
Disalah satu ruangan operasi rumah sakit. Suara tangis bayi menggema, tangis bayi kembar laki-laki yang sangat tampan.
Haru bahagia dan kesedihan tentu di rasakan oleh wanita muda yang kini telah berubah status nya.
Yah berubah status menjadi seorang ibu muda. Bahagia, tentu amat bahkan teramat bahagia apa lagi mendapatkan bayi yang tampan, tak hanya satu namun langsung mendapatkan dua bayi yang tampan dan imut.
Namun di balik kebahagiaan terselip kesedihan yang mendalam.
Bayi tampan yang lahir secara cecar, lahir dari seorang ibu bahkan lahir dari kedua orang tua yang hebat.
Bayi kembar yang lahir dengan berat badan serta panjang badan yang sama. Yaitu dengan berat badan 4.4kg dan panjang badan 61 cm.
Lahir dengan sempurna, semua orang yang membantu persalinan tersenyum bahagia bercampur sedih.
Semua orang mengucapkan selamat dan terus mengalirkan do'a serta pujian untuk baby twin boy.
Suara tangis kedua bayi masih bergema seolah dia juga ikut merasakan kesedihan.
Kedua bayi sudah berada di atas dada ibunya. Yang biasanya itu di lakukan untuk IMD, tapi ini tidak.
Kedua bayi tersebut sengaja di letakkan untuk merasakan bahwa ini adalah ibu yang melahirkan mu dengan jiwa raga serta taruhan nyawa, tidak hanya taruhan nyawa namun taruhan di ujung nyawa nya.
Yah bayi ini terlahir dari ibu yang mengalami kecelakaan dan di ujung nyawa atau di sisa nafasnya dia berusaha untuk tetap sadar hanya untuk melihat sang belahan jiwanya.
Senyum bahagia terukir di wajah sang ibu. Mungkin rasa bahagia dan lega yang dia rasakan di ujung sisa nafas nya.
"A ku se ra h kan pa da mu.. " ucap nya terbata dengan senyuman terus terukir dan linangan air mata yang tak henti.
"Di a a da la h a nak mu se ka ra ng, sa ya ng ngi di a." ucap nya lagi.
"Sudah ya jangan banyak bicara dulu." ucap seseorang yang mendampinginya.
"Ti da k, wak tu ku su dah se le sa i. Di a su da h me nuuung gu kuu." ucapnya dengan nafas tersendat.
"Te ri ma ka si h." imbuhnya sambil me narik nafas dalam.
"Ikuti aku ya." ucap seseorang tersebut dengan mengucapkan syahadat.
"Asyhadu an laa ilaha illallah," ucap yang mendampingi nya.
"Asy ha du an laa ila ha illall lah," ucapnya dengan lidah yang sudah menggulung ke atas.
"Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah"
"Wa asy ha du ann na muu hamm madd dar ra sul luuull laaah" ucapnya dengan nafas terakhir dan seraya mata perlahan terpejam.
Senyuman tetap terukir di bibir nya, wajahnya pun ber seri, tetesan air mata nya masih mengalir dari matanya.
Semua yang berada di dalam operasi ikut bersedih mengiringi kepergian sesosok ibu yang tangguh.
Di saat dia berada di ruangan operasi dia tidak mau untuk di anastesi total, padahal darah terus bercucuran di kepala nya.
Dia tak ingin di anastesi total dengan alasan ingin melihat sang bayi lahir ke muka bumi ini tanpa terlewati sedetik pun.
Bahkan dia tidak ingin memakai kain pembatas. Dia ingin melihat langsung dengan mata nya proses bayi itu lahir.
Setelah dia menghembuskan nafas terakhir, sang baby pun terdiam.
Baby yang malang.. Tidak bukan baby yang malang, karena baby twin sudah punya orang tua.
Yah orang tua, yang mana dari dalam kandungan mereka telah akan di serahkan kepada orang tua pengganti. Bisa juga mungkin di katakan orang tua sesunguhnya di dunia ini.
Dari di ketahui bahwa mereka sudah berada di dalam rahim. Sang ibu maupun sang ayah ingin menyerahkan bayi itu kepada dokter yang membantu mereka.
