
Dillah yang lama menunggu Mimi tak kunjung tampak pulang, dia pun pamit kepada makwo. Dillah akan terus berupaya mendekati Mimi kembali dan akan berusaha mendapatkan perhatian dan cinta nya Mimi.
Tak lama Dillah pulang, Mimi pun baru sampai di kontrakannya. Dengan tubuh yang lelah, Mimi membersihkan dirinya dan berwudhu untuk sholat isya sebelum dia tidur.
Mimi yang terbiasa bangun di sepertiga malam, dia selalu bermunajat pada sang illahi. Mimi selalu berdoa untuk orang-orang yang sayang padanya, terutama kedua orang tua dan dirinya sendiri.
Mimi meminta petunjuk illahi, langkah apa yang harus dia ambil. Di pandangnya foto yang selalu membuat dirinya tenang. Foto saat pertunangannya.
"Mass." ucap Mimi dengan meraih bingkai kecil itu.
"Mimi kangen mas. Siapa tangan yang mas beri ke Mimi itu?" ucap Mimi.
Yah terkadang jika Mimi sedang rindu Abizar, dia selalu bermimpi namun mimpinya Abizar hanya tersenyum dan menyerahkan tangan Mimi kepada tangan lain.
"Apakah itu tangan kang Dillah mas,"
"Seperti yang mas katakan, orang masa lalu Mimi akan hadir kembali."
"Mas bantu Mimi menemukan jawabannya." ucap Mimi. Adzan subuh berkumandang, Mimi langsung mengerjakan sholat subuh.
Saat Mimi baru selesai sholat, terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa sih, subuh-subuh ngetuk pintu." ucap Mimi sembari melihat sajadahnya.Ketukan semakin intens membuat Mimi segera untuk melihat nya.
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari luar pintu.
"Waalaikum salam." jawab Mimi dan langsung membuka pintu.
"Maaf dok, dokter di pinta sama dokter Rayhan ke rumah sakit sekarang." ucapnya.
"Ada apa pak? apa ada hal yang genting?" tanya Mimi.
"Iya dok." jawab si bapak.
"Oh tunggu bentar ya pak, saya salin pakaian dulu." jawab Mimi dan langsung berlari ke kamar untuk berganti pakaian, dengan cepat Mimi berganti pakaian, mimj raihntas yang sudah dipersiapkan semalam.
Mimi langsung pergi tanpa embel-embel dandan terlebih dahulu, hanya kacamata yang dikenakan nya.
"Mari pak." ucap Mimi.
"Mari dok." jawabnya. Mimi dan si bapak langsung beranjak menuju mobil tak lupa Mimi mengunci pintunya.
Mulai hari Ini, Mimi akan sibuk dengan aktifitasnya terutama di rumah sakit Nurani Bunda karena dokter seprofesinya sedang cuti.
Di rumah sakit Nurani Bunda, untuk saat ini hanya ada dokter spesialis jantung dua orang. jika salah satu cuti maka yang satu harus stay.
Karena Mimi tak hanya kerja dinsatunrumah sakit, maka Mimi selalu mengatur jadwalnya agar tidak bentrokan, namun jika ada salah satu rumah sakit ada masalah genting ( pasien yang butuh kenangan cepat maka Mimi harus segera datang ).
Saat baru menginjakkan kakinya di lantai rumah sakit, Mimi langsung di jamu oleh salah satu tangan kanan bos rumah sakit ini.
Terlihat dokter Rayhan keluar dari ruang UGD.
"Mimi." panggilnya dan Mimi lun mempercepat langkahnya.
"Ada apa Da?" tanya Mimi telah sampai di depan dokter Rayhan.
"Biasa." ucapnya.
Walau Mimi berkerja belum genap dua tahun, Mimi tau maksud arti kata biasa itu.
"Apa sudah dirontgen?" tanya Mimi langsung melihat ke adaan orang yang berada di dalam ruangan UGD tersebut.
"Sudah dan peluru hampir mengenai miokardium dan peluru bersarang disana." terang dokter Rayhan.
"Oo" ucap Mimi, dokter Rayhan hanya tersenyum bila Mimi hanya berkata O.
Kenapa tidak dia tersenyum, pasti Mimi akan selalu mengatakan apa tidak ada mainan yang lebih baik lagi.
