
Dikosan ketiga sahabat yang penasaran pun heboh sendiri dengan pemikiran mereka, segala asumsi dalam pemikiran mereka kerahkan hingga mentok dan pasrah.
Mereka bertiga menarik nafas panjang karena tidak mendapatkan jawaban yang menurut mereka pas.
"Masa iya Mimi gagal lagi!" ucap mereak serentak karena asumsi mereka hanya itulah yang menurut mereka pas. Mereka saling pandang dan berakhir tarikan nafas panjang.
Dengan santai Mimk keluar dengan memakai handuk seadanya melewati ketiga sahabat dengan wajah tak dapat diprediksinya.
"Kalian kenapa??" tanya Mimi sambil jalan masuk kamar diikuti ketiga sahabatnya yang selalu melihat ke arahnya.
Mimi melihat ke arah ketiga sahabatnya dengan heran akan perubahan sikap mereka sore hari itu, Mimi hanya cuek dengan mengangkat bahu nya dan langsung mengambil pakaian dan memakainya.
Setelah selesai berpakaian, Mimi menyisir rambut panjangnya yang basah, sambil terus melihat ke arah ketiga sahabat yang sedari tadi terus melihat dan menelisik dirinya.
"Kalian kenapa? kok jadi aneh gitu?" tanya Mimi.
"Mendingan kalian mandi gih biar Segaran tu wajah. Nggak capek apa tuh muka di masamin mulu." ucap Mimi dengan meletakkan sisir di atas meja dan setelah itu dia melenggang keluar seakan tidak terjadi apa-apa.
Melihat Mimi bersikap biasa-biasa saja membuat ketiga sahabt saling pandang lagi dan menghelakan nafas.
Mimi berjalan kedapur dan mengecek bahan-bahan kue nya, ternyata bahan-bahan kue nya hanya cukup untuk buat empat macam kue saja.
Mimi pun mulai mengadon yang sekiranya mudah dulu, setelah adonan siap Mimi menyiapkan cetakannya dan mengoleskan minyak kedalam cetakan.
Ketiga sahabatnya juga telah berada di dapur, mereka bertiga diam namun tangan mereka bergerak membantu Mimi mencetak edoanan kedalam cetakan.
Mimi merasa aneh dengan sikap ketiga sahabatnya yang mendadak menjadi pendiam. Mimi pandangi mereka satu persatu.
"Aneh" ucap Mimi setelah melihat ketiga sahabatnya dan ketiga sahabtnya pun melihat ke arah Mimi dengan wajah datar
"Kenapa?" tanya Mimi.
"Mending nggak usah bantuin kalau wajah kalian seperti itu, nanti kue Mimi rasanya nabi-nabi." ucap Mimi.
Mendengar celotehan Mimi yang tenang ketenangan aliran sungai membuat ketiga sahabt mendesah kesal.
"Kalian kenapa sih, diam mulu dari tadi."
"Kalau mau ditanyakan ya tanyakan aja, jangan diam masang muka masam dan datar gitu." Mimi terus mengomeli mereka.
"Kalau nggak di tanya, nggak diceritakan ya mana Mimi tau ada apa dengan kalian gitu."
"Tadi kalian main kemana?" ucal Mimi, ketiga sahabat saling pandang.
"Apa maksdunya main kemana?" tanya Selfia yang tidak mengerti akan pertanyaan Mimi.
"Ya mana taukan kalian main terus kesambet setan diam jadi kalian bersikap seperti ini " ucap Mimi.
"Si*alan kamu Mi." ucap Selfia dengan mengetok kepala Mimi dengan kotak coklat bubuk.
"Iss Fia.." ucap Mimi.
"Seharusnya kita yang ngucapin gitu sama kamu Mi." sahut Irma.
"Lah emangnya ada ala sama Mimi." jawab Mimi.
"Huhh, kamu itu. Tadi kan kita nanya hubungan kami sama kak Revan." ucap Irma.
"Oo" Mimi hanya ber o ria membuat ketiga sahabat jengkel.
"O doang" jawab mereka heran dengan menggelengkan kepala.
"Santai amat kamu Mi." ucap Muthia.
"Lah terus Mimi harus apa? jungkir balik gitu!!" ucap Mimi.
"Mi ceritain dong.. Kita penasaran Mi, masa iya kak Revan dijodohin sama Kakeknya juga." ucap Selfia.
Pletak Selfia dapat jitakan dari ketiga sahabatnya.
"Lah kok Fia sih yang dalt jitakan" ucap Selfia mengusap kepala dengan kedua tangannya dengan bibir yang dikerucutkan.
