DOKTER JANTUNGKU

DOKTER JANTUNGKU
mengungkap kebenaran 3 kecelakaan.


__ADS_3

Dilihat rumah sudah sepi karena sudah jam sepuluh malam, kemungkinan besar semua sudah tertidur. Syahril bingung apa yang harus dia lakukan hingga diapun kepikiran untuk keluar rumah saja untuk mencari angin.


Syahril kembali naik ke atas menuju kamarnya, diambilnya jaket kulit serta kunci motor. Setelah itu dia kembali turun dan langsung menuju garasi, diambilnya motor sport lalu dia dorong keluar karena tak ingin mengganggu orang rumah yang sedang beristirahat, maka dari itu dia mendorongnya hingga keluar garasi hingga menuju gerbang rumahnya.


Ajo yang melihat Syahril mendorong motor keluar pun terheran.


"Manga di dorong Riil? ( mengapa didorong Riil?) " tanya ajo.


"Iya pak takut ganggu orang nanti." jawabnya.


"Mau kemana malam-malam begini." tanya ajo lagi yang melihat jam sudah menunjukan jam 10.30 malam.


"Cari angin pak, Aril ndak bisa tidur." jawab Syahril.


"Ndak pakek helm Riil?" Tanya ajo lagi.


"Ndak payah lah Pak, Aril cuma cari angin sekitar sini. Ndak paralu helm( tidak perlu helm ), Aril sebentar aja pak, Ariil keluar dulu yo pak. Assalamualaikum." ucap Syahril dan pamit pada ajo.


"Iyo hati-hati, waalaikum salam." jawab ajo,


"Ya Allah manga perasaan ambo ndak enak ( ya Allah kenapa perasaan saya tidak enak ).'' gumam ajo Qadir setelah Syahril telah berlalu dari hadapannya.


"Ya Allah lindungilah Syahril." Gumamnya dan berdoa.


Syahril yang melaju dengan kecepatan sedang tak tau harus kemana, akhirnya dia pergi ke pantai. Mungkin dengan suasana pantai dan hembusan angin pantai bisa menjernihkan pikirannya.


Sesampainya di pantai dia memarkirkan motornya dan diapun berjalan menuju pinggir pantai. Dia terus berjalan dan duduk di bebatuan yang berada di pinggiran pantai itu.


Syahril duduk sambil melamun dan menikmati hembusan angin malam dari arah laut. Terlihat dari kejauhan kapal-kapal nelayan bergoyang terkena ayunan ombak dan angin.


Lama berada di pantai dia pun bosan, dia pun berlalu berjalan menuju motornya, tapi dia tak tau harus kemana lagi.


Menghelakan nafas berulangkali, bahkan suasana angin malam pantai pun tak membuatnya merasa kantuk.


Akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja, setelah sampai persimpangan arah keluar dari pantai, dia mengurungkan pulang dan kembali mengitari area pantai.


Entah sampai berapa kali dia mengitari jalanan menuju pantai ini. Dia melajukan motor dengan kecepatan sedang dan terus melajukan motornya tanpa arah.


Sebelum dia akan mengulangi mengitari jalanan, ada dua orang yang melihat dirinya sedang melajukan motor dengan melamun.


"Yank, bukannya itu kak Syahril ya?" tanya Dewi, ya dia adalah Dewi dan Andri yang sedang menikmati makan ikan bakar dipinggiran pantai.


"Mana?" tanya Andri.


"Itu tuh yang pakek motor yang melaju sana tuh " ucap Dewi dengan menunjuk ke arah jalan yang sudah menjauh.


"Ah nggak mungkinlah, dia kan pulang ke Jambi." ucap Andri tidak percaya.


"Isss Yank beneran deh, tadi itu pasti kak Syahril. Motornya aja seperti motor kak Syahril kok." ucap Dewi yang keukeh.


"Motor kayak dia banyak dek." jawab Andri yang tidak percaya.


Sesaat kemudian Dewi melihatnya lagi, kali ini dia dengan cepat menunjukannya ke Andri.


"Yank.. Yank lihat deh, beneran kok itu kak Syahril. Coba deh lihat." ucap Dewi dengan menunjuk serta membalikkan badan Andri.


