DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
244


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah harapan tetapi harapan itu masih berada di angan-angan. Meraih kesuksesan di usia muda dengan ilmu yang didapatkan nya dari pendidikan serta dari sekitar ro tak menampik semua sudah !mengalir didarahnya.


Pagi hari dengan langkah penuh percaya diri Dillah pergi ke kampusnya untuk bertemu dengan para sahabatnya. Dan di hari ini juga dia akan melihat resto cabangnya yang baru siap direnovasi.


Seperti biasa mereka akan bertemu di kantin Bu Ruminah namun yang membedakannya adalah menu kesukaannya di lagi hari.l


"Huum huh" Dillah menarik nafasnya secara perlahan dan di hembuskannya.


Dia terus berjalan menuju meja di mana para sahabat sudah menantinya.


"Hy bro." ucap Dillah dengan melambaikan tangannya kepada para sahabat setelah sampai di meja mereka salam adu jotos ala lelaki.


"Gimana Dil, sudah berapa persen persiapannya?" tanya Reno.


"Emm seharusnya sudah mencapai 90persen dan lagi finishing. Yah mudahan hari ini kelar semua." jawab Dillah dengan melambaikan tangan pada pelayan Bu Ruminah untuk memesan sarapan.


Bu Ruminah masih berjualan karena kampus belum sepenuhnya libur, Bu Ruminah harus extra mencarimuang untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk pengobatan sang anak. Entah apa yang akan dia lakukan jika libur telah tiba.


Namun Bu Ruminah akan berusaha dan dia akan mencoba melakukan berjualan menu masakannya secara offline dan online seperti yang Mimi katakan tempo hari.


"Emm hebat kamu Dil, prediksi kamu benar saat membeli tanah disitu." ucap Yogi.


"Betul itu Gi, jadi uang yang kita keluarkan disana tidak akan sia-sia." sahut Satria.


"Emm jadi gimana dengan kamu Gi?" tanya Reno.


"Ya sama Ren dengan Dillah masih tahap finishing." jawab Yogi yang juga buka tempat usaha ditempat itu.


"Emm yaudah kita kesana aja sekarang yuk?" ajak Reno.


"Eh bentaran lah, pesanan aku aja belum datang." ucap Dillah yang masih menunggu pesanannya. Tak lama pesanannya pun datang Dillah pun segera menyantapnya.


Setelah Dillah seleai dengan sarapan nya, mereka pun beranjak dan segera pergi menuju lokasi temnpat usaha mereka yang baru.


Tempat usaha mereka berada sedikit jauh dari perkotaan, entah mengapa awalnya mereka bisa membeli tanah disana yang jelas-jelas belum begitu ramai tempat orang berusaha.


Namun beruntungnya mereka, tanah yang mereka beli berada di pinggiran jalan yang bila membuka usaha merupakan tempat nyang strategis.


Dan itu sudah terbukti saat ini, di depannya sebuah pemerintahan setempat membuka taman bernuansa alam.


Beberapa puluh menit kemudian mereka pun sampai di lokasi, mereka segera turun dari mobil mereka dan langsung masuk ke dalam untuk melihat kinerja para pekerja nya.


Cafe dan resto Dillah sesuai dengan prediksinya hari ini selesai karena para pekerja hari ini sedang mengecat tempat itu. Begitu pula dengan tempat coffe been Reno hari ini pun akan selesai.


Sedangkan tempat Yogi hari ini belum bisa selesai karena dia selalu ingin merubah gaya ruangan dan Satria pun begitu dia akan menambahkan ruangan khusus lagi.


Disaat Dillah akan mengecek cat apa yang akan di gunakan di luar tanpa sengaja dari kejauhan Dillah melihat orang yang di sukainya diseberang tempat dia berdiri, Dillah terus memandanginya hingga orang tersbut masuk ke dalam area😍


"Lagi liatin apa sih bro?" tanya Reno ketika melihat Dillah yang tiba-tiba diam dan tidak menyahuti saat dirinya memanggil.


Yogi dan Satria pun melihat ke arah Dillah dan akhirnya mereka melihat kemana tujuan mata Dillah itu berada.


"Lah itukan" ucap Satria namun langsung terhenti ketika Yogi menyenggolnya. Dillah masih melihatnya dan entah mengapa hatinya menyuruh dia untuk kesana.


Perlahan denagn pasti Dillah berjalan keluar dari area restonya, Dillah pun menyeberangi jalan dan terus berjalan menuju taman yang baru di buka itu. Ya tempat usaha Dillah dan teman-temannya berada di kawasan taman yang baru di buka.