"Makanya kalau ngomong itu di pikirkan." ucap Muthia.
"Betul tuh" imbuh Irma.
"Jadi kalian penasaran itu?" tanya Mimi dan mereka bertiga memgangguk, Mimi menghelakan nafasnya dan akhirnya menceritakannya juga.
"Hubungan Mimi sama kak Revan dan keluarganya baik-baik aja kok. Dia juga nggak dijodohin sama alm kakeknya." ucapMimI tersenyum melihat Selfia yang semakin cemberut.
"Terus kapan perencanaan kalian?" tanya Muthia.
"Perencanaan apa Muth? nggak ada perencanaan-perencanaan kok." jawab Mimi.
"Jog gitu Mi, bukannya Mimi mau waktu kak Revan ngajak nikah?" tanya Irma.
"Iya Mi, kenapa disaat Mimi sudah mau malah nggak jadi." ucap Muthia.
"Muth, Ir, Fi.. Kita hanya bisa berencana dan berharap tali swmua nya kan Allah nentukan."
"Iya sih Mi, tapikan.. Muthia lihat kak Revan dan keluarganya sama sifatnya dengan kak Syahril dan keluarganya. Kita senang tau Mi melihat Mimi bisa mendapatkan orang yang memiliki sifat yang sama kak Syahril." ucap Muthia, Mimi hanya senyum menanggapi ucapan Muthia.
__ADS_1
Apa yang diucapkan Muthia adalah benar, Syahril dan Revano sama-sama orang yang menyayangi Mimi apa adanya. Mereka juga tidak neko-neko, hanya yang membedakan mereka berdua cinta. Yah Mimi hingga saat ini belum bisa me!berikan cintanya lada Revano.
jika rasa sayang, Mimi merasakan sayang lada Revano dan keluarganya. Mimi dekat dengan mereka karena merasa nyaman, Mimi merasa di hargai dan disayangi oleh mereka seperti keluarga sendiri.
"Mi" panggil mereka bertiga.
"Hmm" jawab Mimi.
"Terus?" ucap mereka.
"Nggak ada terus-terusan , Mimi bukan tukang parkir." jawab Mimi.
"Mi, kita serius Lo Mi.." ucap Irma, Mimk memberhentikan aktifitasnya sejenak dan melihat ke arah mereka dengan senyuman.
"Seperti yang Mimi katakan sebelumnya, kkta hnaya berusaha namun Allah lah yang menentukan. Jodoh itu di tangan Allah, jadi jika Allah mengatakan Kun fayakun maka akan terjadilah. Entah itu Mimi jadi menikah dengan kak revan atau tidak."
"Jika kata Allah iya maka kami dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan, nah jika Allah katakan tidak maka ya kami tidak dipersatukan." ucap Mimi.
"Hmm tapikan semua tergantung kita Mi, jadi Mimi itu jadi nikah atau tidak?" ucal Selfia.
"Sepertinya tidak ada pernikahan dengan kami berdua." akhirnya Mimi menjawab rasa penasaran mereka.
"Kok bisa!!" jawab mereka serentak.
"Ya bisa aja lah." jaqba Mimi cuek dengan terus mencetak kue musonya.
"Yah sia-sia dong kak Revan masuk Islam" celetuk Selfia.
Pletak lagi-lagi swlfia kena jitakan.
"Yaela tangan kalian ringan amat sih." sungut Selfia.
"Habis kamunitu kalau ngomong ngasal Fi." sungut Muthia.
"Mi, kenapa bisa begitu? kak Revan kan sudah bersedia pindah keyakinannya, kenapa Mimi tidak jadi nikah sama dia." ucap Muthia hati-hati takut Mimi tersinggung.
"Kan mldkh sudah ditentukan sama Allah Muth, dia masuk Islam karena hatinya emang sudah terpaut dengan ajaran kita bukan karena Mimi."
"Mimi hanya perantara nya saja, semua sudah di takdir kan allah, apa yang terjadi di dunia ini semua sudah tersirat di lauhul Mahfudz nya allah"
"Mungkin ini jalan Allah buat kak Revan." ucap Mimi.
"Mi, apa Mimi nggak cinta dan sayang sama kak Revan?" tanya Selfia.
"Lo kenapa nanya gitu sih Fi?" tanya Irma.
"Yah habis Mimi selllow aja gitu." jawab Selfia.
"Maksudnya Mimi nggak cinta gitu sama kak Revan?" tanya Irma.