"Beneran kan itu kak Syahril." ucap Dewi


"Emm tapi kapan dia baliknya." ucap Andri.


Tak lama kemudian mereka tak melihat Syahril lagi, namun saat mereka akan beranjak menuju motor terlihat lagi Syahril melewati mereka dengan keadaan melamun.


"Aneh deh kak, kenapa kak Syahril kelilingi jalanan?" tanya Dewi.


"Emm iya, ada apa dengan dia?" ucap Andri yang juga heran.


Tak lama terdengar suara barang terjatuh atau bentrokan dengan keras..


Braaaaak ciiiiieeeeeett braaak braaak.


Dewi yang melihat itu langsung lemah kakinya saat melihat ada motornya yang teetabrak dari mobil di depannya, lalu mobil di belakang langsung putar balik banting setir sehingga membawa motor Syahril kiut terseret.


"Kak Syahriiiill." ucap Dewi dengan berteriak ketika yang dia lihat adalah motor Syahril yang terpelanting bahkan terserat oleh mobil dari arah depannya dan kemudian motornya pun tertabrak oleh mobil dari arah belakang dan membuatnya terpental jauh terpisah dari Syahril.


"Syahriiiil." teriak Andri yang langsung berlari meninggalkan mobilnya dan Dewi. Sedangkan Dewi hanya menagis melihat kejadian itu.


Dewi pun akhirnya ikut berlari mengikuti Andri, dengan rasa was-was dan takutnya Dewi melupakan bila dirinya sedang hamil.


Dia terus berlari,hingga sampailah dia dekat persimpangan. Di lihatnya sang suami yang sudah terduduk dan memangku kepala Syahril yang penuh dengan darah.


Iya Syahril terpental berguling-guling hingga kepalanya terkena pinggiran trotoar.


"Riil, Syahril sadar Riil." ucapnya setelah dia melihat Syahril sudah tertutup matanya Dengan menepuk-nepuk pipi Syahril.


"Riil." ucap Andri, Syahril pun membuka matanya dengan senyum setelah itu Syahril pun pingsan.


"Paaak tolong pak, tolong telpon ambulance, toloong cepaat." seru Andri kepada orang-orang yang hanya berdiri disekitarnya.


"Kak Syahril, kak... bangun kak " ucap Dewi yang juga ikut berjongkok di samping sang suami.


"Ya Allah yank, maaf kakak melupakan mu" ucap Andri yang baru sadar kalau dia tadi meninggalkan Dewi sendirian di parkiran mobilnya.


"Pak tolong telpon ambulance segera pak, tolong kakak saya." ucap Dewi memohon sama bapak-bapak yang dekat dengannya dengan deraian air mata.


"Sabar dek, ambulance nya sedang dalam perjalanan." jawab si bapak-bapak. Tak lama ambulance pun tiba, Syahril segera di angkat dan dimasukkan kedalam ambulance dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.


Andri dan Dewi kembali ke parkiran untuk mengambil mobil dan mereka pun mengikuti ambulance dari belakang.

__ADS_1


Dewi tak henti-henti nya menangis, mungkin karena rasa takut, was-was atau juga bawaan orang hamil yang sensitif.


"Udah jangan nangis lagi, berdoa saja supaya Syahril baik-baik aja." ucap Andri sambil memeluk Dewi dengan tangan sebelahnya dan mengelus punggung Dewi agar tenang.


"Dek, coba telpon Ryan, Rudi dan yang lain bilang suruh mereka ke rumah sakit nurani bunda sekarang." ucap Andri dengan memberi titah pada Dewi


"Hah emm i hiks i hiks iya hiks hiks." ucap Dewi dengan Isak tangis nya dan mengambil ponsel di dalam tas nya.


Dewi menelpon Ryan terlebih dahulu namun berkali-kali tidak di angkat.


"Isss angkat dong kak hiks." gumam Dewi kesal karena berkali-kali tidak di angkat.


"Gimana?" tanya Andri ketika melihat Dewi bergumam dan menghelakan nafas kesal.


