DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
190


__ADS_3

Bryan menatap nya dan mulai memikirkan untuk mendekatinya, perlahan Bryan melangkahkan kakinya mendekat ke arah cewek tersebut.


Bryan berdiri di depan meja sang cewek, dia ragu ingin melanjutkan atau menyerah. Namun jika dia menyerah maka nanti dia bakal jadi bahan olokan Nicko dan kawan-kawan.


Sang gadis masih fokus pada buku tentang informatika bisnis, Bryan yang ragu maaih menatap ke arah Berliana.


"Ehem." Bryan berdehem dan Berliana pun !menoleh ke arahnya.


"Lagi ngapain?" Bryan bertanya klasik dan Berliana hanya mengangkat bukunya dan menunjukkan buku tersebut kepada Bryan dan kembali melihat ke arah bukunya.


"Ouh." ucap Bryan, Bryan menjadi kaku ketika berhadapan dengan Berliana biasanya dia lancar melaksanakan aksinya merayu gadis tapi kali ini bibirnya serasa Kelu.


"Emm kamu nggak ikut ke kantin sama teman-teman mu?" ucap Bryan dan Berliana kembali menatap Bryan dengan memicingkan matanya tidak tau maksud dari bryan.


"Emm kamu nggak ke kantin gitu!" ucap Bryan.


"Nggak." jawab Berliana dan kembali menghadap ke bukunya.


Sebenarnya Berliana tau siapa itu Bryan dan bagaimana kelakuan Bryan di kampusnya. Selain Bryan adalah cowok yang selalu di incar para gadis, Bryan juga terkenal dengan keplayboyannya.


"Gila nih cewek gue di cuekin." gumam Bryan dalam hati.


Hingga berhari-hari Bryan mencoba mendekati Berliana namun masih sama seperti semula selalu tak di anggap. Berliana masih cuek dengan apa yang dilakukan Bryan terhadap dirinya, sehingga membuat Bryan menjadi penasaran terhadap Berliana dan ingin terus menaklukan Berliana.


Akibat taruhan itu, Bryan jarang berkumpul bersama para sahabatnya. Dia terus berusaha memikirkan bagaimana caranya agar bisa menaklukkan si gadis pendiam itu.


Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, penasaran karena dia mulai ada rasa atau hanya sebuah ambisi saja untuk bisa mendapatkan anak kedokteran tersebut.


"Hemm di pikir-pikir kenapa juga gue harus mengikuti taruhan ini, tapi.." Bryan terus bergelut dengan hatinya.


"Ya ya.. cantik, modis dan calon dokter.. Ber Li Yana cantik, manis apa lagi kalau kaca matanya di buka, hmmm.... Tapi... achhh.. kenapa gue jadi gini sih." gumamnya membandingkan antara Yaya gadis yang diincar nya dengan Berliana sebagai jalan menuju mendapatkan si gadis incarannya.


Bryan terus dan terus memikirkan cara agar bisa memenangkan taruhan ini, Dia menghabiskan waktu liburnya di apartemen dengan memikirkan strategi untuk bisa !antik perhatian Berliana.


Beda Bryan beda pula dengan Berliana, Bryan yang sibuk dengan pemikiran nya sedangkan Berliana sibuk membantu bunda Ainun mengurus adik-adik pantinya. Apa lagi hari ada beberapa orang suami istri yang akan mengadopsi salah satu adik nya.


Ada rasa bahagia dan ada pula rasa sedih di hatinya, bahagia salah satu adiknya bisa mendapatkan orang tua yang mana kelak dapat menyayangi serta mendidik mereka.


Sedih, Berliana sedih jika dia harus berpisah kepada adik-adik yang dia rawat sedari kecil. Namun dia juga tak boleh egois, dengan beberapa adik-adiknya dia harus legowo untuk menerimanya.


Dipandangnya adik-adiknya yang berusia beberapa bulan hingga yang berusia 10th itu. Berliana berkaca-kaca melihat adik-adiknya masih bermain dengan ceria sesama temannya di panti ini.


"Lian." panggil ibu dengan memegang bahu Berliana.


"Iya Bun." jawabnya.


"Kamu menangis nak?" tanya bunda ketika melihat wajah Berliana yang sudah basah akan air mata yang terus mengalir.


"Bun... Hari ini Lian akan berpisah dari mereka, apa kelak Lian bisa melihat mereka lagi bun." ucap Berliana dengan menahan isak tangis.


"A apa me re ka a kan ba ha gi a nan ti nya bun." ucap Berliana kembali dengan terbata-bata di balik rasa harunya.