Tiap bulan, tidak bukan tiap bulan karena dia baru di tangani dengan sang dokter dua atau tiga kali saja. Selebihnya dia periksa dengan dokter yang lain.
Namun walau dia di periksa dengn dokter lain, dia selalu menanyakan keberadaan dokter yang sudah mereka percayai untuk anak yang masih berada di rahim nya.
Bulan terus berjalan, dia tetap belum bertemu. Seolah mengerti sang baby pun masih tetap aktif, betah dan bertahan dalam rahim sang ibu hingga waktu HPL lewat dari lima minggu.
Sang baby twin boy pun sudah dibersihkan dan hendak di bawa keruang khusus bayi oleh perawat.
Jenazah kedua orang tua baby pun segera di urus oleh pihak rumah sakit sesuai permintaan mendiang.
Setelah di mandikan serta di kafani, dua jenazah ini pun di bawa ke masjid untuk di sholatkan dan kemudian akan segera dikebumikan.
Dua baby twin menangis kejer, beberapa perawat di buat kebingungan karena segala upaya dilakukan tak kunjung membuat baby twin berhenti menangis.
Bahkan dokter dan seseorang yang ikut menemani proses lahiran pun tak tau harus berbuat apa. Seseorang ini adalah orang tua pengganti baby twin.
Imam masjid yang ikut membantu memandikan jenazah pria, saat selesai memandikan dan mengafani dia ingin melihat kerabatnya yang juga sefanng melahirkan di rumah sakit ini.
Saat dia melewati kamar khusus bayi dia mendengar suara tangis bayi yang menyayat hati. Imam masjid pun bertanya. Setelah dia mendapatkan jawabannya, dia pun menherti dan berinisiatif meminta izun pada puhak rumah sakit agar baby twin di ikut sertakan dalam pengantaran kepergian kedua orang tuanya.
Yah pada akhirnya sebelum jenazah di sholatkan baby twins pun di bawa ke masjid bersama dua perawat dan imam masjid.
__ADS_1
Qadarullah setelah di bawa ke masjir baby twin diam bahkan terbit swnyum di bibir mereka berdua.
Seolah baby twin ingin ikut menyolati kedua orang tuanya. Harum semerbak tercium di seleruh ruang dalam masjid.
Setelah di sholatkan, imam masjid meminta perawat yang membawa baby twin untuk mendekat ke keranda kedua jenazah.
Lagi-lagi pemandangan yang haru terlihat kembali. Entah sejak kapan tangan kedua baby twin lepas dari bedongannya dan menyentuh kedua keranda tersebut.
Entah mengapa imam masjid pun meminta pada orang yang ada di sana untuk membuka penutup keranda.
Setelah terbuka maka terlihat pula wajah jenazah yang beebalutu kapas. Baby twin tersenyum dan menggerakkan kedua tangan mereka seolah meminta untuk mendekat ke jenazah kedua orang tua mereka.
Sang imam ber inisiatif mengambil baby twin bergantian mendekat khan wajah baby twin ke wajah kedua orang tua mereka sebagai salam perpisahan.
Saat wajah baby twin di dekat ke wajah kedua orang tua nya, tangan baby twin pun seolah menggapai wajah orang tuanya.
Para makmum yang ikut menyolati jenazah terharu, tak ayal mereka ikut meneteskan air mata nya.
Anak yang baru hitungan jam seolah tau dengan arti keikhlasan. Dokter serta perawat yang muslim dan ikut menyolati pun ikut menitik kan air matanya.
Kedua jenazah telah dikebumikan di pemakaman yang disediakan. Yah pemakaman ini bukan pemakaman umum seperti biasanya.
Pemakaman ini memang disediakan oleh alm. Abidzar yang berada tak begitu jauh dari masjid. Masjid ini pun Abidzar yang mendiri kan.
Para dokter muslim yang ikut mengantar ke pemakaman telah kembali ke rumah sakit.
Dokter yang tidak ikut pun turut menitikkan air mata, terutama dua dokter spog serta bedah dan jantung serta dokter anak yang ikut menangani proses kelahiran baby twin.
Mereka tak kuasa menahan air mata mereka bahkan ada huga sampai tersedu ketika melihat video saat baby twin mencium wajah serta memeluk jenazah kedua orang tuanya.