"Nggak di a hiks angkat." jawab Dewi dengan cemberut seketika dia mencium aroma darah dan tiba-tiba perutnya mual Dewi membuka jendela mobil dan memuntahkan isi dalam perutnya


"Uek uek uek.." Dewi mengeluarkan kepalanya sedikit lewat jendela dan diapun memuntahkan isi perutnya, beruntung di belakang mereka tidak ada kendaraan lain.


"Eh kamu kenapa dek." ucap Andri dan segera menepikan mobilnya.


"Kamu kenapa?" tanya Andri cemas ketika melihat Dewi memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.


Andri dengan telaten memijat tengkuk Dewi dan menggosok pelan-pelan punggung Dewi.


Saat Dewi merasa tidak ada yang dikeluarkan lagi, dia pun memasukkan kepalanya ke dalam dan berbalik, namun lagi-lagi dia melihat darah di celana serta baju Andri, seketika dia kembali merasa mual dan muntah.


"Uek uek uek" Dewi memuntahkan lagi isi perutnya tapi kali ini hanya cairan yang terasa pahit.


"Kamu kenapa?" tanya Andri takut akan terjadi sesuatu.


"Emm.. kakak jauh sana, bau darah." ucap Dewi dengan lemas dan mengusir Andri agar menjauhi nya.


"Hah." ucap Andri dan melihat bagian bawah, ternyata celana serta baju bagian perut kebawah sudah terlumuri oleh darah Syahril tadi.


"Emm, yaudah bentar biar Kakak yang telpon mereka." ucap Andri dengan mengambil ponsel dintangaan Dewi.


"Emm nggak usah biar Dewi aja kak, kakak kembali jalankan mobilnya. Nanti pihak rumah sakit nanyain pihak keluarga pasien lagi." ucap Dewi dan Andri pun mengangguk setuju kemudian dia pun menghidupkan mesin mobil dan kembali menuju ke rumah sakit.


Dewi berulangkali menelpon Ryan tetapi kembali tidak di angkat, akhirnya dia menelpon Rudi namun sama aja, terus dia menelpon Rendi pun sama saja.


"Kenapa?" ucap Andri melihat Dewi dengan raut wajah yang kesal.


"Mereka dah pada tidur kali ya, tidur kayak kebo." sungut Dewi kesal.


"Coba lagi dan bilang sekalian tolong bawakan pakaian ganti buat kakak." ucap Andri dan Dewi pun mengangguk dan Dewi pun kembali menghubungi mereka.


**


Dikediaman Syahril, amak Imah terbangun karena suara telepon rumah berdering, amak Imah pun mengangkatnya.


"Waalaikum salam amak, ini Aisyah. Amak apa anak-anak sudah sampai?" tanya Umma.


Ya yang menelpon adalah Umma, Umma sedari semalam khawatir kepada Syahril dan Ryan, dari pagi hingga siang dan sore bahkan mereka juga tidak ada memberi kabar padanya.


"Alhamdulillah alah Syah, kini mereka ala kalalok sadonyo ( Alhamdulillah sudah sudah Syah, kini mereka sudah tidur semuanya )" jawab amak Imah yang menyangka kedua anak asuhnya sudah tertidur.


"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu amak. Yaudah amak maaf Aisyah gangggu istirahat amak." ucap Umma.


"Iyo ndak baa do, emm Syah.. sabananyao ado apo dengan Syahril? ( iya tidak apa, emm Syah..sebenarnya ada apa dengan Syahril?)" tanya amak Imah.


"Huum huh, Abah Abang Syarif ado di Jambi amak, kini Inyo ado di rumah Aisyah. ( huum huh, Abah nya abng Syarif ada di Jambi Mak, sekarang dia ada di rumah Aisyah)" jawab Umma dengan menghelakan nafasnya.


"Oo apo perjodohan itu masih berlaku Syah?" tanya amaak.


"Huum kayaknyo iyo Mak, semalam kami ribut dengan keputusan yang diambil Abah tanpa sepengetahuan kami, terus Syahril mendengarkan semua. Tengah malam Syahril langsung pergi keluar. Aisyah tau pasti Syahril pulang karumah makonyo tadi siang Aisyah tanyo amak." ucap Umma menjelaskan secara garis besarnya saja.