"Insya Allah nak, mereka akaan bahagia bersama orang tua angkat mereka kelak. Lian cukup memberikan mereka do'a agar orang tua asuh mereka selalu memberikan yang terbaik buat mereka." jawab bunda dengan melerai pelukan Berliana dan menghapus air mata Berliana.


"Kita do'a kan saja ya nak, agar mereka tumbuh bahagia bersama kedua orang tua mereka kelak." ucap Bunda dengan pandangan menatap ke arah anak-anak yang diasuhnya sedari bayi itu.


"Iya bun, Lian akan selalu mendoakan mereka semoga orang tua yang akan mengangkat mereka aak adalah orang tua yang penuh cinta dan kasih sayang dan menganggap mereka sebagai anak merek sendiri." ucap Berliana dengan sendu.


Yah Berliana teringat akan masa dimana dia di adopsi namun tak membuat dirinya bahagia, hanya perlakuan kasar yang dirinya dapati hingga Berliana kecil kabur kembali ke panti dengan keadaan luka-luka dan semennjak itu pula dia tak ingin pergi dari sisi bunda Ainun dan bunda Hajjah.


Keesokan harinya, Berliana dan teman-temannya pergi ke kantin. Berliana yang jarang pergi ke kantin terpaksa mengikuti teman-temannya yang akan mentraktir dirinya karena berkat Berliana sang teman bisa mendapatkan nilai yang bagus saat kuis Tempo hari.


Berlian dan teman-temannya bercanda ria sambil menikmati mie ayam di kantin. Sepasang mata yang selalu melihat dan memperhatikan Berliana dari awal Berliana dan teman-temannya masuk kantin hingga Berliana tertawa lepas ketika sang sahabat nya bercerita kelucuan yang dialami sahabatnya.


"Cantik." gumamnya yang masih terdengar oleh para sahabat.


"Siapa Bry?" tanya Reno yang berada di samping Bryan dan mendengar apa yang di ucapkan oleh Bryan.


Yah sepasang mata yang melihat dan memperhatikan Berliana adalah Bryan. Bryan tak menanggapi pertanyaan dari Reno dia terus memandang ke arah meja dimana ada Berliana disana.

__ADS_1


Reno melihat ke arah mana arah padangan Bryan, Reno menautkan kedua alisnya tak mengerti dengan apa yang dilihatnya. Reno terus memperhatikan Bryan dan pandangan Bryan dan akhirnya sahabtbyang lainnya pun mengikuti jejak Reno.


"Lo suka sama Lian?" tanya Yogi kepada Bryan setelah Yogi melihat apa yang dilakukan oleh Bryan.


"Hmm" Bryan hanya berdehem. Para sahabat terperangah akan jawaban yang diberi Bryan. Deheman Bryan disangka oleh para sahabat adalah jawaban iya sedangkan Bryan sendiri tidak menyadari akan hal itu. Bryan masih fokus melihat Berliana yang sedang tertawa sehingga menampakkan lesung pipi yang menghiasi wajah imutnya.


"Beneran Bry?" tanya Satria dengan langsung menepuk pundak Bryan dan membuat Bryan kaget.


"Apaan sih Lo Sat ah." ucap Bryan dengan mengusap pundak yang terasa getir akibat telukan Satria yang tak terkira.


"Lo beneran suka ama dia?" tanya Satria kembali.


"Dia siapa?" tanya Bryan.


"Ckk itu si Lian yang sedari Lo liatin lah." jawab Satria dan Bryan !menautkan kedua alisnya.


"Sejak kapan bro?" tanya Reno.


"Sejak apanya?" tanya Bryan balik yang bingung akan pertanyaan-pertanyaan para sahabat.


"Ckk, sok bingung plus linglung Lo." ucap Yogi dengan menepuk pundak Bryan.


"Kalian pada ngomong apaan sih." ucap Bryan yang masih bingung.


"Fuuuhhh, aneh Lo." jawab Satria.


"Kalian yang aneh." ucap Bryan namun matanya sesekali melihat ke arah meja Berliana namun saat dia melihat ke arah sana Berliana dan teman-temannya sudah tiada disana. Sontak tanpa sadar Bryan langsung celingukan mencari keberadaannya.


"Kenapa? cari Lian?" tanya Reno acuh.


"Hah emm enggak kok " jawab Bryan kikuk dan dia langsung menyruput es jeruk hingga tinggal batu es nya saja.


"Sial, apa mereka tau ya?" gumam Bryan dalam hati.


"Kemana lagi Lian dan teman-temannya." ucapnya dalam hati.