"Eh Dil, Lo mau kemana?" ucap Reno namun tak di gubris oleh Dillah yang telah melangkahkan kaki keluar.


"Nah kacau nih anak, kesambet kali ya?" ucap Yogi pun ikut melangkahkan kakinya mengejar Dillah.


"Iya dia kesambet cinta tak sampai." sahut Satria dengan melangkah cepat untuk menyeimbangkan langkah teman-temannya.


"Eh bro ngapain sih ngejar orang yang mau pacaran, ngerusak momen aja Lo." seru Satria.


"Gila Lo Dil, ngapain pakek diikutin segitunya.'' ucap Reno.


"Haduh nih anak, kita mgomkng dari tadi nggak ada satupun. di gubrisnya" sahut Yogi dengan memeluk keningnya.


"Dil, hei sadar Dil." ucapmreno lagi dengan mencoba menahan bahu Dillah.


"Berisik kalian." jawab Dillah yang masih terus melangkah.


"Hei bro stop, gila aja lo. Mau jadi pebinor Lo! Sadar bro dia itu sudah punya tunangan" ucap Satria yang ikut mencoba menyadari Dillah.


"Cinta boleh-boleh aja bro, tali jangan sampe Lo ngerusak hubungan mereka gitu dong." ucap Reno dan seketika Dillah pun berhenti.

__ADS_1


"Cinta nggak harus memiliki bro, apa Lo tega melihat nya bersedih? noh Lo liat, mereka begitu tampak bahagia." ucap Yogi mengingatkan dannmenmunjuk ke arah Mimi dan Syahril yang sedang berswafoto.


"Lihat bro, Mimi bahagia dengan cowoknya, ngapain juga Lo kesini. Mau nyamperin dia? ngapain?" ucap Satria.


"Lo mau nyamperin dia terus bilang Lo cinta dia gitu!! hei sadar Lo bukan siapa-siapa bagi Mimi, bahkan Mimi aja nggak tau siapa Lo! walau sekalipun Lo pernah ketemu dia belum tentu dia ingat ketemu sama Lo. Sadar Dil." imbuh Satria.


Dillah terdiam, apa yang dikatakan oleh sahabatnya benar adanya. Kenapa dia harus ke sini, buat apa? itulah yang sedang dia pikirkan. Dillah menatap nanar ke arah Mimi yang selalu mengambangkan senyum.


Dillah melihat ke arah mereka berempat duduk di bebatuan yang sengaja dipasang oleh pihak pengelola sebagai tempat duduk.


Dillah berdiri tak sebegitu jauh dari posisi dimana Mimi dan Syahril berada. Dia masih terus memandang ke arah Mimi terkadang terdengar suara mereka tertawa.


Entah kenapa hatinya begitu damai jika melihat senyuman Mimi namun sangat sakit bila melihat Mimi bersama lelaki lain.


Apalah dirinya hanya seorang pujangga yang mengejar cinta, namun belum dikejar cinta nya bersama dengan orang lain.


"Dil ngapain kita disini, ayo kita balik." ucap Reno dan mengajak Dillah ke!balik balik ke resto nya.


"Iya Dil, lebih baik kita kroscek pekerja dari pada disini yangnada menambah sakit hati Lo." ucap Yogi.


"Sakit nggak hati Lo melihat dia taqa bahagia dengan tangan terus bergandengan gitu? kalo sakit mending segera kita pergi dari sini." ucap Satria dan berusaha menarik lengannya namun Dillah tak menggubrisnya.


"Dil.." panggil Reno.


"Kalau kalian mau balik, balik aja." jawab Dillah dengan mata masih melihat ke arah Mimi, entah mengapa hatinya meminta dirinya untuk tetap berada di taman ini.


"Lo mau apa sih Dil? lo mau datengin mereka gitu!! sadar Dil jangan ganggu hubungan orang." ucap Satria yang mulai jengah melihat sikap Dillah.


"Dil, apa yang dikatakan Satria benar. Mau ngapain kamu disini?'' tanya Reno.


"Huuum huh," Dillah hanya menghelakan nafasnya.


ke!udian Dillah melihat ke arah kirinya ada gazebo, diapun berjalan menuju gazebo itu dan dia pun duduk disana diikuti oleh ketiga sahabatnya.


"Kenapa Dil?" tanya Reno.


"Aku ndak tau, aku hanya !mengikuti kata hatiku saja." jawab Dillah.


