selalu melihat ke arah Mimi.
"Emm" jawab Mimi tetapi Mimi mendorongnkursinha kebelakang dan Mimi berdiri.
__ADS_1
"Loh mau kemana?" tanya Reno heran melihat Mimk berdiri.
"Mimi mau ambil piring kak, ini kebanyakan." jawabbmimi dan hendak berlalu.
"Ndak usah, duduklah." ucap Dillah menghentikan Mimi.
"Emm gali Mimk nggak sanggup ngabiin sebanyak ini kak." ucap Mimi.
"Dillah pun mengambil piring Mimi dan disematkannya ke piringnya. Di ambilnha spaghetti Mimi dan di pisahkannya ke dalam piringnya.
"Emm cukup? " tanya Dillah dan Mimi pun mengangguk.
"Yaudah kalau gitu silahkan dimakan." ucap Dillah.
"Kalau cinta bertindak nambah setengah porsi oun perutnya sanggup." ucap Satria di samping Reno.
"Iya ya, taruhan gimana?" ucap Yogi.
"Taruhan?" ucap Reno.
"Hemm Lo pada Dillah maksa habisin tuh spagetw atau nggak." ucap Yogi.
"Jelaslah dihabiskan gengsi bro." ucal Satria.
"Iya jelas dihabiskan nya lah, bukan gengsi lagi tapi jatuh wibawa nya apalagi dia sendiri yang ambil itu spaghetti daeinpiring Mimi." ucap Reno.
"Emm setuju." ucap Yogi.
"Ngap engap deh tuh perut." ucap Satria.
"Hahaa" mereka bertiga tertawa lepas, Dillah dan Mimi melihat ke arah mereka bertiga.
"Ups." ucap Satria dan memberi dua jari nya di hadapan Mimi dan Dillah. Dillah menatap mereka curiga, Reno hanya mengedipkan matanya sebelah pada Dillah dan Dillah hanya mendegus.
Setelah makan mereka semua duduk di ruang tengah mereka menonton bersama sambil bercerita. Mimk hanya dia melihat mereka saling berkelakar.
"Emm maaf kak, apa bisa Anyar Mimi pulang." ucap Mimi kepada Dillah yang duduk disamping nya.
"Dah mau pulang?'" tanya Dillah dan Mimi pun mengangguk.
"Emm yaudah aku ambil jaket dulu." ucapnya seraya naik ke atas.
Mimi juga kembali ke kamar tamu tadi untuk mengambil pakaian basahnya yang sudah dia masukkan kedalam plastik begitu pula jaket Dillah yang dia pakai juga di masukkan kedalam plastik untuk di cucinya nanti di kosan.
"Sudah siap?" tanya Dillah saat berpapasan dengan Mimi.
"Sudah." jawab Mimi.
"Emm nggak usah kak." ucap Mimi menolak.
"Nggak apa pakai aja, nanti kedinginan. Diluar masih hujan." ucap Dillah dan Mimi pun menerimanya.
"Oh ya bro, kalian disini aja ya. Aku mau antar Mimi dulu." pamit Dillah dan terus menggandeng Mimi keluar.
"Kak, Mimi pulang dulu. makasih semuanya." ucap Mimi berpamitan dengan tangan yang di gandeng Dillah.
Sepergian Mimk dan Dillah, ketiga orang yang ditinggal mulai menghibah pasangan yang belum jadian itu.
"Beuh Dillah, belum jadiannaja dahnposesif mati, gimana kalau mereka jadian." ucap Satria.
"Bener itu, kira-kira tuh perut Dillah mendadak jadi karet kah?" ucap Yogi, sontak mereka bertiga ketawa lepas.
"Iya betul tuh perut Dillah menjadi karet," sahut Satria di balik tawanya.
"Bayangin kalau mereka jadian, wah nggak kebayang aku kalau Dillah selalu mengambil setengah makanan Mimi hahhaaaa." ucap Reno.
"Iya betul tuh hahahaaa." sahut Satria dengan terpingkal-pingkal.
"Sek sek aku mau bayangin Dillah berpertut besar dulu." ucap Yogi dengan memperagakan gaya Dillah jika Dillah memiliki perut besar. Yogi memperagakan dengan memegang perutnya dan mengelus perutnya serta gang sebelahnya me!eganga belakang pinggangnya.