"Lo kalau suka sama dia jangan Lo permainkan seperti cewek-cewek lainnya Bry. Kasian Lian, Lo kan tau siapa dia?" ucap Satria bijak.


Saat mereka sedang memberikan berbagai ucapan nasihat buat Bryan, tiba-tiba Nicko mendekat ke meja Bryan.


"Hy bro, gimana? ingat!" ucap Nicko dengan menunjuk arlojinya pertanda kalau waktu terus berjalan, setelah mengucapkan hal itu Nicko dan teman-temannya pun berlalu !meninggalkan meja Bryan dan kawan-kawan.


Bryan hanya diam dan para sahabat melihat ke arah Bryan dan meminta penjelasan apa yang dimaksud dari ucapan Nicko.


"Apa maksud dari Nicko Bry?" tanya Yogi.


"Em nggak apa-apa kok." jawab Bryan.


"Jangan sampe aja Lo hanya deketin Lian karena sebuah taruhan." ucap Dillah dengan celetukan yang langsung menskakmat Bryan.


"Apa benar gitu Bry?" tanya Reno dengan sorotan tajam.


"Emm eh emm eng enggak kok." jawab Bryan penuh dengan rasa bersalah.


"Jangan sampe suatu saat Lo akan menyesalinya." ucap Dillah.


"Dahlan gue duluan ya? dan ingat Bry jangan sakiti hati wanita sebaik Lian dan jangan sampai kelak penyesalan yang dalam yang akaan Lo terima." ucap Dillah dan langsung beranjak untuk segera pergi ke kelasnya.


Bryan terdiam akan ucapan demi ucapan dari para sahabat. Ya selama ini dia hanya menyukai cewek-cewek untuk sesaat dan setelah dia bosan maka dia akaan meninggalkan para cewek-cewek tersebut.


Harinterhs berlalu ingin Bryan mengakhiri taruhan ini, karena dia juga ada rasa takut bila apa yang dikatakan para sahabat ada benarnya namun keegoisan masih menguasai jiwanya.


Dengan tekad bulat Bryan mengambil ide konyol nya dia berencana akan menembak Lian disaat Berliana berada di kantin bersama teman-temannya. Hingga tibalah saat yang di tunggunya itu.


Berliana makan di kantin bersama para sahabatnya begitu pula dengan Bryan serta Nicko yang juga sedang berada di kantin kampus pada hari itu.


Nicko menyeringai melihat ke arah Bryan dengan tatapan mengejek karena sudah hampir satu bulan Bryan tak kunjung bisa membuktikan omongannya tempo hari.


Bryan yang melihat seringaian dari Nicko pun membukatkan hatinya untuk menembak Berliana di depan teman-teman kampusnya yang berada di kantin.

__ADS_1


"Lo mau kemaana Bry?" tanya Reno ketika Bryan beranjak dari kursinya dan langsung berjalan menuju meja Berliana.


Dengan menarik nafas dalam, Bryan yang sudah berada di samping Berliana pun langsung berjongkok dan itu sontak !e!buat Berliana menghadap ke arah Bryan.


"Eh kamu ngapain?" tanya Berliana kaget ketika melihat aksi Bryan.


"Berliana Putri, satu bulan lebih aku mencoba untuk mendekatimu namun kau selalu acuh pada ku, dan sekarang ini aku tak bisa lagi menunggu nya.. Berliana Putri maukahbkau menjadi kekasih ku?" ucap Bryan dengan menyodorkan sebuah cincin berlian yang masih terletak dalam kotak berbentuk hati tersebut.


Semua yang berada di kantin langsung terperangah akan aksi yang di tunjukkan oleh Bryan kepada Berliana. Berliana hanya diam terpaku, sejujurnya dia juga melihat dalam waktu kurang lebih satu bulan ini yang Manna Bryan selalu berusaha mendekati nya. Namun Berliana tak mengetahui jika apa yang dilakukan Bryan itu hanya semata karena sebuah taruhan.


Berliana melihat ke arah para sahabatnya dan para sahabatnya hanya menggeleng tanda tak setuju. Siapa yang tidak tau dengan sepak terjang Bryan di kampus, seorang playboy yang hanya menyukai wanita sesaat.


Bryan masih dengan berjongkok menunggunjawaban Berliana. Lama Bryan berjongkok namun Berliana tak kunjung meberi jawaban. Bryan mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah Berliana yang hanya diam.


"Bagaiman Lian, apa kau mau menjadi kekasih ku? Jujur sebulan ini aku .. Emmm aku." Bryan terdiam karena dia ragu akan perasaan yang ada dihatinya. Sedangkan semua yang ada di kantin menunggu kelanjutannya.


