
Di sebuah dapur, dua orang wanita sedang memasak untuk menu makan siang keluarganya.
Mereka berdua memasak sambil bercerita, terutama sang ibu mertua yang bertanya pada menantunya itu tentang kehidupan barunya bersama sang anak beberapa Minggu ini.
Yah dua wanita itu adalah ummi Parida dan Badriah. Mereka berdua saling bahu membahu memasak menu kesukaan keluarga ini.
"Oh ya nak, bagaimana selama di dusun?" tanya ummi Parida pada Di'ah.
"Alhamdulillah baik Mi," ucap Di'ah.
"Hmmm, selama disana apa kamu Ndak kerepotan nak?" ucap ummi Parida sembari mengaduk sambal dalam kuali/wajan.
"Secara kan disana listrik belum ada." imbuh ummi Parida
"Emm awal memang agak repot ummi, secara kan disana lampu hanya hidup malam hari aja." jawab Di'ah dengan tangan masih sibuk membersihkan sayuran.
"Dan rumahnya juga belum ada mesin cuci, tapi ya Alhamdulillah kamar mandinya dalam ruang dan ada tagmon nya, jadi kalau mandi Ndak harus ke sumur." imbuh Di'ah.
"O gitu, jadi harus nampung malam sewaktu lampu hidup la." ucap ummi Parida.
"Iya ummi." jawab Di'ah.
"Kalau gitu kalian nyuci malam?" tanya ummi Parida.
"Iya ummi, tapi hanya beberapa hari saja karena setelah itu kak Syahril membeli mesin ganset sendiri." jawab Di'ah, ummi masih sibuk dengan kompornya sambil menyimak
"Nah kak Syahril tak hanya membeli ganset tapi dia juga membeli mesin cuci, blender, oven dan keperluan lain." ucap Di'ah dengan sambil mengiris bawang merah serta bahan lain buat menumis sayur.
"Kata kak Syahril biar Mimi bisa membuatkan dia kue kesukaan nya dan biar nggak capek nyuci baju." imbuhnya, ummi hanya tersenyum mendengar cerita Di'ah.
"Kak Syahril sangat perhatian sama Mimi." ucap Di'ah lirih, ummi Parida berhenti sejenak dari aktivitas memasaknya dan melihat ke arah sang menantu.
"Tapi kan itu buat k baikan kalian juga." ucap ummi Parida.
"Iya juga sih." jawab Di'ah.
"Terus selama disana Mimi tidur sama kamu nak?" tanya ummi Parida
"Ya ndak la ummi, Ummu tau sendiri kak Ryan. Emm Mimi tidur di kamar kak Syahril." jawab Di'ah, ummi terdiam dengan melihat Di'ah.
"Mereka tidur berdua?" tanya ummi Parida lagi.
"Ya awalnya Mimi tidur sendiri Ummi, tapi.. emm.. akhirnya mereka tidur berdua sekamar." jawab Di'ah merasa tak enak.
"Maksudnya?" tanya ummi Parida ingin mendengar lebih jelas.
"Ya awalnya kak Syahril tidur di luar beberapa hari, emm .. setelah itu dia tidur di kamar sama Mimi." ucap Di'ah.
"Kok bisa?" tanya ummi
"Emm itu karena.. emm itu.." jawab Di'ah ragu memperjelasnya.
"Itu apa?" tanya ummi Parida
"Emm itu ummi, emm.. itu.." Di'ah merasa tercekat karena dia bingung mau menjelaskan bagaimana terhadap ibu mertua nya. Sedangkan ummi masih melihat ke arah Di'ah menunggu penjelasannya.
"Emm kata kak Syahril dia tidak bisa tidur karena emm.." ucap Diah sembari menarik nafas dalam.
"Karena?" tanya Ummi Parida
"Emm karena emm kata kak Syahril emm dia Ndak bisa tidur karena emm dia risih mendengar suara dari kamar kami." ucap Di'ah dengan lirih di akhir katanya. Ummi Parida tersenyum mengerti.
"Oo gitu." ucap ummi Parida dan melanjutkan masaknya
"Emm ummi percaya Syahril pasti bisa menjaga dirinya." ucap ummi Parida sembari menggeleng kan kepala karena otaknya telah berkelana atas perlakuan keponakannya tersebut.
__ADS_1
Di'ah yang mendengar ada rasa iri di hatinya.
"Hmm gitu ya mi." ucap Di'ah.
Setelah semua masakan selesai dimasak dan peralatan kotor juga sudah di cuci. Ummi Parida mengajak Di'ah duduk santai di teras yang berada di dapur.
"Sini nak. Kita duduk santai dulu menjelang yang lain pulang." ucap ummi Parida dengan mengajak Di'ah bersantai. Di'ah mengangguk dan mengikuti kemana Ummi Parida berada.
"Capek?" tanya Ummi Parida pada Di'ah.
"Emm ndak Mi." jawabnya di mulut namun di hatinya berbeda.
"Emm kalian jam berapa berangkat? kok nyampe nya pagi nian." tanya ummi Parida.