"Oo, pantesan Muko Syahril masam sajo sejak tadi inyo sampai ( pantas muka Syahril cemberut sajansejak tadimdia samlai )." jawab amak Imah.


"Mak, tolong perhatikan Syahril yo Mak. Perasaan Aisyah ndak enak sedari semalam." ucap Umma.


"Iyo nak sudah jangan dipikirkan lagi, Aisyah istirahat sajo." ucap amal Imah.


"Iyo Mak, makasih banyak kalau ndak ado amak ndak tau kamano Aisyah minta tolong." ucap Umma.


"Sama-sama kalau ndak ado Aisyah amak pun antah apo kajadi hidup amak." ucap amak mengenang kebaikan Umma dan suami nya.


"Yaudah Mak kalau gitu Aisyah istirahat dulu, amak jugo harus istirahat, assalamualaikum." ucap Umma dan pamit


"Waalaikum salam." jawab amak Imah, saat amak menaruh ganggang telpon, Ryan menuruni anak tangga.


"Alun lalok Yan?" Tanya amak.


"Eh amak, sudah tadi Mak cuma kebangun Iyan." jawab Ryan.


"Siapa yang nelpon Mak?" tanya Ryan.


"Umma kalian yang telpon, kenapa kalian tidak kasih kabar sama dia, dia sangat khawatir pada kalian." ucap amak.


"Eh iya Iyan lupa Mak, emm HP Iyan kayaknya masih di dalam mobil, biar Ryan ambil HP Iyan dulu. Oh ya Mak, nampak Syahril ndak?" ucap Ryan dan bertanya keberadaan Syahril kepada amak.


''Indak tau amak Yan, amak ndak ado caliek Syahril do. Amak kiro kalian ala kalalok tadi ( tidak tau Mak Yan, Mak tidak ada melihat Syahril, Emak kira kalian sudah totur tadi )." jawab amak.


"Emm gitu yo Mak, mungkin Syahril samo Apak di depan kali yo Mak." ucap Ryan.


"Iyo mungkin." jawab amak.


"Emm yaudah Mak, Iyan keluar sebentar ambil HP di mobil." jawab Ryan.

__ADS_1


"Iyo amak juga mau istirahat jugo." jawab amak dan Ryan pun mengangguk seraya terus berjalan menuju garasi untuk mengambil HP nya.


Saat Ryan berjalan menuju garasi terlihat Ajo berjalan ke arah rumah.


"Mau kemana Yan?" tanya ajo pada Ryan yang hendak ke garasi.


"Emm Iyan mau ambil HP di mobil pak, Apak mau kemana?" tanya Ryan.


"Apak mau ambiek kopi, di pos alah habis kopinyo( bapak mau ambil kopi, di pos sudah habis kopinya ).'' jawab ajo.


"Oo gitu, oh yo pak Syahril sama Apak yo?'' tanya Ryan.


"Indak, inyo kalua tadi. Cuma sampe kini alun juo pulang,padahal inyo bilang tadi sabanta ( tidak, dia keluar tadi. Cuma sampai sekarang sekarang belum juga pulang, padahal dia bilang sebentar tadi)." jawab ajo dengan keresahan hatinya.


"Oh, dio bilang apa tadi Pak?" Tanya Ryan.


"Katonyo cari angin." jawab Apak.


"Oh gitu yo pak, emm iyolah pak Ryan mau ke garasi dulu ambil HP." ucap Ryan dan berpamitan pada ajo Qadir.


"Emm iyolah, apak jugo mau masuk ambiek kopi." jawab ajo dan mereka pun melajukan langkah mereka masing-masing.


Saat Ryan mengambil HP nya dan di aktifkan nya, begitu banyak panggilan tak terjawab dari Umma, Babah, dan yang terbaru dari Andri.


Dibukanya panggilan Andri dan ternyata panggilan tak terjawab itu yang terakhir lima belas menit lalu.


Saat Ryan akan menelpok balik, no Andri menghubungi nya lagi.