"Bhuaha hahahahahaa" mereka tertawa terpingkal-pingkal atas peragaan Yogi.
"Lo kira Dillah hamil pakek acara ngelus perut sama oegnag pinggang bhuahhaaa." ucap Reno.
"Eh iya ya hahahaaa." jawab Yogi.
"Emm kira-kira Mimi putus sama cowok karena apa ya?" ucap Satria kepo.
"Kalau dilihat mereka saling mencintai dan sepertinya mereka terpaksa berpisah." ucap Yogi dengan praduganya.
"Iya juga kelihatannya si cowok ninggalin dia juga karena Mimk yang usir. Kalian dengar kan kalau Mimi memintanya untuk pergi." ucap Satria, Reno pun ikut berpikir kenapa Mimi bisa putus padahal jika dilihat dari luar mereka baik-baik saja bahakan sebelumnya mereka terlihat bahagia saat masuk taman.
"Menurut Lo kira-kira kenapa ya Ren?" tanya Satria.
"Nggak tau juga, yang tau ya hanya Mimi saja." jawab Reno.
"Menurut pandangan Lo nih Ren, Mimi maaihnvjnta nggak sa!a tunangannya." tanya Yogi.
"Kalau menurut pandangan gue sih, mereka masih saling mencintai, lihat saja saat mereka masuk taman mereka terlihat bahagia bahkan saat mereka akaan berpisah terlihat Mimi sangat terpukul dan nggak hanya Mimi, tunangannya juga sangat terpukul." ucap Reno dengan prediksi nya.
__ADS_1
"Iya, mereka sama-sama terpukul. Mungkinkah mereka berdua karena ada masalah satunya di jodohkan ya?" tanya Yogi.
"Emm bisa jadi itu. tali kira-kira siapa yang dijodohkan? mimi atau tunangannya." ucap Reno.
"Kalau salah satu mereka dijodohkan, nggak mungkinlah mereka bertunangan. Apa lagi tuh saudara si tunangannya saja kelihatan sayang sama Mimi." ucap Satria.
"Iya juga." ucap Reno dan Yogi dengan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan telunjuk.
"Ah sudahlah kita nggak bisa main tebak-tebakan antara Mimi dan tunangannya itu. Sekarang itu gimana Dillah mendekati Mimi, sedangkan di hati Mimi masih terukir indah nama tunangannya." ucap Reno.
"Iya apa lagi Mimi masih pakai cincin tunangannya, bahkan ada cincin baru lagindimkari manisnya." ucap Satria.
"Beneran Sat? teliti amat Lo!" ucap Yogi.
"Iya bener, gue lihat di jarinya masih melingkar cincin tunangan bahkan ada cincin dengan berlian dan batu berwarna hijau." ucap Satria.
"Hemm atau jangan-jangan mereka.." ucap mereka bertiga serentak.
"Hanya bertengkar biasa." ucap mereka lagi.
"Wah bakal patah hati tuh Dillah kalau tau Mimi hanya bertengkar biasa." ucap Yogi dengan menggelengkan kepala.
"Betul itu, bakal patah hati sebelum merajut tali kasih lagi tuh bocah." ucap Reno membenarkan ucapan Yogi.
"Ya juga ya!! Dulu dia mengharapkan bisa ketemu gadis pujaannya yang selalu dalam angan, setelah gau siapa dia eh latah hati karena si gadis ternyata sudah ada yang punya, setelah sigadis lepas dari genggaman yang lama dan ditangkapnya, baru mulai merajut kasih eh patah hati ternuatansinhadis hanya bertengkar biasa. Apa nggak apes banget ya nasib Dillah." ucap Satria.
"Hemmm." jawab Reno dan Yogi.
"Nanti dek coba kita tanya ke Dillah apa Mimi ada cerita sama dia atau dia ada bertanah sama Mimi." ucap Yogi.
"Emm kalau Mimi cerita, itu mustahil baginya. Mimk bukan tipe cewek yang sembarangan bisa mengungkapkan isi hatinya sama orang lain, apa lagi sama Dillah." ucap Reno.
"Iya juga sih, atau Mimi tahu kalau Dillah mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi." aahuyt Yogi.
Mereka bertiga terus berghibah, memprediksi dan lain sebagainya temanya hubungan Mimi dan Dillah kelak.