"Nggak tau Ir, Mimk hanya merasa nyaman saja dekat dengannya. Nyaman tanpa ada gangguan, tanpa ada rasa takut ataupun khawatir."
"Mungkin rasa cinta itu sudah tidak ada di diri Mimi." ucap Mimi, ketiga sahabat hanya diam dengan asumsi mereka masing-masing.
Dalam pemikiran yang sama, mereka sama-sama berpikir kalau cinta Mimi hanya untuk Syahril."
"Apa Mimi masih mencintai kak Syahril?" tanya Muthia, Mimi hanya tersenyum.
Orang yang diceritakan sedang menyantap spaghetti namun spaghetti itu sangkut dileher dan membjat dia tersedak.
"Uhuk uhuk" Syahril terus terbatuk-batuk karena tersedak spaghetti.
"Riil Lo kenapa?" ucap Ryan dengan menepuk-nepuk punggung Syahril.
Setelah spaghetti yang tersangkut di leher dapat dikeluarkannya barulah Syahril merasa sedikit lega.
"Nih minum dulu" Andri menyodorkan air hangat lada Syahril.
"Makan itu jangan pakek ngelamun Riil." ucap Rudi.
"Kamu lagi mikirin apa sih Riil,? tanya Andri, Syahril meneguk habis air hangat, terlihat air mata keluar dari matanya akibat tersedak spaghetti.
"Gimana? susah enakan?" tanya Ryan.
"Hmm makasih." jawab Syahril dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Kamu kenapa?" tanya Andri yang melihat Syahril memejamkan matanya.
"Ndak kenapa-napa" jawabnya dengan mata terpejam.
"Kalau ndak kenapa-kenapa kamu tidak seperti ini, sampai makan pun melamun." sahut Rudi.
"Bukannya masalah Zahra sedang di tangani sama nak buah bang Zack." imbuh Andri.
"Hmm" jawab Syahril.
"Terus apa yang kami khawatirkan." tanya Andri.
"Aku tidak membahas hal itu." jawab Syahril.
"Kalau tidak terus apa?" tanya Rudi, hanya dua sepupunya yang terus bertanya padanya, Ryan hanya diam sambil !menikmati spaghetti bolognese nya.
__ADS_1
"Entah lah," jawab Syahril.
"Entah mengapa aku sangat merindukannya." imbuhnya
Ketiga sepupunya hanya diam setelah mendapatkan jawaban Syahril, mereak tau siapa yang dimaksud Syahril.
"Sudahlah Riil, kalau kalian berjodoh pasti akan bersatu kembali. Sekarang kami harus fokus dengan pendidikan spdan kerjaan saja dulu." ucap Andri dengan menepuk pundak Syahril.
Siapa pun akan merasa iba, orang yang selalu dicintai dan saling mencintai harus terpisah. Tak mudah meluoakan bahkan menghalus rasa itu, apa lagi rasa itu tidak pernah tercoreng sedikit pun. Hanya waktu yang !mengharuskan mereka berpisah.
"Dah dihabiskan dulu spaghetti nya." ajak Rudi namun Syahril langsung beranjak masuk kedalam kamar nya.
Dikamar Syahril memandangi foto yang masih abadi di ponselnya.
"Dek, kakak merindukanmu. Ala kamun!merindukan kakak." ucapnya dengan mengelus wajah Mimi yang berada di ponselnya.
Mimi yang di tanyakan perihal rasa cintanya pada Syahril hanya diam dan tersenyum pilu.
"Rasa cinta itu tak akan pernah hilang walau dilekang waktu." jawab Mimi dengan senyum.
Entah mengapa hatinya saat ini merindukan Syahril, Mimi menghelakan nafas dan memejamkan matanya sejenak.
Irma dan Selfia melihat ke arah Muthia dan memelototi Muthia, Muthia yang dipelototi dua sahabatnya hanya diam, dia merasa bersalah akan pertanyaan nya.
"Mi maafkan kita ya?" ucap mereka bertiga.
"Maaf? maaf buat apa? Mimi nggak apa-apa kok." jawab Mimi dengan beranjak berdiri membawa nampan berisi adonan yang sudah siap untuk di kukus.
Satu macam kue siap di kukus, Adan Maghrib pun berkumandang. Mereka menghentikan aktivitas mereka sejank dan segera berwudhu untuk segera menjalankan ibadah Maghrib terlebih dahulu.
Mimi masuk kedalam kamar sebelah, dibukanya kembali lemari pakaian Syahril. Diambilnya pakaian terakhir kali dipakainya, Mimi memeluk nya erat untuk meluapkan rasa rindunya.