"Lupakan dia Dil, biarkan dia bahagia sama pasangannya. Toh percuma juga Lo deketin dia, siapamlo buat dia." ucap Satria, Dillah hanya menghelakan nafasnya berkali-kali.


Ditempat Mimi berada mereka berempat saling bercerita hingga Ryan pamit untuk membeli makanan begitu pula dengan Irsyad dan kini tinggallah Mimk dan Syahril.


Mimi merebahkan kepala di bahu Syahril, tangan kanan Syahril memeluk tubuh Mimi dari sampingsedangakn tangan kiri terus menggenggam tangan Mimi.


Mereka duduk menghadap ke arah danau itu, di danau juga ada sepasang angsa putih yang sedang berenang hilir mudik.


"Lihat kak angsa itu selalu bersama" ucap Mimk dengan menunjuk ke arah angsa yang selalu berdua kemanapun pasangan nya bergerak.


"Iya, kakak juga ingin seperti itu." jawab Syahril.


"Hemm" ucap Mimi.


"Kakak ingin sekali kemana kakak selalu ada adek dosisi kakak." ucapnsyahril dengan pasangan kedepan.


"Emm kak.'' panggil Mimi dan duduk seperti biasa.


"Iya, ada apa?" jawab Syahril dengan memandang Mimi.


"Maafkan Mimi." ucap Mimi.


"Maaf buat apa?" tanya Syahril.


"Maaf karena sampe sekarang hati Mimi masih ada keraguan walau pun Mimi sudah menjawab iya pada kakak.'' ucap Mimi dengan jujur.


Syahril melihat mata Mimi tepatnya manik mata Mimi yang terlihat kejujuran dan keraguan disana.


"Apa adek menyesal menjawab iya?" tanya Syahril.


"Hemm tidak tau, Mimi tidak ada merasa menyesal namun entahlah mengapa hati Mimi masih ada keraguan. Maafkan Mimi." jawab Mimi dan meminta maaf lagi.


"Kak,'' panggil Mimi.


"Iya dek." jawabnya.


"Untuk membina sebuah keluarga selain memiliki rasa sayang dan cinta serta harus ada saling keterbukaan, saling memahami satu sama lain, tidak ada kebohongan di dalamnya baik itu bohong demi kebaikan atau bukan. Mengayomi, melindungi, menutupi segala kekurangan dan kelebihan pada masing-masing. Menutupi aib keluarga, iya kan?" tanya Mimi.

__ADS_1


Deg Syahril merasa tersinggung dengan ucapan Mimi yang bilang saling terbuka dan tidak ada kebohongan.


"Emm iya." jawab Syahril dengan senyum.


"Menurut kakak visi misi kakak kedepannya gimana setelah kita membina rumah tangga?" tanya Mimi.


"Visi misi, emm selain dengan apa yang adek katakan. kakak juga akan terus berupaya memberikan kebahagian pada adek, kaka k akan selalu memomkrsatuakn keluarga kota kelak, kakak juga ingin kemana pun kakaak berada ada adek sisi kakak baik suka maupun duka nya. Bagi kakak dunia kakak adalah adek, dengan begitu kakak tidak ingin siapapun itu mengganggu kehidupan kita. Mari kita melangkah mewujudkan impian dan cita-cita kita." jawab Syahril. Mimi hanya tersenyum.


"Hemm, apa ada yang mau kakak katakaan lagi?" tanya Mimi.


"Maksudnya?" tanya Syahril.


"Tidak ada maksud apa-apa, seperti yang Mimi katakan tadi harus ada keterbukaan dan tidak ada kebohongan. Mimi melihat ada yang kakak sembunyikan dari Mimi." ucap Mimi dengan memandangi wajah Syahril.


"Mimi merasa kakak bukan lagi kak Syahril yang Mimi kenal, Kaka dulu tidak pernah menyembunyikan hal apapun dari Mimi, dulu kakak selalu bercerita apapun itu dari hal yang terkecil maupun terbesar sekali pun ( adalah hati Mimi kecuali perjodohan ). Apa ada yang mau kakak katakan atau bercerita sama Mimi?" tanya Mimi.


Syahril bingung mau berkata apa pada Mimi, apa yang dikatakan Mimi benar adanya. Dirinya telah menyembunyikan hal yang mungkin hal terbesar yang dihadapinya sekarang.


Mimi hanya diam dan masih melihat ke arah Syahril yang kelihatan bingung. Mimi memegang kedua tangan Syahril seraya meliaht lekat mata Syahril.


"Katakanlah! supaya kedepannya kita tidak merasa terbebani." ucap Mimi.