Yah terkadang Mimi heran dengan permainan para petinggi rumah sakit ini, mainannya tak tanggung-tanggung. Mainan selalu berujung di meja operasi.
Mimi terus berjalan bersama dokter Rayhan menuju ruang operasi. Mimi menghelakan nafas panjang.
"Kenapa?" tanya dokter Rayhan.
"Nggak, nggak kenapa-kenapa." jawab Mimi dengan langsung memakai atribut-atribut untuk operasi.
"Katakan saja dari pada di pendam " goda dokter Rayhan, Mimi hanya mendengus.
"Tanpa Mimi tanya juga sudah tau." ucap Mimi dan melangkah menuju meja operasi.
Terlihat pasien yang tak lain adalah orang-orang petinggi rumah sakit ini telah terbaring di atas meja operasi. Pasien juga sudah melewati anestesi.
"Kenapa kalian hobi sekali bermain dengan senjata api dan senjata tajam sih" ucap Mimi ketika melihat di dada pasien juga terdapat sayatan dari senjata tajam.
"Yah begini lah." jawab dokter Rayhan. Mimi menatapnya malas.
Mimi dan dokter Rayhan memulai melakukan tindakan operasi pengambilan peluru yang bersarang dekat lapisan miokardium.
Lapisan miokardium adalah lapisan yang terdapat di dinding jantung yang merupakan bagian terluar sebagai pelapis jantung.
Setelah selesai melakukan tindakan, Mimk sekalian visit ke pasien-pasien nya terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit kota.
Hari-hari Mimi selalu sibuk hingga Mimi bisa dikatakan jarang berada di kontrakan. Dillah yang tiap hari selalu mensurvey kontrakannya Mimi tak pernah ketemu.
"Kamu kerja dimana sih dek?" ucapnya kala dah satu minggu dia bolak balik tidak bertemu Mimi.
"Hei Yung, ada apa?" teriak Dillah yang lesu berjalan gontai menuju mobilnya dengan bawaan paperbag berisi makanan untuk Mimi.
"Eh ibu, tidak apa-apa Bu." jawab Dillah dan berjalan menuju warung makwo.
"Percuma tiok (tiap) hari lihat Mimi, dia kalau lagi sibuk jarang pulang." ucap makwo.
"Sibuk? memangnya dia kerja dimana Bu?" tanya Dillah.
"Kerja pastinya makwo juga ndak tau." ucap makwo dan menaruh teh manis panas ke Dillah.
"Mimi kalau du tanya dia selalu menjawab kalau dia kerjanya hanya bantu-bantu di rumah sakit." jawab makwo.
__ADS_1
"Bantu-bantu?" tanya Dillah tak percaya.
"Iya bantu-bantu, kadang dia ke rumah sakit ini, kadang kerumah sakit kota, kadang kerumah sakit lainnya. Jadi dia itu seperti tidak tetap kerjanya." ujar makwo.
"Oh gitu ya Bu." jawab Dillah.
"Iya, dia itu akan pergi kerumah sakit mana aja yang membutuhkan tenaganya." jawab makwo.
Dillah hanya terdiam, dia masih mencari cara bagaimana cara ya dia bisa ketemu dengan Mimi.
Beberapa hari berlalu Dillah pun tak lagi tiap hari, tiap jam ke kontrakan Mimi. Saat ini dia mencoba untuk mencari strategi Lain.
Dillah dikota pedang juga sedang membuka restoran. Di kota ini Dillah memilliki tiga cabang restorannya. Cabang satu dekat dengan rumah sakit daerah, yang satunya tak jauh dari rumah sakit Nurani Bunda dan yang satu dekat dengan kantor polisi.
Restoran itu juga baru buka hampir 3th ini. Mimi dan rekannya biasanya jika ada waktu luang makan di restoran yang dekat dengan rumah sakit Nurani Bunda yangbtakmlain ternyata milik Dillah.
Mungkin Allah belum mengizinkan mereka bertemu, sehingga mereka pun baru dipertemukan beberapa bulan lalu.
Sore hari Mimi keluar dari rumah sakit kota menuju rumah sakit nurani bunda. Mimi menyempatkan diri berhenti di restoran dekat rumah sakit daerah itu untuk membeli nasi buat makan malamnya.