Sedangkan di sepanjang jalan Mimi hanya diam, Dillah sesekali melirik ke arah samping dengan terus memperhatikan jalanan.
"Apa adek baik-baik aja?" tanya Dillah yang tak tahan di cuekin.
Mimk tersentak saaypt ada yang memanggilnya adek dan melihat ke arah sampingnya.
"Mimk baik-baik saja." jawab Mimi.
"Kalau butuh teman buat curhat, aku bisa dipercaya." ucap Dillah dengan menawarkan dirinya.
"Emm makasih kak." jawab Mimi dengan tersenyum. Senyuman yang selalu dirindukan dan dinantikan Dillah.
"Emm kalau boleh tau, kok bisa kalian putus?" tanya Dillah yang sudah mulai masuk ke ranah privasi.
"Emm namanya juga pacaran kak." jawab Mimi.
"Tapi kan kalian bukannya sudah lebih dari pacaran, emm maksud aku.. Emm kalian kan sudah tunangan." ucap Dillah mengoreksi Mimi.
"Baru tunangan kak, sedangkan yang nikah aja bisa berpisah." Mimi berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh Dillah walau sebenarnya Mimi risih Bika ada orang lain beetanya hal pribadi pada nya.
"Emm iya juga sih." jawab Dillah yang menyerah untuk mengoreksi Mimi.
Taknlaama mereka pun sampai di depan kosan Mimi, Mimi langsung membuka pintu dan hendak keluar. Namun dicegah oleh Dillah.
"Emm ada apa kak?" tanya Mimk saat tangannya di legangnoleh Dillah.
"Dinluar masih hujan, bentar aku ambilkan payung. Biar aku antar sampe pintu." jawab Dillah.
"Emm nggakmusah kak, makasih. Nggak apa kok, mimknbisa berlari. Maaf Mimi pakai dukumjaketnya besok biar Mimi cuci. Assalamualaikum." ucap Mimk dan langaungbberlari ke arah pagar kosannya dengan menutup kepalanya dengan tas.
Mimk langsung !ebhja gembok pagar setelah itu Mimi kembali menutup pagar dan Mimk gembok kemudian Mimi berlari lagi ke arah kosannya dan Mimi segera me!buka pintu kosannya yang terlihat gelap karena lampu belum dihidupkannya.
"Assalamualaikum." ucap Mimi setelah pintu terbuka dan hendak masuk. Mimk merogoh tas dan mengambil ponsel yang bisa dikatakan seharian tidak di pegangnya.
Mimi menghidupkan senter dari ponselnya, Mimi berjalan menuju stop kontak dan menghidupkan semua lampu.
Terang yah kosannya Mimi menjadi terang tidak gelap lagi, namun kini hatinya yang merasa gelap.
Mimi pandangi setiap sudut ruangan yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi. Hanya bayangan yang terlintas dipikirannya.
"Ya Allah." ucap Mimi lirih seraya duduk dilantai dimana biasa dia duduk di samping Syahril.
"Ya Allah.. Aaaaaaarch hiks hiks hiks.. Kenapa ya Allah, kenapaaaa aaahuhuhuhuu." Mimi menangis sejadi-jadinya seorang diri dimdalam kosannya.
"Aaaaaaaa hiks hiks huhuhuhuhuu.. huhuhuhu kenapa Ya Allah.
kenapa hatiku terasa sakit yaa Allah.." ucap Mimi di balik tangisnya dan berteriak memanggil rabb nya.
"Huhuhu, kenapa sesakit ini ya Allah, kenapa.. apa aku sanggup ya Allah, apa aku sanggup menjalani semua ini huhuhuuuu."
"Kalau hanya untuk sakit hati yang aku terima dan aku rasakan, lebih baik tidak usah kau pertemukan hamba dengannya dulunya ya Allah, lebih baik aku tidak mengalami dan mengenal cinta seumur hidupkuuu. Sakit ya Allah, saakiiiit.." ucap Mimi dengan menepuk dada nya.
Mimk terus menangis meratapi nasib percintaannya, walau dia berusaha untuk tegar, berusaha ikhlas seperti yang dikatakannya namun kenyataannya rasa sakit itulah yang dirasakannya saat ini, di tambah di kosan seorang diri ditemani bayangan-bayangan yang akan menjadi masa lalu baginya.
__ADS_1
tbc