"Kami berangkat jam empat sore lewat Mi."
"Mm pantesan kalian cepat nyampe nya, emang kalian sudah pesan travel dulu an?" ucap ummi Parida.
"Emm kalau kami ndak mi, dokter yang lain sebagainya naik travel pagi ini dan ada yang ikut serempak kami kemarin sore, kebetulan ada travel masuk antar penumpang kedalam." jawab Di'ah.
"Nah, kalau kalian tidak naik travel naik mobil siapa?"
"Emm kami naik mobil Mimi Mi, katanya sih." ucap Di'ah ibarat mendapat jackpot karena ummi Parida bertanya perihal mobil.
Ummi Parida mengerutkan keningnya sebelum kembali bertanya "Maksudnya?".
"Ya maksudnya, Mimi beli mobil sewaktu kami baru nyampe." jawab Di'ah.
"Ya katanya kak Ryan itu mobil Mimi." imbuhnya.
Ummi Parida masih diam dengan otak berpikir heran tentang maksud dari omongan menantunya ini.
"Mimi beli mobil? terus maksud kamu katanya Ryan apa nak? bukan beli sama kamu?" tanya ummi Parida.
"Ya ndak Mi." jawabnya.
"Ya ndak gitu Mi, waktu itu kan kami baru nyampe langsung ke balai dusun. Nah saat kami kesana ada dua pasien yang ternyata memiliki riwayat jantung yang perlu penanganan segera, jadi Mimi menyarankan agar pasien tersebut segera di bawa ke rumah sakit kota hari itu juga." Di'ah mulai menceritakan kejadian sewaktu mereka baru sampai di dusun dan ummi Parida terus menyimak ucapan Di'ah.
"Nah, beberapa hari Mimi dan kak Syahril menemani pasien di kota, pas pulang kedusun mereka berdua sudah pakai mobil Mi." ucap Di'ah.
"Dan semenjak itu, Mimi dan kak Syahril selalu pergi dinas kemanapun pakai mobil, sedangkan aku sama kak Ryan hanya jalan kaki dari rumah ke puskesmas, kalau kak Ryan dinas ke dusun sebelah ya pakai mobil dinas puskesmas atau ambulance." ujar Di'ah.
"Waktu itu aku protes sama kak Ryan, agar Kaka Ryan pinjam mobil itu agar kami berdua juga bisa pakai mobil pribadi kemana pun kami dinas tapi kak Ryan ndak mau malah marah." ucap Di'ah, berawal bercerita tentang mobil yang di beli Mimi, dia pun seolah ingin mengadu pada ummi Parida.
"Kenapa Ryan marah?" tanya ummi Parida yang ingin mengorek apa dengan yang dimaksudkan oleh Di'ah.
"Ya katanya kak Ryan ndak enak Mi, menurut aku kenapa mesti tidak enak toh mobil itu pasti kak Syahril yang beli kan, mustahil itu mobil Mimi beli sendiri."
"Tapi kak Ryan bilang kalau itu real mobil Mimi karena katanya emang itu mobil pakek duit Mimi sendiri. Coba ummi bayangkan, mana ada Mimi bisa beli mobil cash secara langsung gitu."
"Apa lagi kan selama ini Mimi membiayai orang tua serta Ay adiknya terus dari mana Mimi bisa beli mobil kalau bukan kak Syahril yang belikan" Di'ah dengan semangatnya bercerita sekalian mengadu perihal mobil kepada Ummi Parida.
"Terus apa kamu sudah tanya sama Mimi langsung?" tanya ummi Parida dan Di'ah menggeleng.
"Apa kamu juga mau minta dibelikan mobil sama Ryan?" tanya ummi Parida lagi, Di'ah ragu ingin menjawab apa karena dia teringat omongan Ryan sewaktu itu.
"Emm ndak Mi." jawabnya lirih.
"Nak, ummi rasa kamu tau siapa Mimi dan bagaimana dirinya." ucap ummi Parida yang mulai menasehati menantunya.
"Walau ummi tidak begitu dekat dengan dia, ummi tau siapa dia nak. Apa lagi umma mu selalu menceritakan bagaimana kegiatan Mimi selama ini."
"Tentu kamu tau kan bagaimana perjalanan sepak terjang Mimi selama ini." Di'ah hanya mengangguk.
"Dia gadis baik, dia sangat beruntung bisa meraih beasiswa dan bisa menggapai cita-cita nya."
__ADS_1
"Apa lagi selama dia tinggal di daerah orang, ya walau dia kuliah tanpa biaya namun kehidupannya sehari-hari serta beberapa biaya prakteknya dia menggunakan biaya sendiri."
"Ummi dan umma mu mendengar cerita dari ummi Fatma dan ummi Fatimah yang berada di Semarang, mereka menceritakan bagaimana kehidupan Mimi selama di Semarang yang kuliah sambil berjualan kue."
"Ummi salut dan bangga sama Mimi dia bisa menjalani kehidupan yang berat di daerah orang."