Saat telah membayar dan Mimi berjalan menuju motornya, Dillah keluar dari ruangan nya dan akan menuju parkiran pula.
Saat Mimi telah menjalankan motornya dan melintasi depan pintu masuk resto, Dillah tercengang kala dirinya melihat orang yang di carinya beberapa bulan ini melintas tepat didepan dirinya yang sedang berdiri di pintu masuk resto saat dia keluar dari resto nya.
"Mimi.." ucapnya, saat Mimi sudah keluar dari perkarangan resto Dillah segera berlari menuju mobilnya dan dia oun segera menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedikit tinggi.
Dari jauh dia mengikuti kemana Mimi akan berhenti, setelah dia tau kalau Mimi berhenti di rumah sakit nurani bunda lagi-lagi Dillah tercengang.
"Jadi selama ini kamu kerja disini dek?" ucapnya seraya memarkirkan mobilnya.
"Selama ini kita sudah dekat tapi kita belum diizinkan bertemu." Gumamnya.
Dillah mencoba menunggu Mimi di parkiran, Dillah menyangka Mimi hanya mampir sebentar karena hari pun telah sore.
Detik ke menit hingga ke jam, Dillah belum juga melihat Mimi keluar hingga Adan Maghrib pun berkumandang. Dillah memutuskan untuk sholat di masjid yang tak jauh dari rumah sakit.
Sedangkan Mimi di dalam pun menjalankan sholat maghribnya di dalam ruangan nya. Setelah sholat, Mimi makan malam terlebih dahulu, Mimi mengajak asisten nya makan bersama di dalam ruangan nya.
"Ohnya dok, malam ini dokter mengoperasi pak SetiaBudi ya?" tanya si asisten.
"Iya sus," kaqbabmimi seadanya. Begitulah Mimi dia akan berbicara seperlunya.
"Apa ndak capek dok, saya akan ngelihatnya capek "
"Pagi ke rumah sakit kota, terus ke rumah sakit jantung, terus terakhir disini tiap hari lagi." ucap si suster yang membereskan bekas makan mereka.
"Kalau di bilang capek, ya jelas capek. Tapi inikan sudah kerjaan kita, ya dibawa enjoy aja." jawab Mimi.
Sang suster diam, dalam dirinya dia sanagt kagum atas kegigihan Mimi.
Setelah makan,Mimi kembali melanjutkan aktifitasnya di ruang operasi.
Dillah yang sehabis sholat belum juga melihat Mimi keluar memutuskan untuk bertanya didalam.
Dillah berjalan menuju resepsionis, semua mata memandang ke arah dirinya terutama para perawat cewek. Dillah berjalan dengan style santai.
"Iya ada yang bisa saya bantu pak?" tanya si petugas.
"Saya mau tanya, apa dokter Mimi kerja dir umah sakit ini?" tanya Dillah, petugas resepsionis diam sambil menelisik lelaki didepan mereka.
Ada rasa kagum di hati para petugas resepsionis tersebut, namun ada rasa curiga bila seorang lelaki menanyakan dokter Mimi kerja dir uamah sakit ini atau tidak.
Mereka curiga, jika dia merupakan keluarga pasien atau pasien baru pasti tau jika dokter Mimi merupakan dokter di rumah sakit ini.
"Maaf bapak mau berobat?" tanya salah satu petugas.
"Oh em tidak, saya hanya ingin tau saja. Apa benar dokter Mimi kerja di rumah sakit ini?" jawab Dillah.
"Maaf kalau saya boleh tau, bapak siapa nya dokter Mimi?" Tanya salah satu petugas.
"Maaf ya mbak, saya kan bertanya kenapa di balik tanya." jawab Dillah.
"Maaf ya pak, jika bapak mau berobat datang saja lagi besok karena dokter Mimi praktek besok pagi." jawab si petugas. Dillah diam tadi dia melihat Mimi masuk ke dalam, jika dia masuk bukan untuk praktek terus kenapa dia tidak juga keluar begitulah pikiran Dillah.
"Maaf mbak, tadi saya lihat Mimi eh maksudnya saya dokter Mimi masuk kedalam. Kalau dia tidak praktek, kenapa dokter Mimi malam-malam kerumahnsakit?" Akhirnya Dillah mengeluarkan apa yang menjadi pikirannya.