"Hallo assalamualaikum ada apa Ndd. " belum juga selesai bicara Ryan langsung di cela oleh orang di balik telpon.


"Waalaikum salam, kakak kemana aja hah. Sekarang juga kakak kerumah sakit nurani bunda oh ya jangan lupa tolong bawa pakaian ganti buat kak Andri." Jawab Dewi dengan memborong ucapan.


"Rumah sakit, siapa yang sakit? Andri kenapa Wi." ucapnya dan menanyakan keadaan Andri setelah dia sadar jika Dewi memintanya kerumah sakit dan membawa pakaian ganti.


"Kak Andri tidak apa-apa tapi hik hiks." jawab Dewi dengan tangis


"Tapi apa Wi? ngomong yang jelas." tanya Ryan dengan kekhawatiran.


"Tapi kak Syahril yang berada di rumah sakit." jawab Dewi dan belum selesai menjelaskan.


"Syahril, kenapa dengan Syahril. Yaudah kakak kesana sekarang kamu telpon yang lain saja." ucap Ryan yang sudah kalangkabut.


Dia bolak balik antara mengambil pakaian ganti atau tidak, kalau ngambil pakaiannya, ada dirumah nya dan dia malas kembali dulu kerumahnya hanya untuk mengambil pakaian dia mengganggu orang yang sudah beristirahat.


Mau ambil pakaian Syahril dia malas untuk masuk lagi dan akhirnya dia pun memutuskan untuk langsung kerumah sakit saja.


Saat dia akan masuk mobil ajo pun lewat.


"Apak, ayo masuk." jawab Ryan menyuruh ajo masuk kedalam mobil.


Ajo yang melihat kepanikan Ryan pun mengikuti saja apa yang disuruh Ryan.


"Ado apo Yan?" tanya ajo saat sudah duduk di bangku mobil.


"Emm Ryan mau kerumah sakit pak, nanti Apak tolong bukakan pintu pagar dan besok tolong suruh amak ke rumah sakit bawa sarapan yo pak." ucap Ryan.


"Sia nan sakit? ( siapa yang sakit?)" tanya ajo.


"Emm Syahril pak, Ryan juga ndak tau nanti ryan kabari lagi." ucap Ryan, ajo pun turun dan membuka pintu pagar.


"Pak, Ryan pai dulu assalamualaikum." ucap Ryan.


"Iyo hati-hati, waalaikum salam." jawab ajo dan kembali menutup pintu.


Ada rasa was-was di hatinya dia takut terjadi sesuatu pada Syahril.


Sesampainya di rumah sakit, Ryan langsung berlari ke ruangan UGD yang mana disana Dewi dan Andri sedang duduk menunggu Syahril, Ryan pun segera !menghampiri mereka dan menannyai keadaan Syahril.


"Ada apa dan bagaimana keadaanya Ndri huh huh huh." tanya Ryan dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Syahril kecelakaan di simpang keluar arah pantai." jawab Andri.


"Innalilahi, sekarang bagaimana." tanya Ryan lagi.


"Lagi ditangani oleh dokter." Jawab Andri.


"Oh gitu." jawab Ryan seraya duduk di langai dengan kaki diselonjorkannya.


"Kak, mana pakaian gantinya?" tanya Dewi.


"Nggak sempat Wi, emang kenapa Andri yang harus ganti baju.'' tanya Ryan.


"Tuh lihat." jawab Dewi dengan menutup hidungnya dan menunjuk ke arah Andri, Ryan pun melihat ke arah yang ditunjukkan Dewi setelah itu dia baru mengerti.


"Telpon yang lain aja" ucap Ryan yang juga cemas karena dokter belum juga keluar-keluar.


Ryan berdiri dan berjalan mondar mandir membuat Dewi pusing melihatnya.


"Kak duduk napa?" ucap Dewi.


"Hemm." jawab Ryan, didalam hati dia selalu berdoa agar Ryan selamat.


"Ya Allah lama amat dokternya." sungut Ryan yangbgerus mondar-mandir sampai teman-teman yang lain datang dengan pasangan masing-masing.


tbc


Assalamualaikum selamat malam selamat beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2