"Kakak boleh bertanya?" tanya Syahril dan Mimi mengangguk.


"Apa adek mencintai kakak?" tanya Syahril dan Mimk tersenyum.


"Pertanyaan macam apa itu? kakak tentu lasgintau jawaban nya. Tanpa Mimk jawab kakak pun tau apa jawaban Mimi." jawab Mimi.


"Apakah adek bersedia menjalani kehidupan sama kakak kelak walau pun kehidupan kita kelak penuh rintangan dan cobaan?" tanya Syahril.


"Kak, namanya kehidupan pasti memiliki rintangan dan cobaan, tidak ada namanya hidup itu mulus dan lurus. Semua tergantung pada diri pribadi seseorang dalam bagaimana menghadapi segala rintangan dan cobaan kedepannya bahkan duei sekalipun. Dalam hubungan itu satu pondasinya komunikasi, keterbukaan dan kejujuran maka seberat apapun rintangan, cobaan dan setaja apapun duri yang akan hadir asal pondasi itu ditegakkan insya Allah badaioun akan berlalu." jawab Mimi.


Lagi-lagi Syahril merasa tersudut, dia ragu jujur atau tidak kepada Mimi.


"Ada apa kak? katakanlah yang sebenarnya?" tanya mimi yang melihat Syahril menunduk seakan ada beban di hatinya.


"Katakanlah biar tidak menjadi beban." ucap Mimi lagi.


"Mimi akan mendengarkan nya dan hanya Allah jika Mimi mampu menerimanya maka Mimk akaan menerimanya jika tidak Mimi akan berupaya untuk menerimanya walau sepahit apapun itu." ucap Mimi yang entah mengapa keraguan dihatinya samakin kuat.


"Mimi rindu maka yang dulu, kakak yang selalu ceria tanpa beban kalangan selalu memotivasi Mimi untuk selalu berjuang menjalani hidup. Tapi kenapa sekarang kakak seperti menanggung beban yang begitu berat." ucap Mimi dan Syahril pun melihat ke arah Mimi.


"Ada apa? beberapa hari ini Mimk selalu melihat kakka banyak pikiran. Apa yang sedang kakak pikirkan?" ucap Mimi dan bertanya kepada Syahril.


"Katakanlah dengan jujur, Mimi tau kakak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mimi, cuma Mimk hanya ingin ada kejujuran dari kakak." ucap Mimi, Syahril hanya diam.


Tanpa di sadari Mimk dan Syahril, Ryan dan Irsyad sudah berada di belakang mereka dan mendengar sebagian pembicaraan Mimk dan Syahril.


Ryan dan Irsyad tau betul siapa Syahril, Syahril pastinya juga tidak ingin berbohong namun Syahril juga tidak ingin Mimi bersedih dan menambah beban bagi Mimi.


"Mimi tau kakak tidak ingin mengatakan nya takut Mimi bersedih ya?" ucap Mimi dengan tersenyum dan menebak dengan benar.


"Dek huum huh sebenarnya kakak.." ucapan Syahril terpotongbkarena Ryan dan Irsyad langsung menghampiri!liri mereka.


"Emm ayo makan ntar baksonya dingin." ucap Ryan dengan memberikan semangkuk bakso pada Syahril


"Iya nanti lagi ceritanya,." sahut Irsyad dengan memberikan semangkuk bakso lada Mimi.


"Cerita itu butuh tenaga, biar lancar ceritanya harus diisi amunisi dulu." ucap Ryan.


"Betul itu, tanpa amunisi tidak akan tenaga yang bisa bikin kita semangat untuk bercerita dan menjalani hidup.'" cerocoa Irsyad.


"Emm Syad." panggil Mimi.


"Iya." jawabnya.


"Klaunirsyad dan kak Ryan terus bicara kapan isi amunisinya?" tanya Mimi.


"Hahaaa iya ya yaudah stop bicara segera santap baksonya." ucap Irsyad.


Mereak pun menyantap bakso yang gurih terasa dagingnya dan pedas namun hambar bagi Mimi dan Syahril karena masih ada beban yang mengganjal di hatinya.


Ryan melihat kearah Syahril dan Syahril hanya menganggukkan seakan mengatakan iya.


Nah buat riders terimakasih atas segala dukungannya sehingga bisa manambah amunisi bhat authore agar semangat lagi ya walaupun author tidak bisa up bnahk karena membagi waktunya dengan si kecil yang sering protes lewat tingkah lakunya.

__ADS_1


Tbc


Assalamualaikum selamat lagi selamat beraktifitas.


__ADS_2