"Oo itu, karena dokter Mimi ada jadwal operasi malam Ini." jawab si petugas dengan memberikan senyuman manisnya kepada Dillah namun Dillah hanya cuek.
"Kalau boleh kira-kira berapa lama ya?" Tanya Dillah.
"Kalau itu kami kurang tau pak." jawab di petugas.
"Nih cowok siapanya dokter Mimi ya? keren abis gayanya, kayaknya orang kaya lagi." ucap salah satu petugas.
"Mana saya gau pak pak berapa lama dokter Mimi operasi, ada-ada aja. Kira-kira nih siapanya dokter Mimi ya? enaknya jadi dokter Mimi, padahal pendiam tali dikagumi sama orang-orang tampan beeduit lagi." ucap petugas yang selalu menjawab pertanyaan Dillah. Mereka hanya berani berucap di dalam hati.
Keesokan paginya Dillah kembali datang di rumah sakit Nurani Bunda, Mimi di dalam ruangannya sedang mengerjakan laporannya sebelum jam praktek dimulai.
Saat Mimi fokus dengan laptopnya terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk" ucap Mimi dengan mata masih fokus pada lembaran rekam medis serta laptopnya.
"Maaf dok ada yang mau ketemu?" tanya assisten Mimi.
"Emm siapa sus?" tanya Mimi yang sedang mengetik. Dillah yang tak memiliki rasa kesabaran langsung masuk dengan membawa bucket bunga mawar putih, dan sebuah paperbag.
Mimi yang mengenal aroma bunga mawar langsung memejamkan matanya dan hidungnya menghirup aroma itu dalam-dalam, seketika membuat Mimi rileks sejenak.
"Dok" panggil asistennya.
"Emm," jawab Mimi dan melihat ke arah asisten namun mata mikinteehenti dan tertuju ke arah belakang suster.
Sosok lelaki dengan memakai pakaian kasual dan memakai jas serta tangan kanan membawa bucket bunga dan tangan kiri membawa paperbag.
Mimi terdiam melihat lelaki yang beberapa bukan ini selalu datang di kontrakannya. Walau Mimi jarang pulang, Mimi selalu mendapatkan laporan dari anak-anak didiknya.
Dillah tersenyum merekah ketika Mimi menatapnya tajam.
__ADS_1
"Assalamualaikum, apa kabar dek?" ucap Dillah.
"Waalaikum sallam" jawab si suster asisten Mimi, Mimi hanya menjawabnya dalam hati.
"Ini bunga buat kamu sayang." ucap Dillah, sang asisten membelalakkan matanya begitu pula Mimi saat Dillah memanggilnya sayaang.
Mimi acuh tak menghiraukannya dan sang asisten keluar untuk mengambil rekam medis pasien.
"Dok saya permisi dulu ambil rekam medis pasien rawat jalan." ucap sang assisten yang ingin memberikan rua g waktu buat Mimi dan lelaki itu.
Mimi hanya diam di kursi kebesarannya dan kembali fokus pada kerajaannya, Dillah masih setia berdiri dan melihat Mimi yang mencuekinya. Dillah melihat bingkai foto yang ada di meja Mimi, foto Mimi dengan seorang lelaki.
Dillah melihat foto itu merasa tak terima lelqkinlqin memeluk dan memegang tangan Mimi. Yah fotomtersbjt menampilkan Mimi yang di peluk pinggangnya oleh Abizar serta tangan sebelah Mimi di pegang oleh Abizar.
"Dek" panggilnya, Mimi hanya melihat sekilas.
"Masa iya kangmaanya datang ndak dintawaein duduk gitu." ucap Dillah, Mimi hanya cuek.
"Dek, ini bunga kesukaannya kamu Lo. Kamu nggak mau lagi bunga ini ya?" ucap Dillah dan bertepatan dengan sang asisten Mimi masuk kembali.
"Maaf dok, ini rekam medis pasien rawat jalan hari ini." ucap si asisten dengan menyerah kan beberapa rekam medis pasien.
"Apa pasien nya sudah ada semua sus?" tanya Mimi.
"Sudah dok, mereka sudah duduk mengantri. Kita maajhnada waktun15 menit lagi kok." jawab sang asisten.
"Oh baik lah." jawab Mimi.
"Dok" panggilan asisten.
"Hmm," jawab Mimi
"Tamunya nggak disuruh duduk dok?" tanya asisten.