Berliana masih dia dan dia ingin mendengarkan apa yang akan di ucapkan oleh Bryan.


"Ayoo Bry, Lo kenapa.." seru Nicko dari mejanya, Bryan melihat nyalang ke arah Nicko.


"Ya Tuhan apa yang harus aku katakan." gumam hati Bryan.


Bryan memandang Berliana yang kebetulan juga melihat ke arah Bryan dan Amerika pun saling tatap. Ada rasa geetar di antara mereka berdua, Berliana tersadar akan tatapannnya dia pun memalingkan wajahnya.


"Ya Allah, kenapa hatiku merasakan yang aneh." ucap Berliana dan bryan di dalam hatinya.


"Apakah aku benar-benar menyukainya?" ucap Bryan dalam hati.


"Ya Allah, apa yang harus Lian jawab. Apakah dia benar-benar akan apa yang dilakukannya." ucap Berliana dalam hati dan sejenak menutup matanya.


"Hey Bry, emang Lo mau mengatakan apa hah!" ucap salah satu Berliana.


"Emm jujur aku menyukaimu beeliana Putri. Sekali lagi aku katakan aku menyukaimu, maukah kau jadi kekasih ku?" ucap Bryan dengan lantang.


Para sahabat Bryan terperangahnmendengar ungkapan dari Bryan tersebut. Para sahabat juga melihat kesungguhan pada Bryan karena setiap do'a menembak cewek, Bryan gak pernah menembak menggunakan cincin berlian seperti yang dilakukannya saat ini.


Tak jauh dari Bryan berada ada beberapa pasang mata yang melihat aksi Bryan tersebut yang !membuat hati mereka cemburu tak terima karena mereka tak pernah diperlakukan seperti mana Bryan memperlakukan Berliana. Yah !mereka adalah cewek-cewek yang sedang dekat atau !menjalin hubungan dengan Bryan.


"Bagaiman Lian?" tanya Bryan lirih, beeliana melihat kembali ke arah Ara sahabatnya dan para sahabat menggeleng. Berliana melihat ke arah Bryan dan Berliana melihat ada kesungguhan pada diri Bryan, Berliana melihat ke arah para sahabat Bryan dan mereka pun menunggu jawaban dari Berliana.


Berlian menghirup udara dengan dalam dan setelah itu dia pun menghembuskan secara perlahan. sebelum dia menjawab.


"Emm maaf, jika aku menerima mu apa yang akaan kau lakukan? Bagaiman dengan para kekasih mu." jawab Berliana.


"Aku akan menjagamu dan aku akan menyayangimu setulus hatiku dan aku akan memutuskan mereka semua." ucap Bryan dengan lantang dan didengar oleh para cewek yang !asih berstatus kekasih nya.


Atas ucapan Bryan tersebut membuat lara kekasih nya marah dan dengan langkah cepat para kekasih itu kompak mendekat kenarah Bryan.


"Apa maksudmu Bry?" tanya salah satu kekasih Bryan, Bryan kaget ternyata ketiga kekasih nya itu berada di kantin.


Bryan terdiam tanpa ekspresi, dilihatnya Berliana dan dilihatnya kembali ke arah Nicko yang telah menyunggingkan senyum yang sangat puas.


"Iya apa maksudmu?" tanya cewk kedua nya.


"Mulai detik ini aku memutuskan kalian, dan kita sudah gak memiliki hubungan apa-apa." jawab Bryan dengan lantang.


"Oo hanya karena dia kau memutuskan aku.." ucap cewek ketiga dengan lantang.


"Seperti yang kalian lihat dan kalian dengar, mulai sekarang kota putus." ucap Bryan gentlemen.


"Plak plak"


"Plak plak"


"Plak plak"


"Dasar playboy, bajingan kau Bryan. Lihat saja nanti gue bales lo." ucap salah satu kekasih Bryan tepatnya !antan kekasih nya dan berlalu pergi sambil menatap Berliana dengan sorotan mata yang tajam.


Sedangkan Bryan untuk mendapatkan Berliana dia mendapatkan hadiah tamparan bolak balik sampai tiga kali dari para mantan.

__ADS_1


Berliana terdiam begitu pula dengan para sahabat mereka. Para sahabat merasa senang akaan apa yang dilakukan oleh Bryan. Dan para sahabatnya Berliana juga merasa kaalau Bryan sungguh-sungguh namun Berliana hanya diam...


Apakah Berliana akan menerima begitu saja, Next bab. Thanks


__ADS_2