"Oh God." ucap dr Angela yang tak kuasa menahan hati nya.
"Oh God, please give your heaven to them." seru dokter Monica sambil menutup mulutnya.
Saat baby twin telah berada di ruangan khusus baby, para perawat menitikkan air mata mereka.
Dokter anak segera memeriksa si baby twin karena baby twin yang baru berusia hitungan jam begitu lama keluar. Dengan kuasa tuhan walau mereka berada di luar cukup lama kondisi mereka baik-baik saja.
Di perbukitan dusun nan asri empat otang dokter tengah mencari sinyal untuk menghubungi belahan hati mereka.
Hampir tengah malam mereka pergu le perbukitan itu. Jika bukan karena cerita Ryan mungkin mereka tidak berada di bukit malam-malam.
Flaeback on
Sehabis makan mereka berempat kumpul di ruang keluarga. Mereka mulai membahas permasalahan yang dia hadapi oleh sahabat mereka Ryan.
Sahabatnya yang lain pun turut membenarkan dan pada akhirnya Ryan pun menceritakannya.
"Coba kau katakan Yan, ada apa? mungkin kami bisa memberi mu solusi.." ucap Rudi, terdengar helaan nafas panjang Ryan.
"Betul Yan, ndak baek kau simp an kekesalan macam ni." sahut Farhan, Lagi-lagi ryan menghelakan nafas dan akhirnya dia pun menveritakan.
"Sebenarnya iya ada yang sangat membuat aku kesal dan kecewa " Ryan pun mulai menceritakannya.
"Sehari sebelum keberangkatannya, waktu itu aku masih membantu Rendi operasi."
"Sedang dia di rumah berdua sama ummi. Dia memberitahu ke ummi kalau Mimi telah punya anak."
"Awalnya ummi tidak percaya dan menasehatinya, namun dia memberikan bukti foto bahkan ada chat para perawat mengucapkan selamat pada Mimi."
"Whaaatt" ucap Farhan dan Rudi memotong cerita Ryan.
"Lo mau lanjut apa kagak nih." seru Ryan.
"Oke oke silahkan" ucap Farhan dan Rudi serentak
"Lanjutkan" ucap Syahril dan Ryan pun kembali melanjutkan cerita nya.
"Nah saat aku pulang, ummi pun langsung nanya ke aku kebenarannya bagaimana."
"Aku yang baru pulang ya mana tau. Bahkan pegang hp aja tidak karena hp ketinggalan di rumah."
"Ummi pun bercerita kalau dia tau dari Di'ah. Awalnya aku ndak percaya dan aku balik nanya ke Di'ah yang kebwtulan dia ada di dapur."
"Aku nanya lah sama dia dan kata dia emang benar dan dia pun menunjukkan bukti berupa foto si baby dan chat antar perawat serta chat dia dengan teman sejawatnya."
"Aku masih tidak percaya dan aku bilang ke dia itu tidak mungkin. Eh dia seakan menyolot dan bilang lagi-lagi aku bela Mimi."
"Karena merasa ndak enak ummi aku ajak dia ke kamar dan aku pun mulai bertanya lagi. Ya walau aku sudah melihat chat antar perawat itu, tapi aku masih merasa belum percaya."
Dalam kamar Ryan mulai bicara sama Di'ah
"Bagaimana bisa" ucap Ryan.
"Ya bisa ajalah kak, mungkin meewka telah melakukan nya." jawab Di'ah.
__ADS_1
"Kamu itu.. Kamu kan liat waktu nikah aja Mimi tidak ada tanda-tanda hamil." ucap Ryan.
"Hello kak, bisa aja kan waktu nikahan perutnya di pakek in setagen atau korset." jawab Di'ah.
"Kenapa kamu bisa ngomong begitu? dia itu sahabat kamu.. Kenapa bisa kamu sampe ber pikiran seperti itu." ucap Ryan menekan amarah nya.
"Kenapa kak? kenapa? hah, apa salah aku kak. Apa yang aku bilanga ini ada buktinya."
"Kakak liat sendiri kan? ini sekua chat group perawat kak. Mana mungkin mereka bohong." ucap Di'ah, sambil menarik nafas dalam.