"Belum lagi saat dia berkerja di rumah sakit mendiang calon suaminya dulu. Dia juga berkerja keras memajukan rumah sakit itu."
"Dan semenjak calon nya meninggal, Mimi memutuskan untuk kerja di rumah sakit lain. Padahal orang tua dari calonnya itu tetap menginginkan Mimi berkerja disana, apa lagi orang tua calonnya juga sayang sama Mimi walau bagaimanapun mereka tetap menganggap Mimi anak mereka hingga sekarang, kamu tau kan itu?" lagi-lagi Di'ah mengangguk.
"Emm apa lagi saat Mimi berkerja di kota pedang, ummi dengar dia berkerja tak hanya di satu rumah sakit. Begitu gigih Mimi dalam berkerja sehingga dia melupakan waktu untuk dirinya sendiri."
"Mungkin saat ini apa yang dia capai merupakan buah dari kesabarannya, buah dari kerja kerasnya, buah dari segala doa-doa dari orang yang menyayangi nya terutama buah dari do'a kedua orangtuanya."
"Ummi juga yakin, kalau mobil itu Mimi membelinya dengan hasil keringatnya sendiri."
"Nak, ummi harap kamu tidak memiliki atau menyimpan rasa iri di hatimu ya, itu tidak baik." ucap ummi Parida, namun Di'ah tidak terima kalau ummi mengatakan dirinya iri
"Aku ndak iri kok mi." jawabnya.
"Cuma kan coba aja Mimi bayangi bagaimana bisa Mimi punya uang banyak secara kan dia juga mengeluarkan biaya buat keluarganya." ucap Di'ah, ummi hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Nak.. Bukan Mimi ingin membela Mimi, tak baik kita menghitung penghasilan orang apa lagi membayangkan nya."
"Jika kita ingin menghitungkannya, coba kamu hitung saja gaji seorang dokter nak dan kalikan saja selama dia berkerja selama ini, di tambah dia kerja di rumah sakit di LA. Jika kita menghitung penghasilan orang secara detail semua Ndak ada yang salah nak. Semua rezeki Allah yang mengaturnya."
"Ummi harap hilangkan rasa prasangka itu ndak baik." ucap ummi Parida dengan mengelus kepala Di'ah penuh kasih sayang.
"Allah SWT telah mengingatkan kita hamba-Nya untuk menjauhi iri dan dengki. Salah satu peringatan tersebut tercantum dalam Alquran surat An Nisa ayat 23 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu iri hati (hasud) terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An Nisa: 23)"
"Selain diingatkan dalam Al Quran, bahaya hasud juga ditekankan dalam Hadits Rasulullah SAW"
Dua Perkara Dimana Iri Hati Bisa Dijustifikasi
“Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Al Bukhari dan Tirmidzi)
Larangan Dengki dari Iri Hati
“Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, melantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim haram darahnya bagi Muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hati-Hati terhadap Hasud
“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR. Abu Daud)
Iri dan Dengki adalah Penyakit
“Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Tirmidzi)
"Ummi berharap sama kamu agar tidak menyimpan rasa itu nak, berpikirlah positif apa lagi Mimi itu adalah sahabat mu dan sebentar lagi juga akan menjadi saudara mu."
"Sekarang ummi bertanya pada mu. Apa kamu mau dibelikan mobil?" ucap ummi Parida, Di'ah menggeleng.
"Apa kamu menyesal menikah dengan anak Ummi?" tanya ummi lagi, Di'ah melihat ke mata ummi dan dia menggeleng kepala.
"Nak, walau kita tak punya apa-apa dan saudara kita punya segalanya bukan berarti pula kita seenaknya memakai punya saudara kita walaupun itu saudara kandung kita," ucap ummi Parida dengan menarik kepala Di'ah untuk di sandarkan ke bahunya.
"Hargailah milik orang lain sekalipun itu milik saudara kandungmu. Jika kita ingin pinjam maka pinjam lah dengan baik-baik namun bila saat kita pinjam mereka juga membutuhkan maka jangan lah kau sakit hati."
"Jika kita melihat orang lain bisa sukses maka lihatlah bagaimana caranya mereka bisa sukses dan tirulah cara mereka tersebut."
"Asal kamu tau nak, ummi dan Abi mu ini bukanlah orang kaya. Kamu bisa lihat sendiri kan kehidupan kami berbeda dengan kehidupannya umma dan babahmu."
"Abi hanya seorang PNS di kantor agama dan ummi juga PNS di bidang gizi, kehidupan kami ya seperti ini nak, hanya saja Abi mu selalu. sebagai seorang PNS dia juga merupakan pemilik dari pesantren ini itupun dia tak hanya seorang diri ada Abi Mansyur mu abinya Andri." ucap ummi Parida.
Ummi terus memberikan nasehat serta menceritakan kehidupannya kepada Di'ah, ummi berharap Di'ah tidak memiliki ataupun m nyimpan rasa iri di hatinya.
__ADS_1
Di'ah yang masih berada di pundak ummi terdiam dan mendengarkan segala nasehat dari ummi Parida.
tbc