"Dia sudah mau pulang kok." jawab Mimi tanpa melihat.
"Ya Allah dek, halus bener ngusirnya. Padahal kangmas bawa brownies kesukaanmu juga Lo selain bunga mawar ini. Apa kamu nggak mau?" ucap Dillah, Mimi hanya diam.
"Yaudah kalau kamu nggak mau "
"Sus, suster suka bunga mawar putih?" tanya Dillah beralih pada sang asisten.
"Suka pak " jawab sang asisten dengan senyum manis.
"Kalau begitu, ( Dillah melihat ke arah Mimi yang memasang wajah cemberut) ini buat suster saja. Karena orang yang mau saya beri, sepertinya tidak menyukainya lagi " ucap Dillah dengan melirik ke arah Mimi yang cemberut
Asisten melihat ke arah Mimi dan terlihat Mimi seolah tidak terima jika bunganya diberi ke orang lain.
"Wah beneran nih pak, boleh-boleh si.." Ucap sang asisten dengan tangan mengambang ke udara saat akan mengambil bunga dari tangan Dillah namun bunga itu langsung disambar oleh Mimi.
"Suster, silahkan keluar. Lihat pasiennya sudah pada datang belum." ucap Mimi, sang suster mengangguk dan senyum terkulum melihat sang dokternya merebut dan cemberut ketika bunga nya akan di ambil.
Dillah merasa senang, kalau Mimi menerima bunganya. Dia tau kalau Mimi pasti tidak akan rela miliknya di ambil orang lain.
"Ngapain senyum-senyum" ucap Mimi dengan kembali duduk dan meletakkan bunga di atas mejanya.
"Nggak kenapa-kenapa, senang aja melihat seseorang cemberut" jawab Dillah dan langsung duduk di kursi depan meja Mimi.
"Ngapain duduk di situ?" ucap Mimi lagi.
"Yaelah yank, capek tau berdiri.Nih browniesnya mau dimakan sekarang atau nanti." ucap Dillah dengan mengeluarkan kotak berisi brownies dari dalam paperbag.
"Nanti aja, sebaiknya akang pulang aja." jawab Mimi.
"Yah yank, kok di usir sih." ucap Dillah.
"Karena ini jam kerja dan saatnya Mimi praktek." jawab Mimi.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Dillah.
"Em belum tau " jawab Mimi.
"Kok belum tau?" tanya Dillah.
"Iya belum tau, karena Mimi masih ada jadwal operasi nanti."
"Kakang pulang saja, tidak enak dengan pasien lama menunggu." ucap Mimi.
"Emm yaudah nanti akang jemput ya." ucap Dillah dan Mimi pun mengangguk mengiyakan.
Hati Dillah merasa senang, bunga-bunga bermekaran dihatinya, dia bahagia uoaya nya akhirnya berbuah manis.
"Oke sayang kangmas lukang dulu, sampai jumpa nanti." ucap Dillah beranjak dari duduknya begitu luka Mimi yang amn mengantarkan Dillah ke pintu.
"Cieee yang maajhnada perhatiannya." ucal Dillah.
"Apaan sih nggak jelas." ucap Mimi.
"Kakang tau kalau adek masih ada rasa sama kakang." ucap Dillah.
"Percaya diri sekali Anda." ucap Mimi.
"Oo tentu dong, Said Abdillah." ucaonya dengan membanggakan diri.
"Yaudah kakang pulang dulu ya." ucap Dillah sembari mendekat ke arah Mimi hendak peluk namun di tahan oleh Mimi.
"Eits mau ngapain!" ucap Mimk dengan menahan tubuh Dillah dengan lembaran rekam medis di tangannya.
"Mau peluk yank, kangen." ucap Dillah
"Nggak ada peluk-peluk, sana pulang. Ingat masih ada hutang yang harus di bayar." ucap Mimi dengan mendorong tubuh Dillah keluar.
"Iya iya akang pulang." jawabnya dan langsung melangkah ke arah pintu, sebelum membuka pintunya Dillah berbalik dan cup Dillah mencuri ciuman di kening Mimi dan dia segera keluar.
Yah akhirnya Mimi berusaha menerima Dillah kembali setelah melihat bagaimana upaya Dillah untuk mendekatinya lagi.
tbc
__ADS_1