"Kak Mimi rindu.. ala Mimi bisa melewati semua ini." ucap Mimi.
Mimi bisa tegar dihadapan semua orang, namun sesungguhnya dia selalu menutupi kerapuhan nya dengan bersikap biasa-biasa saja.
Mimk terus memeluk pakaian Syahril sambil rebahan hingga Mimi tertidur. Ketiga sahabat heran Mimi tidak keluar kamar, mereka pun mengetuk pintu namun tidak di gubris.
Muthia membuka perlahan knop pintu dan mengintip di celah pintu terbuka. Muthia membuka lebar pintu dan mereka bertiga menghelakan nafasnya ketika melihat Mimi tertidur dengan mukena masih terkadang utuh.
Satu yang menjadi mereka terenyuh, Mimk memeluk pakaian yang diyakini mereka lakaiannkak Syahril.
"Kasian Mimi." ucap Selfia
"Aamle kapanpun dia tidak bisa mencintai lelaki mana pun." sahut Irma.
"Yaudah lah yok kita beresin dapur." ajak Muthia, mereka menutup kembali pintu dan membiarkan Mimi tertidur.
Mereka bertiga menuju dapur dan mereka membersihkan serta membereskan semuanya.
Keesokan harinya Revano menceritakan semua kepada Mimi. Mimi yang mendengar cerita Revano hanya tersenyum, Mimi meyakini kalau jakdkh susah di atur oleh sang pencipta nya.
"Terus kakak kapan akan mencurahkan nkat akaka ke mbak Reva?" tanya Mimi.
"Emm gimana siang nanti kita kesana dek? tali kami ada kelas ndak?" ucapnya.
"Yah Mimi ada kelas kak sampe jam dua." jawab Mimi.
"Ya nggak apa dek kita kesana setelah keas kamu berkahir." ucap Revano.
"Yaudah kalau gitu, Mimi akan temani kakak menuju bidadari cintanya kakak hehee.." jawab Mimi. Revano mengangguk dan tersenyum sambil menatap Mimi sendu.
"Maafin kakak ya?" ucapnya tiba-tiba.
"Minta maaf buat apa?" ta ha Mimi heran melihat perubahan sikap Revano.
"Maafin kakak karena merepotkan mu, maafkan kakak yang dulu sering mengejar untuk mw sakyakan cintamu namun ternyata cinta itu berlabuh pada yang lain." ucapnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan kak, semua kehendak Allah. Mimk hanya perantara nya saja, perantara buat kakak untuk memeluk keyanikan baru kakak, perantara buat kakak untuk menemukan cinta sejatinya kakak yang sebenarnya."
"Seharusnya Mimi yang minta maaf, karena selama kita berhubungan. Mimk tidak bisa memberikan rasa cinta Mimi lada kakak. Insya Allah Mimk yakin mbak Reva LAN orang yang dapat membimbing kakak untuk selalu Istiqomah dijalan Allah." ucap Mimi.
"Makasih ya dek, sudah hadir di hari-hari nya kakak. Makasih atas segala perhatian kamu sama kakak. Bagi kakak kamu cinta kedua kakak. Cinta antara kakak dengan adiknya." ucapnya
"Sama-sama kak, makasih juga sudah hadir di hari-hari Mimi, makasih telah mencintai dan menyayangi Mimi, makasih sudahnmemebei Mimi kenyamanan dan keluarga buat Mimi. Mimi akan selalu berdoa agar kakak bahagia selalu." ucap Mimi.
"Sama-sama, kakak juga akan bedoa semoga adek dapat dipertemukan dengan orang yang selama ini adek harapkan kembali" jawabnya.
"Jadi kita sah mengakhiri hubungan kita menjadi saudara" ucap Mimi dengan mengulurkan tangan, Revano meneima ukuran tangan Mimi dan mengangguk.
"Ingin kakak memeluk adek, tapi kakak tidak ingin.." ucap Revano namun terputus karena Mimk yang langsung menghambur memeluknya untuk pertama dan terakhir.
Revano menerima pelukan itu, diapun menumpahkan segala perasaan nya dengan memeluk Mimi erat.
"Makasih dek"
"Makasih kak" mereka berdua saling mengucapkan terimakasih. Mereka nerau menitikkan air mata bahagia mereka dalam pelukan erat mereka.
tbc
Assalamualaikum selamat pagi selamat beraktivitas. Terimakasih yang selalu mendukung karya authore ya.. terimakasih like, voye dan komennnya.
__ADS_1
Semoga awal bukan ini kita selalu diberkahi rahmat rezeki dan kesehatan oleh Allah SWT.