"Ya heh hmmm ya aku memang selalu salah di mata mu, tapi dia... Heh, ( turun naik dada nya karena emosi ) kalau dia selalu benar dimata mu." ucap Di'ah
"Huum huh, jelas-jelas sudah ada buktinya. Tapi tetap aku yang salah.." ucap Di'ah.
"Bela saja dia teruss sesuka hatimu."
"Cukup Di'ah." ucap Ryan.
"Coba kau berpikir, kau sahabatnya tentu kau tau siapa sahabat mu itu, bukan kau menyebarkan fitnah begini." ucap Ryan lagi
"Hah fitnah? fitnah kakak bilang? liat kaak, ni liaaat." ucap Di'ah dengan memberikan hp ny ke tangan Ryan.
"Bukti apa lagi hah!! Liat itu.. Disana juga ada foto Mimi sedang menggendong bayi itu." ucap Di'ah.
Ryan pun melihat foto itu dengan menggelengkan kepalanya tudak ingin percaya dengan apa yang dia liat.
"Masih tidak percaya hah! "Dan liat disana juga ada laki-laki ber jass mengazaninya."ucap Di'ah.
"Ooow atau jangan-jangan, Mimi cepat pulang ke LA karena memang sudah waktunya melahirkan."
"Hah, ujian di jadikan alasan padahal emang sudah waktunya. Emmm atau itu juga bukan anak Mimi dengan kak Syahril. Liat saja laki-laki itu atau itu anak dia sama Mimi."
"Cukup Di'ah. Jangan kau menyebarkan fitnnah ini ke siapa pun kalau kau belum tau kebenarannya." ucap Ryan dengan melempar hp Di'ah ke atas kasur.
Ryan berjalan menuju nakas dan di ambilnya hp di dalam laci lalu dia keluar kamar.
"Terus Yan, kau ngapain keluar kamar?" tanya Rudi.
"Aku berusaha nelpon Mimi, tapi tidak di angkat bahkan sampe nomornya pun tak aktif lagi." jawab Ryan.
"Coba liat foto yang dia maksud Yan?" ucap Syahril
"Foto ya ng mana Ril? kalau foto Mimi gendong bayi dan laki-laki yang mengazani itu aku ndak punya. Itu ada di hp Di'ah." ucap Ryan.
"Anaknya cewek atau cowok Yan?" Tanya Farhan.
"Twin boy." ucap Ryanz.
"Whaatt waw amazing Riil." sahut Rudi.
"Tunggu-tunggu, Riil. Waktu MP emang kau ndak liat perut Mimi? buncit atau ndak?" imbuh Rudi.
"Nah iya tu Riil, kau lah saksi kebenarannya." ucap Ryan.
"Apa lagi twin Riil, pasti..." ucap Rudi dengan kedua tangan mempraktekkan bentuk bundaran di arah perutnya.
"Hmmm Yan, berarti pemikiran bini kau memang la kelewat batas Yan." ucap Farhan setelah mendengar, menela'ah dan melihat pergerakan tangan Rudi.
"Maksud kau Han?" ucap Rudi.
"Coba pikir, baby twin. Kebayang kan seberapa besar perutnya. Siska hamil baby one aja ngap nengoknyo.". ucap Farhan sambil ngebayangi saat Siska istri saat hamil.
"Nah waktu nikah kemarin pun Mimi pakai kebaya kan? usahkan lihat perut buncit isi baby twin. Lihat lemak di perutnya pun ndak terlihat." imbuh Farhan.
"Betul juga tuh, nah Riil malam tuh pasti lah kan kau dah MP. Apa kau liat Mimi bawa bola dunia?" tanya Rudi.
"Ckk apa an la kalian ini." ucap Syahril.
"Jangan bilang kau.." ucap Rudi
"Apaan, udah lah." ucap Syahril dan beranjak berdiri langsung masuk kamar.
Tak berselang lama Syahril keluar dengan pakai celana panjang dan jaket.
"Woy mau kemana bro?" ucap Rudi.
"Ke bukit." jawab Syahril.
"Bukit??" ucap Rudi.
"Ikut Riil" seru Farhan dan langsung masuk kamar. Begitu pula dengan yang lain.
Flashback off.
Mereka semua langsung menelpon setelah di bukit. Begitu pun dengan yang lain.
__ADS_1
###TBC##